Pacar Terkena Hepatitis C
Siang Romo, saya ID, 26 thn. saya ingin bertanya, bagaimana menyikapi bila pacar saya ternyata sakit hepatitis C. Hubungan kami br 1 thn, dan kami beda kota.. (kami pernah satu kampus dan persekutuan doa yg sama) tentunya dari orang tua saya tidak menyetujui nya, karena tak ingin saya menderita..
Terima kasih Romo, Tuhan memberkati..
==============================================================================
ID,
Hepatitis C termasuk masalah kesehatan yang berat dan penyembuhannya lebih rumit daripada HIV. Namun itu bukan halangan untuk bisa melangsungkan pernikahan. Saya kira anda tahu persis resiko yang harus ditanggung kalau anda mau meneruskan hubungan anda dengan pacar anda ke jenjang perkawinan. Masalahnya sekarang bagaimana anda sungguh bebas sehingga pilihan untuk menikah atau tidak bukan ditentukan oleh desakan keluarga, juga bukan oleh kondisi pacar anda, juga bukan oleh rasa kasihan dari diri anda.
S







Ini sebenarnya kasus yang menarik… kita mungkin pernah melihat film atau pernah membaca dimana ketika sepasang insan yang saling mencintai terpaksa harus dipisahkan oleh maut, ketika salah satunya mengidap suatu penyakit yang tidak tersembuhkan. Bagian yang mengharukan adalah pasangannya yang sehat walafiat tetap bersedia menikahinya mencintai, menjaga dan merawatnya dengan tulus hati hingga akhirnya maut menjemput pasangannya yang sakit itu. Namun itu adalah sebuah film atau sebuah novel. Di dunia nyata hal itu memang bisa terjadi. Tetapi tidak terlihat se-romantis di sana. Kehidupan pasangan seperti itu jauh lebih sulit.
Di dalam film dan novel alur cerita di atur sedemikian rupa sehingga atmosfir, atau kondisi di sekitarnya tidak mengganggu romantisme pasangan tersebut, malah diperlihatkan betapa kondisi terburuk yang mereka hadapi pun malah membuat mereka terlihat semakin saling mencintai.
Di dunia nyata, hal itu akan jauh lebih sulit dilakukan. Kondisi di sekitar kita sering kali bahkan sebagian besar terjadi di luar kendali kedua pasangan yang mengalami hal yang sama, seperti pada kasus ID di atas. Dalam cerita di atas sudah terlihat bahwa orang tua ID tidak setuju hubungan ID dengan pasangannya diteruskan apalagi hingga masuk ke jenjang pernikahan. Kondisi ini akan menyulitkan ID di satu sisi ia mencintai orang tuanya dan mungkin berat bagi ID menikah tanpa restu orang tua (walaupun hal ini bukan halangan untuk menikah). Di satu sisi ia juga sedang menumpuk rasa percaya diri dalam dirinya bahwa ia dapat mencintai pasangannya yang sakit itu dengan sepenuh hati dan siap menanggung segala resiko yang mungkin dapat terjadi karena sakit pasangannya itu. mungkin saat ini pun ada sedikit atau mungkin lebih banyak keraguan. Di sisi lain, ia tidak ingin di cap sebagai pasangan yang tidak setia, tidak sungguh2 mencinta, tidak tahan uji apabila memilih untuk memutuskan hubungannya dengan pasangannya. Mungkin ID saat ini sedang bergumul dengan hal ini di dalam dirinya.
Nah dalam kondisi ini, saran saya, tunda pernikahan anda, hingga anda dapat menjawab dengan pasti bahwa anda siap menjalani kehidupan bersama pasangan anda baik secara mental maupun materi. Pertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk menikah dengan pasangan anda, karena anda menikah bukan hanya untuk membuktikan cinta anda kepadanya, tetapi juga sebagai seorang Katolik menjalankan kehendak Allah untuk membangun keluarga Katolik yang bahagia dalam kasih Allah, yang juga artinya pernikahan anda pun harus terbuka untuk prokreasi. Jadi pikirkan bagaimana anda mempersiapkan hal itu. Bukan saja ketika anda hidup berdua happily ever after dengan suami anda, tetapi bagaimana anda berdua memenuhi kehendak Allah ini dan kemudian seperti doa orang tua untuk anak yang tertulis di dalam Puji syukur, anda berdua siap menanggung segala resiko atas kehadiran anak dalam hubungan kalian.
