Nikah 6 tahun belum punya anak, istri tidak puas
Aku sdh nikah selama 6 tahun. Tapi aku blm juga dikasih momongan,aku coba periksa ke dokter katanya sehat keduanya ,untuk periksa ke dokter yg lebih bagus lagi aku kebentur kebutuhan ekonomi .Kita berdua hanya bisa pasrah dan berserah diri pada yg maha kuasa . kadang kita berdua putus asa untuk menghadapi ini .Untung Sekali aku diberi kepercayaan untuk merawat keponakanku dari dia bayi , aku benar benar merasa menjadi seorang bapa dan keluarga yg utuh .tapi istriku blm puas kalau bukan dari rahimnya sendiri , aku harus bagaimana untuk menghadapi semua ini ?
Anton







Saya pikir kalian berdua bisa ikut program marriage encounter, menemukan kembali arti dari sebuah pernikahan Katolik. Menemukan kembali cinta yang menyatukan kalian dalam sebuah pernikahan yang diberkati Allah.
coba mencari info di paroki anda berdomisili agar dapat mengikuti kegiatan ini.
Sementara itu, saya rasa anda dan isteri perlu menemukan cara untuk belajar mengucapkan syukur dan belajar untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam segala hal.
Dan satu lagi yang terpenting, jangan berhenti berdoa, doa orang benar besar kuasanya..
Mas Anton,
Ajaklah istri mas untuk melihat bahwa apapun yang diberikan Tuhan adalah baik. Tuhan pasti memberikan keadaan kalian belum punya anak kandung dengan tujuan baik. Misalnya ya untuk dapat menolong keponakan kalian. Atau agar kalian menjadi lebih dekat satu sama lain. Atau agar kalian lebih punya kesempatan untuk menolong orang lain.
Kalau Tuhan pikir baik untuk kalian punya anak, pasti Tuhan akan memberikannya. Sebagai sharing, saya punya sahabat yang 17 tahun menikah tapi belum juga mendapatkan anak. selama bertahun tahun dia selalu bertanya,”Mengapa? Apakah Tuhan tidak mengasihi kami?”
Setelah sekian belas tahun akhirnya mereka tau jawabnya,”Kelihatannya Tuhan memang mengasihi kami dengan tidak ada anak. Sekarang kami memang harus mengurus kedua orang tua kami yang renta. Kalau kami ada anak, bagaimana kami harus mengurus mereka?”
“Apa mbak tidak khawatir siapa yang akan mengurus mbak kalo besok tua?”
“Ah, itu sih pasti diurus Tuhan. Sekarang saja kami diurus Tuhan, masa’ aku harus khawatir besok gimana?”
Berbahagialah kalian berdua, karena kalian dikasihi Tuhan dengan belum ada anak. Jangan pernah menyesali Tuhan. Bersyukurlah selalu.
Tapi selain bersyukur, boleh juga mohon doa St. Antonius Padua agar kalian bisa mendapatkan anak. Novena ya.
Salam berkah Dalem, rin
Anda harusnya berbahagia ketika dikaruniakan suatu keberanian untuk memiliki keturunan.
Hingga saat ini saya dan Istri belum memiliki keberanian untuk memiliki seorang keturunan. Kami tahu bahwa hal itu dilarang oleh Gereja. Tapi kami ingat ajaran di kursus pernikahan bahwa
1. Pernikahan untuk kesejahteraan kedua pasangan.
2. Anak bukan tujuan pernikahan
Jadi saya rasa, ada atau tidak hadirnya seorang anak tidak bisa dijadikan patokan kebahagiaan pasangan.
Sejauh ini saya dan istri memiliki banyak pertimbangan dalam memiliki keturunan.
Kami merasa bahwa orang tua adalah sumber kebahagiaan anak, bukan kebalikan, karena apabila kita berpikir bahwa anak adalah sumber kebahagiaan orang tua maka kita membebankan suatu tugas untuk membahagiakan orang tua kepada anak. Bagaimana bila anak ternyata cacat, bisa kah kita membahagiakan mereka, bisakah kita bahagia dengan hadirnya mereka? Bagaimana apabila anak kita menjadi seorang penjahat? Anak kita ternyata memiliki kelainan psikologis, bagaimana kalau anak terlahir dengan penyakit kritis sanggup ah kita mengantar kepergiannya. Bisa kah kita berbahagia dengan hadirnya anak dengan keadaan seperti itu?
Hal hal tersebut yang menyebabkan kami belum berani untuk menerima hadiah yang teramat sangat berarti ini. Mungkin apabila tiba saatnya kami sudah siap kami akan memiliki keturunan, tetapi apabila ketika itu kami sudah tak mampu memiliki, kami juga sudah sepakat kalau masih banyak anak yatim piatu yang membutuhkan kasih sayang orang tua, dan kami bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka.
