Pengalaman mistik katolik

THE [GROUNDLESS] GROUND OF BEING

SUDRIJANTA JOHANES:
Berikut ada pertanyaan dari Alex S Hoetomo setelah membaca “Meditasi
tanpa objek”: http://gerejastanna.org/meditasi-tanpa-objek/

[Sudah lama saya ingin menghubungi Romo, dapatkah pengalaman the
Ground of being disamakan dgn pengalaman hakikat diri sejati atau
pengalaman roh? Pada level Jhana yg keberapa pengalaman tsb.Pertanyaan
kedua jika Buddha melakukan meditasi tanpa obyek pd level tertinggi
mengapa Buddha tidak mengalami "Ya Abba Bapa"?]

Apa tanggapan Anda?

SUDRIJANTA JOHANES:
Ketika memasuki pengalaman mystical, barangkali orang mengalami
pengalaman yang mirip. Ketika pengalaman itu direfleksikan, orang lalu
menyebut pengalaman itu sebagai “the ground of being”, “hakekat diri
“sejati”, “Roh”, “hakekat Buddha”, “hakekat Kristus”, dst. Mengapa
istilahnya berbeda-beda? Mungkin latar-belakang agama, kebudayaan,
cara berpikir para mistik itu mempengaruhi cara mereka membahasakan
pengalaman mereka.

Di level Jhana yang ke berapa pengalaman tersebut muncul? Saya tidak
tahu. Saya tidak mendalami teori Jhana. Saya hanya mengambil jalan
negasi total saja, negasi terhadap semua pengalaman, termasuk
pengalaman Jhana kalaupun itu pernah saya alami.

Kalau Buddha melakukan meditasi [tanpa objek] pada level tertinggi,
mengapa Buddha tidak mengalami ?Ya Abba, Bapa?? Bagi orang Kristen,
yang mengalami pengalaman kesatuan dengan Allah Bapa hanya Kristus.
Tidak ada orang mengenal Bapa selain Kristus. Maka pengalaman mystical
orang Kristen tidak bisa dilepaskan dari Kristus. Tetapi Kristus dan
Bapa atau Allah Tritunggal itu siapa atau apa? ?Jalan positif? dan
?jalan negatif? akan mendekatinya secara berbeda.

Ada banyak kemiripan pengalaman mystical dari perspektif teistik dan
non-teistik. Misalnya pengalaman Meister Eckhart dan Keiji Nishitani
berikut:

Meister Eckhart: “It [the soul] wants to go into the simple ground,
into the quiet desert, into which distinction never gazed, nor the
Father, nor the Son nor the Holy Spirit”.

Keiji Nishitani: “While taking the personal relationship of God and
man as a living relationship between the ‘image of God’ in the soul
and its ‘original image,’ he[Eckhart] refers to the ‘essence’ of God
that is free of all form – the completely ‘image-free (bildlos)
godhead-as ‘nothingness,’ and considers the soul to return to itself
and acquire absolute freedom only when it becomes totally one with the
‘nothingness’ of godhead. This is not mere theism, but neither, of
course, is it mere atheism”.

*) Meditasi tanpa objek: http://gerejastanna.org/meditasi-tanpa-objek/

HUDOYO HUPUDIO:
< hakikat diri sejati atau pengalaman roh?>>

Hati-hati dengan yg disebut ‘pengalaman’. Setiap pengalaman, yag
diuraikan dengan kata-kata, tidak terlepas dari paradigma pikiran dan
pengetahuan orang yg mengalaminya. Mungkin saja pengalamannya sama,
tapi dipersepsikan secara berbeda. Atau sebaliknya, pengalamannya
memang berbeda — karena masih adanya ego yg berlapis-lapis.

Jadi menurut saya, sebaiknya setiap pengalaman spiritual harus
diterima seperti apa adanya, tetapi tidak dianalisis, apalagi
dibanding-bandingkan. Kecuali kita melihat ada benang merah yg
mendasarinya; tetapi itu pun sebatas spekulasi.

< mengapa Buddha tidak mengalami "Ya Abba Bapa"? >>

Tentu saja; sebabnya ialah karena adanya perbedaan paradigmatik.
Paradigma pikiran Siddhartha adalah paradigma non-teistik, bukan
paradigma teistik, atau monoteistik. Oleh karena itu, dalam
meditasinya yg paling dalam pun tidak ujug-ujug muncul “Bapa” dalam
kesadarannya.