Jangan berpikir bahwa hal ini terlalu jauh untuk dipikirkan. Saya katakan, hal ini sangat dekat apabila anda sudah memutuskan untuk menikah dengannya.
Bagaimana dengan ketakutan atau kecemasan bila ada yang men-cap anda tidak setia, atau tidak tahan uji, tidak sungguh mencinta bila memutuskan hubungan dengan pasangan anda. Saya katakan anda tidak perlu memikirkan hal itu. Karena yang menjalani kehidupan anda adalah anda. Jangan biarkan orang lain memutuskan apa yang harus anda jalani. Tetapi dengan tuntunan hati nurani yang dibentuk oleh ajaran Gereja, putuskanlah yang terbaik untuk diri anda dan pasangan anda.
Bila anda memutuskan untuk berpisah, ini bukan akhir dari segala-galanya bagi pasangan anda.
Saya jadi teringat kata-kata yang cukup sering saya dengar atau saya baca diucapkan atau dituliskan dalam film atau novel, “aku bahagia bila kamu bahagia”, “aku rela menderita demi kebahagiaanmu”, “asalkan kamu bahagia…”.. kebahagiaan pasangan adalah kebahagiaan diri kita. artinya apa.. jika A dan B berpacaran, si A akan merasa bahagia bila si B bahagia. Tetapi si B bahagia apabila si A bahagia. Jadi si A tidak akan dapat membahagiakan si B apabila si B sebenarnya tidak merasa bahagia atau hanya terpaksa untuk membuat si A bahagia (karena kasihan misalnya).
Dengan kata lain, kebahagiaan harus dimiliki oleh keduanya dalam memutuskan untuk menikah. Itu lah dasar pondasi pernikahan Gereja Katolik. Saling mencintai tanpa ada paksaan dari diri sendiri atau dari orang lain.
Jika ID memutuskan untuk berpisah, pasangan ID seharusnya tidak marah, kecewa atau berkecil hati karenanya, karena hal itu mungkin adalah untuk kebaikan mereka berdua. Bukankah ia ingin ID bahagia. ia tidak akan memaksa ID untuk memilih antara dirinya dan orang tua ID. ID sebaliknya, memutuskan hubungan dengan ID bukan berarti tidak memberi kebahagiaan bagi ID, melainkan memberikan harapan baru bagi diri ID, dan memberikan pandangan baru bagi pasangannya mengenai arti mencintai dengan ketulusan.
Ada sebuah cerita, Rosary mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dalam sisa hidupnya, Rosary berusaha menyenangkan hati banyak orang, termasuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Salah satu “pasien”-nya adalah seorang laki-laki, bernama Bernard yang tidak mengenal cinta sebelumnya. Seorang laki-laki yang merasa tidak membutuhkan cinta dalam hidupnya.
Kelembutan dan sikap ceria Rosary berhasil meluluhkan es di hati Bernard. Perlahan Bernard mulai belajar mengenai kehidupan yang diwarnai oleh perasaan cinta. Dan cintanya mulai tumbuh untuk perempuan yang membantunya itu. Dan saat itu Bernard masih tidak mengetahui penyakit yang diderita Rosary.
Suatu saat Rosary menyadari, bahwa ia jatuh cinta pada laki-laki yang ia tolong itu. Tetapi ia pun menyadari bahwa dirinya akan membuat laki-laki yang ia cintai ini menderita karena kelak melihat dirinya lemah tidak berdaya karena sakitnya dan juga kematiannya. Maka Suatu hari Rosary memutuskan untuk menghilang begitu saja dari kehidupan Bernard. Ia tidak berada di tempat-tempat favorite dimana ia sering datangi bersama laki-laki itu. Bernard mencari dan mencari Rosary, namun tidak ia temukan. Suatu ketika Bernard tahu mengenai sakit Rosary yang ia cintai dari orang-orang dekat Rosary yang ia tanyai.. Dari mereka, ia mengetahui bahwa Rosary memiliki cinta yang besar untuk dirinya, sehingga rela menderita lebih dari sakit yang ia derita untuk meninggalkannya.
