Menghadapi Tantangan dengan Wisdom

Setiap hari kita menghadapi berbagai persoalan atau tantangan baik di keluarga, tempat kerja, organisasi, dan lingkungan tempat kita hidup. Kita hidup di tengah lingkungan yang keras dengan orang-orang yang tidak bebas, penuh konflik, kompetisi, dan aneka bentuk kegilaan. Kita menghadapi masalah-masalah kejiwaan, financial, profesi, hubungan antar pribadi, dan seterusnya.

Ada masalah yang kecil atau besar, ada masalah yang ringan atau berat. Masalah-masalah itu bisa membuat kita pusing kalau kita ingin berbuat sesuatu tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Pengetahuan yang kita kumpulkan selama hidup rasanya selalu tidak mencukupi untuk bisa menjawab setiap tantangan yang datang.

Untuk bisa menjawab masalah atau tantangan dengan benar dibutuhkan wisdom, kearifan, atau kebijaksanaan. Apa yang disebut dengan wisdom? Pada umumnya orang memahami wisdom sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah secara benar sebagai respons dari akumulasi pengalaman atau pengetahuan dari masa lampau. Semakin banyak pengalaman atau pengetahuan, orang dianggap akan menjadi lebih arif. Dengan demikian, semakin bertambah umur, orang dianggap akan menjadi lebih bijaksana.

Kenyataannya, banyak orang yang semakin tua bukannya tambah bijaksana, tetapi justru semakin tidak bijaksana. Kenyataannya, banyak cendekia, ahli di bidang ini atau itu, termasuk ahli di bidang kerohanian, tidak memiliki batin yang muda, baru, segar, tajam, penuh vitalitas. Apakah Anda melihat orang-orang tua atau para cendekia yang batinnya polos, segar, tajam, penuh vitalitas? Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Kebanyakan dari mereka memiliki batin yang kolot, dangkal, lapuk, dijejali oleh sampah ingatan masa lampau.

Batin yang tua bukan hanya milik orang-orang tua, tetapi juga anak-anak muda yang suka mengumpulkan pengetahuan atau pengalaman dan memahami masalah-masalah kehidupan lewat instrument pengalaman atau pengetahuan. Orang gandrung mengumpulkan kata-kata wisdom dan menganggap itu semua sebagai kebenaran. Orang punya minat besar mempelajari buku-buku atau kitab-kitab dan melekatinya. Orang bersemangat mencari guru-guru spiritual dan mengikutinya dengan setia. Lalu mereka menjadikan pengetahuan itu sebagai rumus dalam menghadapi setiap tantangan. Sebelum mereka menginjak usia tua, sebenarnya batin mereka sudah lapuk dimakan waktu.

Orang suka mengulang-ulang kata-kata suci, hafal kata-kata dari kitab suci, atau hafal dogma-dogma kebenaran. Tetapi kata-kata hikmat tidak akan membuat batin tumbuh dalam wisdom. Kata tidak lebih dari buah pikiran sekalipun sudah dibatinkan dan kata tidak bisa menjadi sumber wisdom.

Wisdom tidak ada dalam buku-buku kearifan, kitab-kitab suci, ajaran-ajaran santo-santa atau guru-guru spiritual. Pengetahuan atau pengalaman tidak bisa melahirkan wisdom. Lalu di mana wisdom ditemukan?

Setiap tantangan selalu baru. Meskipun kasusnya memiliki pola yang mirip atau sama, masalahnya itu sendiri selalu baru. Akan tetapi batin yang tua menghadapinya dengan cara yang lama, sehingga setiap tantangan yang selalu baru itu tidak mendapat respons yang baru.

Kalau batin merespons tantangan lewat pengalaman atau pengetahuan, lewat apa yang lama, sesungguhnya batin tidak merespons tantangan melainkan bereaksi terhadap tantangan menurut keterkondisiannya. Reaksi datang dari pikiran, sedangkan respons datang dari pemahaman. Reaksi datang dari batin yang terkondisi, respons datang dari batin yang bebas dari keterkondisian. Reaksi datang dari masa lampau, respons datang pada Saat Sekarang.

Pengertian benar bukanlah kesesuaian dengan rumus atau dogma kebenaran, melainkan pemahaman akan perkaranya secara langsung; itulah yang disebut dengan wisdom. Pengetahuan tentang kebenaran justru menjadi perintang utama bagi bangkitnya wisdom karena pengetahuan—seperti halnya pengalaman, keyakinan, atau kepercayaan–merupakan penghalang bagi pemahaman secara langsung.

Menyadari reaksi-reaksi batin dan memahaminya merupakan awal bangkitnya wisdom. Batin yang menghadapi tantangan tanpa berpaling pada pengetahuan tidak menemukan rasa aman. Akan tetapi batin yang menemukan rasa aman karena berpaling pada pengetahuan telah menutup diri bagi mekarnya wisdom. Justru batin yang tidak aman dalam menghadapi setiap tantangan terbuka terhadap mekarnya wisdom. Ketika reaksi-rekasi berhenti–reaksi aman atau tidak-aman, menolak atau melekat, senang atau tidak senang berhenti–bukankah muncul respons terhadap tantangan yang bukan berasal dari keterkondisian?

Tidak ada buku, sekolah, guru atau orang lain yang bisa mengajar kita tentang wisdom. Wisdom mekar dengan sendirinya kalau kita memahami lika-liku batin dan itu hanya mungkin kalau batin sepenuhnya diam. Batin yang diam bagaikan tanah subur bagi mekarnya wisdom. Bisakah membiarkan wisdom muncul dan bertindak dalam menghadapi setiap tantangan yang datang dari saat ke saat?*

15 Responses to “Menghadapi Tantangan dengan Wisdom”

  1. Dear Romo,
    Excellent,…thanks so much.
    Article yg membawa kami,para pembaca kpd awareness,
    suwung,”diam” dr saat kesaat.Shg mekarlah wisdom,
    segala sesuatu dihadapi n dihidupi dg apa adanya, tenang, tdk fluctuative, spt arus dunia akhir2 ini.
    Tks selalu diingatkan, utk maju terus dg mantap.

    Cheers,regards,
    l_w

  2. Mempelajari kebijaksanaan yang dilakukan oleh orang lain, itu ada manfaatnya. Contohnya: mempelajari kebijaksanaan Bunda Maria yang terbuka pada panggilan Tuhan. Bagus juga kan kalau kita meneladan Bunda Maria dalam hal menjawab panggilan Tuhan. Tapi tetap harus ingat, bahwa sikon kita beda dari Bunda Maria. Maka kasuistis, kita harus memiliki kebijaksanaan kita sendiri. Tapi pedomannya jelas: pakailah selalu jalan Yesus supaya tidak tersesat. Makanya rajin rajinlah baca KS. Bukan untuk menghapal ayat atau njiplak abiz tapi untuk mendapatkan idea bagi kebijaksanaan pribadi.

    Contoh:
    Injil Yohanes 8: 1- 11 kepada perempuan pendosa, kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

    Bila, anak kita berbuat dosa, bisakah kita hanya berkata: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” tentu tidak, karena kita sebagai orang tua punya kewajiban mendidik mereka. Maka, abb, kita harus juga mengikuti kebijaksanaan Salomo, yaitu kewajiban untuk mendidik anak. Cara apa? Tentu dengan cara parenting jaman ini. Maka harus belajar parenting jaman ini. Mana yang dipakai, ya tergantung kasusnya… ribet banget kaaannn…

    Salam berkah Dalem, rin

  3. @ibnurini: hehehe, bu…bukan kah kebijaksanaan itu relevan untuk semua situasi&kondisi (sikon)? Saya melihat kompleksitas kebijaksanaan muncul ktika hadir keinginan untuk mengkotak2an sikon…

    Membaca kitab suci bagi pngalaman saya pribadi tidak mberi petunjuk untuk melakukan kebijaksanaan yg seperti apa ats sikon tertentu, melainkan mbantu saya untuk melihat sikon yg saya hadapi melalui refleksi yg dikisahkan dalam ayat2 KS…dan rasany kbijaksanaan tidak akan muncul sketika stelah membaca KS…kbijaksanaan muncul bsamaan dg proses pengolahan batin yg terus menerus…refleksi inilah yg saya tangkap dr sikap hidup Bunda Maria scara kseluruhan…

  4. @novi,
    baiklah bu. mungkin memang demikian ya….

    saya mengira, yang namanya kebijaksanaan itu ya tampak saat kita menghadapi sesuatu. Ketika Yesus menghadapi Lazarus yang mati ya Yesus memperlihatkan bahwa Yesus percaya Lazarus pasti tidak mati (iman). Ketika Yesus menghadapi angin ribut Yesus menghardik. Dan ketika Salomo menghadapi 2 ibu yang berebut bayi maka keputusannya adalah untuk membagi si bayi supaya tau yang mana ibu aslinya.

