Menikah karena rasa bersalah, bukan karena cinta
Saya menikah tahun 1995 secara Katholik dg istri saya yang sebelumnya beragama non Katholik. Namun pernikahan saya sebetulnya dikarenakan karena perasaan bersalah, bukan karena cinta sejati. Disebabkan karena istri saya mengandung di luar nikah, dan saya sempat menggugurkan kandungan tersebut, saya pikir dengan perjalanan perkawinan saya, saya bisa menerima dan mencintai istri saya, namun sampai saat ini saya semakin merasakan keterpaksaan tersebut lebih menyiksa, dan hubungan suami istri semakin lama semakin dingin dan hambar walau saat ini saya dikaruniai 2 orang anak. Istri saya saat ini lebih sering bergaul dengan teman temannya sendiri, hingga suatu saat ada wanita yang bisa membuat saya mendapatkan perasaan saya yang hilang tersebut…apa yang harus saya lakukan? saya tidak kuat lagi melihat kelakuan istri yang sudah tidak memperhatikan saya, hanya menunggu uang dari saya,sehingga saya berniat berkerja di luar negeri agar istri saya puas dan kebutuhan anak-anak saya tercukupi
BBY







sebenarnya setiap kali saya membaca kasus seperti ini, saya berpikir.. apa arti sebuah pernikahan sesungguhnya. Mengapa setelah sekian lama berjalan, ada pasangan, bahkan setelah dikaruniai anak, barulah terpikirkan penyesalan. mengatakan “saya menikah ‘terpaksa’..”, saya sebenarnya “tidak cinta”, dst..dst.
PAdahal menikah itu adalah pilihan..
@BBY.. anda pun demikian, anda diberikan pilihan menikahi wanita [yang sekarang menjadi isteri anda] atau tidak, terlepas dia hamil atau tidak. Anda jatuh dalam dosa ketika berhubungan badan dengannya sebelum menikah, lalu anda jatuh lagi dalam dosa karena mendukung atau bahkan mungkin mengusulkan pengguguran kandungan. Berkali-kali anda jatuh dalam dosa, anda tidak menyadarinya dan sekarang mengeluhkan pernikahan yang anda pilih sendiri sesudah perbuatan-perbuatan dosa itu.
Padahal bila anda pikirkan anda bisa memutuskan untuk tidak menikah, karena hal itu jelas merugikan pasangan anda. Mengapa ? karena anda telah menjadi partner in sin. orang akan mudah mengambil kesimpulan, bahwa dulu anda bahkan tidak sungguh-sungguh mencintai pasangan anda, pasangan anda adalah obyek seks anda. obyek ke-egoisan anda. karena hari ini, ego anda menyatakan penyesalan pernikahan yang diberkahi dengan kehadiran 2 orang anak. Anda bahkan tidak peduli anak-anak anda, hanya karena perasaan anda. Seandainya keputusan anda itu bukan di dasari oleh ego anda itu, melainkan justru karena kecintaan anda dengan anak-anak anda, maka kesimpulannya akan berbeda.
Anda mungkin tidak sepenuhnya salah, isteri anda mungkin juga berperan. Tetapi two wrongs doesn’t make a right.. jika isteri anda berbuat salah, apakah anda hendak berbuat salah juga. Tell me pak BBY, apakah isteri anda menelantarkan anak-anak anda ? Apakah anda ingin juga menelantarkannya ?
Saya tidak mengatakan anda harus ini dan harus itu.. tetapi pernahkah terpikirkan bahwa mungkin pikiran ini sudah lama bercokol di benak anda, sehingga tanpa anda sadari atau entah mungkin anda sadar, perbuatan, sikap maupun perkataan anda kepada isteri anda pun terpengaruh negatif karenanya. Dan hal itulah yang justru membuat isteri anda bersikap demikian kepada anda. Apakah keputusan menggugurkan kandungan adalah desakan dari anda yang sebenarnya tidak ia setujui dan perasaan bersalah telah melakukannya menjadi trauma hingga hari ini ? bagaimana sikap anda setelah ia menggugurkan kandungannya ? apakah anda bersikap seperti tidak terjadi apa-apa ? menunjukkan rasa penyesalan atau malah menyalahkan isteri anda saat itu ?
anda katakan dulu isteri anda adalah seorang non Katolik, berarti apakah ia seorang Katolik sekarang ? mengapa ia mau menjadi KAtolik ? bagaimana anda mendukungnya menjadi seorang KAtolik ? bagaimana sikap dan perbuatan anda sebagai seorang suami yang Katolik memimpin keluarga menurut iman Katolik ? ataukah selama ini, anda tidak menjalankan tugas anda itu dan sibuk dengan perasaan dan pikiran anda ? apakah anda tahu bahwa anda seharusnya menjadi “Imam” dari sebuah gereja domestik, yaitu keluarga anda ?