Johan
Hai TS,
Lil bit share nih, saya seorang mantan pecandu narkoba kelas berat, sudah berhenti thn 2002, puji Tuhan blm sampai kena HIV, tapi saya terkena hepatitis C. kata dokter sih itu virus hepatitis yg menyerang kekebalan tubuh saya, dan pada awalnya saya diberikan obat satu macam saja yg saya konsumsi sekitar 3bln stlh saya dinyatakan sembuh dr ketergantungan narkoba (mestinya harus setahun tp sy bosan alias malas meneruskan)
Saya sering ngobrol (bukan konsultasi loh, krn gak bayar, cuma ngobrol2 doang di restoran) dgn dokter itu krn lama2 kami seperti kawan saja, dan dia bilang faktanya semua org mempunyai bawaan virus hapatitis ddlm tubuhnya cuma kadar nya hanya sedikit, org yg terinveksi hepatitis B itu kadar virusnya udh agak lumayan banyak, dan yg terinveksi hepatitis C seperti saya itu kadar virusnya sdh overlimit alias nyaris menuju ke arah HIV ( sdh tdk punya kekebalan tubuh ) sori bukan maksud saya ingin menakuti anda, yg saya ingin sampaikan bahwa penyakit hepatitis ini mempunyai level tingkatan kadar virus tertentu yg ternyata bisa ditekan kadarnya sampai ke level normal, caranya adalah dgn menjalani pola hidup sehat ( standard bgt yah ky konsultan kesehatan ) tapi wait! ini beneran saya jalani sendiri, yaitu dgn menjaga pikiran agar tdk stress, mengurangi rokok, tidak minum alkohol, tdk kelayapan malam, tdk pake drugs apapun termasuk obat2an pusing, batuk, flu, dll selama DUA TAHUN dan bahkan sampai sekarang). pokoknya bener2 hidup sehat dan teratur (plus olahraga dikit lah, dikit bgt)
Selama dua tahun itu saya berpacaran dgn teman KEP saya. hehehe…
Awalnya saya jujur kpd pacar saya bahwa saya br sembuh dr kecenduan narkoba dan mempunyai penyakit hepatitis C dan penyakit itu bs menular lewat hubungan badan..
dia agak kaget dan bingung krn agak awam akan hal ini tp akhirnya dia bs terima saya, dan kami jalan bareng, thanks God..
Kami sering mengikuti retret dan kelas meditasi, hal ini sangat merubah tempramen saya dan membuat saya berubah banyak (kec dlm hal merokok) pikiran jd tdk mudah senewen dan nafsu bs terkendali (tmsk nafsu birahi yg ga jelas)
Lama kelamaan hubungan kami mulai mengarah serius ke jenjang pernikahanan, setelah 4 thn lebih berpacaran, lalu saya memutuskan utk melakukan general check up sebelum menikah, dan hasilnya sangat mengejutkan (dokter teman saya pun sampai tdk percaya, pdhl dia yg periksa) Puji Tuhan saya sehat walafiat, virus hepatitisnya secara misterius hilang, kadarnya menjadi normal dan tdk terdapat kandungan penyakit apapun dlm tubuh dan darah saya, semuanya bagus. (ada buktinya klo anda kurang yakin, medical record saya bs anda liat ke rumah sy klo anda mau)
Intinya penyakit hepatitis C itu memang berbahaya tp masih bisa disembuhkan dgn menjalani pola hidup sehat secara jasmani dan rohani,(banyak cara, retret dan kelas meditasi cuma contoh kecil yg saya jalani) dan harus dijalani dgn komitmen yg kuat juga, anggap saja proses penyembuhannya seumur hidup, jadi sy selalu menjaganya agar virus itu tdk ‘bangun’ lagi.
Penting sekali utk membicarakan hal ini sebelum menikah, agar anda bs mencari jalan keluar yg terbaik bersama2 dan utk kepentingan bersama juga.
