Pengalaman Retret (7): Ketiadaan Diri dalam Pusaran Hidup Sehari-Hari
Testimoni Ibu CS, 44 tahun, penulis lepas, peserta baru.
===========
Pengalaman mengikuti retret kali ini sungguh berbeda. Para peserta tidak diperkenankan berdoa, membaca buku apa pun, dan merekam pengalaman di saat retret. Kami hanya diminta menggali kesadaran lewat meditasi hingga mencapai ketiadaan diri – lenyapnya ego, yang memungkinkan manusia bergerak bebas dalam relasi dengan Yang Kudus dan sesama, tanpa dibatasi berbagai pikiran dan perasaan.
Dalam kesunyian, di tengah dinginnya hawa pegunungan, dan jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan sehari-hari; tidak terlalu sulit berada pada saat ini dan di sini, merasakan kesatuan yang tak terselami dengan Yang Kudus, sehingga mengalirkan rasa tenang dan damai di hati yang terdalam. Saya sungguh menikmati saat-saat hening, keadaan diri tanpa keinginan apa pun, sesuatu yang langka ditemui di Ibu Kota.
Bagi saya, yang paling mengesankan, saat meditasi bersama pada dini hari – ketika kebanyakan penghuni bumi masih terlelap. Duduk dalam keheningan diselingi dengan menapaki langkah demi langkah di taman. Di tengah kesendirian tetap ada rasa kesatuan dengan para peserta retret lain, meski kami semua tidak saling berbicara.
Maka, saya sempat menanyakan ke panitia, mengapa pintu kamar saya tidak diketuk – seperti yang dijanjikan – pada dini hari kedua? Malam sebelumnya, jam tangan saya mendadak mati, sementara telepon seluler dikumpulkan. Saya tidak tahu lagi perputaran waktu…. sampai saya mendengar Romo Sudri di kamar sebelah memutar anak kunci keluar kamar… Syukurlah, saya tidak terlalu terlambat mengikuti meditasi bersama dini hari kedua.
Namun, bagi saya, perjuangan menerapkan ketiadaan diri (no-self) yang sesungguhnya baru dimulai ketika kembali berbenturan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Belakangan ini, sejak sepeda motor merajai jalan-jalan di Jakarta, saya merasa sulit mengendalikan emosi. Di sisi lain, saya tidak ingin hati saya menjadi tidak murni lantaran sering kesal dengan ulah para pengendara motor dan sebagian pengemudi mobil juga. Saya ingin tidak mempedulikan mereka, tetapi sulit karena saya berhadapan langsung dengan mereka. Karena itu, saya berniat mempraktikkan kesadaran ketiadaan diri saat saya mengemudi.
Senin pagi, saat berada di belakang kemudi mobil, dalam hati saya berkata, “Ayo.. coba sekarang, terapkan ketiadaan diri di jalan….” Kalau tidak sangat perlu, saya tidak akan menekan klakson. Saya memberi jalan kepada mobil-mobil yang berniat mendahului dan membiarkan motor-motor lalu-lalang di sekitar saya tanpa merasa sangat terganggu. Dan hasilnya.. sungguh berbeda. Saya tidak lagi stres saat berkendara. Saya dapat menikmati perjalanan dengan hati tenang tanpa emosi. Tentu saja kesadaran ini masih perlu saya tingkatkan dari hari ke hari, saya tidak ingin hanya bersemangat di saat awal lalu kembali ke kebiasaan lama seiring berlalunya waktu.
Benarlah apa yang dikatakan Romo Sudri pada sesi sharing menjelang penutupan Retret Meditasi. Menurut Romo, Retret Meditasi ini tidak seperti retret biasa, di mana peserta mengalami pengalaman “wah” saat retret, namun memudar setelah kembali ke kehidupan nyata. Justru tantangan bagi para peserta Retret Meditasi sekembali dari retret adalah menerapkan ketiadaan diri dalam segala hal di pusaran hidup sehari-hari.







Hallo mo!
Setahun dua tahun lalu saya ikut belajar meditasi dengan romo tapi gagal to karena saya terlalu cerewet hehehehhhh… Tapi bukan berarti si cerewet gak bisa menikmati “Tiada dalam pusaran kegiatan sehari hari” to mo…
Kalo baca penjelasannya bu CS, kondisi itu bisa juga dicapai dengan meningkatkan EQ. Peningkatan EQ bisa dicapai dengan kesadaran akan manfaat positif berkecerdasan emosional.
dalam cerita yang sama, menyetir mobil, saya selalu bisa bikin pilihan: apa mau marah terhadap motor atau stay cool. Dalam latihan berkesadaran bahwa stay cool akan membawa manfaat positif bagi hidupku, maka tanpa berpikir pun saya akan stay cool. selain karena toh semakin banyak motor jalan di jalanan, sebagiannya adalah rejeki bagi kantong saya. jadi pamali saya menghujat motor.
