Menembus Ketidaktahuan
Kebanyakan orang menjalani kehidupan yang adalah hubungan-hubungan satu dengan yang lain dengan berpusat pada pemikiran atau pengetahuan. Bukan hanya dalam hal-hal teknis kehidupan sehari-hari pemikiran itu digunakan, tetapi juga dalam mendekati hal-hal spiritual. Itulah jalan tradisional dari para pejalan spiritual.
Pemikiran atau pengetahuan teknis punya tempatnya sendiri dalam kehidupan, tetapi pemikiran atau pengetahuan untuk mendekati hal-hal spiritual tidak membawa orang melihat Kebenaran. Justru sebaliknya pemikiran atau pengetahuan itu menjadi perintang utama untuk melihat Kebenaran.
Marilah kita belajar melihat Kebenaran dalam hubungan satu dengan yang lain.
Silahkan Anda menyelami bagaimana Anda melihat pasangan hidup Anda atau seseorang yang dekat dalam kehidupan Anda. Bagaimana Anda melihat pasangan hidup Anda? Apakah Anda melihat pasangan hidup Anda dalam kejernihan atau Anda melihat melalui latar belakang pengalaman?
Anda memiliki pengalaman kenikmatan dan kesakitan berhubungan dengan pasangan hidup Anda. Pengalaman kenikmatan dan kesakitan dari masa lampau itu terus Anda bawa sampai sekarang menjadi pengetahuan. Anda memiliki image atau gambaran tertentu tentang pasangan hidup Anda. Lewat image itu Anda berhubungan dengan pasangan hidup Anda. Kalau Anda melihat pasangan hidup Anda lewat image tertentu, bukankah Anda tidak berhubungan secara langsung dengannya, melainkan hanya berhubungan dengan image Anda tentang pasangan hidup Anda? Dengan demikian image yang adalah pengalaman, pemikiran, atau pengetahuan tidak membuat Anda bisa melihat secara langsung pasangan hidup Anda. Latar belakang pengalaman membuat Anda tidak bisa melihat Kebenaran dalam relasi Anda dengan pasangan hidup Anda.
Anda bisa memeriksa batin Anda dalam hubungan dengan orang-orang lain di sekitar Anda seperti anak, orang tua, adik, kakak, sahabat, majikan, bawahan, rekan kerja, tetangga, dan orang-orang lain di sekitar Anda. Bagaimana Anda bertemu dengan mereka setiap hari? Apakah Anda bertemu secara langsung tanpa mediasi image, pemikiran, atau pengetahuan sehingga Anda bertemu secara langsung dengan mereka dalam kejernihan?
Lihatlah masalah-masalah kejiwaan yang sering mendera Anda seperti kecemasan, kegelisahan, ketakutan, kebencian, kemarahan, keserakahan, kemalasan, kelekatan, dst. Bisakah Anda melihat masalah-masalah kejiwaan tanpa teori-teori atau pengetahuan apapun di benak Anda dan Anda secara langsung menatap setiap masalah tanpa keinginan untuk mengubah, untuk menolak, untuk menekan, untuk menerima, dst?
Marilah kita melangkah lebih jauh dan langkah ini membutuhkan kepekaan yang halus.
Lihatlah hubungan Anda dengan apa yang oleh pikiran disebut dengan Brahman, Allah, Tuhan, Roh Kudus, Nibana, Tao, Diri Sejati, dst. Lihatlah hubungan Anda dengan apa yang oleh pikiran disebut Kebenaran. Selama Anda mendekati itu semua dengan pikiran, maka Anda tidak keluar dari penjara pemikiran. Meskipun Anda menyebut semua itu berada di luar pikiran atau tidak bisa dijangkau oleh pikiran, selama Anda masih mendekatinya dengan pikiran, maka Anda belum keluar dari penjara keterbatasan.
Kebenaran yang sesungguhnya hanya terlihat atau tersingkap kalau segala pemikiran berakhir. Kebenaran seperti ini sangat halus, sukar untuk dilihat, sukar untuk dipahami, kecuali oleh batin yang bebas dari penjara pikiran.
Hanya saja kebanyakan orang di dunia ini asyik dan menyenangi kenikmatan, entah kenikmatan biologis, kenikmatan indrawi, kenikmatan intelektuil, termasuk kenikmatan spiritual. Orang mudah terbius oleh kata, deskripsi, atau gambaran yang diciptakan pikiran tentang Allah, Tuhan, Diri Sejati, atau konsep-konsep lain tentang realita di luar pikiran. Orang mudah terpukau oleh pengalaman esktase, visiun, atau penampakan-penampakan spiritual. Bukankah semua itu adalah bentuk-betuk kenikmatan yang dirindukan oleh kebanyakan batin yang terpenjara oleh pikiran? Kalaupun orang mengaku ingin mencari kebenaran, apakah mereka sungguh-sungguh mencari Kebenaran ataukah hanya ingin mencari kenikmatan?
