Pengalaman retret 2010 (6): Kesadaran baru yang mencerahkan
Testimoni YDP, 26 th, karyawan.
=========
Retret ini adalah pengalaman pertama saya dalam bermeditasi. Saya tergerak untuk ikut karena ada sesuatu yang beda ketika membaca buku “revolusi batin adalah revolusi sosial”. Dari judulnya sudah terpancar kebenaran itu sendiri, tapi saya tidak mau menilai dari sampulnya saja. Ketika membaca bab demi bab, saya menemukan suatu kebenaran-kebenaran yang lain.
Suatu saat saya juga membuka situs internet Gereja St. Anna dan ada pengumuman retret meditasi di Gunung Geulis. Mungkin ini merupakan kesempatan buat saya coba untuk mempraktekkan apa yang ada di buku itu. Jeda waktu antara saya mendapatkan buku ini dan retret kira-kira hanya dua minggu. Maka saya targetkan harus rampung membacanya dalam jangka waktu yang tersisa. Selain itu juga saya mulai mencari-cari makna tentang meditasi dan saya mempelajari juga bagaimana cara bermeditasi (sikap postur tubuh).
Hari Pertama
Saya sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakuakan di retret ini, jadi siap atau tidak siap waktunya telah tiba. Hari pertama diisi dengan pengantar tentang apa itu meditasi dan tahapan-tahapannya. meditasi yang dilakukan kali ini adalah meditasi tanpa objek; mencoba kembali ke persepsi murni manusia. Sebuah perjalan dari self menuju ke no-self, suatu keadaan diseberang di titik hening.
Dan berbagai instruksi yang tidak mengikat tentang bagaimana bermeditasi disampaikan, antara lain:
• meditasi tanpa objek adalah melihat total batin kita tanpa menilai.
• bagi yang pernah mengikuti meditasi lain dengan objek, lupakan metodenya dan mulai lakukan meditasi tanpa objek. (bukan suatu masalah buat saya, karena ini baru pertama kalinya saya bermeditasi)
• bagi yang pernah menbaca dan melahap buku “revolusi batin adalah revolusi sosial” dalam waktu sekejap patut disangsikan motifnya, jangan-jangan hanya mencari kesenangan rohani (nah, ini baru saya), dan sebaiknya melupakan isinya. (ok, akan saya coba)
• sikap dalam bermeditasi boleh duduk dengan gaya apa saja, asal nyaman dan tidak pegal-pegal, selanjutnya diselingi dengan meditasi berjalan (apa ini?) dan sebaiknya memejamkan mata tapi tidak rapat.
• Lokasi untuk meditasi boleh dimana saja, hanya saat meditasi bersama di ruangan sebaiknya di tempat yang sama.
• peralatan komunikasi hp dikumpulkan, dan setelah pengantar tidak boleh ada lagi pembicaraan alias tutup mulut dan masuk ke dunia diam.
Meditasi pun dimulai dengan diiringi denting bel dari besi (seperti suara bel sepeda, ting..!) dan bergema mengawali keheningan. Keadaan sekeliling sudah hening tapi pikiran benar-benar ramai. Cukup lama juga hingga sampai ketitik hening, hanya dengan mengamati. Tapi saya masih bertanya-tanya apakah benar titik hening inilah yang dimaksud? Mau bertanya tapi sudah tidak boleh bicara, maka saya simpan semuanya dulu. Hingga pukul sepuluh malam kira-kira hanya sejam, meditasi awal ini selesai. Waktunya untuk beristirahat karena besok pagi akan dimulai dengan meditasi pukul tiga (wah apalagi ini?).
Saat itu rasanya saya seperti orang yang tidak tahu berenang, lalu tiba-tiba disuruh masuk ke dalam kolam; entah itu dalam atau dangkal juga tidak tahu. Yang ia tahu hanya sebatas teori-teori, bagaimana berenang dengan gaya dada, bebas, kupu-kupu dan punggung. Dan akhirnya gaya yang saya lakukan adalah kombinasi antara gaya bebas dan gaya batu.