***

Bandingkan dengan pengalaman Bernadette Roberts, seorang Katolik,
dalam bukunya “The Experience of No-Self”.

Ketika menjadi biarawati pada usia remaja, ia mengaku sudah berhasil
mencapai tahap Union (penyatuan dengan Allah).

Ini berlangsung selama 20 tahun, bahkan setelah ia keluar dari biara
dan menikah.

Dua puluh tahun kemudian, pada suatu malam ia mengalami kejadian yg
menggemparkan. Ia mengalami hilangnya aku/diri-nya, dan bersamaan
dengan itu, lenyap pula Tuhan, yg dengan siapa ia berkomuni setiap
malam selama 20 tahun.

Sebagai gantinya, ia mengalami adanya ‘sesuatu yg lain’, yg
dipersepsikannya meresapi segala sesuatu yg partikular di
sekelilingnya dan meresapi tubuhnya sendiri. Karena tidak punya
kata-kata yg tepat untuk menggambarkannya, ‘sesuatu’ itu dinamakannhya
“The Unknown”. Sesuatu itu tidak pernah meninggalkannya.

Di sini terjadi sesuatu yg unik. Jelas runtuhnya ego dan lenyapnya
Tuhan itu bagi Bernadette merupakan pengalaman yg ‘lebih tinggi’ atau
‘lebih dalam’ daripada pengalaman ‘penyatuan dengan Tuhan’ selama 20
tahun sebelumnya.

Pengalaman apakah itu? Kita hanya bisa berspekulasi. Yang jelas itu
tidak tercantum dalam buku-buku St Yohanes dari Salib & St Teresa dari
Avila. Sedangkan Bernadette sendiri tidak pernah membaca buku-buku
spiritualitas dari Timur sebelum peristiwa itu terjadi.

Ini adalah pengalaman spiritual yg terjadi di luar –bahkan
bertentangan– dengan paradigma Bernadette sebagai seorang Katolik.

TANPA NAMA:
@Hudoyo: < pengalaman, yag diuraikan dengan kata-kata, tidak terlepas dari
paradigma pikiran dan pengetahuan orang yg mengalaminya. Mungkin saja
pengalamannya sama, tapi dipersepsikan secara berbeda. ... See
MoreAtau sebaliknya, pengalamannya memang berbeda -- karena masih
adanya ego yg berlapis-lapis>>

Setuju!

@Sudrijanta Johanes: < tersebut muncul? Saya tidak tahu. Saya tidak mendalami teori Jhana>>

Sama, saya juga tidak tahu soal teori Jhana.

Sampai saat ini saya pribadi hanya menjalani saja jalan yang telah
saya tempuh sejauh ini. Saya tak tahu kemana jalan ini akan membawa
saya. Satu hal yang selalu saya temui dalam perjalanan ini adalah
setiap usaha yang saya lakukan untuk mencari tahu hanya akan menambah
ramainya pikiran ini.

CAECILIA LIDWINA MARYLIEDAWITA:
Sebagai seorang Katolik, pengalaman mystical tidak mudah diungkapkan
dengan kata-kata , namun bisa dirasakan dengan batin yang hening dan
bening, dan bisa merasakan kehadiran Yesus karena diri ini tiada.
Apakah itu pengalaman “the ground of being” ? saya sebagai awam kurang
paham, namun disaat Dia hadir maka diri ini tiada, dan indah sekali….

TANPA NAMA:
@Caecilia: <>
Lho… itu diri masih ada, dan merasakan “indah”

HUDOYO HUPUDIO:
@Caecilia: sudahkah Anda mengalami apa yg dialami oleh Paulus:
“Sekarang aku sudah disalibkan bersama Kristus; bukan aku lagi,
melainkan Kristus yg hidup di dalam ini.” (Galatia 2:19-20) ?

Menurut pengalaman Bernadeette, ketika diri ini runtuh, bersama Tuhan
lenyap, tidak ada rasa menderita maupun rasa bahagia, tidask ada afek
(emosi) sama sekali.

