Pengalaman Retret (1): Diri Lenyap

Retret Meditasi di Cibulan pada tanggal 24-26 Juli 2009 telah berakhir.

Berikut ini adalah pengalaman Ibu CLM, 51 tahun, food consultant. Menurut penuturannya, setiap kali meditasi duduk pada hari ketiga ia melihat bagian-bagian tubuhnya hancur atau lenyap setiap kali disadari.
==========

Saya pertama kali mengikuti retret seperti ini dan thanks untuk Romo Sudri yang telah memberi kesempatan memperkenalkan retret meditasi ini kepada saya.

Sejak pulang sampai saat menulis email ini perasaan/batin saya penuh kedamaian, perasaan yang biasanya hanya sesaat seperti ini tapi ini selalu menyelimuti saya sejak turun dari cibulan. Meskipun siang tadi sedikit capek, sudah sempat tidur siang sebentar, sekarang sudah recovery, tapi rasanya energi ini berlimpah berlimpah dan semakin segar. Saya berangkat sore ini ke gereja lagi menemani suami saya yang belum ke gereja, karena kami biasa pergi bersama.

Sewaktu saya mendaftar untuk ikut retret ini, lebih kepada “curiousity”, tidak punya target apa-apa. Hanya suatu tekad bahwa saya harus bisa menyelesaikan retret ini sampai selesai karena cerita dari teman2 bahwa mulai jam 3 pagi dan selesai jam 10 malam non stop. Saya sempat berpikir, apa kuat dan bisa ya saya. Namun saya bilang bila Tuhan berkenan pasti semuanya akan berjalan baik , dan syukur kepada Tuhan pada akhirnya saya sungguh mendapatkan sesuatu luar biasa yang saya alami.

Pada retret pagi hari ini seperti yang sudah di sharingkan tadi pagi, ada sesuatu yang tak terduga dan pengalaman ini sungguh berarti dalam batin ini. Hari pertama dan kedua, batin ini sama dengan meditasi-meditasi sebelumnya, tapi retret pagi ini sesuatu belum pernah saya alami sehingga langsung saya ceritakan ke Romo. (Ed.: Pengalaman lenyapnya bagian-bagian dari tubuh)

Perasaan dan batin ini berbeda, rasa damai, tenang , sabar terus menyelimuti hati ini dan tidak pernah meninggalkan diri ini sesaat pun, sampai orang-orang di sekitar saya saat ini bilang ada apa sih dengan retret meditasi nya bahkan ada salah satu saudara saya mengatakan kelihatannya seperti saya semakin diberkati dan dikasihi Tuhan. Semoga hal ini tetap sampai hari-hari mendatang. Saya juga sungguh berharap teman-teman juga semakin diberkati dan dikasihi Tuhan.

Saya juga senang semua peserta penuh kasih , hand in hand sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik, tidak ada kepanitiaan resmi tapi lebih kepada niat untuk membantu dan memberikan yang terbaik, setiap yang merasa bisa dan berkepentingan memberikan uluran tangan dan kasih. That’s very beautiful. Cuma ada satu hal yang perlu ngaku dosa nih ama Rm Sudri. Sorry tanaman dan bunganya di halaman banyak diambil dan dipotong tanpa permisi, tapi niat nya baik , untuk hal yang lebih bermanfaat dan dirangkai menjadi lebih indah.

Biarlah semua perasaan indah, rasa damai dan batin yang tenang ini senantiasa menyelimuti kita semua.

CLM

13 Responses to “Pengalaman Retret (1): Diri Lenyap”

  1. salam damai dan sejahtera, romo….
    apa yg dialami oleh ibu CLM adalah didalam latihan dan harus dilatih terus menerus sehingga timbul didalam batin yang disebut “Sati/perhatian murni” dngn demikian barulah hasil latihan tsb dapat dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari didalam berbicara, berbuat dan berpikir yang mana semua itu bisa dikontrol oleh “sati/perhatian murni” dgn demikian didalam berbicara, berbuat dan berpikir benar2 kita sadari…bukankah begitu romo,,,,,? mohon penjelasan dan pencerahannya…
    trims, romo,,,Gbu

  2. Pengalaman orang yg melakukan meditasi tentu berbeda satu dengan yg lain. Pengalaman saya saat meditasi yg hingga kini masih saya alamai: tubuh ini seolah tiada, yg ada seolah hanya roh yg bergerak tunduk, sujud di hadapan sesuatu Yg Tidak Dikenal yg berasal dari dalam diri yang tidak saya ketahui
    Madam CM, selamat datang di dunia meditasi.
    Salam,

