Membangkitkan Inteligensi
Seperti halnya ayam atau binatang memiliki insting pertahanan diri, manusia juga memiliki mekanisme pertahanan diri. Hanya saja mekanisme pertahanan diri bagi manusia lebih kompleks atau lebih canggih dibanding binatang karena memiliki intelek. Tanpa intelek manusia tidak bisa bertahan hidup.
Di lain pihak intelek menciptakan masalah-masalah psikologis yang tak terkira dampak buruknya bagi kehidupan. Kebanyakan orang yang berkekurangan atau berkecukupan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, hiburan menjalani kehidupan tidak jauh berbeda. Kebanyakan orang tak kunjung henti didera oleh berbagai bentuk ketakutan, kegelisahan, kesedihan, kesepian, kebencian, keserakahan, kekerasan, kekacauan, konflik, dst. Itu semua mengkondisikan dan merusak batin dan lalu berdampak pada hubungan-hubungan yang lebih luas.
Intelek menciptakan banyak sekali persoalan psikologis dan kita sudah terbiasa dididik untuk mencari pemecahan masalah dengan intelek. Tidakkah anda melihat kontradiksi di situ? Kita menyaksikan tidak ada sesuatu yang bisa dipahami secara utuh atau diubah secara fundamental dengan intelek. Lalu kita mengatakan bahwa pemecahan masalah-masalah fundamental berada di luar intelek.
Sekalipun banyak bicara tentang pemecahan masalah, kesadaran, pencerahan, keselamatan, kebebasan, perdamaian, keadilan, diri, Roh, Tuhan, dst, kebanyakan dari kita hanya berhenti pada teori atau intelek. Tetap saja akar dari segala kekacauan yang ada dalam batin kita sendiri sering belum terpahami secara aktuil. Akar kekacauan itu tidak lain adalah gerak intelek yang melenceng dari tempatnya yang benar. Kekacauan itu tetap ada selama kita tidak menyadari batas-batas intelek dan mendudukkan kembali intelek pada tempatnya yang benar.
Untuk melihat kekacauan yang diciptakan intelek ini secara aktuil, bukan teoretis, dibutuhkan kepekaan. Mari kita menyadari belenggu batin oleh intelek itu sendiri. Kita telah dididik dalam lingkungan tertentu. Kita memiliki pandangan, doktrin, kepercayaan tertentu. Kita juga memiliki kecenderungan-kecenderungan halus dalam batin yang secara emosional kita lekati. Pandangan dan sikap ini telah menjadi otoritas dalam batin sebagai penyaring atas segala sesuatu yang ingin kita terima atau kita tolak sesuai dengan kecenderungan pribadi. Akibatnya, realita tidak terpahami secara langsung karena kita memahami menurut keinginan, harapan dan kesimpulan-kesimpulan pribadi.
Kalau itu semua dilihat secara aktuil, secara langsung, tanpa intervensi pengaruh otoritas apapun, maka pandangan dan sikap kita yang menjadi penghalang pemahaman langsung itu rontok dengan sendirinya. Tidak ada diri atau otoritas yang merontokkan pandangan dan sikap kita. Dalam pemahaman langsung itu, ada kecerdasan atau inteligensi.
Ketika pikiran sepenuhnya berhenti, bukan kita buat berhenti, maka di situ ada keheningan. Dalam titik keheningan itu, muncullah inteligensi. Inteligensi ini tidak muncul dari intelek, tidak bersumber dari ingatan. Ia bukan hasil dari pembelajaran, bukan akumulasi pengetahuan. Ia tak terukur, di luar waktu. Ia bukan milik anda, bukan milik saya, bukan milik siapapun.
Ketika pikiran berhenti sepenuhnya dan hanya bekerja di tempatnya yang benar, maka tidak ada anda, tidak ada saya. Tidak ada gambaran-gambaran psikologis tentang diri atau bukan-diri. Tidak ada konsep-konsep ideal yang justru membelenggu batin.
Keinginan untuk memahami hal-hal yang secara absolut tidak bisa dipahami merupakan kematian inteligensi. Tidak mengetahui hal-hal yang perlu untuk diketahui merupakan kematian intelek. Baik intelek maupun inteligensi kita butuhkan pada tempatnya. Intelek yang bekerja secara harmoni dengan inteligensi justru membuat intelek bekerja secara optimal dan tidak menciptakan kekacauan. Di situlah kita melihat kemungkinan intelek bekerja secara inteligen atau inteligensi mempengaruhi kerja intelek. Itu hanya mungkin kalau ada ruang keheningan batin.
Gerak intelek sering membuat kita bingung. Aku tahu inteligensi muncul kalau batin berada pada titik keheningan. Lalu aku mengatakan, ”Aku akan membuat diriku hening” atau ”Aku akan berlatih agar aku memiliki inteligensi.” Tidakkah anda melihat jebakan intelek di sini? Tidak ada inteligensi ketika intelek bergerak di luar tempatnya yang benar.
Kebingungan juga terjadi ketika kita memaksa diri untuk memahami sesuatu yang secara absolute tidak bisa terpahami dengan intelek. Ketika anda mengatakan, “Aku tidak tahu”, apa yang terjadi dengan batin anda? Apakah ada gerak halus si aku untuk memahami sesuatu? Memahami sesuatu yang secara absolut tidak bisa kita ketahui hanya mungkin terjadi kalau tidak ada keinginan halus untuk mengetahui, tidak ada harapan, tidak ada kehendak, tidak ada perlawanan, tidak ada pilihan, tidak ada daya upaya, tidak ada pembuangan energi. Disposisi batin yang demikian itu menyimpan energi yang sangat besar dan itulah inteligensi.
