Menemukan Sendiri Kebenarannya

“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, `Petapa itu adalah guru kami’. Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, `Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan`, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.” (Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)

Kebanyakan orang mengikuti suatu teori, keyakinan, kepercayaan, dogma, atau ajaran tertentu bukan karena melihat sendiri kebenarannya, tetapi karena bingung batinnya. Karena bingung, orang lari kepada ajaran tertentu dan ajaran yang dipegang erat-erat menambah lebih banyak kebingungan. Ajaran kebenaran yang dijadikan pedoman tingkah-laku lalu dijadikan pegangan untuk menilai ajaran-ajaran lainnya. Batin seperti itu hanya mampu melihat kebenaran sebatas pikiran dan tidak ada satupun pikiran yang mampu menyembuhkan batin dari kebingungan.

Meskipun orang hafal kata-kata Yesus, Buddha, Mohamad, Krishna atau guru-guru spiritual lainnya, batin orang tidak akan berubah secara fundamental selama tidak mengenal dirinya sendiri, termasuk bagaimana berhubungan dengan ajaran-ajaran yang diikuti atau ditolaknya. Untuk bisa melihat yang palsu sebagai palsu dan yang benar sebagai benar, maka batin musti bebas dari beban pengaruh ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran yang sesungguhnya tidak melekat pada ajaran atau otoritas apapun. Kebenaran ini begitu halus, tidak bisa dikenali oleh batin yang tidak bebas dari segala opini, penilaian, pembandingan, kesimpulan.

Jangan menerima begitu saja suatu ajaran hanya karena semata-mata sudah lama didengar, telah menjadi tradisi turun-temurun. Jangan menerima semata-mata karena telah banyak diperbincangkan atau diikuti banyak orang. Jangan menerima begitu saja hanya karena dikatakan dalam Kitab Suci Anda. Jangan menerima semata-mata karena keyakinan atau kepercayaan, karena bujukan atau paksaan dari luar, karena cocok dengan persepsi pikiran Anda dan selaras dengan perasaan Anda, karena alasan kepantasan, tampaknya bisa diterima atau baik untuk diterima, karena pembawa ajaran memiliki teladan hidup yang saleh, tokoh, panutan.

Begitu pula jangan menolak begitu saja ajaran yang baru Anda dengar hanya karena tidak datang dari tradisi Anda. Jangan menolak semata-mata karena ajaran itu ditolak olah banyak orang atau diikuti oleh sedikit orang. Jangan menolak begitu saja karena tidak tertulis dalam Kitab Suci Anda. Jangan menolak semata-mata karena Anda sudah terlanjur tidak percaya, karena takut dicap buruk oleh orang lain, karena tidak cocok dengan persepsi pikiran dan perasaan Anda, karena pembawa ajarannya tidak menarik, bukan tokoh atau bukan panutan.

Ketika kita mendengar suatu ajaran, kita perlu melihat isinya, melihat ajaran sebagai ajaran. Kita perlu menyelami atau menyelidiki dengan batin yang bebas. Batin tidak boleh cepat-cepat menerima atau cepat-cepat menolak. Percaya bahwa suatu ajaran mengandung kebenaran tidak membuat Anda mengalami langsung kebenarannya.

Batin yang bebas tidak cepat-cepat percaya pada apa yang dikatakan orang lain. Ia tidak menganggap orang lain memiliki otoritas dan apa yang dikatakan selalau benar. Lihatlah ajarannya, bukan pribadi yang menyampaikan ajaran. Kalau pribadi yang memberi ajaran memukau atau menarik, janganlah dibutakan oleh penampilannya.

Batin yang bebas juga tidak cepat-cepat menolak ajaran yang dikatakan orang lain. Ia tidak mudah menerima atau menolak hanya dengan mengkaitkannya dengan latar belakang si pembawa ajaran. Kalau si pembawa ajaran tidak memukau atau tidak menarik, janganlah mudah menolak ajarannya hanya karena penampilannya yang tidak menarik.

Batin yang bebas tidak terjebak pada anggapan bahwa seorang spesialis lebih tahu tentang suatu kebenaran daripada seorang non-spesialis. Begitu pula sebaliknya. Seorang non-spesialis bukan berarti kurang tahu daripada seorang spesialis. Akan tetapi Kebenaran musti ditemukan sendiri. Ia tidak bisa didapat dari seorang spesialis atau non-spesialis.

Semakin banyak pengalaman atau pengetahuan yang kita lekati, semakin tidak mudah kita melihat kebenaran. Semakin banyak pengetahuan, semakin besar kita dibuat ragu-ragu. Semakin kita bebas dari belenggu pengetahuan, semakin besar kemungkinan kita bebas dari belenggu keraguan. Oleh karena itu, kita musti siap bukan meragukan apa yang tidak kita ketahui, tetapi siap meragukan apa saja yang telah kita ketahui.

Kebenaran yang sesungguhnya berada di luar lingkup apa saja yang dikenal. Perjumpaan dengan kebenaran ini menghabisi keragu-raguan. Pengalaman perjumpaan ini memberikan suatu cita-rasa kepastian yang bukan dari pikiran. Kalau Anda mengalami ini, Anda tidak membutuhkan persetujuan orang lain atau mencari pembenaran dengan doktrin tertentu.

Pikiran berhenti selama perjumpaan dengan kebenaran ini berlangsung dan pikiran hanya bisa mengenalinya setelah jeda perjumpaan itu berakhir. Pengalaman akan kebenaran ini tidak perlu disimpan sebagai doktrin baru karena semua doktrin justru menghalangi perjumpaan dengan kebenaran. Oleh karena itu, lebih bijaksana bersikap terus-menerus tidak tahu dan batin selalu terbuka akan pewahyuan kebenaran setiap saat. Sebaliknya, sikap merasa sudah tahu akan membatasi perjumpaan dengan kebenaran.

Siapa yang melihat ajaran sebagai ajaran, melihat kebenaran. Kebanyakan orang tidak melihat kebenaran ini dan melekat pada pengalaman, teori, organisasi, agama, metode doa, teknik meditasi, ritual, dogma, kepercayaan. Orang buta hanya bisa mengikuti metode doa, ritual dan dogma, tetapi tidak melihat kebenaran. Banyak orang mempunyai mata, tetapi tidak melihat; memiliki telinga tapi tidak mendengar.

Lewat kepercayaan orang mendapat kepastian atau kenyamanan, tetapi itu semua hanya ilusi atau delusi. Sebaliknya, iman yang sesungguhnya membawa orang kepada ketidakpastian atau ketidaknyamanan. Iman yang dijadikan pegangan di mana orang menemukan kepastian tidak lebih dari kepercayaan. Sebaliknya, kebesaran hati yang membuat orang berani keluar dari kepastian dan kenyamanan dan keberanian untuk menanggalkan iman yang membuat aman dan pasti adalah awal dari iman yang sejati.