Cerita lain: dalam pelayanan di kantor saya sering harus menghadapi konsumen yang marah. karena saya memang dibayar untuk melayani mereka maka profesionalitas saya sedikit banyak tergantung dari apakah saya cerdas mengelola emosi. Yang lebih parah, pelayanan di luar kantor. Sudah capek, tidak dibayar, masih juga harus menghadapi orang omong jelek. Mau marah? untuk apa? memang begitulah pelayanan. menjadi pelayan adalah menjadi tiada. harus mendahulukan yang dilayani. kesadaran kesadaran itulah yang membuat saya tetap stay cool.
“Kamu itu siapa, rin?”
“Aku bukan siapa siapa.”
so, gak usah repot marah, hadapi saja dengan senyuman. semakin dapat mengelola emosi, semakin besar kemungkinan dapat mengelola relasi. Lebih cepat kita bisa mengelola relasi dari pada mitra relasi kita, maka kita bisa mengarahkan jalannya relasi. Soal apakah kita mau win – win atau mau win – loose ya terserah kita.
Maaf, karena saya tidak sukses meditasi maka saya tidak bisa cerita apa bedanya kesadaran tersebut melalui meditasi. Yang saya rasakan sih kalau sudah terbiasa, maka semuanya berjalan dengan sendirinya, tidak pakai dipikir. jadi tidak capek. malah karena kita proaktif tapi stay cool jadi kita bisa menguasai gelanggang relasi.
Romo kerso memberi masukan?
salam, rin
Adalah tidak mudah memberikan perhatian terus menerus pada saat sekarang dengan melepas segala pikiran dan emosi yg biasa menyertai kemanapun kita melangkah. Saat disadari ada pikiran yg masuk, pikiran itu sudah merambat sepersekian detik atau menit. Seperti juga penulis buku Pengalaman Tanpa Diri Bernadett Roberts yg pada suatu hari tidak dapat menemukan sandalnya dan disaat lain ia terkejut ketika membuka pintu lemari es menyadari sesuatu yang tak terduga ada didalamnya, bulan-bulan pertama mengikuti meditasi ini saya mengalami hal yg serupa entah itu menutup panci besar dengan tutup sejenis yg lebih kecil atau sebaliknya. Kejadian seperti ini berulang terjadi sehingga anak saya yg memperhatikan saya tersenyum geli. Disaat lain saya memakai sandal jepit yg tidak sama untuk kaki kanan dan kaki kiri dan melangkah keluar pintu rumah, begitu mendekati pintu pagar pandangan mata menatap aneh pada sepasang kaki ini.
Juga tidak mudah menerima pikiran yg datang apa adanya dan membiarkan pikiran pergi apa adanya tanpa memberi komentar. Batin ini bergerak mengikuti pikiran untuk memberi komentar batin terhadap emosi halus yg menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Kotoran batin sering membuat diri ini terperangkap pada satu gagasan, ide, atau emosi.
Waktu demi waktu berlalu, diri ini lepas dari bayangan masa lalu masa depan dan batin yg bicara sendiri, tanpa perjuangan. Pikiran dan perasaan tidak lagi mendera. Aku tidak ada di puncak gunung aku tidak ada di kedalaman laut, gunung dan laut tidak ada. Keheningan bertambah dalam. Berdoa tak bisa lagi dengan kata-kata, saya hanya diam dalam keheningan menyadari keheningan yg tak terbatas, hanya memandang salib besar di dinding altar gereja sementara napas, pikiran, suara dan lainnya seolah berhenti sendiri tanpa keinginan untuk menghentikan atau mengubahnya. Diri ini seperti menjadi satu dengan alam kosmis dan Yang Tak Terselami, sumber pengetahuan Tertinggi, Energi dasyat dan ajaib, sesuatu di dalam diri yg bukan bagian dari diri, but, tidak terpisahkan dari diri ini.
Ketika kaki melangkah dalam keseharian, saya menikmati setiap gerak langkah kaki sebagaimana gerak itu sendiri tanpa kegiatan berpikir tanpa percakapan batin. Saya menikmati perhatian yg tidak terbagi dalam hidup harian, bersatu dengan kehidupan itu sendiri.
Terimakasih kepada Tuhan yg setia menjawab doa saya membangunkan saya di pagi buta untuk meniti jalan rohani ini, terimakasih kepada Romo Sudrijanta. Romo, jangan bosan membimbing saya, pliiss.
Salam
Stay cool & menyatu dengan alam kosmik & Tak terselami…uhm nice keywords…!
Terima kasih Kang TH.