Bernadette menceritakan ketika ia berada bersama Tuhan di lubuk
batinnya yg terdalam, memang di situ terdapat kebahagiaan yg luar
biasa. Tapi pengalaman ‘penyatuan dengan Tuhan’ itu terjadi ketika ia
hidup di biara pada usia remaja, dan dialaminya selama 20 tahun,
sebelum kemudian runtuh.

Jadi, mungkin pengalaman Anda itu lain dengan pengalaman Bernadette yg
terakhir.

CAECILIA LIDWINA MARYLIEDAWITA:
@tanpa nama:” indah” dalam arti “noself” bukan yang bisa dirasakan,
nah mungkin terminologi kata indahnya kurang tepat
@hudoyo:betul no feelings at all
Apakah” the ground of being” dimaksud sebagai pengalaman rohani pada
titik nadir?

HUDOYO HUPUDIO:
@Caecilia: Titik nadir? Maksudnya, titik paling rendah? Saya
melihatnya, justru pengalaman seperti yg diungkap oleh Buddha, J
Krishnamurti, Bernadette Roberts itu merupakan pengalaman titik
puncak. Tidak ada apa-apa lagi sesudah itu.

CAECILIA LIDWINA MARYLIEDAWITA:
@hudoyo: Setujuu, kalau experience of self merupakan merupakan
pengalaman titik puncak, disaat itu , no feeling, no minds, no will
and want, not at all….and noself,

HUDOYO HUPUDIO:
amin; sadhu, sadhu, sadhu. :)

JULIANA LAY:
Maaf sy ikutan nimbrung, sy seorg awam dan ga prnh meditasi. Prnh
mencoba tp srg gagal krn ketiduran.
Sy prnh mengalami apa yg Bapak2 dan Ibu ceritakan di sini, keadaan no
feeling, no want, no minds. Tdk merskan indah ataupun bahagia atau
apa, sy tdk tahu bgmn mengungkapkannya, hy merasa full/penuh/ cukup.
Bhkn sy sampe tdk berdoa krn tdk tau apa yg mau sy doakan, hy mengucap
syukur saja atas apa yg sy dptkan setiap hr. Keadaan ini berlsg bbrp hr.

Lalu stlh melewati bbrp hr itu dtglah pikiran yg berkata2 “mengapa km
santai banget, mengapa otakmu diem aja, ga berpikir tuk buat rencn ms
dpn. Mengapa tdk berdoa, apa tdk mers berdosa, dll, dsb” Sy lalu
bertanya2 apkh sy sdg berada di jln yg slh krn datar aja? Jd timbul
kebimbangan dan kekhawatiran.

Apakh keadaan datar yg sy alami itu sama dgn no self yg Bpk2 dan Ibu
ceritakan? Apakh no self itu hy bs dicapai dgn cara meditasi?

HUDOYO HUPUDIO:
@Juliana: Menilik dari penuturan Anda, tampaknya itu bukan pengalaman
‘no-self’ yg otentik. Di situ masih ada aku yg sangat halus, aku yg
“mengucap syukur”, aku sebagai subjek yg mengalami semua itu. Selama
ada aku, selama itu pula ada pikiran yg sangat halus. Pikiran inilah
yg kemudian muncul kembali dengan kuat, seperti Anda tuturkan,
sehingga menjadi kebimbangan & kekhawatiran.

Jika Anda mengalami ‘no self’ yg otntik, di situ tidak ada lagi
kebimbangan & kekhawatiran sama sekali. Adanya keraguan & kekhawatiran
itu menunjukkan bahwa aku/diri & pikiran belum berhenti.

Pengalaman no-self yg otentik –setelah direfleksikan kemudian–
rasanya seperti orang bangun dari tidur bermimpi. Yang diibaratkan
dengan mimpi adalah kesadaran si aku & pikiran sehari-hari. Jadi,
pengalaman no-self yg otentik itu [kemudian] dipersepsikan sebagai
keadaan batin yg jauh lebih nyata daripada kesadaran sehari-hari.

Selain itu, di dalam pengalaman no-self yg otentik, bukan terasa
“blank”, atau “kosong”. Di situ ada ‘sesuatu yg lain’, yg oleh karena
tidak pernah dialami sebelumnya, disebut ‘The Unknown’ (Bernadette
Roberts), ‘The Immeasurable’, ‘The Unnameable’, ‘Immensity’,
‘Benediction’ (J Krishnamurti).