Kita tidak bisa mengusir keragu-raguan dengan mempertebal kepercayaan. Kita tidak bisa melihat sendiri kebenaran yang sejati kalau kita sudah melekat pada tradisi, kata-kata Kitab Suci, kepercayaan atau keyakinan. Hanya batin yang bebas yang barangkali mampu melihat kebenaran. Kebenaran inilah yang mengubah, bukan upaya kita untuk berubah. Kalau kita telah berjumpa dengan kebenaran ini, barulah barangkali kita tahu apa artinya hidup beriman.

Keraguan adalah musuh kepercayaan, tetapi untuk beriman sejati dibutuhkan keraguan. Bukan pertama-tama keraguan terhadap ajaran kebenaran itu sendiri, tetapi terutama keraguan terhadap apa saja yang membuat batin merasa aman atau merasa pasti, keraguan terhadap penalaran-penalaran dan kesimpulan-kesimpulan kita. Sebab, batin yang sudah menemukan kepastian dan kenyamanan tidak mampu melihat kebenaran.

Kebenaran yang sejati hanya bisa dialami secara langsung, bukan lewat orang lain, bukan lewat pengetahuan, bukan lewat kepercayaan. Bisakah kita melihat sendiri kebenaran ini dari saat ke saat?*

15 Responses to “Menemukan Sendiri Kebenarannya”

  1. Dear Rm Sudri,……

    Saya pertama bingung Rm waktu dengar khotbah hari Minggu dengan thema yang sama ini, jadi, lupakan semua itu pengetahuan, kepercayaan, pengalaman perjumpaan dengan kebenaran and forget everything supaya batin bebas dan mampu melihat kebenaran dari saat ke saat, wuih….susah amat ya Rm, apa bisa ya?????? Lalu saya merenung , mikir, eeeh…ngga boleh ada upaya, yah sudah….. Anak saya dan suami saya langsung bilang …tuh lupain semua pengetahuan etc. etc. waktu dengar khotbah Romo sambil senyum senyum semua….

    Tapi setelah baca tulisan ini lebih memahaminya, sungguh kebenaran sejati hanya bisa dialami secara langsung dan barulah mungkin barangkali tahu artinya hidup beriman, mudah-mudahan batin ini bisa mengalami semua itu tanpa belenggu, tanpa kontaminasi apa pun,tanpa upaya, batin yang sungguh bebas, the journey still long….

  2. Jadi untuk menemukan sendiri kebenarannya, batin yang bebas akan melupakan tulisan ini. :) Peace ‘mo.

    God Bless You.

  3. [Seorang teman mengirimi saya tautan dan isi dari tulisan Menemukan Sendiri Kebenarannya oleh Romo J. Sudrijanta, SJ]

  4. Dalam suatu pertemuan pendalaman iman beberapa tahun yg lalu tema yg dibahas adlh mengenai Kain dan Habel. Sebelum dimulai sesi diskusi,seperti biasa pembawa acara akan menerangkan ayat yg dibacakan.Dijelaskan olehnya bahwa TUHAN menolak persembahan Kain kerena dia mempersembahkan hasil panen yg sdh busuk & hal itu terlihat dari nyala api yg tidak lurus keatas. Namun ada keberatan dr salah satu peserta pendalaman iman karena ternyata hal itu tidak tertulis di nats tersebut dan ketika ditanyakan dr mana dia mengetahui hal tersebut dijawab bahwa memang seperti itulah yg dia terima dulu dan sudah umum diketahui orang.Karena tdk ada temu maka pertemuan tersebut bubar.

    Jangan menerima begitu saja suatu ajaran hanya karena semata-mata sudah lama didengar, telah menjadi tradisi turun-temurun. Jangan menerima semata-mata karena telah banyak diperbincangkan atau diikuti banyak orang. Jangan menerima begitu saja hanya karena dikatakan dalam Kitab Suci Anda. Jangan menerima semata-mata karena keyakinan atau kepercayaan, karena bujukan atau paksaan dari luar, karena cocok dengan persepsi pikiran Anda dan selaras dengan perasaan Anda, karena alasan kepantasan, tampaknya bisa diterima atau baik untuk diterima, karena pembawa ajaran memiliki teladan hidup yang saleh, tokoh, panutan.

    Percaya bahwa suatu ajaran mengandung kebenaran tidak membuat Anda mengalami langsung kebenarannya

    kebenaran sejati hanya bisa dialami secara langsung dan barulah mungkin barangkali tahu artinya hidup beriman,

  5. romo, setelah sering mendengar dan melakukan hal terkait “Melupakan”, ternyata yang sebenarnya menjadi utama bukanlah hal “Melupakan” nya tetapi “Melupakan” dilakukan agar energi tidak habis terbuang hanya untuk keinginan kembali pada kenangan itu (merasakan keindahan atau kepahitan masa lalu)…
    benar tidak ya mo?

    soale belakangan ini Novi mengalami semua peristiwa mengalir saja tanpa ada upaya untuk mengenang atau mengingat, alhasil pikiran pun tak perlu lagi melakukan upaya “Melupakan” karena memang tidak ada yang diingat…

    begitu juga ketika sedang melakukan pekerjaan sehari2, Novi melakukan semuanya mengalir saja dan mengalami setiap detik yang terjadi (tanpa ada upaya menolak atau menerima), alhasil, foala…tanpa perjuangan untuk mengingat, semua pengalaman ternyata tidak hilang namun tidak membekas…

    baru sekarang mengerti apa arti pepatah: “Bisa ala biasa”…semua dapat dilakukan jika semuanya dialami (tanpa menolak atau menerima sesuai dengan harapan/keinginan kita)…

    rasanya IMAN juga sama seperti kehidupan itu sendiri…jika belum pernah mengalaminya, maka kebenaran yang diperoleh pun hanya sekedar kulitnya saja dan kebenaran itu pun akhirnya akan menjadi pengetahuan (yang sekarang ini sering dijadikan alat jual)…

    mohon maaf ya jika terdapat kata2 yang kurang berkenan…

    cheers^^,
    novi

  6. @Novi: Para pembimbing rohani dan para psikolog sering memberi nasehat, “Lupakanlah masa lalu”. Itu hanya slogan belaka. Sebab semakin kuat kita berjuang untuk melupakan masa lalu, misalnya rasa terluka, masa lalu itu justru diperkuat dan kita tidak sungguh-sungguh bisa melupakan. Mengapa demikian? Siapa yang berjuang untuk melupakan masa lalu? Bukankah si ego/pikiran? Dan bukankah si ego/pikiran adalah masa lalu? Jadi bagaimana mungkin si ego/pikiran yang adalah masa lalu bisa melupakan dirinya sendiri?

    Kalau kita melihat daya upaya untuk melupakan, yang membutuhkan waktu, yang melibatkan si ego/pikiran, itu sia-sia belaka, bisakah kesia-siaan itu disadari secara total tanpa gerak pikiran untuk menganalisa? Bisakah masa lalu itu disadari secara total, tanpa ada daya-upaya untuk mengakhirinya, juga tanpa keinginan untuk bebas? Di titik hening inilah masa lalu mungkin berakhir seketika. Pemborosan energi oleh si ego/pikiran berhenti dengan sendirinya tanpa dipaksa berhenti.