Hari Kedua
Pukul tiga subuh kami berada di ruangan yang gelap, dingin dan hening. Dengan kondisi badan yang masih menyesuaikan dan masih lelah, tentu yang ada mata pengen merem saja. Kebiasaan duduk bersila pun masih baru buat tubuh ini, alhasil yang kaki ini keram-keram dan mesti ditahan. Nah bagus sekali perpaduan kedua hal ini, karena hampir membuat tubuh saya refleks terhuyung-huyung ingin tidur. Untung saja dalam meditasi ini ada sesi berjalan yang ditandai dengan denting bel, tapi tetap saja masih aneh bagi saya; memang bisa ya meditasi sambil jalan? Saya ikuti saja semua proses ini walau ada keenganan karena seolah dikendalikan dengan denting bel. Selesai meditasi pukul tujuh dilanjutkan dengan sarapan pagi. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi yang saya sebut sebagai sesi apa saja, tapi menurut instruksi harus tetap dalam kondisi meditatif. Dan yang saya lakukan adalah meditasi di tempat tidur.
Bangun pukul sepuluh lalu mandi, tetapi terasa ada yang aneh kenapa suasananya sepi sekali, apakah yang lain sedang meditasi di ruangan atau sedang pada tidur? Ya sudahlah saya akhirnya memilih untuk meditasi sendiri di taman dengan diiringi suara gemericik aliran air. Sempat terbesit dalam pikiran saya, apa sih yang kamu lakukan? ini kan hanya omong kosong (it’s bullshit), ga ada manfaatnya. Sesuai instruksi: lihat saja; dan gejolak batin itu pergi dengan sendirinya. Menjelang pukul dua belas saya ke ruangan dimana peserta yang lain sedang berkumpul bermeditasi. Saya memutuskan untuk tidak ikut dulu dan menunggu waktu untuk makan siang bersama.
Suasana makan siang diwarnai dengan keheningan, hanya saling senyum tanpa sapa seolah-olah tidak saling kenal (hal ini bisa dalam arti yang harafiah, sebab saya bukan dari Gereja Paroki St. Ana mungkin seperti seorang penyusup). Setelah itu saya kembali ke ruang meditasi pribadi yaitu kamar tidur. Hingga kira-kira pikul tiga saya kembali ruang meditasi bersama. Kali ini tanpa denting bel,sehingga bebas melakukan sesuai dengan gaya sendiri. Kali ini saya benar-benar terasa masuk ke dalam dunia meditasi, tapi yang masih saya pertanyakan kesesuainnya. Ada keinginan yang sangat besar untuk bertanya pada teman-teman yang sudah pernah ikut bermeditasi dengan metode ini, tapi tetap saya tahan dulu dan menikmati keheningan ini.
Meditasi malam dimulai pukul tujuh dan berakhir pukul sepuluh, dan tampaknya saya sudah bisa mengikuti ritmenya. Walau masih penuh tanda tanya di kepala, saya memutuskan tetap bertahan dengan teka-teki ini dan kembali tidur.
