Menemukan Sendiri Kebenarannya
Kebanyakan orang mengikuti suatu teori, keyakinan, kepercayaan, dogma, atau ajaran tertentu bukan karena melihat sendiri kebenarannya, tetapi karena bingung batinnya. Karena bingung, orang lari kepada ajaran tertentu dan ajaran yang dipegang erat-erat menambah lebih banyak kebingungan. Ajaran kebenaran yang dijadikan pedoman tingkah-laku lalu dijadikan pegangan untuk menilai ajaran-ajaran lainnya. Batin seperti itu hanya mampu melihat kebenaran sebatas pikiran dan tidak ada satupun pikiran yang mampu menyembuhkan batin dari kebingungan.
Meskipun orang hafal kata-kata Yesus, Buddha, Mohamad, Krishna atau guru-guru spiritual lainnya, batin orang tidak akan berubah secara fundamental selama tidak mengenal dirinya sendiri, termasuk bagaimana berhubungan dengan ajaran-ajaran yang diikuti atau ditolaknya. Untuk bisa melihat yang palsu sebagai palsu dan yang benar sebagai benar, maka batin musti bebas dari beban pengaruh ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran yang sesungguhnya tidak melekat pada ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran ini begitu halus, tidak bisa dikenali oleh batin yang tidak bebas dari segala opini, penilaian, pembandingan, kesimpulan.
Jangan menerima begitu saja suatu ajaran hanya karena semata-mata sudah lama didengar, telah menjadi tradisi turun-temurun. Jangan menerima semata-mata karena telah banyak diperbincangkan atau diikuti banyak orang. Jangan menerima begitu saja hanya karena dikatakan dalam Kitab Suci Anda. Jangan menerima semata-mata karena keyakinan atau kepercayaan, karena bujukan atau paksaan dari luar, karena cocok dengan persepsi pikiran Anda dan selaras dengan perasaan Anda, karena alasan kepantasan, tampaknya bisa diterima atau baik untuk diterima, karena pembawa ajaran memiliki teladan hidup yang saleh, tokoh, panutan.
Begitu pula jangan menolak begitu saja ajaran yang baru Anda dengar hanya karena tidak datang dari tradisi Anda. Jangan menolak semata-mata karena ajaran itu ditolak olah banyak orang atau diikuti oleh sedikit orang. Jangan menolak begitu saja karena tidak tertulis dalam Kitab Suci Anda. Jangan menolak semata-mata karena Anda sudah terlanjur tidak percaya, karena takut dicap buruk oleh orang lain, karena tidak cocok dengan persepsi pikiran dan perasaan Anda, karena pembawa ajarannya tidak menarik, bukan tokoh atau bukan panutan.
Ketika kita mendengar suatu ajaran, kita perlu melihat isinya, melihat ajaran sebagai ajaran. Kita perlu menyelami atau menyelidiki dengan batin yang bebas. Batin tidak boleh cepat-cepat menerima atau cepat-cepat menolak. Percaya bahwa suatu ajaran mengandung kebenaran tidak membuat Anda mengalami langsung kebenarannya.
Batin yang bebas tidak cepat-cepat percaya pada apa yang dikatakan orang lain. Ia tidak menganggap orang lain memiliki otoritas dan apa yang dikatakan selalau benar. Lihatlah ajarannya, bukan pribadi yang menyampaikan ajaran. Kalau pribadi yang memberi ajaran memukau atau menarik, janganlah dibutakan oleh penampilannya.
Batin yang bebas juga tidak cepat-cepat menolak ajaran yang dikatakan orang lain. Ia tidak mudah menerima atau menolak hanya dengan mengkaitkannya dengan latar belakang si pembawa ajaran. Kalau si pembawa ajaran tidak memukau atau tidak menarik, janganlah mudah menolak ajarannya hanya karena penampilannya yang tidak menarik.
Batin yang bebas tidak terjebak pada anggapan bahwa seorang spesialis lebih tahu tentang suatu kebenaran daripada seorang non-spesialis. Begitu pula sebaliknya. Seorang non-spesialis bukan berarti kurang tahu daripada seorang spesialis. Akan tetapi Kebenaran musti ditemukan sendiri. Ia tidak bisa didapat dari seorang spesialis atau non-spesialis.
Semakin banyak pengalaman atau pengetahuan yang kita lekati, semakin tidak mudah kita melihat kebenaran. Semakin banyak pengetahuan, semakin besar kita dibuat ragu-ragu. Semakin kita bebas dari belenggu pengetahuan, semakin besar kemungkinan kita bebas dari belenggu keraguan. Oleh karena itu, kita musti siap bukan meragukan apa yang tidak kita ketahui, tetapi siap meragukan apa saja yang telah kita ketahui.
