Menikah 4 tahun, ingin cerai
maaf, sya umat katolik, saat ini saya ada msalah dengan suami, saya ingin bercerai darinya, karna 4thun berumah tangga, masalah ekonomi tidak berhenti membelit, sikap egois n kurangajar sma orang tua sya yang membuat saya tidak cinta, apalagi baru” ini ia emnuduh saya slingkuh bahkan memaki sya habis”an d akun FB saya sampe trbaca semua orang.. pdahal klo diingat banyak ksalahan yang dia lakukan, kerap mukul saya, pernah selingkuh.. romo, saya ingin cerai, karna saat berkat nikahpun sejujurnya saya punya firasat tidak enak dengan prnikahan kami.. mungkin kami memang tidak jodoh, dan saya dah niat untuk cerai darinya.
HC







Dear HC,
Pernikahan yang telah diberkati oleh Tuhan hanya bisa dipisahkan oleh Maut,pernikahan 4 tahun itu membuktikan bahwa kalian saling mencintai, biasa permasalahan yang menyebabkan seolah-olah kita tidak cinta lagi dengan pasangan kita.
1. Perekonomian
2. Belum Diberikan Keturunan
3. Ada Orang Ketiga di Tengah-tengah Pasangan.
Dll, masih banyak lagi penyebab-penyebabnya.
Kalau dilihat, dari permasalahan HC, perkonomian penyebab terbesar keretakan dalam hubungan suami-istri.
Apakah suami tidak bekerja?,cobalah memahami, orang yang tidak punya penghasilan memang sangat sensitip,mudah marah, dll, cobalah berikan dukungan dan pengertian, atau bekerja gaji Kecil ?,cukupkanlah dari apa yang kamu miliki.
Yang paling terpenting jangan pernah lupakan campur tangan Tuhan Yesus didalam setiap kemelut yang kita hadapai, percayalah Tuhan Yesus tau apa yang kita butuhkan.
Saya berani mengatakan begitu, karena saya mengalaminya sendiri,
saya sebagai seorang suami sudah tidak punya penghasilan tetap/bekerja dari tahun 2003 sampai sekarang, karena saling memahami dan menyerahkan semuanya pada Tuhan Yesus segala masalah dapat kami lalui, pernikahan kami sudah jalan 7 tahun.
Intinya cobalah kalian saling komunikasi, bila komunikasi di jalin gagal, coba terus dan dibawa dalam doa, jangan jauh dari Tuhan, buanglah jauh-jauh dari keinginan bercerai.
Batu Jangan dilawan dengan Batu.
Api Jangan dilawan dengan Api.
Cobalah berikan perhatian penuh kepada pasanganmu, mungkin dia memiliki beban yang berat.
Cobalah stop OL FB dulu, jangan terlalu terbuka di forum, konsultasikan langsung pada pada orang yang ahli.
Saya berdoa untuk kalian semoga perekonomian kali berubah lebih baik, Tuhan Yesus tau yang kalian butuhkan, cobalah minta, Tuhan Yesus Memberkati.
Salam Damai,
FX. Yudo Devianto
@HC..
1. mengapa anda dulu mau menikah dengan laki-laki yang melukai anda sekarang ?
2. apakah pernikahan anda adalah pernikahan yang dikukuhkan di dalam Gereja Katolik ?
saya ingin bicara sedikit mengenai jodoh.. ada banyak orang mengatakan jodoh di tangan Tuhan. Namun hal ini tidak sepenuhnya benar. Kasus HC adalah contohnya, jika jodoh HC diberikan Tuhan, mengapa sekarang HC bisa mengatakan sebaliknya ? Karena memang jodoh itu adalah pilihan.
Jodoh di tangan Tuhan bagi seorang Katolik harus diartikan bahwa pasangan kita harus lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan.
Jadi kalo mendapat pacar yang ngajak nikah di luar Gereja Katolik, ini jelas bukan jodoh dari Tuhan. ada pacar yang ngajak untuk mengabaikan kewajibannya ke GEreja hari Minggu untuk menemani dia, entah ke gereja lain atau acara lain, ini jelas bukan jodoh Tuhan. ada pacar yang suka ngajak berbuat mesum, ini jelas bukan jodoh Tuhan. ada pacar yang suka mukul, memaki, ini jelas bukan jodoh Tuhan, dan seterusnya. Dan itu dilakukan tanpa ada perubahan ke arah yang lebih baik dan sehat, baik dalam sikap maupun hubungan, termasuk dalam moral dan iman, maka patut diragukan dan ditanyakan apakah ini jodoh dari Tuhan.
Bila sudah menikah, lalu ternyata tidak sesuai dengan harapan, kita tidak bisa dengan mudah mengatakan ini bukan jodoh. Karena ikatan perkawinan telah men-sah-kan pilihan kalian menjadi pasangan oleh Gereja di dalam nama Tuhan, hingga maut memisahkan kalian.
