Pengalaman Retret (5): “Cinta ada kalau aku tiada”
Testimoni Pak SCG, 50 tahun, wiraswasta.
===========
Terima kasih atas kesempatan mengikuti retret ini… Kebersamaan dalam suasana meditasi yang total silensium sungguh sangat indah.
Sejak awal mengikuti meditasi saya tidak pernah terbeban untuk mencari sesuatu. Saya hanya mengikuti dan mengamati gerakan batin, kadang saya dapat menyadarinya tetapi sering kali juga tidak merasakan apa2. Tetapi seperti yg romo pernah katakan, setiap kali meditasi saya seperti “liburan”.
Selama retret yang baru pertama kali saya ikuti, saya sangat menikmati meditasi bersama mulai jam 3 pagi dan meditasi pribadi yg saya lakukan di atap dan taman. Bangun jam 3 pagi bukan masalah bagi saya dan saya terbiasa tidur 5 jam sehari. Dalam keheningan pagi dan suasana segar terasa sangat khusuk dan begitu posisi diam, saya dapat mengamati pikiran yang datang dan pergi dengan lebih baik dan pada setiap akhir sesi saya biasanya telah masuk dalam keadaan diam tak ada gejolak batin lagi dan pada saat denting bel saya bahkan LUPA apa saja yang tadi terpikirkan dan segala perasaan panas, dingin atau sakit yang muncul.
Pada saat meditasi bebas, awalnya saya lakukan di ruang lama….tapi segera terasa kebosanan mendera dan sulit memasuki fase meditasi, rasa sakit pada kaki mulai mengganggu, meditasi berjalan diarea taman pun tidak nyaman karena ada rasa terbelenggu, entah kenapa terasa sekali ada yg membatasi dan mengganggu. Akhirnya saya pindah ke bangunan atas, meditasi berjalan di taman mulai membuat saya nyaman kembali, walaupun suasana di atas lebih banyak bertemu kawan2 tapi saya mulai merasa bebas kembali dari himpitan. Pada saat saya meditasi diam di atap, saya kembali dapat merasakan gejolak batin yang menghilang pada akhir sesi dan walaupun tanpa denting bel, merasakan semilir angin, bahkan panas dan hujan rintik yg silih berganti sungguh menjadi penyembuh yang sempurna.
Bersatu dengan alam yang adalah ciptaan NYA memang sungguh indah, disana kehadiran yang KUDUS lebih mudah dirasakan dan disadari, jauh dari kepura-puraan dan kedok2 duniawi.
Ada 2 hal lucu yang saya alami pada waktu berinteraksi dengan alam, seperti halnya sdri. Asri.
Yg pertama terjadi pada waktu meditasi sekitar jam 5 di ruang lama, dalam kegelapan dengan mata yg sedikit terbuka tiba2 saya menyadari kehadiran kecoa yg menghampiri saya….walaupun tidak takut tapi saya tidak suka dirambati kecoa..spontan pikiran saya berkata : stop! (tapi tetap diam tanpa gerakan), ternyata dia benar2 stop dan setelah diam sebentar dia berbalik arah, pikiran segera merespon :” wah disana tempat wanita pasti mereka takut, jangan kesana dong”, kecoa itu kembali berhenti, diam seolah kebingungan, pikiran kembali memberi jalan keluar : “lewat aja deh didepanku”, aneh seolah mengerti kecoa itu berbalik lagi, menjauh dari diriku dan lewat dipinggir tembok menuju kearah dapur…sungguh suatu kebetulan yg mengesankan, biasanya kalau ada kecoa di rumah pasti diburu dan dibunuh, tapi disana seolah ada kesadaran sebagai sesama ciptaan NYA dan bisa berkomunikasi, tidak ada kekerasan.
Yg kedua waktu meditasi diam di taman atas, pada saat akhir sesi dan membuka mata saya baru sadar bahwa banyak semut yg merayapi kakiku, mereka segera pergi waktu aku mulai bergerak, tak ada yg menggigit……
Makna yg kutangkap dari ke 2 kejadian itu : dimana ada CINTA kita dapat hidup bersama, bersahabat tanpa saling menyakiti….aku menjadi tiada tapi satu, yaitu Cinta itu sendiri.
Selama disana aku sangat serius utk silensium mengingat ini retret pertama ku. Mohon maaf bagi teman2 dan orang2 terdekat ku yg merasa di cuekin…pada waktu meditasi berjalan aku mengamati semuanya koq….karena proses itu membuat aku tak berpikir…….
bertemu Romo di ambang pintu dapur pagi2…..
bu Lydia yg muncul dari balik pohon dengan selimut putihnya jam 4 pagi…
bu Poppy yang duduk meditasi didepan kamar…..
Martina yang kedinginan dengan jaket tebal dan kaus kakinya…
bu Lia yg ketemu di lorong membawa sepiring buah, seolah baru kenal…
Christ, Sinta, Desy dan Lia yg sama2 medi di atap….
bu Lily yang meditasi di tepi kolam kosong……
Asri dengan syal nya….
bu Mary yang kalau meditasi jalan pelan banget….
Demi dan p Aloy yg biasanya jalan mondar mandir….
Bang Sahat dan Aida yg sempat menghilang…
p. Jo yg sering ketemu di meja makan ruang lama…..
p. Tony yg sampe bosen nunggu aku meditasi sendiri…
dan yg lain tidak mungkin aku sebutkan satu per satu disini……
Itulah “liburan” meditasi di cibulan….kesadaran yg aku dapat adalah : Hidupku selama ini adalah meditasi panjang….lama diam…. batin terfokus pada keluarga dan pekerjaan “aku” seolah larut disana, setahun lalu mendapat kesadaran dan pencerahan, mengalami transformasi……”aku” menjadi larut dalam kegiatan2 menggereja…….sulit sekali menggabungkan fase 1 dan ke 2 ini…..membutuhkan kearifan tersendiri yang mungkin masih harus disadari…dengan menjalani hidup sesuai realita saat ini.
Salam persahabatan,
SCG







Yup, Pak. sungguh hanya ‘tanpa diri’ lah yang sanggup melihat perjalanan waktu dari satu tahap ke tahap lain. Betapa akhirnya hanya ada perjalanan hidup yang penuh realita. Akankah diri masih sanggup menanggungnya? biarlah terlihat…
Komunikasi dengan makhluk yg hinadina….uhm sangat menarik utk diamati kejadian tersebut….