  7. Semua luka itu sebetulnya adalah berkat dari Tuhan untuk menjadi pelajaran yang berguna untuk masa depan.

    Luka karena perceraian orang tua? Itu adalah berkat agar jadi pelajaran bagi anak anak supaya rumah tangga mereka bisa bahagia. Tentu anak anak tidak akan pernah lupa rasanya perih tertusuk sembilu oleh perceraian ortunya. Berdasarkan itu lah maka anak anak dapat melakukan antisipasi agar perkawinan mereka bahagia supaya anaknya tidak harus mengalami luka yang sama.

    Luka karena ditinggal selingkuh oleh pacar? Itu adalah berkah untuk belajar mengenali diri sendiri dan para calon pacar yang berikutnya. Mungkin saja pacar yang dulu selingkuh karena kesalahan kita. Mungkin juga emang dia sontoloyo.

    Terhadap lukanya sendiri, cukuplah satu kata: MAAFKANLAH!
    kita tidak akan bisa melupakan luka karena kita punya ingatan. Tapi kita bisa memaafkan. Seperti kata mo Sudri, BERTINDAKLAH SEKETIKA, maka luka itu akan hilang perihnya. Jadikanlah luka sebagai pelajaran dan bulatkan tekad untuk menjalani hidup menuju masa depan yang lebih baik. Dalam Tuhan semuanya bisa dilakukan.

    Salam berkah Dalem, rin

  8. Susah memang menemukan kebeneran itu, perlu batin yg benar2 bebas , bebsa dari doktrin, bebas dari pikiran dan perasaan dsb.
    Tapi ada juga yg sama susahnya dengan hal itu yaitu apabila kita telah menemukan kebenaran, apakah kita bersedia menerima bahwa kebenaran itu adalah kebenaran ?
    wahai aletheia, dimanakah gerangan dikau sekarang ?
    ==========
    Pustaka buku di Duren Sawit sudah tidak ada sekarang karena pengelolanya tidak ada dan minat baca rendah.
    Admin

  9. hmm… percakapan yg menarik. sy jd tergelitik membacanya. jadi ini kuncinya ya. melihat pengalaman beberapa waktu lalu di Gn. Geulis, sy terbantu memahami segala yg terjadi. memang, ada banyak reaksi yg tersirat jelas dan semakin lama semakin jelas.

    Tidak perlu dicari atau dilihat. Apa yg bisa dikatakan oleh seseorang yg mengalami kebenaran… tidak lebih dari realitas sehari- hari, yg sekaligus juga seluas alam semesta.

    Betapa malangnya manusia yg terkurung dalam ilusi pikiran dan keyakinannya. Siapa yg salah jika manusia menderita karena luapan emosi dan rasa?

    Romo, apakah kebenaran sedemikian halusnya sehingga begitu sulit bahkan untuk dirasakan? Apakah memasuki titik hening adalah satu- satunya cara untuk mengalami ‘kebenaran’?
    semoga setiap manusia bisa mengalaminya…

    (mohon maaf jika pertanyaan2 saya agak aneh, Mo ^_^, sebenarnya lagi curhat aja hehe…)

    Terima kasih, Romo.

    asri.

  10. Ibu Angela Asriarti,

    Pertanyaan Ibu kepada Romo “Apakah kebenaran sedemikian halusnya
    sehingga begitu sulit bahkan untuk dirasakan ? Apakah memasuki titik hening adalah satu-satunya cara untuk mengalami “kebenaran”? menggelitik hati saya.

    Dalam Yoh 14: 6 dikatakan … Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” dan dalam Yohanes 1 : 1 di bawah judul “FIRMAN YANG TELAH MENJADI MANUSIA” dikatakan demikian “Pada mulanya adalah Firman; Fiman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”

    Pada waktu saya masih muda, dalam pencarian saya ayat-ayat Alkitab tersebut tidak mempunyai makna, hingga setelah saya mengalami “TEMPAAN HIDUP YANG DEMIKIAN BERAT” ayat-ayat tersebut juga ayat-ayat Firman Tuhan yang lain menjadi begitu bermakna.

    Seperti yang dituliskan oleh Ibu Ibnurini “Semua luka itu sebetulnya berkat dari Tuhan yang berguna sebagai pelajaran untuk masa depan”. Saya mengalami pengajaran yang demikian berat, namun ternyata itulah jalan yang Tuhan sediakan bagi saya untuk mengalami “kebenaran sejati”. Bersama Tuhan Yesus (bukan dengan kekuatan sendiri) saya mampu mengampuni mereka yang telah menorehkan luka yang sangat dalam. Dan dengan setia mempelajari Firman Tuhan serta berusaha melaksanakannya, saya merasakan damai sejahtera yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

    Dengan memahami bahwa penderitaan yang Tuhan ijinkan kita alami adalah BERKAT seperti tertulis dalam Surat Yakobus Bab 1. Dan dalam Wahyu 3: 19 dikatakan demikian “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” kiranya akan memberikan kekuatan bagi kita untuk dapat melalui penderitaan dengan rela dan tetap bersyukur.

    Tuhan Maha Kuasa, Dia mampu membawa kita kepada kebenaran sejati melalui berbagai cara yang Dia kehendakiNya. Dan bagi saya pribadi melalui penderitaan.

    Memasuki saat hening memang sangat baik, waktu di mana kita menjalin relasi pribadi dengan Tuhan, waktu di mana kita menghayati dan mengalami kehadiranNya secara pribadi.

    Ibu Angela, ini hanya sekedar sharing, mohon maaf bila kurang berkenan.

    Salam
    A.Adi

  11. ^_^ o tentu saja tidak, Pak. saya senang karena tulisan pendek itu bisa menggelitik Bapak ^_^

    Karena kategorinya meditasi maka saya juga hanya ingin mengungkapkan sedikit dari yang sempat terekam dalam pikiran. Sebenarnya, pertanyaan- pertanyaan saya juga bukan untuk mencari jawaban ^_^ juga bukan hanya sekedar sharing, karena dalam meditasi, tidak ada pikiran.
    Saya hanya menulis apa yang terlintas dalam hati saja (karena sekarang pun, saya sudah lupa^_^)

    Terima kasih, Pak.

    salam hangat.

  12. Kutipan di atas contekan dari agama tetangga tuh.
    di dalam ajaran buddhist itu istilah “Ehippasiko”
    ada-ada aja nih yang buat artikel di atas….. hahahahaha….