Semoga cara pandang saya dapat mengharmoniskan kembali hubungan anda dengan Istri anda. Jangan jadikan anak alasan untuk mencapai kebahagiaan suami istri.
@RAy C,
yang diajarkan khusus perkawinan itu salah besar..
dari Katekismus Gereja Katolik mengenai sakramen Perkawinan
“1601 “Perjanjian Perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suiami-isteri serta pada kelahiran dan pendidikan anak;, oleh Kristus Tuhan Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen” (CIC can. 1055, ? 1).”
Kitab Hukum Kanonik yang menjadi referensi di sana, tertulis :
“1055 § 1 Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen.”
jadi sifatnya bukan saja pada kesejahteraan suami dan isteri tetapi juga pada kelahiran dan pendidikan anak..
menghalangi kehadiran seorang anak dengan sengaja tanpa alasan yang serius adalah dosa berat karena menghalangi kehendak Allah. Termasuk bila melakukan hal itu dengan menggunakan kontrasepsi buatan.
saya kutipkan dari dokumen Gereja “Humanae Vitae”
“Hence, one who reflects well must also recognize that a reciprocal act of love that jeopardizes the responsibility to transmit life that God the Creator, according to particular laws, inserted therein, is in contradiction with the design constitutive of marriage, and the will of the Author or life. To use this divine gift destroying, even if only partially, its meaning and its purpose is to contradict the nature both of man and of woman and of their intimate relationship, and therefore it is to contradict also the plan of God. (HV 13)”
saya terjemahkan bagian terakhirnya :
“menggunakan penghancur pemberian Ilahi (kontrasepsi), bahkan walaupun hanya sebagian, artinya dan tujuannya menentang alam baik dari pria dan wanita dan hubungan intim mereka, dan karenanya hal itu menentang juga rencana Allah.”
dan selanjutnya :
“Neither is it valid to argue, as a justification for sexual intercourse which is deliberately contraceptive, that a lesser evil is to be preferred to a greater one, or that such intercourse would merge with procreative acts of past and future to form a single entity, and so be qualified by exactly the same moral goodness as these. Though it is true that sometimes it is lawful to tolerate a lesser moral evil in order to avoid a greater evil or in order to promote a greater good, it is never lawful, even for the gravest reasons, to do evil that good may come of it—in other words, to intend directly something which of its very nature contradicts the moral order, and which must therefore be judged unworthy of man, even though the intention is to protect or promote the welfare of an individual, of a family or of society in general. Consequently, it is a serious error to think that a whole married life of otherwise normal relations can justify sexual intercourse which is deliberately contraceptive and so intrinsically wrong. (HV 14)”
saya terjemahkan bagian terakhir :
“Adalah kesalahan serius berpikir bahwa keseluruhan kehidupan perkawinan dari hubungan yang normal dapat membenarkan hubungan seksual yang dengan sengaja kontraseptif dan karenanya secara hakiki salah.”
yang diijinkan adalah bila ada alasan serius, maka diperkenankan menunda atau menghindari kehamilan tetapi hanya dengan cara KB alami.
If, then, there are serious motives to space out births, which derive from the physical or psychological conditions of husband and wife, or from external conditions, the Church teaches that it is then licit to take into account the natural rhythms immanent in the generative functions [Pope Paul VI, Humanae Vitae 16]
For just reasons, spouses may wish to space the births of their children. It is their duty to make certain that their desire is not motivated by selfishness but is in conformity with the generosity appropriate to responsible parenthood. Moreover, they should conform their behavior to the objective criteria of morality. [Catechism of the Catholic Church 2368]
However, profoundly different from any contraceptive practice is the behavior of married couples, who, always remaining fundamentally open to the gift of life, live their intimacy only in the unfruitful periods, when they are led to this course by serious motives of responsible parenthood. This is true both from the anthropological and moral points of view, because it is rooted in a different conception of the person and of sexuality. The witness of couples who for years have lived in harmony with the plan of the Creator, and who, for proportionately serious reasons, licitly use the methods rightly called “natural,”, confirms that it is possible for spouses to live the demands of chastity and of married life with common accord and full self-giving. [Pontifical Council for the Family, Vademecum for Confessors Concerning Some Aspects of the Morality of Conjugal Life, 2.6]
May God help you and your wife to know and to do His will..
Wow,
With a mind set like these, by 2025 we would have 8 Billion mouth to feed, no jobs and not enough food supply. But what can we do? its God’s and nature’s will. Beside if you dont have children there is no regeneration on churches follower, and considering the competition with other religion, well lets just say the more is better, just incase another crusade is needed we would have enough troops to fight back, but alas no food to provide.
Be reasonable, that kind of a mind set is perfect for middle ages where human population is small and labor force is in high demand. More over war is every where. But these time and age… you bring children to a world of harsh competition of survival. Is this what God really wants? Breed until you’re overpopulated and die from it. I believe the word is “SUSTAINABILITY”.