Memahami imoralitas hormat-menghormati

Anda pasti pernah mengalami dihormati atau tidak dihormati. Anda juga pasti punya pengalaman menghormati atau tidak menghormati orang lain.

Betapapun setiap masyarakat memiliki moral sosial untuk saling menghormati satu dengan yang lain, di dalam moralitas ini terkandung imoralitas, di dalam tindakan saling menghormati ada rasa tidak hormat. Mari kita melihat bersama bahwa di dalam rasa hormat ada rasa tidak hormat. Ketika kita memberi hormat, di situ terkandung rasa tidak hormat.

Kepada siapa kita memberi hormat? Biasanya kita memberi hormat kepada orang-tua, orang yang lebih tua, yang kaya, yang memiliki kedudukan atau kekuasaan, yang memiliki gelar, yang memiliki kemampuan lebih dari pada Anda sendiri, dst. Tetapi mengapa orang-orang suka memberi hormat kepada orang lain yang memiliki kedudukan, tetapi berlaku sewenang-wenang pada bawahan, pada buruh, pembantu rumah-tangga, orang kecil, dst?

Siapa sesungguhnya yang kita hormati? Kalau Anda mengetahui bahwa seseorang mempunyai kedudukan di masyarakat, memiliki berbagai gelar kehormatan, bukankah Anda berlaku hormat? Kalau orang tersebut tidak lagi menyandang semua gelar itu, apakah Anda akan tetap berlaku hormat?

Ketika Anda bertemu dengan seseorang dan Anda membungkuk-bungkuk memberi hormat, siapa sesungguhnya yang Anda hormati? Ketika Anda bertemu dengannya dan mengetahui dia tidak memiliki kedudukan atau gelar apapun, dan Anda tidak memberi hormat, siapa sesungguhnya yang tidak Anda hormati?

Bukankah kita seringkali menghormati orang lain bukan karena pribadinya tetapi karena gelar, kedudukan atau berbagai atribut yang disandangnya? Jadi siapakah sesungguhnya yang kita hormati, pribadinya atau gelarnya? Ataukah Anda menganggap bahwa harga diri seseorang ditentukan oleh gelar atau atribut yang disandangnya, sehingga tidak ada pribadi yang bisa dihargai kalau dipisahkan dari semua atribut yang disandangnya?

Kita haus gelar, nama baik, ketenaran, kedudukan, jabatan, kekayaan, dst. Kita suka memberi hormat dan memuja orang lain yang memiliki apa yang tidak kita miliki. Siapakah sesunggunya yang kita hormati dan kita puja? Bukankah kita menghormati dan memuja keinginan kita sendiri, ambisi kita, impian kita, dst? Lalu kita sendiri juga ingin dihormati dan dipuja karena gelar atau atribut yang kita sandang? Bukankah arogansi atau kesombongan terbentuk karena kita lebih mementingkan gelar atau atribut daripada kualitas kepribadian kita yang tidak berhubungan sama sekali dengan gelar-gelar itu? Dengan menghormati gelarnya lebih daripada kepribadiaannya, bukankah dalam tindakan menghormati itu sesungguhnya ada rasa tidak hormat terhadap pribadi yang kita hormati? Dengan demikian bukankah kita juga tidak menghormati diri sendiri?

Gelar atau atribut seseorang sering kali dipakai untuk mengeksploitasi orang lain dan orang lain yang gemar memuja gelar mudah dibohongi atau dieksploitasi. Relasi ekspoitatif dalam menggunakan gelar atau kedudukan bukan pada tempatnya ini bisa diputus kalau orang bebas dari rasa takut. Kita menghormati mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan bukan karena jabatannya tetapi karena kita hormat pada pribadinya. Kita menghormati orang yang lebih tua pertama-tama bukan karena mereka lebih tua, tapi karena pribadinya.

Mengapa kita menghormati orang lain? Apakah kita memberi hormat karena tuntutan moral social, karena kita juga ingin dihargai orang lain, takut tidak dihargai orang lain. Bukankah dalam rasa hormat ada rasa takut, takut mendapat sangsi social, takut tidak mendapatkan apa yang inginkan, takut tidak dihargai,takut kedudukan kita terancam?