Anda katakan isteri menunggu penghasilan anda .. apakah isteri anda bekerja ? jika tidak, mengapa anda anggap sikap isteri anda itu tidak wajar ? pun bila isteri anda bekerja, tahukah bahwa anda adalah kepala keluarga, pemimpin rumah tangga, maka sudah merupakan kewajiban anda untuk bekerja demi kesejahteraan keluarga anda.
Anda katakan isteri tidak memperhatikan anda ? Perhatian seperti apa yang anda harapkan ? pernahkah anda berdiskusi dengan isteri anda mengenai hal ini ? dan apakah anda lebih banyak menuntut sementara tidak pernah mau tahu atau mendengarkan permintaan,harapan isteri anda. Tahukah bahwa dalam keluarga, bukan kehendak anda yang diutamakan melainkan keluarga ? tahukah dalam hubungan suami isteri, bukan “I” and “Me” yang utama, melainkan “Us” and “We”.. jadi harus ada mutual simbiosis.. saling menguntungkan itu yang disebut bersama dalam untung dan malang, suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit.
saran saya.. sebaiknya anda coba mengajak berdiskusi isteri anda, tetapi sebelumnya mulailah perubahan dari diri anda dulu.
Anda menemukan wanita yang membawa anda ke dalam cinta yang hilang.. mengapa anda tidak berusaha menemukannya dengan isteri anda sekarang ?
Tahukah anda, bahwa wanita itu hadir di saat yagn tepat, perasaan anda di-entertain oleh kehadiran wanita itu. sehingga anda merasa semakin tertekan. Darimanakah kamu tahu bahwa semuanya itu adalah kehendak Allah bukan kehendak Iblis ? tidakkah anda ingat, dulu anda terbujuk untuk berhubunga seks dengan pacar anda, lalu Iblis membujuk anda menggugurkan kandungan pacar anda.. tidakkah anda melihat pattern yang jelas di sini.
mengapa anda tidak berjuang dengan segenap akal budi, pikiran dan kekuatan anda untuk mendorong anak-anak anda menjadi seorang Katolik yang lebih kuat dari anda, sehingga mereka tidak jatuh dalam kesalahan-kesalahan anda, baik sebagai individu maupuns sebagai orang tua ?
PErjuangan anda bisa jadi adalah cara untuk memperbaiki hubungan anda dengna isteri anda. Anda tidak akan menjadi lebih baik dari isteri anda bila anda berhubungan serius [melibatkan perasaan] dengan wanita lain. Saya katakan anda, saat ini bukan seorang yang lebih baik itu. Tetapi anda bisa mengubahnya, Buatlah kejutan untuk isteri anda. Mulailah melayani daripada dilayani, menghibur daripada dihibur…
jangan lagi berhubungan dengan wanita itu, fokus dan commit terhadap perjuangan ini. dan Allah yang melihat segala niat baik dan ketulusan ini akan membantumu.
biarkan kasih Allah menuntunmu dan menjadi terang dalam hidupmu.
satu hal lagi.. rajinlah berdoa dan berdevosi, terimalah sakramen tobat dan akui dosa-dosamu terdahulu.. rajinlah bersama keluarga menerima sakramen Ekaristi…
May God bless your steps..
Dear Romo,
Perbuatan dg istri saya dahulu memang terjadi karena saya sering dalam kondisi mabuk. Dan yang memberi saran untuk melakukan pengguguran memang saya,karena pada waktu itu panik, istri saypun juga panik. Setelah digugurkan, saya sadar telah melakukan dosa, di dorong saran teman mudika, saya harus menikahinya. Maka istri sayapun kursus agama tidak sampai setahun, dibaptis, karena di anggap sudah cukup paham ajaran Katholik, memang diluar gereja saya juga berperan mendidik ajaran Katholik juga.
