Nyala Api Cinta
Cinta yang matang adalah seperti api tanpa asap. Asap cinta adalah iri hati, cemburu, rasa takut, kecewa, benci, rasa memiliki, ambisi untuk berkuasa, keinginan utk menjadi seseorang, keinginan akan kesenangan dan kepuasan, dst. Orang berpikir kalau ada asap pasti ada api. Kalau ada rasa cemburu, di sana ada cinta. Namun demikian, nyala api cinta yang berasap adalah nyala cinta yang tidak matang. Ia sesungguhnya bukanlah Cinta.
Nyala api Cinta ini tidak bisa dipikirkan atau dirumuskan. Ia bukan produk pikiran. Ia bukan kenangan masa lampau, bukan pula proyeksi harapan di masa depan. Ia bukan rasa-perasaan. Ia tidak punya motif, tidak punya tujuan. Ia bukan milikku dan bukan milikmu, bukan milik kelompokku dan bukan milik kelompokmu.
Nyala Cinta seperti itu akan terlahir kalau diri ini pudar. Pudarnya diri hanya mungkin kalau kita memahami masalah-masalah eksistensi kita sampai tuntas tanpa ambisi untuk mencari solusi. Diri yang bebas dari asap segala bentuk keinginan membuat nyala Cinta merekah. Cinta yang penuh asap membuat hidup menjadi pedih; Cinta yang bebas asap melahirkan Sukacita.
Nyala Cinta seperti ini membawa kita lebih dekat dengan Allah. Allah adalah Cinta. Maka kalau kita mencinta, kita menjadikan diri kita dekat dengan Allah. Cinta adalah jalan paling baik menuju Allah.
Mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (Bdk Mat 22:37) hanya mungkin kalau Cinta bebas dari asap. Dari pihak diri kita, mencinta berarti tidak ada bagian dari diri kita yang tidak kita serahkan kepada Allah. Mencintai Allah secara total berarti pudarnya diri atau berhentinya keakuan. Tidak ada pemberian diri secara total di luar peniadaan diri.
Dari pihak Allah, mencintai Allah berarti mencintai Dia seperti adanya, bukan mencintai yang bukan Allah. Hiburan-hiburan rohani yang sejati berasal dari Allah namun hiburan rohani itu sendiri bukanlah Allah. Mencintai Allah supaya mendapat hiburan-hiburan rohani bukanlah Cinta. Mencintai Allah supaya dapat memperoleh kesenangan dan kenyamanan duniawi bukanlah Cinta. Mencintai Allah supaya masuk surga bukanlah Cinta. Mencintai Allah karena motif atau tujuan apapun bukanlah Cinta.
Cinta kepada Allah tidak bisa tidak hanya tertuju kepada Allah Yang Tak-Dikenal. Hadiah atau berkah yang datang dari Allah patut kita syukuri kalau diberikan kepada kita, namun itu semua bukanlah yang terpenting dalam tindakan Cinta kepada Allah.
Allah yang kita kenal lewat konsep, gambaran, Kitab Suci, Teologi, bukanlah Allah yang sesungguhnya. Allah tidak bisa dijangkau dengan pikiran, pengetahuan, konsep, teknik, metode apapun. Mencintai Allah yang kita kenal hanya akan membawa kita bertemu dengan gambaran tentang Allah, tetapi bukan Allah yang sesungguhnya. Hanya melalui jalan Cinta, bukan pengetahuan, Allah Yang Tak-Dikenal ini bisa didekati. Cinta tidak menjadikan Allah sebagai objek pikiran, objek harapan, objek iman. Cinta adalah jalan sekaligus tujuan.
Gerak Cinta kepada Allah seperti ini memurnikan diri kita. Selanjutnya kita akan mampu mencintai sesama secara benar dan mencintai sesama hanya mungkin kalau kita bisa mencintai diri sendiri. Mengasihi sesama seperti diri sendiri (Bdk Mat 22:39) bukan sekedar perintah tetapi juga hadiah atau berkah. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka di sana ada sukacita. Begitu pula kalau kita mencintai sesama. Karenanya setiap kesempatan untuk mencintai sesama yang datang kepada kita merupakan tawaran berkah Allah.
