Menikah 10 tahun, tersiksa karena terpaksa
Dear Romo,
saya menikah sudah lebih dari 10 tahun yang lalu dan dikaruniai 2 orang anak. Waktu menikah, sebelumnya istri saya dari non Katholik, saya waktu itu menikah atas saran dari teman Mudika saya. Waktu itu istri saya hamil diluar nikah dengan saya, dan juga sempat menggugurkan kandungannya. Oleh karena itu saya terpaksa menikahinya, dengan dasar takut atas dosa disertai saran dari teman saya tersebut.
Pada saat itu hingga sekarang saya berpikiran bahwa dengan berjalannya waktu, saya bisa mencintai istri saya secara tulus apa adanya, bukan karena napsu. Tapi nyatanya sampai saat ini pula yang saya rasakan malah perasaan yang tersiksa karena terpaksa. hingga saat inipun hubungan saya dan istri saya semakin hambar, bicara bila ada keperluan. Istri saya juga sibuk dengan teman-temannya, dan sayapun dengan pekerjaan. Karena kondisi keuangan yang buruk, istri sayapun semakin acuh tak acuh, baik bila setoran mengalir, hingga saya berniat kerja di luar negeri sebagai TKI agar bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak saya.
di saat pekerjaan saya hancur, saya juga kenal dengan seorang wanita yang bersimpati dengan keadaan saya, dan terus memberi support. Hal ini membuat saya merasa mendapatkan suatu rasa yang sejak dulu saya rindukan, mencintai dengan tulus…
Karena sampai saat inipun saya tidak sanggup mencintai istri saya secara tulus….
Apa yang harus saya lakukan? saya mencintai wanita ini, yang bila dijadikan istri keduapun rela, tapi sayapun masih ingin membesarkan anak-anak saya.
mohon petunjuk Romo agar saya bisa mengambil tindakan yang benar dan tidak ada pihak yang benar-benar merasa tersakiti. terimakasih
Bob







@Bob (dan saya pikir orang yang sama dengan BBY) lihat di http://gerejastanna.org/menikah-karena-rasa-bersalah-bukan-karena-cinta/
Membaca cerita anda, sepertinya anda sedang mencari pembenaran dan sedang dlm masa denial. Boleh coba anda renungkan terlebih dahulu. Bila kesalahan pertama adalah menikah karena anda terpaksa, krn istri hamil, bagaimana dgn anak ke 2. Pd saat anda memutuskan utk pnya anak ke2, yakinkah anda kl anda tidak pnya cinta utk istri anda, apakah anda msh merasa terpaksa melakukannya? Bukan karena anda menginginkan utk membentuk keluarga kecil bersama istri anda.
Jika anda menikah krn anda takut dosa,apakah menikahi\menginginkan orang lain utk menjadi istri kedua itu tdk termasuk dosa. Pernahkah terpikir bgm perasaan anak2 anda, ketika tahu bahwa ayahnya memiliki wanita lain dlm hidupnya!
Cinta itu ada siklusnya, dan cinta bisa memakai logika. Saat pertama pasti akan terasa menggebu2, setelah itu akan seperti fase yg anda alami skrg. Salah satu kunci supaya cinta itu berhasil adalah pengendalian diri dan terus memupuknya.
Bila boleh saya sarankan, utk kebaikan semua keluarga anda, cobalah untuk mencintai istri anda yg ke2xnya.coba menjauh dulu dr wanita yg ‘bersimpati kpd anda, supaya situasi bs lbh jernih. Wanita mudah ditaklukan, cobalah untuk memberikaan perhatian yg lbh thdp istri anda, smg dia bs mulai luluh, dan keluarga menjadi lbh harmonis. Semua orang di dunia ini pasti senang jika memiliki keluarga yg ideal. Ayah ibu yg saling menyayangi dan anak2 menjadi bahagia.
All d best 4 your family
Dear,
Kenapa sya bisa mendapat anak dari perkawinan yang tidak dilandasi cinta?
