Panggilan Sebagai Biarawan/Biarawati: Dukungan Orang Tua

Oleh Stephanus K. Roeslan

Pagi itu cerah sekali, saat Romo Sudrijanto menyapa umat dalam kotbah Misa Ekaristi Kudus dengan “Selamat Pagi”. Umat pun membalas dengan antusias. Terkait dengan Minggu Panggilan, hari itu Romo bercerita tentang seorang murid SMA Kanisius yang ketika ditanya apakah dia mau jadi Pastor. Jawabannya tidak mau. Namun ketika ditanya mau jadi apa, jawabannya sungguh mencengangkan. Dia mau jadi “orang suci”.

Rupanya persepsi anak tersebut tentang Pastor dan tentang Orang Suci, sangat berbeda. Dalam persepsinya seorang Pastor tidak secara otomatis menjadi orang suci. Dan untuk menjadi orang suci, tidak harus melalui jalur Pastor. Barangkali ada jalur yang lain menurutnya lebih bisa mewadahi keinginannya. Apapun yang menjadi pilihannya, anak ini boleh jadi mewakili sebagian dari anak muda sekarang.

Meskipun mungkin hanya segelintir yang memiliki persepsi serupa dengan anak tersebut, namun harus diakui bahwa fenomena ini ada, dan perlu diamati, dicermati dan dilihat sebagai sesuatu yang penting bagi perkembangan iman umat Katolik khususnya perkembangan panggilan menjadi Imam atau Biarawan/Biarawati di gereja Katolik.

Bisa Diprogram
Dalam teori Kekuatan Pikiran (Brain Power), dinyatakan bahwa peranan pikiran bawah sadar (subconscious mind) cukup signifikan bagi perkembangan seseorang. Seseorang yang sejak kecil diperlakukan dengan kasar akan menjadi pribadi yang kasar perilakunya. Seseorang yang sejak kecil ditekan dan dipojokkan, akan menjadi pribadi yang tidak percaya diri, ketakutan dan rendah diri.

Sebaliknya, ketika seorang anak diperlakukan dengan penuh cinta kasih, penuh perhatian, dipenuhi kebutuhan spiritualnya, serta kebutuhannya akan perhatian orang tua, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, yang penuh empati, yang penuh kasih, mandiri dan percaya diri. Semuanya bermula dari pikiran bawah sadarnya. Kita semua tahu, bahwa tindakan seseorang dipengaruhi oleh 12% pikiran sadar dan 88% pikiran bawah sadar. Karena itu, ketika pikiran bawah sadarnya terisi oleh hal-hal yang negative, maka tindakannya pun cenderung negative. Demikian sebaliknya. Hal ini kita sebut sebagai GIGO – Garbage In Garbage Out. Tugas orangtualah yang harus mengubah bahan yang masuk menjadi hanya Gold saja, supaya keluarnya nanti juga Gold (Gold In Gold Out).

Ketika seorang anak dibisiki terus menerus pada waktu tertentu, agar dia nanti menjadi seorang Pastor, maka pikiran bawah sadarnya menjadi penuh oleh pernyataan bahwa ‘aku harus menjadi seorang Pastor’. Pada waktu tertentu yang dimaksud dalam kalimat di atas adalah ketika pikiran anak tersebut berada pada gelombang alpha, yaitu pada frekuensi 3,5 sampai 14 Herz. Frekuensi bawah sadar. Frekuensi pikiran akan mencapai serendah ini, pada saat yang bersangkutan menjelang tidur – sebelum terlelap – sampai tertidur pulas. Pada saat itulah kita bisa memrogram pikiran bawah sadar anak kita agar menjadi seseorang yang kita kehendaki. Pastor misalnya.