Anda menuturkan “hy merasa full/penuh/ cukup. Bhkn sy sampe tdk berdoa
krn tdk tau apayg mau sy doakan …” Mungkin saja Anda menyentuh
pengalaman no-self yg otentik itu sebentar, tetapi tampaknya selama
beberapa hari berikutnya, pikiran & aku yg halus kembali mendominasi.

***

Saya telah menerjemahkan buku Bernadette Roberts “The Experience of No
Self” (“Pengalaman Tanpa Diri”). Teman-teman yg berminat bisa
mengunduhnya dari

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_download_ebooks.html

Mohon sharing pendapat Bpk2 dan Ibu ttg pengalaman sy tadi.

DANIEL SUCHAMDA:
@Alex S.Hutomo ”
< hakikat diri sejati atau pengalaman roh?>>

Dalam hal ini, anda membandingkan 2 atau lebih term dari sistem yg
berbeda? Untuk menghindari “menunjuk kpd hal yg berbeda” sebaiknya
didefinisikan dulu apa maksud term2 tsb.

Tapi sejauh yg saya tebak : saya rasa pengalaman Ground of Being tidak
dapat disamakan dengan hakikat diri sejati atau pengalaman roh.

<< Pada level Jhana yg keberapa pengalaman tsb.>>

Bukan pada Jhana2.

< tertinggi mengapa Buddha tidak mengalami "Ya Abba Bapa"?>>

Pengalaman itu sendiri disebut Raw Experience. Suatu Raw Experience
apabila dilihat dengan menggunakan kesadaran pikiran (si aku) secara
langsung , ia disebut Reflexive Experience. Ini sudah masuk ke jalur
bahasa agar dapat diceritakan kpd orang lain. Tetapi agar
pembicaraannya nyambung, maka tataran reflexive ini dicantolkan dalam
terminologi2 dan kerangka berpikir suatu sistem pemikiran. Tahap ini
disebut RefleCTIVE Experience.

Nah, khazanah ingatan (memory), latar belakang budaya, kerangka
berpikir dll itulah yg menyebabkan suatu Raw Experience yg sebetulnya
sama dikonsepsikan dalam cara yang BERBEDA-BEDA.

Penyebutan “Ya Abba Bapa” tidak bisa terlepas dari suatu pemikiran
penyembahan yg bersifat monoteistik. Sedangkan Buddha hidup di jaman
dan lingkungan pemikiran yg kontemplatif non-penyembahan, dan juga
sifatnya yg analitik (bukan based on faith) utk mensistematisasikan
ajarannya to the next person.

JULIANA LAY:
@Pak Hudoyo: terima kasih banyak utk penjelasan dan linknya, Pak.
Apakah berbahaya buat pemula spt saya belajar meditasi hy dgn
mengikuti petunjuk dari buku, tanpa bimbingan seorg guru meditasi? Krn
di tempat sy tinggal, sy tdk bisa menemukan seorg pembimbing meditasi.

ANGELA ASRIARTI:
hehe… nah lho. masalahnya Bu Juliana, bapak2 di sini tuh, ndak mau
disebut guru. klo pembimbing?^_^ (maaf menyela, soalnya bahasannya
menarik&menggelitik)

SUDRIJANTA JOHANES:
@Juliana: Apa maksudnya “berbahaya”? Buku apa yang Anda baca?

HUDOYO HUPUDIO:
@Juliana: Ada banyak TUJUAN meditasi, dan ada banyak TEKNIK meditasi
yg masing-masing sesuai dengan tujuannya.

(A) TUJUAN

Pada garis besarnya, tujuan meditasi itu bisa dikelompokkan menjadi
dua kelompok:

(1) Yang dampaknya ‘memperkuat ego/diri’.

(a) Di sini misalnya meditasi untuk mendapatkan kemampuan-kemampuan
paranormal tertentu, seperti: kemampuan mengobati, kemampuan melihat
ke masa lampau atau ke masa depan, kemampuan mempertahankan diri,
kemampuan melihat ke alam-alam halus, dsb.

(b) Bahkan meditasi yg tujuannya tampak ‘innocent’, seperti “menyatu
dengan Tuhan”, “menyatu dengan alam semesta” dsb, bila tidak disadari
malah bisa memperkuat ego/diri.