Cinta terhadap sesama mendatangkan sukacita. Sukacita ini bukan datang dari rasa keakuan, adanya rasa memiliki, rasa menguasai, dst. Sukacita yang terlahir dari rasa keakuan tidak lain adalah kesenangan atau kepuasan. Dalam Cinta, tidak ada lagi aku, tidak ada lagi engkau. Yang tertinggal hanyalah Cinta yang melahirkan sukacita.
Mencintai Allah merupakan gerak yang terutama dan pertama; mencintai sesama seperti diri sendiri adalah sama dengan gerak yang pertama (Mat 22:38). Cinta yang tertuju kepada kepada Allah adalah sama dengan Cinta yang tertuju kepada sesama. Cinta Allah terhadap diri kita adalah sama dengan Cinta kepada sesama dan diri sendiri. Yang bisa mencintai diri sendiri pasti bisa mencintai Allah dan sesama. Yang tidak bisa mencintai Allah pasti tidak bisa mencintai diri sendiri dan sesama.
Cinta itu menyatukan dan melebur segala sesuatu. Ia meledak di Saat Sekarang, di luar waktu, memutus rantai masa lampau dan masa depan. Ia menyatukan orang yang mencinta dan yang dicinta. Tidak ada lagi aku dan tidak ada lagi engkau. Tidak ada milikku dan milikmu. Cinta memutus sekat hubungan diri, Allah dan sesama.
Dalam Cinta, semuanya terlebur dalam Allah. Lemparkan balok kayu ke dalam api, maka muncullah percik api. Api akan membakar kayu itu sampai habis. Akhirnya tidak ada kayu karena kayu sudah terlebur dalam api. Begitulah gerak cinta kepada Allah dan kepada sesama seperti diri sendiri. Aku dan sesama tiada; yang ada hanyalah Cinta dari dan kepada Allah. Mencintai Allah dengan sepenuh hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri menjadi satu gerak yang tiada beda.*







Komentar 1:
dear all,
seperti biasa, ketika saya membaca tulisan-tulisan Romo Sudri, saya harus membacanya tidak cukup sekali. Isinya sangat padat, setiap katanya terukur, dan perenungannya amat dalam. Sehingga “mengerti” saja tidak cukup, harus didalami dan difahami betul-betul.
Cinta -paling tidak bagi saya- tetapi menjadi mysteri, bukan dalam arti rahasia; melainkan diketahui-tetapi-dalam-waktu-yang bersamaan-tidak-diketahui. Sehingga dibutuhkan suatu metafora. Metafora yang diambil oleh Romo Sudri sangat tepat, yakni api. Api Cinta. Oleh karena itu ada ungkapan-ungkapan yang mengkaitkan antara api dan cinta, misalnya “Cintanya yang membara”, “cinta yang berkobar-kobar”, “cinta yang menyala-nyala”, “cintanya yang menghangatkan”, dst.
Kalau cinta itu sudah ada, bayangkan metafora api, yang tersisa hanyalah asap (Romo Sudri dengan tepat menyebutkan asap kecemburuan, asap iri hati, asap kedengkian, asap kemarahan, dll). Namun demikian, menurut renungan saya, nyala cinta itu membakar jiwa. Tetapi jiwa tidak menjadi merana. Karena kalau masih merana, maka jiwa belum sungguh terbakar. Pengalaman batin Mother Theresa membuktikan hal ini. Jiwanya sungguh telah terbakar oleh cinta kepada Kristus, Sang Mempelainya. Kadangkala ketika sisi kemanusiaanya muncul, ia mengalami desolasi luar biasa. Untunglah Pastor pembimbing rohaninya dan Bapa Uskupnya dengan sabar
membimbingnya menemukan “proses pembakaran cinta” jiwa Mother Theresa ini, sehingga Mother Theresa bisa menjalani dengan taat.
Terima kasih, Romo Sudri, atas kiriman renungannya.
salam,
Adh
Komentar 2:
Terima kasih sekali atas kiriman artikelnya. Isinya sangat bagus dan sangat dalam, jadi sepertinya butuh waktu untuk mengerti dan mencernanya, apalagi untuk mengaplikasikannya.
Kadang-kadang waktu membaca artikel Romo ada sedikit perasaan “penyesalan”, kenapa baru sekarang taunya ya, padahal isinya sangat filosofis sekali dan sangat perlu dipahami.
Sekali lagi terima kasih sekali Romo.
