Memahami Proses Penegasan Rohani
Kebanyakan orang menjalani kehidupan sebagai rangkaian keputusan dan keputusan merupakan hasil dari pilihan. Hanya saja kebanyakan orang membuat keputusan dalam kebingungan sehingga tindakan yang diambil menciptakan lebih banyak kebingungan. Mekanisme batin seperti ini tidak bebas dari konflik dan pergulatan terus-menerus.
Untuk menemukan kebebasan yang di dalamnya tidak ada konflik dan pergulatan dan dari sana kita bertindak benar, kita perlu memahami proses-proses munculnya kebingungan, pilihan-pilihan, keputusan dan kejernihan melihat. Kejernihan melihat itu sendiri adalah kata lain dari penegasan (discernment).
Penegasan ini bisa dilakukan secara pribadi (personal discernment) maupun secara bersama (communal discernment). Buah penegasan pribadi maupun bersama yang dilaksanakan dengan komitment menghasilkan tindakan yang lebih berdaya kekuatan sehingga tidak mudah digoyahkan oleh rintangan.
Penegasan pribadi
Banyak orang mengalami kebingungan dan tidak menyadarinya. Kalaupun mengetahuinya, kebanyakan tidak sungguh menyadari dan memahaminya. Biasanya kebingungan muncul karena orang tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu pilihan: melanjutkan pertemanan atau memutusnya, menikah atau tidak menikah, bercerai atau bertahan, menolak atau menerima tawaran, melawan atau tunduk pada paksaan, bertahan atau menyerah pada tantangan, dst. Semua pilihan itu muncul dalam tegangan dualitas: suka dan tidak-suka, cocok dan tidak-cocok, bermanfaat dan tidak-bermanfaat, perlu dan tidak-perlu, penting dan tidak-penting, mendesak dan tidak-mendesak, bernilai dan tidak-bernilai, buruk dan baik, kurang dan lebih, dst.
Dalam kebingungan itu orang mencari dogma kebenaran, teori, metode, specialist, guru, sahabat, termasuk Tuhan. Dalam kebingungan orang bertanya “Apa yang harus aku lakukan. Apa kehendak Tuhan bagiku?”. Apakah batin yang bingung bisa menemukan kehendak Tuhan? Ataukah sebaliknya, batin yang bebas dari kebingungan mungkin bisa menemukan kehendak Tuhan? Kebingungan itu sendiri pertama-tama harus dipahami dan diselesaikan. Kalau batin bebas, barulah batin mengenal kehendak Tuhan.
Banyak perkara yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengacu pada pedoman-pedoman moral, ajaran-ajaran agama, aturan baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, tetapi memerlukan disernment yang benar. Setiap kali kita menghadapi masalah dan mencari pedoman-pedoman moral, ajaran-ajaran agama, aturan boleh dan tidak boleh, dan hanya berhenti di situ, lalu memakai pedoman-pedoman itu untuk membuat keputusan tanpa discernment yang benar, maka kita masih terus hidup dalam kebingungan. Barangkali kita tidak menyadarinya, tetapi pada lapisan batin yang lebih dalam kita bingung.
Tidak ada pedoman, metode atau orang lain termasuk Tuhan-tuhan yang mampu mengeluarkan kita dari kebingungan. Konsultasi bukannya tidak penting. Konsultasi justru harus dilakukan kalau kita merasa tidak menguasai perkaranya. Kita membutuhkan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk memperkaya pemahaman secara intelektuil. Namun konsultasi hanya berguna sekedar sebagai masukan. Begitu pula dengan pedoman-pedoman moral atau agama. Selebihnya kita sendirilah yang harus memahami perkaranya secara langsung dan dengan memahaminya kita keluar secara alamiah dari penjara kebingungan.
Untuk memahami perkaranya, orang biasanya membuat analisa sebelum mengambil keputusan. Misalnya, Anda mendapat tawaran pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan. Akan tetapi Anda dituntut untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hukum dan suara hati Anda. Anda tahu bahwa Anda sedang sungguh-sungguh membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Lalu Anda berefleksi untuk menemukan factor-faktor pro dan contra kalau Anda menerima atau menolak tawaran tersebut. Setelah itu Anda mengambil keputusan.
Proses pemilihan dan pengambilan keputusan seperti itu seringkali masih menyisakan kebingungan. Kalau Anda menganggap kebutuhan hidup lebih penting daripada tuntutan suara hati, maka Anda barangkali akan cepat-cepat mengambil tawaran itu meskipun ketakutan mendera batin Anda. Kalau Anda menganggap suara hati lebih utama daripada kebutuhan hidup keluarga, maka Anda akan menolaknya meskipun mungkin Anda kecewa dan marah dengan situasi Anda. Kalau Anda menganggap baik kebutuhan hidup maupun tuntutan suara hati sama-sama penting, Anda takut melanggar suara hati sekaligus takut tidak bisa makan, barangkali Anda ingin berkompromi dengan situasi yang ada.