    Hmmmm…. mungkin memang saya masih belum mengerti apa itu kebijaksanaan yang sesungguhnya….

    Salam berkah Dalem, rin

  5. Romo, ada pepatah yang mengatakan kita tidak akan terbang tinggi bila masih membawa beban di pundak… Tentunya dalam konteks ini beban pengetahuan dan pengalaman.
    Apa yang terjadi adalah beban sudah diletakan dan kita juga sudah terbang tinggi… Masalahnya adalah kita masih sering terbang kembali ke tempat dimana kita meletakkan beban tsb… Setiap melihat beban itu, ingin rasanya membuangnya ke tempat dimana yang tidak bisa ditemukan kembali, namun pertanyaan selanjutnya Sanggupkah kita ?? sebab beban itu telah melalui begitu banyak perjuangan … Bisa/mampukah kita menyimpannya sebagai kenang2an saja??

  6. Bila saya baca di kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John M. Echols & Hassan Shadily kata wisdom berarti kebijaksanaan atau kearifan.
    Judul tulisan Romo adalah Menghadapi Tantangan dengan Wisdom.
    Saya setuju bahwa kita harus menghadapi setiap masalah dengan kearifan. Masalahnya standard kebijaksanaan/kearifan sangatlah relatif. Bagi kita umat Kristiani, tentunya “langkah bijak” yang diambil kiranya mengacu pada “Kebenaran Firman Tuhan” yang bersumber pada “kasih”.

    Dengan membaca atau menghafal ayat kitab suci memang tidak serta merta kita menjadi bijak. Akan tetapi manakala kita diperhadapkan dengan suatu masalah, ayat Firman Tuhan bisa kita pakai sebagai acuan. Sebagai contoh: Bila kita (atau rekan yang curhat sama kita) diperhadapkan pada masalah disakiti hati………..yang sangat sakit,
    Kita bisa menasehati diri atau rekan kita dengan hukum kasih yang mengampuni tanpa batas, bahkan mengampuni musuh sekalipun, Sehingga langkah bijak bisa kita ambil.

    Dalam 1 Raja-Raja 3:1-15(Doa Salomo Memohon Hikmat)di sana tertulis : ……..Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian(ayat 12). Hikmat, kebijaksanaan adalah karunia dari Tuhan, agar kita memiliki hati yang bijaksana baiklah kita mohon kemurahan Tuhan dengan kepala tertunduk dan menyadari keterbatasan kita.
    Dalam batas-batas tertentu ilmu pengetahuan memang kita perlukan untuk memecahkan suatu masalah, tetapi bukan semua masalah. Tuhan Yang Maha Bijaksana, Dia adalah Allah yang kreatif. Dia mampu memberikan jalan bagi setiap masalah, juga bagi masalah yang tampaknya sudah tidak ada jalan keluarnya.
    Kita memerlukan waktu hening untuk “mendengarkan” suara Tuhan. Roh Kudus yang diam di hati kita akan “membisikkan” kepada kita langkah bijak yang harus kita ambil dalam masalah yang kita hadapi, atau mungkin bagi masalah orang lain yang mengharapkan sumbang saran dari kita.

    Salam,

  7. @ibnurini: mari bu, kita berproses bersama dalam pemahaman kebijaksanaan yg sejati =)

  8. Syalom..,
    mungkin tidak bijaksana pernyataan sy ini, tp paling tidak berusaha jujur : …sy malah bingung dgn uraian Romo…
    Kalau kitab suci, kata2 bijak, uraian santa/santo, guru dsb..tidak bisa membangkitkan wisdom dlm batin seseorang…? Lalu.., apakah batin kita dibiarkan berkeliaran tanpa acuan dalam menghadapi suatu masalah..? Apakah perlu try n error terus menerus setiap kasus..? Apakah setiap memory itu sampah…?

    Mohon pencerahan…
    dan mohon maaf atas ketidak-bijaksanaan saya..

    salam, berkah Dalem
    vincent bc

  9. Dialog panjang tentang tulisan di atas dari tanggal 10-20 Mei 2011:
    =========

    Adee Dwi Setyaningsih terimakasih Romo..di hampir tengah malam ini, saya diingatkan untuk kembali hening. slamat malam Romo..
    10 May at 23:58 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Rudy Tjokrosuharto tks Pater, ada suatu momentum saat badan dan pikiran sangat lelah, sibuk memadamkan api2 kecil di mana2, shg lupa berlatih untuk diam :)
    11 May at 00:04 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Adee: Selamat beristirahat.
    11 May at 00:07 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Rudy: Baik. Saya off dulu.
    11 May at 00:09 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Rosa Soemarsono Selamat pagi Romo, apa kabar.
    11 May at 00:33 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Ipon Tandayu Makasih Romo, menguatkan bg yg sdg mempunyai masalah…;-). Selamat pg, pa kbr Romo…salam dr mas narmo & anak2.
    11 May at 01:30 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Caecilia Lidwina Maryliedawita Thanks Rm, dipagi hari ini saat membaca posting an Rm sy merasa masih seing batin ini selalu sibuk tiada henti, kepengen wisdomnya senantiasa mekar tanpa hambatan,namun untuk bisa selalu batin diam, masih jauh dari sempurna….Gd morning and met beraktifitas
    11 May at 05:33 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Siwi Setya Jadi apakah yg dimaksud wisdom itu sesungguhnya saat ini…? dapatkah suatu wisdom dicapai di luar batin yg diam..? suatu pemberontakan dlm jiwa yg akan lepas dari belenggu jiwa,dengan kekuatan yg kuat, apakah juga merupakan reaksi wisdom…?
    11 May at 06:47 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Suyono Dharmika Iya Romo, itulah realitas hidup, menggapai kebijaksanaan memang tidak mudah, diperlukan latihan yang terus menerus dan harus selalu sadar dan eling. Salam.
    11 May at 07:22 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Hudoyo Hupudio
    ‎@Siwi: Jangan bertanya, apakah wisdom itu. Wisdom tidak akan muncul selama pikiran & aku bertanya. Pertanyaan yg benar selalu menghasilkan berhentinya pikiran & aku. Wisdom hanya akan muncull ketika pikiran & aku berhenti.

    < >

    Siapakah yg berontak itu? Kalau itu masih pikiran & aku, itu ibarat seekor anak anjing yg berputar-putar mau menangkap ekornya sendiri. Mustahil.See more
    11 May at 07:36 • LikeUnlike • 6 peopleLoading…

    Blaster Sniper Pagiiii romo,,,doakanlah saya yg sedang ada masalah romo
    11 May at 08:09 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Taufik Popee Terimakasih Romo
    Aku sadar belum faham sepenuh
    Tp aku yakin perenunganku terbantukan

    11 May at 08:15 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Yohana Utami Setyarini Kata2 mutiara,words of wisdom,buku2 spiritual bs jd adl bentuk wisdom dr penulisnya, refleksinya dr peristiwa hdupnya.. Yg tentunya blm tentu bs berlaku buat orglain skalipun mslhnya sama/mirip..
    11 May at 08:34 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Vincent Wiryakusuma Note yg mengingatkan kita untuk sering-sering diam dan merasakan apa yg sedang terjadi di dlm bathin. Semoga kita semua berhasil memperoleh wisdom untuk mengatasi berbagai persoalan dlm kehidupan kita.
    11 May at 08:50 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Noer Tjahaja L Bagus sekali Romo, ijin share ya.
    11 May at 09:35 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Angela Marsha Maskita terima kasih sharingnya mo :)
    11 May at 12:40 • LikeUnlike

    Henny Yati ◦†нªηкs◦ Romo.. batin trus bljar u/ diam ϑαn terbebas.. Wlau tantangan trs menghdng..
    11 May at 13:50 • LikeUnlike

    Ronaldy Hehakaya Romo, berarti wisdom itu gabungan dari reaksi dan batin yang menjadi satu. terima kasih untuk tulisan yang menyentuh dan penuh arti yang mendalam
    11 May at 14:58 • LikeUnlike

    Krisna Budi Aryoko like this..ijin share ya mo…maturnuwun
    11 May at 16:48 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ‎@Ronaldy: Semua reaksi muncul dari keterkondisian dan wisdom tidak mungkin muncul dari batin yang terkondisi. Maka keterkondisian batin musti runtuh agar wisdom terbangkitkan.
    11 May at 18:46 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ‎@Krisna and all: Silahkan dishare…
    11 May at 18:47 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta Wisdom = Wis Adem.
    11 May at 19:13 • LikeUnlike

    Si Boru Sorbadjati ijin share, romo. tks. berkah dalem.
    11 May at 20:20 • LikeUnlike

