Panduan bagi para penggerak komunitas basis

Panduan ini musti kita amat-amati, kita tanyakan dan kita perbaiki jawabannya terus-menerus:
1. Sampai di mana hubungan atau komunikasi dalam dan antar umat kita berjalan? Bagaimana mereka saling berkontak, saling reaksi, saling menaggapi, sehingga hal ikhwal apa pun mereka hayati bersama?
2. Sampai di mana dalam umat kita unsur kesetiakawanan atau solidaritas bisa diandalkan?
3. Sampai di mana kewibawaan pimpinan umat disegani, tetapi juga disayangi?
4. Sampai di mana susunan kerja sama umat diberi jalan yang mudah dan tepat untuk saling koreksi dan penyehatan kembali hal-hal yang kurang baik? Erat dengan itu, bagaimana terjamin peremajaan pengurus atau penggerak komunitas basis?
5. Sampai di mana umat, selaku pribadi maupun bersama, mempunyai daya berkorban dan memanggul salib? Bagaimana mereka mengemban penderitaan maupun kemalangan, kemartiran memanggul salib, dengan tetap bersetiakawan? Solider satu sama lain, dalam iman, harapan dan cinta kasih Kristiani?

Pertanyaan Lanjutan:

I. Hubungan/Komunikasi
1. Sebutkan beberapa sarana atau cara yang praktis untuk paroki/stasi/wilayah/ lingkungan (disingkat PSWL) sebagai alat komunikasi yang baik atau yang menambah lancarnya hubungan (yang resmi dan yang tidak resmi).
2. Mata rantai komunikasi yang mana agaknya di PSWL anda masih lemah? Bagaimana cara memperbaiki secara praktis dan mudah terjangkau?
3. Apakah di RT/RW, kelurahan, di kantor atau di organisasi-organisasi lain di masyarakat anda bisa menemukan suatu cara berkomunikasi yang praktis dan baik untuk ditiru demi peningkatan komunikasi PSWL?
4. Apa yang perlu dipersiapkan sebelum rapat, sebelum rekoleksi, sebelum acara-acara yang telah direncanakan?
5. Apa yang perlu dikerjakan demi komunikasi antara bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, anak-anak, antara pengurus dan umat, antara generasi tua dan muda, antara romo imam dan awam PSWL?
6. Apakah di kalangan umat Anda ada golongan yang amat maju dan amat terbelakang? Dalam segi apa? Wajarkah itu?
7. Dalam PSWL anda ada beberapa kelompok kaum aktif yang sering dicap oleh lain-lainnya sebagai kelompok yang eksklusif, yang elit, yang cuma suka menyendiri. Sampai di mana itu wajar dan betul dan sampai di mana itu keliru?