Oleh karena itu masa pacaran adalah masa untuk mengenal pasangan satu sama lain, bukan melulu diartikan kontak fisik atau kenyamanan bersama atau perasaan-perasaan yang muncul ketika bersama, tetapi harus lebih diexplorasi yaitu dalam sikap-sikap, keputusan-keputusan, atau reaksi terhadap hal-hal penting dalam hidup perkawinan nanti. Jadi tidak ada salahnya pasangan satu sama lain melakukan simulasi kasus, seandainya kalian sudah menjadi pasangan suami isteri. Misal : ketika belum punya rumah, tanyakan dimana kalian akan tinggal nanti. ketika belum ada pekerjaan tetap, bagaimana membiayai RT. Tanyakan sikapnya tentang memiliki anak. untuk pasangan beda agama, tanyakan sikapnya bila kamu ingin menikah di Gereja Katolik. Tanyakan sikapnya tentang sikap orang tuanya yang tidak setuju dengan hubungan kalian. Bagaimana bila suatu hari terjadi pertengkaran dan orang tuanya ikut campur. bagaimana sikapnya bila orang tua juga turut campur dalam mengurus anak kalian, dst.. tidak perlu hal-hal sepele (misal : kalo tidur posisinya sebelah kiri atau kanan, minum tidak pernah dihabiskan, dst) namun yang sifatnya cukup prinsipal.
mungkin kebanyakan orang berpikir, kalo ini semua dipikirkan dari awal, malah nggak jadi menikah, bahkan bisa bertengkar. Justru ketakutan ini bukankah merupakan indikasi bahwa ada ketidakcocokan sebenarnya yang berpotensi menjadi pertengkaran besar. diskusi tersebut juga mengukur tingkat kedewasaan, kesiapan seseorang untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar, sebagai suami atau isteri, dan juga sebagai ayah atau ibu.
bila sudah menikah nanti, hal-hal di atas tidak lagi dalam tahap diskusi, melainkan sudah tahap praktikal, bukan lagi pilihan tetapi harus ditemukan solusi yang tepat dan sesuai dengan iman Katolik.
May God bless your steps..
Dari cerita HC,sebenarnya ini masalah klasik pada pasangan yg baru berumah tangga terlepas agama apapun yg mereka anut.
Sulit menemukan solusi bagi mereka jika hanya berkomunikasi satu arah begini tanpa mendalami akar permasalahannya dari para pihak.
1001 macam nasihat yg baik dan menyangkut hukum gereja Katolik (kasus mereka berdua) sekalipun, terkadang “tidak ada gunanya”
atau “digubris” karena bukan kita yg menjalaninya…tapi mereka berdua, selain itu tergantung situasi,suasana dan emosi mereka pada saat ini.Bagi yg pernah mengalami, tentu pernah dengar atau berujar “Easy for you to say…
Kita hanya bisa membantu dengan segala cara dan itikad baik…. tapi pada akhirnya mereka berdualah yg mengambil keputusan dan mejalani apa yg telah diputuskan.
Peace be upon them..:D
@PAuluss,
1. justru tulisan anda yang klasik, untuk seorang yang tidak mau capek-capek memberikan masukan kepada mereka yang sharing masalah mereka di dunia maya [yang mungkin bagi anda itu itu melulu]
2. semua orang juga tahu kalo yang harus mengambol keputusan dan menjalani adalah mereka. semua orang juga tahu dunia maya bukan dunia nyata.
3. Syukur-syukur bila pernikahan bisa dipertahankan, semoga saja setidaknya 1 orang yang menyadari makna pernikahan Katolik sesungguhnya, atau tersadarkan efek negatif bila perceraian terjadi, atau setidaknya memiliki pilihan yang sesuai iman Katolik dalam mengambil keputusan atau bahkan menjalani hidup sebagai seorang single parent. saya pribadi hanya berharap setidaknya 1 pribadi Katolik yang bertanya di forum ini, tetap bertahan dalam iman Katolik yang benar, sehingga apa pun keputusan yang dibuat, apa pun yang terjadi, tetap melaluinya dalam kesetiaan kepada Yesus dan Gereja-Nya.
4. Kalo anda nggak mau capek2 nulis memberi masukan karena takut dikatakan “Easy for you to say..”, maka saya silahkan anda duduk manis membaca saja. Biarkan orang-orang yang mau berbagi waktu membantu sesama di dunia maya [walaupun bukan suatu cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya cara yang efektif untuk berbagi informasi].
Apakah anda sendiri pernah berharap atau berkeinginan mengalami satu dari masalah di sini, supaya anda punya pengalaman dalam menyelesaikan masalah tersebut, sehingga tidak perlu takut lagi dikatakan “easy for you to say” ?
apakah hanya seorang yang pernah mengalami perceraian atau setidaknya pernah menghadapi masalah perceraian yang bisa menasihati, memberi saran di sini ?
bagaimana justru bila saran itu tidak sesuai dengan iman Katolik ?
Semoga Allah menuntun anda untuk berbuat lebih baik di dunia maya khususnya bagi sesama umat Katolik.