Mengenai anak, saya juga sudah memperhatikan mereka, mereka yang membuat saya bertahan. Karena mereka juga, saya harus ngoyo untuk menhidupi anak2 saya. Saya mencintai mereka, karena mereka juga darah daging saya. Apabila ditanya, kenapa bisa mendapat anak 2 orang bila tidak mencinta….itu karena saya tidak mau menyalurkan kebutuhan biologis saya dg orang selain istri saya, walaupun tidak dg dilandasi rasa cinta.
Kenapa dulu saya tetap menikahinya, padahal saya bisa saja menolak pernikahan tersebut. Itu karena saya tertekan oleh omongan teman dan perasaan salah saya, saya harus bertanggungjawab.Istri saya tidak menelantarkan anak2nya.
Istri saya mau melayani saya lahir batin apabila saya menuruti keinginan tentang materinya, asal ada uang baru melayani. Saya sudah mengalah setiap ada tuntutan. Dikala sepi kerjaan, istri saya selalu menggerutu, dia tidak mau tahu darimana uang didapat, pokoknya harus ada.
Oleh sebab itu, saya ingin menjadi TKI agar bisa memenuhi hal tersebut, disamping juga demi kebutuhan anak2 saya.
Saya sudah berusaha mencari cinta yang hilang pada isatri saya…..lebih dari 10 tahun…gagal.
Bila diajak berdiskusi, selalu ujungnya bertengkar, sehingga saya lebih banyak diam, karena saya tidak ingin anak2 saya mengetahui orangtuanya selalu berselisih. Saya sudah berusaha melayani, bila dia capek, sayapun bersedia untuk memijat, bila dia sakit sayapun tidak diam saja kok.
Setiap minggu, saya yang selalu mengajak ke gereja dan ngajak anak2 saya ikut kegiatan gereja.
Sedangkan wanita lain tersebut mengetahui kondisi saya, bahkan dia sering membantu perekonomian saya di kala saya sedang sepi kerjaan. Terus terang dia lebih beruntung dalam finansial dibanding saya. seringkali justru istri saya malas untuk ke gereja dg alasan tidak enak badan dll. Menurut saya ..memang saya harus jauh dari istri saya, dan tetap menhidupi anak-anak saya, dan tidak kembali lagi pada istri saya tersebut. Saya lebih mencintai wanita tersebut dan anak2 saya daripada istri saya.Setiap hari saya masih berdoa 15 Bapa Kami dari st. Bridget, sedangkan istri saya setiap hari masih bersms dan bertelpon ria dg teman2nya.
Terima kasih.
Pada tahun 1990an saya ikut organisasi Mudika dan ikut salah satu grup band. Karena saya pada waktu itu terseret dalam pergaulan yang tidak sehat, saya sering mabuk-mabukan. Pada saat itu saya berkenalan dengan seorang wanita (sebut saja Utami) yang kebetulan juga terlihat mengagumi saya, hingga pada suatu saat kami sampai beberapa kali melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Dari hubungan tersebut maka Utami mengalami hamil, saya kalut, saya takut. Saya meminta untuk menggugurkan kandungannya. Teman2 terdekat sayapun kaget, dan semakin mendesak saya untuk segera bertanggung jawab dg jalan menikahinya.Akhirnya setelah didesak oleh teman2 untuk bertanggung jawab, sayapun bicara dg kedua orangtua saya dan orangtuanya. Orangtua saya menolak dengan alasan bukan jodoh yang tepat, dan berlainan keyakinan. Di samping itu, pada saat itu saya juga sudah mempunyai pacar yang disetujui oleh kedua ortu saya, dari kalangan Mudika.
Ortu dari Utamipun menolak dg alasan bahwa saya orang yang urakan dan tidak punya masa depan yang jelas.
Karena desakan teman-teman, dan perasaan bersalah saya yang sangat besar akhirnya saya berusaha menikahinya. Saya meminta dia untuk menjadi Katholik bila mau menikah dg saya, ternyata diapun setuju. Setelah mengikuti kursus agama, di baptis, sayapun menikahinya, pada waktu pernikahanpun pihak dari keluarganya tidak ada, sedangkan dari pihak saya hanya dihadiri oleh ayah saya.
