Mutasi Total dalam Kesadaran
Apa jadinya kalau anda sama sekali tidak tidur berhari-hari? Bukankah anda akan merasa lelah dan tidak waras? Pikiran yang tidak sungguh kita butuhkan, yang terus bergerak juga pada saat tidur, membuat batin dan tubuh kelelahan. Sebaliknya kalau bisa tidur nyenyak pada malam hari, bebas dari mimpi buruk atau mimpi indah, kita bangun di pagi hari dengan kondisi fisik dan emosi yang segar.
Meditasi adalah seperti tidur nyenyak, tetapi bukan dalam keadaan tidak sadar. Seluruh instrumen kesadaran lama musti berhenti total, seperti orang tidur nyenyak. Berhentinya kesadaran lama ini akan melahirkan kesadaran baru dan hanya dalam kesadaran baru ada kemungkinan kita hidup benar dan waras.
Perubahan yang sesungguhnya dalam struktur-struktur sosial dan relasi-relasi sosial—dalam politik, ekonomi, budaya, agama, hukum, masyarakat, keluarga, hubungan inter-personal, dst—juga musti bersumber dari perubahan total dalam kesadaran.
Tidak ada batin di luar seluruh isi kesadarannya dan perubahan yang sesungguhnya musti bersumber dari luar batin. Dengan demikian perubahan yang sesungguhnya tidak tersentuh oleh kesadaran lama.
Untuk menghasilkan perubahan yang sesungguhnya, gerak kesadaran lama setiap kali musti berakhir. Kesadaran lama ini bermanifestasi dalam gerak pikiran dan perasaan sebagai response ingatan terhadap tantangan. Ingatan atau pikiran adalah masa lampau. Tidak ada kesadaran lama yang tidak digerakkan oleh masa lampau. Agar kesadaran baru terlahir, batin karenanya musti bebas seutuhnya dari berbagai bentuk kesadaran lama: ideologi, kepercayaan, dogma, tradisi, pengetahuan, pengalaman, teori, rumusan, dst.
Kita semua ingin perubahan dan kita menggerakkan perubahan hidup dengan instrumen kesadaran lama yang adalah pikiran atau si pemikir. Melalui pintu kesadaran lama ini kita mencari pengalaman yang bermakna menurut ukuran pikiran. Pengalaman itu kita simpan dalam ingatan dan kemudian terus menjadi latar-belakang dalam cara kita merespons tantangan. Karena pengalaman kita terbatas atau terkondisi, maka response kita terhadap tantangan selalu tidak mencukupi. Tantangan selalu baru dan berubah setiap saat, sementara cara kita meresponse tidak pernah berubah. Selama kita belum bebas dari seluruh isi kesadaran batin–betapapun itu dianggap berharga, baik, benar, luhur, suci–betapapun hanya sekian detik setiap saat, maka kita belum akan melihat perubahan signifikan dalam hidup kita.
Pengalaman bawah-sadar lebih kuat lagi menjadi daya dorong sikap, keinginan, dan tindakan kita. Bawah-sadar adalah endapan kesadaran lama. Kita berpikir dengan pola tertentu, merasa dengan pola tertentu, bertindak dengan pola tertentu. Kesadaran lama dan bawah-sadar ini menggerakkan batin seperti binatang yang berpikir atau seperti mesin otomat.
Kesadaran lama yang bermanifestasi dalam pikiran dan perasaan ini biasanya bergerak setelah indra bekerja, tetapi indra bisa bekerja tanpa kesadaran lama. Berbeda dari kesadaran lama, kesadaran baru ini bekerja tanpa tergantung pada indra. Indra yang merupakan fungsi tubuh dalam berhubungan dengan dunia luar bisa aktif atau diam dan kesadaran baru tetap bisa bekerja tanpa bergantung kepadanya.
Ketika otak diam atau tidak berfungsi, orang tidak mungkin bisa berpikir atau merasa. Ketika otak diam, kesadaran lama berhenti. Saat itulah kesadaran baru muncul. Ia muncul dengan sendirinya, tidak bisa dibuat supaya muncul. Ia bukan milik anda, bukan milik saya. Kesadaran ini universal sifatnya. Ia tidak berawal, tidak berakhir. Ia bergerak melampaui waktu.
