Pembatalan Perkawinan (1)

Selamat pagi, saya seorang gadis umur 28 tahun saat ini sedang mejalin hubungan jarak jauh dengan duda tanpa anaksebut saja x. saya terlahir dari keluarga katolik,namun tahun lalu saya dibabtis ulang oleh gereja pantekosta. pacar saya dulu pernah menikah secara katolik tetapi tidak
pernah ikut kursus penikahan katolik(saya tidak mengerti kenapa bisa terjadi), mereka menikah setelah 3 bulan pacaran dan bercerai 2.5 thn yang lalu…

saat saya bertemu dengan x dia telah bercerai selama 2 tahun… kami ingin sekali menikah secara katolik namun kami bingung karena saat ini ia tinggal jauh dari paroki tempat ia diberkati(bandung). Yang ingin saya tanyakan bisakah ia mengurus pembatalan pernikahan dari jauh karena ia tidak tinggal di indonesia. terima kasih atas bantuannya.
Ina
========
Ina,
Tentu saja si pemohon pembatalan perkawinan bisa mengajukan surat ke petugas pengadilan gereja di keuskupan Bandung sementara ia berada di luar negri. Saat pengadilan gereja di keuskupan Bandung memanggilnya, si pemohon pembatalan perkawinan dan saksi-saksi yang dibutuhkan musti hadir. Namun surat permohonan pengajuan permohonan pembatalan dan dokumen-dokumen pendukung lainnya bisa dikirim terlebih dahulu untuk dipelajari oleh petugas pengadilan gereja.

Tetapi sebelum mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan, sebaiknya anda atau calon suami anda datang ke pastor paroki terdekat untuk konsultasi tentang kemungkinan pembatalan ini.

Sudrijanta

80 Responses to “Pembatalan Perkawinan (1)”

  1. Penjelasan Romo Sudri adalah teknis pelaksanaan pengajuan pembatalan pernikahan.. tetapi dasar atau alasan pembatalan pernikahan ini adalah hal yang dipertimbangkan untuk membatalkan sebuah pernikahan.. jadi harus tahu dulu alasan dia bercerai sipil. jika persyaratan hakiki pernikahan Katolik pacar anda saat itu terpenuhi, walaupun sudah bercerai sipil, maka tidak akan ada pembatalan pernikahan, dan pacar anda tidak bisa menikah di dalam GK.

  2. saya lajang umur 25 tahun dan sekarang saya mempunyai pacar seorang janda umur 24 tahun dan mempunyai 1 anak, secara hukum pacar saya sudah cerai tetapi secara gereja baru dalam proses, apakah tindakan saya benar menurut gereja? Apakah nantinya proses pernikahan saya akan berbeda dengan pernikahan pada umumnya? Ketika semua proses pembatalan pernikahan selesai?

  3. yang ada maksud : pacar anda seorang Katolik yang sedang tahap proses pembatalan pernikahan ?

    jika ya, maka sebelum proses pengakuan pembatalan itu selesai, sebaiknya kamu membatasi diri menjalin hubungan dengan wanita tersebut, karena secara hukum Gereja ia masih berstatus isteri dari seorang suami.

  4. Saya asalnya dari paroki St. Andreas, lingkungan St. Theresia. Waktu itu lewat pastor paroki Romo Heru, bulan Juni 2007 saya menyampaikan surat permohonan anulasi. Lalu disampaikan ke KAJ dengan contact Romo Purbo.

    Selang beberapa waktu saya tidak mendapati berita apa apa dan saya Tanya ke Romo Heru apakah ada berita, dan menurut beliau surat telah dikirim dan disarankan coba contact langsung ke Romo Purbo.

    Saya menghubungi Romo Purbo dan beliau tidak menerima surat permohonan anulasi dengan nama saya. Lalu beliau minta supaya saya kirim lagi surat permohonan tersebut langsung ke KAJ.

    Beberapa bulan / tahun lewat, dan sampai sekarang juga tidak ada kabar berita. Saya ingin tahu status permohonan tersebut, apakah ada surat lain yang diperlukan, apakah sudah dibaca dan bagaimana proses selanjutnya. Sering kali saya coba menghubungi beliau tetapi beliau sering keluar kantor atau sibuk.

    Saat ini saya merasa di acuhkan oleh “gereja.”

    Apakah hanya Romo Purbo satu satunya di Jakarta yang bisa membantu penyelesaiannya? Atau ada cara / orang lain yang bisa membantu?

    Has
    ===========
    Langkah anda sudah benar. Untuk memperjelas sejauh mana kasus anda ditangani, anda bisa membuat surat klarifikasi langsung kepada Rm Purbo.

    Salam,
    js

  5. ….Saat ini saya merasa di acuhkan oleh “gereja.”

    hmmm… saya sering bertanya dalam hati.. sebenarnya apa tujuan seseorang mendapatkan anulasi ? supaya bisa menikah lagi ? supaya terbebas dari ikatan masa lalu ? apa .. ?

    rasanya sebagian besar akan menjawab, supaya ia bisa menikah lagi secara Katolik. Lalu apa tujuan pernikahan Katolik sebenarnya ?

    dalam banyak kasus anulasi sering dirasakan sesuatu yang begitu penting di dalam hidup seorang Katolik yang hendak memutuskan tali pernikahan dengan pasangannya..yang entah menikah secara Katolik atau menikah secara non Katolik, dengan berbagai alasan. Supaya dengan demikian, ia bebas…. di forum ini, sudah beberapa partisipan menanyakan mengenai pembatalan pernikahan atau anulasi.

    apa itu bebas ? apakah dengan anulasi seseorang baru bisa bebas ? atau bisakah tanpa anulasi seseorang menjadi bebas ? saat ini yang memiliki komentar di atas, belum terbebas, bukan karena ia belum mendapatkan anulasi, karena pikirannya sendiri membelenggu dirinya.
    Jika ia ingin bebas, ia cukup melepaskan pikirannya dari beban hidupnya yang menjadi alasan ia mengajukan anulasi.

    misal : seseorang yang menikah secara Katolik, setelah sekian lama akhirnya memutuskan berpisah dengan suaminya dengan alasan tertentu. Ia kemudian jatuh cinta dengan seorang Katolik lainnya katakan saja X. tentu saja ia tidak bisa menikah secara Katolik, karena status pernikahannya belum dibatalkan. Lalu ia ajukan anulasi. beban hidupnya yang pertama adalah alasan mengapa ia bercerai dengan suaminya. sedangkan beban hidupnya yang kedua adalah ia tidak dapat menikahi X yang ia cintai dalam Gereja Katolik. Ia merasa terbebas dari beban hidup yang pertama karena sudah bercerai. tanpa kini ia terbelenggu oleh keinginannya menikah dengan X dalam GK.
    Apakah ada cara lain? bisa saja ia dan X murtad (kecuali X memang bukan seorang Katolik). Lalu mana yang lebih besar cintanya kepada Allah yang adalah kepala Gereja-Nya dimana kita umatnya adalah tubuh-Nya ? atau keinginannya untuk menikah dengan si X ?
    Jika jawabannya adalah Allah dan Gereja-Nya yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik, maka seharusnya ia sudah bebas sejak mulanya. Ia tidak perlu khawatir mengenai kapan ia bisa bersama dengan pria yang ia cintai. Ia tidak takut ditinggalkan oleh X karena ia menunggu terlalu lama. Karena cintanya kepada Allah lebih besar daripada kepada X, sehingga ia tidak mau mengambil jalan pintas tetapi sesat untuk memuluskan keinginannya menikah.

    Itu sebabnya saya sarankan mereka yang mengajukan anulasi, ingatlah bahwa kehendak kalian untuk setia kepada Allah dan Gereja-Nya lebih besar dari sekedar keinginan untuk menikahi pasangan anda. Dengan alasan ini, berilah diri anda vitamin, enerji, bahan bakar, kekuatan untuk bersabar, karena Jawaban atas permohonan kalian untuk mendapatkan anulasi relatif akan lama, dan belum tentu jawabannya sesuai dengan keinginan kalian..jadi dalam waktu penantian manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bertekun dalam doa, dalam ekaristi, dalam sakramen tobat dan dalam pelayanan kasih dan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah.
    Jangan tenggelam dan hanyut dengan kemesraan duniawi yang akan semakin menjerat kalian dan membelenggu kebebasan kalian.

    Jadi apa itu pernikahan Katolik ? Efesus 5:25-32… apa alasan yang dimaksud pada ayat 31.. silahkan direnungkan..

    May God bless your steps..

  6. Saya sudah pernah curhat mengenai hal yang sama. Saya juga single mom. Tanggapan Pak Johan yang terakhir sama dengan apa yang saya alami dan rasakan. Dulu memang saya kekeh untuk mengajukan pembatalan. Latarbelakang sayapun bukan untuk menikah lagi waktu itu, tapi lebih kepada hak pengasuhan anak2 saya. Tetapi sekarang saya lebih pasrah dan sumeleh kalo orang Jawa bilang. Sekarang ini saya tidak punya keinginan untuk membatalkannya. Biarlah mengalir…
    Kalopun sekarang ini mesti menjalani hidup sendiri, ini saya anggap bagian hidup yang harus saya lalui. Sampai sekarang saya tidak mempunyai keinginan untuk meninggalkan Tuhan hanya untuk sebuah pernikahan. Hati kecil saya tidak rela…meski saya tahu, kalo saya ingin menikah lagi berarti saya harus meninggalkan Dia…
    Jadi sekarang ini…saya lebih memilih untuk berjalan dengan anak2 saya dan menyerahkan kepada TUhan apa yang akan terjadi…
    Konsekwensi atau apa disebutnya…menikah dan mengalami kegagalan berumahtangga sebagai seorang Katolik…
    Ya inilah…tapi saya lebih senang menyebutnya dengan ‘salib’ dalam konteks yang lain…
    Sekian…
    Tuhan memberkati…

  7. Saya 27 thn dan memang belum menikah saat ini,yg menjadi pertanyaan saya adalah apa sih tujuan menikah itu? kalau banyak tjd cekcok d belakang hari apa gunanya menikah bukankah lebih baek melajang saja ato jadi romo,maaf saya bertanya seperti ini tanpa bermaksud ingin melukai perasaan saudara2,trims dan mhn penjelasan nya

  8. @dony.. pertanyaan menarik.. dan bukan anda saja yang bertanya demikian :) Sekarang kita sedikit bermain kata-kata : apakah perceraian adalah tujuan dari sebuah pernikahan ? apakah cekcok adalah tujuan dari sebuah pernikahan ?

    apakah ada kegagalan adalah tujuan hidup seseorang ? apakah penderitaan, kesengsaraan atau kesedihan adalah tujuan hidup seseorang ?

    jika jawaban dari pertanyaan di atas adalah “tidak”, maka seharusnya lawan kata dari “perceraian”dan “cekcok” adalah tujuan pernikahan.

    dan lawan kata dari “kegagalan”,”penderitaan”,”kesengsaraan”, dan “kesedihan” adalah tujuan hidup.

    DAlam agama Katolik, hidup kita adalah perjalanan menuju ke kesempurnaan sejati. Tujuan hidup kita adalah kebahagiaan abadi yang sempurna saat kita bertemu muka dengan muka dengan Allah. Karenanya kita berusaha dengan segenap pikiran, kekuatan dan akal budi untuk menyenangkan hati Allah. Agar kelak Allah berkenan menerima kita masuk ke dalam kerajaan-Nya dan merasakan kebahagiaan itu.

    Jika tujuan hidup seorang Katolik dipraktekan dalam kehidupan berumahtangga, maka sama halnya dengan sebuah pernikahan, pasangan suami dan isteri pun harus saling mengerahkan segenap pikiran, kekuatan dan akal budi untuk menyenangkan hati Allah dalam kehidupan berkeluarga. Jika hal ini terjadi, maka secara otomatis mereka saat itu bersama-sama mencapai tujuan sebuah pernikahan.

    Tujuan dari pernikahan bukan hanya semata-mata meraih kebahagiaan diri sendiri, tetapi berusaha menyenangkan hati Allah untuk meraih kesempurnaan sejati kelak saat Ia datang untuk keduakalinya. bila hal ini tertanam di setiap pribadi dalam keluarga yang percaya kepada-Nya, maka tidak akan ada percekcokan atau perbuatan apa pun yang mengarah kepada perceraian, karena mencintai dengan kesungguhan satu dengan yang lain dalam sebuah keluarga adalah menyenangkan hati Allah.

  9. Saya beragama Kristen Protestan dan menikah dgn pemuda beragama Kristen Protestan. Thn 2007 kami bercerai secara hukum.
    Thn 2009 saya menikah lagi di Amerika dan saat ini saya tinggal di Amerika. Kami menikah secara hukum. Suami saya beragama katolik dan dia ingin kami melakukan nikah gereja. Oleh Gereja Katholik di Amerika, saya diminta untuk membuat Surat Anulasi yang dikeluarkan oleh Gereja Katholik di Jakarta (dulu saya berdomisili di Jakarta).
    Pertanyaan saya : Apakah bisa saya meminta Surat Anulasi dari Gereja Katholik di Jakarta? Kemana saya hrs mengajukan Surat tersebut? Saya sudah kirim e-mail ke Katedral, Jakarta tapi blm mendapat jawaban. Mohon informasinya. GBU
    ==========
    Kalau Anda dulu menikah menurut agama Kristen Protestan, maka Anda tidak bisa mengajukan anulasi di Gereja Katholik. Mengingat Anda adalah seorang Protestan dan suami Anda Katholik dan Anda berdua sudah menikah menurut hukum sipil, maka perkawinan Anda barangkali bisa dibereskan di Gereja Katholik setelah mendapatkan ijin/dispensasi dari Uskup setempat. Datanglah ke pastor paroki tempat Anda tinggal untuk konsultasi lebih lanjut.

    JS

  10. @Debie.

    kamu memang membutuhkan anulasi untuk memastikan bahwa pasanganmu [yang Katolik] dapat dapat menikahimu di dalam Gereja Katolik.

    Jika ternyata dalam proses penyelidikan diketahui bahwa pernikahan pertamamu adalah valid di mata GK. yaitu pernikahan yang sakramen (dua orang terbaptis [baptisan yang sah menurut GK], adalah sakramen) dan telah disempurnakan (telah melakukan intercourse), maka pasanganmu tidak bisa menikahimu di dalam GK.

    saya kutipkan dari catholic.com kasus yang mirip dengan kasusmu

    Q:“
    When a Protestant man and woman are married in a non-Catholic ceremony which is not celebrated by a Catholic priest, why does an annulment have to be obtained in the event one becomes Catholic and wants to remarry?