  3. Hari ini Ibu CLM kembali menjalankan hidup harian seperti biasa. Berikut ini adalah pengalaman ketiadaan-diri yang mewarnai kesibukan hariannya sehari setelah retret akhir pekan berakhir kemarin.
    =============

    Monday, 27 July, 2009 4:01 AM

    Persis rm seperti apa yang ditulis oleh Bernadette Roberts, waktu saya membaca ringkasan tulisan itu lalu saya teruskan membaca terjemahannya, kembali aliran panas itu mengalir lagi, masuk kedalam setiap persendian tubuh ini, saya tetap meneruskan membaca dan terhenti pada page 5 yang terjemahannya, saya berhenti karena tak kuasa meneruskan dan masuk dalam keheningan. Dan saya mengalami lagi, semuanya hancur dan larut dan entah kenapa air mata mengalir, bukan air mata kesedihan dan air mata itu menyatu dengan sungai/samudera yang ada dekat saya yang mengalir, saya sadar dan itu berulang lagi, berulang lagi, berulang lagi, badan ini hancur satu persatu.

    Ini juga saya alami tadi malam waktu hendak tidur, biasanya saya selalu doa malam, tapi saya tidak bisa berdoa begitu saya merapatkan mata ini masuk keheningan dan aliran panas menjalar di sekujur tubuh ini dan saya mengamati lagi setiap bagian tubuh hancur satu persatu dan tinggal lah batin yang sangat tenang dan itu berulang-ulang itu terjadi, saya sadari,

    Baru saja saya selesai mengalaminya,saya langsung menulis email ini, untuk menceritakannya ke romo. Saat saya merenungkan ini membuat keheningan selalu datang dan mencekam…ah sudah dulu rm, datang lagi, saya berhenti dulu……….
    CLM
    ==============

    Monday, 27 July, 2009 2:58 PM

    Barusan saya selesai membaca terjemahan Bernadette Roberts, akhirnya selesai juga dan saya mau teruskan email saya pagi tadi karena saat saya menulis email itu tiba-tiba batin ini masuk kedalam keheningan dan saya langsung akhiri dan send ke romo,lalu saya teruskan membaca , saya berusaha untuk sadar diri, namun batin ini berulang kali masuk dalam keheningan tanpa diri, diri ini tiada namun terbuka terhadap Yang Tak Dikenal dan Yang Tak Dikenal itu juga tiada, sampai saya berulang kali mencubit lengan saya sendiri supaya sadar bahwa saya lagi membaca. Begitu juga saat saya berhenti beberapa kali untuk melakukan aktifitas nyata, saat saya memasukkan pakaian ke lemari, saat saya membalas email-email urusan kerjaan, memeriksa dokumen-dokumen, saat mau makan pun saya sudah sudah tidak bisa berdoa seperti biasa, saya hanya diam.

    Terima kasih Romo untuk kiriman bukunya dan ini sungguh membantu saya memahami apa yang saya alami dan ternyata banyak sekali peristiwa yang dialami Bernadette Roberts mirip dengan yang saya alami, tentunya ditempat dan situasi yang berbeda, misalnya sekitar 20 tahun yang lalu, saya mengalami serah diri yang luar biasa diatas ombak besar di Manado sekembali dari saya berkunjung dr Bunaken, saat itu kami berenam, saya bersama tamu saya dari Jepang ditemani 3 orang Indonesia, saya satu-satunya perempuan, tiba-tiba ombak sangat besar dan perahu kami terombang ambing seperti sabut kelapa, meskipun sudah pake pelampung, semua sudah khawatir dan pemilik perahu sudah minta pertolongan dari daratan untuk menjemput kami, saya pasrah dan menutup mata, diam, saat itu saya belum mengenal meditasi, tapi batin ini begitu tenang dan saya baru tersadar saat ada yang mengulurkan tangan menarik saya untuk pindah ke kapal bantuan yang entah kapan datangnya. Hal yang mirip seperti itu dialami Bernadette Roberts saat ada yang memberi dia roti (saya lupa dihalaman berapa) dan beberapa contoh lain yang saya sendiri tidak tahu kalau itu sebuah pengalaman keheningan.