Kebenaran yang sesungguhnya berada di luar lingkup apa saja yang dikenal. Perjumpaan dengan kebenaran ini menghabisi keragu-raguan. Pengalaman perjumpaan ini memberikan suatu cita-rasa kepastian yang bukan dari pikiran. Kalau Anda mengalami ini, Anda tidak membutuhkan persetujuan orang lain atau mencari pembenaran dengan doktrin tertentu.
Pikiran berhenti selama perjumpaan dengan kebenaran ini berlangsung dan pikiran hanya bisa mengenalinya setelah jeda perjumpaan itu berakhir. Pengalaman akan kebenaran ini tidak perlu disimpan sebagai doktrin baru karena semua doktrin justru menghalangi perjumpaan dengan kebenaran. Oleh karena itu, lebih bijaksana bersikap terus-menerus tidak tahu dan batin selalu terbuka akan pewahyuan kebenaran setiap saat. Sebaliknya, sikap merasa sudah tahu akan membatasi perjumpaan dengan kebenaran.
Siapa yang melihat ajaran sebagai ajaran, melihat kebenaran. Kebanyakan orang tidak melihat kebenaran ini dan melekat pada pengalaman, teori, organisasi, agama, metode doa, teknik meditasi, ritual, dogma, kepercayaan. Orang buta hanya bisa mengikuti metode doa, ritual dan dogma, tetapi tidak melihat kebenaran. Banyak orang mempunyai mata, tetapi tidak melihat; memiliki telinga tapi tidak mendengar.
Kita tidak bisa mengusir keragu-raguan dengan mempertebal kepercayaan. Kita tidak bisa melihat sendiri kebenaran yang sejati kalau kita sudah melekat pada tradisi, kata-kata Kitab Suci, kepercayaan atau keyakinan. Hanya batin yang bebas yang barangkali mampu melihat kebenaran; kebenaran inilah yang mengubah, bukan upaya kita untuk berubah. Kalau kita telah berjumpa dengan kebenaran ini, barulah barangkali kita tahu apa artinya hidup beriman.
Kebenaran yang sejati hanya bisa dialami secara langsung, bukan lewat orang lain, bukan lewat pengetahuan atau kepercayaan. Bisakah kita melihat sendiri kebenaran ini dari saat ke saat?*







Dear Rm Sudri,……
Saya pertama bingung Rm waktu dengar khotbah hari Minggu dengan thema yang sama ini, jadi, lupakan semua itu pengetahuan, kepercayaan, pengalaman perjumpaan dengan kebenaran and forget everything supaya batin bebas dan mampu melihat kebenaran dari saat ke saat, wuih….susah amat ya Rm, apa bisa ya?????? Lalu saya merenung , mikir, eeeh…ngga boleh ada upaya, yah sudah….. Anak saya dan suami saya langsung bilang …tuh lupain semua pengetahuan etc. etc. waktu dengar khotbah Romo sambil senyum senyum semua….
Tapi setelah baca tulisan ini lebih memahaminya, sungguh kebenaran sejati hanya bisa dialami secara langsung dan barulah mungkin barangkali tahu artinya hidup beriman, mudah-mudahan batin ini bisa mengalami semua itu tanpa belenggu, tanpa kontaminasi apa pun,tanpa upaya, batin yang sungguh bebas, the journey still long….
Jadi untuk menemukan sendiri kebenarannya, batin yang bebas akan melupakan tulisan ini.
Peace ‘mo.
God Bless You.
[Seorang teman mengirimi saya tautan dan isi dari tulisan Menemukan Sendiri Kebenarannya oleh Romo J. Sudrijanta, SJ]
Dalam suatu pertemuan pendalaman iman beberapa tahun yg lalu tema yg dibahas adlh mengenai Kain dan Habel. Sebelum dimulai sesi diskusi,seperti biasa pembawa acara akan menerangkan ayat yg dibacakan.Dijelaskan olehnya bahwa TUHAN menolak persembahan Kain kerena dia mempersembahkan hasil panen yg sdh busuk & hal itu terlihat dari nyala api yg tidak lurus keatas. Namun ada keberatan dr salah satu peserta pendalaman iman karena ternyata hal itu tidak tertulis di nats tersebut dan ketika ditanyakan dr mana dia mengetahui hal tersebut dijawab bahwa memang seperti itulah yg dia terima dulu dan sudah umum diketahui orang.Karena tdk ada temu maka pertemuan tersebut bubar.