    A:

    A consummated sacramental marriage is indissoluble by any human power. Jesus said, “What therefore God has joined together, let not man put asunder” (Mark 10:9). The Catholic Church takes this seriously and therefore will not take part in a new marriage when it believes another valid marriage may already exist. This is true even if that marriage is between Protestants married outside the Catholic Church—such marriages are recognized as valid by the Church. (Note that St. Paul taught of a variance to this—in the case of a marriage between two non-baptized persons when one party later becomes a Christian: “if the unbelieving partner desires to separate, let it be so; in such a case the brother or sister is not bound. For God has called us to peace” [1 Cor. 7:15]. In this case the marriage was not sacramental because the two parties were not baptized.)

    Civil divorce is often man’s attempt to put asunder what God has joined together, and the Church knows that man does not have the power or authority to do this. The annulment process is simply the Church’s investigation into what looks like a marriage to determine whether a valid marriage really exists. If it does, the Church will not, indeed cannot, recognize another marriage. If, on the other hand, the Church finds that a valid marriage does not exist, then a new marriage, truly a first marriage (unless a valid previous marriage ended through death), may be celebrated.

    ada beberapa website catholic lainnya yang membahas kasus yang sama dan memberikan jawaban yang sama..

    jadi saran saya, sebaiknya kamu melakukan komunikasi yang lebih baik dibandingkan hanya E-mail ke keuskupan, setidaknya telepon. Jika sangat sulit dilakukan, maka cobalah berkonsultasi dengan paroki di mana suami anda berdomisili cara terbaik untuk mendapatkan anulasi tersebut.
    untuk sementara, karena pernikahan anda dengan pasangan anda saat ini tidak sah, maka suami anda harus hidup sebagai saudara dengan anda [untuk sementara tidak berhubungan seksual], hingga pernikahan kalian dibereskan di dalam GK.

    May God bless your steps..

  11. Salam Damai Kristus.

    Saya pria 26 tahun.Saya menikahi seorang muslim 4 tahun yang lalu di greja Katolik dengan dispensasi.Kami dikaruniai satu putri yang sekarang berumur 3 tahun.Ketika perkawinan berjalan selama 3 tahun dia menggugat cerai saya secara sipil dengan alasan dia ingin dinikahkan oleh orang tuanya secara Islam. ternyata ketika menikah dengan saya dia telah merencanakan suatu skenario yang sangat rapih bersama orang tuanya, dimana dia hanya ingin agar anak yang waktu itu dikandungnya dapat lahir dengan status yang jelas(dengan kehadiran seorang ayah).saya ditawarkan pindah ke Islam agar dapat dinikahkan oleh orangtuanya secara Islam.dengan tegas saya menolak jika harus meninggalkan Iman Katolik saya.akhirnya kamipun bercerai secara sipil.saya sungguh merasa tertipu dengan kondisi ini.sekarang saya hampir satu tahun telah resmi bercerai secara sipil.yang saya tanyakan,apakah ada kemungkinan bagi saya supaya pengajuan anulasi yang rencananya akan saya ajukan dapat dikabulkan.sekarang saya sedang berusaha mencoba membuka hati kepada wanita lain,dengan harapan saya bisa menikah lagi dikemudian hari dengan wanita Katolik di Gereja Katolik pula.
    Mohon pencerahan.Saya merasa sangat bingung,seperti menjalani hidup tanpa tujuan dikarenakan anak saya juga ikut pihak mantan istri (usianya dibawah umur).Terima kasih atas masukannya.Tuhan Memberkati.

  12. Tn. H,
    Perkawinan Katolik harus dilaksanakan dengan alsan yang benar yakni saling mengasihi. Kalau ada alasan lain yang menipu maka silakan anda menghubungi pastor setempat untuk memohon annulasi.

    salam, rin

  13. Syalom,

    Saya gadis 28 tahun, saat ini saya sedang menjalin hubungan yang serius dengan seorang duda beranak 1 (anak bersama dia). Dari pernikahannya yang terdahulu dia sudah bercerai secara pengadilan agama atas gugatan istrinya. selain itu juga istrinya sudah meninggalkan dia dan anaknya terlebih telah meninggalkan ajaran agama katolik dan sudah kembali ke muslim (sudah 1 tahun). kami ingin sekali melaksanakan pernikahan secara katolik dan mendapatkan sakramen perkawinan. dia sudah mencoba untuk mengajukan pembatalan pernikahan ke paroki tempat dia tinggal, tapi sampai saat ini belum ada respon dari paroki ybs. saat pernikahan yang pertama dilakukan di luar jakarta yaitu di Klaten – Jawa Tengah.
    Apakah sebaiknya pengurusan pembatalan pernikahan dilakukan di gereja Klaten? Sebelum surat pembatalan pernikahan dikeluarkan oleh Keuskupan apakah boleh mengikuti kursus perkawinan dahulu?

    Mohon diberikan solusi atas kasus tersebut.

  14. @Casie..ada yang membingungkan dari ceritamu

    1. apakah dulu ia menikah secara Islam (karena perceraian melalui pengadilan agama hanya dilakukan untuk pernikahan yang dikukuhkan secara Islam) ?

    2. Apakah pernikahannya diketahui oleh Gereja (pernikahannya secara Islam dibereskan di Gereja Katolik) ?

    jika jawaban pertama “ya” dan jawaban kedua “tidak”, maka pernikahannya terdahulu adalah tidak sah menurut GK, yang artinya di mata Gereja pernikahan pertama itu tidak ada, walaupun “isteri”-nya sempat menjadi seorang Katolik. Sehingga tidak seharusnya tidak perlu ada anulasi atas pernikahannya yang terdahulu. Yang diperlukan olehnya adalah sakramen tobat karena dulu tidak mengkhianati imannya dan hidup dalam perzinahan.

    jika jawaban pertama “ya” dan jawaban kedua “ya”, maka permohonan pembatalan pernikahan diajukan ke Keuskupan. Paroki tidak mempunyai wewenang untuk mengabulkan atau menolak permohonan pembatalan, yang berwenang adalah keuskupan yang memiliki pengadilan Gereja atau Tribunal.

    Bisa ditujukan ke keuskupan tempat perkawinan dimana pernikahannya diteguhkan, bisa juga di domisilinya saat ini (tempat tinggalnya) sekarang, bisa juga keuskupan di mana banyak saksi atau pihak tergugat bertempat tinggal.

    SEbaiknya anda dan teman pria anda menunggu keputusan Tribunal sebelum melanjutkan proses pernikahan dalam Gereja Katolik.Walaupun tidak ada larangan anda dan teman pria anda menjalani KPP terlebih dahulu.
    Sampai berapa lama ? selama anda mau menunggu, karena keputusan Tribunal dapat memakan waktu yang relatif lama. Ini akan menjadi resiko anda dalam menjalin hubungan dengannya jika kondisi kedua tadi terpenuhi.

    Jika kondisi ke-2 ini terpenuhi, saya masih melihat bahwa si pria memiliki niat yang cukup baik dalam menjalani iman Katoliknya, karena membereskan pernikahannya dan membawa keluarganya ke dalam Gereja Katolik. Sekilas dalam cerita anda, ia memang pria Katolik yang cukup ideal untuk dijadikan pasangan hidup. Bagaimana pun, apa yang anda berdua alami saat ini, menjadi ujian iman Katolik-nya kembali, dan juga merupakan ujian iman Katolik anda sendiri, yaitu untuk taat pada Gereja-Nya yang SAtu, Kudus, Katolik dan Apostolik.

    May God Bless your steps..

  15. Salam sejahtera

    Saya seorang janda berputri 1. Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Setelah masa pacaran 7 tahun (termasuk tarik ulur masalah agama)Tahun 2006 saya menikah dengan pacar muslim saya yang pindah Katolik. Sayangnya 2 tahun setelah menikah dan dikarunia seorang putri, suami saya tsb berselingkuh dg wanita muslim, menghamilinya, menyatakan ingin kembali menjadi muslim, dan meminta agar saya bersedia dipoligami.Setelah mencoba mencari jalan keluar agar dapat tetap bersama, akhirnya kami memutuskan bercerai di tahun 2009 karena ia tetap pada keinginannya tersebut. Saat ini saya menjalin hubungan yang serius dengan seorang duda Katolik, pernah menikah Katolik,tapi pernikahannya berakhir karena mereka hidup terpisah (bekerja berjauhan) dan akhirnya tidak berkomunikasi, menjadi hambar/ asing satu sama lain, lalu mereka sepakat bercerai setelah menikah sekitar 20 tahun.
    Apakah ada jalan bagi kami berdua untuk menikah secara Katolik?

  16. kalo jawabannya singkatnya “tidak ada”, kecuali pernikahan anda dan pernikahan teman priamu itu keduanya (bukan salah satunya) dibatalkan oleh Gereja Katolik.

    Tetapi melihat cerita anda, rasanya sulit, terutama untuk teman priamu. Tidak ada alasan berat yang bisa digunakan untuk mengajukan pembatalan. Dan kemungkinan besar (besar sekali) permohonannya tidak dikabulkan.

    Untuk kasus anda pun tipis harapan, kecuali ada unsur yang meniadakan dasar-dasar pernikahan Katolik, seperti penipuan atau pemaksaan.

    jadi, sebaiknya anda pikirkan kembali arah hubungan anda dengan pria tersebut. Mengingat masalah ini bisa membuat anda berdua dihadapkan kepada 2 pilihan, yaitu taat kepada setia kepada Allah Tritunggal yang mengasihi anda dan Gereja-Nya atau melukai iman anda dan memilih cinta dunia yang ditawarkan laki-laki itu.
    Di samping itu, masalah ini dapat menjadi beban pikiran anda dalam menjalani kehidupan anda saat ini. Anda mungkin tidak akan tahu seberapa besar beban itu hingga orang-orang disekitar anda yang merasakan perubahan mengatakannya kepada anda.

    May God bless your steps and your daughter..

  17. Salam dalam Kristus,

    Saya berumur 45 th telah menikah th. 92 secara katolik tapi dispensasi karena saya protestan dibaptis dewasa di GKI (yang sebelumnya saya adalah islam) dan sudah mempunyai seorang putri. Setelah menikah saya ikut kebaktian di gereja katolik karena menurut suami, saya sudah menjadi katolik dan saya tidak keberatan karena memang saya ternyata lebih nyaman di agama katolik.

    Pada tahun 1998 suami saya menikah lagi (mungkin secara islam)dan tinggal di Bandung. Dia pernah mengirim email ke saya untuk tidak mengganggu keluarga barunya sehingga saya akhirnya mengajukan perceraian secara hukum th. 2000 untuk mempermudah urusan saya dalam mendidik anak saya. Saya mendidik anak saya secara katolik dan sudah krisma.

    Pertanyaan saya adalah apakah perkawinan saya sah menurut GK? kalau tidak, apakah bisa di anulir? apakah saya sudah menjadi katolik? kalau belum apa yang harus saya lakukan? apakah saya harus belajar lagi? dan berapa lama karena mungkin saya akan tinggal diluar negeri. Maaf pertanyaannya banyak sekali ya. Terima kasih atas jawabannya.

    Salam
    Lucy
    ==========
    Kalau Anda dulu menikah di Gereja Katolik, maka perkawinan Anda tidak bisa dibatalkan kecuali ada alasan-alasan cukup untuk pembatalan itu. Perceraian sipil bukan alasan untuk pembatalan pernikahan Katolik.

    Sebelum sahnya perkawinan Anda dibatalkan, Anda belum bisa secara resmi diterima sebagai Katolik. Maka Anda bisa mengurus pembatalan perkawinan di keuskupan Anda terlebih dahulu. Setelah itu Anda mengurus di paroki Anda untuk diterima secara resmi di Gereja Katolik.

    Kalau dalam pengadilan gereja tidak ditemukan alasan-alasan yang mendukung pembatalan perkawinan dan perkawinan Anda tidak bisa dibatalkan, temuilah pastor paroki Anda untuk kemungkinan mendapatkan jalan keluar secara pastoral.

    js

  18. @Lucy

    jawaban pertanyaan pertamamu, sama dengan romo Sudri, bahwa jika tidak ada alasan berat (contoh pemaksaan, penipuan) yang menghilangkan dasar pernikahan Katolik, maka sulit sekali bahkan tidak ada kemungkinan perkawinanmu dibatalkan.

    untuk pertanyaan ke-2, apakah kamu seorang Katolik ? secara resmi tidak, tetapi sepanjangpengetahuan saya, baptisan GKI sah menurut Gereja Katolik, artinya bahwa pernikahanmu secara Katolik adalah sakramen dengan sendirinya.

    Apakah anda harus membatalkan pernikahan atau mengurus pembatalan terlebih dahulu sebelum bisa diterima secara resmi sebagai Katolik ? NONSENSE ! Aturan ini sama sekali tidak ada dalam hukum Gereja Katolik.

    Anda tetap bisa menjadi seorang Katolik, ikuti saja persyaratan baptis dewasa. Berapa lama anda belajar iman Katolik sebelum dibaptis ? tergantung seberapa dalam anda memahami iman Katolik anda. Prosesnya pada umumnya 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Dalam kasus khusus, bisa jadi lebih singkat.
    Karena kemungkinan baptisan anda sebelumnya di gereja Protestan sah menurut Gereja Katolik, anda tidak perlu dibaptis ulang, cukup pengakuan iman Katolik.
    Konsultasikan hal ini dengan pastor paroki anda.

    Setelah menjadi KAtolik, ingatlah bahwa statusmu dalam Gereja Katolik ada seorang isteri yang sah dari suami yang telah diceraikan oleh pengadilan sipil dahulu. Artinya, janganlah kamu mendekatkan dirimu dengan laki-laki lain dan menjalin hubungan khusus dengannya, sebelum perkawinanmu terdahulu dibatalkan atau suamimu itu telah meninggal dunia.

    didiklah anakmu secara Katolik dan jadikanlah kemurnian dirimu sebagai single parent Katolik sebagai panutan untuk iman Katolik anakmu. Jika anda berdomisili di Jakarta, Anda bisa bergabung dalam komunitas single parent Katolik yang diasuh suster-suster gembala baik (di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta), untuk menambah semangat hidup anda dalam berkarya.

    May God bless your steps..

