Menikah karena kecelakaan, ingin mandiri

salam damai.. saya bersyukur menemukan sarana konsultasi ini.

saya AW, seorang katolik. saya menikah dengan suami saat saya berumur 21tahun karena “kecelakaan”. saat itu saya masih menjadi mahasiswi tingkat akhir. suami saya, seorang kristen dan juga mahasiswa tingkat akhir namun kami beda universitas dan beda kota. pada saat saya tau saya hamil, sebenarnya saya tidak mau menikah karena saat itu saya tau bahwa calon suami saya berselingkuh. namun dia memohon2 untuk menikahi saya dengan janji akan bertanggung jawab penuh terhadap saya & bayi kami dan tidak akan berselingkuh lg. awalnya saya berpikir tidak mungkin saya menikah dengan pria yg tidak bisa dipercaya krn saya punya prinsip menikah sekali seumur hidup. namun, karena saran & berbagai pertimbangan, khususnya status bayi nanti maka saya akhirnya mau menikah dengannya. Sebelum menikah, saya minta ampun pada Tuhan atas dosa yg saya lakukan dan saya menyerahkan semua sakit hati yang saya rasa atas perselingkuhannya dulu dengan harapan bisa memulai hidup baru didalam Tuhan dan saya memberi kepercayaan lagi pada calon suami saya saat itu.

setelah menikah, saya mengambil cuti kuliah 1 thn untuk fokus pada kelahiran bayi sedangkan suami melanjutkan skripsinya. sebelum melahirkan, saya tinggal bersama suami.namun mendekati saat2 melahirkan, saya kembali ke rumah ortu di kota lain (atas pertimbangan suami jg) dengan alasan dikota tempat suami kuliah dan dikota saya kuliah tidak ada sanak sudara, sehingga demi kebaikan perkembangan bayi saya kembali ke ortu dulu. setelah melahirkan, suami menengok saya & bayi sebulan sekali.

Sampai ketika bayi saya berumur 5 bulan, saat suami pulang saya mendapati sms2 mesra dari wanita lain.. saya tetap berpikir positif, saya tanya baik2 ke suami dan suami bilang wanita itu adalah sahabat barunya yang mempunyai kesamaan hobi, minat dan agama. saya bilang kalau memang itu sahabatmu, saya juga mau menjadi sahabatnya. tapi suami terus mengelak. saat bayi saya 6 bulan, saya & bayi pindah ke kota tempat saya kuliah untuk melanjutkan kuliah saya. selama di kota itu, saya hidup sendiri dengan bayi dirumah kontrakan sambil mengerjakan skripsi yang tertunda. suami jarang sekali menengok kami padahal jarak kami hanya terpisah 2jam saja. tapi saya mencoba mengerti, mungkin suami banyak menghadapi masalah dalam mengerjakan skripsinya. syukurnya Tuhan tidak meninggalkan saya, Tuhan mengirimkan teman2 yang baik yang mau menolong dan memperhatikan saya. sekalinya pulang, suami saya selalu uring2an dan berubah. dia lebih sering tlp2an sama wanita itu. saya minta dikenalkan tapi suami menolak dengan berbagai alasan. sampai saya dapat no tlp wanita itu, saya bicara baik2 tapi wanita itu malah marah dan tidak peduli bahwa saya adalah istri dari laki2 yg dianggap pacarnya itu. saya malah dikotbahin dengan bermacam2 ayat kitab suci.

wanita itu tidak peduli kalau suami saya adalah pria beristri yg sudah punya anak. wanita itu tidak mau melepas suami saya.karena suami jarang menengok kami, maka saya yang pergi ke kotanya membawa bayi kami untuk menengok dia. tapi yang sering saya terima adalah saya & bayi malah diusir dari kota itu. tapi saya tidak menyerah, saya tetap menunjukkan perhatian saya sebagai seorang istri tanpa mengabaikan tugas saya sebagai ibu.

begitu terus sampai suatu waktu ketika bayi saya berumur 11 bulan, suatu hari entah dari mana datangnya, muncul perasaan yg sangat kuat untuk melihat suami dikotanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. maka saya memutuskan untuk menitipkan bayi saya ke teman karena saya harus naik motor selama 2jam ke kotanya. saya berangkat subuh2 dengan membawakan makanan kesukaannya. namun sesampainya dikosnya saya sangat terkejut melihat ada wanita lain di dalam kamar suami saya. di depan mata, saya melihat langsung suami saya tidur dengan wanita itu tanpa busana.