Tidak ada kesadaran baru tanpa mati secara psikologis dari saat ke saat, mati dari apa saja yang dikenal. Kematian dari apa saja yang dikenal oleh pikiran dan perasaan atau oleh kesadaran lama pada awalnya menciptakan pengalaman kekosongan atau kegelapan batin. Orang tidak akan mampu memahami pengalaman kekosongan ini dengan instrumen pikiran betapapun ia berusaha keras untuk memahaminya.
Biasanya pengalaman kekosongan atau kegelapan ini disertai dengan rasa-perasaan sakit atau menyiksa begitu dalam. Orang bisa dibuat takut dan bingung menghadapinya seperti dalam metafora tentang akhir jaman atau akhir waktu: ”Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” (Mat 24:29) ”…Bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubungan dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.” (Lukas 21: 25b-26)
Apa yang dimaksud dengan kekosongan atau kegelapan batin? Dalam kesadaran sehari-hari, kita menyebut gelap ketika tidak ada terang. Tetapi kegelapan juga bisa berarti terlalu banyak terang. Coba anda keluar ruangan di siang hari dan menatap matahari secara langsung. Apa yang anda alami? Bukankah dalam sekejap kegelapan melingkupi anda dan anda tidak melihat terang sekalipun matahari tetap bersinar? Jadi, kegelapan di sini merupakan efek langsung dari perjumpaan dengan sumber cahaya.
Sumber cahaya ini bukan dan tidak akan pernah bisa menjadi objek dari kesadaran lama. Sekalipun kesadaran lama mau memaksa untuk melihatnya secara langsung, ia tidak akan bisa melihat atau menembusnya. Sebaliknya, justru kegelapan itulah yang dilihatnya dan kegelapan itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Perjumpaan dengan sumber cahaya itu justru membuat kesadaran lama ini tidak berfungsi.
Kesadaran baru adalah cahaya itu sendiri yang menerangi kegelapan. Kesadaran lama tidak lain adalah kegelapan itu sendiri yang menutupi penglihatan langsung atas sumber cahaya. Ketika kekosongan atau kegelapan itu diamati tanpa si pengamat, tanpa intervensi beban-pengaruh masa lampau, tanpa keinginan halus untuk melarikan diri, maka dari kekosongan itu muncullah sesuatu yang sungguh baru yang bukan sekedar lawan dari yang lama. ”Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. Apabila semuanya itu terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (Lukas 21: 27-28)
Dalam lorong kekosongan terbukalah cakrawala pemahaman mengenai kebenaran halus di luar pikiran, di luar waktu. Kalau kita berjalan sejauh ini, maka kita akan tahu tidak ada perubahan yang fundamental yang tidak bersumber dari kekosongan ini.
Hidup dalam kesadaran baru menghapus pandangan dualistik: objek dan subjek, pikiran dan si pemikir, aku dan Tuhan, manusiawi dan ilahi, kajahatan dan kebaikan, dst. Segala sesuatu tampil seperti apa adanya, tidak kurang tidak lebih. Kesadaran lama bekerja secara dualistik, selalu membuat pemisahan subjek-objek; sementara kesadaran baru tidak mengenal dualitas subjek-objek. Kesadaran lama bergerak dari ingatan, pikiran, waktu; kesadaran baru bergerak di luar ingatan, di luar pikiran, di luar waktu. Kesadaran baru bekerja seperti cahaya yang membebaskan langkah kita dari bayang-bayang masa lampau atau masa depan.
Dengan menegasi kesadaran lama secara total, maka ada kemungkinan kesadaran baru terlahir. Bisakah mutasi kesadaran berlangsung dari saat ke saat dalam hidup kita?*







Terima kasih Romo..
Mmg benar adanya. kita tak akan dapat mengerti dan tidak akan mengetahuinya jika kesadaran tersebut tidak dilatih.Kesadaran baru mmg perlu dilatih dr saat ke saat.
Ketika kesadaran baru itu muncul dr saat ke saat membuat semangat hidup berbeda, dlm mengambil suatu keputusan,akan berbeda, dan menjalani hidup tanpa beban,walaupun masalah silih berganti. Namun dlm menyikapi masalah,baik pekerjaan or di luar pekerjaan,dpt lebih baik. Dan tdk melulu emosi dan ego yg tdk diperlukan,yg didahulukan. Kita akan lebih bijak, lebih sabar, namun ttp memiliki ketegasan jg dan itu akan terlihat ke luar dr sikap dan tutur kata yg tidak dibuat-buat.
Tuhan memberkati.