Apa saya lebih baik “jajan”? kan lebih baik saya menyalurkan kebutuhan biologis pada istri say yang sah, walaupun hanya dilandasi napsu. Dan anak2 tersebut, saya tidak merencanakan untuk mempunyai berapa anak, tapi bukan berarti saya melepaskan diri dari tggjawab terhadap anak2 saya. Toh, mereka juga darah daging saya. Berarti anda belum paham betul dg cerita saya.
Saya takut pada waktu itu, saya melakukannya karena kondisi mabuk.
Atas rasa ketakutan tersebut, atas saran dari teman2 saya, akhirnya keluar keputusan bahwa saya harus bertanggungjawab dengan menikahinya.
Sudah lebih dari 10TAHUN saya mencoba untuk mencintai istri saya …gagal…
Saya sudah mencobanya berkali2. Saya sudah berdoa 15 Bapa kami dari St. Brigdget sampai hari ini. Tapi istri masih sibuk bertelpon dan bersms ria dg teman2nya.
Bila diajak diskusipun, pasti ujungnya bertengkar, dan pasti saya mengalah lagi, hingga saya sampai saat ini lebih banyak diam demi anak2 saya. Terima kasih
@Bob…
hmm.. dari jawabanmu ini kontradiktif..
satu sisi menggambarkan bahwa keegoisan anda.. anda menganggap anak itu hanya “hasil” dari kebutuhan seks anda semata. bagaimana anda mengharapkan simpati dari sisi ini ? anda menyalahkan isteri ada bertindak egois ? mengapa anda tidak meng-instropeksi diri anda dari jawaban ini.
satu sisi, anda berkata “saya tetap bertanggungjawab terhadap anak-anak saya” namun kesan yang ditimbulkan adalah “keterpaksaan”.
Anda menempelkan kata “cinta” untuk anak-anak anda. Namun, Apakah anak-anak anda mengharapkan anda mengkhianati dan memiliki kehendak menceraikan ibu mereka karena menaruh perasaan pada wanita lain, yang belum tentu mencintai mereka seperti cinta ibu mereka ?
Katakan : apakah isteri anda telah mengabaikan anak-anak anda ? apakah ia tidak mencintai anak-anak anda ? karena hal itu tidak tersirat demikian dari cerita anda. dari cerita anda, andalah yang diabaikan, tetapi tidak anak-anaknya.
anda berdoa 15x Bapa Kami..tetapi lihatlah diri anda sekarang.. katakan : apakah anda masih [dan tetap] setia kepada janji pernikahanmu yang anda ucapkan di depan altar Allah-mu ?
Katakan apakah anda sudah menjadi seorang ayah yang telah memberikan teladan seorang Katolik yang baik bagi anak-anak anda ?
saya kira sudah saatnya anda kembali ke dunia nyata.. segeralah tinggalkan wanita ini dan temui pastor paroki untuk menerima sakramen tobat.. mintalah bantuan orang lain [bisa juga pastor paroki] untuk menjadi perantara sehingga dalam tercipta komunikasi yang kondusif di antara anda dan isteri anda, sehingga bisa ditemukan suatu kesepakatan baru untuk terciptanya rekonsiliasi.
Jika anda sungguh mencintai anak-anak anda, maka berikan yang terbaik untuk mereka, jangan memikirkan terlebih dahulu yang terbaik untuk anda.
Semoga Allah menuntunmu supaya anda dapat mendengarkan suara-Nya di dalam hatimu dan memilih keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
oke, ada satu rahasia yang belum saya ungkap kepada siapapun kecuali anda, dan mungkin yang baca tulisan ini. Sebelumnya saya tak pernah ungkap, karena takut dan kasihan pada istri saya.
Terserah anggapan anda atau orang lain untuk mempercayai cerita ini.