Kalau kita masuk dalam keheningan meditasi, pikiran sepenuhnya berakhir, otak diam membeku. Realita yang diciptakan pikiran runtuh sama sekali. Dunia atau Tuhan yang diciptakan pikiran lenyap. Gerak keinginan berhenti. Si aku atau orang yang mengalami tidak ada lagi. Pada moment itulah muncul sesuatu yang lain dan Kebenaran tersingkap.
Mengapa pemikiran dianggap begitu penting dalam pencarian spiritual meskipun tidak membawa kepada Kebenaran? Mengapa kebanyakan para ahli kitab, para pemuka agama, guru-guru spiritual, para pembela dogma tidak melihat bahwa pemikiran atau pengetahuan justru menjadi hambatan utama untuk menemukan Kebenaran? Mengapa para awam memiliki hasrat yang besar untuk mencari dan mengumpulkan pengetahuan? Bukankah mereka yang memiliki otoritas pengetahuan maupun mereka yang haus akan kebenaran dengan mengumpulkan pengetahuan sama-sama tebal debu yang menutupi matanya?
Selama orang secara psikologis melekat pada pandangan-pandangan teoretis (pemikiran, doktrin, kepercayaan) maupun melekat dengan kuat secara emosional pada kekuatan-kekuatan batin pada lapisan yang halus, mereka tetap hidup dalam ketidaktahuan (ignorance). Semakin kuat pemikiran kita lekati secara psikologis dan kekuatan-kekuatan batin kita lekati secara emosional, semakin tebal debu yang menutupi mata kita. Semakin tebal debu menutupi mata kita, semakin kuat kita hidup dalam ketidaktahuan.
Pengetahuan adalah sumber ketidaktahuan. Bisakah kita menembus ketidaktahuan tanpa idea pemikiran atau pengetahuan sekecil apapun?*







Romo, bila seseorang spt Rasul Paulus mengenal Kristus dengan Kehendak Allah berupa penyadaran melalui penderitaan sakit, penampakan (vision) dan sebagainya bukan diawali dengan suatu proses keheningan & no-self. Existensi Kehendak Allah itu diakomodasi sebagai sesuatu yg datang secara external, bagaimana Romo menyikapi hal tersebut ? Khan pengalaman agamawi/spiritual tidak melulu melalui proses kebenaran melalui praktek meditasi ?
Bagaimna penjabaran Romo ? Bagaimana Romo menyikapi suatu rencana yg terjadi diluar kekuasaan Allah yaitu kehendak Allah ? Apakah semua itu proses sebab-akibat belaka ?
I need your explanation coz I need to settle my mind whether I have to ignore knowledge or some way of thinking by simply leave them behind & explore the truth thru silentium ?
Yg jelas semakin seru utk dibahas lebih lanjut atau saya ini mencoba mencari kenikmatan mencari reasoning belaka ? hahaha..
So much riddle in my mind, Romo ? It’s my fault or yours, Romo hahaha….thanks anyway !
THN
Dear Rm Sudri,
It is nice to see your article again after silent in some times.This article refresh me and no doubt it works how to pass the ignorance.
Yes, knowledge is needed for our intelectual but in our spiritual life , it becomes barrier.
Thanks always remind us to become aware in every times to do our daily works. Good night
cheers, mary
Bapak THN,
Pengalaman akan ‘Allah’ yang sesungguhnya hanya terjadi dalam keheningan batin di mana ego/diri /pikiran tidak ada lagi. Saya tidak melihat adanya pengalaman mistikal yang orisinal yang dialami orang-orang dengan batin yang masih dipenuhi ego/diri/pikiran.
Moment pengalaman mistikal itu hanya berlangsung sekian detik atau menit atau jam sampai ego/diri/pikiran bergerak lagi. Pengalaman akan ‘Allah’ belum menjadi pengalaman yang menetap sebelum ego/diri/pikiran runtuh seluruhnya secara menetap.
Pengalaman akan ‘Allah’ seperti itu terjadi secara mendadak, bukan hasil dari daya upaya, tidak diantisipasi sebelumnya, tidak diharapkan sebelumnya. Itulah mengapa pengalaman mistikal tidak mungkin berlangsung di luar keheningan batin. Keheningan batin di mana ego/diri/pikiran berhenti itulah yang disebut keheningan meditatif atau kesadaran meditatif bagi pemeditasi.
Saulus dalam perjalanan ke Damaskus tiba-tiba melihat cahaya dan mendegar suara tetapi tidak tahu sumbernya dari mana (Kis 9:7 dan Kis 22:9). Pengalaman mendadak di jalan menuju Damaskus itu tidak bisa dia pahami dalam kerangka pengalaman dan pengetahuannya sebagai seorang Farisi. Moment itu membuka mata batinnya akan Kebenaran yang tidak dia lihat sebelumnya selama masa hidupnya. Moment itu tidak mungkin terjadi tanpa keheningan batin.