  19. @Lucy: Jawaban dari Pak Johan benar, bahwa Anda bisa menjadi Katolik tanpa harus melakukan pembatalan pernikahan. Saya kurang cermat membaca kasus Anda.
    js

  20. Salam damai Kristus,
    Saya pria 28 thn, saya telah diceraikan oleh pihak istri saya 2 tahun lalu secara sipil dikarenakan dia kembali menjadi muslim. Dahulu kami menikah di Gereja dengan dispensasi dan 1 tahun berjalannya perkawinan dia dibaptis. Sekarang dia telah menikah lagi dan putri kami diserahkan kepada saya dengan alasan takut anak saya terlantar jika tinggal dengan dia. Saya ingin bertanya, apakah bisa saya mengajukan anulasi, jika bisa apa saja persyaratannya dan perosedur apa yang harus saya tempuh. Terima kasih atas petunjuk yang diberukan.GBU.

  21. @anto, jawaban singkatnya .. tidak bisa.. saya sama sekali tidak membaca dari cerita anda, anda memiliki alasan untuk membatalkannya…

    Pernikahan anda sah dan sempurna dalam hukum Gereja, bahkan ketika ia dibaptis, secara otomotis pernikahan anda adalah sakramen.

  22. Salam damai,
    Saya seorang wanita berumur 38th, dan sempat menikah selama 5th. Belum lama ini, saya dan suami saya bercerai secara sipil. Namun kami pun sebelumnya menikah secara gereja Katolik. Adapun waktu kami dahulu menikah di taun 2005 secara gereja Katolik yg bukan dari paroki saya pemberkatannya (paroki di bali), sedangkan saya paroko di jakarta, itu pun suami saya dulu juga harus melalu dispensasi karena dia tidak menganut sesuatu agamapun, dengan janjinya kalo setelah menikah akan mau masuk secara katolik (tapi ternyata selama pernikahan tidak pernah dibaptis). Apakah pernikahan saya secara katolik itu bisa dibatalkan (anulasi), jikalau saya menikah lagi nantinya? Dan apakah saya masih bisa menikah lagi? atau cuma bisa secara sipil dan/atau gereja lain? Terima kasih sebelumnya. GBU.

  23. @Bella,

    kamu tidak bisa menikah secara Katolik sebelum pernikahanmu dengan suamimu dibatalkan.. silahkan kamu datang ke pastor paroki untuk berdiskuai dan mencari tahu apakah pernikahanmu bisa dibatalkan dengan alasan yang kamu sebutkan di sini.

    Untuk semua pembaca di sini..

    saya sangat menyarankan anda pun menjadi misionaris dalam keluarga anda yang berbeda agama. Jika suami anda seorang yang berbeda agama, berusahalah dengan semaksimal kekuatan anda untuk membawanya ke dalam Gereja Katolik. Bukan hanya mengharapkan janji semata, bukan saja mengharapkan suatu kejadian ajaib.. tetapi berusahalah dengan pertolongan rahmat Tuhan untuk membuat hal itu terjadi.
    Ketika anda berpacaran dengan pasangan beda agama, sebaiknya anda pun mulai menjalankan misi tersebut. Sehingga anda bisa melihat apakah faktor agama bisa menjadi potensi masalah di masa depan ketika kalian memasuki pernikahan. Jangan karena faktor pendorong lain yang membuat anda mengambil keputusan menikah dalam jangka waktu relatif cepat, tanpa memberi kesempatan bagi anda mengenali tanda-tanda itu.
    Semoga nasihat ini berguna bagi mereka yang memiliki pacar atau calon suami atau isteri berbeda agama.

    May God bless your steps..

  24. Salam Damai Kristus,
    saya menikah th 2008 secara katolik dan telah dikaruniai 1 anak.kami ber2 dibesarkan dalam keluarga katolik. pada waktu pacaran pun kami ke gereja katolik.
    Setelah 1 tahun menikah saya baru mengetahui bahwa dia telah dibaptis di gereja Tiberias th 2004, sebelum bertemu saya.
    pada saat menikah dia menggunakan stempel palsu lingkungan, karena pada waktu itu (kata dia) ketua lingkungan tidak mau memberi stempel karena tidak mau mengambil resiko, penyebabnya ketua lingkungan takut ada penyalahgunaan karena tidak kenal dengan suami,yang posisinya waktu itu sebagai pendatang/anak kos,dan memang tidak membina hubungan dengan lingkungan dimana ia tinggal. permasalahannya adalah setelah 1 tahun menikah dia kembali ke gereja Tiberias setelah sebelumnya selalu ke gereja katolik, ia mengatakan tidak bisa beribadat di gereja katolik meski mencoba, ia merasa di gereja Tiberias kebutuhan imannya terpenuhi & tidak merasa bosan dengan ritual keagamaan. untuk diketahui, saya sudah hampir 2 tahun tidak diberi nafkah alasannya gajinya tidak cukup, tapi saya juga merasa dia tidak berusaha sekuat tenaga untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik dan dia cenderung bergantung pada saya. anehnya pada saat gaji saya sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga dia tidak pernah memberi saya uang. saya merasa jengah dengan hal ini, saya mengibaratkan dia sebagai seorang yang opportunitis.saya merasa jengah dengan sikapnya ini, saya merasa punya suami tetapi tidak dapat mendapat pengayoman seperti hanya dimanfaatkan saja.sulit bagi saya untuk mempercayai dia karena kebohongan2 yang terbuka satu persatu. sekarang ini ia bermaksud membuka usaha di luar kota, dengan mengajak orang tuanya tinggal bersama sekaligus untuk menemani orang tuanya, tapi saya memandang hal ini sebagai pelarian semata, saya punya keyakinan dia pun akan bergantung pada orang tuanya yg cukup mapan.
    karena jika kembali ke kota kelahirannya dia malu karena tidak memiliki pekerjaan yg menjanjikan. saya jengah dengan kondisi ini, saya ingin membangun keluarga, tapi malah harus berpisah seperti ini dengan alasan yang menurut saya mengada-ada, toh ia masih bisa buka usaha dikota kami. sekarang ini saya ingin membesarkan anak saya satu2nya, tanpa ada beban dari tingkah suami. pertanyaan saya, apakah pernikahan saya sah? apakah saya bisa minta anulasi dengan alasan tidak diberikan nafkah? saya tidak berniat menikah lagi, karena saya pikir hanya akan menambah ruwet kehidupan saja. maaf jika terlalu panjang. terimakasih

  25. @Magdalena, jawaban singkatnya adalah : tidak, anda tidak punya alasan cukup untuk membatalkan pernikahan anda. MEskipun suami anda menggunakan stemple palsu sebagai syarat administrasi. Tidak ada paksaan, kalian menikah atas dasar saling mencintai (apapun definisinya itu) Pernikahan kalian sah menurut Gereja Katolik.

    Mengenai stempel palsu ada 2 hal yang saya ingin garis bawahi.

    1. Jika seseorang berani memalsukan stempel tersebut, itu berarti itikad baiknya sudah ternodai dengan kebohongan. PAdahal pernikahan Kristen adalah sebuah sakramen. Jika anda tahu dan mengijinkannya anda pun berpartisipasi dalam dosa tersebut. Mengapa tidak bertemu pastor paroki untuk meminta bantuan ? jika anda lakukan ini, niscaya kebohongan itu tidak akan terjadi. mengapa ? lihat poin 2

    2. Jika ia bukan seorang Katolik [belum pernah di baptis atau [bagi yang sebelumnya Protestan namun memiliki baptisan yang sah] dikukuhkan sebagai anggota dalam Gereja Katolik] memang bukan kewajibannya untuk mencatatkan diri sebagai warga Katolik di lingkungan. Walaupun Bisa saja jadi partisipan. Sebenarnya dnegan kondisinya yang bukan Katolik, ia pun tidak perlu meminta surat dari ketua lingkungan.

    tetapi ia (si Protestan) membawa surat baptis dari gerejanya dan mengisi form bahwa ia bebas untuk menikah (artinya tidak sedang terikat suatu perkawinan) dengan ditandatangani juga oleh dua orang saksi.

    3. Jika ia ternyata adalah seorang Katolik, maka sebenarnya sudah menjadi kewajiban Ketua lingkungan membantunya. Walaupun tidak mengenalnya secara dekat. Status si Katolik yang kos itu bukanlah seorang pengembara, melainkan koasi domisili. Jika seorang pengembara maka ia membutuhkan ijin dari keuskupan supaya dapat dibantu. Namun, sebelum dibantu, karena kemudian ia melakuan baptis ulang di gereja Protestan, maka ketua lingkungan wajib memintanya untuk menerima sakramen tobat kepada pastor paroki. Prinsipnya si Katolik itu tetap akan dibantu. Jika ada keraguan, sebaiknya ketua lingkungan bertemu pastor paroki dan menanyakan kondisi ini. Hal ini harus dilakukan dan jauh lebih baik dibandingkan tidak berbuat apa-apa.

    sekarang mengenai masalah anda.. saya berkesimpulan, anda perlu mendiskusikan secara terbuka dengan suami anda. Ungkapkan kekhawatiran anda, terutama terhadap kesejahteraan anak kalian. Jika komunikasi sudah tidak bisa dijalin diantara kalian, maka sebaiknya kalian meminta bantuan seorang konselor atau for start bisa juga ke pastor paroki. Harus ada niat baik di antara kalian untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama sebagai satu keluarga terutama demi kepentingan anak kalian. Singkirkan untuk sementara masing-masing ego dalam melakukannya.
    Cobalah gali kembali perasaan yang dulu mendorong kalian untuk bersatu dalam perkawinan. Jadikan anak, buah cinta kalian, sebagai alat bantu merekatkan hubungan kalian.
    ajarilah anak anda untuk berdoa dan juga mendoakan keluarga dan juga mendoakan ayahnya.
    Untuk anda sendiri, mulailah kembali berkonsentrasi untuk anak anda, jangan membebani pikiran anda dengan urusan sang suami. Jika hal itu adalah beruapa uang, maka diskusikanlah baik-baik mengenai hal ini, terutama perlu dipertimbangkan mengenai keperluan sang anak. Karena hal ini adalah hal utama. Tidak boleh keuangan keluarga difokuskan sebagian besar untuk modal usaha yang belum jelas hasilnya. Memulai usaha memang memiliki resiko untuk gagal. Bukan berarti pesimis, tetapi berhati-hati. Karena yang merasakan efek kegagalan bukan 1 orang melainakn seluruh keluarga. Jadi perlu diperhitungkan bagaimana bila bisnis gagal, apakah keuangan keluarga, kesejahteraan anak terganggu. JAdi harus disiapkan dana darurat yang cukup. Anda berhak menolaknya atau hanya memberikan sebagian saja atas alasan ini. Anda perlu menunjukkan hitungan yang logis sebagai dasar penolakan itu.

    walaupun bila ia tidak meminta sepeser pun untuk usahanya itu, anda berhak mengetahui sumber dana tersebut. Jangan sampai suatu saat hal itu menjadi masalah dan beban keluarga di kemudian hari. jika hal ini suami tidak mau ungkapkan, tidak perlu anda paksakan, tetapi anda bisa mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk.
    Dalam situasi ini, anda membutuhkan dukungan moril dari orang-orang terdekat anda. Anda tidak perlu mengumbar cerita ini kesiapa pun, cukup mendekatkan diri dan anak anda dalam keluarga anda dan juga keluarganya. Kedekatan ini akan membantu meringankan pikiran anda.

    walaupun sulit usahakan berkonsentrasi untuk semua hal yang positif. Namun terutama untuk kesejahteraan anak anda. Jangan terlalu memikirkan hal negatif karena tanpa anda sadari hal ini bisa mempengaruhi diri anda, sikap anda, bahkan terhadap anak anda sendiri. Dan hal ini tidak menguntungkan anda. Terutama bila masih ada harapan untuk rekonsiliasi dengan suami anda.

    Dan terakhir namun bukan yang terkecil.. berdoalah, terimalah sakramen Ekaristi dan tobat.. dekatkan dirimu kepada Allah. Ia yang tidak pernah meninggalkan umat yang setia kepada-Nya, pasti akan mendengarkan doamu.

    May God bless you and your family..

  26. romo saya mau tanya saya pernah menikah di gereja katolik,dan saya belum menikah secara sipil.apakah pernikahan kami bisa dibatalkan?karena mantan suami saya sudah menikah lagi dengan wanita lain yg bukan katolik.mohon pencerahnnya.

  27. saya bukan romo, saya awam..

    @dewi, sulit memberi jawaban dari tulisan pendek di atas..

    PAda prinsipnya pernikahan Katolik yang sah tidak bisa dibatalkan, walaupun belum tercatat secara sipil. HArus ada dasar-dasar yang kuat atau alasan berat yang menyatakan bahwa pernikahan anda cacat sejak mulanya.

    Silahkan berkonsultasi dengan romo paroki ..

  28. Dear Johan, JS
    Terima kasih atas informasinya. Saya coba mengajukan surat anulasi di kota tempat saya tinggal. Dari gereja kami, surat tersebut di lanjutkan ke bishop, dan keputusan akhirnya saya hrs mengajukannya di jakarta karena dulu pernikahan saya di jakarta. Saya mendapat surat pengantar dr pastor gereja kami di sini (usa)untuk disampaikan ke katedral jakarta. Syarat/dokumen apa yang hrs saya bawa ke jakarta?krn kebetulan kami bermaksud liburan ke jakarta.

  29. silahkan melengkapi pertanyaan-pertanyaan yang diminta dalam surat penyelidikan yang saya sampaikan di bawah ini lalu bawalah beserta dokumen2 yang diminta di dalamnya.

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    ………………… 200…

    Yth. ………………….
    di tempat

    Dengan hormat,

    Sebelum kami bisa melangkah lebih lanjut, terlebih dahulu kami membutuhkan riwayat perkawinan secara obyektif sebagai bahan pemeriksaan kami.
    Untuk memudahkan menyusun riwayat perkawinan tersebut, berikut ini kami sampaikan beberapa pertanyaan untuk membantunya. Mohon pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan obyektif dan lengkap supaya memudahkan dan membantu kami dalam proses pemeriksaan awal.

    A. Data pribadi
    1. Data pribadi (pemohon): Nama, tempat/tgl. Lahir, baptis.
    2. Alamat tinggal, no. telp.?
    3. Menikah dengan ……, kapan, di mana dan secara apa?