Intelek itu seperti pedang bermata dua. Di satu pihak intelek dibutuhkan untuk bertahan hidup; di lain pihak intelek memecah-mecah dan merusak realita kehidupan. Untuk memahami realita kehidupan apa adanya, pikiran musti berakhir dan di situ ada kemungkinan inteligensi terbangkitkan.
Ada pikiran negatif dan pikiran positif, pikiran kotor dan pikiran suci, pikiran duniawi dan pikiran surgawi. Semuanya itu adalah pikiran, tidak ada bedanya. Semua itu musti berakhir agar inteligensi terlahir. Maka mari kita bertanya bukan bagaimana mengoptimalkan intelek untuk memecahkan masalah-masalah psikologis kehidupan, melainkan bisakah pikiran berhenti ketika tidak sungguh kita perlukan untuk menjawab masalah-masalah teknis sehari-hari?*







Dear Rm Sudri,
Thanks untuk tulisan nya yang sungguh membantu pemahaman dalam lahirnya inteligensi.Saya merasakan inteligensi akan terlahir dalam suasana keheningan dan itu tidak bisa dikejar atau diusahakan, dia akan datang dengan sendirinya saat batin ini tenang dan diri ini tiada.
Rm sepertinya inteligensi sama dengan the most unknown energy in unity with Christ? Karena saya mengalaminya seperti yang Rm tulis dan saya sebut sebagai energi yang tidak saya ketahui tetapi saya hayati. karena itu melampaui jauh kemampuan intelektual dan pengetahuan.Semoga inteligensi senantiasa terlahir dalam setiap gerak langkah kehidupan kita
Tks and rgds,
mary
Jika pikiran berhenti lahirlah revolusi tanpa gonjang ganjing ideologi
Jika tindakan tidak bersumber dari inteligensi mesti hati-hati
Kekacauan dan penderitaan berawal dari pikiran ini
Semua terkondisi, seperti teroris yg terkurung dan tewas dalam kamar mandi
Gagasan hanya sekedar melahirkan reaksi
Mesin pikiran tak berarti dalam suatu aksi
Dimanakah inteligensi, sesungguhnya berawal dari pikiran berhenti hening diri
Maksud hati menyendiri di tempat sunyi
Hujan peluru dan ledakan ringan mengakhiri diri, sendiri, mati
Terbiasa membaca tulisan sang dosen sekolah tinggi dalam milis ini
Awalnya tak mampu membaca arti filosofi
apa yg terkandung dalam tulisan ini
Simpang siur hati merupakan pemborosan energi
Kecerdasan itu bukan berasal dari kumpulan pengetahuan
Sungguh arif menuangkan ilmu dalam realitas kehidupan:
pikiran akan membahayakan atau merusak diri sendiri
Saat pikiran berhenti sungguh ringan langkah kaki ini
Terima kasih Romo. Sy jd sadar,ktk sy munculkan pengkondisian dan mmunculkan si AKU, ktk sy katakan Saya harus bs naik pesawat lg, sy kasihan sm suami dan anak2..justru di situlah batin sy bising,batin terbelenggu,malh makin stres krn ada gerak halus AKU,yaitu Ego,krn sy mrs Dulu sy bisa,Mengapa skrg tidak.
Namun skrg stlh tiada keinginan,tiada keharusan,tiada pengkondisiaan,tiada si AKU, langkah kaki dlm mjalani hidup menjd ringan,tnp beban,tnp konflik. Hal2 lain yg dulu tdk dpt sy kerjakan,skrg sudah dpt sy lakukan.
Terima kasih Romo, teruslah berkarya bg kami agar smkn byk kami yg Sadar dan dpt memandang kehidupan ini Indah dan memiliki Batin yg Simple. GBU..
Aida
tidak bisa ikut misanya Romo, tapi membaca tulisan Romo jg boleh. Jadi begitu ya… ya, manusia sungguh membutuhkan keduanya untuk bertahan hidup. karena dengan apa ia sanggup menanggung semuanya. Baik, akan dicoba dipraktekkan, Romo, dan semoga berbuah manis untuk kehidupan nyata.. Terima kasih semuanya^_^
salam hangat,
angela a.
“Baik intelek maupun inteligensi kita butuhkan pada tempatnya. Intelek yang bekerja secara harmoni dengan inteligensi justru membuat intelek bekerja secara optimal dan tidak menciptakan kekacauan. Di situlah kita melihat kemungkinan intelek bekerja secara inteligen atau inteligensi mempengaruhi kerja intelek. Itu hanya mungkin kalau ada ruang keheningan batin.”
Sepenggal tulisan yang saya kutip dari atas, saya rasa ini pas dengan keadaan kondisi saya saat ini ketika diberi tanggungjawab di CUBG pusat karena hanya ini yang bisa saya lakukan selain membaca bahan-bahan materi yang telah diberikan oleh Rm. Marwan dan perlu untuk praktek kelapangan di kantor-kantor CU cabang buat saya sendiri ini masih baru. ada ketakutan dari pikiran-pikiran halus yang kadang menghambat langkah. benar, saya perlu “ada ruang keheningan batin” setiap saat. Thank untuk tulisan Romo Tuhan memberkati setiap pelayanan dan langkahmu.