    Stevanus C. Gunawan terima kasih romo, momentum nya sungguh tepat ketika saya sedang menghadapi banyak tantangan, membantu menyadari keterkondisian batin dalam menyikapi masalah yang muncul setiap hari…
    11 May at 22:47 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta Wisdom = Wis Adem (Sudah Teduh). Masalah selalu datangnya kan dari diri sendiri. Tidak pernah masalah datang dari luar. Yang dari luar semuanya adalah stimulus. Bukan masalah. Hati yang teduh bisa menjinakkan stimulus-stimulus tadi.
    11 May at 22:59 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Aloysius Budi Setyawan wisdom kadang datang dengan tanpa muka, tanpa tanya, tanpa rupa, tanpa dimengerti, tak usah di cerna, tanpa …………………
    11 May at 23:20 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ‎@Sri Adhisumarta: Diri/ego/pikiran adalah akar dari semua masalah kejiwaan. Kalau diri/ego/pikiran lenyap, masalah juga lenyap. Tidak perlu upaya untuk menjinakkan masalah karena masalahnya sudah lenyap bersama dengan lenyapnya diri/ego/pikiran.
    11 May at 23:53 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Stevanus: Setiap tantangan adalah momentum bagi tumbuhnya wisdom selama batin tidak lagi reaktif, tetapi responsif. Selamat mempraktikkan.
    12 May at 00:12 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Pudji Tursana diam tetapi bukan mapan, asyik ya … ;-)
    12 May at 10:12 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta
    Saya kok jadi bingung membaca tulisan di atas. Di akhir tulisan diharapkan orang memiliki “batin yang seluruhnya diam” untuk ladang suburnya wisdom. Namun, tulisan ini sendiri menyiratkan ketidak diamnya batin sang penulis (maaf) dengan men…gatakan “Kebanyakan dari mereka memiliki batin yang kolot, dangkal, lapuk, dijejali oleh sampah ingatan masa lampau” (kalaimat terakhir paragraf 4). Frase yang menggambarkan posisi antara diri sang penulis dengan mereka. Kalimat yang penuh kesombongan.See more
    12 May at 10:24 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes
    ‎@Sri Adhisumarta:

    Janganlah dibaca sepotong-sepotong. Lihatlah keseluruhan paragraf 4:
    “Kenyataannya, banyak orang yang semakin tua bukannya tambah bijaksana, tetapi justru semakin tidak bijaksana. Kenyataannya, banyak cendekia, ahli di bidang ini atau itu, termasuk ahli di bidang kerohanian, tidak memiliki batin yang muda, baru, segar, tajam, penuh vitalitas. Apakah Anda melihat orang-orang tua atau para cendekia yang batinnya polos, segar, tajam, penuh vitalitas? Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Kebanyakan dari mereka memiliki batin yang kolot, dangkal, lapuk, dijejali oleh sampah ingatan masa lampau.”

    Paragraf tersebut hendak menampilkan “fakta”, bukan “penilaian.” “Fakta” tersebut ditampilkan sebagai antitesa dari paragraph sebelumnya:
    “Semakin banyak pengalaman atau pengetahuan, orang dianggap akan menjadi lebih arif. Dengan demikian, semakin bertambah umur, orang dianggap akan menjadi lebih bijaksana.”See more
    12 May at 12:41 • LikeUnlike • 4 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Terima kasih penjelasannya. Boleh kan nyambung lagi. Sebuah fakta ditampilkan untuk mendukung wacana yang ditampilkan. Karena itu, fakta ini sudah memuat nilai, sebagai pendukung wacana. Dan hampir seluruh paragraf 4 di atas memang menampilkan “fakta” yang sudah “bernilai” untuk mendukung wacana.
    12 May at 13:32 • LikeUnlike

    Aurelia L. Boentaran Sy pilih yg ini saja, mo: “Pengertian benar bukanlah kesesuaian dengan rumus atau dogma kebenaran, melainkan pemahaman akan perkaranya secara langsung; itulah yang disebut dengan wisdom. Pengetahuan tentang kebenaran justru menjadi perintang utama bagi bangkitnya wisdom karena pengetahuan—seperti halnya pengalaman, keyakinan, atau kepercayaan–merupakan penghalang bagi pemahaman secara langsung.” Thx.
    12 May at 17:47 • LikeUnlike

    Aurelia L. Boentaran bgmana dg ketajaman pikiran, naluri dan kepekaan, rm?
    12 May at 21:18 • LikeUnlike

    Stevanus C. Gunawan Romo, ketika batin yg hening menghadapi tantangan / masalah menghasilkan tindakan yg responsif, lalu muncul tantangan baru ketika interaksi dengan orang lain yg cenderung reaktif sehingga tindakan responsif kita menjadi terganggu, di tahap ini saya masih belum sepenuhnya bisa hening, apalagi jika pengaruh itu dari orang terdekat…
    12 May at 23:02 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes
    ‎@Aurelia: Tidak ada pikiran yang tajam 100%. Sekalipun demikian pikiran yang tajam kita butuhkan untuk menghadapi masalah teknis sehari-hari. Tetapi untuk memahami dengan tajam masala…h-masalah kehidupan yang lebih halus, pikiran musti berakhir. Yang dibutuhkan adalah kesadaran atau perhatian penuh. Kepekaan muncul dari kesadaran atau perhatian penuh, bukan dari naluri atau pikiran.See more
    13 May at 09:48 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Martina Malau Siang romo, pengalaman banyak membawa pengaruh dalam batin sy, peristiwa yg terjadi membuat kita menyadari betapa ego msh sering mendominasi, baik itu kasar maupun halus, dan ketika batin kita bisa diam ternyata banyak hal yg bisa kita dapatkan, wisdom jg muncul dengan sendirinya,tetapi dibutuhkan latihan yg rutin ya romo. Thx
    13 May at 11:23 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ‎@Stevanus and Martina: Meditasi menjadi lebih menantang ketika kita berinteraksi dengan orang lain, bukan ketika kita nyaman duduk di ruang meditasi. Gangguan yang muncul dalam interaksi dengan orang lain justru membantu kita untuk lebih aware and wise. Let’s keep practicing.
    13 May at 14:48 • LikeUnlike • 6 peopleLoading…

    Caecilia Lidwina Maryliedawita
    Wah membaca comment Rm diatas saya jadi ingat pertama kali saat latihan meditasi di Gd Yos, tuh ada musik ibu-ibu senam..dalam hati , wah gimana nih mau hening, ribut amat, lalu ada yang main drumband, kemudian suara mobil/motor lewat…eeh… lama-lama suara-suara tersebut sama sekali jadi tidak mengganggu, yah ala bisa karena biasa mungkin istilah lainnya untuk keep practising. Yah sekarang kondisi rame seperti apapun sudah tidak masalah berkat resep dr Rm yang selalu memberi advice untuk selalu menyadarinyaSee more
    13 May at 16:58 • LikeUnlike

    Hudoyo Hupudio
    ‎@Sri Adhisumarta: Di tataran pikiran, di tataran kehidupan sehari-hari, fakta & penilaian tidak bisa dipisahkan. Sepuluh Perintah Allah pun mengandung fakta & penilaian.

    Romo Sudri mengajak pembaca –saya dan Anda– untuk melihat fakta dan …sekaligus menilai diri kita masing-masing, bukan menilai orang lain. Untuk apa?

    Untuk sampai pada berhentinya pikiran, berhentinya penilaian:

    “Wisdom mekar dengan sendirinya kalau kita memahami lika-liku batin dan itu hanya mungkin kalau batin sepenuhnya diam.”

    Batin seperti itu tidak perlu lagi menilai fakta; ia langsung melihat fakta, dan bebas dari fakta.