    B. Dasar/alasan mengapa diajukan permohonan proses anulasi perkawinan kepada Uskup/Tribunal Gerejani? (catatan: terkait dengan hal sebelum perkawinan dan bukan problem keluarga yang muncul sesudahnya)

    C. Riwayat sebelum perkawinan diteguhkan.
    4. Kapan Anda mulai berkenalan dengan mantan istri/suami Anda?
    5. Berapa lama Anda berpacaran (mempersiapkan perkawinan) dengan dia sampai dengan saat menikah?
    6. Ceritakanlah bagaimana pribadi mantan isteri/suami Anda sejauh Anda kenal pada waktu itu! (latar belakang keluarga, pendidikan, profesi, dlsb.)
    7. Bagaimana pasang-surut hubungan Anda berdua selama berpacaran?
    8. Adakah pihak-pihak yang mendukung atau sebaliknya untuk rencana perkawinan Anda?
    9. Apakah alasan pokok bahwa Anda memilih mantan isteri/suami Anda menjadi pasangan hidup Anda?
    10. Pernahkah Anda berdua memikirkan dan merencanakan bersama bagaimana keluarga Anda berdua akan dibangun?
    11. Bagaimana Anda berdua mempersiapkan perkawinan Anda pada saat menjelang perkawinan akan diteguhkan?

    D. Sekitar perkawinan diteguhkan.
    12. Ceritakanlah suasana pada saat perkawinan Anda diteguhkan, sejauh dirasakan dan masih bisa diingat!
    13. Apakah ada resepsi/pesta untuk perkawinan Anda? Di mana dan bagaimana suasana resepsi tersebut berlangsung?
    14. Apakah setelah menikah Anda berdua mengadakan bulan madu bersama? Kapan dan di mana? Bahagiakah Anda berdua pada saat bulan madu berlangsung?
    15. Setelah menikah, Anda berdua tinggal di mana?
    16. Bagaimanakah perjalanan perkawinan Anda berdua pada minggu-minggu pertama setelah perkawinan diteguhkan? Apakah Anda mengalami rasa bahagia bersama pasangan Anda dalam keluarga baru?

    E. Perjalanan perkawinan selanjutnya
    17. Kapan kesulitan-kesulitan mulai muncul? Apakah ‘kesulitan’ tersebut sebenarnya sudah muncul sejak sebelum perkawinan? Apakah bisa lebih dijelaskan kesulitan tersebut, lebih berkaitan dengan ketidaksetiaan, ketidakbebasan, tindak kekerasan, dsb?
    18. Bagaimana Anda berdua berusaha untuk menyelesaikan kesulitan tersebut?
    19. Menurut pendapat Anda, apakah yang merupakan kesulitan paling besar dalam perjalanan perkawinan Anda berdua?
    20. Usaha-usaha apa yang sudah ditempuh untuk mengatasi kesulitan tersebut?
    21. Mengapa menurut Anda perkawinan tersebut sulit untuk dipertahankan?
    22. Apakah ada hal-hal lain yang ingin ditambahkan?

    F. Saksi-Saksi:
    23. Siapakah orang/pihak yang bisa dihadirkan untuk memberi kesaksian, terutama terkait dengan dasar/alasan mengapa diajukan permohonan anulasi untuk perkawinan Anda?

    G. Dokumen-dokumen:
    24. Mohon dipersiapkan berbagai dokumen (fotokopi): testimonium matrimonii (surat per-kawinan gerejani), surat baptis, akte perkawinan sipil, akte perceraian sipil.
    Demikianlah pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhan dokumen yang perlu disiapkan. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

    Hormat kami,

    Y. Purbo Tamtomo Pr.
    Ofisial KAJ

    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

  30. Dear Johan,
    Saya sempat menikah secara gereja katolik & Sipil. Setelah 1,5thn bersama, saya dan suami saya bercerai tapi hanya secara sipil. Sekarang mantan suami sudah menikah lagi tetapi saya tidak tahu dia menikah secara agama apa.
    Yang ingin saya tanyakan, apakah bisa saya mengajukan pembatalan pernikahan secara gereja katolik agar saya dapat menikah lagi secara katolik?

  31. @vincentia, secara singkat.. membaca cerita pendek anda.. anda tidak memiliki alasan berat untuk mengajukan permohonan pembatalan itu. silahkan anda berkonsultasi dengan romo paroki anda untuk menemukan alasan itu..

    Untuk kesekian kalinya bagi pembaca para insan dan mempelai yang memilih pasangan hidup atau akan menikah, janganlah tergesa-gesa menentukan pilihan anda dan menikah, yakinkanlah dulu keputusan anda itu, pelajari tanda-tandanya, bila sejak awal ada keraguan, carilah cara untuk menghilangkan keraguan itu. Jika keraguan itu besar pengaruhnya bagi diri anda, sebaiknya anda menunda pernikahan. as simple as that… jangan khawatir bila anda sudah pernah berhubungan intim dengannya dan takut bila orang lain kelak tidak menerima anda, jangan khawatir bila anda takut karena usia anda anda tidak mendapatkan pasangan yang lebih baik, jangan khawatir bila keluarga malu atau kecewa bila anda memutuskan pasangan anda, jangan takut akan rasa malu kepada diri sendiri, jangan khawatir akan biaya besar yang sudah dikeluarkan untuk persiapan pernikahan, jangan khawatir, kenali pasangan anda lebih jauh dan lebih dekat, usahakan menyingkap semua kehidupannya, lihat apakah mereka menerima kehidupan anda, pelajari tanda-tanda kesiapan, kecocokan, kemapanan, antara anda dan pasangan anda. Lihat iman-nya kepada Allah, ketaatannya dan ketakutannya akan hukum Allah. lihat komunikasi anda selama ini, apakah pernah mengalami masalah rumit yang tidak terselesaikan namun hanya ditutupi atau sengaja dilupakan.. Percayalah kepada Allah, Ia akan meringankan bebanmu, Ia akan membantu melepaskan diri anda dari kekhawatiran.. dan jika pada saatnya anda yakin akan pilihan anda, berdoalah bahwa pilihan itu adalah kehendak-Nya…

  32. saya beragama katolik, istri saya juga beragama katolik,,kami lahir dan besar di lingkungan keluarga katolik yang taat,,, kami menikah sudah 5 tahun, akan tetapi belum juga dikaruniai anak dikarenakan ketidakmampuan istri secara fisik maupun psikis,,,
    sudah berbagai cara saya tempuh untuk menyelesaikan permasalahan ini, mulai dari kedokteran sampai pengobatan alternatif,, ingin saya tanyakan, apakah bisa saya mengajukan pembatalan pernikahan secara gereja katolik ?

  33. @Ferdy..

    Saya tidak tahu yang dimaksud ketidakmampuan isteri secara fisik apa, tetapi bila anda dan pasangan anda bisa berhubungan seksual (intercourse) dengan normal, maka Kitab Hukum Kanonik mengatakan bahwa sterilitas pada pasangan anda tidak memutuskan hubungan pernikahan anda yang sah dan sempurna,kecuali ketidakmampuan ini sudah diketahui oleh isteri anda sejak sebelum pernikahan dikukuhkan dan disembunyikan olehnya dari anda (tidak berkata jujur), maka bisa saja hal ini menjadi alasan untuk mengajukan permohonan pembatalan.

    Tetapi saya ingin melihat kasus ini sedikit berbeda.. apakah karena anda tidak mendapatkan keturunan adalah satu-satunya alasan untuk anda ingin berpisah dari isteri anda ? atau ada hal lain ?

    jika memang satu-satunya (tidak ada pemicu lain), mengapa hal itu begitu penting bagi anda ? bagaimana perasaan isteri anda bila ia tahu mengenai hal itu ?

  34. Selamat siang. Saya ingin bertanya. Saya dan istri saya beragama Katholik. Kami menikah pada bulan September 2010 dan sejak bulan Mei 2011 istri saya meninggalkan rumah s/d sekarang karena alasan ketidakcocokan dgn ibu saya dikarenakan kami masih tinggal serumah dgn orang tua saya. Permasalahannya adalah istri saya sekarang tinggal di kota asalnya dan tidak ingin menyelesaikan permasalahan ini. Ia pun menghindar setiap saat saya beritikad baik utk menemuinya. Apa yg harus saya lakukan? Karena bagi saya pernikahan ini sudah tidak dapat dilanjutkan lagi. Apakah bisa diputus dgn perceraian? Syarat2 apa yg harus saya tempuh? Terima kasih.

    -Ricky-

  35. Salam damai,

    Mohon bantuannnya dari rekan2 dan romo, saya seorang katolik,keluarga saya pun jg katolik. saat ini saya menjalin hubungan pacaran dengan janda dan anak 1. Si wanita tsb telah resmi cerai oleh pengadilan. Mereka dulu menikah berdasarkan agama kristen. Akan tetapi hubungan kami ditentang dari keluarga saya karena dikatakan jika saya menikah dengan seorang janda maka pernikahan saya tidak akan disahkan oleh gereja katolik. pacar saya beragama kristen protestan bethani dan telah dibaptis secra kristen. yang menggugat cerai adalah pacar saya karena dr pihak suami tidak memberi nafkah,selingkuh dan pada dasarnya tidak ada cinta diantara mereka (sesuai pengakuan pacar saya).
    Apakah tidak ada cara agar kami dapat melangsungkan pernikahan secara sah sesuai hukum gereja katolik? Apa perlu dilakukan anulasi terhadap pernikahan pacar saya yg terdahulu? Apakah kami berdua harus berakhir walau kami saling mencintai?

    Terima kasih sebelumnya,

    Salam damai Kristus

  36. @hendrik… untuk memastikan bisa tidaknya calon isteri anda dapat menikah secara Katolik, silahkan meminta penyelidikan untuk mendapatkan anulasi dari keuskupan terhadap perkawinan pertama calon isterimu…

    walaupun calon anda adalah seorang Janda, tetapi apabila ia bebas menikah (tidak terikat perkawinan) dan menikah dengna anda secara sukarela atas dasar cinta, dan tidak ada halangan lain menurut hukum Gereja Katolik, maka anda bisa menikah dengannya. Satu-satunya yang mungkin menjadi penghalang dalam kasus anda, adalah bahwa apabila tribunal menyatakan bahwa pernikahan terdahulu calon anda adalah sah menurut Gereja Katolik dan merupakan sakramen.

    Tetapi baptisan bethani adalah baptisan yang tidak sah menurut GEreja Katolik, jadi perkawinan bethani bisa dikatakan perkawinan yang bukan sakramen. Untuk memastikannya, segera ke keuskupan, atau bisa juga berkonsultasi terlebih dahulu dengan pastor paroki.

    Semoga membantu.. May God bless your steps…

  37. @ricky, pernikahan anda adalah sah dan sempurna sehingga tidak bisa terceraikan kecuali oleh maut.

    Saya tidak mengerti penyelesaian apa yang ditawarkan anda kepada isteri anda ? dan mengapa anda lalu mengambil kesimpulan isteri anda tidak mau menyelesaikannya ? dan menghindari anda ? Bukankah anda mengatakan yang bertikai adalah isteri anda dan ibu anda [mengapa isteir anda juga menghindari anda] ?

    Tetapi yang lebih mengherankan adalah anda kemudian berniat menceraikannya. Bagaimana anda mengharapkan masalah ini bisa diselesaikan bila sudah ada dalam pikiran anda siapa yang benar dan siapa yang salah ?

    Yang harus anda lakukan, temui seorang konselor pernikahan Katolik, bisa juga seorang Imam, pastor paroki.. tetapi tidak akan pernah efektif bila isteri anda tidak ikut serta. Itu sebabnya bujuklah isteri anda untuk bersama-sama menemui konselor tersebut. Tetapi cara membujuknya pun mesti bijak. Anda harus lebih rendah hati, dan harus lebih sabar dan mengendalikan emosi anda. Jangan ragu untu meminta maaf (walaupun ego anda mengatakan anda tidak bersalah), tetapi bila membaca cerita anda, [saya percaya] anda terlibat di dalamnya.

    Jika anda tidak bisa melakukan hal ini, maka cara terbaik adalah lakukan bersama-sama dengan seorang yang kalian berdua segani, yang netral, yang menurut anda bisa diterima oleh isteri anda, untuk membujuknya. strateginya adalah orang tersebut sebagai pembuka jalur komunikasi, selanjutnya setelah melihat isteri anda sudah dapat sedikit terbuka menerima masukan, barulah anda melanjutkannya. Ingatlah kerendahan hati. Berdoalah memohon kepada Allah dan bimbingan Roh Kudus.

    Bagaimana pun masalah ini adalah masalah perkawinan anda. Dan tidak akan bisa diselesaikan bila tidak ada komitmen dan tidak ada kerjasama suami dan isteri. Perubahan hanya bisa terjadi jika masing-masing tidak berpijak di atas ego masing-masing.
    Dan mintalah pengertian kepada ibu anda untuk memintanya keluar dari jalur perkawinan kalian. Memberikan ruang untuk kalian bertumbuh dalam perkawinan dan membangun keluarga. Sebaliknya anda pun perlu memberikan ruang buat isteri anda untuk bisa menjadi isteri anda, menggantikan peran ibu anda selama ini, dan menjadi ibu bagi anak-anak kalian.

    Saya sangat menyarankan anda mempertimbangkan untuk pindah dari rumah orang tua anda, jika hal itu memungkinkan. karena bagaimana pun hal ini memiliki pengaruh dalam kehidupan perkawinan kalian. Dan jika pengaruhnya lebih banyak yang negatif bisa mengganggu atmosfir di dalamnya. Anda harus lebih mengerti, bahwa tinggal bersama mertua, adalah bukanlah kehendak pasangan dalam sebuah perkawinan. Tetapi bila ia setuju, maka itu adalah keputusan yang melawan keinginan pribadi. MEmang ada konsekuensinya, dalam kasus ini, anda-lah yang harus membantu meminimilisasi-nya, sehingga isteri anda tidak merasa menanggung seorang diri atas keputusan yang didominasi keputusan anda tinggal bersama orang tua. anda harus bisa menjadi seorang yang bisa di andalkan olehnya untuk membantu dia dalam beradaptasi, termasuk dalam hal ini anda harus membantu orang tua anda beradaptasi.