Meditasi yg dampaknya bisa memperkuat ego/diri pada umumnya memerlukan
seorang guru pembimbing, karena mengandung risiko. Risikonya ialah
frustrasi atau stres.

(2) Yang dampaknya ‘melemahkan/mengecilkan ego/diri’.

Misalnya, meditasi yg didasarkan pada Mazmur 46:10: “DIAMLAH, dan
ketahuilah Aku Tuhan.” Atau yg berorientasi pada ucapan Paulus di
Galatia 2:19-20: “Sekarang aku sudah disalibkan bersama Kristus; bukan
aku lagi, melainkan Kristus yg hidup di dalam ini.”

Meditasi yg tujuannya mengecilkan ego/diri, sama sekali tidak
berisiko, apabila dilakukan dengan benar, sehingga tidak memerlukan
guru yg harus terus-menerus hadir.

(B) TEKNIK

(1) Sebagian besar teknik meditasi bersifat ‘konsentratif'; artinya,
memusatkan perhatian pada satu objek tertentu terus-menerus untuk
waktu lama.

Meditasi yg tekniknya bersifat konsentratif, perlu dilakukan di bawah
bimbingan seorang guru yg berpengalaman, karena mengandung risiko,
yakni bisa muncul (tidak selalu) pengalaman-pengalaman psiko-afektif
atau psiko-motorik tertentu yg luar biasa, menggemparkan, menakutkan
dsb.

(2) Hanya ada beberapa jenis meditasi yg tidak menggunakan teknik
konsentrasi, alih-alih sekadar bersifat observatif secara pasif.
Artinya, sekadar menyadari segala peristiwa yg muncul di dalam batin
(pikiran, perasaan, keinginan, kehendak dsb) secara pasif tanpa si
ego/aku/pikiran ini campur tangan. Meditasi jenis ini aman dan tidak
membutuhkan kehadiran guru terus-menerus.

***

Nah, jika Anda atau teman-teman yg ingin mulai mencicipi meditasi,
saya mempunyai dua rekomendasi:

(1) Jika Anda beragama Katolik, silakan mengikuti retret meditasi
bersama Romo Yohanes Sudrijanta. Meditasi beliau saya namakan
“meditasi mengenal diri (MMD) versi Katolik”. Info lebih jauh bisa
diperoleh di halaman “meditasi” dari situs web Gereja Santa Anna,
Paroki Duren Sawit, http://gerejastanna.org/category/renungan/meditasi/
Di situ terdapat banyak testimonial dari teman-teman yg pernah
mengikuti retret meditasi bersama Romo Sudri.

(2) Teman-teman yg ingin mencicipi MMD (meditasi mengenal diri) yg
bersifat spiritual non-religius, lebih universal, bisa mempelajarinya
dari situs web MMD, http://meditasi-mengenal-diri.org/
Di situ juga ada testimonial dari peserta dalam negeri dan luar
negeri. Ada pula “Forum MMD”, yg antara lain memuat diskusi dengan
teman-teman yg mempraktikkan MMD sendirian di rumah.

Nah, silakan Anda praktikkan sendiri “MMD versi Katolik” atau “MMD” di
rumah. Kalau ada keraguan atau pertanyaan, silakan hubungi Romo Sudri
atau saya. :)

JULIANA LAY:
@Bu Angela : Senang rasanya bila bisa bertemu lsg dgn guru2 di sini.
@Rm. Sudri n Pak Hudoyo: Buku yg sy bc “Meditasi bersama Yesus” dan
“Meditasi Kristiani” karya Rm. Siriakus Maria Ndolu, O. Cam.
yg mengajarkan meditasi dgn cara berfokus pd pernafasan dan mantra.
Yg sy takutkan kl tidak ada pembimbing, malah ego sy yg semakin kuat
spt yg dikatakn Pak Hudoyo. Saat ini sy mengalami ketidakstabilan dlm
iman. Setlh membaca buku “Awareness” dan “The Way to Love” karya
Anthony de Mello, SJ, Buku “The Secret”, “Seat of the Soul” nya Gary
Zukav, tulisan2 Ajahn Brahm dan Rm. Sudri yg semuanya ini intinya
mengecilkan si “Ego/Aku”, sy merasakan pergeseran makna Tuhan, makna
doa dan Kitab Suci dlm hidup sy.