Saya sangat terpukul tapi saya berusaha untuk tidak menangis. rasanya ingin marah, ingin teriak, ingin menampar wanita itu. tapi didalam hati saya muncul suara2 untuk memaafkan dan mengampuni wanita itu dan suamiku. saya mencoba bicara baik2 pada keduanya. tanpa diduga suami saya mengakui bahwa betapa dia mencintai wanita itu dibanding saya, dan dengan angkuhnya wanita itu mengangkat mukanya didepan saya. saat itu hati saya benar2 hancur. Saya cuma bertanya pada wanita itu dimana hati nuraninya sebagai sesama wanita kemudian saya mempersilakan wanita itu keluar dari kamar suami saya dengan alasan saya yg berhak ada dikamar itu, bukan wanita itu.

Sesudah wanita itu pergi, tinggal saya dan suami dikamar itu. saya sempat menangis karena sudah tidak tahan, tapi tidak lama. saya hanya memberikan makanan kesukaannya yg saya buat khusus untuk dia lalu saya pamit pulang dengan alasan ada bayi saya yang membutuhkan saya. saat itu suami saya berkali2 minta maaf atas kekhilafannya dan mohon saya untuk tetap tinggal dan bicara. tapi saya saat itu benar2 kacau dan saya memilih pulang. saya cuma bilang ke suami kalau suami masih sadar punya keluarga pasti akan kembali pada keluarganya.

Di jalan pulang, sambil mengendarai motor saya menangis sejadi2nya, saya minta ampun sama Tuhan, saya minta dikuatkan untuk sampai ke kota saya demi bayi yang menunggu saya dan masih membutuhkan saya. sesampainya di kontrakan saya, saya menunggu suami datang mencari kami tapi ternyata dia tidak datang dan tidak mencari kami. akhirnya karena merasa tidak tahan, saya bicarakan dengan ortu dan mertua saya.

Akhirnya mertua & ortu saya datang ke kota saya untuk menengahi permasalahan kami ini. namun, mertua saya menyelesaikan masalah ini secara sepihak. Mertua saya pergi menemui wanita itu dan suami saya untuk membuat perjanjian tidak akan ada hubungan apapun lagi diantara mereka, sayangnya saya dan ortu saya tidak dilibatkan dan perjanjian itu cuma keluar dari mulut saja tanpa tertulis hitam diatas putih. sesudah itu, wanita itu sempat sms saya dengan kotbah2 ayat2 kitab suci dan bilang kalau ketemu langsung, dia akan minta maaf langsung ke saya. saya bilang mulai sekarang lebih baik tidak usah mengurusi masalah keimanan saya tapi biarkan saya dan suami membangun keluarga yang biasa aja tanpa pihak ketiga manapun. ternyata wanita itu sms suami saya yg isinya apapun yg sudah terjadi, wanita itu tidak akan menyerah atas nama cinta mereka. saya bilang pada suami, sekarang semua tergantung suami yg harus bisa mengatur diri, stidaknya ingat pada anak yg membutuhkan figure ayah. saat itu suami minta maaf berkali2 dan berjanji tidak akan berhubungan apapun dgn wanita itu. saya bilang, saya memaafkan tapi saya juga butuh waktu utk menerima keadaan ini.

Berjalannya waktu, tidak banyak yg berubah dari suami saya, dia masih beberapa kali uring2an setiap ketemu saya & bayi kami. sampai suatu ketika, saat bayi saya hampir berumur 2thn, suami saya bilang minta maaf yg sebesar2nya dan dia bilang dia mencintai saya, bayi kami dan keluarga ini, dan dia mau bertobat.

