<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Paroki Yesuit</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 21:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Christina L</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-869</link>
		<dc:creator>Christina L</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 01:58:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-869</guid>
		<description>Sepanjang usia saya sampai dengan hari ini saya selalu tinggal dalam Paroki Yesuit. Sejauh saya tangkap apa yang ditulis Romo diatas itu yang saya alami, banyak sekali kemajuan yang ada diparoki kita mulai dari pembangunan gereja dan perluasannya, sarana kesehatan dan pelayanan Ekonomi untuk orang-orang kecil yang dibantu lewat SPSE bukan hanya mereka yang katolik yang kita bantu tapi mereka saudara-saudara kita yang tidak seimanpun telah diberi pelayanan. Portal paroki yang digunakan menanggapi kemajuan teknologi dan sarana bagi umat dan wadah bagi kaum muda untuk saling menyapa, melihat, dan belajar hidup menggereja, dan masih banyak kalo kita melihat dari sudut pandang dan kaca mata yang kita mau pakai. 

Disekitar paroki kita banyak sekali orang-orang kecil yang untuk makan sehari saja sudah sulit dan sekedar untuk bertahan hiduppun sangat-sangat sulit. Contoh yang bisa kita lihat dari perbedaan yang mencolok perumahan Duren sawit baru, dekat dengan susteran MC bagus-bagus tapi coba kita jalan sedikit kebelakang maka kita akan bertemu dengan orang-orang yang kurang mapan secara ekonomi, mereka ini untuk setahun terakhir ini mendapat pelayanan peningkatan gizi, ada sekitar 100 org lebih. Anak-anak mulai umur 2 thn s.d. usia 13 thn. Dapur BU MITA, ini melayani anak-anak tersebut setiap hari senin s.d jumat jam 17.00. dana yang digunakan adalah dari para donatur yang peduli terhadap nasib mereka dan menjembatani kesenjangan, komunikasi, menyapa secara pribadi dalam pelayanan ini. 

Masih banyak anak-anak atau keluarga-keluarga yang perlu mendapat sapaan secara pribadi tidak perlu jauh-jauh lihat disekitar rumah kita, apa yang kita bisa lakukan sebagai perpanjangan tangan gereja. Jangan selalu menunjuk orang untuk berbuat ini dan itu tapi kita hanya menjadi penonton yang duduk manis dan hanya mau menjadi hakim. 

Gereja ini dimana didalamnya digembalakan oleh Imam-iman Yesuit yang punya pelayanan seperti yang tertulis ini arah baik. Apakah kita sebagai umat ikut peduli membangun gereja bukan hanya dari bangunana yang megah tapi membangun gereja yang indah disetiap hati orang-orang yang kita jumpai agar mereka menjumpai wajah Yesus dalam diri kita. 

Mari kita bangun gereja bersama sebagai satu komunitas di Paroki Duren sawit Gereja St Anna yang tercinta agar semakin hari wajah gereja kita semakin pancaran warna-warni indah.

Salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepanjang usia saya sampai dengan hari ini saya selalu tinggal dalam Paroki Yesuit. Sejauh saya tangkap apa yang ditulis Romo diatas itu yang saya alami, banyak sekali kemajuan yang ada diparoki kita mulai dari pembangunan gereja dan perluasannya, sarana kesehatan dan pelayanan Ekonomi untuk orang-orang kecil yang dibantu lewat SPSE bukan hanya mereka yang katolik yang kita bantu tapi mereka saudara-saudara kita yang tidak seimanpun telah diberi pelayanan. Portal paroki yang digunakan menanggapi kemajuan teknologi dan sarana bagi umat dan wadah bagi kaum muda untuk saling menyapa, melihat, dan belajar hidup menggereja, dan masih banyak kalo kita melihat dari sudut pandang dan kaca mata yang kita mau pakai. </p>
<p>Disekitar paroki kita banyak sekali orang-orang kecil yang untuk makan sehari saja sudah sulit dan sekedar untuk bertahan hiduppun sangat-sangat sulit. Contoh yang bisa kita lihat dari perbedaan yang mencolok perumahan Duren sawit baru, dekat dengan susteran MC bagus-bagus tapi coba kita jalan sedikit kebelakang maka kita akan bertemu dengan orang-orang yang kurang mapan secara ekonomi, mereka ini untuk setahun terakhir ini mendapat pelayanan peningkatan gizi, ada sekitar 100 org lebih. Anak-anak mulai umur 2 thn s.d. usia 13 thn. Dapur BU MITA, ini melayani anak-anak tersebut setiap hari senin s.d jumat jam 17.00. dana yang digunakan adalah dari para donatur yang peduli terhadap nasib mereka dan menjembatani kesenjangan, komunikasi, menyapa secara pribadi dalam pelayanan ini. </p>
<p>Masih banyak anak-anak atau keluarga-keluarga yang perlu mendapat sapaan secara pribadi tidak perlu jauh-jauh lihat disekitar rumah kita, apa yang kita bisa lakukan sebagai perpanjangan tangan gereja. Jangan selalu menunjuk orang untuk berbuat ini dan itu tapi kita hanya menjadi penonton yang duduk manis dan hanya mau menjadi hakim. </p>
<p>Gereja ini dimana didalamnya digembalakan oleh Imam-iman Yesuit yang punya pelayanan seperti yang tertulis ini arah baik. Apakah kita sebagai umat ikut peduli membangun gereja bukan hanya dari bangunana yang megah tapi membangun gereja yang indah disetiap hati orang-orang yang kita jumpai agar mereka menjumpai wajah Yesus dalam diri kita. </p>
<p>Mari kita bangun gereja bersama sebagai satu komunitas di Paroki Duren sawit Gereja St Anna yang tercinta agar semakin hari wajah gereja kita semakin pancaran warna-warni indah.</p>
<p>Salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hilarius s. taryanto</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-860</link>
		<dc:creator>hilarius s. taryanto</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 17:09:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-860</guid>
		<description>Ya benar. Saya juga setuju pendapat ibu Ibnurini. Agaknya datanya belum ada/belum akurat. Memang setiap Paskah/Natal ada sejumlah warga yang mendapat &quot;bantuan&quot;, tapi itu kriterianya masih belum jelas, masih berwarna kkn. Sementara pengeetian &quot;terpinggirkan&quot; kan tidak hanya berarti fisik/material belaka; termasuk kerapuhan iman dsb. Tambahan dari saya atas komentar terdahulu, mungkin di antara kita yang mengaku palayan, model pelayananannnya, selain kaku, cenderung menunggu dan sok hierarkis / birokratis dan kurangnya koordinasi dengan pihak terkait, misalnya dengan RS St.Carolus. Akibatnya pelayanannya tampak terpaksa, tidak tulus (ini berdasarkan pengalaman salah sorang anggota lingkungan Sanjaya yang sakit dan memerlukan rawat-inap/operasi). Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya benar. Saya juga setuju pendapat ibu Ibnurini. Agaknya datanya belum ada/belum akurat. Memang setiap Paskah/Natal ada sejumlah warga yang mendapat &#8220;bantuan&#8221;, tapi itu kriterianya masih belum jelas, masih berwarna kkn. Sementara pengeetian &#8220;terpinggirkan&#8221; kan tidak hanya berarti fisik/material belaka; termasuk kerapuhan iman dsb. Tambahan dari saya atas komentar terdahulu, mungkin di antara kita yang mengaku palayan, model pelayananannnya, selain kaku, cenderung menunggu dan sok hierarkis / birokratis dan kurangnya koordinasi dengan pihak terkait, misalnya dengan RS St.Carolus. Akibatnya pelayanannya tampak terpaksa, tidak tulus (ini berdasarkan pengalaman salah sorang anggota lingkungan Sanjaya yang sakit dan memerlukan rawat-inap/operasi). Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-854</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 05:41:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-854</guid>
		<description>Mo,
kalo emang mau jadi paroki yang memperhatikan mereka yang terpinggirkan, apa pernah ada upaya untuk mencari siapa aja sih yang terpinggirkan di paroki ini?  Misal, di Tarcisius ada gak? data seperti itu penting tuh mo.