Best regards,
PMS
Komentar 3:
Dear All,
Tulisan Romo sudri sangat indah, ” Gampang dikatakan, susah dilaksanakan” namun kita harus striving for this goal; ada sedikit saja yang mengganjal dipikiran saya dan perlu kiranya saya kemukakan untuk kita renungkan;
Perintah Tuhan untuk ” mencintai sesama…… sudah jelas ada”, namun sebaliknya, perintah untuk ” cintailah dirimu sendiri…..” saya belum ketemu.
Untuk yang normal, semua orang tentu sangat mencintai dirinya sendiri, sehingga bukan masalah, menggunakan nya dalam perintah ” Cintailah sesamamu seperti engkau mencinti dirimu sendiri. Siapatah yang tidak mencintai dirinya sendiri? Namun ingat…. tidak ada perintah Tuhan untuk melakukannya.(keculai mungkin untuk mereka yang terlahir dengan cacat yang sangat fatal, mungkin saja dia membenci dirinya sendiri dan menginginkan kematian segera)
Sebaliknya saya temukan yang ini” Kamu harus bisa membenci orang tuamu, istrimu, nakmu,dan lebih dari pada itu… membenci dirimu sendiri”. Yang terakhir ini kalau boleh saya pendekkan, SAYA korbankan pribadiku untukmu, sudah selayaknya kamu korbanku AKU-MU untukku.
Mohon maaf, kalau sedikit mengganggu and thanking you in advance for ur comment.
Tq and my warm regard,
PJS
Komentar 4:
Dear Romo Sudri,
Terima kasih untuk tulisan nya, untuk mengerti secara baik saya mesti membaca beberapa kali karena tulisannya mempunyai filosofis yang mendalam sekali, saya banyak belajar dari tulisan-tulisan romo dan dalam tulisan kali ini saya belajar memahami cinta dalam arti sesungguhnya, melebur menjadi satu dengan Allah, sesama dan diri sendiri, “borderless” yang akhirnya melahirkan sukacita namun karena kelemahan secara manusiawi dalam kehidupan sehari-hari asap cinta selalu muncul yang semuanya itu bukanlah cinta dalam arti sesungguhnya. Cinta kasih yang tanpa asap mambakar hati kita sehingga mampu mencintai secara mendalam yang bagi saya masih merupakan proses untuk mencapainya.
Semoga kita semua mampu menuju kesana , cinta tanpa asap , memahami dan elaksanakannya yang sekali gus merupakan tujuan
Thanks and rgds,
mary
Komentar 5:
Seperti yang pernah saya katakan bahwa artikel-2 yang dibuat oleh Romo Sudri itu isinya sangat “dalam” dan “berat” untuk bisa betul-betul dimengerti. Jadi paling tidak butuh waktu untuk merenungkan dan mencernanya sampai bisa dimengerti dengan baik dan benar. Mengapa? Karena sampai dengan saat ini sepertinya kita masih sangat lekat dengan “Logika” dan “Keduniawian” kita, padahal yang coba disampaikan oleh Romo Sudri adalah sesuatu yang “di luar” itu semua. Jadi sepertinya memang sulit dan butuh waktu. Tapi anyhow dengan adanya beberapa pertanyaan dan diskusi yang kita lakukan juga akan sangat membantu pemahaman kita semua. Jadi terima kasih untuk semua dan terutama terima kasih untuk Romo Sudri. Tentunya kita semua menantikan buah-buah perenungan Romo yang lainnya lagi.
Best regards,
Petrus MS
Tanggapan S:
Ika bertanya: apakah Cinta bebas asap itu sama dengan unconditional love? Unconditional love itu hanyalah sisi lain dari conditional love, seperti halnya asap cinta itu kebalikan dari asap benci, suka dan duka, kenikmatan dan kesakitan, dst. Ego/keakuan masih bercokol di sana; itulah sumbernya asap. Tidak peduli asap kenikmatan atau asap kesakitan. Nyala Api Cinta yg sesungguhnya berada di luar dualitas, di luar asap itu semua.
Pak Petrus (PS) mengangkat soal mencintai diri sendiri. Bagaimana itu terjadi? PS sangat tepat menangkap intinya: “tidak ada Cinta terhadap diri tanpa membenci diri sendiri”. Jadi kuncinya adalah Cinta hanya akan terlahir kalau diri/ego/keakuan ini pudar atau berhenti.