    Dengan membaca buku tersebut sungguh membuat saya jadi lebih paham. Andaikata saya baca buku ini sebelumnya mungkin apa yang saya alami kemarin berbeda, entahlah. Saya sejak dulu memang tertarik untuk mengikuti meditasi namun selalu tertunda-tunda karena kesibukan sehari-hari, meski suami saya punya banyak koleksi buku tentang buku meditasi namun hanya beberapa yang saya baca dan itupun masih sulit memahami, meski dalam hati saya bilang, nanti kalo saya sudah tua akan saya baca tuh buku semua. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Saya ketemu Romo dan saya coba untuk menanggapi undangan untuk ikut bermeditasi beberapa bulan yang lalu, pelan-pelan saya mulai berlatih meditasi dan belajar memahaminya.

    Sebagai seorang pemeditasi yang baru dan belum berpengalaman, the experience of no self kemarin memberikan sesuatu yang besar artinya bagi diri ini sehingga saya langsung ingin berkonsultasi sama Romo saat itu karena saya merasa tidak ada energi sama sekali dan perasaan yang berbeda dengan indera sehari-hari. Saya merasakan Kesatuan dengan Kristus adalah suatu realitas yang dihayati dan bukan sekedar kepercayaan berdasarkan logika dan kemampuan intelektual dan saat rakhmat itu datang maka misteri itu terungkapkan.

    Saya tidak tahu apa yang akan saya alami besok dan hari-hari mendatang, hanya terasa perjalanan ini masih panjang dan saya akan mengikuti Gerak Abadi yang menyelimuti batin ini.
    Good night.

    Regards,
    CLM

  4. Testimoni Ibu CLM 2 minggu setelah mengikuti retret meditasi.
    ===========

    Met pagi Rm and sudah hampir 2 minggu meditation retreat berlalu, namun the spirit still alive especially hari-hari yang saya lalui setelah itu. Almost everything I have done in silence, yes journey in silence within. One thing which I feel difference significantly is in emotion control. Firstly I think, it is only to control my EQ but…it is different, it’s more than that. I don’t know, what should the name but I realise to understand it. Knowledge is not enough. We must see and touch it, live in presence and then the conclusion is always the same…there is the most unknown energy, the most powerful and it is LOVE, unity with Christ. More and more , I see growing in me and the future is more beautiful than all the pasts.Yeah,… One can only know our Lord well through Himself. It is really amazing.

    I do hope, it was happened to all participants who joined the meditation retreat.

    Following, please find some notes :

    Tuesday, July 28 – Thursday, July 30, 2009

    Saya menjalankan seperti biasa kegiatan sehari-hari, perbedaan utama adalah menghayati semuanya dengan perasaan damai, tenang dan sabar. Rm mungkin tahu, saya biasanya kurang sabar, semua pengen serba cepat tapi dalam hari-hari ini saya lebih bisa memahami orang lain, menerima mereka apa adanya. Kalo dulu mereka yang seperti ini saya tinggal, tetapi sekarang malahan in silence sy mengamati itu dan berdoa untuk mereka.

    Friday, July 31, 2009

    In the morning and afternoon, I made preparation for my trip and then saat menunggu flight di lounge sq, sy menikmati live traditional music with silence. Biasanya sy sibuk dg notebook and Hp or baca but this time just reading in silence, very nice…
    During the flight, after dinner, normally see the movie but now just reading with silence before went to bed.

    Saturday, August 1, 2009

    After long trip, took a rest for a while and did the activities as usual and went to St Francis Church for Holy Mass and had dinner with my family, going home and silence before went to bed.

    Sunday, August 2, 2009

    Today I got blessing so much. I almost lost my love eldest son through car accident between Launceston-Georgetown, Tazzy. Police said that was major accident. Saya begitu tenang waktu menerima phone call dan saya doa in silence, saat itu sy sendirian lagi belanja di supermarket, langsung saya ke kasir and pulang ke rumah yg berjarak kira2 4 menit jalan kaki. Lalu saya call back untuk tahu peristiwanya. Syukur semuanya baik. It’s like miracle kalo mendengar ceritanya karena previous accident disini, all was died and my son only small scratch. Praise The Lord and thanks God.

    Monday-today, August 3-7, 2009

    Hari-hari ini saya menyelesaikan kegiatan seperti biasa dan satu hal saat saya ketemu dengan team saya disini, rapat dengan mereka dalam suasana damai dan sukacita. Saya merasakan meditasi dalam setiap kegiatan saya. The owner of my principal made special lunch party for me with all team on last tuesday, it made me surprisingly, since it never happened previously, usually just with small team. Thanks God for the blessing.