Dukungan Orang Tua
Untuk memrogram seorang anak sehingga kelak menjadi Pastor sudah dijelaskan di atas, masalahnya adalah apakah orang tua rela, kalau kelak anaknya menjadi Pastor atau biarawan biarawati? Dari survey yang dilakukan Seksi Penelitian pada tahun 2007 di Paroki Santa Anna Duren Sawit ini, ternyata ada 65,53% responden yang menyatakan “Tidak Keberatan” kalau anak mereka suatu saat menjadi biarawan/biarawati. Hanya 5,93% menyatakan secara tegas “Keberatan”. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya umat, khususnya orangtua ingin memersembahkan atau sedikitnya mendukung bila putra-putrinya berniat menjadi biarawan/wati kelak. Hal yang sangat positif bagi Gereja. Dan ketika kuesioner dalam survey yang sama dibalik menjadi pernyataan negasi, hasilnya tetap positif, yaitu 50,05% tidak sependapat dan hanya 15,15% yang sependapat dengan pernyataan bahwa “anak yang ingin menjadi biarawan/biarawati biasanya dilarang oleh orang tuanya”.

Dengan fenomena di atas sebenarnya seksi panggilan di Dewan Paroki bisa lebih mudah bekerja, karena tidak terhambat oleh orangtua, bahkan banyak orangtua akan mendukung bila putra-putrinya berniat menjadi Pastor, Bruder atau Suster. Benarkah demikian Bapak Ibu? Salam bahagia. SKR

11 Responses to “Panggilan Sebagai Biarawan/Biarawati: Dukungan Orang Tua”

  1. Benar,Pak ..saya juga tidak keberatan kalau salah satu dari anak saya berniat menjadi Pastor.
    Apapun profesi yang mereka pilih,yang penting mereka berbahagia dengan pilihannya.

    Salam,
    Lusi

  2. Ibu Lusiana ytk dalam Kristus,
    Selamat bu, karena ibu telah membuat keputusan yang sangat baik, bagi Gereja maupun bagi keluarga dan diri putra-putri ibu sendiri.
    Kalau seorang anak jadi Pastor, dia akan menjadi milik gereja, bukan lagi milik keluarga. Tapi yang jelas, semua umat katolik adalah saudaranya, semua akan dengan lapang dada menerima dia, secara lebih baik, dibanding kalau dia jadi pejabat pemerintahan. Menurut saya begitu.
    Salam bahagia.
    skr

  3. tapi saya pernah bertemu dengan seorang anak,dari story’nya dia memang Tuhan yang memilihnya tapi dukungan pendidikan formalnya tidak mendukung bagaimana caranya agar anak tesebut bisa menjadi seorang pastor.
    betapa kasihan sekali anak itu dia hanya lulusan sd tapi ketika ditanya dia faseh sekali mengutip kalimat2 injil. saya kira bukan dia yang bicara tapi roh Tuhan yang bicara,
    mohon sarannya.GBU

    SALAM,
    fx haryono

  4. Pada Hari Raya Keluarga Kudus 2009, Romo Mgr. Pujasumarta di Katedral Bandung mencanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Keluarga Sebagai Akar Panggilan. Tentu saat itu beliau belum menyebutkan program apa saja yang akan dijalankan selama 2010 tapi kiranya baik bagi kita untuk juga merefleksi bagaimana keluarga kita dapat menjadi akar bagi panggilan.

    Apakah keluarga kita memang memungkinkan bagi tumbuhnya benih panggilan? Sebagai hadiah di akhir tahun ini, di bawah ini saya kirimkan tulisan saya berkenaan dengan thema ini:

    OLEH OLEH DARI LAMPUNG

    September 2007 Ibu dan Iyo’ jalan jalan ke Lampung untuk menghadiri pesta 50 tahun perkawinan Mbah Darmo. Kami berangkat naik Damri dari Gambir bersama si pengundang: Romo F.X. Kusmaryadi SCJ. Pengalaman jalan jalan itu Ibu bagikan kepada teman teman Ibu di milis APIK, dan sekarang Ibu bagikan kepada kalian karena Ibu rasa baik untuk disimak.

    Salam, rin

    Oleh Oleh Jalan Jalan
    Posted by: “m ibnurini”
    Sun Sep 16, 2007 6:16 pm (PST)

    Hi All!
    Sorry, saya nggak gitu ngikutin obrolan kalian soale saya jalan jalan ke Lampung beberapa hari ini. Dan sebagai teman tentu saya kirim oleh oleh dong ya buat kalian.