Pada saat itu saya berpikir dg berjalannya waktu saya akan bisa mencintai dia. Hingga tanpa rencana kami bisa mempunyai 2 orang anak. Hal tersebut juga bukan karena cinta, melainkan semata karena kebutuhan biologis. Saya pada waktu itu bekerja di suatu perusahaan, karena ingin merubah nasib, saya beberapa kali berpindah pekerjaan, di samping itu istri saya sangat pencemburu, setiap saya berhubungan dg klien wanita atau teman kerja wanita, dia seakan tidak bisa menerima, sehingga saya mencari pekerjaan yang kemungkinan berinteraksi dg wanita sangat kecil ( saya sebagai marketing). Saya serba salah karena saya tiap hari selalu berhubungan dg berbagai macam orang, laki atau perempuan, tua atau muda.
Akhirnya saya putuskan untuk wira usaha sampai sekarang. Tapi begitu kerjaan sepi, istri saya protes, tidak mau tau asal dapur ngebul, setiap saya ajak bicara selalu marah dan ujungnya bertengkar, smp pernah ingin keluar dari kehidupan saya. Dia baik dg anak2 saya, sayapun sayang terhadap anak2 saya, mereka yang bisa membuat saya bertahan. Tiap saya kerja dan pulang larut, istri saya mulai cemberut dan curiga.
Sayapun akhirnya lebih banyak diam, hingga pada akhirnya saya kenal dengan wanita lain (sebut saja Dian), yang bisa mengerti kondisi saya, diapun akhirnya bersimpati pada saya,sehingga sayapun juga bersimpati terhadap perhatian dia pada saya. Dyan tidak juga lebih cantik atau lebih nenarik dari istri saya, namun perlakuan dia pada saya yang membuat saya luluh. Diapun selalu yang memberi semangat dan kadang bantuan finansial pada saya.Saya menemukan rasa yang selama 10 tahun tidak pernah bisa, walaupun sudah mencoba kepada Utami,istri saya.
Saat ini usaha sayapun boleh dibilang bangkrut, istri saya pun tidak mau tau, akhirnya saat ini saya berniat untuk menjadi TKI ke Korea, bukan lari dari tanggung jawab, melainkan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri saya, sekaligus saya ingin jauh dari Utami, anak2 sayapun mendukung bila saya bekerja di sana, karena merekapun bisa terpenuhi kebutuhan kebutuhannya. Sesabar sabar saya…saya bukan malaikat atau orang suci, saya tidak kuat menghadapi istri saya yang selalu menuntut dimengerti, dituruti kemauannya, saya pun sudah lama tidak melakukan hubungan intim sejak usaha saya menurun, selalu menolak dg berbagai alasan. Saya berniat menikah dg Dyan tanpa menhindari tanggung jawab saya pada kebutuhan keluarga, terutama anak2 saya. Mungkin ini semua kesalahan saya juga yang sejak awal tidak pernah mencintai Utami….dan gagal untuk mencoba…
Anak-anak saya selalu saya dorong untuk mengikuti kegiatan gereja, tapi istri saya kadang keberatan mengantar dg alasan capek, tidak enak badan atau ingin berjalan jalan pada hari Minggu.
Sayapun pernah diajak untuk menjadi pengurus di lingkungan, tapi istri tidak setuju dg alasan merepotkan dan tak ada untungnya, saya coba memberi pengertian, tapi ujungnya bertengkar lagi.
Saat ini setiap malam saya berdoa 15 Bapa Kami 15 Salam Maria St. Brigdet. .Sedangkan istri saya sibuk telpon dan sms serta fesbuk. Paskah kemarin saya ikut sakramen tobat bersama anak saya, istri saya tidak, dg alasan ..capek . Saya ajak doa bersama, alasannya..berdoa sendiri juga bisa dan tidak perlu di omong2kan. Saya lebih banyak diam, capek selalu bertengkar, demi anak2 saya….saya diam. Saya tidak kuat…..
Thanks
sy sependapat dgn Pak Johan………..manakalah kita sudah mengambil keputusan untuk menikah apapun alasannya baik terpaksa, dipaksa tetap saja sama ujungnya karena keputusan ada ditangan kita.
Kita beiman kepada TRITUNGGAL MAHAKUDUS, dimana ajaran dalam agama Katolik tidak diperbolehkan perceraian …apa yg dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia kecuali maut…………..saran sy rajin berdoa dan beradorasi kepada Yesus Raja Kerahiman dan Hati KUdus Yesus serta memohon pendampingan Bunda Maria dlm doa Rosario yg didoakan dgn hati dan Rosario Pembebasan sering” lah mendapat Sakrament Tobar. Tq GBU
terimakasih