Komentar 6:
Dear All,
Terima kasih Romo Sudri atas pembelajaran mengenai Cinta atau gerak nyala api cinta.
Sama seperti teman-teman yang lain, saya pun membacanya beberapa kali untuk bisa mencerna hehehe… maknanya dalam banget…. apalagi mengenai cinta yang tidak bisa dipikirkan/dirumuskan.
Intinya dari PS: “tidak ada Cinta terhadap diri tanpa membenci diri sendiri”, karena ada kebencian terhadap diri sendiri disitulah timbul Cinta terhadap diri.
Kata-kata itu mengingatkan saya dimana dulu saya pernah membaca buku mengenai sesuatu. Ntah bisa dihubungkan atau tidak karena ya mirip-mirip misalnya : tidak bisa dikatakan sehat diri kita ini tanpa mengalami sakit… dst… tidak ada laut tanpa ada sungai… dst. dan semuanya itu adalah CiptaanNya, hanya bedanya ini adalah riil sedangkan cinta tidak bisa dirumuskan.
Salam,
Syn
Komentar 7:
Wow………! dari kata ‘cinta’ aja..sudah terasa getaran halus yang merasuk jiwa memberi rasa nyaman…mungkin itu yang namanya ’sukacita’..
saya pernah baca kumpulan puisi Khalil Gibran..’sang nabi’ dari seorg sahabat saja rm. mardi,.entah dimana bukunya kini,, mesti dicari dulu,..paling mudah ya..ke tb gramedia…apa kata Khalil tentang ‘cinta’? CINTA…. Hanya cukup untuk CINTA (stop)…barangkali beliau saat baru menulis kata itu saja sudah merasakan getaran itu ya…dan…’sukacita’….hingga tak mampu diuraikan dalam tulisan lebih lanjut ya…
Ada lagi……dalam sebuah novel Paulo Coelho…dibilang: ‘CINTA’ adalah suatu penyakit yang semua orang ingin terjangkiti, dan bila sudah terjangkiti,..si penderita-nya tak ingin diobati.. he he….ok deh.. teman temanku sekalian..selamat menyibak ulasan ‘Suhu Yo’ tersebut dibawah ini…yang barangkali juga bagian dari oleh oleh beliau setelah masuk gua/meditasi beberapa waktu lalu….
(SI)
dear all,
klo sdh bicara Cinta, semuanya asti tertarik. hayo, siapa sedang jatuh cinta? Trima kasih renungannya Romo, trima kasih jg buat yg memasukkannya ke website ini krn sy berharap, bisa membantu banyak pribadi yg sdg bermasalah dengan hubungan antar personal karena Cinta. (waktu pertama kali dengar Romo bicara hal ini pada saat homili, sy ndak terlalu fokus krn lg di puncak ‘tekanan kerja’ hehehe..)
Sadarkah kita bahwa pemikiran dijalankan oleh hati? Ketika hati memberi kesimpulan, ia memerintah kepala untuk mencari alasan untk mempertahankan.
Ketika saya dan anda sekalian terpana membaca uraian Nyala Api Cinta, tanpa sadar kita semua masuk dalam arus waktu – bukan pada Saat Sekarang. Pikiran membawa kita menjauh dari Saat Sekarang yakni saat membaca tulisan Nyala Api Cinta. Sepintas kelihatannya tidak berarti, tetapi in fact kita terjebak pada arus pikiran dan waktu sehingga yang terlontar adalah beragam komentar dan ketidakberdayaan diri menanggapi tulisan ini karena harus beberapa kali membaca dst. Disinilah kesadaran menjadi tanda tanya, dalam bahasa Romo ‘anda sadar atau tidak sadar?’. Kesadaran works tidak tergantung pikiran, ia bahkan menyatukan pikiran, perasaan, keinginan, tindakan dan keseluruhan diri kita untuk memahami tulisan Nyala Api Cinta.
(Cinta yang saya lihat di sekitar saya tanpa harus menyebut dimana persis tempatnya, adalah Cinta hasil pikiran, rasa-perasaan, punya motif dan tujuan bahkan ambisi, tak jarang memaksakan kehendak yang mungkin secara tak sadar – untuk menguasai, eksistensi diri dsb., singkat kata: Cinta yang terkontaminasi, bukan Cinta yang murni.)