II. Kesetiakawanan
1. Apakah anda dapat memberi beberapa contoh perkara dalam hidup menggereja kita yang termasuk: in dubiis libertas (dalam perkara-perkara yang belum pasti ada kebebasan)?
2. Demikian juga: dalam hal apa, pengurus harus tahu situasi, di mana diperlukan unitas (kesatuan)?
3. Bentuk-bentuk tindakan apa sering dilakukan oleh pimpinan atau pengurus yang sebenarnya sudah menjurus kurang caritas (cinta kasih)?
4. Sebutkan beberapa peristiwa kekaryaan yang bermaksud baik tetapi memecah umat?
5. Dapatkah anda menerangkan kepada kawan-rekan seumat anda, mana yang disebut kesetiakawanan yang sesuai dengan Injil dan yang kurang sesuai?
6. Mana gotong-royong yang baik dan gotong-royong yang merugikan?
7. Menurut anda, apakah solidaritas kita terhadap orang lain (istri, anak, orang-tua, tetangga, kampung RT/RW, rekan organisasi, pemimpin, pemerintah, korban, dst punya batas ataukah mutlak sehidup-semati? Apakah dasar pendapat anda dan bagaimana batas-batasnya? Bagaimana mengatasinya?
8. Hal-hal manakah yang dalam PSWL anda rupa-rupanya lebih merugikan solidaritas umat daripada menolong? Bagaimana kebijaksanaannya sehingga umat tidak dirugikan?
9. Hal-hal mana dalam PSWL anda yang konkret dapat diadakan/diperkuat demi solidaritas umat?
10. Ada kawan yang berkata: Saya tidak pergi ke gereja PWSL saya, tetapi ke PWSL lain yang, yang khotbah pastornya lebih sesuai dengan kebutuhan jabatan/keahlian saya; orang-orang PWSL sana lebih sepadan/sreg dengan tingkat/selera saya. Bagaimana pendapat anda? Dalam hal-hal apa dia(atau mungkin PWSL salah (atau tidak salah)?
11. Ada lagi yang berkata: Saya tidak berani menjadi Katolik, walaupun sebenarnya suka sekali, sebab terus terang saya malu. Orang Katolik selalu berpakaian bagus dan perlente kalau ke gereja dan gaya mereka modern dan aksi. Padahal, saya hanya pemuda miskin sederhana, tidak mampu mengikuti gaya muda-mudi Katolik. Bagaimana anda menjawab pemuda ini?
12. Ada orang lain berkata: Saya tidak suka ke gereja PSWL saya, walaupun saya tidak anti. Tetapi tokoh-tokohnya dan suasananya serba saling bertengkar saja. Daripada menambah dosa, saya selalu ikut ke PSWL lain. Bagaimana?
13. Ada laporan: Berkali-kali sidang atau rapat pengurus PSWL kami macet karena ketuanya berhalangan. Padahal beliau (tokoh masyarakat yang penting dan disegani) marah bila ada keputusan diambil tanpa hadirnya beliau. Bagaimana mengatasinya? Bolehkah kepentingan umat banyak dikorbankan demi kepentingan seorang tokoh?
14. Ada pendapat: Lebih baik saya berkarya nyata di tengah masyarakat daripada aktif di seputar PSWL yang tidak mempunyai dampak pengaruh bagi perubahan masyarakat secara lebih luas. Bagaimana pendapat anda?
15. Ada pendapat: umat di PSWL lebih suka menghabiskan uang untuk ziarah rekreasi daripada untuk bersetiakawan dengan mereka yang kurang mampu di tengah umat maupun di luar. Bagaimana pendapat anda?

III. Kewibawaan yang Dicintai
1.Umat jangan hanya mengikuti romo saja. ”Umat bukan domba-domba yang hanya ikut-ikutan saja. Berdikarilah!” Dalam arti apa pendirian itu betul dan dalam arti apa salah?
2. Ada khotbah demikian: “Kita ini orang Katolik. Lain dari orang Protestan. Maka dalam segala hal harus minta izin dari hierarki’” Bagaimana?
3. Ada Ketua Pengurus Umat berkata: Orang Nusantara itu perasa. Jadi kalau ada apa-apa yang perlu dikerjakan bersama, saya hanya minta kepada yang jelas sukarela saja. Yang tidak insyaf, saya tinggal saja. Daripada terkena marah. Bagaimana anda?
4. Dapatkah Anda memberi sekadar contoh konkret tentang seorang pemimpin umat yang sebetulnya hanya mengikuti kesukaan umatnya melulu?
5. Apakah Gereja dimaksud untuk menuruti kehendak/kesenangan orang? Apakah dalam kalangan anda sering timbul pendapat, yang meski tak sadar, tetapi sebetulnya intinya mengarah ke anggapan tersebut?
6. Apakah yang dapat diperbuat dalam PSWL anda agar kebijakan turba dan kunjungan-kunjungan dapat dikembangkan secara wajar? Dan secara teratur periodik?Mana kunjungan yang berisi dan berguna, dan mana yang hanya iseng omong kosong?
7. Dapatkah Anda mengenal dan menyebutkan bentuk-bentuk karisma apa saja yang terdapat dalam PSWL anda? Bagaimana karisma itu dapat dikembangkan demi kehidupan iman, harapan, dan cinta kasih?
8. Dalam PSWL, siapa-siapa yang agaknya punya bakat dan pembawaan tertentu, namun belum diajak atau diberi fungsi yang aktif demi perkembangan Gereja di PSWL anda.
9. Aktivitas mana di tempat Anda yang perlu mendapat saluran formal, dan mana yang justru sebaiknya jangan formal? Bagaimana keduanya dapat dipersatukan selaras?
10. Ada seorang ibu yang rajin dan aktif, baik dalam rumah tangganya maupun dalam gerakan gerejawi. Suatu ketika ia berkobar dalam gerakan karismatik, sehingga merasa begitu dekat akrab dengan Tuhan, sampai segala-gala dilupakan. Rumah tangga brantakan, suami dan anak-anaknya pusing. Bagaimana pendapat Anda?
11. Seorang perintis gerakan karismatik mengeluh bahwa banyak warga gereja yang belum mau mengikuti gerakan karismatik. “Orang-orang ini sudah dibaptis, tetapi sayang belum menghayati Roh Kudus seperti kami”, katanya. Bagaimana tanggapan Anda? Gerakan karismatik yang benar dan palsu dapat kentara dari hal-hal apa?
12. Sudah saatnya ”pastor sentris” diubah menjadi ”umat sentris”. Bagaimana ”penggembalaan oleh umat di tengah umat” dikembangkan dalam PSWL anda?