Jangan menerima begitu saja suatu ajaran hanya karena semata-mata sudah lama didengar, telah menjadi tradisi turun-temurun. Jangan menerima semata-mata karena telah banyak diperbincangkan atau diikuti banyak orang. Jangan menerima begitu saja hanya karena dikatakan dalam Kitab Suci Anda. Jangan menerima semata-mata karena keyakinan atau kepercayaan, karena bujukan atau paksaan dari luar, karena cocok dengan persepsi pikiran Anda dan selaras dengan perasaan Anda, karena alasan kepantasan, tampaknya bisa diterima atau baik untuk diterima, karena pembawa ajaran memiliki teladan hidup yang saleh, tokoh, panutan.
Percaya bahwa suatu ajaran mengandung kebenaran tidak membuat Anda mengalami langsung kebenarannya
kebenaran sejati hanya bisa dialami secara langsung dan barulah mungkin barangkali tahu artinya hidup beriman,
romo, setelah sering mendengar dan melakukan hal terkait “Melupakan”, ternyata yang sebenarnya menjadi utama bukanlah hal “Melupakan” nya tetapi “Melupakan” dilakukan agar energi tidak habis terbuang hanya untuk keinginan kembali pada kenangan itu (merasakan keindahan atau kepahitan masa lalu)…
benar tidak ya mo?
soale belakangan ini Novi mengalami semua peristiwa mengalir saja tanpa ada upaya untuk mengenang atau mengingat, alhasil pikiran pun tak perlu lagi melakukan upaya “Melupakan” karena memang tidak ada yang diingat…
begitu juga ketika sedang melakukan pekerjaan sehari2, Novi melakukan semuanya mengalir saja dan mengalami setiap detik yang terjadi (tanpa ada upaya menolak atau menerima), alhasil, foala…tanpa perjuangan untuk mengingat, semua pengalaman ternyata tidak hilang namun tidak membekas…
baru sekarang mengerti apa arti pepatah: “Bisa ala biasa”…semua dapat dilakukan jika semuanya dialami (tanpa menolak atau menerima sesuai dengan harapan/keinginan kita)…
rasanya IMAN juga sama seperti kehidupan itu sendiri…jika belum pernah mengalaminya, maka kebenaran yang diperoleh pun hanya sekedar kulitnya saja dan kebenaran itu pun akhirnya akan menjadi pengetahuan (yang sekarang ini sering dijadikan alat jual)…
mohon maaf ya jika terdapat kata2 yang kurang berkenan…
cheers^^,
novi
@Novi: Para pembimbing rohani dan para psikolog sering memberi nasehat, “Lupakanlah masa lalu”. Itu hanya slogan belaka. Sebab semakin kuat kita berjuang untuk melupakan masa lalu, misalnya rasa terluka, masa lalu itu justru diperkuat dan kita tidak sungguh-sungguh bisa melupakan. Mengapa demikian? Siapa yang berjuang untuk melupakan masa lalu? Bukankah si ego/pikiran? Dan bukankah si ego/pikiran adalah masa lalu? Jadi bagaimana mungkin si ego/pikiran yang adalah masa lalu bisa melupakan dirinya sendiri?
Kalau kita melihat daya upaya untuk melupakan, yang membutuhkan waktu, yang melibatkan si ego/pikiran, itu sia-sia belaka, bisakah kesia-siaan itu disadari secara total tanpa gerak pikiran untuk menganalisa? Bisakah masa lalu itu disadari secara total, tanpa ada daya-upaya untuk mengakhirinya, juga tanpa keinginan untuk bebas? Di titik hening inilah masa lalu mungkin berakhir seketika. Pemborosan energi oleh si ego/pikiran berhenti dengan sendirinya tanpa dipaksa berhenti.
Semua luka itu sebetulnya adalah berkat dari Tuhan untuk menjadi pelajaran yang berguna untuk masa depan.
Luka karena perceraian orang tua? Itu adalah berkat agar jadi pelajaran bagi anak anak supaya rumah tangga mereka bisa bahagia. Tentu anak anak tidak akan pernah lupa rasanya perih tertusuk sembilu oleh perceraian ortunya. Berdasarkan itu lah maka anak anak dapat melakukan antisipasi agar perkawinan mereka bahagia supaya anaknya tidak harus mengalami luka yang sama.
Luka karena ditinggal selingkuh oleh pacar? Itu adalah berkah untuk belajar mengenali diri sendiri dan para calon pacar yang berikutnya. Mungkin saja pacar yang dulu selingkuh karena kesalahan kita. Mungkin juga emang dia sontoloyo.
Terhadap lukanya sendiri, cukuplah satu kata: MAAFKANLAH!
kita tidak akan bisa melupakan luka karena kita punya ingatan. Tapi kita bisa memaafkan. Seperti kata mo Sudri, BERTINDAKLAH SEKETIKA, maka luka itu akan hilang perihnya. Jadikanlah luka sebagai pelajaran dan bulatkan tekad untuk menjalani hidup menuju masa depan yang lebih baik. Dalam Tuhan semuanya bisa dilakukan.