Saya cenderung menanggapi tulisan Romo ini dengan lebih santai, yg tentunya tidak bisa terbuka tanpa batas dalam forum ini. Kalau anda-anda memiliki cukup nyala Cinta yang merekah, seperti api tanpa asap, tentunya di dalam diri anda tidak ada asap Cinta karena anda memiliki pikiran yang jernih dan diri anda dipenuhi dengan sukacita…
Selamat datang Cinta. This is real, isn’t? Let us start things with Love every day from now on!
saya tergelitik turut menanggapi…
hati ? dalam salah satu pengertian Inggris – Inggris artinya terkait dengan perasaan cinta. Lalu mana yang lebih dahulu perasaan atau pikiran ?
Ada yang lebih dulu dimulai oleh pikiran kita dan ada yang mulai lebih dulu dengan perasaan. Dan tidak selalu satu sama lain harus terkait. Ketika kita bekerja tentu yang kita gunakan pikiran lebih banyak dibandingkan perasaan. Perasaan bisa terjadi ketika kita bersentuhan dalam lingkup komunikasi sosial dengan orang lain. Cinta tentunya lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan, dibandingkan pikiran. Cinta bersinggungan dengan pikiran ketika harus ada keputusan-keputusan yang harus dibuat.
Apakah cinta perlu dipikirkan, menurut saya tidak perlu… mengapa ? Karena Tuhan-lah yang membuat kita dapat men-cinta, karena Tuhan lebih dulu mencintai kita. Jadi sebenarnya cinta itu selalu ada. Seorang yang tidak percaya akan Tuhan hanya akan memiliki cinta selama ia hidup di dunia, karena yang ia miliki adalah cinta dunia. Ketika ia mati, ia kehilangan segala-galanya, termasuk cinta dunianya. Tetapi kita yang percaya akan Allah, tidak akan kehilangan segala-galanya, sebaliknya kita justru semakin dekat dengan Sumber cinta itu sendiri.
So, cinta itu nyata, hanya bila seorang percaya cinta itu ada. Seorang Katolik harus percaya bahwa cinta itu ada. Karena Tuhan lebih dulu memberikan cinta itu kepada kita. Karena Ia merelakan Putra-Nya yang tunggal, Yesus untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita kelak dapat kembali kepada-Nya.
So, percaya artinya tidak perlu dipusingkan dengan logika manusia yang tidak mungkin mampu menyingkap misteri cinta Ilahi seutuhnya. Because, Faith is not a feeling.. Iman bukan perasaan.
Kita percaya kita dilahirkan kembali, bersih dari dosa asal, saat kita dibaptis, Apakah ada perasaan yang berbeda sebelum dan sesudah di baptis ?
Kita percaya setiap kita datang ke perjamuan Ekaristi Kudus, kita menerima Tubuh Kristus sendiri dalam rupa roti dan anggur, apakah ada perasaan yang berbeda sebelum dan sesudah menerima hosti ?
Kita percaya, dosa-dosa kita diampuni dalam Sakramen Tobat, apakah ada perasaan yang berbeda sebelum dan sesudah mengaku dosa ?
Mungkin ada yang merasa berbeda, namun mungkin ada yang tidak.. tetapi semua itu tidak penting, yang penting adalah kita percaya !
Santo Agustinus berkata, “Setiap gambaran hidup yang benar dari suatu kehendak berasal dari cinta yang benar ” (de Civ. Dei, XIV, ix).
Dan dilain tempat ia mengekspresikannya dengan indah “Quid est ergo credere in Eum? Credendo amare, credendo diligere, credendo in Eum ire, et Ejus membris incorporari. Ipsa est ergo fides quam de nobis Deus exigit—et non invenit quod exigat, nisi donaverit quod invenerit.” (Tract. xxix in Joannem, 6. — “Lalu apakah, percaya akan Allah itu ? — yaitu mencinta-Nya dengan percaya, pergi kepada-Nya dengan percaya, dan disatukan dalam anggota-anggota-Nya. Inilah iman yang Allah inginkan bagi kita; dan Dia tidak mencari sesuatu kecuali sesuatu yang telah Ia berikan agar ditemukan-Nya)
Sya jadi teringat kembali perkataan Mother Theresa:
Love is to give until it is hurt…
Satu lagi dari beliau:
To learn how to love start with your own family..