IV. Koreksi, Penyehatan Kembali, Peremajaan
1.Bagaimana cara penyaluran kritik/koreksi dalam PSWL anda? Apakah kritik itu betul-betul sampai pada pihak yang bersangkutan atau berhenti di tengah jalan?
2.Apakah dalam PSWL anda prinsip kritik/pembetulan terjamin? Dipancing agar datang? Atau biasanya dibendung?
3. Menurut Anda, arpakah ada beberapa titik pegangn untuk membedakan kritik yang membangun dan yang merusak?
4. Apakah dalam praktek kehidupan sehari-hari dalam PSWL anda ada kemungkinan untuk saling membina rohani, saling memperbaiki, dan saling mengingatkan bila ada sesuatu yang berjalan keliru dalam segi kesusilaan, fitnah, pertengkaran dan sebagainya?
5. Sampai di mana kedudukan humor/dagelan dimanfaatkan sebagai bentuk peringatan/koreksi. Apa itu efektif?
6. Apakah sifat mudah patah juga masih meraja di tempat Anda? Bagaimana kira-kira caranya untuk memperbaikinya?
7. Hal-hal apa yang perlu diciptakan/dikembangkan dalam tempat anda demi peremajaan pengurus umat?
8. Apakah proses peremajaan itu berjalan lunak tanpa tegangan dan dianggap biasa ataukah selalu masih menimbulkan semacamkonflik kekecewaan? Mengapa ya, mengapa tidak? Bagaimana menghilangkannya?
9. Hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam segi peremajaan ini, terutama dalam bidang mental dan cara memandang masalah gengsi? Kesadaran tentang kesinambungan karya yang wajar?
10. Bagaimana cara penataran dan peremajaan pengetahuan iman/agama di tempat anda? Cara mana yang paling efisien?
11.Bagaimana hubungan kaumtua dan generasi muda di tempat saudara? Akrab atau dingin? Apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana?
12. Sudahkah anda kenal kelompok/gugusan/klik yang ada di PSWL anda? Siapa pemuka atau benggolnya?
13. Bagaimana cara integrasi hubungan antara kelompok-kelompok non-formal dan formal dalam PSWL anda? Ataukah mereka bekerja sendiri-sendiri? Apa yang dapat dilakukan secara selarah?
14. Bagaimana sikap seumumnya dari pimpinan umat terhadap klik-klik atau geng-geng yang lazim dianggap negatif dalam hidup kegerejaan?
15. Bagaimana pemanfaatan kemungkinan liturgi dan pembinaan spiritual untuk kelompok-kelompok fungsional dalam PSWL anda?
16. Bagaimana nasib kaum kakek nenek, janda-janda, duda yang menderita dalam pengaktifan umat secara total? Apakah mereka mendapat peranan juga dan merasa dibutuhkan dalam kehidupan umat? Hal-hal apa yang dapat mereka sumbangkan khusus menurut situasi kondisi mereka?
17. Bagaimana sistem pendekatan umat awam terhadap yang dianggap kaum murtad, kaum berdosa, penyeleweng? Adakah disinyalir gejala-gejala parisi dalam kaum yang merasa tidak murtad, yang merasa aktifis gereja? Ada kefanatikan yang perlu dirubah?
18. Ceritakan cara dan usaha pihak pinisepuh PSWL anda yang mendorong (secara riil dan tidak hanya berupa petuah) agar generasi muda lebih mendapat peranan aktif dan jadi ”generasi penerus” atau ”generasi masa kini” yang baik, tanpa konflik, tanpa ketegangan?
19. Bagaimana dalam PSWL anda sikap seumumnya mengenai orang yang berpendapat lain? Yang disebut sumbang suaranya? Yang dicap tidak mau rukun? Karena apa? Bagaimana selanjutnya?
20. Dalam hal apa ternyata PSWL anda tidak kompak, tidak sebahasa? Dalam segi apa itu keliru dan dalam segi apa itu wajar bahkan baik?