    ***

    Romo Sudri, mohon izin meng-copas diskusi yg menarik dalam thread ini ke Note saya. Terima kasih.See more
    13 May at 18:51 • LikeUnlike • 4 peopleLoading…

    Familia Novita
    hahahaha…romo…novi sungguh tgelitik mbaca tulisan yg ini…

    Memang relatif sulit menemukan figur2 orang yg smakin tua smakin bijak…lebih sering ktemu dg org2 yg smakin tua smakin angkuh krn mngaku sudah makan asam garam khidupan…dahu…lu,sbg org muda, novi sering khilangan arah krn khilangan figur contoh, tp skarang, novi jadi diri sendiri adza dech dlm mbawa diri kmana pun novi bkarya…malah novi sering iseng mjadikan stiap figur org tua yg novi temukan sbg refleksi diri di masa depan seandainy novi nanti mbawakan diri sperti ybs,xixixixi…klo sudah begitu, pjalanan trasa lebih seru&mnyenangkan dech mo =D
    See more
    13 May at 22:21 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Novita: Betul. Kita tidak butuh panutan, tokoh, figur, guru, otoritas. Kalau kita menciptakan otoritas psikologis, kita telah membuat diri kita terbelenggu. Kalau batin kita bebas, barangkali kita melihat wajah kita berbeda dibanding wajah-wajah orang tua yang menikmati rasa aman palsu dengan berlindung di balik penjara otoritas psikologis yang mereka ciptakan sendiri.
    13 May at 23:26 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Hudoyo:< mohon izin meng-copas diskusi yg menarik dalam thread ini ke Note saya.> Silahkan Pak Hud. Trimakasih.
    13 May at 23:27 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Hudoyo Hupudio ‎@Novita: Tulisan yg mana yg meggelitik Anda?
    14 May at 03:56 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Familia Novita ‎@pak hudoyo: tulisan ini scara satu ksatuan, pak =)
    14 May at 12:02 • LikeUnlike

    Hudoyo Hupudio ‎@Novita: Yang Anda maksud dengan “tulisan ini scara satu ksatuan” itu tulisan Romo Sudri atau seluruh isi thread ini?
    15 May at 10:07 • LikeUnlike

    Familia Novita hehehe, pak hudoyo…novi memberi komentar hanya bagi tulisan ‘Menghadapi Tantangan dengan Wisdom’ (tidak berikut dg komentar2 lainnya^_^)
    15 May at 13:08 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta ‎@ Hudoyo Hupudio, matur nuwun wejangannya untuk saya. Boleh ya saya bertanya? Saya cuplikkan dari tulisan bapak “Batin seperti itu tidak perlu lagi menilai fakta; ia langsung melihat fakta, dan bebas dari fakta”. Yang ingin saya tanyakan apa arti dari ketiga kata “fakta” dalam kalimat di atas. Dan batin yang seperti itu “fakta” atau bukan.
    15 May at 17:12 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta Enak lho jadi orang bodho itu …. bisa bertanya.
    15 May at 18:05 • LikeUnlike

    Hudoyo Hupudio
    ‎@Sri Adhisumarta: Sama-sama.

    ‘Fakta’ bagi saya bukanlah ‘objektivitas’ yg biasa dipahami oleh pikiran. ‘Fakta’ = segala sesuatu yg diterima oleh pancaindra, dan segala sesuatu yg muncul dari bawah sadar sebagai ingatan, ‘yg dikenal’.

    Jadi, ‘…orang’ bukanlah fakta lahiriah; tetapi segala sesuatu yg diterima melalui pancaindra yg berkaitan dg ‘orang’ itulah fakta; misalnya: wujudnya yg tampak oleh mata, suaranya yg terdengar oleh telinga dsb. Sedangkan ‘orang’ itu sendiri adalah konstruksi/gagasan pikiran yg terpadu dari segala fakta yg diterima tentang dia; ‘orang’ adalah fakta batiniah (yg bisa salah).

    < >

    Bukan; ‘batin’ bukan suatu entitas yg berdiri sendiri sebagai ‘fakta’; ‘batin’ hanyalah sekadar gagasan yg memudahkan pemikiran tentang isi batin itu sendiri. Batin adalah isinya. Kalau orang marah, maka marah itulah batinnya. Kalau batin kosong, maka kosong itulah batinnya.See more
    16 May at 08:35 • LikeUnlike • 5 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta
    ‎@ Bpk Hudoyo Hupudio yang baik senang saya dapat penjelasan di atas. Bapak baik bukan hanya “batin” Bapak yang baik. Tetapi Bapak sebagai “manusia” sebagai “pribadi”, “jiwa-badan” “lahir-barin” memang baik. Mungkin suatu ketika Bapak marah…. Apakah yang marah “batin” Bapak? Saya akan memahami Bapak sebagai “manusia” yang dipanggil Hudoyo Hupudio ini yang marah. Bukan hanya “batin” nya yang marah. Saya kepingin memahami manusia sebagai kesatuan “jiwa-raga”, tidak terpisahkan. Masing-masing punya otonomi yang semakin menjadi teguh dan menyatu ketika berkorelasi.See more
    16 May at 09:41 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sri Adhisumarta Romo Sudrijanta Johanes mohon ijin ( hehehe seperti gaya tentara saja) saya memakai lahan ini untuk ngansu kaweruh.
    16 May at 09:42 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta ‎Hudoyo Hupudio bagi saya fakta bukan hanya yang diterima oleh pancaindera dan merupakan sesuatu yang mundul dari bawah sadar sebagai ingatan. Fakta juga merupakan akifitas yang dengan sadar dari diri manusia untuk melakukan. membuat, menjalankan, mengerjakan sesuatu aktifitas. Termasuk mengolah batin.
    16 May at 10:00 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Sri Adhisumarta:

    Selama masih ada kesadaran pikiran (consciousness) bahwa ada “si aku” atau “si diri” yang “bertindak”, maka “tindakan si aku” itu merupakan ilusi tentang fakta.
    16 May at 10:13 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Romo terus arti kata “ilusi” dan “fakta” itu sendiri apa?
    16 May at 10:18 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta Kalau saya dengan sadar bilang “Wah romo Sudriyanto itu…sangat bijaksana”. Itu ilusi atau bukan?
    16 May at 10:21 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ‎@Sri Adhisumarta: Dalam bahasa komunikasi sehari-hari, kita sering mengatakan “aku mendengar”, “aku melihat”, “aku bertindak”, dst. Tetapi sesungguhnya adakah yang disebut “si aku” sebagai entitas ontologis yang mendengar, melihat, bertindak, dst? Bukankah entitas ontologis “si aku” itu hanya ciptaan pikiran? Kalau pikiran menganggap bahwa “si aku” itu ada, maka batin berada dalam ilusi.
    16 May at 10:33 • LikeUnlike • 3 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Kalau saya bilang “aku mendengar-melihat-bertindak” itu merupakan penghayatan hidup saya sebagai Sri Adhisumarta dalam menjalani kehidupan ini. Yang mendengar-melihat-bertindak bukan “kamu atau dia”.
    16 May at 10:38 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes Persis itulah yang disebut dengan ilusi tentang fakta bahwa ada “si aku”, “Sri”, “Sudri”, dst yang menjalani hidup ini. Selama masih ada “si aku”, batin tidak akan bisa melihat fakta sebagai “apa adanya”. Hanya ketika “si aku runtuh”, segala sesuatu terlihat sebagai fakta “apa adanya”.
    16 May at 10:50 • LikeUnlike • 3 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Dari semua penjelasan di atas terlihat bahwa Wisdom itu ternyata tidak ada. Wisdom itu hanya ilusi. Wisdom itu lepas dari “manusia”. Wisdom itu tidak bisa menjad dan berada dalami “diri manusia”. Terus di mana adanya Wisdom?
    16 May at 10:55 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes
    Wisdom hanya muncul kalau “si aku”, “si ego”, “pikiran” sebagai sumber dari segala ilusi runtuh seluruhnya. Kalau “si aku” masih ada, Wisdom tidak mungkin muncul. Melihat fakta “apa adanya” tanpa mengurangi atau menambah, tanpa melawan atau… melekat adalah awal dari Wisdom. Jadi jangan mencoba untuk mengerti (dengan pikiran Anda) apa itu Wisdom, tetapi selamilah setiap pikiran hingga berakhir seluruhnya. Ketika pikiran berakhir, Wisdom terlahir.See more
    16 May at 11:04 • LikeUnlike • 5 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Romo, bisa nggak menyebutkan sosok yang sudah bisa mencapai “wisdom” yang romo maksudkan.
    16 May at 11:08 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes Untuk bisa melihat sosok yang sudah mencapai Wisdom, Anda musti berada setingkat dengan sosok tersebut. Kalau tidak, Anda hanya akan memandang dengan ilusi. Jadi lebih penting melihat dan membongkar ilusi kita sendiri dan dengan cara demikian menemukan sendiri Wisdom itu.
    16 May at 11:13 • LikeUnlike • 7 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Sri Adhisumarta: Saya off dulu.
    16 May at 11:19 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta Bagi saya,maaf ya kalau saya salah, manusia yang memberikan gambaran sampai disebut mencapai “wisdom” itu Mother Teresa. Dalam sosok dirinya yang kecil itu, terlihat betapa “besar”nya dia. dari wajahnya yang keriput itu terpancar “kemanusiaannya” yang sangat menyapa dunia. Tidak dengan kata-kata sulit dicerna, dia melakukannya.
    16 May at 11:23 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta ‎Sudrijanta Johanes monggo romo…terima kasih.
    16 May at 11:24 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sri Adhisumarta Saya memang tidak setingkat dengan Mother Teresa, tapi saya bisa tersapa oleh “wisdom”nya. (Indah kan…hahahahaha)
    16 May at 11:34 • LikeUnlike

    Hudoyo Hupudio
    SRI ADHISUMARTA:
    < >

    Justru saya berpendapat sebaliknya. Batin tidak berbeda dengan ‘isi batin’, yg berubah-ubah dari saat ke saat: senang, marah dsb. Tidak ada batin, apalagi sosok pribadi, yang merupakan entitas ontologis yg berdiri sendiri, di luar & di atas isi batinnya.