Waktu setelah menggugurkan kandungan, istri saya mengaku mimpi didatangi seorang bocah balita, keadaan telanjang dan terlihat sedih, dia mengatakan bahwa dia ingin diberi nama. Mendengar itu, saya jadi kepikiran. Beberapa hari kemudian, saya mendoakan bocah dalam mimpi itu di depan istri saya, dan sepakat memberi nama ..Kudus. Selang beberapa hari, dia mimpi lagi, katanya kita harus bersatu,menikah, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya, saya mulai takut, juga ketika istri saya seperti “kerasukan” roh balita tsb menegaskan hal itu seraya menceritakan hukuman neraka yg akan menimpa saya bila tak melakukan hal itu. Selanjutnya kejadian itu berulang terus, bahkan smp pada akhirnya kami menikah secara katholik.Kemudian bocah tersebut menyampaikan pesan juga bahwa pada wktu saya umur 35-40th, saya akan mendapat “tugas khusus”, saya sekarang sudah berumur 42th, kejadian tersebut berhenti sekitar 2tahun yg lalu. Semenjak itu pula istri saya sudah tidak sehangat dulu lagi, melayani saya bila saya ada duit.
Hal tersebut sebetulnya yang membuat saya memberi pengaruh besar untuk HARUS menikahinya, disertai saran dari beberapa orang walau tidak ada cinta dan tidak ada persetujuan dari kedua belah pihak keluarga kami.
Yang jelas bagi saya, ada atau tidak proses pembatalan perkawinan ini, saya tetap harus pergi. Untuk membiayai hidup kedua anak saya. Minggu kemaren istri saya juga tidak ke gereja, alasan sakit, begitu pulang setelah anak saya latihan koor biak..eeeh…istri saya lagi facebookan, sms-an. Sabtu saya hendak hendak menggunakan komputer saya, istri saya ngomel… oalah…gak kuat, saya harus pergi biar dapat duit banyak, biar dia puas, anak2 saya bisa makn dan sekolah. If there is a GOd, only God knows….
saya pergi juga demi kebaikan anak2 saya, karena ada orangtua saya yang bisa mebimbing iman mereka, dan saya yakin isteri saya juga mau megantar anak2 saya di jalanNya bila tak ada saya. Bila saya bertahan di sini, usaha saya yang sudah ancur semakin ancur, apa ada yang perduli? bila saya disini dalam keadaan ancur dan d cuekin istri, apa ada yang perduli? bila anda setiap hari didiamkan istri, diajak diskusi, pada akhirnya bertengkar, sampai kapan kuat? di ajak berdoa, malah di jawab ketus..siapa yang kuat?
Saya pernah coba meninggalkan selama 10 hari, ternyata,istri saypun mau pergi ke gereja dan mengantar anak saya untuk kegiatan gereja kok, so…
Tapi kalau dengan saya dia ogah2an…so I must go….thank you
Kembali ke dunia nyata??? Selama ini saya juga sudah ada di dunia nyata, saya bukan lagi mengkhayal atau menulis cerita fiksi. Saya cuman minta pendapat, tapi saya rasa tulisan saya tidak dibaca secara cermat. Ini kenyataan yang saya alami, dan saya sesali, walaupun memang itu kesalahan saya sejak awal, saya terpengaruh keadaan. Walaupun sampai saat ini kejadian kerasukan dan lainnya masih misteri bagi saya, tapi saya semakin hari semakin ragu. Tiap istri saya di ajak konsultasipun selalu marah dg alasan tidak ada apa apa kok konsultasi, diajak diskusi juga selalu akhirnya bertengkar berlainan pendapat, mending diam dan pergi…
Bila anda ada di posisi istri saya dulu..gimana? Bila anda dalam posisi saya waktu itu, bingung dan tidak tahu hrs berbuat apa…gimana??
Bila anda ada di posisi wanita ini, dan segalanya sudah diberikan, termasuk materi untuk membantu ekonomi saya gimana? easier said than done…
Sayapun sempat kecewa dengan lembaga Katholik yang ada, sya berusaha ingin menyekolahkan anak saya ke sekolah Katholik, walaupun ada syrat dari Romo…gak ngaruh. Saya ikutkan anak di kegiatan gereja, malah dcuekin dari pihak gereja, mereka melayani anak2 yang ortunya lebih banyak memberi sumbangan. Saya waktu pergi ke gereja, ada pastor yang kirim baju sumbangan umat untuk keluarga besarnya. Saya ikut kegiatan, juga masih ada diskriminasi ras…dll. Kesimpulan saya, kita semua sama2 manusia perantau di dunia ini, segala peraturan yg dibuat saat ini hanya hasil rekayasa dan pemahaman manusia manusia itu sendiri. Segala perbuatan kita, hanya Tuhan yang bisa menilai
Salam damai Bob,
Saya sangat bersimpati dengan kondisi anda dan cuba untuk menempatkan diri saya kedalam peribadi anda. Ternyata, berat mata dan jiwa menanggung, lebih berat lagi si penderita yang menanggungnya. Saya percaya ini bukanlah jawapan yang anda inginkan dan bukan simpati yang anda harapkan, namun bacalah ayat-ayat ini; Matius 19:5-6 & 12:
19: 5-6:- “Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Kerana itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.