Kalo dulunya sy amat bergantung pd sosok Tuhan, kl ada mslh lsg berdoa
memohon penguatan dan jln keluar, memohon rezeki dan kesehatan, skrg
ini dgn menghentikan pikiran jd lbh mudah menerima apa adanya, jadinya
tidak lg merasa perlu memohon apapun. Doa juga jd kehilangan daya
“magis” nya buat saya. Kitab Suci bg sy tdk lg buku yg “wah”. Dulunya
bg sy dgn rajin membaca KS, bisa mendpt berkat dan dicerahkan olh Roh
Kudus. Skrg KS bg sy adlh sebuah buku yg memuat sejarah Kristen dan
ajaran2 Kristus, dan sy membaca KS bkn lg utk dicerahkan atau dpt
berkat, tapi semata mata utk lbh mengetahui ajaran2 Kristus.Kdg2
keadaan demikian memberi rasa nyaman, tapi seringkali juga timbul
kekhawatiran bhw sy semakin menjauh dari Tuhan semakin tdk bergtg pd
Tuhan dan sy merasa sy menjdi pribadi yg arogan.

Meditasi pd intinya juga menghentikan pikiran utk lbh dkt dgn yang
Ilahi dlm diri kita, yg sy takutkan kl tanpa pembimbing sy malah makin
menjauh dari yg Ilahi.

Terima kasih banyak utk kesediaan sharing dan bimbingan Pak Hudoyo dan
Rm. Sudri.

ANGELA ASRIARTI:
wah Bu,rupanya ada banyak perasaan ya…emm..mungkin ada baiknya jg
sesekali bertemu.semoga tdk jd frustasi krn tdk dpt bertemu^_^tetap
semangat!salam.

SUDRIJANTA JOHANES:
@Juliana: Hambatan terbesar untuk berjumpa dengan Tuhan bagi kaum teis
termasuk kaum Kristen adalah konsep-konsep atau ajaran-ajaran tentang
Tuhan. Selama kita melekat pada konsep atau ajaran, meditasi apapun
tidak akan membawa kita berjalan lebih jauh, kecuali hanya memuaskan
intelek atau ego.

Meditasi yang Anda lakukan adalah meditasi konsentratif. Teknik
meditasi konsentratif bisa menciptakan rasa nyaman, rasa damai, rasa
tenang, perasaan bahagia tak terkira. Lalu batin mudah melekat pada
pengalaman seperti itu. Kalau tidak disadari ini justru menjadi
belenggu baru.

Anda lari kepada Tuhan setiap kali ada masalah? Lihatlah apakah Tuhan
sebagai tempat pelarian Anda itu betul-betul Tuhan atau hanya konsep
atau proyeksi pikiran Anda? Lihatlah dengan lari kepada konsep Tuhan
bukankah Anda justru menjauh dari masalahnya? Alih-alih kita perlu
memahami masalah-masalah kita, tidak lari menjauh apalagi lari kepada
Tuhan yang adalah proyeksi pikiran kita sendiri. Memahami setiap
masalah secara langsung adalah pembebasan. Dan batin yang bebas
barangkali tahu apa yang disebut Tuhan. Bukan sebaliknya.

Sadarilah kelekatan-kelekatan pada ajaran, konsep, kepercayaan.
Sadarilah ketergantungan pada otoritas di dalam maupun di luar. Jangan
dibuang atau ditolak. Kalau Anda menolaknya, Anda menciptakan
kelekatan baru atau sekedar berganti otoritas dan Anda tidak keluar
dari penjara ego.

JULIANA LAY:
Terima kasih bimbingannya Romo Sudri. Sy akan mencoba merenungkan dan
memahami penjelasan Romo ini. Mgkn kalo udah menjlnkan meditasi dan
mengalami sendiri, akan lbh mudah memahami penjelasan Romo. Sy sdh
membaca tulisan Rm ttg meditasi tanpa objek dan sy ingin memulai
mencobanya. Sbg langkah awal,apa yg hrs sy lakukan, Romo? Apakah spt
meditasi lain, duduk diam di dalam suatu ruangan yg sepi?

Sudrijanta Johanes
Kalau Anda duduk diam dengan batin yang hening 30 menit saja setiap hari itu sudah bagus. Bisa pagi atau malam. Tempatnya yang tidak banyak gangguan tentu akan lebih mendukung.

Juliana Lay
Makasih, Mo. Akan sy coba praktekkan.