    Pertama, saya dan Iyo’ mengunjungi rumah keluarga Darmo yang memiliki 3 putra yang jadi romo dari 8 putra putri. Saya pertama kali mengunjungi keluarga tersebut walaupun sudah kenal baik beberapa tahun dengan 4 dari mereka, tapi begitu masuk rumah seketika rasanya saya adalah bagian dari keluarga. Mbahti Darmo dengan terbuka membebaskan saya melakukan apa saja di rumahnya dan tidak memperlakukan saya sebagai tamu yang cuma dipersilakan duduk manis di ruang tamu. Oleh karena kebebasan itulah maka saya segera eksplorasi ke segala sudut, sedangkan Iyo’ bebas juga berkegiatan dengan cucu mbah Darmo. Setelah menjelajah rumah, oleh karena sepanjang malam ngobrol terus dengan mo Yadi, maka saya tidur panjang tanpa rasa bersalah di tengah kesibukan rumah yang siap siap pesta 2 hari (pesta ulang tahun perkawinan mbahkung dan mbah putri Darmo yang ke 50). Lalu, ikut bantu di dapur bercanda canda dengan semua yang di dapur (yang bantu bantu saja lebih dari 10! Sebuah persiapan pesta yang kualami duluuuu jaman nenek saya masih hidup dan sekarang sama sekali tidak pernah ada lagi di dalam kehidupan saya karena memang tidak pernah lagi ada pesta besar yang memerlukan begitu banyak orang untuk membantu).

    Lalu sore gelap mati lampu hingga saya bisa bebas menikmati suara alam di tengah sawah dalam gelap. Selain suara jangkrik dan serangga lain, terdengar juga suara orang latihan koor untuk persiapan pesta. Di alam terbuka Lampung, ternyata bintangnya lebih boanyaaaak dari yang ada di Jakarta! Hahahaha… Ternyata tanpa listrik juga orang bisa lihat koq, gak gelap gelap amat! Dalam udara sawah yang kental berbau tanah itulah kami malam itu ngobrol. Kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon soal misi di India.

    Esoknya, subuh saya bebas jalan jalan pagi bersama mbah Darmo sambil ngobrol segala macam….. hiiiiii…. Seandainya saya kandidat mantu pasti saya sudah GR banget merasa bahwa saya pasti diterima sebagai salah satu mantunya… hehehehehheeee… untung saya sadar benar bahwa mbah Darmo memang seorang yang baik dan terbuka terhadap siapa saja, jadi gak usah GR ya rin! Di acara jalan pagi itulah Iyo’ baru pertama kali melihat sapi dimandikan di sungai dekat rumah Mbah. Wah, senang sekali menikmati pemandangan yang tak ada di Jakarta!

    Setelah jalan jalan ke pasar desa, saya diantar oleh para romo yang juga anggota milis APIK ini untuk ke Noviciat di Gisting. Di sana saya diserah-terimakan kepada romo yang juga anggota milis APIK. Hiii…. Jadi dari APIK ke APIK nih yeee! (Oya sambil menuju Gisting saya diampirke ke Laverna yang menurut para romo itu,”Kamu kalo sampe di sana, rin, pasti nggeblak! Heee…. Tadinya heran juga kenapa koq saya bakalan nggeblak?! Apakah saking bagusnya?! O, ternyata setelah dijalani saya memang nggeblak kabotan weteng lan bokong!!!! Olehku menggeh menggeh ra karuan… parah! Hwakakakakaaaa…) Sepanjang siang, malam hingga pagi keesokan harinya kami menikmati ritme kehidupan noviciat yang khas. Makan tergantung tengtengteng, berdoa tergantung tengtengteng, rekreasi juga ada jamnya, pokoke sebuah dunia yang penuh keteraturan. Seperti matahari yang teratur bersinar pasti mulai pagi dan bukan suka suka. Justru karena teratur maka banyak kegiatan yang bisa diraih. Noviciat ini asyik sekali: udaranya dingin karena di kaki gunung Tanggamus, semua anggota noviciat terbuka menerima kami tidak sebagai tamu tapi sebagai salah satu dari mereka sehingga kami tidak dipersilakan duduk manis saja di ruang tamu (saya malah tidak tau dimana ruang tamunya) melainkan langsung ikut dalam kegiatan harian. Acara doa yang menyenangkan terutama saat doa malam, saya sangat menikmati nyanyian pujian malam yang dinyanyikan oleh koor para lelaki….. hmmmm…. Merdu dan gagah! Boleh saja saya punya CD lagu rohani yang bisa saya nikmati tiap hari tapi koor para pemuda ini sungguh beda rasanya (Sesungguhnya mereka tidak bermaksud koor, mereka para novis itu menyanyikan lagu pujian malam bersama-sama secara canon dengan indah…. Jadi koor kaaannn…) Paginya romo Rektor mereka, mo Gino, ulang tahun. Beliau didoakan pada doa pagi yang indah. Oya, saya lupa mengatakan bahwa mereka melakukan segalanya dalam bahasa Inggris lho karena saat itu adalah English Week. Sesekali berusaha dalam bahasa Italy yang masih kerap diperbaiki oleh para romo moderatornya. Romo Rektor demikian tersentuh oleh doa doa yang indah kreasi mereka sendiri dalam bahasa Inggris. Setelah itu acara selamat ultah dan sarapan yang meriah, walaupun tetap dengan tempe….. heeeee…. (Lho tempe kan enak?! Ya memang!) Katanya sih, malamnya ada pesta dengan hidangan daging buatan para suster FSGM yang bertetangga dengan mereka. Sayangnya saya tidak bisa menghadiri pesta itu. Persaudaraan mereka demikian kental sehingga sesederhana apapun makanannya tapi suasana gembira selalu ada di antara mereka.