Tidak banyak orang seperti Santo Paulus yang mengalami anugerah pengalaman mistikal seperti itu. Kita orang biasa yang tidak memiliki anugerah hebat-hebat seperti Santo Paulus, bisakah mengolah batin dan hidup dalam keheningan?
JS
Yth Rm Sudri…
Jwban rm thd kasus yg diajukan oleh bpk THN.., salah satunya adlh : “Moment spt itu tidak mungkin terjadi tanpa melalui keheningan…”
Bukankah Saulus… mendpt moment itu.., justru dlm kondisi tidak hening…? kacau malah… krn emosi dan hasratnya yg mengejar orang2 Kristen…
Lalu…apakah moment yg dialami Saulus itu pantas diragukan nilai spiritualitas atau keillahiannya..?
trimakasih
vincent-bc
Vincent, Anda tidak cermat membaca tanggapan saya. Moment perjumpaan dengan terang dan suara itu tidak mungkin berlangsung kalau batin tidak berada dalam keheningan SAAT ITU, bukan saat sebelumnya. Sebelum moment itu, batin Saulus dipenuhi dengan kebencian terhadap Kristus dan orang-orang Kristen. Moment perjumpaan itu kemudian mengubah seluruh pandangannya tentang Kristus. Hingga kemudian ia mengatakan “Bukan lagi aku melainkan Kristus yang hidup dalam diriku…”
Moment yang sering disebut bukan kebetulan, bila kita dalam kondisi hening maka mata batin mengatakan itulah kehendaknya, memang benar adanya.
Salam,
AMS
Saya mengetahui dari kitabsuci, manusia diberikan 4 komponen utama dalam dirinya yang dapat terlihat dari perintah Yesus yang pertama,
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Markus 12:30.
Yang 4 komponen ini bila dipersingkat menjadi, identitas.
Identitas ini unik bagi setiap orang, setiap orang punya. Tanpa identitas, maka apa yang disampaikan oleh Yesus tadi tidak berarti apa-apa.
So, dari renungan ini, manakah yang ada hubungannya dengan dengan 4 komponen itu, romo?
@Dovu, Tentang apa artinya “mengasihi Allah” dalam teks yang Anda kutip tersebut, saya mempunyai pemahaman yang berbeda dari Anda. Silahkan membaca tulisan saya di sini: http://gerejastanna.org/nyala-api-cinta/
Terima kasih Romo.
Dari link yang diberikan oleh Romo, tentang Nyala Api Cinta, sy mendapatkan pemahaman bahwa Allah adalah Api, dan manusia adalah kayu bakar.
Maaf sy mengambil bentuk gambaran supaya jelas, karena komunikasi melalui kata-kata (huruf-huruf) dalam diskusi ini,
Kalo pemahaman umum,
- Api + kayu bakar = abu
- tersisa abu
- apinya padam (karena bahan bakar kayunya sudah habis berubah wujud menjadi abu)
Pemahaman romo ( http://gerejastanna.org/nyala-api-cinta ),
- Api + kayu bakar = habis
- kayu tidak ada sisa (lebur)
- Api tetap nyala-nyala
Benarkah pemahaman sy di atas?
Pemahaman sy adalah,
- Api + kayu = Api + kayu
- kayu masih ada di dalam nyala Api
- Api masih tetap menyala-nyala
Sy mengacu kepada perintah Yesus tadi, adalah kesatuan, diriNya dengan ciptaanNya, yang ditanggapi oleh ciptaanNya dengan mengasihiNya, yang masih berwujud sebagai ciptaanNya yang ber-idnetitas (thats why perintahNya itu diberikan).
Mungkin disini sy berbeda pemahaman ‘kasih’ dengan romo. Kasih bukanlah meniadakan identitas makluk ciptaanNya. Identitas itu masih ada, karena kasihNya maka makluk ciptaanNya baru dapat mengenalNya dan mengasihiNya.
Terima kasih.
@Dovu,
Ada dua macam pemahaman:
#1. Pemahaman intelektuil yang bersumber dari pikiran
#2. Pemahaman non-intelektuil yang tidak bersumber dari pikiran.
Kesan saya, Anda masih mendekati kebenaran-kebenaran spirituil dengan pikiran. Itulah yang membedakan pendekatan Anda dengan pendekatan saya.
Kalau Anda mau belajar untuk memahami kebenaran-kebenaran spirituil bukan dari pikiran, tetapi dari kesadaran atau keheningan, saya bersedia mendampingi Anda. Tetapi kalau Anda merasa sudah menemukan kebenaran melalui pendekatan intelektuil, maka dialog seperti ini tidak bisa diteruskan.