    Ingatlah bahwa memaksa seseorang menjadi orang yang diinginkan adalah melukai kasih dan tidak sesuai dengan iman KAtolik.

    orang tua yang memaksa menantunya untuk mengikuti seluruh keinginannya, melakukan apa yang melulu mereka kehendaki, meintanya bersikap selalu sesuai dengan keinginan mereka, memaksakan sang menantu menjadi seseorang yang mereka harapkan. Terlebih dengan tindakan yang menyakiti secara psikis, bahkan mungkin secara fisik.
    Ini melukai kasih dan tidak sesuai iman Katolik.

    sebaliknya isteri yang merasa telah berkorban tinggal di dalam rumah mertua, bila mengambil sikap yang cuek, sikap yang angkuh, malas, berbuat sesukanya, tidak menghargai orang lain dalam rumah tersebut, merasa dirinya adalah korban sehingga merasa dirinya patut dikasihani, sehingga me-legal-kan tindakan yang melanggar norma kekeluargaan, ini juga melukai kasih dan bukan ajaran Katolik.

    Jika terjadi pertikaian di rumah orang tua antara isteri anda dan ibu anda, bagaimana pun, anda pun harus bertanggungjawab karena anda berpartisipasi besar membuat keputusan untuk tinggal di sana bersama isteri anda.

    Ambilah keputusan yang bijak sesuai dengan kehendak Allah. Carilah seorang yang bisa membantu anda membangun jembatan komunikasi, sebagai langkah awal untuk membuat perubahan yang lebih baik terhadap perkawinan, sehingga kelak anda bersamanya bisa membangun keluarga yang harmonis bersama anak-anak kalian dan menjadi Gereja domestik sesuai dengan tujuan dan makna perkawinan Gereja Katolik.

    May God bless your steps…

  38. Dear Romo,
    Mohon informasi apa sajakah yang bisa membatalkan sebuah perkawinan katholik?

    Adik saya (cewek)sedang dalam proses pernikahan (pengumuman kedua), namun sejak awal pacaran sampai sampai ke tahap ini tidak disetujui oleh semua keluarga kami termasuk bapak dan ibu. alasannya karena kami tidak melihat ada perubahan yang baik dari cowoknya, sejak awal pacaran (2 th yl) tidak pernah bertegur sapa dengan bapak, ibu dan saya sebagai kakaknya. dengan alasan saling mencintai, adik saya meninggalkan rumah dan tinggal dikontrakkan (masih satu kota). kami sudah berusaha meyakinkan adik bahwa jalan yang akan dijalaninya pasti penuh masalah. namun adik tetap pada pendiriannya karena dia bilang sudah mantap dengan pilihannya itu. akhirnya dia mengambil KK tanpa sepengetahuan ortu kami dan mendaftarkan diri menikah di gereja. ketua lingkungan sudah menandatangani ijinnya karena saat itu belum tau ada masalah. ketika kami informasikan demikian, katua lingkungan meminta maaf ke ortu kami karena tidak tau. kami sangat menyayangkan tindakan adik ini. kami sebagai pihak keluarga tidak ingin adik melalui jalan yang sulit kelak (menikah tanpa restu ortu). Karenanya kami datang ke romo paroki, namun jawabannya tidak memuaskan karena dibilang kalo secara gereja tidak bisa membatalkan proses yang sudah berjalan dan mereka yang akan menikah sudah saling mencintai dan sudah dewasa (masing-masing 29 tahun dan 35 th. apakah ada jalan yang bisa kami lakukan untuk mencegah pernikahan ini? mengingat kami khawatir kalau pernikahan yang tanpa restu ortu ini hanya seumur jagung.

    Thanks,

  39. @siddha, keputusannya ada pada adik anda.. walaupun keluarga keberatan, namun bila keduanya ingin menikah berdasarkan cinta, dan segala prasyarat dan syarat sebuah perkawinan Katolik terpenuhi, maka tidak ada halangan untuk menikahkan mereka dalam Gereja Katolik. Bahkan ketua lingkungan pun tidak boleh melakukannya, menghalangi niat mereka untuk menikah, atas desakan pihak keluarga, walaupun keputusan tersebut tidak populer.

    Satu-satunya yang bisa mencegahnya, adalah apabila ditemui tindak kecurangan, penipuan, kepalsuan, paksaan dari pasangan adik anda yang membuat adik anda menikah dengan pasangannya itu di luar kehendaknya.

    Yang bisa dilakukan oleh romo paroki sebenarnya adalah mediasi agar terjadi rekonsiliasi hubungan di antara keluarga, adik dan calon suami adik anda. Sehingga kalian bisa memberikan restu dan dukungan moril kepada adik anda (ingat, tujuannya mediasi itu bukan untuk membatalkan perkawinan, so please, jika kalian tidak bisa datang bertemu dengan melepaskan hal ini dari pikiran dan emosional kalian, lebih baik kalian mengurungkan niat kalian untuk melakukannya).

    Jika dalam 2 tahun kalian pihak keluarga tidak bisa meyakinkan adik anda bahwa pilihannya salah, tentunya kalian tidak bisa berharap banyak bahwa seorang romo paroki bisa mengubah pendirian adik anda untuk mengikatkan diri dalam tali perkawinan di Gereja Katolik. Justru saya berpikir, mengapa pihak keluarga tidak berupaya untuk melakukan hal itu jauh sebelumnya, dua tahun memang waktu yang singkat, tetapi tidak terlalu singkat untuk mengenal sang pria dan keluarganya, apalagi hubungan tersebut hendak di bawa ke arah yang lebih serius dari sekedar menjalin hubungan pertemanan.

    mengapa tidak waktu yang sangat singkat ini, pihak keluarga mencari jalan untuk bertemu dengan pihak keluarga sang pria, untuk mengenal calon pasangan adik kalian lebih banyak dari yang sekarang kalian ketahui. Mengapa kalian tidak mulai membuka telinga hati kalian, untuk mendengar suara anak dan suara seorang adik tentang pasangannya itu, tentang keinginannya. Dan cara yang paling bijak adalah memberi dukungan moril yang dibutuhkan seorang anak dan seorang adik untuk melangkahkan kakinya, dan yakin akan keputusan yang ia ambil adalah untuk memuliakan nama Allah.

    Ingatlah kalian sebagai pihak keluarga pun tidak terlepas dari rencana Allah dalam perjalanan hidup sang anak dan sang adik ini. Jadi buatlah suatu keputusan dan tindakan yang menurut dan sesuai dengan ajaran dan kehendak Bapa di sorga.

    Yang terakhir janganlah lupa berdoa dan menerima sakramen tobat dan Ekaristi. Doakanlah anak/adik supaya Allah melindunginya dari segala yang jahat dan membimbingnya lewat Roh Kudus untuk segala keputusan yang ia ambil.

    May God bless your steps.

  40. dear romo,

    saya gadis katolik memiliki pasangan kristen, rencana melakukan sakramen pernikahan di gereja Katolik, apakah kami di kanonik secera katolik atau hanya saya saja.

    Mohon penjelasannya,,,

    Tks n JBU

  41. @Shinta,

    kalian berdua perlu melalui penyelidikan kanonik.. :)

    hope this answer your question.

  42. Saya mau tanya berapa kira2 biaya untuk proses annulment dan sidang tribunal?

    thx

  43. Dear Bp. Johan,

    Mohon bantuannya ya Pak, Keluarga kami sedang bingung mengenai kakak saya (laki-laki) yang ingin membatalkan penikahannya.

    Kakak saya pernah menikah secara katholik & Pasangan juga katholik. Namun pernikahannya tidak berlangsung lama, kurang dari satu tahun telah bercerai dengan istrinya secara sipil. Waktu itu mereka tinggal beda kota karena urusan pekerjaan. Dan 1 bulan pertama istrinya diketahui selingkuh dengan mantan pacarnya yang dulu. Sudah ada mediasi dan kembali baik. Namun hal itu berulang lagi dan pada akhirnya kakak saya digugat cerai secara sipil oleh istrinya. Kemudian Istrinya menikah lagi dengan mantan pacarnya itu secara islam.
    Yang saya tanyakan, apakah kakak saya bisa mengajukan pembatan pernikahan ya Pak ( dilihat dr kanon 1101 ). Jika bisa, bagaimana caranya ya Pak? karena domisili kakak saya yang sekarang di semarang dan dulu menikah di jakarta.
    Terima kasih & GBU.

  44. @Rina..

    harus ditemukan bukti bahwa sejak awal, saat penyelidikan kanonik sebelum perkawinan dikukuhkan adanya hal-hal yang menyebabkan cacatnya janji perkawinan, seperti adanya paksaan, tekanan dari pihak luar, kebohongan atau penipuan, pasangan tidak liber (sudah terikat perkawinan), atau sakit yang tidak bisa disembuhkan sehingga menghalanginya melakukan hubungan seksual.

    Jika isteri kakak anda bisa dibuktikan menikah karena terpaksa atau selama ini berbohong menutupi bahwa dirinya sebenarnya tidak mencintai kakak anda sejak awalnya, maka kakak anda memiliki alasan untuk mengajukan permohonan pembatalan.

    Tetapi jika hal-hal di atas tidak ditemukan dan tidak bisa dibuktikan, maka kakak anda tidak memiliki alasan untuk mengajukan pembatalan perkawinan, karena perkawinan kakak anda sah (bersifat sakramen) dan sempurna (Ratum et consummatum)

  45. Dear Bp. Johan,

    Terima kasih untuk pencerahannya Pak.
    Oiya Pak, Ada yang mau saya tanyakan lagi.
    Langkah awal kakak saya untuk mengajukan pembatan bagaimana ya Pak? Apakah datang ke Paroki tempat dulu kanonik atau langsung ke katedral dengan Rm. Purbo?
    Dalam hal ini berarti kakak saya harus datang berdua dengan mantan istrinya atau bagaimana ya Pak. Karena menurut kakak saya hal itu sulit. Apakah dengan saksi atau keluarga mantan istri bisa? Karena saksi dulunya juga dr pihak istri.
    Mohon bantuannya ya Pak.
    Terima Kasih banyak & GBU.

  46. @Rina, silahkan meminta kakak anda untuk datang menemui Pastor di paroki di mana ia berdomisili dan menceritakan permasalahan yang anda kemukakan di sini, dan proses ini tidak perlu menyertakan sang isteri. Saksi dari pihak keluarganya, atau atau pihak isterinya dan bukti lain akan sangat membantu pengajuan permohonan ke Tribunal perkawinan di keuskupan.

    Namun perlu diingat proses penyelidikan hingga keputusan tribunal tidaklah dalam waktu yang relatif singkat, bahkan bisa bertahun-tahun. Jadi Kakak anda harus sabar dan berpasrah diri, berdoa dan terus berkarya, sehingga apa pun keputusannya tidak ada satu pun yang berubah dari dirinya sebagai pribadi yang mencintai Allah.

    May God bless your steps.

  47. Pak Johan, anak dan menantu saya menikah secara Katolik di pertengahan 2007, pada akhir 2009 anak saya ketahuan berselingkuh bhkan smpai punya anak dgn wanita lain. Kami sebagai org tua sdh mncoba untuk memediasi mrka agar tetap terikat pd pernikahan mrka. Namun menantu dan keluarganya tdk bisa mentolerir apa yg telah diperbuat oleh anak saya. Akhirnya anak sy dilaporkan ke polisi dan dibawa ke pengadilan dengan tuduhan perzinahan. Hasilnya ia menerima vonis hukuman 6 bln subsider 1 tahun. Berjalannya waktu, anak saya akhirnya benar2 meninggalkan istrinya dan berpaling pada wanita yg telah memberikan anak padanya. Begitupula dgn menantu saya, dia akhirnya menemukan pria lain pengganti anak saya bahkan kabarnya sdh menikah lagi secara Katolik juga di kota yg lain (apakah mungkin..?)

    Yang ingin saya tanyakan BAGAIMANAKAH STATUS MEREKA..? APAKAH SALAH SATU DARI MEREKA DAPAT MENGAJUKAN PEMBATALAN PERNIKAHAN..?

  48. secara hukum GEreja, menantu anda atau anak anda tidak dapat menikah di GEreja Katolik, kecuali perkawinannya mereka dibatalkan oleh tribunal, dan prosesnya pembatalan sebuah perkawinan hingga keputusan tidak dalam waktu yang relatif singkat bahkan bisa bertahun-tahun. PEmbatalan bisa terjadi atas permohonan salah satu dari pasangan disertai dengan bukti-bukti dan saksi-saksi. SElama status NULL belum dikeluarkan, maka status mereka adalah suami dan isteri yang sah menurut Gereja Katolik.

    jadi untuk memastikan apa yang terjadi, sebaiknya anda mencari tahu di paroki dimana menantu anda tersebut di-isu-kan menikah lagi dan mengapa perkawinan mereka bisa terjadi.

    satu hal lagi, apakah yang dimaksud meninggalkan isterinya adalah bercerai secara sipil ?

  49. Dear Pak Johan..
    Terima kasih untuk penjelasannya, dan atas pertanyaan Bapak, setahu saya mereka tdk pernah melakukan perceraian sipil karena memang mereka tdk pernah mendaftarkan pernikahan mereka secara sipil.
    Satu pertanyaan saya lg, apbila isu pernikahan menantu saya itu seandainya terbukti, kira2 apa yg harus saya lakukan, karena sbgai orang tua terus terang sj kami jg menginginkan anak kami bisa menikah lagi drpd hidup berzinah, kira2 ada alasan atau tidak bagi anak kami untuk mengajukan pembatalan pernikah pada Tribunal..

    Trima kasih sebelumnya…

  50. @Witarno,

    tanyakan dasar pernikahan ke-2 menantu anda. Jika hal itu adalah akibat keputusan tribunal, maka secara otomatis efeknya juga kepada anak anda, sehingga anak anda statusnya pun menjadi liber.

    Tetapi jika bukan, maka anda harus menceritakan sejujurnya kepada pastor paroki tentang perkawinan anak anda tersebut, demi keselamatan jiwa mereka yang tidak mengetahui mengenai hal ini dan melakukan dosa karenanya.

    saya sama sekali tidak melihat ada dasar atau alasan bagi anak anda mengajukan pembatalan perkawinan.

  51. Ok, trima kasih banyak Pak Johan, semua jawaban anda dpt dijadikan penunjuk arah bg kami agar dpt melangkah kedepan tapi tetap didalam hukum, kaidah serta aturan Gereja Katolik.
    Sekali lg TERIMA KASIH..