Hari Ketiga
Sepertinya saya terlalu bersemangat atau tidak nyaman dengan tidur saya (yang terasa ‘meruang’ dengan satu tempat tidur untuk bertiga), hingga setengah tiga saja sudah bangun (hebat sekali..!). Hanya saja kali ini karena kepagian saya diajak ke grup prodiakon, sebab saya pikir semua nanti berkumpul ditempat prodiakon. Memang, kali ini meditasi dibagi menjadi dua tempat tidak tahu sebab yang pasti mungkin agar peserta yang bukan prodiakon merasa lebih nyaman saja atau karena ruangan yang tidak cukup untuk bersama. Kemudian terasa ada yang aneh sebab lama-lama teman yang lain kok tidak muncul juga. akhirnya saya harus menyesuaikan diri lagi dengan anggota grup yang baru dan ruangan yang baru. Butuh penyesuaian lagi, sebab ‘aura’nya agak berbeda disitu. Suasana yang ada seperti samar-samar, tidak begitu familiar buat saya. Tidak apalah, mungkin bisa menjadi suatu tantangan baru lagi buat saya. Dan setelah beberapa saat saya mulai bisa menyesuaikan, hingga kira-kira pukul lima peserta diminta untuk meditasi berjalan bersama di taman. Saya pun ikut berjalan, awalnya masih ikut iringan tetapi dengan cahaya mentari yang mulai muncul makin terasalah kejanggalan, akhirnya saya perlahan-lahan keluar barisan. Saya berjalan-jalan mengelilingi taman sendirian, ternyata ada beberapa juga yang sendirian ditaman. Lalu ada dorongan untuk kembali ke ruang meditasi di grup awal saya. Wah ternyata mereka masih sangat menikmati meditasi. Lalu saya pun ikut gabung dalam meditasi kelompok ini walau hanya beberapa saat, hingga tiba waktu untuk sarapan.
Setelah sesi apa saja, tibalah sesi penghujung retret yaitu meditasi yang ditutup dengan misa. dalam sesi penutup ini, kedua grup berkumpul bersama. Hanya saja kali ini meditasi diiringi dengan suara pengatar, yang semakin memperjelas bagaimana sebenarnya langkah-langkah yang mesti dilakukan dalam meditasi. Selama meditasi dan misa,semakin terasa bermacam-macam gejolak batin yang muncul. Batin saya bergetar dan perlahan-lahan sepertinya benteng ego mulai retak dan seperti ada aliran yang membawa kepada suatu kesatuan yang tak bisa dijelaskan di dalam batin saya sendiri, antara saya dengan peserta dan antara saya dengan ’sesuatu yang lain’. Saya tidak tahu apa ini, hanya saja saya merasakan ada kepenuhan dalam diri saya.
Setelah misa selesai lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini semua sangat antusias melontarkan berbagai pengalaman dan pertanyaan. Dan bagi saya ternyata ini bisa menjawab berbagai pertanyaan-pertanyan yang selama tiga hari ini ada di kepala. Setelah itu sesi makan siang dan ramah tamah. Tapi karena sudah terbiasa tidak bicara atau masih menyerap pengalaman ini, walau cukup ada suara bincang-bincang suasana terasa hening. Meditasi sudah selesai dan seluruh peserta sudah siap-siap untuk pulang, alat komunikasi dikembalikan.
Dan meditasi yang sesungguhnya pun dimulai, sesaat itu juga setelah meditasi selesai. Yaitu saat menerima telepon, saat menunggu untuk pulang, saat duduk dalam kendaraan; ada suatu keadaan terjaga disana. Ketika semakin terhubung dengan kesehari-harian pun semakin terasa kondisi meditatif itu.
Dan hal itu hanya bisa saya alami sendiri, bukan menurut pendapat atau cerita orang lain. Suatu pengalaman pribadi yang tidak bisa diperdebatkan atau dinilai. Suatu kesadaran-kesadaran baru yang mungkin dalam keseharian dianggap biasa (otomatis) tapi sangat mencerahkan bagi saya (seperti ada lampu neon yang menyala dikepala, ting!). Dan ternyata ini bukan sekedar omong kosong (it’s not bullshit!).
Tiga minggu sesudah retret meditasi
Sampai saat ini saya masih harus dibimbing secara tidak langsung lewat buku “revolusi batin adalah revolusi sosial”, yang terang-terang telah diinstuksikan untuk dilupakan saja. Namun kali ini saya benar-benar ingin meresapkan lagi antara pengalaman penulis dan pengalaman saya sendiri. Dan mengunyah perlahan-lahan, biar tidak tersedak dan biar bisa menjadi daging. Dan sebagai pemula saya masih sering membuka bab ‘membangun fondasi meditasi’, menurut saya ini cukup membantu bagi pemula tentang bagaimana bermeditasi. Walau akhirnya saya sesuaikan dengan gaya saya sendiri, tetapi jika rumah ingin tetap berdiri kokoh harus terbuat dari fondasi yang kuat; fondasi dari batu kali.