    < >

    Silakan saya kalau Anda mau berpendapat demikian. Sebaliknya, saya memahami manusia, terutama batin manusia, yg saya hadapi sebagai fenomena yg selalu berubah, yg selalu tidak sama dari saat ke saat, yg selalu baru, tanpa ada image (citra) apa pun dari masa lampau tentang orang itu.

    Yang sering terjadi justru sebaliknya. Sepasang suami-istri, yg sudah hidup berpuluh tahun, masing2 pihak membentuk image (citra) tentang pihak lain, yg berasal dari pengalaman masa lampau (yg sering kali tidak valid lagi untuk saat sekarang); lalu kedua image masa lampau itu saling bertempur siang malam. Yang bertempur bukan dua sosok manusia, melainkan dua image dari masa lampau. Itulah prototipe dari konflik antar manusia di mana pun dan dalam skala apa pun.

    < >

    Tampaknya Anda bukan “ngangsu kawruh”; alih-alih, Anda sudah punya kawruh sendiri yg Anda benturkan dengan kawruh orang lain dengan pertanyaan-pertanyaan Anda.

    < >

    Bagi saya, apa itu fakta sudah saya uraikan di atas; yaitu segala data indrawi dan ingatan, ‘yg dikenal’, yg muncul dari bawah sadar sebagai ingatan. Rangsangan indrawi adalah fakta primer; sedangkan ingatan itu fakta sekunder.

    Sedangkan ‘aktivitas’ manusia (pemikiran, emosi, pertimbangan, penilaian, pemilihan, keputusan dan tindakan) adalah ‘reaksi batin terhadap fakta’.

    Jadi, dalam kesadaran manusia sehari-hari selalu ada dua hal: FAKTA dan REAKSI BATINNYA TERHADAP FAKTA.

    Kalau FAKTA itu –baik primer maupun sekunder– selalu benar dalam dirinya (termasuk gagasan-gagasan yg “salah”), maka REAKSI TERHADAP FAKTA itu SELALU terkondisi, terdistorsi (oleh keinginan, ketidaksenangan dsb dari si aku), dengan demikian “tidak benar”.

    Romo Sudri menamakan reaksi batin yg bersumber dari ‘diri’/'aku’ itu sebagai ilusi; saya menambahkan reaksi batin itulah sumber penderitaan.

    ROMO SUDRI:
    “Selama masih ada kesadaran pikiran (consciousness) bahwa ada “si aku” atau “si diri” yang “bertindak”, maka “tindakan si aku” itu merupakan ilusi tentang fakta.”

    HUDOYO:
    Setuju, Romo.

    SRI ADHISUMARTA:
    < >

    Bagi saya, ‘fakta’ sudah saya jelaskan. ‘Ilusi’ adalah segala sesuatu yg dibentuk oleh pikiran & si aku (yg bisa salah, bisa benar, dan oleh karena itu tidak bisa diandalkan).

    < >

    Itu ilusi; persis ketika Anda bilang “Pak Hudoyo orangnya baik”. Mengapa? Karena belum tentu benar. Informasi yg Anda terima tentang Romo Sudri atau tentang Hudoyo tidak pernah lengkap, dan selalu bisa salah, sehingga tidak bisa diandalkan.

    < >

    Itu pengertian manusia kebanyakan dalam kesadaran sehari-hari, itu bukan kesadaran meditatif yg terdalam.

    Romo Sudri telah menjelaskan bahwa gagasan ‘aku’, ‘kamu’, ‘dia’ itu adalah ilusi, karena tidak ada entitas ontologis yg ada di situ. Yang ada hanyalah batin bertemu batin, yg masing-masing membentuk gambaran satu sama lain, lalu saling bertempur.

    Sikap batin seperti itu bisa saja cukup untuk hidup sehari-hari dalam kebersamaan, tapi sering kali menjadi sumber konflik, karena bukan kebenaran saat ini, melainkan berasal dari masa lalu.

    < >

    Wisdom dalam pengertian sehari-hari bersumber dari pikiran & pengalaman (dari masa lampau). Di atas telah saya tunjukkan bahwa baik pikiran & pengalaman bukan kebenaran terakhir, dan tidak bisa diandalkan. Ilusi terbesar adalah dualitas fundamental dalam kesadaran manusia sehari-hari, yaitu ‘aku’ dan ‘bukan-aku’, yg diciptakan oleh pikiran.

    Kalau pikiran & aku bisa berhenti, maka di situ muncullah sesuatu yg lain, sesuatu yg bukan berasal dari pikiran & aku. Itulah wisdom sejati, itulah intelligence (yg bukan berasal dari pikiran), itulah love (yg bukan berasal dari aku). Maka ‘aku’ dan ‘bukan-aku’ runtuh; yg di dalam dan yg di luar sama saja. ‘aku’ dan ‘kamu’ tidak berbeda. “Tat tvam asi” (“Itulah kamu”)

    < >

    Capailah lebih dulu berhentinya pikiran dan aku Anda, dan Anda akan tahu siapa saja yg sudah mencapai wisdom seperti itu. Selama masih ada pikiran, maka penilaian Anda akan selalu terdistorsi oleh keinginan & harapan Anda.

    < >

    Banyak orang seperti Ibu Theresa, sekalipun tidak terkenal karena tidak terliput oleh media massa.

    Tetapi tetap saja gambaran yg ada di kepala Anda, sebaik apa pun, tetap terkondisi, terdistorsi sedikit atau banyak, karena Anda tidak tahu 100% apa yg berlangsung dalam batin Ibu Theresa.

    Tahukah Anda bahwa Ibu Theresa merasa Tuhan meninggalkannya atau Tuhan bersembunyi darinya? Bagaimana Anda memahami pernyataan itu? Hanya orang yg sudah sampai pada tataran itu akan bisa memahaminya.

    Silakan baca buku “Pengalaman Tanpa Diri” (The Experience of No-Self) tulisan Bernadette Roberts, seorang ibu rumah tangga Katolik, mantan biarawati, yg kehilangan akunya. Buku itu telah saya terjemahkan seluruhnya (150 halaman), dan e-book-nya bisa Anda unduh dari situs web MMD, http://meditasi-mengenal-diri.org/, atau dari Halaman “MMD” di Facebook, http://www.facebook.com/pages/MMD-Meditasi-Mengenal-Diri/112080885544108.

    Ketika Bernadette mengalami runtuhnya akunya pada usia 40-an tahun, sekaligus ia kehilangan Tuhannya, dan digantikan oleh sesuatu yg lain, yg meliputi segala sesuatu yg ada, termasuk dirinya.

    Saya sendiri tersentuh oleh ‘wisdom’ Bernadette Roberts. Orangnya masih hidup sekarang di California.See more
    18 May at 05:37 • LikeUnlike • 7 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Pak Hudoyo Hupudio saya memang “ngangsu kaweruh”, dari Bapak, dan juga dari Romo Sudrijanta Johanes. Siapa tahu nanti ada juga yang nimbrung lagi dari para sufi yang berlatar belakang lain. Bukankah itu ikut memperkaya saya dan juga pembaca lainnya.
    18 May at 13:19 • LikeUnlike

    Jerry Parlindungan Kalo gitu wisdom didialogkan? :D
    18 May at 14:50 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta Jerry Parlindungan, yang menyatukan kita di sini kan kata yang terangkai dalam kalimat yang membuat kita bisa berkomunikasi. Apakah kata ini termasuk ilusi, saya sendiri juga tidak tahu.
    18 May at 14:54 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta
    Kalau saya menulis kata “duren” yang tergambar di pikiran saya adalah semacam bentuk lonjong berduri dan kalau dibelah ada isinya entah warna putih atau kuning dan di dalamnya lagi ada bijinya. Saya sudah terkondisikan bahwa duren itu seper…ti itu. Membaca jabaran di atas jelas kata duren itu juga ilusi. Ketika saya ingin menggambarkan sperti apa duren tersebut dengan kata berduri yang tergambar adalahs eseuatu yang runcing ini juga ilusi. Dan ketika saya menyebut putih, kuning … ini juga ilusi. Kapakah semua kata sebenarnya juga ilusi?See more
    18 May at 19:53 • LikeUnlike

    Hasbi Maulana Ya. Semua kata adalah ilusi. Duren yang ada dalam benak Anda berbeda dengan duren dalam benak saya. Kita masing-masing berilusi tentang duren.
    18 May at 21:02 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta Mas Hasbi Maulana menarik dari kata -kata mas bisa saya lanjutkan bahwa semua kata yang menjadi alat kita berkomunikasi dan mengenali diri ini adalah ilusi. Bukankah kata-kata yang ada di kamus semuanya adalah persetujuan antar manusia dengan arti tertentu dan disepakati bersama? Dan kita ternyata memakai untuk membicarakan ilusi selama ini.
    18 May at 21:09 • LikeUnlike

    Hasbi Maulana
    Benar. Kata adalah simbol yang mewakili pikiran, sehingga memungkinkan kita untuk saling “berkomunikasi”. Berkomunikasi saya kasih tanda petik karena sesungguhnya apa yang kita komunikasikan saling berbeda.

