Merasa dikalahkan ibu mertua, ingin cerai

salam sejahtera dan kenal Romo. langsung saja ya romo. saya katolik dan menikah dengan wanita katolik. sejak setahun yang lalu, kami tidak tinggal serumah. masing2 dari kami tinggal bersama dengan ibu yang sama2 sudah janda. kami sdh dikaruniai seorang putra yang setiap harinya diasuh oleh ibu mertua. sebenarnya ibu saya juga ngin membantu mengasuh tapi karena harus bekerja (meski wiraswasta) sangat kerepotan dan kasihan pada anak kami karena disana tidak ada tempat tidur.setiap hari pulang kerja, saya sempatkan mampir ke rumah mertua untuk bertemu dg si buah hati. lalu pulang kerumah.biasanya hanya sabtu dan minggu, anak dan istri saya ajak tidur di rumah tapi jika diajak setiap hari tidur rumah selalu tidak bersedia. jika tidak ingat anak, istri sudah saya ceraikan setahun yg lalu ketika saya beri tawaran ikut suami atau ikut ibunya dan dia memilih ikut ibunya. sementara jalan awal yang saya ambil sprt ini.

jika ada pertanyaan kenapa saya tidak mengalah dan ikut tinggal bersama istri: tidak mau! jawab saya. kenapa? dirumah istri hak saya sbg kepala rumah tangga direnggut ibu mertua. segala keputusan berasal dari ibunya. dan di sana tinggal kakak nomor 3 yang sifatnya kayak benalu. kredit motor tp yg bayar ibu dan istrikku. padahal uang gajiku tiap bulan aq setor ke istri. dan di sana saya merasa tidak punya privasi sama sekali. kamar tidur kami, jika saya tidak ada digunakan oleh keluarga istriku, karena di dalam ada fasilitas hiburan. mulai dari ps, tv, dvd, ac, dll. memang di ruang keluarga saya juga sediakan hal yg kurang lebih sama. saya tidak keberatan kamar tidur kami digunakan bersama2. tp sering saya kehilangan barang yg seharusnya ada di tempatnya. malam pulang kerja capai tiba2 bantal dan guling sudah pindah ke kamar lain. dsb..

saya sudah sering mengajak istri saya untuk membahasnya tapi tidak pernah memberikan hasil yang memuaskan. saya merasa sprt sapi perahan.kerja setiap bulan setor ke istri tapi tidak pernah menikmatinya. makan, minum, numpang ibu saya. sbg imbalannya, setiap libur kerja saya yang mencuci mobil dan motor ibu (ada 3 motor).

lucu juga, dari menikah smp skr (sdh 3 th) baru 3 kali saya merasakan masakan istri. jadi bisa dibayangkan betapa mandirinya saya sbg suami. mencuci-setrika sendiri, menyiapan segala sesuatu sblm kerja juga saya lakukan sendiri. semua serba melayani diri sendiri bahkan ntuk urusan pribadi (kebutuhan rohani-juga saya layani diri sendri).

saat ini saya masih berusia 29 th. mumpung msh muda dan untuk ukuran skr terbilang sukses. selain kerja di instansi asing, saya masih ada tambahan dari bisnis kopi luwak. ada pikiran saya u membatalkan pernikahan dan kemudian mennikah lagi. mengingat banyak yg masih suka.

menurut romo bagaimana. kalau hrs menghadap romo paroki saya tidak berani. saya malu. selain beliau yang menikahkan kami, beliau juga masih teman akrab. selama ini saya berusaha menutupi dari dunia luar. tapi lama2 saya tidak tahan. mohon pencerahannya. terima kasih sebelumnya.

YGS

6 Responses to “Merasa dikalahkan ibu mertua, ingin cerai”

  1. hello sdr. YGS…

    Pkenankan sy bkomentar yach, meski anda minta pncerahannya dr romo…

    Saudara, saya mrasa geli ktika mbaca surat anda d atas. Geli karena ego anda rasanya masih sama sperti ktika anda msh lajang.

