Menyimpang dari Gonjang-Ganjing
Saat ada kesempatan mengomentari Seminar tentang Keluarga Kristiani yang dilakukan oleh Seksi Kerasulan Keluarga (SKK), seorang aktivis gereja mengungkapkan kesannya, “Seminar tersebut kurang peminat karena temanya dirasa kurang menarik. Tema seminar yang diangkat adalah (solusi dini) gonjang ganjing perkawinan Kristiani. Yang urgen dibutuhkan oleh pasangan muda dan pasangan beda agama saat ini adalah pembinaan iman Kristiani. Karena dalam perkawinan beda agama pasangan yang Katolik harus tetap Katolik dan berkewajiban mendidik anak-anaknya secara Katolik.”
Ia melanjutkan, ”Mereka (keluarga muda) perlu ditumbuhkan imannya sehingga punya daya tahan dan mampu menghadapi pertanyaan-pertanyaan seputar iman yang agresif dari luar. Kebutuhan pertumbuhan iman juga diperlukan untuk menghadapi tuntutan kehidupan di metropolitan, dunia kerja yang semakin menuntut, arus globalisasi, dan lain-lain,” jelasnya panjang lebar.
Peran SKK Paroki
Beberapa angggota SKK yang saat itu bertemu untuk melakukan evaluasi tentang seminar yang baru saja dilakukan, membenarkan ungkapan tersebut. Ada beberapa hal menjadi kata kunci, yang memang pantas direnungkan dan disikapi. Kata kunci tersebut antara lain:
1) Pasangan muda dan pasangan beda agama. Jumlah mereka semakin meningkat. Data di Keuskupan Agung Jakarta membuktikan kebenaran ini.
2) Sebagai pasangan muda yang mulai melepas topeng-topeng pasti punya banyak masalah dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan iman. Konflik-konflik kecil yang terjadi sehari-hari, terakumulasi dan berpotensi menjadi gonjang-ganjing bila tak dilandasi iman, kasih dan komitmen yang kuat.
3) Soal tuntutan kehidupan dunia metropolitan. Topik ini dapat diseminarkan berhari-hari.
4) Tentang pertumbuhan iman pasangan muda. Ranah ini sebenarnya menjadi cakupan kerja SKK.
Strategi Pertumbuhan Iman Pasangan Muda
Gereja perlu memerhatikan pertumbuhan iman pasangan muda. Merekalah yang akan menentukan warna gereja di metropolitan mendatang. Kenyataan yang ada, pasangan muda di kota besar, apalagi yang berkecukupan harta, mudah tergoda dengan gemerlapnya kehidupan kota. Dunia orang muda ibu kota identik dengan lingkungan kerja yang menantang, komunitas maya yang mengasyikan, menariknya mal-mal mewah, hingar bingarnya diskotik, nikmatnya secangkir kopi di café eksklusif dan seterusnya. Tentang kehidupan iman dan diskusi hal-hal berbau spiritual bukan bagian dari hidup mereka, apalagi menjadi suatu pola kehidupan. Demikian pada umumnya dunia orang muda, generasi tua mau tidak mau harus menerima dan memakluminya meskipun belum tentu menyetujuinya.
Iman pasangan muda dalam konteks kehidupan metropolitan disangsikan pertumbuhannya. Gaya dan pola hidup mereka dipertanyakan. Bahkan sampai cara mereka hadir di gereja juga digunjingkan. Tapi bagaimana mendekati mereka, dan mengajak mereka mendiskusikan iman? Bagaimana mengajak mereka agar memeerhatikan kehidupan doa dalam keluarga, mengajari sang anak duduk manis di gereja dan lain-lain?
Gereja perlu mencari strategi pendekatan berkesinambungan. Metode pendekatan dipilih agar sesuai dengan jiwa muda, menarik, menyenangkan, dirasakan manfaatnya, dan dirindukan. Juga dipikirkan agar dengan metode ini menjadi terobosan terjadinya percepatan pendampingan sesuai dengan kecepatan lajunya kebutuhan pendampingan. Sejauh mana peran pembinaan pasangan muda dimainkan SKK Paroki dan ini kami angkat sebagai fokus di Hari Komunikasi Sosial Sedunia, 24 Mei 2009.