    Setelah sarapan, kami dan para romo berangkat ke rumah keluarga Darmo untuk merayakan 50 tahun perkawinan. Misa konselebrasi dengan 12 romo! Itu memang hebat tapi yang lebih hebat adalah perkawinan yang menghasilkan 5 keluarga baru dan 3 romo itu adalah keluarga yang meneladan Keluarga Kudus. Seperti halnya keluarga lain, keluarga ini pun bukannya tanpa perbedaan pendapat,. Hebatnya adalah keluarga ini menjadikan perbedaan sebagai rahmat untuk belajar berdemokrasi. Suara anak didengar sebagai suatu kemungkinan Tuhan berkarya dalam keluarga melalui anak itu. Di tengah desa yang jauh di tengah-selatan Lampung mereka adalah keluarga modern sejak tahun 57 dengan memupuk-suburkan pola demokratis. Keluarga ini pun memiliki budaya keteraturan seperti halnya kehidupan di noviciat/seminari sehingga tidak heran anak anak yang berangkat ke seminari merasakan bahwa kehidupan seminari mereka sudah dimulai sejak di rumah. Terbuka, demokratis dan teratur. Terbuka terhadap Tuhan dan sesama. Demokratis dengan memberikan segala hak kepada pasangan dan anak-anak. Teratur melaksanakan segala kegiatan. Bukan main! Saya jadi pikir pikir: bisa nggak ya saya meneladan mereka? Hmmmm….

    Setelah misa dan pesta, saya dan Iyo’ kembali diserah-terimakan kepada bruder Yohanes untuk dapat mencapai Teluk Betung dan malamnya diantar ke perusahaan bis untuk pulang ke Jakarta.

    Mang Iyus pasti bisa menebak siapa siapa tokoh APIK dalam cerita saya kali ini. 3 romo putra mbah Darmo adalah mo C.B. Kusmaryanto SCJ, mo D. Kusmartono SCJ dan mo F.X. Kusmaryadi SCJ. Romo di Gisting yang anggota APIK juga adalah mo F.X. Tri Priyo Widarto SCJ. Terima kasih untuk segala keramahan dan persaudaraan yang kalian berikan.

    Tujuan utama tulisan saya adalah untuk memberi idea kepada putranya mas Adihendro dan putra putra lainnya, boleh putranya sendiri ato anak anak misdinar dampingannya, yang sedang mencari hidup bakti model apa yang paling asyik untuk dijalani. Coba mampir ke Gisting deh! Mampir aja dan nikmati keramahan dan persaudaraan di antara mereka. Yang pasti Iyo’ ngajak balik ke sana lagi liburan depan….. heeeee…. Padahal Iyo’ tuh boleh dibilang termasuk reseh kalo ke gereja, bolak balik cari alasan ke toilet. Tapi kemarin selama misa dan doa di Gisting dia bisa duduk manis menikmati suasana padahal dia nggak ngerti bahasa Inggris. Sampai di rumah juga dia cerita ke kakaknya: frater fraternya hebat lho kak! Hiiii…. Main bolanya asyik! Lho?!

