Menikah karena sudah hamil
Dear Romo,
Saya seorang Katolik, istri juga seorang Kalik dan kami menikah pada tahun 2005 dan sudah dikaruniai seorang putri…Tapi latar belakang pernikahan kami bukan cinta, saya hanya merasa salah langkah pada saat itu. Saya dengan istri menikah karena “istri saya sudah hamil sebelum kami menikah” pada saat itu saya tau bahwa saya salah karna telah mengutamakan kenikmatan duniawi…tapi saya tidak bisa lari dari tanggung jawab…setelah beberapa bulan menikah,semakin hari saya semakin tersiksa dengan keadaan ini….saya harus hidup dengan orang yang tidak saya cintai, pernah beberapa kali saya berfikir untuk mengakhiri hidup ini, tetapi saya tau ini tidak akan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah….
Saya sudah tidak sanggup kalau harus menjalani pernikahan ini….Saya takut tidak kuat kalau pernikahan ini dilanjutkan,sedangkan akhir-akhir ini saya dan istri tidak pernah bertegur sapa walaupun kami masih satu rumah.Sering terucap kata-kata kasar antara kami berdua.
Apakah Gereja Katolik bisa menerima pengajuan pembatalan pernikahan saya???
Saya mohon Romo dapat membantu saya menyelesaikan masalah saya…Terima kasih…
Salam
KRN







Bpk KRN yg sedang resah..
Kl boleh sy kemukakan pendapat,bhw apapun yg sudah terjadi di masa lampau,ya sudahlah..Sekarang yg hrs bpk lakukan adalah menerima apa adanya saat ini. Bpk sangat beruntung krn telah dikaruniai anak. Byk orang yg telah menikah belasan tahun,tp sampai skrg belum dikaruniai anak.
Mengapa bpk harus cepat2 brpikir mengajukan pembatalan pernikahan?Apakah dgn pengajuan pembatalan pernikahan merupakan penyelesaian masalah?Tidak pak..Selama bapak tidak merubah pola pikir bpk bapak,selama itu pula bpk tdk akan dpt menyelesaikan masalah2 bpk. Mengapa skrg bapak katakan bpk tdk mencintai??Mmgnya menurut bapak,apa itu Cinta?
Kl bapak ingin rumah tangga harmonis dan istri bpk berubah,dimulai dari Perubahan dr bapak dulu. Kita tdk bisa merubah orang lain,namun dr diri kita dahulu yg berubah dan scr otomatis istri dan keluarga akan berubah ke hal2 yg positif. Lepaskan Ego bapak..Manusia yg jahat seperti apapun Tuhan Yesus mengampuni. Sedangkn ini Istri bpk yg telah memberikan anak lg..
Jgn bapak lari dr masalah bpk,mencari2 pembenaran di luar diri dan menghindari masalah tidak akan merubah apapun. Hadapi dgn menerima apa adanya,berdoa dan masuk dlm keheningan yg akhirnya dpt memberikan perubahan pd diri bpk dan kel. Soal masuk keheningan bpk dpt bertanya langsung bgmn caranya dgn Pastor Paroki kami di St.Anna. Dgn sering berdoa dan masuk keheningan,kita dpt melepaskn EGO kita dan tdk menggunakan pikiran2 yg tdk diperlukan.
Terima kasih.GBU
@KRN: Rumitnya kehidupan dunia bukan karena dunia yg rumit tetapi pribadi yg menjalankan yg rumit. Banyak orang yg salah langkah dalam membina rumah tangga dan merasa tidak bisa lari kemana-mana. Apa yg salah dalam diriku? Semakin rumit pribadi seseorang, semakin jauh ia melangkah dari masalah yg ia hadapi sampai berpikir utk mengakhiri keberadaannya di dunia ini.
Kata ‘takut’ adalah imajinasi yg bisa berwujud nyata menjadi tidak kuat dlm mengayuh biduk kehidupan.
Anda adalah kepala keluarga, jadilah pribadi yg dewasa yg berbicara tanpa harus mengucap kata-2 kasar didalam keluarga anda. Meski puteri anda masih kecil dia bisa merasakan relasi yg tidak harmonis diantara anda berdua, jauhkanlah anak anda dari perselisihan ayah ibunya.
Ajaklah istri anda untuk menerima Sakramen Tobat dan konsultasi pada Pastor paroki. Bawalah dalam doa, mohon petunjuk Yang Maha kuasa kemana akan dibawa-Nya bahtera rumahtangga ini.
Semoga anda dan keluarga anda diberkati Tuhan.
Satu lg kasus yang bisa menjadi pelajaran,terutama para perempuan yang mudah terbujuk rayu laki-laki untuk berhubungan seks sebelum nikah.
@krn, sebaiknya anda dan isteri anda sama-sama meminta sakramen tobat.lalu duduk bersama untuk berdiskusi ttg hal ini sc dewasa dan bijaksana.lakukan karena kalian adalah seorang Katolik yang memiliki kasih di atas egoisme yang hanya mengutamakan diri sendiri.setidaknya lakukan demi masa depan anak kalian.dia adaalah yg paling “dirugikan” atas keputusan kalian,sejak awal sekali bahkan sebelum kalian menikah.jadi keputusan kalian harus didasari oleh kasih minimal kasih kpd anak itu.
Saya pikir kalian membutuhkan mediasi yang intensif untuk memutuskan hal penting di atas.mediasi ini berupa konseling.jd coba kalian lakukan ini secara maksimal demi Allah yang kalian kasihi demi anak kalian. Setidaknya pikirkan apa rencana kalian ke depan agar anak itu mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk membangun masa depannya terlebih saat hanya seorang dari kalian yg mengasuhnya. May God bless ur steps and protect ur child