  13. @Jopi
    Betul. “Ehipassiko”, artinya “datang dan lihatlah”. Kalau orang sudah mengalami ehipassiko, orang tidak terlalu mempersoalkan apakah itu kebenaran Buddhist atau Non-Buddhist, sebab KEBENARAN ehipassiko melampaui semua doktrin agama.

    js

  14. Berikut dialog tentang tulisan di atas:
    =========
    • Ni Na Note yg mencertahkan Romo…
    Thursday at 13:32 via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Yuwono Mangudi Nugroho Romo ijin share nggih…
    Thursday at 14:21 • LikeUnlike

    Adee Dwi Setyaningsih perjalanan menuju diri, memang “menakutkan”, melelahkan..hingga yang tak berani dan tak sabar, lari memeluk kebenaran di luar dirinya..(termasuk saya romo, masih belajar bersetia dengan jalan yang melelahkan ini). Membaca dan mendengarkan kebenaran versi kitab dan orang2 lain adalah sebagian cara saya memahami diri saya sendiri..Thank Romo..
    Thursday at 14:22 • LikeUnlike

    Bunda Maria sangat mencerahkan dalam perjalanan panjang ini…romo.ijin share.
    Thursday at 14:50 • LikeUnlike

    Grace Setiawaty Romo Sudri, intinya kan jangan melekat sama pikiran kan?
    Yang saya tdk mengerti untuk apa mengupayakan batin yang bebas? Bukan kah malah melekat jadinya jk dmkn?
    Thursday at 15:28 via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Meirina Sari Trima kasih…
    Thursday at 16:00 via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Grace: Sadari saja keterbelengguan batin itu, bukan berdaya-upaya untuk membebaskan diri dari belenggu batin.
    Thursday at 16:50 • LikeUnlike • 1 personVincent Wiryakusuma likes this.

    Sudrijanta Johanes
    ?@Adee: Kitab-kitab itu ditulis “setelah” pengalaman mistikal tertentu. Sebaliknya kebanyakan dari kita membaca kitab-kitab itu “untuk” mengalami pengalaman mistikal tertentu.

    Kalau kita buang kitab-kitab itu dan kita masuki pengalaman mist…ikal, maka lalu kita akan membaca kitab-kitab itu secara berbeda. Tetapi kalau kita membaca kitab-kitab itu tanpa pengalaman mistikal tertentu, apalagi melekatinya, maka kita berhenti pada pemahaman intelektual saja. .See more
    Thursday at 16:56 • LikeUnlike • 6 peopleLoading…

    Ignatius Ngadirun Terima kasih Romo atas tulisannya. Jadi bahan renungan bagi saya.
    Thursday at 17:15 • LikeUnlike

    Donna Silitonga Romo, waktu minggu lalu khotbah di santa anna kan yang kebaktian sore?
    Thursday at 18:11 • LikeUnlike

    Kreshna Ji Uraian yg sgt ceto-gamblang… terima kasih..:-)
    Thursday at 18:28 • LikeUnlike

    Anton Loewijono dalem banget Mo …
    Thursday at 19:13 • LikeUnlike

    Shierly Maria
    Trims Romo atas tulisan yg sangat bagus…

    <>

    Betul sekali Romo… Ukuran kepercayaan diri yang berlebihan atau mungkin keskeptisan seseorang terhadap sesuatu … terkadang malah jadi bumerang dan merupakan sumber ketidaktahuan terhadap dirinya sendiri.

    Cangkir harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum isinya tumpah.See more
    Thursday at 20:25 • LikeUnlike

    Tanpa Nama
    Manfaat meditasi adalah agar kita mampu menyadari diri kita dan kehidupan ini. “Diri” ini adalah perpaduan (sekumpulan) dari memori, pemikiran, konsep, emosi, dan attitude. Kumpulkan semua itu jadi satu, maka “diri” ini “ada”. Jika semua it…u terlepas, apa yang tersisa? Nothing! Kita menjadi “sesuatu” atau seseorang karena kita “memiliki” semua itu. Tanpa semua itu, kita “tak ada”. Itulah “kosong” (emptiness). “Diri” ini hanyalah “aggregate”. Dalam istilah Buddhist disebut “skandha”See more
    Thursday at 20:31 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Shierly Maria ?@TN: dan sekumpulan komponen yang membentuk diri itu selalu berubah setiap saat. Ketika komponen2 itu melepaskan diri, “diri” yang masih tidak menyadari merasakan kebingungan akan jati diri mereka, hingga akhirnya mereka sadar bahwa tak ada gunanya mempertahankan atau terus mencari kumpulan komponen yang hilang. Saat mereka bangun dari tidur, bersama itu pula komponen2 runtuh dan kekosongan membawa mereka pada saat ini.
    Thursday at 20:37 • LikeUnlike

    Tanpa Nama Bukan berarti bhw “Diri” atau ego itu tidak ada. Namun disadari bahwa keberadaannya ada pada level relatif, impermanen.
    Thursday at 20:39 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Tanpa Nama Kebanyakan manusia percaya bahwa “inilah aku” yang merasakan sedih atau bahagia, dan munculah yang dinamakan “diri”. Lebih konyol lagi ada yg bersikeras mengatakan, “inilah jati diriku” yang mengalami banyak hal yg selalu berubah2 dlm hidup. It’s a pity! The experiencer who experiences is somehow more permanent than the experiences themselves!
    Thursday at 20:49 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Reza Alexander Antonius Wattimena banyak sekali kebijaksanaan di dalamnya. Saya ijin posting ulang ya. Salam hangat.
    Thursday at 20:54 • LikeUnlike

    Tanpa Nama Anda mungkin paham seperti apa wajah anda waktu anda masih kanak2. Cobalah pahami, seperti apa kira2 wajah anda sebelum kedua orang tua anda dilahirkan?
    Thursday at 20:55 via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Fiona Hartanto betul sekali, romo… semalam ada contoh gamblang, yaitu saat fauzi bowo diwawancara oleh najwa shihab… karena bingung harus menjawab apa saat dicecar pertanyaan ttg pertanggungjawabannya sbg gubernur, dia langsung menggunakan ayat2 alqur’an untuk pembenaran… setuju sekali bahwa kemelekatan thd agama & atribut2nya seringkali untuk menutupi kebingungan & ketidakmampuan
    Thursday at 21:10 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Sudrijanta Johanes Betapa kuatnya kepercayaan atau iman itu mempertebal ego dan dengan demikian membelenggu batin manusia. Jadi iman itu tidak menyelamatkan, tapi justru membelenggu. Bagaimana komentar Anda?
    Thursday at 22:14 • LikeUnlike • 4 peopleLoading…

    Tanpa Nama Iman hasil indoktrinasi ajaran yg ditanamkan pada pikiran adalah jeruji penjara. Iman yg muncul dari kekosongan adalah jalan keselamatan.
    Thursday at 22:25 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Tanpa Nama Begitu banyak orang berdoa berseru memohon ini itu kepada Tuhannya, saking banyaknya kata2 dalam pikirannya, hingga dia tak pernah mendengar Tuhan. Mereka tak ubahnya spt orang2 farisi yg sibuk berseru Tuhan Tuhan! Bagai orang dungu yg mencari api dengan membawa sebatang obor.
    Thursday at 22:35 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Tanpa Nama Tuhan yg diimani sebagai hasil indoktrinasi adalah Tuhan yg diciptakan, bukanlah kebenaran. Kebenaran bagaikan sebuah lingkaran yg titik pusatnya ada di mana-mana dan garis lingkarnya tak ada dimana2
    Thursday at 22:47 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Tanpa Nama Iman pada Tuhan hasil indoktrinasi tak akan pernah membawa manusia sampai pada Tuhan. Cara untuk sampai pada Tuhan sangat sederhana, yaitu sama seperti apa yang harus kita lakukan untuk bernafas. GBU
    Thursday at 22:59 via Facebook Mobile • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Vincent Wiryakusuma Note yg menyadarkan, ijin share ya Romo, terimakasih sebelumnya.
    Thursday at 23:21 • LikeUnlike