  52. Dear : Bp Johan

    Saya mempunyai seorang kakak yang menikah dispensasi di gereja katholik karena suaminya waktu itu beragama budha, setelah 2 tahun pernikahan mereka suaminya dibaptis secara katholik, tetapi pada tahun ke 6 perkawinan mereka suaminya berselingkuh (padahal sudah mempunyai 3 anak ) dan menikah lagi secara islam dan mempunyai 2 anak, mereka bertengkar dan kakak saya meminta agar suaminya memilih siapa, suaminya memilih kakak saya, dan kakak saya memaafkan dan menunggu suaminya untuk menyelesaikan perceraian dengan istrinya itu, tetapi setelah bercerai tetap saja suaminya berhubungan dgn perempuan itu bahkan tidak pernah pulang lagi kerumah kakak saya apalagi memberi nafkah. kakak saya tetap berharap suaminya bisa kembali dengan alasan kasihan anak-anak. beberapa tahun kemudian suaminya bertengkar dengan istrinya itu dan meminta kembali ke kakak saya, dan kakak saya menerimanya. Dengan alasan diteror perempuan itu akhirnya suaminya pergi bekerja diluar kota, tetapi baru 3 bulan di luar kota suaminya sudah menikah lagi secara islam dengan perempuan dikota itu dan sekarang telah mempunyai 2 anak lagi, kakak saya ditelantarkan bersama dengan anak-anaknya tidak diberikan nafkah sepeserpun dan suaminya tidak pernah pulang…. sekarang ada laki-laki yg mencintai kakak saya dan berharap menikahi kakak saya, tetapi tidak dapat menikah di gereja katholik karena kakak saya pernah menikah dan diberkati di gereja katholik. bagaimana jalan keluarnya ? karena bukankah kalau tidak diberkati di gereja perkawinan tidak sah dan walaupun ke gereja kakak saya tidak bisa menerima komuni? mohon solusinya.

    terima kasih

    Christella

  53. @Christella… saya turut prihatin atas kondisi kakak anda. Pada saat ini, orang-orang terdekatnya terutama keluarganyalah yang menguatkan dirinya menjalani perjalanan hidupnya bersama anak-anaknya.
    Ingatkan kakak anda, untuk tidak lagi memikirkan pria yang ia nikahi itu untuk saat ini, tetapi lebih berkonsentrasi untuk memperbaiki kualitas hidupnya terutama untuk merencanakan kesejahteraan anak-anaknya. Perbaikan kualitas yang dimaksud adalah dengan memikirkan dan melakukan hal positif untuk dirinya, untuk anak-anaknya, bersama, termasuk bahkan memikirkan rencana keuangan. HAl ini memang tidak kalah memusingkan, tetapi ini lebih baik dibandingkan memikirkan laki-laki yang telah mengkhianati kasih keluarga.
    Jangan biarkan kejadian ini membebani dirinya sedemikian rupa sehingga mengubah sikap dan prilaku kakak anda bahkan mengganggu kesehatan. Ingatkan, apa pun kini yang ia lakukan, akan mempengaruhi anak-anaknya yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Mereka telah kehilangan sosok ayah yang mencintai dan dicintai mereka, jangan sampai mereka kehilangan sosok sang ibu.
    ajaklah anak-anak berdoa dan ke Gereja bersama, jangan biarkan mereka membenci ayah mereka atau bahkan membuat mereka demikian, tetapi doakan supaya ayah mereka dapat pulang kembali bersama keluarga. Lakukan keseharian seperti biasa, jangan membuat perbedaan dengan ketiadaan sang ayah. Biarkan anak-anak berekspresi terhadap ketiadaan sang ayah, jangan memarahi mereka jika mereka menyinggung atau menanyakan terkait apa pun tentang ayah mereka.

    kondisi kakak anda memang tidak memiliki alasan untuk pernikahannya dibatalkan oleh tribunal. Ketika suami kakak anda dibaptis, maka pernikahan itu otomatis menjadi Sakramen, dan mengingat usia perkawinan dan sudah memiliki 3 orang anak dari pernikahan tersebut, maka semakin sulit dan sangat kecil untuk mencari alasan untuk mengajukan permohonan pembatalan tersebut.

    Untuk saat ini, kakak anda dan pria itu hanya bisa bersahabat saja, tidak lebih dari itu dan jangan melakukan lebih dari itu atau bila tidak dapat mengatasi kenyataan, maka justru pertemanan itu mungkin akan membuat masalah baru, yang juga tidak kalah menyita tenaga dan pikiran.
    Sangat dipahami, saat ada seorang pria yang memberi perhatian dan perlakuan yang lama tidak dapat kakak anda dari suaminya, sosok seorang suami yang baik, dan juga pemikiran memberi jaminan untuk kesejahteraan dan tumbuh dan kembang anak-anaknya, maka bila kakak anda menikah pria tersebut memang terlihat sebagai jalan keluar dan cukup pintas.
    Godaan untuk menikah lagi akan sangat besar. Walaupun keputusan ini pun bukanlah jaminan kebahagiaan.
    Namun menikah bukan satu-satunya jalan keluar. Ada komunitas ibu tunggal yang dibina susteran gembala baik, dimana di sana para ibu tunggal berbagi untuk saling menguatkan.
    Keluarga termasuk anda berperan besar dalam membantu kakak anda untuk melewati masa-masa sulit ini. Dan kebahagiaan kelak bisa diperoleh tanpa harus mengkhianati iman, dan inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.

    Pada masa ini, keputusan kakak anda sangat berarti pula untuk pendidikan dan pertumbuhan iman anak-anaknya. Karena hal itu menjadi contoh nyata yang sangat menguatkan. Dan di masa kini dan saya percaya di masa depan, hanya iman yang benar yang bisa diandalkan untuk melawan godaan si jahat.

    untuk sementara itu dulu..

    May God bless your steps.. bless and protect your sister and her children…

  54. terima kasih Pak Johan atas jawabannya, memang selama ini kakak saya cuma fokus dengan anak-anak dan menerima semuanya sebagai bagian dari hidup, tetapi kami keluarganya ingin dia berbahagia dan ada teman pendamping hidup dimasa tuanya, anak2nya juga sudah besar dan menginginkan ibunya mempunyai teman hidup yg baru, karena mereka tahu selama ini ibunya sudah bersusah payah mendidik dan membesarkan mereka selama 19 tahun hidup sendiri membiayai mereka bertiga.
    memang menikah lagi bukanlah jalan satu-satunya yg terbaik, malah bisa menambah beban, mungkin memang benar ssperti yang Pak Johan katakan kebahagiaan kelak bisa diperoleh tanpa harus mengkhianati iman, dan inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.
    Semoga kakak saya juga akan selalu tabah dan setia pada imannya.

    sekali lagi terima kasih Pak Johan……….

  55. Dear Pak Johan,

    Mohon bantuan penjelasannya, saya seorang khatolik yang sedang berhubungan dengan pria protestan yg sudah bercerai (sebelumnya diberkati digereja protestan juga), apa kami bisa menerima sakramen perkawinan diGereja Khatolik? syaratnya apa saja Pak?

    Terima kasih

  56. @EAK, harus ada status NULL dari tribunal Gereja Katolik terhadap perkawinan teman pria anda terdahulu untuk dapat menikah secara Katolik dengan anda. Bila baptisan teman anda adalah sah menurut Gereja Katolik maka pernikahannya terdahulu bersifat Sakramen dan sah menurut Gereja Katolik.

    Setelah itu anda membutuhkan ijin dari ordinaris wilayah untuk menikah dengannya.

    SEgeralah menemui pastor paroki untuk berdiskusi mengenai kedua hal ini.

    May God bless your steps..

  57. saya saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang pria katolik yg sudah pernah menikah secara katolik dan sudah bercerai dengan istrinya sejak 4 tahun yg lalu.. mereka sudah bercerai secara negara, dengan alasan istrinya selingkuh dr suaminya dengan teman kantornya sendiri dan pergi meninggalkan rumah, suami dan anak2nya…
    apakah kami bisa menikah secara katolik lagi, mengingat kami serius dan merencanakan pernikahan di dalam hubungan kami ini..

    makasih atas jawabannya…

  58. @Vera

    alasan perselingkuhan tidak dapat digunakan untuk membatalkan perkawinan yang sah dalam Gereja Katolik. Harus ada alasan berat dimana dasar-dasar perkawinan Katolik-nya cacat sejak mulanya. Tetapi membaca cerita singkat anda, saya pesimis.

    Dengan status perkawinan yang belum dianulasi, maka teman pria-mu tidak dapat menikah dengan anda dalam Gereja Katolik, karena di mata Gereja ia adalah masih suami yang sah dari isterinya yang terceraikan secara negara itu.

    Cobalah berdiskusi dengan romo paroki dimana kalian berdomisili.. pertanyaannya, jika anda diberikan pilihan untuk mengkhianati iman atau hidup dalam perkawinan yang tidak diakui Gereja untuk dapat menikah dengannya, apakah anda akan mengambilnya ?
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    TErus terang, setiap kali saya membaca kasus perselingkuhan, saya berpikir, mengapa hal itu bisa terjadi. mengapa suami/isteri bisa berselingkuh ? apakah karena kekurangan pasangannya ? apakah selingkuhannya lebih baik dari pasangannnya ? apakah ia menyesali perkawinannya sehingga ia selingkuh ? apakah karena nafsu seksual semata ?

    Mungkinkah sejak awal sebelum menikah, sudah bisa diproyeksikan apa saja yang bisa membuatnya selingkuh dari pasangannya ?
    seharusnya hal ini ditanya dalam penyelidikan kanonik. Masing2 diminta mengungkapkan hal itu, karena banyak pasangan hanya melihat dan menerima kondisi saat itu, bukan kondisi di masa depan, atau berharap-harap ada perubahan atau percaya terhadap janji-janji semata.. contoh pertanyaan seperti :

    1. bagaimana bila pasangan jatuh miskin..
    2. bagaimana bila tidak dikaruniai anak..
    3. bagaimana bila pasangan malas berhubungan seks..
    4. bagaimana bila pasangan tidak memuaskan dalam hubungan seksual
    5. bagaimana bila pasangan kelak mengalami sakit atau cacat yang menyebabkan ia tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai suami atau isteri.
    6. sejauh mana masing-masing mengenal kelakukan atau sikap atau sifat buruk pasangannya.
    7. bagaimana bila kelak dalam perkawinan mereka baru mengetahui ada sikap atau kelakukan buruk pasangan yang tidak disukai
    8. bagaimana bila kelak ada seseorang yang menyukai dirinya, entah teman, mantan pacar, rekan kerja, atau seorang kenalan yang secara fisik cocok dengna harapannya
    9. bagaimana bila kelak ada seseorang yang memberi perhatian khusus yang lebih baik dari pasangannya.
    10; bagaimana bila kelak disadari, pasangannya lebih perhatian kepada teman-temannya, atau hobinya daripada dirinya atau keluarganya
    11. dst…

    mungkin perlu mulai dijadikan bahan pertanyaan dalam penyelidikan kanonik mengingat banyaknya kasus perselingkuhan dan perceraian terjadi.

    besarnya potensi masalah dalam perjalanan hidup dalam perkawinan menurut saya sudah perlu dideteksi sejak dini.. bahkan mungkin seorang psikolog perlu dilibatkan, bukan hanya seorang romo.. atau romo yang melakukan penyelidikan kanonik perlu dibekali ilmu psikologi untuk menggali secara lebih dalam dan teliti membedah kekuatan cinta pasangan yang akan menikah.

    perkawinan itu memiliki gambaran suasana cerah dan damai di tengah keindahan taman bunga, namun juga memiliki gambaran cuaca buruk nan gelap disertai badai yang mengerikan di tengah lautan.. gambaran ke-2 ini sering tidak tampak di awal dan jarang sekali atau bahkan tidak pernah ditampakkan (termasuk dalam penyelidikan kanonik atau kurus persiapan perkawinan).

    hanya sekedar pikiran yang terlintas..

  59. Saya (26th) saat ini sedang menjalin hubungan dengan AG (30th) sudah hampir 2tahun. Kami adalah katolik yg aktif di gereja. Beberapa bulan lalu AG menceritakan masa lalu nya, bahwa 2009 lalu AG cerai sipil dengan istrinya yg dinikahi secara katolik pada tahun 2007 karena istrinya pergi meninggalkan dia dan saat ini sudah tinggal dengan pria asing di Jerman. Dan karena kami memang punya niat yg serius untuk membina rumah tangga bersama, maka saya meminta dia untuk mengurus pembatalan perkawinan dulu, kami sudah berkonsultasi dengan romo, dan surat pengajuan pembatalan perkawinan pun sudah dimasukan dan menurut informasi romo, saat ini proses nya sdg dalam antrian, tidak tahu antrian ke berapa.. Yang ingin saya tanyakan, apakah kira2 proses ini dapat dikabulkan? Karena jujur saja, saya selalu di desak oleh keluarga saya setiap hari, bangun pagi, pulang kerja setiap hari selalu ditanya hal yang sama. Saya sampai stress dan turun berat badan. keluarga pihak AG pun selalu mendesak, keluarga AG memang bukan katolik tapi saya sudah memberi penjelasan kepada mereka. Saya benar2 bingung, Apakah semua orang tua seperti itu. Saya sempat memutuskan hubungan dengan AG karena saya merasa tidak punya jalan keluar lain, namun setelah kami bicarakan baik-baik. Maka kami pun masih bersama sampai saat ini. Apakah kami msh bisa mendapat kesempatan untuk membina keluarga katolik? Mohon pencerahannya apa yang harus saya lakukan selain menunggu dan berdoa? Terimakasih.

  60. Dear Via… ada dua hal yang terlintas dalam pikiran saja..

    memang tanpa anulasi pernikahannya maka teman pria anda tidak bisa menikah lagi di Gereja KAtolik.

    Jadi cara terbaik adalah menanyakan ke keuskupan status permohonan pembatalannya itu.

    Saya berpikir idealis ya.. idealnya, bila ia sungguh2 mencintaimu, maka ia akan berkorban dengan merelakan dirimu untuk tidak lagi terikat hubungan serius dengannya, karena belum ada kepastian secara hukum Gereja mengenai status perkawinannya. Tentunya pengorbanan itu ia lakukan agar ia dapat melihat anda bahagia. SEbaliknya [menurut saya] akan sangat egois bila ia menahan kamu dalam ketidakpastian karena ia ingin menjadikan kamu sebagai pendamping hidupnya setelah kegagalan pernikahannya.

    kedua, sudah lebih dari 2 tahun, mengapa ia tidak mengurus pembatalan perkawinannya ? 1) mungkin saja ia berharap bisa kembali kepada isterinya 2) mungkin karena ia malas mengurusnya 3) mungkin karena ia tidak menduga akan jatuh cinta lagi atau tidak mengira ada orang yang dapat mencintainya 4) mungkin karena ia tidak tahu.. 2 tahun ditambah perjalanan hubungan anda .. mengapa baru sekarang setelah sekian lama menjalin hubungan dengan anda ? apa pun jawabnya, mungkinkah ia melukai imannya dan bahkan meminta anda melukai iman anda karena kehendak untuk menikah ? apalagi bila didesak oleh keluarganya bukan keluarga Katolik.