    Kata “duren” duren yang ada dalam… pikiran saya berbeda dengan duren dalam pikiran Anda. Sudahkah Mas Sri hitung ada berapa duri pada kulit duren yang ada dalam pikiran Anda? Apakah dijamin sama dengan jumlah duri duren dalam pikiran saya?

    Itu pula sebabnya tidak selamanya komunikasi kata-kata sukses menghasilkan persepsi yang sama antar dua orang. Bahkan, pasti persepsi antar orang saling berbeda terhadap obyek yang sama. Kalau pun kita saling sepakat terhadap suatu obyek, sesungguhnya kita hanya “mengira” sepakat.See more
    18 May at 21:22 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sucipto Hume Begitu kita menjilat duren, KESAN rasa itu adalah riil.. Sedangkan kesan yang diingat (GAGASAN) bukan riil atau ilusi…
    18 May at 21:43 • LikeUnlike

    Sucipto Hume Rasa duren seperti apa adalah KESAN (riil), sedangkan enak atau tidak enak adalah GAGASAN (bukan riil)..
    18 May at 21:49 • LikeUnlike

    Sucipto Hume KESAN yang kita lihat adalah riil.. tetapi siapa yang melihat? Aku? Apa KESAN terhadap Aku? Aku ternyata baik/buruk,
    18 May at 21:54 • LikeUnlike

    Sucipto Hume Aku ternyata GAGASAN yang amat komplek dalam ingatan.. tidak riil..
    18 May at 21:58 • LikeUnlike

    Jerry Parlindungan
    Banyak ahli filsafat…tp topiknya soal “wisdom/kebijaksanaan sejati”..gimana kalo kita kembalikan ke romo..
    krna saat ini begitu banyak org yg menyerahkan hidupnya kpd para ahli, kalau aku ingin belajar berdoa aku pergi kpd pembimbing rohan…i. Utk menemukan kehendak Tuhan aku pergi kpd pembimbing retret. Utk mendalami kitab suci aku pergi kpd seorg ahli kitab suci. Utk mengetahui apakah aku berdosa atw tidak aku pergi kpd seorg ahli teologi moral dan utk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosaku aku mengaku kpd seorg imam. Silahkan romo saya kembalikan ke romo. Romo juga pasti bangga umatnya pintar2 ahli filsafat semua…☺Hë•⌣•hë•⌣•Hë•⌣•hë☺ See more
    18 May at 22:07 • LikeUnlike

    Jerry Parlindungan Untuk mengerti kebijaksanaan sejati saya mesti pergi kemana ???
    18 May at 22:11 • LikeUnlike

    Sucipto Hume ‎@Jerry: Tidak usah kemana2.. cobalah amati yang riil2 saja.. jangan yang ilusi…. maaf jika tidak suka..
    18 May at 22:23 • LikeUnlike

    Jerry Parlindungan ‎~♓éђё•..•♓ёђê•..•♓èђe~ bukan tidak suka, justru aku suka kok, cuma kalo sudah masuk ranah filsafa jadi bias kemana2 ga singkron lagi nanti sama substansi notesnya…makanya saya kembalikan ke romo sbg moderatornya ~♓éђё•..•♓ёђê•..•♓èђe~ pis bro..

    18 May at 22:33 • LikeUnlike

    Sucipto Hume nyantai aja.. tapi ini juga bukan filsafat, ini kehidupan sehari2 yang kita temui…. oke, ga apa2 tiap orang berbeda2..
    18 May at 22:39 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes
    ‎@Sri Adhisumarta:

    Mas Hasbi sudah menjelaskan bahwa kata adalah buah pikiran; itulah mengapa semua kata adalah ilusi, seperti kata-kata Wisdom, Tuhan, Kebenaran, duren, dst.

    Sudah dijelaskan pula bahwa komunikasi antar dua pihak tidak mungkin menghasilkan pemahaman menyeluruh selama kedua belah pihak dipenjara oleh kata-kata (pikiran).

    Di satu pihak kita membutuhkan kata-kata untuk berkomunikasi. Di pihak lain, pemahaman tidak mungkin terjadi kalau batin terpenjara oleh kata-kata. Oleh karena itu, agar komunikasi menghasilkan pemahaman menyeluruh, kedua belah pihak musti bebas dari penjara kata-kata (pikiran), memahami melampaui kata-kata (pikiran).

    Pemahaman non-konseptual seperti ini yang terjadi dengan melihat langsung faktanya tanpa melalui kata-kata (pikiran, kamus, teori, dst) melahirkan Wisdom. Wisdom yang kemudian dirumuskan dalam kata-kata dan dikomunikasikan kepada orang lain bukanlah Wisdom itu sendiri, sekalipun bisa jadi orang terpukau oleh kata-kata Wisdom tanpa mengalami Wisdom itu sendiri.See more
    18 May at 23:09 • LikeUnlike • 4 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes
    ‎@Jerry:

    Seperti jawaban Sucipto Hume, Anda tidak perlu pergi ke mana-mana. Alih-alih sadarilah dan selamilah gerak-gerik batin Anda (pikiran, perasaan, reaksi-reaksi batin). …Kebijaksanaan sejati muncul dengan sendirinya ketika pikiran berhenti seluruhnya. Nantinya Anda akan memahami mana yang “fakta” dan mana yang “ilusi”, mana yang wisdom versi akumulasi pengetahuan dan mana yang Wisdom sejati.See more
    18 May at 23:30 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Hudoyo Hupudio
    JERRY PARLINDUNGAN:
    Kalo gitu wisdom didialogkan? :D

    SRI ADHISUMARTA:
    Jerry Parlindungan, yang menyatukan kita di sini kan kata yang terangkai dalam kalimat yang membuat kita bisa berkomunikasi. Apakah kata ini termasuk ilusi, saya sendiri jug…a tidak tahu.

    HUDOYO:
    @Jerry & Sri: Ada 2 level wisdom:

    (1) Wisdom di level intelek/pikiran/aku, di level kesadaran sehari-hari, untuk hidup sehari-hari. Wisdom ini dapat dibahas secara rasional. Setiap orang yg berpikir bisa mengerti wisdom ini.

    (2) Wisdom di level transendental, mengatasi pikiran/aku. Kebenaran yg diacu oleh wisdom ini terletak di luar jangkauan pikiran & aku. Tetapi wisdom ini juga bisa dikomunikasikan dengan kata-kata, sekalipun kata-kata di sini tidak sama dengan apa yg dikatakan. Hanya sedikit orang yg mampu memahami wisdom ini.

    Ada pepatah Zen yg menggambarkan wisdom transendental ini, yakni: “telunjuk yg menunjuk ke bulan”. ‘Telunjuk’ adalah kata-kata, ‘bulan’ adalah wisdom transendental. ‘Telunjuk’ bukanlah ‘bulan’. Banyak orang berkutat pada ‘telunjuk’, tanpa pernah mencicipi ‘bulan’.

    Contoh wisdom intelektual (#1) adalah cerita tentang domba & kambing dalam Matius 25:31-46. Anak sekolah pun bisa mengerti wisdom ini.

    Contoh wisdom transendental (#2) adalah kata-kata Paulus berikut: “Sekarang aku sudah disalibkan bersama Kristus; bukan aku lagi, melainkan Kristus yg hidup di dalam ini.” (Galatia 2:19-20) Tidak banyak orang Kristen yg memahami maksud sebenarnya pernyataan Paulus ini tanpa memelintir kata-katanya.

    ***

    SRI ADHISUMARTA:
    … Membaca jabaran di atas jelas kata duren itu juga ilusi. Ketika saya ingin menggambarkan sperti apa duren tersebut dengan kata berduri yang tergambar adalahs eseuatu yang runcing ini juga ilusi. Dan ketika saya menyebut putih, kuning … ini juga ilusi.

    HUDOYO:
    Berarti Anda tidak memahami sama sekali apa yg saya jelaskan dalam posting-posting sebelum ini tentag ‘fakta’ dan ‘ilusi’. Untuk apa saya teruskan diskusi ini?