Salam berkah Dalem, rin
Susah memang menemukan kebeneran itu, perlu batin yg benar2 bebas , bebsa dari doktrin, bebas dari pikiran dan perasaan dsb.
Tapi ada juga yg sama susahnya dengan hal itu yaitu apabila kita telah menemukan kebenaran, apakah kita bersedia menerima bahwa kebenaran itu adalah kebenaran ?
wahai aletheia, dimanakah gerangan dikau sekarang ?
==========
Pustaka buku di Duren Sawit sudah tidak ada sekarang karena pengelolanya tidak ada dan minat baca rendah.
Admin
hmm… percakapan yg menarik. sy jd tergelitik membacanya. jadi ini kuncinya ya. melihat pengalaman beberapa waktu lalu di Gn. Geulis, sy terbantu memahami segala yg terjadi. memang, ada banyak reaksi yg tersirat jelas dan semakin lama semakin jelas.
Tidak perlu dicari atau dilihat. Apa yg bisa dikatakan oleh seseorang yg mengalami kebenaran… tidak lebih dari realitas sehari- hari, yg sekaligus juga seluas alam semesta.
Betapa malangnya manusia yg terkurung dalam ilusi pikiran dan keyakinannya. Siapa yg salah jika manusia menderita karena luapan emosi dan rasa?
Romo, apakah kebenaran sedemikian halusnya sehingga begitu sulit bahkan untuk dirasakan? Apakah memasuki titik hening adalah satu- satunya cara untuk mengalami ‘kebenaran’?
semoga setiap manusia bisa mengalaminya…
(mohon maaf jika pertanyaan2 saya agak aneh, Mo ^_^, sebenarnya lagi curhat aja hehe…)
Terima kasih, Romo.
asri.
Ibu Angela Asriarti,
Pertanyaan Ibu kepada Romo “Apakah kebenaran sedemikian halusnya
sehingga begitu sulit bahkan untuk dirasakan ? Apakah memasuki titik hening adalah satu-satunya cara untuk mengalami “kebenaran”? menggelitik hati saya.
Dalam Yoh 14: 6 dikatakan … Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” dan dalam Yohanes 1 : 1 di bawah judul “FIRMAN YANG TELAH MENJADI MANUSIA” dikatakan demikian “Pada mulanya adalah Firman; Fiman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”
Pada waktu saya masih muda, dalam pencarian saya ayat-ayat Alkitab tersebut tidak mempunyai makna, hingga setelah saya mengalami “TEMPAAN HIDUP YANG DEMIKIAN BERAT” ayat-ayat tersebut juga ayat-ayat Firman Tuhan yang lain menjadi begitu bermakna.
Seperti yang dituliskan oleh Ibu Ibnurini “Semua luka itu sebetulnya berkat dari Tuhan yang berguna sebagai pelajaran untuk masa depan”. Saya mengalami pengajaran yang demikian berat, namun ternyata itulah jalan yang Tuhan sediakan bagi saya untuk mengalami “kebenaran sejati”. Bersama Tuhan Yesus (bukan dengan kekuatan sendiri) saya mampu mengampuni mereka yang telah menorehkan luka yang sangat dalam. Dan dengan setia mempelajari Firman Tuhan serta berusaha melaksanakannya, saya merasakan damai sejahtera yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.
Dengan memahami bahwa penderitaan yang Tuhan ijinkan kita alami adalah BERKAT seperti tertulis dalam Surat Yakobus Bab 1. Dan dalam Wahyu 3: 19 dikatakan demikian “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” kiranya akan memberikan kekuatan bagi kita untuk dapat melalui penderitaan dengan rela dan tetap bersyukur.
Tuhan Maha Kuasa, Dia mampu membawa kita kepada kebenaran sejati melalui berbagai cara yang Dia kehendakiNya. Dan bagi saya pribadi melalui penderitaan.
Memasuki saat hening memang sangat baik, waktu di mana kita menjalin relasi pribadi dengan Tuhan, waktu di mana kita menghayati dan mengalami kehadiranNya secara pribadi.
Ibu Angela, ini hanya sekedar sharing, mohon maaf bila kurang berkenan.
Salam
A.Adi
^_^ o tentu saja tidak, Pak. saya senang karena tulisan pendek itu bisa menggelitik Bapak ^_^
Karena kategorinya meditasi maka saya juga hanya ingin mengungkapkan sedikit dari yang sempat terekam dalam pikiran. Sebenarnya, pertanyaan- pertanyaan saya juga bukan untuk mencari jawaban ^_^ juga bukan hanya sekedar sharing, karena dalam meditasi, tidak ada pikiran.
Saya hanya menulis apa yang terlintas dalam hati saja (karena sekarang pun, saya sudah lupa^_^)
Terima kasih, Pak.
salam hangat.