    Lalu gimana kalo emang pengen ke sana? Caranya gampang. Tulis surat saja ke mo Priyo ato ke mo Samiran juga boleh….. tau kan e-mail addressnya mo Sam. Bukan cuma anaknya ya, mo, ibu bapaknya kalo mau mampir boleh tuh pakai kamarku yang menghadap gunung itu……………. hadeeeuuh….kamarku!!!! pssstt… rini emang gampang GR ya!

    Salam, rin
    NB: Ini memang promosi tanpa seizin SCJ yang saya lakukan hanya karena komunitas ini memang menarik untuk dinikmati bersama.

    Tambahan catatan untuk yang tertarik mengunjungi Gisting: email address romo Samiran SCJ adalah ysamiran@gmail.com

  5. sya mrsa trpgil untk mjdi sster,..

  6. Sebelumnya tks atas kesempatan untuk menulis di blog ini. Nama saya Joko. Saya mau bertanya, apakah seseorang memerlukan izin orang tua untuk memasuki hidup bakti?
    Saya memiliki keinginan untuk belajar agama dan mewartakan Injil, secara khusus ingin menyerahkan diri secara total kepada Allah, tapi bapak saya betul-betul tidak setuju.
    Beliau tidak mau anaknya hidup miskin, apalagi sampai tidak punya istri, karena menikah dan hidup berkecukupan itu menjadi tolok ukurnya. Saya tidak sependapat dengan itu karena belum tentu juga orang kaya itu bahagia, tetapi biasanya yang terjadi hanya pertengkaran dengan hasil akhirnya adalah bahwa saya yang kalah karena harus menghormati orang tua.
    Duh, saya putus asa. Sekarang ini saya bekerja secara profesional dan saya juga bisa menghidupi diri saya sendiri serta tinggal di rumah sendiri, tetapi keinginan untuk mengabdikan diri itu terus saja muncul di dalam berbagai pelayanan saya di paroki dan kelompok karyawan Katolik di kantor.
    Kadang saya berpikir, apa barangkali ini jalan Tuhan ya untuk mendidik saya sebelum saya masuk seminari atau memang saya tidak dipanggil sama sekali?
    Bingung….

  7. sebenarnya secara hukum, anda berhak memutuskan sendiri apa yang menjadi pilihan anda. Seperti halnya anda sendiri yang bertanggungjawab atas semua perbuatan anda, bukan orang tua anda lagi.

    jadi jawabannya apakah anda membutuhkan ijin untuk menjadi seorang Imam atau biarawan,jawabannya tidak..

    Namun ada hal-hal yang perlu anda pertimbangkan apabila kondisinya anda-lah penopang hidup ke-2 orang tua anda, maka sebaiknya anda harus memastikan bahwa keputusan anda tidak mengorbankan hal lain yang melukai kasih. tidak pernah ada kata terlambat menjawab panggilan-Nya.

    Menjadi Imam menjadi mempelai Allah. bukan berarti hidup miskin, melainkan kaya dalam bentuk rohani, tetapi secara materi pun ia tidak pernah merasa berkekurangan. Mantapkan hati dan jawablah panggilannya, seperti halnya Samuel menjawab panggilan Allah. “Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

    May God bless your steps..