Saya bingung kenapa tiba2 suami seperti itu. tidak lama dari hari suami bicara begitu, muncul seorang wanita yaitu ibu dari selingkuhan suamiku dan mengabarkan bahwa anaknya (selingkuhan suamiku) hamil. Saat itu rasanya dunia saya benar2 hancur… hancur.. sangat2 sakit sekali mendengar itu. saya cuma berpikir bagaimana kalau anak saya tau? kalau saya sudah besar bisa menahan sakit yg teramat itu, tp bgmn dgn bayi kecilku? dan saya orang terakhir yg tau bahwa wanita itu hamil. saya tidak tau harus berbuat apa lagi, bgmn lagi.. saya sangat terpukul.. saya cuma berpikir bagaimana harus secepatnya menyelesaikan kuliah saya dan bagaimana hidup saya dan bayiku kedepannya dengan ataupun tanpa suamiku. masalah ini jadi kabur ketika suamiku lulus dr kuliahnya, mertuaku menganggap yg penting uamiku lulus kuliah dan bisa mencari kerja untuk mulai bertanggungjawab terhadap bayiku yg selama ini tidak dilakukannya. tapi aku tidak bisa menganggap masalah kehamilan wanita itu seperti tidak pernah terjadi apa2. bagaimanapun, wanita itu juga manusia. tapi saya tidak bisa menerima kehadiran wanita itu & bayinya. cuma masalah ini seperti nightmare tiap hari buat saya.

Tidak lama setelah suami saya lulus, saya juga lulus. setelah saya lulus, suami memaksa saya untuk pindah ke kota tempat tinggalnya dan tinggal bersama mertua. malam harinya saya bertanya bagaimana rencana kehidupan kami nanti. entah krn apa, mungkin suami tersinggung dengan pertanyaan saya, tanpa bicara apapun, saya ditampar dan dibanting dari dalam kamar sampai keruang tamu. dan hal itu terjadi didepan bayiku yg mulai mengerti. bayiku mengangis histeris tapi suami tidak peduli, suami terus menghajar saya sambil menggendong bayiku. saya coba mengambil bayiku yg histeris dari tangannya yg besar tapi saya kalah kuat dibanding dia. suami sampai ambil pisau dan mengiris tangannya sambil terus membanting saya. saya syok berat. dipikiran saya, saya harus berusaha bagaimanapun untuk mengambil bayiku dari tangannya. tidak peduli seberapa sakit fisik yg saya alami, saya berusaha sekuat tenaga. setelah saya dapat bayi saya, saya kabur dari rumah kontrakan kami tanpa membawa apapun. diluar hujan tapi saya tidak peduli, saya cuma mau bayi saya selamat.

Saya tidak menangis, saya terus berjalan mencari tempat berteduh. sepanjang jalan saya berusaha menenangkan bayiku. Dia memelukku erat sekali lalu dia bilang “mama, jr (namanya) minta maaf” oh tuhan.. hancur sekali rasanya hatiku mendengar bayiku yg tidak tau apa2 bisa bicara begitu. saya bilang mama yg minta maaf karena jr jd sedih, mama yg salah, mama yg minta maaf.. saking tidak kuatnya menahan air mata, saya akhirnya menangis didepan bayiku (pertama kalinya saya menangis setelah selama ini saya bertahan berusaha tidak boleh menangis di depan bayiku apapun masalahku). saat itu bayiku bilang “jangan menangis mama..” sakit & miris sekali hatiku mendengar bayiku yg belum 2 thn sudah bisa bicara begitu, lebih sakit dari sakit fisik yg saya alami. saat itu saya tidak tau bagaimana lg dan apa lg yg harus saya pertahankan dari perkawinanku ini.

selama ini, saya bertahan terus dan terus demi bayi kecilku, tapi sekarang bayiku mengalami stres terpendam akibat berkali2 melihat pertengkaran kami dan terakhir yg paling parah bayiku melihat secara langsung ibunya dianiyaya ayahnya. selama suamiku tidak pernah ada untuk kami, saya selalu bilang bahwa ayahnya hebat, saya selalu menutupi apa yg sebenarnya terjadi. bayiku masih terlalu kecil untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya, karena saya tau bayiku adalah korban dari semua ini.