19: 12:- Ada orang yang tidak dapat kawin kerana ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian kerana kemahuannya sendiri oleh kerana Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti”
Bob, Saya tidak bisa mengeraskan hati dan jiwa saya untuk tetap menyokong keputusan Bob, namun, saya juga tidak bisa mengeraskan hati dan membutakan mata untuk menyangkal sabda ini. Bacalah juga Mazmur 128. Berkat atas rumah tangga. Baca la pula Mazmur 139. Doa di hadapan Allah yang maha tahu. Selanjutnya, Mazmur 146: Hanya Allah satu-satunya penolong.
Tinggalkan wanita kedua itu walau apa pun caranya. Walau bagaimanapun kebaikan serta kerelaannya, sebab itu bukanlah kehendak Tuhan bagimu. Pasti Bob akan mencelah, siapa kah saya untuk menentukan kehidupan dan masa depan Bob, tapi adakah wanita kedua ini akan menentukan kebahagiaan hidup dan masa depan Bob dihadapan Allah? Bagaimana dengan keluarganya, adakah mereka juga telah menjanjikan kebahagiaan Bob apabila bersamanya kelak?. Adakah ini pendidikan yang baik untuk anak-anakmu?
Baiklah, oleh kerana Bob telah diperlakukan sebaiknya oleh wanita kedua itu, maka sekarang bagaimana kalau saya melakukan yang lebih baik darinya. Saya akan melayani Bob lebih dari siapa pun, bersimpati, memahami dan berkorban untuk Bob, saya akan kirimkan wang yang diperlukan bahkan lebih dari itu. Anak-anak Bob akan saya didik dengan baik bahkan lebih baik. Namun saya tidak akan menyintai Bob. Kemudian muncul pula wanita ke 4. Adakah munculnya wanita lain yang lebih baik dari saya yang menyerahkan seluruh jiwa dan raga akan membuatkan Bob meninggalkan saya kelak?
Bob, pandanglah dan takutlah kepada Allah yang bisa membunuh tubuh dan roh. Barangkali Bob juga akan bertanya kepada saya: Adakah saya juga takut kepada Allah yang bisa membunuh tubuh dan roh? Apakah saya ini lebih baik daripada kehidupan Bob sehingga pantas menyarankan yang ini dan itu. Bob, berilah peluang kepada diri Bob sendiri untuk melihat kepada Allah. Percayalah, segala sesuatu ada waktunya. Saya akan mendoakan untuk Bob dan kesejahteraan keluarga Bob yang bagi Bob sudah diambang kehancuran dan tidak berguna lagi buat Bob. Tuhan akan sentiasa menolong dan memberkati orang yang berharap dan percaya kepadaNya.
my dear,
Thanks atas tanggapan anda, tapi bila anda memberi saya segalanya tanpa mencintai saya, jawabannya..”TIDAK”, atau apabila anda menyerahkan segalanya, sayapun tak akan menerima bila saya tak ada rasa.
Tapi lepas dari semua, saya berniat tidak akan hidup dg siapapun, saya ke Korea awal bulan Oketober…SENDIRI…dari dulupun saya sudah terbiasa sendiri dan tak ada masalah, so why not?
Saya tetap menafkahi anak istri saya, dan akan pulang 2thn sekali, tuk menengok anak2 saya.Sejak kecil saya sudah melayani dia, baik sbg putra altar atau mudika, bahkan krn takut akan Dia, sayapun TERPAKSA menikah. Namun yang saya dapat hanya kegagalan dan kekecewaan. Saya bukan Santo ataupun malaikat, sya hanya pengelana, manusia biasa yang tidak selamanya kuat menanggung salib.