    Rm, saya jadi teringat waktu kita bahas homili. Rm bilang mungkin it depends on suasana hati seseorang saat mendengarkan homili, shall it the same thing since now my heart fullfill with peace ?

    Yah, semoga hari-hari esok bisa saya jalani in silence within

    Have a nice day
    Rgds,
    CLM

  5. Terima kasih Ibu CLM, saya barusan melahap makan pengalaman2 Ibu setelah Retret. Saya jadi lebih memahami bahwa silence bisa didatangkan kapanpun kita mau dalam rutinitas sehari2. That’s the way how we can listen to HIS word yg kita “undang” datang ke kita, listening to His whisper, his guidance,etc.

    Sekali lagi terima kasih atas pengalaman ibu, meditasi ternyata sangat,sangat applicable dalam keseharian kita. Amin.

    TH

  6. nah… setuju dengan yang terakhir. entah kenapa, Yang Tidak Dikenal seperti menuntun agar meditasi ini sungguh dapat dirasakan dan dijalani seutuhnya… benar, memang sungguh terjadi dalam kehidupan nyata. tidak perlu jauh- jauh, di saat inilah keheningan tinggal…

  7. Dear All,

    Dalam suasana meditatif ternyata suhu udara sama sekali tidak terasa. Ini saya alami sendiri, udara dingin sekali 4-8 derajat Celcius, saya beraktifitas seperti biasa in silence dan saya membuka pintu dan jendela supaya udara segar masuk, namun anak saya bilang, mum koq pintunya dibuka, dingin sekali. lho saya agak tercengang..lho saya koq ngga dingin ya, bingung sendiri dan once saya aware…oh ya langsung terasa dingin buanget dan saya pun menutupi pintu dan jendela. Hal ini juga berlangsung dalam hari-hari berikutnya, hari Minggu kemarin saya ke Botanical Garden, Melb., biasa sudah pake baju under wear, baju lengan panjang , scarf dan over coat, seperti semua orang berpakaian, tahu ngga apa yang terjadi, saya sungguh menikmati semuanya dalam keheningan dan saya buka tuh overcoat,scarf dan sama sekali tidak terasa dingin, anak2 saya bingung, mum koq ngga kedinginan sih, saya diam saja dan cuma tersenyum, it is real…
    Mary
    ===========
    Pengalaman anda mirip dengan pengalaman anak-anak berikut ini. Sekian tahun yang lalu sejumlah anak muda camping di sebuah kawasan pegunungan di sukabumi. Anak-anak sudah tiba lebih dulu di sore hari dan saya tiba jam 20.00. Saya heran, betapa banyak anak yang kedinginan sampai batuk-batuk. Barangkali tubuh belum betul-betul siap beralih dari udara panas di Jakarta ke udara dingin di pegunungan Sukabumi. Dan sebagian memang hanya memakai baju biasa tanpa jaket tebal.

    Lalu saya tergerak untuk melakukan sesuatu. Pada jam 21.00 saya kumpulkan mereka di udara terbuka dan saya ajak untuk duduk dengan batin yang hening. Pada menit-menit awal, suara batuk-batuk masih terdengar hebat. Beberapa mulut dan tubuh bahkan bergetar karena kedinginan. Sekitar 20 menit kemudian, suasana menjadi begitu tenang. Tidak ada lagi yang batuk-batuk, tidak ada lagi mulut atau tubuh yang bergetar. Seolah tubuh anak-anak ini sudah menyatu dengan keheningan dan udara dingin di sekitar.

    Setelah sekitar 45 menit duduk dalam keheningan, saya minta mereka untuk membuka mata. Saya tanya apa yang dirasakan? Mereka terheran-heran bagaimana bisa mereka merasakan kehangatan di tengah dinginnya malam tanpa selimut atau jaket tebal? Saya tidak tahu apakah mereka belajar sesuatu tentang keheningan batin. Tapi saya merasa telah membantu mereka sedikit mengurangi rasa dingin yang menyiksa tubuh ketika tubuh belum siap menyatu dengan alam lingkungannya.