    Coba renungkan kembali.. seberapa lamakah anda sanggup dan sabar menunggunya.. karena keputusan permohonan pembatalan perkawinan akan membutuhkan waktu relatif lama..sebaiknya hal ini disadari oelh teman pria anda..

  61. Yth Bp. Johan

    terima kasih atas informasinya, apakah ketika konsultasi dengan pastor paroki saya langsung datang juga dengan teman pria saya tsb?
    bagaimana cara membuat janji dengan pastor paroki apakah perlu melalui sekretariat?

    atau kami bisa kepastor paroki lain?

    Terima kasih atas bantuannya Pak.

    Salam

  62. Dear bpk Johan

    saat ini saya dalam masa gugatan perceraian yg dimana suami saya yg mengajukan gugatan cerai, saya dan suami menikah secara katolik dan kami beragama katolik. sebenarnya saya sangat ingin menyelesaikan masalah dengan baik2 tetapi suami saya menolak dan ingin bercerai. saya sudah berkonsultasi dengan romo paroki yg mengkanonik kami, tapi romo paroki tersebut tidak merespon. apa yang harus saya lakukan? saya sangat tau klopun surat cerai secra sipil kluar secara agama katolik sangat sulit. saya sudah berusaha membberitau suami saya tapi dia bersedia mengurus semua.apa yang harus saya lakukan? tetap mempertahankan pernikahan ini atau saya pasrah saja?
    Trims.

  63. Yth Bpk. Johan dan Rm. Sudrijanta,

    Perkenalkan saya seorang gadis berusia 29 tahun, dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang duda dengan 1 anak. Dia bercerai 2 tahun yang lalu dengan alasan mantan istrinya selingkuh dan hamil dengan selingkuhannya. Romo, Pak Johan, apakah memungkinkan dengan kasus ini untuk mendapatkan annulment sehingga kami nantinya bisa menerima Sakramen Pernikahan? Langkah apa yang harus kami lakukan untuk proses anulasi itu? Dan kira2 berapa lama prosesnya ya?

    Thanks

  64. Yth. Bpk. Johan dan Rm. Sudrijanta

    Perkenalkan nama saya Ramli Ramadaud. Saat ini saya lagi status sendiri karena istri sudah 2 tahun meninggalkan saya dan sekarang sudah menikah lagi. Anak saya 3 orang dan semua ikut ibunya dan kembali keagamanya islam. Padahal sewaktu menikah dulu kami lakukan di Katholik. Namun nyatanya anak anak tetap ikut istri saya di islam. apakah saya bisa mengajukan pembatalan perkawinan?tolong penjelasannya Romo dan surat apa saja yang harus saya urus. Terima kasih.

  65. @Valentina.. membaca cerita singkat anda, maka saya simpulkan Perkawinan kalian sah dan sempurna menurut GEreja KAtolik, sehingga tidak terceraikan…

    jawaban dari pertanyaan anda, tentu saja berusahalah sungguh-sungguh untuk mempertahankan perkawinan anda.. tetapi anda butuh bantuan, karena perlu digali secara dalam akar permasalahan yang menyebabkan suami anda hendak bercerai dari anda.. harus ada dari diri anda dan suami anda dialog terbuka, kejujuran, dan kehendak untuk menyelesaikan permasalahan tersebut demi perkawinan kalian. Anda bisa meminta bantuan orang-orang yang disegani/dihormati dan didengarkan perkataanya oleh suami anda (termasuk dari kaum religius, seperti Imam Katolik).

    BErdoalah dan rajinlah menerima sakramen tobat dan Ekaristi. Berdoalah untuk suami anda, untuk diri anda, demi perkawinan kalian.

    May God bless your steps..

  66. @GK, perselingkuhan bukan alasan yang dapat digunakan untuk membatalkan sebuah perkawinan Katolik.

    Karena kenyataan ini, saya sangat menyarankan anda untuk mulai membatasi diri anda berhubungan dengannya supaya tidak ada harapan-harapan yang dapat membahayakan iman anda. Anda harus percaya, bahwa Tuhan memiliki rencana lain, mengapa anda bertemu dengannya, bukan karena perkawinan. SEring kali kita tidak melihat rencana Allah tersebut, dan hanyut karena kehendak kita sendiri.

    Berdoalah dan mohon petunjuk dan kekuatan dari Allah, supaya anda dapat memahami kehendak-Nya untuk diri anda. Berdoalah untuk anda, dan teman anda tersebut. DAn semoga anda mengambil jalankeluar yang terbaik sesuai dengan ajaran Allah dan GEreja-Nya.

    May God bless your steps..

  67. @Ramli, sulit menarik kesimpulan dari cerita anda, namun sebaiknya anda berdiskusi dengan pastor paroki. Jika berdasarkan cerita singkat itu saja, maka jawabannya anda tidak memiliki alasan untuk membatalkan perkawinan tersebut.

    May God bless your steps..

  68. Shallom Bapak dan Ibu yang ingin bercerai, saya mau memberi masukan sedikit mengenai perceraian. Mohon baca firman Yesus mengenai perceraian ,bahwa Musa meberikan surat cerai karena keteguhan hati yang ingin bercerai Bukan KEHENDAK ALLAH. Saya mengalami sendiri tapi secara ajaib Tuhan ubahkan semuanya. Suami saya adalah org padang taat yg pindah ke katoli tapi sekarang dia mempunyai iman sekeras batukarang sampai ditengah keluarganya pun tidak ragu membuat tanda salib. Tapi itu tidak mudah karena kita memanggul salib berat. Saya mau bagikan doa yg saya katakan kepada Tuhan sehingga dia mengabulkannya hanya dalam TIGA hari: Tuhan, saat ini saya sudah tidak tahan lagi. Tapi Engkau sendiri melarang perceraian seperti yang Engkau katakan dalam Injil. Aku tidak mau menyalahi FirmanMu. Tapi hanya Engkau sendiri yg berhak menceraikan kami, Engkau yg menciptakan aku dan Engkau juga yg menciptakan dia, maka terserah padaMu, apakah aku dulu yg Engkau Panggil atau dia. Tapi yang bisa merubah sifatnya HANYA ENGKAU karena Engkau yg menciptakan,bukan aku. Amin.
    Maka anda boleh percaya boleh tidak,suami saya dalam tiga hari berubah dan mengambil keputusan penting yg mengubah hidup kami sampai sekarang. Maka saya ikut berubah,menghormati perubahan yg Tuhan lakukan padanya. HALELUYA PUJI TUHAN….

  69. Mohon pencerahannya, saya lajang dari Paroki St. Fransiskus Xaverius Jak-Ut. Saya mempunyai tunangan seorang janda beranak 2. Nama pacar saya katakanlah “S”. S 2th yang lalu sudah bercerai dengan suaminya “D” secara pengadilan negeri. D menggugat cerai S karena D sudah kembali lagi ke agama Islam. Selama akhir-akhir masa pernikahan mereka, D sering ribut dengan S karena D sering memaksa S dan anak-anaknya untuk pindah ke agama Islam namun S menolaknya. D juga sudah tidak memperdulikan lagi istri dan anak-anaknya lagi bahkan setelah menggugat cerai istrinya lewat pengadilan sipil, D sudah tidak pernah memberikan nafkah ke istri dan anak-anaknya sampai saat ini. Bahkan saat ini D sudah menikah lagi dengan wanita muslim lain dan mempunyai anak. D dan S dulu di baptis di gereka katolik St. Paulus Depok, mereka berdua mengikuti tahapan penyelidikan kanonik dan kursus perkawinan di gereja katolik depok tersebut, namun melangsungkan penerimaan sakramen pernikahan di salah satu gereja katolik di Cirebon. Pertanyaan-pertanyaannya sbb:
    1. Apakah S bisa mengajukan anulasi mengingat S tidak bekerja dan S merasa berat jika menafkahi 2 orang anaknya apalagi anak bontotnya menderita disfungsi pendengaran (gangguan pendengaran)?
    2. Bagaimana mekanisme nya yang tepat untuk mengajukan anulasi agar pernikahan D dengan S dibatalkan mengingat S dengan Saya sudah bertunangan dan hendak melangsungkan pernikahan katolik.
    3. Dari kasus di atas, apakah itu wewenang dari keuskupan Bandung atau KAJ mengingat tempat berlangsungnya sakramen pernikahan di gereja katolik cirebon (Lingkup Keuskupan Bandung) namun tempat mereka di babtis, penyelidikan kanonik dan kursus pernikahan di Gereja Katolik St. Paulus Depok (Lingkup KAJ)?
    4. Apakah pengajuan anulasi tersebut bisa di ajukan di keuskupan lain karena selama 2 tahun ini, Om nya S sudah mengajukan anulasi kasus pernikahan D dengan S ini di Keuskupan Agung Semarang namun sampai sekarang belum ada kabarnya?

    Saya berharap gereja Katolik tidak Saklek terhadap S dan anak-anaknya. Jika diperhatikan S sangat menderita karena dia dan anak-anaknya menjadi korban dari pernikahannya dengan D, sedangkan S dan anak-anaknya butuh hidup.

    Mohon pencerahannya

  70. Sedikit tambahan yang tertinggal, si D sebelum masuk ke katolik (sebelum di babtis di gereja katolik St. Paulus Depok) ternyata pernah memiliki pacar yang sedang hamil anaknya (beragama islam) namum oleh D wanita tersebut ditinggalkannya dan D memilih masuk dan di babtis di Gereja Katolik St. Paulus Depok agar bisa menikah dengan S yang sudah 2 tahun sebelumnya di babtis di gereja tersebut juga.

  71. @Paul

    1. Apakah S bisa mengajukan anulasi mengingat S tidak bekerja dan S merasa berat jika menafkahi 2 orang anaknya apalagi anak bontotnya menderita disfungsi pendengaran (gangguan pendengaran)?

    JAWAB : Apakah menikahi S, satu-satunya jalan untuk menolongnya ?

    2. Bagaimana mekanisme nya yang tepat untuk mengajukan anulasi agar pernikahan D dengan S dibatalkan mengingat S dengan Saya sudah bertunangan dan hendak melangsungkan pernikahan katolik.

    JAWAB : dari cerita anda, maka sulit membatalkan perkawinan S. Saya katakan sulit, karena perkawinannya adalah Sakramen dan sudah sempurna oleh intercourse.

    3. Dari kasus di atas, apakah itu wewenang dari keuskupan Bandung atau KAJ mengingat tempat berlangsungnya sakramen pernikahan di gereja katolik cirebon (Lingkup Keuskupan Bandung) namun tempat mereka di babtis, penyelidikan kanonik dan kursus pernikahan di Gereja Katolik St. Paulus Depok (Lingkup KAJ)?

    JAWAB : lihat jawaban no.2, tetapi jika anda ingin cross check silahkan anda datang ke keuskupan di Bandung atau Jakarta.

    4. Apakah pengajuan anulasi tersebut bisa di ajukan di keuskupan lain karena selama 2 tahun ini, Om nya S sudah mengajukan anulasi kasus pernikahan D dengan S ini di Keuskupan Agung Semarang namun sampai sekarang belum ada kabarnya?

    JAWAB : Lihat jawaban no.2

    Saudara Paul, ada beberapa hal yang perlu anda ketahui

    1. baptisan itu mengikat selamanya, walaupun si D kembali ke agama Islam, tidak membatalkan baptisan yang ia terima. Jika D kelak menjadi Katolik, ia tidak dapat menikah di Gereja Katolik karena statusnya yang masih adalah seorang suami dari isteri yang sah.

    2. Walaupun pada masa lalunya si D berbuat dosa (MBA), tetapi perkawinannya di Gereja Katolik adalah sah, karena D tidak terikat perkawinan sah dengan wanita lain saat pengukuhan perkawinan di GEreja. Kecuali wanita yang hamil itu adalah isteri sah-nya, maka perkawinan dengan S bisa dibatalkan.

    Seorang Islam yang memiliki dua orang isteri, lalu orang Islam tersebut berkehendak menjadi seorang Katolik, maka ia harus menceraikan salah satu isterinya, dan tinggal hanya dengan seorang isteri. Walaupun demikian, atas dasar hukum kasih, ia dapat tetap membantu sang wanita yang ia ceraikan sebagai saudara dan mengangkat anak-anak dari wanita itu menjadi anak-anaknya selama ini dilihat tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

    Bahkan bila kedua isterinya tidak mau hidup damai dengan dirinya karena ia menjadi Katolik, maka Gereja dapat memisahkan perkawinan itu, dan si pria dapat menikah lagi dalam Gereja Katolik. Namun hal ini tidak berlaku untuk perkawinan seorang Katolik dengan seorang Non-Kristen, terlebih seorang Katolik dengan seorang Kristen seperti dalam kasus anda.

    Dari cerita anda sesungguhnya tidak ada alasan bagi Si S untuk dapat mengajukan pembatalan perkawinan.

    Saya sangat menyarankan anda bertemu pastor paroki untuk berkonsultasi tentang hal ini. Selama anulasi tidak diperoleh, atas dasar kasih, bantulah S sebagai saudara. Dalam persaudaraan ini, baik anda maupun si S, tetapi satu sama lain masing-masing menjaga iman Katolik yang anda berdua miliki dan memberi kesempatan kepada anak-anak S untuk meneladani ibu mereka yang mempertahankan imannya dalam derita, dan Allah telah memberinya seorang sahabat yang membantu ibu mereka. Lewat kesaksian iman inilah, anak-anak S memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan iman Katolik yang benar.

    May God bless your steps..