Moral masyarakat bukan hanya mendorong kita untuk menghargai orang yang masih hidup, tetapi juga orang-orang yang sudah meninggal. Ada berbagai tradisi penghormatan kepada orang lain yang sudah meninggal di kalangan masyarakat tertentu. Salah satunya adalah dengan merawat jenazah orang tua dengan cara yang terbaik sesuai kemampuan keluarga. Misalnya, peti sebisa mungkin dicarikan yang terbaik. Kalau sudah menemukan pilihan yang dirasa cocok, langsung dibayar. Tidak boleh ada tawar-menawar, karena dengan tawar menawar Anda dipandang tidak menghormati pribadi orang yang meninggal. Begitu pula untuk semua keperluan yang lain. Semua disediakan yang terbaik. Kalaupun selama hidupnya orang yang baru meninggal hidup terlunta-lunta, tidak mendapat perhatian semestinya dari anak-anak, pada saat meninggal anak-anak akan berlomba-lomba memberikan yang terbaik baginya. Bagi mereka, itu merupakan perwujudan dari rasa hormat anak-anak terhadap orang tua.

Betulkah dalam kasus tersebut, anak-anak menghormati orang-tua mereka? Bukankah mereka menghormati orang-tua mereka yang meninggal karena takut. Kalau tidak memberikan apa yang terbaik, mereka akan mendapat celaka atau rejekinya tidak lancar. Kalau bisa memberikan apa yang terbaik, mereka berharap akan mendapat berkah daripadanya. Begitulah kepercayaan yang mereka miliki turun-temurun. Bagaimana mungkin ada rasa hormat yang benar kalau ada rasa takut?

Kita melihat bersama-sama bahwa dalam rasa hormat ada rasa tidak hormat selama batin tidak bebas dari rasa takut. Adakah rasa hormat yang benar yang bukan lawan dari rasa tidak hormat? Rasa hormat yang sesungguhnya hanya terlahir kalau tindakan kita tidak berpusat pada diri dan karenanya tidak ada rasa takut. Pribadi yang demikian adalah pribadi yang rendah hati. Betapapun orang memiliki begitu banyak gelar atau jabatan, sukses atau berprestasi dalam banyak hal, semua itu masa sekali tidak menambah apapun pada kualitas batin seseorang. Kerendahan hati tidak diukur oleh kemampuan kita menghormati atau tidak menghormati, tetapi kemampuan menegasi keduanya, menegasi semua tindakan yang bersumber pada diri, menegasi semua moralitas yang kita lihat sesungguhnya tidak bermoral.*

2 Responses to “Memahami imoralitas hormat-menghormati”

  1. Terima kasih mo menuliskan soal hormat.
    Saya jadi pikir pikir, kepada siapa ya saya menghormat?

    Kepada Tuhan, saya mengasihi dan berpasrah diri. Kalo saya menghormat, koq kadang saya berdoa sambil tengkurep? Kan kalo saya tengkurep pantat saya hadap atas to…. tapi kan pertanyaannya memangnya Tuhan adanya di atas? heheheheh…. itu sih hormatnya anak kecil to….
    Kepada direktur, saya wajar saja dan mengerjakan kewajiban saya sebagai pegawai.
    Kepada suami, saya mencintai.
    Kepada orang tua, saya mengasihi.
    Kepada tetangga dan rekan sejawat, saya berkomunikasi dengan baik.
    Kepada romo apa ya saya hormat wong ya biasanya paling saya tersenyum dan,”Hallo mo!”

    Lalu siapa yang menghormati saya? Saya tidak tau dan rasanya sih tidak ada ya….