Saran saya bukan utk melanjutkan atau memutuskan doi (itu sih teerserah anda), tp jangan buru2 nikah dulu lah, org sehat saja bisa membawa masalah dlm pernikahan apalagi org sakit, kenali dulu sedalam2nya pasangan anda sblm menikah.
peace…
KEY
ini sebenarnya hal yang menyakitkan…
ketika seseorang yang rinta sayang terkena penyakit hepatitis.
jujur,rinta sayang banget sama dia,rinta pengen dia ada,dan slalu ada buat rinta.rinta pengen dia jadi pasangan dalam hidup rinta,apapun keadaannya dan ketiadaannya.rinta gak peduli dia punya penyakit apapun mau dia lumpuh atau apapun rinta akan tetap sayang sama dia. dan hanya dia seseorng yang bisa mengisi lembaran hidup rinta…
tapi,adahal yang menyedihkan papa berharap besar klau rinta suatu saat mendapatkan pasangan yang sehat.tapi rinta dah terlanjur sayang sama dia..
Tuhan Yesus bantu Rinta,rinta sayang dia sampai kapan pu….
Rinta sayang Andre Samuel
Siang Romo atau teman2 seiman,
Berkaitan dengan hepatitis C. Baru2 ini mami saya didiagnosa menderita Hepatitis C. Mami saya kemungkinan tertular dari operasi sebelum tahun 1992.
Sebelumnya saya tidak tahu banyak tentang penyakit ini, setelah mami saya terkena, saya banyak membaca mengenai penyakit ini terutama penularannya. Memang menurut teorinya melalui semua cairan tubuh, tetapi yg paling memungkinkan adalah kontak darah.
Yang menjadi problem saya sekarang, saya punya bayi, kadang suka luka2 kecil karena menggaruk, mami saya juga karena sudah tua kurang bisa diberi pengertian bahwa resiko tertular bisa karena luka tersebut. Memang banyak juga keluarga yang hidup bersama-sama bertahun2 tidak tertular. Tapi sekarang ini saya hidup dalam ketakutan, saya takut sekali bayi saya tertular oleh mami saya. Perasaan saya merasa bersalah kepada si kecil tapi juga ke mami saya, karena kesannya saya takut mendekati mami saya karena takut tertular.
Suami saya lebih bisa bersikap wajar dibandingkan dengan saya terhadap mami saya. Saya sendiri heran, saya berusaha terus menlogika, bahwa bertemu sekali2 atau berdampingan terus mempunyai resiko yang sama untuk tertular. Bahkan saya juga diberitahu dokter bahwa saya tidak bisa melindungi anak saya terus menerus karena dia juga akan bertemu dengan orang-orang disekitarnya yang banyak menderita hep C tanpa diketahui.
Saya takut sekali mami saya menulari bayi dan suami saya. Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada anak saya kalau sampai dia terkena hep C gara2 keputusan saya untuk mempertahankan mami saya dirumah. Saya juga merasa bersikap tidak adil kepada mami saya karena jika saya yang terkena pasti mami saya akan merawat saya tanpa takut tertular.
Mami saya tidak punya tempat tinggal lain dalam arti karena kedua saudara kandung saya sudah putus hubungan dengan mami saya karena minta uang terus menerus.
Saya bingung sekali. Disatu sisi saya ingin percaya bahwa niat baik tidak akan mendapat hukuman dari Tuhan. Saya ingin menyerahkan anak dan suami saya pada Tuhan.
Saya harus bersikap bagaimana, setiap kali saya ketakutan kalau anak saya berdarah.
Terima kasih.
Dear HB,
Kuncinya adalah percaya kepada penyelenggaraan Ilahi. Hepatitis C kan belum HIV. Kalau terhadap orang yang HIV saja kita diminta untuk mengasihi, apa lagi terhadap Hep C. Kalau ibu anda dan semua orang di rumah dijaga baik baik kesehatannya, bukan tidak mungkin semua baik baik saja. Lihat pengalaman Mr Key di atas, dia juga bisa sembuh.
Sekarang bicara saja berdua suami, terus terang dengan semua data. Kalian pikirkan bagaimana Tuhan melihat ini semua dan buat keputusan berdasarkan kehendak Tuhan. Selebihnya, berserahlah.
OK, jangan khawatir apapun di dalam Tuhan.
Salam berkat Tuhan, rin