    Gabriel Abdi Susanto jadi inget dulu Mo pas lagi ‘bergelut’ di Salemba menghadapi beragam ‘ajaran’ yg masuk……salam jumpa Mo…
    Thursday at 23:49 • LikeUnlike

    Grace Setiawaty
    Romo Sudri, saya pikir saya bisa mengikuti pandangan” yang ditulis Romo di atas, dan memahaminya sebagai kebenaran… sampai bagian : “mengalami kebenaran sejati”..
    Maksudnya saya dapat menyadarinya it sebagai kebenaran saat ini…namun jika… kelak ada pemahaman lain yg mungkin bertolak belakang dengan note ini yg sesuai dengan sikon pada saat it, dengan mudah saya dapat memahaminya sebagai kebenaran jg..

    Romo Sudri bisakah menggambarkan apa it kebenaran sejati?
    Kalo saya simpulkan kebenaran sejati adalah kebenaran yang dilihat dan dipahami oleh batin yang bebas…yaitu batin yang tidak melekat pada kebenaran it..walau kebenaran it memang benar dan nyata pada saat dan kondisi it….menurut Romo gimana?

    Romo Sudri…koreksi saya bila salah…apakah ‘kebenaran sejati’ ini bisa kelihatan menjadi semacam ilusi kenikmatan yang seolah” dirasa para peserta retret ataupun yogi vipasanna MMD ?
    Saya berpendapat demikian dari comment” sebagian besar peserta retret maupun yogi vipasanna…terutama yang mengklaim ‘mengalami’ dan terkesan memvonis ‘yang terbelenggu’ (walau mgkn vonis it sebagian besar memang benar adanya…namun saya merasa ada yang salah dari pemahaman mereka…mungkin karena ‘melekat’ it )
    Maaf Romo, murni meminta petunjuk Romo tanpa bermaksud mencela atau menghakimi mereka…hanya saja saya merasa tidak pas dengan yang bisa saya sadari/pahami dari tujuan retret/meditasi MMD it.
    Benar atau salahkah saya Romo?

    Oh ya Romo, batin yang bebas, menurutku dapat diupayakan maupun disadari saja Romo…tidak mengubah hakikat batin yg bebas it. mungkin tidak Romo?
    Thx…salamSee more
    Yesterday at 00:12 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Fiona Hartanto Ya saya setuju romo, iman adalah salah satu bentuk belenggu. Saya sering mendapati bahwa teman2 yang paling beriman sebenarnya adalah orang2 yang paling takut & khawatir. Juga hidup dalam ilusi.
    Yesterday at 01:46 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Irene Spsimbolon Seperti apa yang Romo katakan :Betapa kuatnya kepercayaan atau iman itu akan mempertebal ego dan dng demikian akan membelenggu batin manusia, apa sama hal ini dengan menciptakan ke fanatikan sehingga dapat menutup diri dari orang lain shg sulit bagi seseorang untuk berkembang /maju.(seprti negara2 yang menganut suatu agama dengan kefanatikannya tinggi)
    Yesterday at 06:48 • LikeUnlike

    Grace Setiawaty
    Romo, saya bukan orang yg sgt beriman….kaum atheis jelas tidak ada imannya…apakah egonya tidak tebal? apakah hidup bebas dari rasa takut dan khawatir?

    Itu jika yang dimaksud iman/kepercayaan pada agama…
    Namun ak menangkap iman yang dim…aksud Romo bukan hanya pada kepercayaan atau agama saja…tapi melekat pada pikirannya akan kebenaran…benar Romo?

    Pada dasarnya manusia memang mencari ketenangan untuk batinnya dalam wujud ‘kebenaran sejati’…itlah mengapa mereka beriman pd Agama ataupun dgn retret MMD…Belenggu batin memang diciptakan manusia sendiri baik yg beriman maupun yg sudah ‘mengalami’ dalam retret MMD…intinya yang terobsesi dengan ‘kebenaran sejati’.
    Itu menurutku Romo, mohon dikoreksi..thxSee more
    Yesterday at 07:46 via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Irene: Tidak perlu jauh-jauh melihat keluar. Silahkan Anda melihat batin Anda sendiri.
    Yesterday at 07:57 • LikeUnlike • 2 peopleLoading…

    Selfie Tjora
    Seblmnya saya mohon maaf bila ada kata2 yg kurang pas/kurang berkenan. Mengutip kalimat “jadi iman itu tdk menyelamatkan, tapi justru membelenggu.”…Dan kalimat ” saya sering mendapati bahwa teman2 yg paling beriman sebenarnya adalah org2 …yg paling takut & khawatir.Juga hidup dalam ilusi.”
    @Romo Sudri: Maaf romo…, saya kira bukan iman yg membelenggu seseorg, melainkan label/nama yg diberikan/melekat sbg bentuk perwujudan iman itu sendiri…sgt byk terbukti…justru krn iman (keyakinan) yg kuat, seseorang dpt bertahan hidup/melewati berbagai cobaan/masalah yg dialaminya (terlepas dari pada label iman itu sendiri…apakah Kristen, Budha, Hindu, Islam atau lainnya)…salah satu contoh terbaru dpt kita lihat dari ke-33 org pekerja tambang di Chile yg terjebak dan bertahap hidup selama 2 bln. Tdk di uraikan di berita, agama apa yg mereka anut…tapi saya kira, iman/keyakinan tiap2 org itu sdh menguatkan mrk, shg mampu utk bertahan sekian lama…Jadi menurut saya, bukan Iman…melainkan label yg melekat pada Iman itulah yg membelenggu…apalagi bila disertai sikap fanatik yg berlebihan(merasa diri paling benar dan paling suci)…mohon pencerahan mo…
    @Fiona: salam…, tanpa bermaksud menyalahkan, mungkin teman2 yg dimaksud adalah org2 yg terlalu fanatik, shg hidupnya penuh dgn kecurigaan thd org2 disekitarnya, akibatnya timbul rasa takut dan khawatir yg terus menerus, shg tdk ada kedamaian dlm dirinya. Yg saya lihat justru sgt berbeda, orang2 yg ber Iman dgn benar (agama apapun mrk) sll menunjukkan sikap rendah hati, berlapang dada dalam menghadapi musibah/cobaan…dan masih byk lagi sikap2 lain yg sgt ingin saya contoh…(krn saya masih perlu byk sekali belajar dari org2 yg ber Iman dgn benar ini) hidup mrk penuh dgn kedamaian…baik dgn diri sendiri maupun dgn lingkungannya….Iman yg benar akan menuju pada kesejahteraan dan kebahagiaan (apapun label nya). Mengutip note Romo “hal2 ini…yg bermanfaat, tdk tercela, dipuji oleh para bijaksana, hal2 yg jika dipraktekkan dan dilaksanakan menuju pada kesejahteraan dan kebahagiaan, sdh selayaknya kalian menerimanya…”See more
    Yesterday at 08:02 • LikeUnlike

    Selfie Tjora mohon ijin share ya Romo…GBU.
    Yesterday at 08:03 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes
    ?@Grace: Jangan mencari dengan daya upaya apa itu kebenaran sejati. Tetapi sadarilah setiap kepalsuan batin, setiap ilusi atau delusi. Tanggalkan opini atau doktrin apapun dan lihatlah halnya …dalam kejernihan, maka kebenaran sejati itu akan tersingkap dengan sendirinya.