    Mmm, meski sy masih single namun sy telah mlihat bny khidupan pkawinan yg lebih buruk dr yg anda alami skarang. Knyataannya, khidupan pkawinan tsb tdk brakhir dg pceraian. Hanya satu alasannya yaitu apa yang telah dpersatukan oleh Allah tak dpt dpisahkan oleh manusia.

    Bagaimana pun juga pkawinan itu adalah yang dua mnjadi satu…bukan hanya anda dan istri sj yg mjd satu, namun kedua pihak keluarga anda pun mjadi satu. Jk anda tidak mampu mperlakukan keluarga istri anda sperti keluarga anda sendiri, maka ptanyaan saya: kenapa anda mnikah?

    Skarang anda masih tjebak d dalam ego anda, dan slama anda masih tjebak d dalam ego anda, maka pnikahan berikutnya pun dpastikan akan gagal.

    Sbelum anda mmutuskan, silahkan anda mrenung dahulu dlm keadaan tenang dan diam, supaya anda mampu mlihat keadaan yg sbenarnya. Jk anda telah mrenung dlm keadaan tenang dan diam dan anda tetap merasa benar, maka silahkan anda selami dr batin anda kenapa anda dahulu memutuskan untk menikah.

    Dmikian dari saya, mohon maaf jk tdapat kata2 yg kurang bkenan.

    Salam,
    Nn

  2. Dear Mas YGS,

    Wah hebatnya! Bisa swalayan apapun…. heheheee… sorry, nggodain!

    Mas,
    mumpung mas mampu ajaklah keluarga anda membangun rumah sendiri. Entah kontrak dulu, entah beli nyicil pokoknya keluar dari rumah mertua dan rumah ibu anda. Kalau diajak ke rumah ibu anda ya memang mungkin saja istri tidak mau. tapi kalo dia pikir nanti dia bisa punya rumah sendiri kan mungkin dia mau. atau dia mau kehilangan suaminya?

    Berdoalah.

    Salam, rin

  3. @YGS, saya pikir anda perlu membeli rumah sendiri sebagai jalan tengahnya, dan mengajak isteri dan anak anda tinggal bi sana.. bila diminta memilih tentunya sang isteri lebih suka tinggal bersama ibunya dibandingkan tinggal bersama ibu anda.

    Cobalah mendiskusikan ini dengan sang isteri, dan bila setuju mulailah merencanakannya, mulai dari perencanaan anggaran, melihat-lihat lokasi dan rumah yang akan dibeli (mungkin anda mencari lokasi yang tidak jauh dari rumah ibu anda, bila ibu anda tinggal seorang diri. sedangkan ibu isteri anda masih ada yang menemani), hingga mengisi rumah dengan perabotan dan peralatan RT. Ini pasti menjadi kegiatan yang mangasyikan anda lakukan berdua. dan anda pulang kerja tidak ke ibu, melainkan ke keluarga anda.

    Mengenai keuangan, pro kontra menyerahkan seluruh penghasilan untuk isteri yang mengatur. walaupun pilihan pro yang anda pilih, anda pun boleh meminta melihat dan memiliki hak suara terhadap pengeluaran yang terjadi selama 1 bulan. Jadi mulailah bersama-sama menyusun keuangan bersama. Berapa yang menjadi pengeluaran rutin RT, pengeluaran untuk hobby, pengeluaran untuk bersenang-senang, pengeluaran biaya kartu kredit atau pembayaran kredit, pembelian reksadana, rencana pendidikan anak, menabung, hingga dana darurat. Anda boleh mengajukan keberatan misal bila dana itu digunakan untuk mencicil motor saudara isteri, anda bisa mengalihkan seluruhnya atau sebagian dari dana tersebut untuk dana pendidikan anak atau dana darurat misalnya. Ini juga mendorong saudara isteri juga bertanggung jawab terhadap cicilan motor tersebut (karena motor itu dicicil atas namanya, bukan atas nama anda)
    Anda tidak perlu keberatan jika anggaran yang anda miliki cukup untuk digunakan untuk keperluan sehari-hari RT mertua. Khususnya memang biaya tersebut hanya bisa dipenuhi oleh anda melalui isteri anda (saudara-saudara isteri anda yang lain tidak mampu turut serta membantu)