    Sudrijanta

  8. Pengalaman meditasi lenyapnya tubuh saya pikir adalah kebangkitan alam kesadaran yang menceritakan bahwa dimensi fisik hanyalah suatu selubung. Di balik selubung itu adalah roh. Kita menjadi sadar bahwa tubuh hanyalah semacam “ilusi” bagi roh, maka mata batin kita tidak lagi melihat ke alam fisik tetapi menembus ke alam roh sehingga tubuh terlihat seperti lenyap. Yang Tidak Dikenal itu bisa jadi kesadaran anda sendiri yang lebih tinggi, yang tidak anda kenal di dunia sehari-hari namun hanya ditemui dalam meditasi karena meditasi menghubungkan anda ke dalam roh. Ijinkan pula saya berpendapat bahwa yang anda sebut Tidak Dikenal itulah yang disebut Yesus sebagai Roh Kudus, roh yang ada di dalam diri manusia sebagai penghubung dengan Roh Allah.

  9. Hari Sabtu kemarin, seperti biasa kami meditasi bersama di Gedung Yos, wah saya kepanasan..karena sehabis olah raga pagi dan cepat2 mandi lalu berangkat, kelihatannya pembakaran energi tubuh masih tinggi, saya sampai keringatan dan berkipas terus, lalu mulai meditasi, ternyata dalam suasana meditatif, juga tidak ada rasa panas lagi, nyaman…jadi saya berkesimpulan dalam keadaan meditasi, suhu udara entah panas maupun dingin tidak ada pengaruhnya sama sekali, wah enak juga ya, cuma masalahnya apakah kita bisa selalu dalam suasana meditatif tersebut. Satu lagi yang saya alami,beberapa hari ini badan kurang fit dan batuk, tenggorokan gatal luar biasa, kalo sudah batuk sampai berulang kali dan keluar air mata, nah kemarin saat batuk menyerang saya coba amati , tenggorokan gatal luar biasa,dan ternyata….hilang lenyap batuk tersebut, luar biasa,dan saya tidak terbatuk-batuk dan batuk lenyap saat itu. Nah sepertinya kita harus setiap saat dalam suasana meditasi ya, gimana nih Rm Sudri? Jadi…harus meditasi terus ya Rm

  10. digb> Setujuuu

    mary> dengan meditasi harian ibu masuk dlm jantung kehidupan meditasi itu sendiri sehingga batin menjadi mekar berseri seperti penampilan ibu pagi hari ini… aihhh……

    Salam Merdeka!

  11. Malam ini ada Misa arwah di Lingkungan Angela yg dibawakan oleh Rm Sudri, sebelum Misa sudah terasa udara sangat panas dan umat cukup banyak yang hadir, meskipun saya sudah duduk diluar, sebelum Misa dimulai masih kepanasan, dan saat Misa berlangsung,saya masuk dalam suasana hening,dan sama sekali tidak terasa kepanasan,benar-benar udara yang panas tidak terasa sampai setelah Misa saya ngomong sama Rm, wah….selama Misa saya sama sekali ngga kepanasan, tapi setelah selesai Misa mulai lagi kepanasan. Setelah selesai Misa saya ikut latihan koor karena kami biasa mulai sekitar jam 8.30/9 malam dan selama latihan saya melakukannya dalam suasana meditatif dan benar-benar tidak kepanasan padahal semua peserta latihan berkipas ria. Latihan koor dalam suasana meditatif ini pertama kali saya lakukan malam ini sejak retret meditasi akhir Juli lalu. Saya merasakan dalam keheningan batin maka kita sungguh bisa bersatu dengan alam , so nice…and so beautiful karena bersatu dengan Yang Tidak Dikenal

    Good night,
    mary

  12. Rm J. Sudrijanta, SJ. Saya belum memberi buku Romo. Tetapi share orang-orang yang mengikuti sesi meditasi Romo, sungguh membuat saya ingin mengalaminya. Saya ingin mengikuti program meditasi yang Romo bawakan. Apakah ada info soal kalender layanan meditasi yang Romo akan layani? Saya seorang protestan dan sedang menjalani studi magister filsafat di STF Driyarkara. Terima kasih!

  13. Dear Pak Budiman,

    wow, senangnya ada yg berminat utk mengalami ^_^
    Romo Sudri sdh pindah ke Gereja Santa, Blok Q. Jadi, Bapak bisa ikut latihan meditasi bersama di sana setiap sabtu pagi pukul 06.45 atau setelah misa harian (perayaan ekaristi) pagi.

    Atau, Bapak bisa menilik di event akun facebook Romo.

    selamat bergabung & mencoba, Pak. Trimakasih.

    salam hangat,
    angela _/\_

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>