  72. menjalani pernikahan secara katolik memanglah idial karena tak terpisahkan atau terceraikan..hingga maut yang memisahkan, tetapi perlu diingat hidup tidaklah sempurna dan saya rasa begitu banyak pasangan katolik yang telah melakukan sakramen perkawinan dan gagal mengalami kebimbangan dan bahkan merasa ini salib (beban) yang harus dipikul….tetapi dia tidak memiliki lagi arti atau yang dinamakan terbelenggu dalam alam pikirnya…tidak banyak yang keluar dari hal ini secara sukses…banyak yang menjadi mandek gak tahu apa yang harus diperbuat, banyak yang nekad nikah diluar katolik atau pindah ke kristen dengan keyakinan sang penebus tetaplah Yesus…ada yang mengajukan anulasi yang mencoba untuk tetap memakai aturan gereja katolik tapi juga belum tahu ujungnya….
    Kehidupan didunia kalau tidak salah jadilah manusia seutuhnya…jadi sifat dan kodrat manusia untuk diakui disayangi dicintai mencintai (memiliki arti bagi pasangannya (manusia normal ya)) maka ini perlu penanganan yang serius karena hal ini menurut saya Gereja Katolik belumlah menampung secara serius, padahal ini penyebab terbesar umat katolik murtat
    jika pernah mengalami dan berada dalam situasi seperti ini maka akan sangat tahu bahwa sebetulnya mereka tidak mau mengalami ini…tapi apa yang harus mereka lakukan jika mereka diminta untuk membiara padahal sifat kemanusiaanya masih normal dan sama sekali tidak terlatih seperti Romo Burder Suster….inti cinta apa sih…cinta Tuhan…tidak lah cukup…cinta sesama manusia dengan mengaktualisasikan rasa cinta itu kepada pasangannya…jika gagal apakah mereka tidak boleh untuk jatuh dalam salibnya…dan mencoba bangkit dan menerima tantangan kembali menyatakan rasa cintanya…dan butuh keberanian untuk bangkit…jadi apakah tidak ada ruang untuk itu di Gereja katolik…saya berharap kaum rohaniawan yang menjadi wakil Yesus bisa memikirkan dan membimbing gembala2 dalam katagori “mengalami perceraian” (secara negara) terima kasih atas perhatiannya Tuhan Memberkati

  73. mohon pencerahannya. 2 minggu setelah nikah suami mendapat info kalau sy sdh pernah tunangan. Dan hal ini dijadikan masalah besar bagi suami sehingga 2 bulan setelah menikah suami memulangkan saya ke rumah ortu, sejak itu suami tidak pernah mengunjungi saya. apakah kasus ini bisa mengajukan anulasi?

  74. Mohon pencerahannya,saya sudah menikah selama 4 tahun lebih.mungkin memang saya yang menolak memiliki anak.kami menikah secara katolik.saya sendiri beragama protestan suami saya beragama katolik.kami tidak saling mengenal secara dekat sebelum kami menikah karena ayah saya ingin saya menikah dengan suami karena ia anak teman baiknya walaupun ayah tau saat itu saya sedang menjalin kasih degan pacar saya yang tidak direstuinya.sementara alasan suami menikah karena bosan dicereweti orang tuanya(menurut pengakuannya) tapi menurut pengakuan orang tuanya menikahkan kami karena ia sendiri yang minta di carikan jodoh.saya merasa sangat tersiksa sejak hari pemberkatan saya.kami tinggal di rumah ayah saya karena ayah saya hanya sendirian dan sakit-sakitan.minggu pertama pernikahan kami sudah sering cekcok.lalu tanpa pamit dia kabur ke rumah orang tuanya.besoknya dia pulang tapi seakan tidak pernah ada apa-apa kemarin.sebelum menikah saya sering membaca sms mesranya kepada lelaki.tapi ayah yakinkan bahwa dia normal.sekarang setelah 4 tahun menikah saya masih saja sering membaca surat2 mesranya untuk lelaki.entah apa saya mencoba positif thinking,sabar atau pura2 bodoh atau saya memang bodoh.tidak ada yang membela ataupun peduli pada saya.saya sudah lelah dengan ulahnya.sering saya coba diskusikan padanya tapi dia cuma marah.pernah dia melempar hp yang baru saya belikan setelah menabung berbulan-bulan hingga hancur.setelah ayah saya meninggal dan rumah pun dijual.kami mengontrak.berkali-kali kami harus pindah kontrakan karena dia selalu berkasus dengan pria-pria yang tidak jelas atau hal-hal lain yang menyangkut seksualitasnya.saya malu,hancur hati ini.beberapa kali saya diskusikan kepada orang tuanya,tapi selalu saja jawab mereka saya yang harus selalu mengalah dan bersabar menghadapi dia.karena menurut mereka di katolik itu sekali menikah maka hanya maut yang bisa pisahkan.tidak ada kata perceraian.malu sama tetangga dan saudara-saudara katanya.karena itu kemarin doa saya sudah seperti orang gila,saya berdoa agar Tuhan tidak membangunkan saya besok pagi,lebih baik saya mati saja daripada dipaksa terus bersamanya di dalam neraka ini.ketika saya diskusikan dengan teman yang lebih dewasa dia juga melarang saya bercerai karena cenderung negatifnya predikat janda.sebenarnya pastor yang membimbing kami sebelum menikah pernah memberikan sinyal yang sayangnya baru saya mengerti sekarang.saya harus bagaimana lagi? sudah terlanjur menikah.tapi saya sudah tidak sanggup lagi bertahan.bila membaca pertanyaan2 anulitas di posting sebelumnya.saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan2 anulitas.saya takut melukai perasaan mertua.lagi pula saya tidak punya saksi.saya harus bagaimana?

  75. Yth. Bpk Johan..

    Saya mempunyai kakak laki laki yang saat ini berstatus duda tanpa anak sejak th 2007.. dia dulu menikah secara katolik dengan orang katolik jg tetapi sudah cerai resmi menurut catatan sipil 2009,,dan sudah mengajukan pembatalan pernikahan dan sampai sekarang belum ada kejelasan surat pembatalan dari gereja semarang.. saat ini kakak saya kerja d luar negeri tapi berasal dari surabaya.. saat ini kakak saya ingin menikah lagi dengan secara katolik lagi tetapi masih menunggu surat pembatalan,,yang saya saya tanyakan sampai berapa lama lagi surat itu keluar??
    terima kasih…

  76. Shalom Pak Johan ….
    saya saat ini sdg merencanakan pernikahan dengan calon suami saya yg seorang Duda cerai hidup ( katolik ), yg mana mantan istrinya (katolik juga ) sdh menikah lagi dan sy sendiri seorg kristen yg belum pernah menikah …yg sy tanyakan bgmn sy bs menikah scra katolik ( krn org tua nya menghendaki demikian ), sy dan calon suami sy sdh mencoba ke-3 greja Katolik dan mereka rata2 memberikan jwb an (scra halus) bhw tidak bs menikah scra Katolik kembali , di grja sy pun yg Kristen tdk bisa ….atas jawaban dr bapak sy ucapkan tksh ….God Bless

  77. @Bunga.. jika hal itu sangat menganggu anda, cobalah mencari pastor paroki dan meminta nasihatnya, jika perlu meminta ijin untuk meninggalkan suami anda sementara waktu untuk menenangkan diri anda.

    Anda membutuhkan seorang perantara agar keluarga anda dan keluarganya menanggapi serius masalah ini. Mungkin saja, pastor paroki bisa membantu anda, atau seseorang dari keluarga yang merupakan panutan. Anda perlu mencari aliansi, bantuan.
    Jika suami anda tidak mau mendengarkan anda, maka keluarganya atau seseorang yang ia hormati dan segani, perlu membantu anda berbicara dengannya, atau setidaknya menjadi jembatan komunikasi yang tampaknya sudah terputus antara anda dan suami anda.

    Ada beberapa pertanyaan di benak saya yang mungkin bisa anda jawab :

    1. apakah anda mengetahui pekerjaan suami anda ?
    2. apakah anda mengetahui teman-teman kerja suami anda ? atau bertemu dengan mereka ? mungkin dalam suatu acara kantor
    3. apakah anda tahu aktivitas suami anda yang lain ? apakah anda pernah terlibat di dalamnya ?
    4. apakah anda mengenal teman-teman dekatnya ?

    Mengenal suami anda dan aktivitasnya, bahkan mungkin terlibat di dalamnya, sebenarnya adalah satu cara untuk terlibat di dalam hidup suami anda seutuhnya. Jika seorang isteri tidak mengetahui hal ini, bisa jadi ini merupakan potensi masalah dikemudian hari. Entah suami yang tidak ingin isteri tahu, atau isteri yang tidak peduli, entah karena sangat percaya atau memang tidak mau tahu, atau terlalu sibuk untuk cari tahu. Pada intinya dalam perkawinan, harus ada keterbukaan positif yang didasarkan oleh rasa saling percaya.

    pertanyaan lain adalah :

    1. apakah anda pernah ditolak berhubungan intim oleh suami anda ? jika ya, seringkah itu terjadi ?

    2. apakah anda dan suami anda pernah berbicara mengenai memperoleh keturunan ? jika ya, apakah pendapatnya ?

    Ingatlah dalam iman KAtolik, menghalangi memperoleh keturunan adalah menentang rencana Allah. Jadi bagaimana pun hal ini harus didiskusikan dengan suami anda. Jika suami anda menolak memiliki keturunan, maka perkawinan ini tidak sesuai dengan dasar perkawinan Katolik. Tetapi jika anda yang berniat demikian, maka sebaiknya anda harus menanyakan keseriusannya menjadi seorang ayah bagi anak kalian. Buatlah kesepakatan-kesepakatan, karena bagaimana pun ini adalah kehendak Allah.

    Jika suami anda tidak mau membicarakannya, maka cobalah diskusikan dengan pastor paroki tentang situasi yang anda hadapi dan mintalah pendapatnya.

    HAl lain adalah berdoa tanpa henti.. dekatkan diri anda dengan Allah.

    Mintalah Bantuan Maria dan para kudus di Surga untuk mendoakan anda.

    Ada doa yang saya sarankan kepada anda yaitu Doa kepada Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah. Coba lihat di http://yesaya.indocell.net/id543.htm

    Berdoalah seakan tiada hari esok.. berdoalah untuk anda dan suami anda.. Percayalah kepada janji Allah yang akan meringankan beban umat yang Ia kasihi yang datang kepada-Nya.

    May God bless your steps

  78. Dear Romo,
    Saya lajang 24 tahun dan mempunyai pacar seorang duda kristen (cerai hidup). Saya berencana menikah secara katholik. Apakah saya dan dia bisa menikah di gereja katholik?Mohojn penjelasannya. Terima Kasih

  79. Salam damai Kristus

    Saya wanita 32 tahun dan suami usia 30 tahun. Kami sama2 katolik dan menikah secara katolik di Medan. Dalam pernikahan kami selama 3 tahun kami belum dikaruniai keturunan dan selama menjalani pernikahan (dimulai sejak 3 bln setelah menikah sampai sekarang) kalo penyakitnya kambuh suami sangat sering mengatakan ingin cerai atau menyuruh saya menceraikannya secara sipil, tapi saya masih coba bersabar dan bertahan hidup bersamanya dan saya sadari mungkin krn watak kami yg sama2 keras krn kami sama2 seprofesi sebagai Hakim dan tinggal di daerah yg berbeda. Namun dibalik semua itu, sebelum pernikahan kami ternyata suami mengidap sakit jiwa (Shizoprenia) sejak tahun 2006 suami sdh harus minum obat dr dokter ahli jiwa selama seumur hidupnya dan apabila suami lupa minum obat atau sering berkhayal sering berhalusinasi (ada bisikan) kata2 kotor dan saya sering melihat suami bertapa ditempat tidur sambil mulutnya komat kamit (seperti org yg kerasukan/menyembah iblis) saya mengetahui hal tersebut setelah adanya pernikahan (krn kami menikah tanpa proses pacaran, baru kenal sdh ingin menikah). Dalam hal ini saya merasa tertipu namun Saya berusaha berobat dari dokter yg satu ke dokter lainnya dan semuanya menyatakan saya sehat sedangkan suami tidak bersedia untuk diperiksa, sampai pada akhirnya di akhir tahun 2013 saya mengajak suami untuk meraih mimpi punya keturunan dengan cara untuk pergi ke Penang ikut program bayi tabung dan ternyata setelah suami diperiksa, dokter disana menyatakan suami impotensi (azoosperma), krn suami tidak bisa secara alami mengeluarkan sperma dan hrs dilakukan operasi kecil untuk mengeluarkan spermanya langsung dr buah zakarnya. namun dalam menjalani program tsb lebih lanjut suami menghentikan semuanya krn tidak bersedia utk melakukan pemeriksaan lanjutan, dengan alas an yg sangat klise dan sering marah2 dan juga mertua saya sering sekali mencampuri urusan RT kami (ibu mertua sudah angkat bicara memaki saya via sms) dan suami pun sering ucapkan kata cerai, dengan tegas saya menolak jika harus bercerai namun terserah suami bila ingin bercerai secara sipil karena saya tidak ingin meninggalkan Iman Katolik saya. Saya sungguh merasa tertipu dengan kondisi ini.
    yang saya ingin tanyakan, Walaupun saya belum bercerai secara sipil. apakah ada kemungkinan bagi saya supaya pengajuan anulasi yang rencananya akan saya ajukan dapat dikabulkan. Saya tidak ingin meninggalkan iman katolik saya dan tidak ingin menikah lagi, saya pikir biarlah saya hidup melajang dengan status sebagai janda namun saya merasa sangat bingung, seperti menjalani hidup tanpa tujuan dan saya hanya ingin hidup tenang dan nyaman.
    Bantu saya dalam doa dan mohon pencerahan. Tuhan Memberkati.

  80. Dear Pak Johan

    Saya baru menikah kurang lebih 1,5 bulan. Tetapi dari malam pertama sampai sekarang suami saya belum memberikan nafkah lahir batin. Untuk nafkah lahir saya tidak terlalu mempermasalahkan karena saya juga bekerja. Tetapi untuk nafkah batin yang hingga saat ini belum diberikan, sangat mengganjal di hati saya.
    Kami sudah 3x mencoba. Tetapi tidak berhasil. Suami saya tidak bisa dan dia tidak merespons sentuhan fisik dari saya. Ia pun tidak menyentuh saya dan setiap malam sikapnya pun seperti dingin kepada saya.
    Saya sudah berkonsultasi dengan seorang dokter. Menurut analisa dokter, kemungkinan besar suami saya homo.
    Apakah pernikahan saya bisa dibatalkan / anulasi?
    Jika bisa, langkah apa yang harus saya lakukan dan dokumen apa yg harus saya siapkan?
    Makasih

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>