  8. Terus terang saya merasa aneh, kenapa menjadi hamba yang dekat dengan Tuhan kok dengan cara tidak menikah. Bukankah Allah telah menciptakan bagi laki-laki dan perempuan organ tubuh untuk berkembang biak.Laki-laki dikaruniai sperma, dan perempuan dikaruniai sel telur dan rahim. Tentu Allah punya tujuan menciptakan itu semua.Antara pria dan wanita pun diberikan rasa ketertarikan, dan itu adalah hal yang normal bagi pria dan wanita dewasa.Bukankah itu semua nikmat Allah yang harus disyukuri? Alangkah indahnya kalau kita bisa berumah tangga, lalu memiliki anak, dimana istri/suami dan anak-anak kita bersama-sama kita ajak untuk mengabdi kepada Allah, dengan cara menjalankan segala perbuatan baik yang Dia perintahkan dan menghentikan segala perbuatan buruk yang Dia larang. Bila tidak menikah merupakan salah satu bentuk takwa kita pada Tuhan, maka bila kebanyakan manusia telah mulai sadar dan memang ingin mendekatkan diri pada Tuhan sehingga banyak manusia yang tidak menikah, tentu habislah keturunan manusia, karena bagaimana dia mau berkembang biak kalau tidak dengan menikah. Maaf, saya hanya menyampaikan uneg-uneg di hati saya, karena rasanya Tuhan tidak memerintahkan demikian, karena hal itu bertentangan dengan fitrah yang telah Dia ciptakan.

  9. @Kusuma, anda Katolik ? Jika tidak, maka diskusi ini bisa melebar kemana-mana.. silahkan anda ke http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=7905

  10. Hallo Kusuma!

    Anda sedang membicarakan para klerus kami yang tidak menikah itu ya? Anda benar, ketika menciptakan manusia, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kitab Kejadian 1:28)
    Tapi, perhatikan bahwa Tuhan tidak pernah berkata: kamu HARUS kawin, HARUS beranak cucu.

    Kusuma,
    Hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan yang TIDAK MELULU manusia sebagai ciptaan Tuhan yang HANYA mengerjakan apa yang disuruhkan-Nya. Kita bukan hamba sahaya, melainkan sahabat yang mengasihi Tuhan. Dalam mengasihi tersebut, baiklah bila ada manusia yang memilih kawin, yang dari kawin tersebut bisa saja ada anak cucu. Bisa juga tidak ada anak cucu.
    Dari mengasihi Tuhan tersebut, manusia boleh memilih tidak kawin untuk melayani pekerjaan pekerjaan pelayanan. Mereka mengkhususkan diri fokus terhadap pelayanan yang semuanya dilakukan untuk sang Sahabat, yakni Tuhan.

    Cara hidup kawin dan tidak kawin semuanya baik bila dilakukan untuk Tuhan. Namun, keduanya juga tidak dapat membuat kita masuk surga. Mendekatkan diri kepada Tuhan itu caranya dengan beriman dan mengasihi Tuhan, sesama dan diri sendiri melalui perbuatan nyata.

    Maka Kusuma,
    Cobalah lihat dengan cara pandang bahwa kita manusia adalah sahabat Tuhan. Seorang sahabat pasti mengasihi Sahabatnya. Maka kita bisa memberi apa yang baik kepada Sahabat kita.

    Terima kasih untuk pernyataan uneg uneg anda dan tidak usah khawatir bumi akan kehabisan anak cucu hanya karena semua mau hidup tidak kawin.

    Salam berkat Tuhan, rin

  11. nama saya Ryan siregar,saya seorang penulis novel dan saya terlahir sebagai seorang Protestan (beraliran Kharismatik). tapi jujur saya kecewa dengan cara dan gaya hidup para pendeta Protestan (khusunya aliran kharismatik ekstrim) yang menekankan kesuksesan dan kekayaan.akhirnya saya akhir tahu 2010 memutuskan untuk menjadi seorang Khatolik.saya terksesan dengan cara hidup Romo,Biarawan /i yang hidup bersahaja dan sederhana serta persatuannya yang kuat diikat oleh organisasi gereja Khatolik Roma sedunia (dipimpin Bapa Suci) sekalipun berlainan Ordo. jujur semakin hari saya menyadari dalanm diri saya,saya dipanggil untuk menjadi biarwan tapi terkadang ada banyak hal yang membuat saya mundur dan menolak panggilan Allah.sekiranya nanti Tuhan menunjukan cara dan jalan untuk saya memenuhi panggilanNya..entah biara apa dan dimana sy tidak tahu,yang saya tahu Tuhan pasti membuka jalan bagiku..amin! teruslah berkarya bagi sesama dan jadilah terang yang tak terpadamkan oleh keadaan!

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>