secara manusia, sebenarnya saya sudah tidak tahan diperlakukan seperti ini dalam perkawinan yang baru 3 tahun ini.. saya sempat berpikir untuk pisah demi kebaikan anak, karena anakku sekarang tidak mau sama ayahnya (tapi saya terus memberi pengertian2 positif tentang ayahnya). saya pikir saya masih muda, masih panjang jalan saya & anak ini yang sayang disia2kan dengan ’sakit hati’. tapi setiap saya berpikir utk pisah, jauh didalam hatiku, prinsip ‘menikah sekali seumur hidup’ semakin kuat. tapi saya tidak mau anak saya hidup penuh dengan trauma2.. belum lagi masalah wanita selingkuhan suamiku yg sekarang anaknya sudah lahir dan terus merongrong keluargaku.

Saya tidak tau harus bagaimana. saya sebenarnya merasa kasihan terhadap suamiku. suami berasal dari keluarga broken home. keluarga suami beragama protestan. ayah mertuaku menikah 2 kali, yang kedua dgn ibu mertuaku (tadinya katolik pindah kristen). kakak2 suamiku keluarganya juga berantakan, perceraian dan perselingkuhan seakan2 seperti hal yg wajar dikeluarga mereka. sedangkan keluarga saya, keluarga katolik taat (hanya saya yang menodai nama keluarga dengan kehamilan saya diluar nikah). didalam hati saya, saya takut semakin mengecewakan Tuhanku jika saya memilih perpisahan itu.

Tapi saya benar sudah tidak tahan. tapi jauh didalam hati saya, saya sangat bersyukur karena saya adalah seorang katolik (banyak hal yang saya alami didalam keluarga suami saya yang semakin menguatkan iman katolik saya). saya juga selalu bersyukur, meskipun saya mengalami ini semua tapi Tuhan menganugrahkan anak yg sehat dan pintar. karena itu saya tidak ingin menambah beban anak saya dengan trauma2 yg dialaminya sedari bayi. saya bingung memilih jalan yg terbaik buat saya & anak, suami, keluarga ini dan selingkuhan suami saya. kalau saya masih harus bertahan, apa lagi yg harus saya pertahankan? apa dampaknya akan baik buat anak saya.. sekarang saya hidup terpisah dari suami. saya berusaha mencari kerja sendiri untuk menghidupi anak (meskipun saya belum dapat kerja tapi saya tidak berhenti untuk terus mencari).

mohon masukan dan saran yang membangun ya.. terima kasih banyak. Tuhan berkati.

AW

5 Responses to “Menikah karena kecelakaan, ingin mandiri”

  1. Saya hanya dapat mengatakan :
    Tabahlah dalam memikul salibmu, Tuhan sedang merenda suatu rencana yang indah, yang kita semua tidak tahu dan tidak pernah tahu, tapi percayalah jika kita tetap dijalan TUHAN dan hidup bersama TUHAN, maka segala sesuatu pasti akan INDAH PADA WAKTUNYA.

    Saya yakin tidak mudah untuk menjalankannya, tetapi melihat dan membaca tulisan anda, saya yakin anda PASTI SANGGUP menjalani semua ini. TUHAN BESERTAMU SELALU. Amin

  2. Halo Mbak AW,

    stay cool, stay cool… please :)
    udah deh, berhenti yuk sakit hatinya yuk, takutnya malah saling membabi buta nanti.
    sekedar share nih. soalnya saya juga nikah nih. tapi syukurnya nikah saya kebetulan tidak seperti Anda. maksudnya, istri saya tidak hamil terlebih dahulu sebagaimana Anda. kami menikah baik-baik tahun depan ini kami bahkan akan menunggu kelahiran anak kami.

    so far… kami juga tidak saling mengkhianati. hanya memang, seturut pengalaman saya sejauh ini tantangan pasangan-pasangan itu lebih pada bagaimana saling mengendalikan diri, untuk tidak mudah marah, tersinggung, dan hal-hal negatif lain yang bisa bikin membuyarkan apa yang sudah terjalin. sehingga rasa-rasanya kalau di masa pacaran dulu salah satu membayangkan baik, kok tiba-tiba jadi hambar setelah kenyataannya ada yang berbeda dari pasangan kita yang dijumpai setelah menikah.