Belajar dari Penyimpangan Positif
Dalam pengamatan beberapa kehidupan pasangan muda, kami tertarik pada metode pendekatan komunitas sebaya yang ternyata ada dan tumbuh di beberapa paroki, termasuk Paroki Duren Sawit.
Jawaban pertanyaan di atas sebenarnya ada di antara kita. Belajar dari pengalaman nyata, bahwa ternyata di antara pasangan muda yang berperilaku hidup cenderung negatif, akan ada beberapa dari mereka yang berperilaku hidup menyimpang secara positif. Di antara pasangan muda yang berkecukupan hidup dan penuh kenyamanan, ternyata ada beberapa yang mengaku bertumbuh imannya melalui pergumulan di komunitas.
Sebagai anggota SKK, kami punya kesempatan mendengarkan kisah beberapa pasangan muda yang punya perilaku menyimpang positif:
1) Cerita seorang isteri (Ny.MM) dari keluarga berkecukupan: “Kehidupan iman kami memang berubah. Sebagai anak tunggal dari keluarga berkecukupan, dulu saya manja, hidup tertutup, kurang bergaul, sering merasa kesepian di tengah kelimpahan fasilitas yang ada. Saya tidak tahu dan belum peduli dengan sesama. Saya kurang mengenal Tuhan, belum tahu bagaimana menyenangkan hati Tuhan lewat pekerjaan dan pelayanan. Perlahan hidup saya berubah dan bertumbuh dalam iman setelah saya masuk dalam suatu komunitas. Kini saya merasa punya banyak teman dari berbagai kalangan, bahkan saya punya kekuatan untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada pemulung di ibu kota ini.”
2) Kisah seorang suami (Tn. SP) yang baru menikah beberapa bulan: “Saya rutin ke gereja tiap Minggu. Cukuplah untuk disebut sebagai orang Katolik. Jaman sekarang, aneh rasanya kalau pemuda seperti saya diajak ngerumpi soal Kitab Suci. Tapi ternyata saya berubah setelah bergabung dalam komunitas beberapa pasangan muda sebaya yang komitmen untuk bertemu rutin mendalami Firman Tuhan.”
Komunitas Basis Gereja: Komunitas Pasangan Muda Kristiani Sebagai Strategi?
Konsep “positive deviance inquire” adalah pendekatan yang banyak dipakai dalam gerakan perubahan. Konsepnya adalah jawaban suatu permasalahan sosial harus dicari dari kehidupan nyata (kehidupan sosial) yang ada di dalamnya.
Komunitas Basis Gereja yang dianjurkan dimulai dari lingkungan-lingkungan atau wilayah di mana beberapa keluarga bergabung dalam satu kelompok basis gereja untuk meningkatkan keimanan dan pelayanan. Ini merupakan ide yang bagus apalagi kalau kelompok basis tersebut terdiri dari pasangan-pasangan muda yang diharapkan bisa lebih bersemangat.
Namun sejauh ini sudah berapa kelompok basis yang terbentuk di Paroki ini?
Apakah sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tentang peningkatan iman?
Saat ini di beberapa paroki, termasuk di Paroki Duren Sawit sudah ada komunitas basis keluarga muda Kristiani yang punya komitmen untuk secara rutin membahas kehidupan nyata dalam terang Injil.
Apakah hal ini menjawab kebutuhan pertumbuhan iman pasangan Kristiani saat ini? Kalau dirasa ada benarnya, bagaimana paroki merumuskan arah/kebijakan pembinaan pasangan muda? Bagaimana paroki menciptakan suasana kondusif untuk pembinaan pasangan muda? Bagaimana membuat berbagai seksi paroki bersinergi membina pasangan muda?
Inilah lemparan ide kami dalam menyikapi solusi (kiat) dini menghindari gonjang ganjing perkawinan Kristiani.
Oleh: Seksi Kerasulan Keluarga Santa Anna







Leave a Reply