Dan jika manusia itu terdiri dari jiwa (pikiran dan perasaan), tubuh dan roh. Maka dengan bermeditasi kita diajak untuk berjalan dalam terang roh. Karena sering kali kita berjalan dengan kemauan jiwa (ego dan emosional saja) atau berjalan dengan kehendak nafsu badaniah saja. Walau kita sering berdoa supaya kita bisa berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi kita seringnya melakukan dengan kehendak kita sendiri. Dalam meditasi kita diajak untuk menyadari kesatuan dan kekosongaan diri, yang berarti juga membiarkan energi Kesadaran Murni atau Roh Kudus memenuhi ruang hidup kita. Kita ikut mengalir dalam arus kehidupan, dan bisa memilih mau mengalir kemana ketika sungai didepan sana bercabang, tetapi kita tidak ‘ngoyo’ (bersusah payah) mengembleng dengan usaha sendiri.
Disini saya memang sengaja untuk menunda menulis pengalaman dalam mengikuti meditasi ini, sebab tidak ingin terlalu terburu-buru menyimpulkan ketika diri masih dalam eforia. Apakah ini bisa berjalan atau hanya akan mandek setelahnya? Apakah hal ini masih bisa bertahan terus dalam keseharian saya sesudahnya? Apakah ini akan menjadi pengalaman sesaat seperti yang saya coba-coba setelah membaca buku tentang kerohanian atau kepribadian lain. Dan yang saya ikuti prosedur-prosedurnya tapi lambat laun kendur dan memudar dengan sendirinya. Mungkin tidak lupa sepenuhnya, tapi maksud saya adalah hal itu tidak membekas cukup lama. Bukan suatu gerakan alami dalam batin, tapi menjadi seperti paksaan dan keharusan yang pastinya tidak akan bertahan lama.
Kenyataannya, sampai saat ini saya masih melakukan meditasi tanpa ada suatu keharusan dan paksaan setiap saat. Maksud saya meditasi dalam keseharian bukan hanya meditasi duduk saja. Tetapi mungkin saya adalah peserta yang lambat dalam memahai meditasi ini. masih banyak kekacauan dimana-mana dalam hidup saya. Masih banyak waktu tidak sadarnya dibanding waktu sadarnya. Saya belum bisa merasakan ada suatu revolusi dalam batin saya, jika maksud revolusi adalah suatu kondisi yang berubah secara total dalam melakukan segala sesuatu. Hal ini belum terjadi sepenuhnya, saya masih meraba,bertanya-tanya dan berjalan dalam labirin. Tapi saya sudah tau kemana mencarinya, yaitu ke dalam diri sendiri yang ternyata adalah sang guru dan murid sekaligus.
Dan walau sampai saat ini masih sedikit perubahan tapi sudah ada gerakan kesadaran yang melintasi relung-relung pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada gerak dalam diri menuju revolusi batin itu, gerakan yang ‘tanpa paksaan’ tapi karena pemahaman baru dan bersifat ‘natural’ (tidak dibuat-buat). Tetapi seperti yang disampaikan oleh guru meditasi saya (yang tidak mau disebut juga sebagai ‘guru atau master’ melainkan sebagai ‘teman’ seperjalanan), meditasi bukanlah suatu ‘teknik’ melainkan suatu ‘keahlian’. Seperti rotasi yang terus berputar 24 jam, terus hidup dalam ADANYA.
Last but not least
Saya ucapkan terima kasih banyak untuk Romo J. Sudrijanta, SJ karena memperbolehkan saya ikut mengalami secara langsung apa itu meditasi. Untuk seluruh peserta atas kebersamaan dan keterbukaannya; dan juga untuk rekan-rekan dari St.Ana atas kemurahan hati dan tumpangannya. Dan maaf jika ada yang kurang berkenan di hati siapa saja.
salam,
ydp







Leave a Reply