(kalo aku sih pasti ditengah mo, soale tumpeng.... huehehehe...)

salam, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mo,<br />
kalo emang mau jadi paroki yang memperhatikan mereka yang terpinggirkan, apa pernah ada upaya untuk mencari siapa aja sih yang terpinggirkan di paroki ini?  Misal, di Tarcisius ada gak? data seperti itu penting tuh mo.</p>
<p>(kalo aku sih pasti ditengah mo, soale tumpeng&#8230;. huehehehe&#8230;)</p>
<p>salam, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hilarius S. Taryanto</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-832</link>
		<dc:creator>Hilarius S. Taryanto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 14:44:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-832</guid>
		<description>Sepenuhnya saya setuju dengan apa yang telah disampaikan oleh ibu Agatha Hadiseputro terdahulu. Idealnya memang arah penggembalaan umat di setiap paroki seperti itu, berpihak pada yang lemah dan terpinggirkan.Masalah klasik yang tak pernah tersudahi adalah kurangnya atau lemahnya komunikasi dan koordinasi di antara segenap anggota Dewan Paroki Pleno, dari Ketua DP hingga Ketua Lingkungan.Artinya ide penggembalaan umat seperti tercanang di atas, tidak atau belum diiyai bersama sebagai pedoman pelayanan. Model pelayanannya cenderung masih: penuh perhitungan; suka/tak suka; nanti dulu; menghakimi; pakai ukurannya sendiri; kkn; saling lempar (ini bukan urusan seksiku) atau menunggu pucuk pimpinan; tidak trengginas/cekatan; lambat merespon; nggak mau repot; takut berresiko; yang paling fatal kalau tak peduli. Yang terakhir domba yang hilang, yang terpinggir, justru makin dipojokkan, dihakimi. &quot;Dia kan nggak pernah ikut sembahyangan, dia nggak ikut ini-itu; biar tahu rasa dia&quot;.Maksud saya ada satu kendala untuk mewujudkan model penggembalaan &quot;Paroki Yesuit&quot; tadi yakni spiritualitas pelayanan; teristimewa pengurus Lingkungan yang adalah sebagai ujung tombak reksa pastoral umat Paroki.Perlu retret untuk para Ketua Lingkungankah ? Atau model pembinaan yang lain. Terima kasih.Selamat melayani untuk kita semua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepenuhnya saya setuju dengan apa yang telah disampaikan oleh ibu Agatha Hadiseputro terdahulu. Idealnya memang arah penggembalaan umat di setiap paroki seperti itu, berpihak pada yang lemah dan terpinggirkan.Masalah klasik yang tak pernah tersudahi adalah kurangnya atau lemahnya komunikasi dan koordinasi di antara segenap anggota Dewan Paroki Pleno, dari Ketua DP hingga Ketua Lingkungan.Artinya ide penggembalaan umat seperti tercanang di atas, tidak atau belum diiyai bersama sebagai pedoman pelayanan. Model pelayanannya cenderung masih: penuh perhitungan; suka/tak suka; nanti dulu; menghakimi; pakai ukurannya sendiri; kkn; saling lempar (ini bukan urusan seksiku) atau menunggu pucuk pimpinan; tidak trengginas/cekatan; lambat merespon; nggak mau repot; takut berresiko; yang paling fatal kalau tak peduli. Yang terakhir domba yang hilang, yang terpinggir, justru makin dipojokkan, dihakimi. &#8220;Dia kan nggak pernah ikut sembahyangan, dia nggak ikut ini-itu; biar tahu rasa dia&#8221;.Maksud saya ada satu kendala untuk mewujudkan model penggembalaan &#8220;Paroki Yesuit&#8221; tadi yakni spiritualitas pelayanan; teristimewa pengurus Lingkungan yang adalah sebagai ujung tombak reksa pastoral umat Paroki.Perlu retret untuk para Ketua Lingkungankah ? Atau model pembinaan yang lain. Terima kasih.Selamat melayani untuk kita semua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agatha Hadiseputro</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-826</link>
		<dc:creator>Agatha Hadiseputro</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 17:23:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-826</guid>
		<description>Secara geografis saya tinggal di Paroki Duren Sawit Gereja Santa Anna sejak Gereja ini didirikan.  Saya tidak pernah merasa saya tinggal di Paroki Yesuit, yang saya tahu para Romonya memang kebetulan berasal dari Tarekat Yesuit, hanya pernah ada Romo Pr. (Romo Tarigan). Sejauh yang dapat saya ingat,sampai saat ini belum pernah ada Romo yang mengklaim Paroki Santa Anna sebagai suatu Paroki Yesuit.