    Menurut apa yg saya jelaskan di atas, maka ‘duren’ itu terdiri dari wujud, bau, rabaan, kecapan lidah dsb. Semua itu adalah ‘fakta’; sedangkan ‘duren’ itu sendiri adalah kesepakatan di antara orang Indonesia untuk menyatakan kumpulan rangsangan indrawi itu; orang Inggris tentu menamakannya lain, bukan ‘duren’.

    Jadi kumpulan rangsangan indrawi itu adalah ‘fakta’.

    Lain lagi dengan ‘ilusi’: “Saya suka duren” adalah ilusi; “saya tidak suka duren” adalah ilusi. Pengertian ‘saya’, ‘suka’ dan ‘tidak suka’ adalah ilusi.

    “Teroris membunuh itu jahat” itu adalah ilusi. “Membunuh dalam perang demi tanah air itu baik” itu adalah ilusi.

    “Saya percaya Tuhan ada” itu adalah ilusi. “Saya tidak percaya Tuhan ada” itu adalah ilusi.

    “Agama Kristen benar, Agama Islam salah” itu adalah ilusi. “Agama Islam benar, Agama Kristen salah” itu adalah ilusi.

    Dengan menampilkan argumentasi ‘duren’, tampak usaha saya menjelaskan pengertian ‘fakta’ vs ‘ilusi’ kepada Anda tidak berhasil, sehingga argumentasi Anda menjadi sirkuler (berputar kembali). Saya sudah berpikir akan mengakhiri saja diskusi yg sia-sia ini. Kalau diteruskan akan menjadi debat kusir; salah satu tanda debat kusir adalah argumentasi yg sirkuler.

    ***

    SRI ADHISUMARTA:
    Mas Hasbi Maulana menarik dari kata -kata mas bisa saya lanjutkan bahwa semua kata yang menjadi alat kita berkomunikasi dan mengenali diri ini adalah ilusi. Bukankah kata-kata yang ada di kamus semuanya adalah persetujuan antar manusia dengan arti tertentu dan disepakati bersama? Dan kita ternyata memakai untuk membicarakan ilusi selama ini.

    HUDOYO:
    Semua kata tidak mempunyai sifat yg sama dalam hal ‘faktual’ atau ‘ilusif’-nya. Semakin erat kata itu mengacu pada rangsangan indrawi (sense objects), semakin ‘faktual’ kata itu. Contohnya: ‘duren’.

    Sebaliknya, semakin sedikit kata itu berkaitan dengan sense objects, semakin ‘ilusif’ kata itu. Contohnya: “Tuhan”, “sorga”, “neraka” adalah 100% ilusif, tidak ada acuan indrawinya sama sekali.

    ***

    JERRY PARLINDUNGAN:
    Banyak ahli filsafat…tp topiknya soal “wisdom/kebijaksanaan sejati”..gimana kalo kita kembalikan ke romo..
    krna saat ini begitu banyak org yg menyerahkan hidupnya kpd para ahli, kalau aku ingin belajar berdoa aku pergi kpd pembimbing rohani. Utk menemukan kehendak Tuhan aku pergi kpd pembimbing retret. Utk mendalami kitab suci aku pergi kpd seorg ahli kitab suci. Utk mengetahui apakah aku berdosa atw tidak aku pergi kpd seorg ahli teologi moral dan utk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosaku aku mengaku kpd seorg imam. Silahkan romo saya kembalikan ke romo. Romo juga pasti bangga umatnya pintar2 ahli filsafat semua.

    HUDOYO:
    Saya rasa Romo Sudri pun tidak setuju untuk dijadikan otoritas dalam hal-hal yg menyangkut kesadaran manusia. Justru di dalam meditasi yg diajarkan oleh Romo Sudri semua otoritas apa pun –otoritas ahli teologi, otoritas kitab suci dsb– harus dilepaskan.

    ***

    JERRY PARLINDUNGAN:
    Untuk mengerti kebijaksanaan sejati saya mesti pergi kemana ???

    HUDOYO:
    Tidak pergi ke mana-mana. Anda tidak bisa memahami kebijaksanaan sejati dengan pikiran dan dengan aku Anda. Alih-alih, Anda hanya bisa mengamati, menyadari dan memahami apa yg menghalangi munculnya kebijaksanaan sejati, yaitu pikiran dan aku Anda. Jadi, sadari saja pikiran & aku Anda setiap kali muncul.

    Nanti, kalau Anda bisa terus-menerus menyadari pikiran & aku Anda secara pasif terus-menerus, pada suatu titik kelak pikiran & aku ini bisa berhenti dengan sendirinya, bukan karena dibuat berhenti. Di situlah muncul kebijaksanaan sejati, ketika pikiran & aku Anda lenyap.

    Tapi munculnya kebijaksanaan sejati itu bukanlah hasil usaha Anda, bukan hasil meditasi Anda. Justru pikiran & aku Anda harus lenyap agar ia bisa muncul. Kapan ia akan muncul tidak bisa Anda harapkan, tidak bisa Anda prediksikan, tidak bisa Anda pastikan.

    ‘Keselamatan’ [maksudnya: wisdom] bukanlah hasil usaha pikiran & aku.See more
    19 May at 05:51 • LikeUnlike • 3 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta
    Meskipun hanya “ilusi” saya tetap “mengagumi” jabaran Romo Sudri dan Bpk Hudoyo Hupudio. Dan buat Bapak Hudoyo saya tidak bermaksud debat. Saya hanya bertanya karena memang saya ingin tahu. Apakah keinginan tahu saya ini tidak pada tempatny…a? Kalau memang tidak pada tempatnya saya minta maaf. Tapi boleh kan mengutarakan sesuatu?
    ROMO SUDRIJANTA menuliskan: “Mas habib sudah menjelaskan bahwa kata adalah buah pikiran; itulah mengapa semua kata adalah ilusi, seperti kata-kata Wisdom, Tuhan, kebenaran, duren, dst.
    Bapak HUDOYO menyebutkan:
    Semua kata tidak mempunyai sifat yg sama dalam hal ‘faktual’ atau ‘ilusif’-nya. Semakin erat kata itu mengacu pada rangsangan indrawi (sense objects), semakin ‘faktual’ kata itu. Contohnya: ‘duren’.
    Sebaliknya, semakin sedikit kata itu berkaitan dengan sense objects, semakin ‘ilusif’ kata itu. Contohnya: “Tuhan”, “sorga”, “neraka” adalah 100% ilusif, tidak ada acuan indrawinya sama sekali.

    Ada hal yang sangat menarik bagi saya. Dari penjelasan Romo Sudri dan Pak Hudoyo jelas terlihat perbedaan mendasar. Romo mengatakan semua kata adalah ilusi karena itu buah pikiran. Sedangkan Pak Hudoyo menjabarkan ada gradasi dalam kata ada yang semakin “factual” ada yang semakin “ilusif”.
    Yah sah-sah saja mengingat latar belakang dan perjalanan hidup masing-masing pribadi menjalani kehidupan dengan segala latar belakangnya. Bukankah hal-hal yang berbeda ini semakin memperkaya? Paling tidak bagi saya. Entah buat pembaca lainnya.
    Terima kasih saya diperkanankan bertanya, bukan berdebat.See more
    19 May at 10:50 • LikeUnlike

    Sri Adhisumarta
    Sering dalam perjalanan menelusuri sungai-sungai di Kalimantan, melihat rimbunnya hutan, atau sedang dalam perjalanan melihat cahaya matahari yang menerobos awan jatuh di puncak gunung, membuat saya tertegun untuk mengaguminya. Indah, luar …biasa, ..bahkan sampai menitikkan air mata berhadapan dengan alam yang seperti itu. Ketika berhadapan dengan hal yang seperti itu, entah itu “fakta” atau itu “ilusi”, saya sering bertayan “Apakah ornag lain bisa menyadari keindahan yang seperti itu seperti yang saya rasakan?”See more
    19 May at 11:13 • LikeUnlike

    Jerry Parlindungan
    Spertinya belum tentu, sebab menilik dari semua penjelasan dan rumusan rumusan, sepertinya wisdom tidak berlaku universal karena tergantung dari latar belakang dan pengalaman masing2 orang. Berbeda seperti value atas nilai2 moral yg dapat …dikatakan berlaku universal. Ini kembali pada tingkatan mana yg dicapai oleh pribadi masing2.dan pengajaran atas hal itupun juga tergantung dengan pribadi masing2 org. Ada yg mendapat penerangan batin dengan melihat pemandangan alam akan tetapi ada pula yg lewat menebang pohon “oh aku menebang pohon”..atau mungkin dengan mlakukan aktivitas rutinnya sehari hari. Intinya adalah momentum ketika si “aku” dan “ego” runtuh dari bangunan2 pikiran si aku..dan momentum itu tidak bisa dicapai oleh setiap org secara universal karenanya dalam pengajaran
    Potonglah baju sesuai dengan ukuran seseorang jangan potong seseorang menurut ukuran bajunya sebab bisa berbahaya seperti para pelaku bom bunuh diri..mereka melakukannya atas dasar wisdom yg mereka dapat dari brainwash.See more
    19 May at 11:43 • LikeUnlike

    Jerry Parlindungan Artinya. Menurut saya wisdom itu bebas nilai tidak benar ataupun tidak salah tergantung latar belakang dan pribadi orang yg menangkapnya..
    19 May at 11:50 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes
    ‎@Sri Adhisumarta:Apa yang “factual” dan apa yang “ilusif” sudah dijelaskan panjang lebar di atas. Penjelasan saya, Mas Hasbi Maulana maupun Pak Hudoyo saling melengkapi. Anda tidak akan menangkap esensi penjelasan di atas selama Anda tidak… menyadari perangkap gerak pikiran Anda sendiri dan membiarkan pikiran Anda berhenti.