    nah sementara itu, anda harus mengubah cara berpikir anda yang cenderung terbentuk karena emosi. Jangan berpikir bahwa anda seperti sapi perahan, karena anda adalah kepala keluarga anda memang harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan anak dan isteri anda. Bagaimanapun saya percaya penghasilan anda dinikmati juga oleh mereka. menurut saya anda kurang bersyukur atas apa yang anda miliki hari ini. anda seharusnya bersyukur memiliki Pekerjaan dan juga keluarga hari ini. kesalahan yang anda buat adalah tidak membicarakan kondisi ini di masa lalu sebelum anda menikah dan memutuskan yang terbaik. Tetapi buat apa anda sesali hari ini, bukankah lebih baik mencari jalan keluar terbaik bersama-sama ? bukankah itu yang disebut sebagai keluarga ? mengapa anda malah berpikir mengambil jalan pintas untuk berpisah ? tidakkah anda berpikir mengenai apa yang anak anda akan alami bila itu anda lakukan ? pikiran anda itu justru terlihat lebih mementingkan apa yang terbaik bagi anda, bukan yang terbaik bagi keluarga anda.
    and anyway, pernikahan anda tidak memiliki alasan sama sekali untuk dibatalkan. Jadi buang jauh-jauh pikiran itu dari diri anda
    Jadi berhentilah untuk memikirkan apa yang terbaik bagi anda, tetapi terbaik untuk keluarga. Diskusikan dengan isteri anda dan carilah jalan keluar terbaik, anda berdua perlu memikirkan kesejahteraan anak anda, bukan kesejahteran dan kenikmatan masing-masing individu. Bila perlu anda dan isteri anda bertemu dengan konselor pernikahan (mungkin juga psikolog) atau konselor keuangan untuk membicarakan masalah ini dengan bijaksana.

    May God bless your steps

  4. Dear YGS,

    Apa yang dialami anda sekarang hampir mirip dengan yang terjadi dengan yg saya alami. Hanya saya, pihak wanita yang tinggal bersama ibu mertua. Pernikahan kami secara katolik setahun yang lalu. Saya mengenal ibu mertua secara dekat, pas di hari pernikahan saya. Saat itu saya merasa masa depan saya akan penuh kekecewaan, dan itu akhirnya terjadi. Beberapa keluarga dari pihak suami, bahkan adik dari sang ibu mertua, mengharapkan saya wanti2 untuk “sangat sabar” menghadapi ibu mertua saya nanti. Malah ada yg mengharuskan saya dengan tegas untuk tidak serumah dengan ibu mertua. Jujur di awal saya masih naif, bahwa saya akan mencintai & menyayangi ibu mertua saya seperti ibu kandung saya sendiri. Ternyata ibu mertua yang biasa aktif di kegiatan sosial Gereja itu benar2 sangat unik, dan saya sangat lelah untuk menghadapinya. Saya pun akhirnya meminta sang suami untuk keluar dari rumah dengan mengontrak tapi…tanggapannya malah “dia anak tunggal, ayah sudah tidak ada dan dia harus merawat ibunya”…Jadi saya berpikir, dia menikahi saya mungkin supaya saya yg merawat ibunya. Dari setahun pernikahan, hanya setengah tahun saya lewatkan bersama suami di rumah yg sama dengan ibu mertua, selepasnya saya berdua dalam 1 rumah dengan ibu mertua dikarenakan suami harus dinas diluar selama 8 bulan.

    Ibu kandung saya, tadinya berkata “mungkin ibu mertuamu cemburu dengan kamu”, dengan tegas sebelumnya, saya berkata itu tidak mungkin. Akan tetapi akhirnya saya sadar, apa yg ibu saya bilang itu benar. Dia mengomentari penampilan saya, berharap segala peraturan di rumahnya saya lakukan, masak dengan aturannya. Saya lelah..dan sangat lelah dikomentari dan diperintah ini itu..Hobi saya memasak pun seringkali dikomentari, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti memasak, karena kompornya yg sudah berumur itu yg saya pakai pun sepertinya dia tidak rela. Sebetulnya saya ingin membeli kompor lain, tapi tidak ada tempat lagi dirumah ini. Rumahnya terlalu kecil, hingga mungkin kehadiran saya membuat sesak ibu mertua.