Sebenarnya saya bertanya-tanya mengapa Romo mengetengahkan topik APA PENDAPAT ANDA TENTANG PAROKI YESUIT? Sewaktu saya mempelajari deskripsi yang diuraikan oleh Romo mengenai PAROKI YESUIT,saya merasa itu bukan hanya monopoli dari Tarekat Jesuit,melainkan paroki-paroki yang Pastornya berasal dari Tarekat lain pun melakukan hal yang sama.

Sejujurnya,meskipun visi dan misi yang dikemukakan cukup baik, istilah yang dipakai terkesan cenderung eksklusif dan primordial. Saya percaya bahwa setiap umat Katolik dimanapun dia tinggal, baik dengan gereja yang Pastornya berlabel Jesuit, MSF, MSE  atau yang lainnya, seharusnya dapat memperoleh penggembalaan yang memadai tanpa mengkotak-kotakkan dari Tarekat apa gembalanya. Kita tentunya mengharapkan pertumbuhan iman Katolik umat yang benar-benar merata,tidak masalah siapa pun gembalanya atau dari Paroki manapun asalnya.

Harapan saya, dengan panduan yang demikian bagus, gereja kita betul-betul menjadi &quot;pusat dimana Sabda Allah diwartakan dan memberikan inspirasi untuk pencarian yang mendalam; menjadi pusat dimana terdapat keterbukaan terhadap permasalahan-permasalahan lokal yang menyangkut bidang sosial, ekonomi dan budaya&quot;. 

Diharapkan pula bahwa khotbah para pastor selalu berbasis pada Alkitab (pengajaran Gereja yang benar) sehingga iman dan pengenalan umat akan Tuhan Yesus Kristus senantiasa bertumbuh. 



Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Secara geografis saya tinggal di Paroki Duren Sawit Gereja Santa Anna sejak Gereja ini didirikan.  Saya tidak pernah merasa saya tinggal di Paroki Yesuit, yang saya tahu para Romonya memang kebetulan berasal dari Tarekat Yesuit, hanya pernah ada Romo Pr. (Romo Tarigan). Sejauh yang dapat saya ingat,sampai saat ini belum pernah ada Romo yang mengklaim Paroki Santa Anna sebagai suatu Paroki Yesuit.</p>
<p>Sebenarnya saya bertanya-tanya mengapa Romo mengetengahkan topik APA PENDAPAT ANDA TENTANG PAROKI YESUIT? Sewaktu saya mempelajari deskripsi yang diuraikan oleh Romo mengenai PAROKI YESUIT,saya merasa itu bukan hanya monopoli dari Tarekat Jesuit,melainkan paroki-paroki yang Pastornya berasal dari Tarekat lain pun melakukan hal yang sama.</p>
<p>Sejujurnya,meskipun visi dan misi yang dikemukakan cukup baik, istilah yang dipakai terkesan cenderung eksklusif dan primordial. Saya percaya bahwa setiap umat Katolik dimanapun dia tinggal, baik dengan gereja yang Pastornya berlabel Jesuit, MSF, MSE  atau yang lainnya, seharusnya dapat memperoleh penggembalaan yang memadai tanpa mengkotak-kotakkan dari Tarekat apa gembalanya. Kita tentunya mengharapkan pertumbuhan iman Katolik umat yang benar-benar merata,tidak masalah siapa pun gembalanya atau dari Paroki manapun asalnya.</p>
<p>Harapan saya, dengan panduan yang demikian bagus, gereja kita betul-betul menjadi &#8220;pusat dimana Sabda Allah diwartakan dan memberikan inspirasi untuk pencarian yang mendalam; menjadi pusat dimana terdapat keterbukaan terhadap permasalahan-permasalahan lokal yang menyangkut bidang sosial, ekonomi dan budaya&#8221;. </p>
<p>Diharapkan pula bahwa khotbah para pastor selalu berbasis pada Alkitab (pengajaran Gereja yang benar) sehingga iman dan pengenalan umat akan Tuhan Yesus Kristus senantiasa bertumbuh. </p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mary</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-823</link>
		<dc:creator>mary</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 02:05:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-823</guid>
		<description>Menurut saya Rm, misi dari Paroki Jesuit sangat baik , dengan demikian lebih bisa mewartakan Kristus dengan perubahan/adaptasi pada keadaan dunia yang penuh dengan dinamika kehidupan ini, bisa lebih menyentuh sendi=sendi kehidupan yang sesungguhnya. meskipun banyak cara yang bisa dipilih oleh masing-masing tarekat dalam mewartakan injil, namun akan lebih bermakna, mempunyai warna dan memberi sapaan rohani kepada siapa saja dengan bersentuhan langsung pada seluruh lapisan masyarakat..
salam,
mary</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya Rm, misi dari Paroki Jesuit sangat baik , dengan demikian lebih bisa mewartakan Kristus dengan perubahan/adaptasi pada keadaan dunia yang penuh dengan dinamika kehidupan ini, bisa lebih menyentuh sendi=sendi kehidupan yang sesungguhnya. meskipun banyak cara yang bisa dipilih oleh masing-masing tarekat dalam mewartakan injil, namun akan lebih bermakna, mempunyai warna dan memberi sapaan rohani kepada siapa saja dengan bersentuhan langsung pada seluruh lapisan masyarakat..<br />
salam,<br />
mary</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: angela asriarti</title>
		<link>http://gerejastanna.org/paroki-yesuit/comment-page-1/#comment-819</link>
		<dc:creator>angela asriarti</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 14:39:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=401#comment-819</guid>
		<description>&#039;... semua yang menjauhkan diri dari Gereja&#039;. Saya paling concern dgn yang itu. Masalahnya Mo, umat jaman sekarang, masih banyak yg cenderung lebih mudah menghakimi. Beberapa waktu lalu, saya dan teman2 terlibat diskusi (yang lagi2 sersan) mengenai suatu kasus yang sudah umum terjadi (???).
Seorang perempuan yang merasa dikucilkan oleh Gereja. pertanyaan yang timbul dalam hati saya adalah bukan apa yang dilakukan oleh perempuan itu sehingga dikucilkan namun MENGAPA manusia begitu mudah menghakimi.
Kalau toh benar bahwa perempuan itu salah, apakah tidak ada jalan lain selain mengucilkan?
Saya prihatin karena ternyata sebagian besar teman saya itu setuju bahwa perempuan itu pantas dikucilkan.
Alasannya karena perempuan itu BERCERAI.

hmm...

Jadi, saya menilai bahwa paroki dan Gereja memang sudah seharusnya dan lebih berani untuk berpihak pada yang terpinggirkan.
TETAP SEMANGAT!


salam hangat,
angela asriarti.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8216;&#8230; semua yang menjauhkan diri dari Gereja&#8217;. Saya paling concern dgn yang itu. Masalahnya Mo, umat jaman sekarang, masih banyak yg cenderung lebih mudah menghakimi. Beberapa waktu lalu, saya dan teman2 terlibat diskusi (yang lagi2 sersan) mengenai suatu kasus yang sudah umum terjadi (???).<br />
Seorang perempuan yang merasa dikucilkan oleh Gereja. pertanyaan yang timbul dalam hati saya adalah bukan apa yang dilakukan oleh perempuan itu sehingga dikucilkan namun MENGAPA manusia begitu mudah menghakimi.<br />
Kalau toh benar bahwa perempuan itu salah, apakah tidak ada jalan lain selain mengucilkan?<br />
Saya prihatin karena ternyata sebagian besar teman saya itu setuju bahwa perempuan itu pantas dikucilkan.<br />
Alasannya karena perempuan itu BERCERAI.</p>
<p>hmm&#8230;</p>
<p>Jadi, saya menilai bahwa paroki dan Gereja memang sudah seharusnya dan lebih berani untuk berpihak pada yang terpinggirkan.<br />
TETAP SEMANGAT!</p>
<p>salam hangat,<br />
angela asriarti.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