Katanya Tuhan memberi cobaan sesuai dg kekutan kita, tapi buktinya saya semakin gak kuat.
Thank You
dan akhirnya….tak ada lagi wanita, racun dunia yang mengusik hidup saya lagi, persetan dg istri, persetan dg wanita kedua yang mungkin bisa bunuh diri karena saya tinggalkan (ada kemungkinan dia hamil)
Saya hanya fokus untuk menghidupi kedua anak saya.
Persetan dengan perasaan, karena saya tak mau lagi punya perasaan.
Persetan akan omongan siapapun……
Saya hanya berharap agar Tuhan tahu bahwa saya sudah berusaha…
Dan saat inipun saya sudah tak yakin akan apapun siapapun…
Tuhan memberkatimu Bob
Salam damai Bob,
*”Persetan dengan perasaan, karena saya tak mau lagi punya perasaan”.
*”Persetan akan omongan siapapun……”
*”Dan saat inipun saya sudah tak yakin akan apapun siapapun…”
Ungkapanmu ini pernah saya alami Bob, serius.
Saya akan mendoakan untuk Bob.
1 1/2 bulan lagi saya pergi, mungkin saya gak kembali ke tanah air…sendiri…easier sad than done…
saya harus pergi.
terima kasih
saya mendoakan anak-anak Bob dan isterinya.. semoga ada tangan-tangan kasih yang memelihara, menjaga, dan merawat mereka..membimbing mereka untuk mencintai Allah.. May God bless them and protect them…
Ya, kini, adalah menjadi rutin hidup seharian untuk mendoakan bagi kesejahteraan Bob serta keluarganya dan semua yang menanggung beban atas masalah ini. Allah memang tidak akan pernah menghampakan.
Ya, saya juga akan mendoakan Bob dan keluarganya. Percaya bahwa Tuhan itu setia.
EASIER SAID THAN DONE..BUT THANK U ANYWAY
Bob,
Tidak ada yang pernah menjanjikan kalau hidup itu akan selalu indah dan bahagia. Tapi Tuhan berjanji akan berjalan bersama kita melaluinya.
Apabila anda berandai-andai bahwa dengan orang lain hidup anda akan bahagia maka saya berani pastikan bahwa sekalipun anda hidup dengan orang lain anda akan mengalami hal yang serupa dengan keadaan sekarang.
Apa yang anda rasakan itu bisa saya mengerti, bahkan bisa digeneralisasi seperti anda bekerja pada sebuah perusahaan yang hanya gembira ketika anda mendatangkan uang untuk mereka. Anda juga bekerja terpaksa karena membutuhkannya.
Tapi itu kembali ke individu masing masing. Benarkah anda membutuhkannya? atau sebenarnya anda benar mencitai pekerjaan anda? Pikiran bisa menipu tapi hati nurani tidak.
Coba apabila istri anda sedang tidur, anda perhatikan dia. Anda lihat dia, anda ingat bahwa dulu ada cinta untuk istri anda walau hanya segelintir kecil saja. Dan anda syukuri bahwa dia ada disamping anda dan bukan orang lain. Karena itu anda cari cahaya cinta itu dalam lubuk hati anda.
Mungkin ini terdengar amat sangat gombal, tapi kapan terakhir anda membelai Istri anda, mengecupnya dan bilang anda mencintainya.
Cinta tidak hanya dirasakan tapi juga harus diucapkan dan ditunjukan. Kadang tidak perlu dalam ujud materi. Memang bahwa anda berusaha menunjukannya dengan bekerja keras. Mungkin anda tidak perlu berusaha sekeras itu untuk mengembalikan cinta Istri anda.
Saya yakin apabila tidak ada cinta, maka tidak mungkin dia akan mempertahankan 10 thn kehidupan keluarga anda.
One thing to remember, “If you believe that your marriage is over, then its over. If you belive it can be saved, then it will be saved. Its you who decide your life, not the other way around”