7 Responses to “Pengalaman mistik katolik”

  1. 1
    Mo, hati-hati dengan meditasi seperti yang Romo praktekkan itu. Prinsipnya itu adalah membangkitkan kekuatan laten jiwa ( kekuatan adam yang telah jatuh ke dalam dosa ). Kekuatan itu masih ada dalam diri tiap manusia, tetapi Tuhan melarang kita menggunakannya atau membangkitkannya. Jika kita coba-coba membangkitkannya, mustahil jika setan / iblis tidak ikut campur. iblis ingin kita memberontak kepada Tuhan. Tuhan sudah menyediakan kuasa yang lebih kuat dari itu semua, Mujizat Tuhan dan Roh Kudus. Darah Yesus sangat sempurna dan berkuasa mo.

    Kalo ada orang yang bermeditasi secara kuat sampai kehendaknya mengeluarkan rohnya dari tubuh orang itu untuk menjelajah berbagai tempat untuk maksud dan tujuan tertentu atau sekedar “jalan-jalan” saja, itu karena ada roh jahat yang menjadi mediumnya. Ini namanya “ASTRAL PROJECT”. Ini berbahaya sekali mo.

    Meditasi juga banyak dipraktekkan oleh para penganut New Ages Movement. Jadi, janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini.

    2
    Meditasi bagi saya orang Katholik adalah : Merenungkan Sabda Tuhan – Alkitab, dan merenungkannya siang dan malam, lalu biarkan Roh Kudus penuhi hati kita dengan Sabda Tuhan, lalu lakukanlah dalam kehidupan sehari-hari.

    Jika kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita tidak perlu mencari-cari Tuhan. Ia akan ada di hati dan hidup kita setiap hari.

    Tuhan akan bicara kepada kita lewat Roh Kudus. Ia akan berkomunikasi kepada kita dalam roh kita, karena Tuhan adalah Roh. Jika Ia bicara, tidak harus via pendengaran fisik kita walaupun itu bisa jika Ia menghendaki, tapi kata-katanya akan muncul dalam sebuah pokok pikiran. Tapi cobalah cek, jika yang kita dengar, rasakan, pikirkan, tidak sejalan dengan Sabda Tuhan, itu bukan Tuhan yang bicara, bisa suara tubuh kita sendiri atau jiwa kita sendiri, atau yang paling berbahaya adalah setan yang bicara. Roh Kudus akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran dan Ia mengingatkan kita pada Jangkar Yang Kuat – Sabda / Firman Tuhan.

    Waktu Santo Paulus dan Silas berada dalam penjara, mereka tidak duduk bersila / semedi, atau melakukan posisi-posisi yoga, tetapi mereka berseru dan bernyanyi memuji Tuhan. Lihatlah apa yang terjadi, tembok-tembok penjara rubuh !

    So.. itulah prinsip saya mengenai meditasi bagi kita orang katholik / kristiani.

  2. @Erik: [Mo, hati-hati dengan meditasi seperti yang Romo praktekkan itu. Prinsipnya itu adalah membangkitkan kekuatan laten jiwa (kekuatan adam yang telah jatuh ke dalam dosa).]

    Meditasi yang saya lakukan justru bertolak-belakang dari persepsi pikiran Anda. Anda menulis, “Pada prinsipnya meditasi itu adalah membangkitan kekuatan laten jiwa.” Meditasi yang saya lakukan justru menghabisi kekuatan laten jiwa, menghabisi ego/diri. Bukankah dalam Kitab Suci Anda tertulis “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolenya.” (Mat 16:25) Kalau Anda suka merenung, silahkan renungkan teks KS tersebut. Lalu selamilah apa sebenarnya yang disebut ego/diri/jiwa itu?

    [Ini namanya “ASTRAL PROJECT”. Ini berbahaya sekali mo. Meditasi juga banyak dipraktekkan oleh para penganut New Ages Movement. Jadi, janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini.]

    Meditasi yang saya lakukan tidak bermain-main dengan “astral project”, juga tidak mengikuti doktrin apapun termasuk doktrin New Age.

    Agaknya Anda kurang banyak membaca dan kurang serius mencari sehingga Anda punya anggapan salah bahwa semua meditasi itu buruk, berbahaya, tidak Katolik, dst.

