Menikah di KUA 2000, istri baptis 2004, cerai 2006, ingin menikah lagi

Salam Damai Kristus,..

Saya orang Katolik dan sudah di babtis sejak kecil. Dalam perjalanan keremajaan saya (masa pacaran), saya terjebak dalam kesalahan besar, hamil diluar nikah, menyesal sekali, tetapi demi anak saya jalani pernikahan yang terpaksa itu walaupun tidak mendapat restu dari orang tua saya. Saya menikah di KUA (th 2000)(saya tidak mau mengucapkan syahadat Islam dan pernikahan tetap dianggap sah). Pernikahan saya jalani tanpa ada rasa cinta , dan seringkali terjadi perpecahan yang berkepanjangan, saya coba bertahan karena tidak tega dengan anak saya. Istri saya (pada saat itu) ingin bekerja dan ada lowongan di Sekolah Katolik, tetapi syaratnya harus di babtis, maka dia mengajukan untuk di babtis. Saya tidak menyetujuinya karena saya tahu benar alasan dia babtis tidak dapat saya terima. Saya kaget karena akhirnya terjadi pembabtisan pada mantan istri dan anak saya (th 2004), saya berfikir biarlah, ini hak dia secara pribadi, toh juga sudah terlanjur terjadi, walaupun tanpa persetujuan saya dan saya tidak melihat adanya kegiatan pendidikan iman terlebih dahulu untuk dia.

Waktu terus berjalan dan pernikahan tanpa dasar cinta ini akhirnya kandas, karena saya sudah tidak kuat lagi untuk menjalani. Akhirnya terjadi Kesepakatan untuk berpisah disaksikan oleh orang tua kami berdua (2006). Dalam kesepakatan itu saya di minta untuk mengurus sendiri Surat Cerainya. Setelah itu kami tidak pernah berkumpul lagi.

Beberapa tahun kemudian Mantan istriku tersebut telah menikah lagi, menurut pengakuannya (nikah secara siri/agama islam). saya berfikir itu juga hak dia. Kesulitan terjadi pada saat mengurus surat cerai di KUA, saya tidak bisa mengajukan/menggugat istri saya karena saya mengaku Katolik dan tidak mau mengucapkan ikrar. Dan hakim menganggap pernikahan tersebut sesungguhnya sudah batal demi hukum. Akhirnya saya minta bantuan mantan istri saya sebagai penggugat, dan akhirnya perceraian itu diputuskan di Pengadilan Agama.

Kesulitan ternyata belum berakhir. Gereja Paroki di tempat saya, menganggap saya pernah menerima Sakramen Perkawinan walaupun tanpa pemberkatan/pembaharuan janji nikah, dengan alasan karena mantan istri saya telah di babtis, jadi secara otomatis perkawinan di KUA sebelumnya telah menjadi SAKRAMEN. Orang tua dan sayapun belum pernah tahu akan peraturan ini.

Itulah sebagian penggalan cerita perjalanan hidup saya. Saya mengakui bahwa saya telah banyak berdosa karena pernah menikah di luar gereja, walaupun itu karena terpaksa.

Mohon bantuan solusinya Romo,. apakah saya tidak bisa lagi menikah secara Katolik dengan orang yang sudah Katolik?
Lalu apakah saya telah benar benar menerima Sakramen Perkawinan tanpa adanya pemberkatan/ pembaharuan janji nikah, yang secara nyata saya tidak pernah menerimanya?

Demikian konsultasi saya. mohon kiranya Romo memberi petunjuk kepada saya yang berdosa ini.
GBU
DD

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>