    Saya stress? saya depresi? sepertinya begitu, 2 bulan setelah menikah, saya dinyatakan positif hamil, akan tetapi pada kehamilan masuk 8 minggu, kehamilan saya dianggap sebagai kehamilan kosong & akhirnya saya keguguran. Dokter merujuk plasenta & darah saya untuk diperiksa di lab, akan tetapi saya sehat hanya saja dokter mengatakan ada masalah psikis disini. Dalam plasenta saya tidak ada udara, walau saya tidak mengalami pengentalan darah (hasil dari lab). Jika sang ibu stress atau terlalu letih, tidak ada supply cukup untuk kandungannya. Pada masa pemulihan dari keguguran ini, ibu kandung saya yg merawat saya. Ibu mertua malah merasa terganggu dengan kehadiran beliau saat itu.

    Akhir bulan ini suami akan kembali ke rumah, tapi saya sudah planning untuk segera keluar dari rumah ibu mertua. Entah saya kost atau kontrak. Disini, saya berusaha untuk tidak menyinggung masalah perceraian. Saya hanya berharap suami bisa tetap tinggal bersama ibu mertua & saya hanya berserah pada Tuhan jika suatu nanti dia mengajukan perceraian. Di luaran, saya terlihat sangat ceria & produktif, tapi setiap malam hari kerjaan saya hanya menangis & meratap. Selama masa ditinggal suami bekerja di luar, saya berusaha untuk menghindari ibu mertua saya, entah saya berangkat lebih siang dari dia ( dia aktif di gereja) atau cari kesibukan ini itu diluaran atau pulang dari kantor melewati jam tidurnya. Saya sangat letih dan capai.

    Di kepala saya sekarang, saya ingin mencari seseorang dari gereja untuk bisa sebagai konseling saya & tidak henti2nya saya berdoa, supaya saya bisa sabar, tapi bila dilihat dari record medik saya setelah menikah (kata ibu mertua, “saya penyakitan”) sepertinya ibu mertua saya memang lebih sehat dari saya. hehehe.. Seperti yang dikatakan dalam alkitab, hati yg gembira adalah obat, tapi hati yg patah keringkan tulang..mungkin sebetulnya hati saya yang sakit jadi tubuh saya juga sakit.

    Sering saya berpikir, Saya seperti menikahi seorang anak mama. Yang mana mamanya pun tidak mau melepaskan anaknya. Jadi teringat, pada saat pesta pernikahan kami selesai, ibu mertua ngotot ikut mobil pengantin pulang. Dari situ seharusnya saya sudah sadar, tapi perlu 1 tahun untuk saya menyadari semua itu. Sekarang saya hanya bisa menangis dan berdoa. Saya mencintai suami saya, tapi sangat sulit menerima “paketnya” :)

  5. Saya rasa Ibu mertua anda mempunyai rasa takut yang sangat besar terhadap anda bahwa suatu saat anda akan membawa anaknya pergi meninggalkannya.

    Dimana hal itu benar. Ada baiknya anda memberanikan diri untuk berbicara dengan ibu mertua anda apa yang ia inginkan. Menantu seperti apakah yang ia inginkan? Kehidupan seperti apa yang ia inginkan? Dan katakan, ketika anda menikah dan ditanya oleh pastur apa ada orang yang keberatan dengan pernikahan ini kenapa ibu tidak menjawab? Sekarang ibu harus menerima konsekwensi atas pilihan ibu untuk tidak menjawab keberatan tersebut.

    Melihat keadaannya akan saya pastikan kalau suami ibu akan membela ibunya, karena keputusan yang dia ambil tidak akan independen dan didasari rasa bersalah terhadap ibu kandung.

    Dan disinilah sebenarnya dimana kualitas seorang suami dilihat. Beranikah ia meninggalkan keluarganya untuk tinggal dengan istrinya. Atau akan terus tinggal dibawah bayang bayang ibunya.