    Kebenaran sejatin tidak bisa dilekati. Yang bisa dilekati hanyalah paham tentang kebenaran sejati.

    Kata-kata dari orang dengan batin yang bebas itu sering kali bikin gerah orang yang batinnya tidak bebas. Sebaliknya, orang dengan batin yang relatif bebas seringkali mudah tercerahkan hanya dengan mendengar kata-kata dari orang yang batinnya bebas. Kata-kata tertentu bisa di tafsir sebagai vonis bagi orang tertentu dan bagi orang lain bisa dilihat sebagai apa adanya.

    Batin yang bebas bukan hasil dari daya-upaya, bukan hasil dari pergulatan untuk bebas, tetapi batin yang sadar akan ketidakbebasannya. Kalau ada kesadaran akan ketidakbebasannya, maka batin keluar secara alamiah dari ketidakbebasannya itu.See more
    Yesterday at 08:15 • LikeUnlike • 5 peopleLoading…

    Nurman Radjiman Mencerahkan… Kalau boleh, ijin share romo..
    Yesterday at 09:03 • LikeUnlike

    Grace Setiawaty
    Romo Sudri, mohon ijin menanggapi ya…supaya bisa mendapatkan pencerahan baru

    <>

    Saya bisa memahami ini sebagai output yang keluar adalah orang dengan batin yang bebas, ego yang tipis (tidak ada), bebas dari rasa takut dan khawatir dalam menjalani hidup, bijak…namun kebenararan sejati yang lebih kumaksud apakah menjadi tau keberadaan Tuhan, surga, neraka…atau mengalami nibbana, lepas dari tumimbal lahir??
    Yang bisa dialami kan hanya lepas dari semua beban konsep it bukan…dimana semua konsep it menjadi tidak penting lagi…dalam hal ini saya sebut batin yang tenang, bebas…mungkin memang ini yang terbaik dalam menjalani hidup ini…saya setuju saja…
    Namun saya jg bisa memahami orang yang benar” ingin mengalami ‘kebenaran sejati’ yang saya maksud it…tanpa melekat tentunya, bukan dengan kebodohan batin…namun benar” mengalaminya.

    <>

    Romo Sudri, saya sangat tertarik dengan kondisi batin yang disebut Romo di atas..Kalo boleh saya gambarkan kondisi batin saya, mohon Romo memberi masukkan apa yang sedang saya alami ya…

    ~ saya menyadari batin saya belum bebas
    ~ saya tidak gerah dengan kata-kata orang dengan batin yang bebas dimaksud…dalam banyak kesempatan saya menyadarinya sebagai kebenaran dan mendapatkan pencerahan darinya..
    ~ Namun mengapa pada akhirnya saya selalu menyadari orang tersebut belum sepenuhnya bebas batinnya…yang berarti saya juga belum bebas batinnya?

    Mungkin intinya saya cuma bisa melihat ketenangan batin, ego yang tidak ada, bebas dari rasa takut dan khawatir…apakah ini cukup Romo?See more
    Yesterday at 09:13 • LikeUnlike

    Grace Setiawaty Atau mungkin bisa saya katakan dengan cara lain sbb : saya menjadi tau, tercerahkan dengan “ketidakbenaran”….tapi tetap tidak menjawab apa it “kebenaran”….
    Yesterday at 09:36 • LikeUnlike

    Grace Setiawaty
    Adu..setelah saya baca ulang komen terakhir saya sptnya bisa menimbulkan persepsi lain…jadi ku koreksi saja ya..:)

    maksudnya bukan isi dari note it tidak benar…tapi lebih ke : saya jd tau apa yang tidak benar (ketidakbenaran)…tetapi ka…n tidak menjawab apa yang benar (kebenaran sejati)…mudah”an tidak membuat yang baca salah persepsi d..ntar dikira saya bilang Romo mengajari ketidakbenaran lagi.. :)

    Misalnya dari coment” it, (contoh: dr comment Bu Fiona, mohon ijin ya Bu…), saya mengerti tentang “ketidakbenaran” yang dimaksud…dan sejujurnya bukan it yang membuat saya tertarik karena bisa dimengerti dengan mudah…saya lebih tertarik dengan ‘kebenaran sejati’ yang dimaksud Bu Fiona…seperti apa it? Berhubung saya tau Bu Fiona it Buddhis, apakah dia bisa menjelaskan ttg nibbana, lepas dari tumimbal lahir dengan gamblang? saya yakin tidak..karena akan kembali ke iman…jadi intinya kan beliau bisa lepas dari beban konsep it tapi tidak tau dengan pasti kebenaran konsep it kan?See more
    Yesterday at 11:15 • LikeUnlike

    Wiwin Darmawan awesome….
    Yesterday at 11:59 • LikeUnlike

    Gabriel Abdi Susanto ?”Betapa kuatnya kepercayaan atau iman itu mempertebal ego dan dengan demikian membelenggu batin manusia. Jadi iman itu tidak menyelamatkan, tapi justru membelenggu.” ………iman terhadap apa dan siapa?
    Yesterday at 15:46 • LikeUnlike

    Kim Siong
    Romo sudri,
    note nya bagus sekali,
    jika ada lanjutannya lagi,
    tagg ke saya juga ya.
    Terima kasih.

    Cece Grace setiawaty.
    ^_^ cukup “kritis”,
    kim siong suka gaya loe Ce grace.See more
    Yesterday at 16:11 via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Ecosoc Rights
    Tuhan telah menganugerahi kita ROH dgn sayap yg dpt kita gunakan utk terbang membubung ke angkasa luas kasih dan kemerdekaan. Sayang jika kita memotong sayap itu dgn keyakinan-keyakinan kita yg seolah2 membawa kepastian. Mari kita beriman (…pada Tuhan yg ada di segala ciptaan) dan bukan berkeyakinan. Keyakinan membawa kita pd kepastian, iman membawa kita pd ketidakpastian. Menjadi manusia beriman, dgn demikian, menjadi manusia yg pasrah ke mana ROH ini membawa kita terbang. Dgn berkeyakinan, dulu gereja menghukum Galileo yg menjungkirbalikkan apa yg diyakini gereja saat itu dgn menyatakan bumi itu bulat (tidak datar) dan matahari pusat tata surya. Sementara saat itu gereja memegang teguh keyakinan bhw bumi itu datar dan bumi adalah pusat tata surya. Dgn beriman, kita lebih terbuka thd berbagai kemungkinan dan kita siap utk merangkul REALITAS dan mengalami kebenaran.See more
    Yesterday at 16:27 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes
    ?@Grace:
    Kalau Anda betul-betul PAHAM, MENGER…TI, SADAR, maka Anda tidak akan bertanya lagi apa itu kebenaran sejati.See more
    Yesterday at 17:20 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes
    ?@GAS:
    Iman=keyakinan=kepercayaan. Percaya Tuhan itu ada atau Tuhan itu tidak ada itu tidak ada bedanya. Percaya tentang adanya surga, nibbana, karma atau tidak adanya surga, nibbana, karma, itu tidak ada bedan…ya. Jadi masalahnya bukan iman “terhadap apa dan siapa”, tapi mengapa orang berkepercayaan, berkeyakinan, beriman.See more
    Yesterday at 17:25 • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Ecosoc: Terbukti bahwa “keyakinan” atau “iman” yang membawa kepastian justru menjadi belenggu, bukan?
    Yesterday at 17:28 • LikeUnlike