    benar juga lho kalau Bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, atau Romo-romo ada yang bilang agar pasangan untuk saling memeriksa diri. mengolah batin bareng-bareng. jangan cuma seorang saja yang berlatih. repot juga soalnya. ya, kalau Mbak AW katolik, ya… bisa diajak berdoa. atau bisa juga mengolah batin dengan meditasi bareng.

    saya dulu kesulitan mengajak istri saya latihan meditasi bareng, karena istri saya belum merasa tertarik . ya udah, saya gak maksa. saya tunggu lagi, sekali waktu saya ajak ke tempat latihan meditasi tertentu. beberapa waktu belakangan ini sudah mulai berhasil. bahkan dia bilang mulai melakukannya di sela-sela waktu luang di tempat kerja. tentunya ini bisa jadi harapan memotivasi bareng dan pengembangan batin dalam hidup sehari-hari bersama.

    Ok Mbak AW, pokoknya stay cool dulu deh. Coba konsultasi ma Romo Sudri yang baik, belajar berdoa sama Romo, juga meditasi. saya percaya tentu ini bukan untuk mengkatolikkan orang-orang yang mau belajar meditasi. atau membuat persaingan dengan kantong-kantong meditasi lain. tapi saya rasa ini adalah kerendahan hati gereja untuk mempelajari sesuatu hal yang juga baik di luar gereja.(semoga demikian, ya)

    Anda bisa juga coba latihan di vihara-vihara dengan pembimbing-pembimbing yang baik kalau mau. meski kalau sudah ma Romo Sudri.ini bukan persoalan pencarian atau apa. tapi lebih pada mau gak Anda berkawan dengan yang lain ? risih gak Anda dekat dan berkawan dengan yang lain ?

    sudah di vihara, mau ke gereja, sudah di gereja mau ke vihara, sudah di tempat dua-duanya masih mau ke mesjid. sudah disitu mau tempat lain lagi. kalau saya sih terserah deh dibilang apa .
    wong saya cuma mo berkawan kok. gak dimana-dimana juga gak apa, yang penting berkawan. pilih mana Mbak Aw, cuma di satu tempat, lalu terus naik kelas, tapi gak berkawan sama yang lain ?

    udah deh kepanjangan, week end, nih. aku mau main cello-ku . cello yang senarnya baru. Tapi cello-nya ini lucu, kalau di mainkan di nada dasar apapun dan posisi senar manapun, selalu pas bunyi nada ‘Do’ nya yang paling merdu. ‘Do’ it for me…baby

    :)

    g.loves.U

  3. saya melihat hal ini ingin tahu tanggapan gereja. apakah dgn perceraian (atas seijin gereja) bisa dilakukan utk kasus mbak AW? hidup realita, kalo cuman utk memikul salib jawabannya, tdk menjawab keseluruhan masalah mbak AW.siapa tahu seiring dgn waktu mbak AW ketemu dgn laki2 yg mampu bertanggung jwb terhadap dia dan anaknya.

  4. Saudari AW,

    Pernikahan anda memiliki alasan yang cukup untuk dibatalkan (jika pernikahan anda di lakukan di dalam GK).. segeralah berkonsultasi dengan romo paroki mengenai kasus anda ini dan carilah segera bantuan. Jangan anda atasi masalah ini seorang diri. Carilah dukungan sebanyak-banyak dari orang-orang yang dekat dengan diri anda, terutama keluarga.

    Saya pikir untuk sementara waktu sebaiknya anda dan anak anda tidak tinggal bersama suamimu anda. dari ceritamu ia telah banyak mengobral janji untuk tetap bersama anda, mengingat ada resiko kekerasan dalam pernikahan kalian yang bisa membahayakan keselamatan anda dan anak anda.