    Sekarang pertanyakan kembali seandainya anda punya anak, apakah anda sudah mengharapkan bahwa anak tersebut berkewajiban menjaga anda sampai anda tua dan meninggal. Atau anda berkewajiban mendidik agar suatu saat dia bisa pergi meninggalkan rumah dan menjadi mandiri untuk membangun keluarganya.

    Saya sudah sadari resiko resiko seperti ini, yang saya lakukan saya beli rumah saya tinggalkan orang tua saya, begitu juga istri saya. Sejak Menikah saya tidak tinggal lagi di rumah orang tua.

    Betul orang tua akan kangen dan merasa kehilangan, bahkan cemburu terhadap istri. Tapi keputusan itu harus diambil. Dan Suami anda sudah seharusnya lebih tahu bahwa ketika menikah dia sudah harus bisa mandiri membangun keluarga sebagai kepala keluarga. Bukan keluarga yang dibangun oleh ibunya.

    Saya orang yang rasional, saya tidak takut mengkonfrontasi hal yang tidak saya rasa benar. Saya berani melawan pandangan pandangan orang lain. Demi keluarga saya bukan mereka.

    Saya mengalami perlakuan yang sama dari keluarga besar saya terhadap istri saya.

    Saya bukan orang berkepunyaan, tetapi keluarga besar saya kebanyakan orang orang yang sangat berkepunyaan.

    Istri saya juga hanya seorang sederhana yang bekerja satu kantor dengan saya yang mana keluarganya hanya lulusan SMA.

    Kami membangun karir kami dari bawah tanpa koneksi dan embel embel lainnya. Dimana keluarga besar saya kebanyakan disekolahkan diluar negeri.

    Karir kami dibilang cukup sukses dengan bisa membeli rumah sendiri dan terus meningkat. Dimana hal ini membuat rasa iri dari keluarga besar saya, dimana anak anaknya yang lulusan luar negeri tidak ada yang mendapatkan karir yang bagus.

    Istri saya tidak pernah diajar untuk menjadi orang munafik dengan menjilat orang orang yang lebih berkepunyaan. Ini menyebabkan mereka lebih tidak menyukainya karena istri saya dianggap tidak hormat dan tidak tunduk terhadap mereka. Sedangkan istri istri sepupu saya sangat pintar mengambil hati dengan berpura pura menjadi istri yang super baik dihadapan tante tante.

    Mereka memaksa saya untuk mengajarkan tata cara yang mereka mau kepada istri saya. Saya bilang, istri saya tidak diajarkan untuk melakukan itu. Dan saya tidak keberatan kalau dia tidak mau.

    Oleh karena itu mereka selalu membicarakan istri saya dibelakangnya. Tetapi kami tidak peduli. Karena keluarga kami tidak dibangun karena kepentingan mereka. Apabila saya harus meninggalakan seluruh keluarga besar saya untuk istri saya maka saya akan lakukan itu.

    Dan sudah saya lakukan. Saatnya menunjukan kepada suami anda keberaniannya untuk mengambil keputusan yang bijaksana. Apa dia mau terus tinggal dibawah ketiak ibunya atau pergi dan membangun keluarganya sendiri.

  6. Mirip dg deritaku d gubuk mertua..
    Pa lg d rmh tdk hny tinggal q,suami,2 mertua,tp kakak ipar n suami serta mertua ipar..
    Sungguh mmbuatq stress…
    Mertua yg srg komentar masakanku,melarang barang2nya q pakai,ipar yg kdg katany menyakitkan hati..tp jika q cerita k suami yg ada q brtngkar dg suami…
    Suamiq adl ank angkat d kluarga itu,suamiq sdh q ajak ngekos tp dia tdk mau…dg alasan ingn blas budi dg ortunya,sm mertua jg tdk mengnjinkn qt keluar tkutny tetangga nyngka mreka plh kash ank kndung dg ank angkat…
    Mgkn krn stres jg q blm hamil sdh 17bln kmi menikah

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>