    [Jika kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita tidak perlu mencari-cari Tuhan. Ia akan ada di hati dan hidup kita setiap hari.]

    Itu khan hanya teori saja. Saya percaya Anda sudah bertemu dengan Tuhan, tapi hanya Tuhan sebagai teori atau kosep.

    [Waktu Santo Paulus dan Silas berada dalam penjara, mereka tidak duduk bersila / semedi, atau melakukan posisi-posisi yoga, tetapi mereka berseru dan bernyanyi memuji Tuhan. Lihatlah apa yang terjadi, tembok-tembok penjara rubuh!]

    Kalau penjara itu adalah EGO Anda sendiri, apakah seruan, nyanyian, teriakan Anda membuat penjara itu juga runtuh?

  3. Bravo Romo…
    Great explanation.So,Thanks a lot
    Tanpa mdts. saya pasti belum sampai “disini”.
    Hal ini tdklah berarti sy sdh. sempurna.00h,masih jauh….
    Namun dg mdts sy bs hidup dg segala rintangan,kelekatan,dst
    Hidup tenang dr penjara?kungkungan ego,krn diri blm mau berubah;
    lebih2 diera yg sudah spt ini, para pini sepuh
    bilang dunia sdh “tua”.So,go ahead krn sebag umat dpt.
    memetik buahnya, shg sanggup utk survive…till the end…

    Rgrds, n stay blessed
    ly

  4. Yang Romo katakan benar, kebanyakan orang mengatakan sudah menerima Tuhan,sudah menerima Yesus, tapi tidak semua orang bisa merasakan kehadiran Yesus yang sesungguhnya, sehingga masih ada kegelisahan, ketakutan dll, mungkin karena kita menerima Yesus secara teori atau konsep saja. uleh karena itu Romo ajarkan pada kami agar dapat BENAR BENAR menerima Yesus,sehingga kita dapat benar2 merasakan kedamaianNYA.

  5. @Erik: Merenungkan sabda Tuhan siang dan malam tidak serta merta membuat anda memberi perhatian terus menerus pd saat anda menjalani kehidupan sehari2, dalam diri anda ada pikiran dan emosi, ada percakapan batin, anda bisa saja tidak terserap pd teks KS dan yg lebih berbahaya bila pd saat anda merenung tdk mustahil jika iblis berbisik di telinga anda. Bagaimana anda membedakan percakapan batin dg suara Tuhan yg ada di hati anda ? Disana tidak ada keheningan yg dalam.

    [“Tapi cobalah cek, jika yang kita dengar, rasakan, pikirkan, ……… bisa suara tubuh kita sendiri atau jiwa kita sendiri”.]
    Apa yg anda praktekkan pun perlu diuji, apa yg anda dengar apa yg anda katakan tentang meditasi ini bukan tidak mungkin adalah suara tubuh anda atau jiwa anda sendiri.

    [“Jadi, janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini,”]
    Dunia selalu bersama kita semua kemana pun kita melangkah. Semakin kacau suatu hidup semakin hebat tantangan dan hambatan di dalamnya, semakin kuat latihan yg tumbuh utk hidup lebih dalam yaitu hidup pada saat di sini dan sekarang dlm hidup harian, dan itu bukan praktek merenung bro.

    Hmm… hal yg paling berbahaya di dunia ini adalah mengira bahwa anda memahami sesuatu, dan ini sudah terbukti pada “ku” … :)

    Peace.

  6. YESUS sendiri tidak memandang keberadaan TUHAN sebagai objek spekulasi pikiran, tp melihatnya sebagai pendekatan exsistensial.
    Pengalaman dgn TUHAN adalah pengalaman exsistensial, dan ini tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.
    Kenapa kita msh di beri hidup sampai saat ini ?, krn TUHAN ingin kita semua bs mengalami DIA setiap hari….apapun aktivitas kita, apapun cara yg kita lakukan utk menemukan DIA, DIA itu exist….jd alami DIA dg cara yg alami…jalani hidup ini ! GBU

  7. Yth. Romo Sudrijanto,

    Saya ingin mengikuti retret seminggu untuk Meditasi tanpa obhek yang Romo ajarkan, lalu kapan jadwalnya , di mana tempatnya dan bagaimana cara mendaftarnya.

    Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih

    Sutiono

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>