V. Daya Pengorbanan dan Memanggul Salib
1.Bagaimana penghayatan praktis dan riil seumumnya umat anda perihal penderitaan dan kesengsaraan sewarga umat? Di luar umat?
2. Apakah anda dapat memberi sekedar pedoman untuk menilai, suatu penderitaan yang kita alami adalah salib Kristus atau salib bikinan kita snediri?
3. Bagaimana cara-cara dalam umat anda untuk meringankan beban kaum penderita?
4. Bagaimana seumumnya semangat pengorbanan dalam umat anda? Jika maju, mengapa? Jika kurang, mengapa? Apakah ada hal-hal yang dapat anda lakukan sebagai gembala atau pelayan umat demi perbaikan dalam hal ini?
5. Apakah mungkin suatu pimpinan umat justru tumbuh menjadi salib untuk yang dipimpinnya? Dalam hal apa saja? Bagaimana memperbaikinya secara praktis? Hal-hal apa yang membuat pimpinan umat sering tidak memahami kesulitan-kesulitan umatnya, lalu bertumbuh menjadi unsur penghambat kemajuan umat? Contoh-contohnya?
6. Apakah dalam umat anda terdapat gejala-gejala yang terpandang ialah mereka yang mampu jasmani-duniawinya, sedang umat yang miskin lemah tidak pernah dianggap sebagai potensi kuat dan dianggap tidak perlu diberi peran-peran tertentu?
7. Sebutkan beberapa hal yang penting, yang perlu dimiliki umat, terutama para pemimpin dan pinisepuhnya, agar umat kita mempunyai ketahanan Kristiani yang ampuh?
8. Bagaimana keadaan semangat berkorban generasi muda? Anak-anak? Apa sajakah yang dapat dikerjakan demi itu?
9. Seorang ketua PSWL selalu berkorban (tombok) bila ada pengumpulan sumbangan. Ia ikhlas begitu sebab sumbangan dari umatnya ternyata terlalu sedikit. Bagaimana penilaian anda?
10. Apakah setiap tindakan berkorban kepada gereja dilakukan dengan motivasi dan cara yang betul? Sebutkan beberapa contoh kejadian perihal ini yang betul dan yang keliru.
11. Dalam perbandingan apa sumbangan/dana untuk gereja di tempat anda berupa uang dan berupa jasa? Sudah baikkah? Mengapa?
12. Bermusyawarahlah dengan rekan-kawan, dengan suami, istri, anak, orang tua, abang, kakak, adik, agar memikul salib kita semakin kuat, tetapi sekaligus semakin bertekad meringankan beban salib orang lain.

* Bahan dasar panduan ini diambil dari Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani (Mangunwijaya, Kanisius 2000).

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>