    Jika ingin pernikahan ini dipertahankan harus ada komitmen dari anda berdua, bukan saja anda tetapi juga suami anda (terutama dalam kasus ini adalah dirinya). Komitmen ini harus nyata, harus bisa dilihat dan dirasakan. Bukan janji. Salah satu usaha yang harus dilakukannya adalah konsultasi pernikahan. Saya melihat komunikasi antara anda berdua sudah dirusak karena perselingkuhan dan kekerasan yang ia lakukan. Jadi membutuhkan orang lain yang paham mengenai konseling keluarga untuk menjembataninya dalam proses rekonsiliasi. Selama proses sebaiknya anda tidak tinggal serumah dengannya. Tetapi suami anda boleh mengunjungi atau berkomunikasi dengan anda dan anak anda, sekaligus menunjukkan komitmen terhadap perubahan. Intensitas dan kualitas perubahan signifikan harus bisa dirasakan dan juga terlihat nyata. Kenyamanan dan keamanan adalah faktor yang menentukan apakah anda dan anak anda bisa kembali berkumpul bersamanya. Dan proses ini mungkin butuh yang waktu yang relatif lama dan again.. komitmen..
    jika suami anda tidak mau berjuang bersama anda, maka proses rekonsiliasi akan semakin sulit dan berat.

    mengapa komitmen anda juga dibutuhkan di sini. Karena keutuhan hubungan sebuah pernikahan ditentukan oleh dua orang, bukan satu, yaitu suami dan isteri.

    Again, anda punya pilihan untuk bercerai dan membatalkan pernikahan anda. Anda tidak perlu takut mengambil jalan ini. Pernikahan yang terjadi atas dasar keterpaksaan merupakan alasan untuk mendapatkan anulasi.
    namun jangan berharap bahwa keputusan pembatalan oleh pengadilan GEreja bisa didapatkan dalam waktu singkat.

    Apa pun pilihannya, ada konsekuensi yang harus diterima dan dihadapi di masa depan. Anda secara pribadi dan sebagai seorang ibu harus siap menghadapinya. Secara psikis artinya anda harus tetap sehat dan kuat, dan juga secara materi, terutama finansial, demi kesejahteraan anak anda. Itu sebabnya saya katakan anda membutuhkan dukungan sebanyak2nya dari orang2 dekat anda terutama keluarga anda.

    Saya berharap anda mengambil pilihan bukan atas dasar kebencian, melainkan atas dasar kasih. Terutama Kasih kepada Allah, dan juga kasih kepada sesama terutama anak anda.
    Again, segeralah berkonsultasi dengan romo paroki mengenai hal ini.

    May God bless your steps and give you strength..

  5. Membaca tulisan sdri. AW saya membayangkan, sekali lagi – hanya bikin skenario sendiri, si pria ini gagah, ganteng, luwes penuh pesona, sehingga banyak cewek yg naksir dia. Merupakan prestasi bahwa bisa menggaet dia, mengalahkan cewek2 lain. Maka terjadilah: si wanita memberika sex untuk memperoleh cinta, dan si pria memberikan cinta untuk memperoleh sex…alhasil…bisa dibaca dari ceritera di atas.
    Sdri AW, keputusan Anda…sekarang saya hidup terpisah dari suami..saya berusaha mencari kerja sendiri untuk menghidupi anak…sangat tepat, tinggal memantapkan hati untuk menentukan langkah apa selanjutnya yang masih harus dilakukan.
    Kalau dulu menikah di Gereja Katolik, pernikahan sah memang tidak bisa diceraikan. Dari apa yg Anda sampaikan, nampaknya pernikahan Anda masih mungkin dibatalkan karena ada unsur yang mungkin merupakan alasan bahwa pernikahan Anda dulu itu sebetulnya tidak sah. Untuk itu cobalah ke pastor paroki membicarakan hal ini. Kalau menikahnya tidak di Gereja Katolik dan hanya ke catatan sipil, ya tinggal mengajukan gugatan cerai ke pengadilan negeri.
    Semoga Roh Kudus menguatkan niat dan kehendak Anda untuk melakukan hal yang tepat bagi iman dan masa depan Anda, dan terutama demi kesehatan jiwa anak Anda. Allah Bapa mengasihimu.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>