Penemuan Jati Diri Melalui Meditasi

Testimoni STD, 29 th, Katolik
=======

Saya menjadi Katolik pada saat SMP. Pada masa kuliah, saya sempat masuk Kristen. Papa saya meninggalkan mama saya sejak saya SD kelas 6. Mama saya percaya dukun dan ilmu-ilmu gaib.

Saya memiliki seorang adik yang suka ilmu kanuragan. Dari dia, saya mengenal kyai dan dukun untuk belajar ilmu kanuragan. Saya memiliki bermacam-macam jimat (batu, keris, rajah untuk ikat pinggang) dan susuk (jarum dan intan untuk pengasihan).

Pada tahun 2000 ketika kuliah di Malang, Jawa Timur, saya mengalami pertobatan. Saya mengalami pelepasan secara tidak sengaja. Dalam suatu perjalanan dari Bromo ke Malang, saya mendengarkan lagu-lagu rohani dari tape mobil. Pada saat mendengarkan lagu-lagu rohani, muncul kerinduan untuk lepas dari ikatan susuk dan jimat dan ingin dekat dengan Tuhan. Tiba-tiba muncullah keinginan yang kuat untuk membuang semua jimat yang saya miliki. Saya meminta teman saya yang sedang menyetir mobil di samping saya untuk membuangnya. Setelah teman saya membuangnya, menurut tuturan teman saya, mulut saya mengeluarkan busa dan komat-kamit. Saya tidak sadar sama sekali.

Akhirnya saya didoakan oleh teman saya, seorang Katolik Kharismatik dengan team pendoanya. Selama hampir 8 jam (dari jam 21.00 sampai 05.00 WIB) saya terus-menerus muntah darah. Menurut team pendoa, darah saya sangat kental, berbau sangat amis bercampur wangi bunga.

Salah satu dari pendoa itu berbisik bahwa Tuhan Yesus hadir. Pada saat itu saya memang melihat Tuhan Yesus benar-benar hadir dengan tubuh bersinar terang dan saya dipelukNya. Saya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan dan dapatkan. Rasanya lain sekali dengan rasa bahagia karena mendapat hadiah, rasa bahagia karena jatuh cinta, atau rasa bahagia karena memakai narkoba.

Rasa bahagia tersebut menetap selama sekitar satu minggu. Setelah itu, saya pergi ke Susteran Putri Karmel di Tumpang. Saya mengikuti retret pribadi selama 3 hari.

Setelah pertobatan saya, mama dan adik saya juga mengalami pertobatan. Mereka kemudian dibaptis menjadi Kristen.

Setelah mengikuti retret, saya bergabung dengan Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM). Di sana saya belajar memuji, menyembah, dan memahami sabda Tuhan.

Saya merasa suka cita dan damai setelah melakukan pujian penyembahan. Tetapi setelah pulang dari sana, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Kembali saya merasa tidak bahagia, emosi kadang kala meledak-ledak. Saya mencari berbagai persekutuan doa untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Pada akhir 2004, saya mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta sampai sekarang. Di Jakarta saya menemukan komunitas sel KTM untuk mendapatkan sumber kebahagiaan dan ketenangan. Karena kesibukan pekerjaan saya makin tidak aktif di KTM. Apalagi karena saya merasa semakin tergantung pada persekutuan doa. Maka saya tidak aktif di KTM dan hanya misa harian saja sampai sekarang.

Akhirnya, saya mengenal meditasi tanpa objek. Meditasi ini begitu baru buat saya. Saya merasa sangat terbantu dengan membangun kesadaran dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa kesadaran saya masih lemah, masih sering bereaksi marah, kecewa, takut, khawatir jika menghadapi suatu masalah. Dengan kesadaran yang saya pelajari selama retret, saya belajar mengamati saja tanpa terlibat dengan emosi yang diamati. Saya merasa menemukan sesuatu dan saya tergerak untuk membangun kualitas diri melalui meditasi.

Saya mengikuti retret meditasi tanpa objek di Cibulan pada bulan januari 2010. Saya juga membaca buku Romo Sudrijanta (Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial) dan e-book dari Bapak Hudoyo Hupudio tentang Meditasi Mengenal Diri untuk menambah pengetahuan saya mengenai teknik meditasi tanpa objek.

Belakangan ini saya sedang berusaha mempraktikkan kembali meditasi tersebut. Saya dapat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Saya lebih sadar akan emosi, kemarahan, kekhawatiran, kesombongan, ketakutan, dan rasa mudah tersinggung. Emosi-emosi tersebut cepat hilang ketika disadari meskipun timbul lagi ketika kesadaran tidak ada lagi.

Saya suka sekali dengan meditasi tanpa obyek ini. Meditasi ini membawa perubahan besar dalam hidup saya. Saya melihat diri saya menjadi lebih tenang, mampu berpikir secara positif, tidak takut terbuka terhadap orang lain dan mampu berinteraksi dengan baik pula. Selain itu saya juga merasa menemukan jati diri saya yang sesungguhnya.*

One Response to “Penemuan Jati Diri Melalui Meditasi”

  1. Syalom,

    Bisakah dijelaskan lebih lanjut mengenai meditasi tanpa objek? bagaimana caranya?

    Terimakasih.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>