    SlamEt RayOno terimakasih romo, ijin share
    Yesterday at 17:34 • LikeUnlike

    Ecosoc Rights
    ?@Rm. Sudri: keyakinan yg membelenggu, iman tidak membelenggu. Keyakinan berbeda dgn Iman. Keyakinan membelenggu krn dgn keyakinan org merasa ada kepastian. Tapi iman membebaskan, krn dgn iman orang pasrah, org menghadapi dan menerima reali…tas, orang merdeka, lepas bebas krn tdk terikat pd adanya “dasar” yg membuat org yakin. Dgn iman, orang tidak dibebani oleh “dasar” atau pondasi yg sebenarnya hanya label-label dan ilusi krn apapun yg menghampirinya, apapun yg dialaminya, apapun yg dihadapinya tidak mengubah DIRI-nya, tidak mengubah diri sejatinya. Iman membuat orang tetap tersambung dgn YG ILAHI yg ada dalam dirinya, apapun pengalamannya.See more
    Yesterday at 18:06 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Kas Jim iman yg membebaskan, iman yg menjadikan hidup ini lepas bebas..
    iman yg mengijinkan saya salah dan iman yg mengajarkan kebenaran..
    Yesterday at 18:36 • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sudrijanta Johanes
    ?@Selfie:
    Seperti apakah ‘iman yang benar itu’? …Muncul ‘iman yang benar’ kalau ‘iman yang palsu’ (ilusi atau delusi) runtuh. Iman yang palsu adalah iman yang membuat Anda merasa pasti, merasa nyaman. Apakah Anda melihatnya?

    Betul, iman dan agama berbeda. Apakah bisa orang seagama tapi berbeda imannya dan berbeda agama tapi sama imannya?See more
    23 hours ago • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Kas Jim: Iman yang membebaskan itu seperti apa?
    23 hours ago • LikeUnlike

    Kang Mas Alex meditator yg konon terlatih dlm mengamati lika-liku pikirannya pun sering punya prasangka thdp batin orang lain. banyak itu contohnya. aku bisa tunjuk orangnya, tp gak usahlah.
    21 hours ago • LikeUnlike

    Asa Wada Rumit dan brbelit belit, jadi bingung hehe… Tidak usah trlalu banyak teori dan pemahaman. Yang penting praktekan 3B sehari hari saja scara tulus. Yaitu berfikir, berbuat dan berkata yg baik. Saya rasa itu sudah cukup sbagai langkah awal. Salam damai dari bali buat saudaraku semua hehe…
    20 hours ago via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Kang Mas Alex: Lihatlah sendiri kebenarannya, bukan orang yang mengatakan kebenarannya.
    20 hours ago • LikeUnlike

    Kas Jim ?@Sudrijanta, iman yg terlepas dr segala aturan ibadah, iman yg tdk memerlukan korban, iman yg semata anugerah…
    20 hours ago • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Asa:
    Apakah kebaikan yang sesungguhnya datang dari pikiran?
    20 hours ago • LikeUnlike

    Asa Wada
    Maaf Bang, jangan terlalu sering bertanya apalagi kalo pertanyaan itu hanya sekadar sbagai uji pengetahuan yang sebenarnya diri sendiri sudah mengerti tntg apa yg dimaksud. Masing2 insan punya ukuran trsendiri dalam memahami apakah itu baik…, bnar, salah ataupun buruk. Jadi brjalan saja apa adanya. Jgn trlalu memperdebatkan apa? Siapa? Darimana? Kemana? Dst… Jalani saja apa yg dirasa itu baik/bnar. karna, tohpun itu memang keliru, suatu saat secara alami akan ada penyadaran yg hadir. Be our self Hehe… Maaf bang kalo kurang memuaskan jawabannya!See more
    19 hours ago via Facebook Mobile • LikeUnlike

    Selfie Tjora
    ?@Romo Sudri: Salam Damai…terima kasih atas tanggapan romo, “seperti apakah iman yg benar itu?”…saya tdk bisa mendescripsikan secara pasti spt apakah iman yg benar itu(krn saya juga masih perlu byk skl belajar soal ini)dan saya rasa, td…k ada satu manusiapun yg mampu menilai benar/tidaknya iman seseorg…tapi saya mengutip pendpt saudara Ecosoc Rights (mohon ijin)…dari situ kita bisa merasakan kira2 spt apa ciri2 iman yg benar itu…..ttg pertanyaan:” apakah bisa org seagama tapi berbeda imannya dan org seagama tapi berbeda imannya?”…saya mencoba menjawab menurut kacamata saya, krn mungkin romo lbh tahu jawabannya….menurut saya ini bisa saja terjadi, krn iman sesorang sgt sulit diukur, krn tdk ada rumusan yg pasti spt apa iman yg baik/benar itu…tdk spt hukum gravitasi, bahwa benda apapun yg kita lempar ke atas, akan jatuh kembali ke bawah. Hanya Yang Maha Tahu…yg bisa menilai kualitas iman kita…apakah cukup/kurang, apakah benar/salah, dll…spt yg pernah di ucapkan oleh Yesus: “….pulanglah, imanmu telah menyelamatkan engkau”…mohon pencerahannya romo, dan sekiranya romo tahu jawaban dari pertanyaan2 romo diatas, mohon di share romo, krn saya sgt ingin utk mengetahui jawabannya…sbg bahan utk memperbaiki kualitas diri, agar kelak kita bisa lbh layak berdiri dihadapanNya…GBU.See more
    13 hours ago • LikeUnlike

    Selfie Tjora ?@Romo…mengulangi permohonan ijin saya, bolehkah saya share note in? terlepas dari segala tanggapan, saya rasa note ini sungguh mencerahkan…terima kasih…GBU.
    13 hours ago • LikeUnlike

    Anastasia Satriyo Romo…izin share yaa…soo inspiring….terus mengolah dan berkarya ya romo…
    10 hours ago • LikeUnlike

