Pengalaman retret 2010 (4): Menemukan titik hening

Testimoni SCG, 51 th, wiraswasta.
==========

Sesungguhnya saya sudah berniat meninggalkan pengalaman retret di Bukit Kehidupan sebagai masa lalu saya, akan tetapi ada perasaan berhutang, karena retret kali ini cukup berkesan bagi saya dan pada saat misa penutupan saya sudah berjanji untuk sharing melalui email. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk menyusun kata-kata, meskipun demikian kucoba juga di keheningan malam ini.

Sekilas teringat 8 bulan yang lalu saat pertama saya mengikuti meditasi di St. Anna. Saya tak memliliki motivasi apa-apa, sekedar tertarik dan mengikuti ajakan sahabat. Itulah yang ada di pikiran saya pada saat itu. Baru sekarang kusadari bahwa batin saya sungguh kacau pada saat itu. Ada ekstase, ada euforia rohani, ada transformasi dalam kehidupan rohani dan menggereja. Di saat yang sama ada masalah pekerjaan yang sangat berat, ada masalah dalam hubungan-hubungan pribadi, ada beban dalam tugas-tugas kepanitiaan. Yah ternyata saya bukan tanpa masalah dan 8 bulan kemudian semua itu baru saya sadari, semuanya terbuka dan saya sadari dalam retret kali ini.

Saya berangkat retret kali ini dengan cukup bersemangat. Saya tidak bisa ikut retret November lalu dan kali ini persiapan saya cukup baik. Nama saya sudah terdaftar sejak awal. Ini adalah retret kedua saya. Pada retret pertama saya baru dapat dipastikan ikut pada saat-saat terakhir. Meskipun lagi-lagi saya barus bisa berangkat sore karena kesibukan kantor. Batin saya jauh lebih siap.

Saya bisa mencerna dengan baik pembukaan yang diberikan Romo mengenai self dan no-self, setelah itu tak dipikirkan lagi dan tidur. Bangun jam 2.30 pagi tak menyiksa lagi seperti waktu retret pertama. Kalau dulu harus lihat kanan kiri dulu; sekarang saya langsung memilih tempat yang menurut saya cukup enak. Baru beberapa orang yang ada diruang meditasi, tapi ternyata saya harus keluar lagi, mengetuk pintu membangunkan beberapa teman baru, dan menunggu mereka membuat saya kehilangan tempat enak saya. Bahkan lewat jam 3 saya baru bisa mulai meditasi. Tempat sudah penuh dan saya mendapat tempat dekat pintu. Sempat terbersit rasa kesal tapi segera saya sadari dan tidak menjadi beban lagi, bahkan saya segera masuk dalam keheningan.

Kalau dulu saya bingung mencari-cari titik hening sekarang saya hanya mengikuti saja gerakan-gerakan batin dan menemukan titik hening pada saat pikiran berhenti sesaat, satu demi satu gerakan pikiran muncul dan pergi, ada sosok-sosok pribadi, ada masalah pekerjaan, lalu perjalanan hidup selama setahun terakhir terlintas. lalu zzzzzz tertidur kah? Setelah selesai meditasi saya baru pikirkan pengalaman itu apakah beberapa kali terhanyut tadi itu tertidur ataukah itu saat nya keheningan, aneh sekali karena setelah itu saya agak sering merasakannya bahkan meskipun saya tidak mengantuk. Kalau dulu setiap kali mendengar bunyi tiiinngg, saya merasa seperti terbebaskan dan lupa akan segala pikiran yang muncul sebelumnya. Sekarang melalui pengalaman keheningan itu, saya merasa bebas lepas dari segala kungkungan. Saya menyadari belenggu baru yang muncul melalui pengalaman dan euforia rohani, belenggu yang mungkin muncul melalui keinginan-keinginan dan harapan-harapan setelah euforia itu.

Meditasi pribadi di alam adalah favorit saya. Gemericik air, desau angin, kicau burung, bahkan nyamuk-nyamuk dan aroma duren menemani saya. Seperti pengalaman retret lalu hidup dalam kasih dan harmony di alam adalah suatu kenyataan yang indah. Menyaksikan bagaimana semut dan nyamuk sama sekali tidak mengganggu saya selama sayapun tidak mengganggu mereka, bagaimana tawon hanya lewat saja, bagaimana bunga-bunga terompet menggantung dengan indahnya, pakis hutan membentuk harmony dengan sulur-sulurnya dan gunung yang biru tersaput kabut. Semuanya membawa saya menyadari Yang Tak Dikenal, yang membawa hidup bagi alam semesta dan segala isinya. Dalam kesatuan dengan Yang Tak Dikenal tak ada Ego, bunga terompet tak pernah peduli akan dipandang atau tidak, yang melihat orang jahat atau baik, tak pernah merasa dilukai atau melukai. Itulah kondisi tanpa Ego, tanpa diri.

Pada akhir retret, hilang keragu-raguan akan manfaat meditasi selama ini. Meditasi adalah sesuatu yang harus dialami sendiri dan tidak bisa diajarkan melalui teori-teori dan diceritakan kepada orang lain. Terbuka lepas segala kebimbangan yang melingkupi diri selama ini. Melalui meditasi kita belajar untuk menyadari ketidak-bebasan kita, untuk melepaskan segala belenggu yang menghambat perjalanan kita menuju kesatuan dengan Nya. Belajar untuk selalu menyadari setiap kali sang Ego muncul dalam hubungan-hubungan kita dengan orang lain, dalam pekerjaan dan bahkan dalam berdoa atau berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa.

Saya lebih mudah mengendalikan perasaan-perasaan saya, tidak mudah terluka dan belajar untuk tidak melukai orang lain. Menyadari arti pelayanan yang sesungguhnya yang bukan menjadi pelarian atas masalah-masalah dalam pekerjaan saya, berani menghadapi kenyataan dan tidak terus bermimpi dalam menjalani hidup ini (dulu saya bangga sekali sebagai seorang pemimpi).

salam
scg

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>