Mother Theresa
12 April 1998
Salam Damai dan Sejahtera,bagi..sahabat-sahabat ku dimeditasi
atau siapa saja yang suka mampir,di web ini.kalau -kalau saja,di dalam hati dan kata batin kalian sama dengan kami..
saya.tidak pernah bosan untuk,menilik sering-sering ke web ini.karena sangat baik dan banyak manfaat yang saya dapatkan,tanpa pilih saat ini,saya mencoba kembali,menuangkan apa,yang telah saya dapatkan saat ini,begitu membuka NYALA API CINTA.
pas,kami ini yang baru juga pulang dari retret yang telah kami dapatkan,beberapa hari yg lalu.,sehingga
tindakan murni atau presepsi murni,langsung begitu saja.
karena hal baik terus,yang kami terima saat ini,sehingga kenangan baik juga,mudah kita berikan kepada siapapun walau dalam tulisan.sehingga cinta yang matang terus terasa.
cinta indah tanpa asap,karena diri ini pudar,hanya cinta memandang,mengasihi,mengerti dan menutupi segala kekurangan baik siapapun,,dalam keluarga atau orang-orang yang terdekat pada kita,sahabat-sahabat kita
karena,tali persaudaraan yang baik mendatangkan dari sahabat-sahabat sejati.
dalam,meditasi retret kita kemarin,salah satu nya,hanya menghadirkan Ia,memimpin di dalam hati setiap pribadi-pribadi
bukan lagi,aku.bukan lagi kamu atau bukan lagi anda..melainkan
hanya IA,yang..tak terlihat,menyadari kalau sahabat-sahabat yang berada dekat kita,yang menjadikan..cinta itu merekah.
karena,kemarin ini,retret yang menjadikan 2 tahap.keperdulian
seorang romo sudri lah yang,bisa kami mendapatkan rongga waktu.sehingga semua dapat leluasa memilah wkt yang sangat tepat untuk setiap pribadi
tiada lagi Asap Cinta di sini;iri,cemburu ambisi untuk berkuasa,apalagi kebencian.
karena,pengajaran meditasi retret ini,menghapus ini semua,untuk lebih menyadari..dan melepas ke ego-an..dan belajar membuang keinginan-keinginan duniawi,
biarlah dengan tulisan baik ini juga,kami para pemeditasi lebih
peka,dan kembali menyadari kata-kata yang banyak mengandung arti
dan semakin rajin,membenahi diri untuk lebih pada kebaikan-kebaikan sejati.
cinta dan kasih
sahabat mu
Api yang kecil akan menimbulkan asap ,oleh karena nya biarkan lah ia membakar.
Dan api selalu datang dari luar tumpukan kayu,dan kayu tidak
dapat menyalakan diri sendiri… dan biarkan lah api
cinta Illahi menyala nyala …
Vibrasi Semesta-Vibrasi Cinta
Memandang langit biru, burung-burung terbang
Sesekali sayap-sayap itu dikepakkan, sesekali mereka melayang
Menghampar di rerumputan hijau
Seekor kumbang berdengung, menari-nari…
Kelopak bunga jadi panggung-nya
Hati-ku, ada kalanya, kau bagai dihembus angin cinta
Pada segala arah pandangmu kau tujukan
Pada segala bebunyian itu kau dengarkan
Hati-ku, amboi ! lagi-lagi kau serasa dijalari vibrasi cinta
Dimana syakwasangka:
tentang ini-itu, tentang dia, tentang mereka, dan segala sesuatunya,
bukan monopoli sekalian mahluk semesta
Kasih dari Bapa Surgawi memenuhi tempat ini
Tiada kepalsuan tiada otoritas diri
Mengalir bagai air dari surga
Wajah asli mekar berseri bagai bunga di taman surgawi
Wahai langkah kaki kemana engkau pergi
hati merekah tanpa tebar pesona diri
Engkau yang memurnikan dan membersihkan anak manusia dari cinta diri
Engkau yang menghidupkan dan mengobarkan cinta di hati
Engkau yang Maha Tinggi, kasihMu yang kekal membuat penghuni bumi berserah kepadaMu
Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya,
tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1Yoh4:20b)
For everything, absolutely everything,
above and below, visible and invisible,….
everything got started in Him and finds its purpose in Him
You are who you are for a reason
You’re part of an intricate plan
you’re precious and perfect unique design,
Called God’s special woman or man…..