Orang bisa saja memutuskan untuk menerima atau menolak atau berkompromi. Tetapi selama didera oleh beban-beban psikologis seperti ketakutan, dikobarkan oleh api keinginan, dipenjara oleh kelekatan, diperbudak oleh dogma kebenaran, maka tidak ada kebebasan batin dan batin tidak mampu melihat dengan jernih perkaranya. Keputusan apapun yang diambil oleh batin yang tidak bebas justru menambah kebingungan.
Apa yang Anda lakukan ketika haus? Saat Anda merasa kehausan, Anda mencari sesuatu untuk diminum, bukan? Kalau tersedia sebotol air putih dan sebotol bir, mana yang akan Anda pilih? Bukankah Anda akan mengambil sesuai dengan selera Anda saat itu. Bukankah tidak perlu proses pemilihan dan pengambilan keputusan? Selera Andalah yang menentukan. Tetapi ketika Anda mengingini sesuatu dan pikiran Anda mengatakan tidak boleh, maka muncul ketegangan. Lalu mulailah proses mental untuk memilih dan memutuskan. Kalau Anda mengambil sebotol bir semata-mata karena tidak bisa melepaskan diri dari kelekatan terhadapnya padahal pikiran mengatakan tidak boleh, maka keputusan Anda bersumber dari ketidakbebasan batin dan Anda akan didera kebingungan.
Kita lihat bukankah kebingungan pertama-tama muncul dari ketidakmampuan melihat fakta sebagai “apa adanya”? Distorsi dalam melihat fakta berasal dari keinginan-keinginan psikologis, ketakutan-ketakutan, kelekatan-kelekatan batin. Lalu batin yang adalah semua itu menciptakan pilihan psikologis dan membuat keputusan di antara pilihan-pilihan itu. Jadi kita melihat kebingungan menciptakan pilihan, pilihan membuat keputusan, dan tindakan mengikuti keputusan yang menciptakan kebingungan yang lain. Bukankah Anda melihat bahwa tindakan di sini tidak lain merupakan reaksi dari kebingungan dan menciptakan lebih banyak kebingungan? Apakah Anda melihatnya?
Sampai di sini kita menemukan bahwa kebingungan bukan hanya berkait dengan perkara bagaimana bertindak, bagaimana memutuskan di antara pilihan-pilihan, melainkan pertama-tama adalah perkara melihat. Bisakah melihat fakta dengan jernih, termasuk fakta kebingungan itu sendiri? Apa yang terjadi ketika batin melihat tanpa distorsi? Bukankah melihat apa adanya seluruh gerak kebingungan itu mengakhiri dengan sendirinya kebingungan itu sendiri?
Kalau faktanya kita lihat secara jernih, maka langsung muncul tindakan benar. Melihat dengan jernih adalah bertindak seketika. Tidak perlu ada pilihan dan keputusan. Kalaupun ada, maka keputusan yang diambil tidak bersumber dari kelekatan. Keputusan dari kebebasan batin muncul seketika dari ketajaman melihat. Itulah penegasan (discernment) yang benar. Penegasan ini membuat jelas tindakan apa yang benar dan dengan demikian membantu menemukan kehendak Allah.
Anda bisa menilik suasana batin Anda untuk mengetahui apakah penegasan Anda sudah benar. Penegasan yang benar diteguhkan oleh rasa damai atau ketenangan yang mendalam. Jiwa dibebaskan dari kebingungan. Ada kepastian yang bukan hasil rekayasa pikiran atau kesimpulan. Kalau masih ada keragu-raguan, maka Anda belum sampai pada penegasan yang benar.
Masukan-masukan konsultatif, pertimbangan-pertimbangan pro dan kontra, analisa atas perkaranya tidak cukup untuk sampai pada penegasan yang benar. Penegasan yang benar bukan hanya membutuhkan data atau informasi yang memadai tentang perkaranya, tetapi terlebih mensyaratkan kualitas kebebasan batin sehingga tidak ada keputusan apapun yang diambil dari rasa kelekatan. Sarana seperti keheningan doa atau keheningan meditative akan sangat menolong untuk menjernihkan disposisi batin kita.
Penegasan bersama
Kita bisa mempraktekkan penegasan bersama (communal discernment) di keluarga atau komunitas tempat kita tinggal atau bekerja. Penegasan bersama adalah sebuah proses yang dilaksanakan secara bersama oleh suatu keluarga atau komunitas untuk mengetahui tindakan benar apa yang harus dilaksanakan oleh keluarga atau komunitas tersebut. Penegasan bersama ini disebut dengan deliberasi.
Pertama-tama, untuk melaksanakan penegasan bersama rumusan perkaranya (status questionis) harus jelas. Sebagai contoh, apakah bukan sudah saatnya untuk menolong anggota keluarga atau anggota komunitas yang sedang terpuruk secara ekonomi dan dengan cara apa yang memberdayakan.
