Pengalaman retret 2010 (9): “Segala sesuatu tampak berbeda dan lebih bermakna”

Testimoni Bapak SCG, 51th, wiraswasta.
========

Pertama kali mendengar tentang retret ini saya ragu-ragu untuk memutuskan ikut atau tidak. Akhir Januari yang lalu kami baru saja retret Meditasi jadi waktunya terlalu dekat dan ada hari kerja terjepit. Tapi tema retret “Lepas Bebas setiap saat” sangat menarik dan juga pesertanya dibatasi hanya 15 orang. Seorang teman pernah bercerita bahwa kalau pesertanya sedikit suasananya lebih mendukung. Begitulah akhirnya saya mendaftar juga di saat terakhir.

Retret kali ini terasa beda bagi saya karena untuk pertama kalinya saya mengikuti retret tidak bersama istri, sahabat dan orang-orang yang dekat dengan saya dan sebagian besar pesertanya baru saya kenal. Awalnya saya merasa asing, apalagi sebagian peserta tampaknya sudah matang bermeditasi sehingga timbul rasa segan terhadap mereka. Karena pak Tony absen kali ini maka jatah memegang bel tak tergantikan. Mau tidak mau saya harus selalu memperhatikan waktu dalam meditasi. Meskipun demikian pada hari pertama dan pagi hari kedua tidak ada masalah yang membebani saya. Seperti biasa saya memasuki keheningan tanpa mencari-cari sesuatu dan hanya menyadari setiap gerak pikiran sampai berhenti dan berganti dengan gerak pikiran yang lain. Kondisi fisik yang masih fit juga membuat saya dapat duduk ber meditasi dengan nyaman.

Di hari kedua itulah setelah makan pagi saya naik ke atap untuk bermeditasi sambil merasakan kehangatan mentari pagi. Ini adalah tempat favorit saya. Entah berapa lama saya meditasi karena saya tidak membawa timer. Pada awalnya gerak pikiran datang dan pergi lalu tiba-tiba semuanya berhenti dan ada keheningan yang cukup lama. Lalu saya melihat gunung seakan-akan menjadi satu dengan saya, tak ada jarak, yang ada hanyalah kedamaian dan tubuh ini seakan tiada. Ketika pikiran kembali, saya mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi tak ada yang teringat! Saya hanya menyadari bahwa sesuatu terjadi dan cukup lama sebelum akhirnya saya melihat gunung itu. Saya kemudian turun dan melakukan walking meditation. Segala sesuatu tampak berbeda dan lebih bermakna. Setelah itu saya ke ruang makan di depan dan saya ingat melakukan percakapan dengan bu Lily yang akan pulang. Saya baru merasa normal kembali waktu makan siang. Seperti itukah pengalaman no-self ?

Hari minggu siang menjadi saat yang terberat. Perasaan bosan dan fisik yang menurun mulai mengganggu. Meditasi tidak bisa, tidurpun tidak bisa. Saya sampai tergoda untuk ber sms yang untungnya tidak dijawab. Pada saat meditasi pun saya sangat kelelahan karena pikiran datang seperti ‘banjir kiriman’ bukan lagi sekedar ‘grudak gruduk’ seperti kata mbak Nadine.

Secara keseluruhan saya merasa suasana retret kali ini memang sangat baik, walaupun saya dan beberapa peserta melanggar pantangan berbicara. Setiap sesi meditasi malam romo selalu disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta. Tapi tampaknya justru itu sangat membantu peserta untuk menjalankan ‘pembiasaan’ secara benar dan beberapa dari mereka saya lihat dapat menikmati retret dan meditasinya dengan baik. Saya sudah tidak ingat dengan apa-apa saja yang saya katakan waktu itu, yang teringat justru apa yang dikatakan teman-teman:

Bp. Cipto mengatakan bahwa dia bertanya ke romo Franz di Rowo Seneng dan katanya : “memberi Kasih itu menyakitkan / penderitaan”.

Apa yang saya sadari dan dapatkan dari retret itu : kalau mengasihi masih merasakan sakit atau menderita, maka itu adalah EGO, jika kita melepaskan Ego kita maka mengasihi tidak menyakitkan lagi, apalagi kalau DIRI ini berakhir. Fisik boleh menderita atau sakit tapi secara psikologis tidak ada rasa sakit atau menderita.

Contoh yang diberikan pak Cipto sederhana sekali, menurut pak Cip pada waktu pacaran keharusan apel menjadi penderitaan karena harus meluangkan waktu, tapi bukankah itu karena Ego yang tidak mau lepas. Pada waktu mengasihi tanpa Ego yang ada hanya rasa bahagia walaupun harus meluangkan waktu yang seharusnya bisa untuk ngobrol atau main dengan teman. Bahkan sekalipun fisik harus menderita misalnya dengan kedinginan, kehujanan selama perjalanan tapi tetap merasa bahagia.

Bu Linda, kita tak bisa mengasihi anak tetangga karena pikiran kita yang membedakan itu adalah anak tetangga bukan anak kita, padahal hakekatnya mereka sama-sama membutuhkan KASIH.

Peserta lain ada yang merasa terbantu karena mendengarkan penjelasan Romo. Yang saya sadari adalah bahwa kita bisa melepaskan segala hambatan ketika kita mau MENDENGARKAN dan bukannya berbicara, melepaskan segala tradisi, ritual, konsep atau apapun yang membelenggu dan membiarkan semuanya mengalir menuju keheningan.

Hal lain yang saya dapatkan adalah kesadaran bahwa kekuatiran akan masa depan berakar dari pengalaman masa lampau, jadi untuk dapat sepenuhnya hidup di saat kini maka kita harus benar-benar melepaskan semua kenangan yang menyakitkan maupun menyenangkan di masa lalu.

Demikianlah pengalaman retret kali ini. Terima kasih Romo yang telah menjadi “teman seperjalanan” dalam menjalani meditasi. Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah memberi pengalaman yang berbeda, termasuk juga bu Lily W. yang hanya sebentar bersama kami.

Salam untuk bu Darminto (Henny). Obrolan kita di meja makan jangan dibawa pulang ya bu, lupakan, LUPA!, LUPA!! Yang boleh diingat hanya ajakan ikut KEP karena itu memang menggunakan pikiran……mba Asri, Sinta…ada calon peserta nih!!

salam

scg

One Response to “Pengalaman retret 2010 (9): “Segala sesuatu tampak berbeda dan lebih bermakna””

  1. Baiklah, Pak Gun ^_^ Hm, ya. Bu Henny adalah ketua lingkungan Montini (lingkungan tetangga). Selamat bergabung, Bu. Kami akan menunggu Ibu setiap hari sabtu pagi. Wah, sy baru plg dr luar kota tp membaca begitu banyak pengalaman berharga dr retret kali ini. Senang rasanya. semoga tidak berhenti di sana ya^_^

    Proficiat, Mo!^_^

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>