    Hanny Sunur ?@Romo Sudri: Terima kasih Romo, sangat bijaksana & memberikan inspirasi. Terutama paragraf yg terakhir, bhw kebenaran yg sejati hanya bisa dialami scr lsg dlm khdpn kita, bukan hanya lewat teori/argumen semata.. GBU
    9 hours ago • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Selfie & Anastasia: Silahkan di share.
    8 hours ago • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sony H. Waluyo
    Matur nuwun Mo,
    tulisan sangat menarik dan sangat menantang.. bagi jiwa2 yg galau oleh krn haus akan jawaban kebenaran sejati yg tak kunjung terjawab.

    kebetulan ada sedikit analisa sederhana tentang kebenaran yg melibatkan dualitas benar-sala…h, aku sharekan semoga bermanfaat buat kawan2.. mohon maaf analisa ala punakawanan jauh dr ketentuan2 analisa ilmiah.. hehe..:

    “Tak perlu saling menyalahkan, krn apa yg dianggap salah mungkin memang salah dilihat dr satu sudut tetapi juga benar dari sudut pandang lain…”

    bukti nyatanya:
    ini contoh2 dualitas baik-buruk/salah-benar yg melekat pada satu perkara yg sama:
    1. “barang” yg kita sebut “sampah” rumah tangga dan dianggap tak berharga (buruk) ternyata mjd “rejeki gratis” bagi tukang pulung (baik)…
    2. “pekerjaan trantrib… menertibkan” PKL sering menggunakan cara tegas dan tampak sbg “kekerasan” (salah), namun jika tdk dilakukan “penertiban” (benar) PKL juga suka nekad dan merasa punya hak menggunakan trotoar dan badan jalan.
    3. “pekerjaan kantor yg saabrek” yg sering bikin “melelahkan” (buruk) namun klo gak ada kerjaan itu kita gak “diperkerjakan dan dapat gaji” (baik).
    4. keluhan pelanggan yg bikin “capek melayani” (buruk), tapi di tangan product development klo ketemu solusinya bisa mjd “produk barang & jasa baru” yg membuat perusahaan berinovasi terus dan “survive dlm persaingan” (baik).

    jadi tergantung cara pandang saja terhadap setiap masalah dan memanfaatkan setiap masalah justru sbg kesempatan/tantangan utk berkembang .. dan sikap2 positif baik spt itu atas yg disebut sbg dinamika yin & yang (dg melihatnya sbg satu kesatuan yg membuat dinamika kehidupan tumbuh) menunjukkan watak kepribadian yg lepas dr dualitas baik-buruk/salah-benar…

    begitu juga di tingkat pemikiran yg sangat rumit spt filsafat dan teologis apapun tetaplah berguna itu memancing dan menggulirkan otak manusia utk terus mengembangkan kehidupan yg damai dan lebih baik, tergantung pd sikap apakah bisa menicntai dan menerima segalanya baik adanya dan sbg anugerah & tantangan utk terus mengembangkan diri.

    Matur nuwun,
    Love & light..^_^.._/\_..
    dhemit sonthulSee more
    8 hours ago • LikeUnlike • 1 personLoading…

    Sony H. Waluyo
    ?===
    Murid: Guru, apakah yg kau jelaskan adalah kebenaran sejati?
    Guru: Aku tak bisa mengatakan sbg kebenaran sejati sampai kamu sendiri membuktikannya.
    —-
    .. tak lagi bias dlm dualitas salah-benar yg dilatabelakangi merasa diri paling benar …sendiri.. krn pemahaman kebenaran sejati hanya bisa diperoleh dg telah mencapainya sendiri.. sebelum itu sifatnya hanyalah teoritis…
    ..hanya dg telah melampaui dualitas benar-salah dg laku hidup menerima segalanya apa adanya dan mempraktekkan laku hidup sbg agen cinta ilahi (kasih & pengampunan) dan selalu hadirkan cinta dlm laku hidup… kebenaran sejati di atas dualitas salah-benar itu terlampaui… tak ada lagi kata bodoh atau goblog bagi sesamanya… melainkan motivasi lembut bagi semua orang…

    .. laku hidup adalah doa terpanjang & terlengkap. Sembah bekti kagem gusti ing rasa lan laku (sujud & bakti bg Tuhan dlm rasa & perilaku. Rasa tresnaning jati marang urip kang kawujud ing darma bekti (rasa cinta sejati yg diujudkan dlm darma bakti). Begja, mulya lan bahagia ana ing dharmaning laku urip kang urub lan nguripi (untung, mulia & bahagia ada dlm darma perjalanan hidup yg hidup & menghidupi).

    love & light..^_^.._/\_..
    dhemit sonthulSee more
    7 hours ago • LikeUnlike

    Puput Dyah Lestari dengan Jiwa yang bebas ~ Kebenaran : Kenyataan… lalu Keyakinan : kebenaran yang masih (… ? …) terima kasih tulisannya yang menggugah, terberkatilah Sudrijanto Johanes selalu…
    7 hours ago • LikeUnlike

    Cendrawati Suhartono
    Apakah kebenaran itu? tanya Pilatus. Yesus tidak menjawab, karena Ia sudah menemukan sendiri kebenarannya…

    Terima kasih Romo atas pemahaman tentang kebenaran yang jauh melampaui sekat-sekat agama, doktrin, dogma, kepercayaan, ritual, dsb. T…ulisan2 Romo membantu saya semakin dapat menyelami pribadi Yesus dan memahami makna yang dalam di balik perkataan dan tindakanNya.
    Beberapa contoh:
    - Memiliki batin yang jernih sehingga dapat memandang segalanya dengan persepsi murni; sama seperti perkataan Yesus: “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.”
    - Menikmati di sini dan saat ini; tersirat dalam kata-kata Yesus: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Juga saat Yesus bicara soal kekhawatiran dengan memakai contoh burung di udara dan bunga bakung di ladang.
    - Menjadi pribadi yang lepas-bebas, tidak melekat terhadap benda/uang/relasi; dapat dijumpai antara lain dalam kisah orang muda yang banyak hartanya, persembahan janda miskin, juga pesan Yesus saat mengutus murid-muridNya.

    Yesus tidak menciptakan agama tertentu, seperti dikatakanNya: “Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran.” Setelah Yesus tidak lagi di dunia, di Antiokhia-lah para murid Yesus pertama kalinya disebut Kristen (Kisah Para Rasul 11:26).

    Ajaran dan kesaksian tentang kebenaran adalah universal, bukan milik kelompok tertentu. Jika kebenaran yang hakiki sudah dipahami, maka tak ada apa pun yang membelenggu. Semua tampak cerah. Ditunggu pencerahan-pencerahan batin selanjutnya, Romo…

    Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. (Mazmur 51:8)See more
    2 hours ago • LikeUnlike • 1 personSelfie Tjora likes this.

    Catila Winarno share ya Romo, thank u ^_^
    23 minutes ago • LikeUnlike

    Sudrijanta Johanes ?@Cendrawati: Dan kita hanya perlu DIAM dan menemukannya sendiri.
    15 minutes ago • Like

  15. halo Ibu Cendra ^_^ kapankah kita “bertemu”. trimakasih postingannya, Romo. bonus “santapan” di masa liburan hehe…

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>