    Kalau pikiran tidak berhenti, batin akan gampang terkecoh dalam melihat fakta: apa yang “ilusif” dilihat sebagai yang “factual”. Untuk bisa melihat sendiri yang “ilusif” sebagai “ilusif” dan yang “factual” sebagai yang “factual”, pikiran musti berhenti.See more
    19 May at 15:07 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Jerry P:
    Wisdom yang dibicarakan di Note ini berbalikan dengan wisdom menurut pemahaman Anda atau pemahaman kebanyakan orang. Bacalah kembali baik-baik pembedaan “wisdom intelektual” dan Wisdom transendental” di atas.
    19 May at 15:19 • LikeUnlike

    Elizabeth Juliyanti Laurensi
    Ketika dalam pendengaran yg ada hanya pendengaran, dalam penglihatan hanya ada penglihatan, dst (apa adanya dalam apa yg dialami oleh indra) itu adalah fakta.

    Ketika ada penilaian, pelabelan, penghakiman terhadap apa yang dialami, itu adalah… ilusi. Sekalipun kata yang digunakan bermula dari apa yang dialami (fakta), itu tetaplah sebagai ilusi yang berusaha menerjemahkan fakta, oleh karena’y didefinisikan sebagai kata yang mendekati faktual.

    Saat ini (sungguh-sungguh saat ini), adalah fakta. Karena, ketika berusaha menerjemahkan apa yang telah terjadi, bukankah ia telah berlalu, dan oleh karena’y menjadi ingatan?
    Maka dari itu ia (kata) adalah ilusi.

    Singkatnya, apapun yang berasal dari pikiran adalah sebuah ilusi.
    See more
    19 May at 16:11 • LikeUnlike • 3 peopleLoading…

    Sri Adhisumarta ‎Elizabeth Juliyanti Laurensi betul yang kamu katakan. Kita tidak bisa menyebutkan saat ini, karena saat ini selalu “tergelincir” dan berlalu dari saat diucapkan.
    19 May at 16:14 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Jerry Parlindungan Thx romo
    19 May at 17:43 • LikeUnlike

    Wid Sumartopo good.. semua yg di atas ulah intelektual tentang wisdom, berbagai cara mendekati the real wisdom (intellectual dan transcendental).. BISA JADI di sana memang ada wisdom…
    20 May, Friday at 16:13 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes ‎@Wid Sumartopo: Saya mengajak bersama-sama untuk menemukan Wisdom, bukan berspekulasi atau berteori tentang Wisdom.
    20 May, Friday at 22:30 • LikeUnlike • 1 personLoading…

  10. Hallo, Pak Vincent-BC, you are not alone!.
    Saya juga bingung, maksud saya buka web St Anna untuk dapat masukan yang mencerahkan tapi malah …………
    At least saya dapat masukan dari ibu Agatha Hadiseputro dan Ibu Ibnurini, jadi saya masih ngrasa bahwa ini web gereja.

    Hallo Romo Paroki, are you with us?

    Syalom,

  11. @Rheinhart sim: Anda bingung karena tulisan di atas menggoncang pandangan-pandangan Anda bukan? Anda tidak menangkap pembedaan “wisdom intelektuil” dan “Wisdom transendental”, “kebenaran intelektuil” dan “Kebenaran transendental”.

    Anda menyebut Agatha Hadiseputro dan Ibnurini. Mereka termasuk paling rajin memberi komentar pada rubrik “meditasi” ini, tapi tanggapan mereka selalu meleset karena tidak menangkap esensinya. Sudah lama mereka mengikuti rubrik “meditasi” ini, tetapi hingga kini tidak menunjukkan kemajuan sama sekali dalam memahami dimensi “mistikal” atau “transendental” di balik tulisan-tulisan ini. Semakin jelas bahwa mereka sesungguhnya tidak ingin belajar untuk memahami “kebenaran” dengan “pendekatan mistikal” yang saya pakai. Mereka memahami tulisan-tulisan saya menurut kerangka pemikiran mereka sendiri. Jadi tidak pernah nyambung.

    Kalau Anda mengambil posisi seperti mereka, dialog tidak perlu dilanjutkan karena tidak akan mencapai titik temu.

  12. Apa kabar Romo Sudri…..? Semoga semakin mantap ditempat yg baru ya….!

    Reaksi itu spt ‘Conciousness’ dan Respon spt ‘Awareness’, jd bisa ga bahwa Wisdom itu adalah kesatuan dr dua-dua nya ?, semua pengalaman/pengetahuan dr masa yg lalu, yg sdh di peroleh, jg ikut berperan saat se seorang meng ‘execute’ setiap permasalahan yg ada dg me Respone nya….., sy se7 kalo bnyk org meng’ Execute’ problems mrk dg Reaksi, yg pd akhirnya malah menambah problem mrk. Dg Response, akan diperoleh suatu ‘Way out’ yg sesuai dg sikon saat itu, spt org yg ‘aware’ akan semua aspek yg ada di sekililing nya, sesuai dg kondisi nya, yg selalu ber ubah2 !
    Tdk mungkin se seorang bs msk ke dlm ‘Awareness’ tanpa melewati ‘conciousness’ , walaupun yg best adalah stay inside ‘awareness’ !
    Mohon advise Romo……
    Salam Damai Kristus
    Trims
    Danny

  13. @Danny:

    “Awareness” adalah kesadaran yang bukan pikiran; “consciousness” adalah kesadaran pikiran. Kalau ada “awareness”, maka gerak “consciousness” berhenti; kalau gerak “consciousness” masih ada, maka “awareness” tidak ada. Oleh karena itu, “awareness” tidak bisa bersanding dengan “consciousness”.

    Wisdom yang muncul dari consciousness adalah “intelectual wisdom”. Wisdom yang muncul dari awareness adalah “transendental wisdom”.

    Apakah pikiran dan kearifan bisa dipadukan? Dalam tataran transendental, keduanya tidak bisa dipadukan. Apa yang disebut dengan “pikiran yang arif” sesungguhnya tidak ada, sebab wisdom atau kearifan sejati hanya muncul ketika pikiran berhenti. Maka sebutan “pikiran yang arif” mengandung kontradiksi.

    Sebutan “pikiran yang arif” itu sesungguhnya hanya menunjuk pada “intelectual wisdom”, tetapi bukan “transendental wisdom”. Hanya dalam tataran intelektuil, pikiran bisa dipadukan dengan kearifan, tetapi tetap tidak ada “pikiran yang arif 100%”.

  14. @Tarigan:
    “Hidup bukan hanya awarenes. Jadi kita perlu intelektual wisdom. Apakah bisa seperti itu romo?”

    Sekedar membuat pembedaan untuk memperjelas: ada pikiran teknis dan ada pikiran psikologis.

    Pikiran (teknis) kita butuhkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan teknis kehidupan. Tetapi untuk memahami masalah-masalah kehidupan non-teknis, pikiran (psikologis) justru menjadi gangguan.

    Runtuhnya pikiran (psikologis) memungkinkan transcendental wisdom muncul. Transcendental wisdom ini bisa berpadu dengan pikiran teknis tetapi tidak bisa berpadu dengan pikiran psikologis.

    Dalam kehidupan sehari-hari, transcendental wisdom (wisdom sejati) justru lebih kita butuhkan dibandingkan intellectual wisdom. Sebab intellectual wisdom punya keterbatasan karena masih dikondisikan oleh pengalaman atau pengetahuan; sedangkan transcendental wisdom tidak terkondisi, tidak kenal batas.

    Ketika orang berbicara tentang wisdom, kebanyakan orang hanya berbicara sebagai intellectual wisdom, padahal intellectual wisdom bukanlah wisdom yang sejati.

  15. sangat menarik! hm… masihkah ada ‘angin’ yg ingin mempertanyakan ^_^ yuk, mari bersama coba memasuki ‘dunia nyata’ yg konkrit. dunia diri sendiri . salam hening _/\_

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>