    Anak anak, rasanya mereka menyayangi saya. Rasanya mereka tidak takut dan tidak hormat kepada saya wong mereka bebas mencubit pipi saya, menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan saya dan menggelitik saya saat mereka kangen biarpun saya sedang tidur dan tau saya bakalan ngamuk, tapi toh mereka bebas bilang,”I love you, ibu, bobo’ lagi ya!” sambil ketawa.
    Suami, rasanya dia juga tidak hormat kepada saya wong dia bebas ngentuti saya.
    Rekan sejawat, direktur, tetangga, apakah mereka hormat kepada saya? rasanya sih biasa biasa aja. Gak usah GR d loe rin!

    Apakah satpam di kantor menghormat kepada saya ketika dia mengangguk dan berucap,”Selamat pagi ibu.”? Rasanya tidak. Dia sedang mengerjakan SOP pekerjaannya. Atau karena relasi kemanusiaan, dia senang mengucap salam kepadaku.
    Apakah saya sedang menghormati sesorang bila saya tersenyum dan berucap,”Selamat pagi pak”? Ah, itu kan karena dia manusia dan saya senang bertemu dia, saya senang tersenyum kepada siapa pun yang saya temui.

    Saya belum pernah mencium cincin Uskup sebagai tanda hormat. Dengan beberapa Uskup yang bersahabat, kami lebih pilih saling mencium pipi tanda saling menyayangi. Dengan Uskup yang tidak begitu kenal ya memberi salam saja, seperti halnya kepada manusia lainnya. Kata orang sih saya rugi karena mencium cincin Uskup katanya bisa beroleh banyak berkat. Rugi yo rapopo lah, setauku sih sing rugi itu kucing… hehehhee….

    Apakah itu artinya saya tinggi hati hingga bakalan dapat tempat duduk di belakang kelak bila perjamuan makan itu tiba? Mungkin. Rasanya saya sih duduk dimana saja yang ditentukan Tuan Rumah asal masih boleh ikut pesta perjamuan ya senang senang saja. Itu sudah untung! Pada suatu pertemuan Lectio Divina di kantor, entah bagaimana saya tersentuh pada ayat,”…Tapi kamu sendiri dicampakkan keluar.” Bayangkan semua orang dari barat, timur, utara selatan akan hadir dalam pesta itu dan si rini SENDIRI dicampakkan keluar! Kaciaaannn d loe rin! Miris banget to…. Maka, rasanya koq gak penting duduknya sebelah mana, ngempor juga gpp, asal bisa tidak dicampakkan saja sudah matur nuwun.

    Salam berkah Dalem, rin

  2. Dear Rm Sudri,

    Waktu kemarin dulu membaca tulisan Romo,saya sempat berpikir wualaah kenapa dipersoalkan ya, karena sejauh ini yang saya rasakan rasa hormat itu akan keluar dengan sendirinya dari dalam hati terhadap seseorang entah itu atasan kita, keluarga,supir ataupun pembantu kita.Rasa hormat akan terekspresikan secara spontan bila kita bisa menghargai sekecil apapun mereka dan mereka juga akan menghormati kita. Prosesnya dua arah, tetapi memang membutuhkan semangat rendah hati karena orang banyak kecenderungan untuk menghormati orang lain karena dia atasan, pejabat atau orang kaya, orang sukses namun sulit untuk menghormati bawahan, pembantu , supir dsb padahal semuanya layak untuk dihormati sepanjang mereka memang pantas dihormati.
    Menghormati erat kaitannya dengan menghargai/memberi app
    resiasi serta menyegani pihak lain.Manifestasi dari rasa hormat bisa dengan berbagai cara , dengan mencintai, mengasihi, tersenyum, menyapa , menyayangi dll. Sebaliknya immoralitas hormat menghormati akan terekspresikan dalam rasa marah, kesal, cercaan dan lain-lain.
    Satu hal saya sangat setuju bahwa menghormati seseorang bukan dilihat dari gelar ataupun embel-embel yang dimiliki seseorang melainkan dari pribadi orang itu sendiri yang layak dihormati.
    Thanks untuk tulisannya

    @Mbak Rini, wah membaca comment mbak Rini yang bebas lepas dan yah seperti itulah mengenai masalah hormat menghormati…”thats the real thing in life” how we could express to people around us.

    Salam “hormat” buat Rm Sudri and mbak Rini =)
    mary

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>