Para anggota yang terlibat dalam deliberasi perlu lebih dulu mengalami penegasan pribadi atas perkaranya. Prasyarat penegasan pribadi juga berlaku dalam deliberasi. Lalu mereka saling mengkomunikasikan kepada sesame anggota yang lain pengalamannya sebagai respons atas status perkaranya. Di sini dituntut kepercayaan dan kesatuan mendalam di antara para anggota. Juga dituntut adanya komitment bersama untuk melaksanakan apa yang ditemukan dalam deliberasi apapun bayarannya. Sikap terbuka dan rela berkorban seperti ini merupakan prasyarat awal penegasan bersama.
Pertemuan anggota diadakan dalam suasana doa atau suasana meditative. Masing-masing anggota mengungkapkan dari buah penegasan pribadinya alasan-alasan yang dilihatnya melawan opsi yang diusulkan. Alasan-alasan ini dicatat dan akan dilihat kembali bersama-sama pada tahap berikutnya. Sharing para anggota ini tidak boleh diperdebatkan atau didiskusikan. Juga tidak boleh ada upaya untuk mempengaruhi yang lain. Peserta diperbolehkan mengajukan klarifikasi, tetapi bukan objeksi. Setelah semua selesai membagikan sharingnya, pertemuan ditutup dan masing-masing anggota mengolah kembali apa yang didengar dan ditemukan selama deliberasi.
Dalam pengolahan pribadi, setiap anggota menimbang-nimbang hal-hal yang ditemukan dalam keheningan doa. Setiap pribadi diberi kesempatan untuk menyelami gerak-gerik batin, menyadari ketidakbebasan menyangkut hal-hal yang dibahas, menyadari ketidakterbukaan dalam mendengarkan sesame, mencermati ketakutan-ketakutan dan keinginan-keinginannya; juga menyadari apa yang membuatnya lebih berkobar-kobar, memberinya ketenangan dan rasa damai. Bila mengalami hal-hal tersebut di atas, anggota tersebut wajib mengatakannya kepada komunitas dan anggota komunitas yang lain mendengarkannya dengan cermat tanpa menilai atau mengadili.
Pada tahap berikutnya, para anggota mengungkapkan alasan-alasan yang mendukung opsi yang diusulkan. Alasan-alasan ini dicatat untuk kemudian diselami. Tidak ada debat, tidak ada diskusi, dan tidak ada upaya untuk saling mempengaruhi. Diberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan klarifikasi sejauh dibutuhkan, tetapi bukan objeksi. Setelah selesai, masing-masing anggota kembali menyelami apa yang didengarnya dan mencoba menangkap gerak-gerik batin dalam keheningan doa.
Langkah terakhir adalah menimbang dan menyelami bersama bobot alasan-alasan pro dan contra yang telah dicatat. Juga mendengarkan tanggapan-tanggapan terhadap perkaranya. Tanggapan-tanggapan ini bukan mengenai pelaku-pelaku yang terkait, tetapi langsung pada perkaranya. Klarifikasi dimungkinkan sejauh dibutuhkan.
Selanjutnya dalam terang data dan informasi tentang opsi-opsi yang diusulkan, bersama-sama membuat keputusan. Kalau setiap anggota memiliki kualitas kebebasan batin dan langkah-langkah deliberasi diikuti dengan benar, maka keputusan akan jelas dengan sendirinya dan peneguhan akan dialami bersama berupa rasa damai yang mendalam. Proses deliberasi lalu bisa ditutup dengan doa syukur dan komitment untuk melaksanakannya dengan bayaran apapun.*







Dear Rm Sudri,
Many thanks untuk sharingnya. Faktanya sering kita mengambil keputusan berdasarkan sitkon saat tertentu sehingga dalam perjalanan waktu sering keputusan itu menimbulkan konflik dan pergulatan yang berakibat kebingungan.
Namun hal yang penting perlu ditambahkan adalah keputusan yang merupakan masa lalu tersebut yang berakibat kebingungan mesti bisa diatasi sehingga tidak berlarut-larut dan kebingungan tidak berkelanjutan, yah….letakkan semuanya itu sehingga tidak memberatkan batin kita dan dalam keheningan doa kita melihat gerak batin kita dan bisa mengambil tindakan dalam batin yang terbebas.
Memang bukan hal yang mudah namun sharing diatas bisa membuat kita lebih mudah melaksanakannya dalam menjalani kehidupan ini.
Sudrijanta wrote:
“Kalau faktanya kita lihat secara jernih, maka langsung muncul tindakan benar. Melihat dengan jernih adalah bertindak seketika. Tidak perlu ada pilihan dan keputusan. Kalaupun ada, maka keputusan yang diambil tidak bersumber dari kelekatan. Keputusan dari kebebasan batin muncul seketika dari ketajaman melihat. Itulah penegasan (discernment) yang benar.”
Gho wrote:
“setuju bngt romo”
Maria wrote:
“Bertindak dengan seketika tidak lah selalu dapat melihat dengan jernih … Kalo kepleset bisa jadi emosi jiwa yang keliatan , pa lagi kalo gak cuneng..”
Anggoro wrote:
“lalu dimana peran serta Allah dalam pengetahuan Romo? Jika, keputusan dari kebebasan batin yang muncul seketika dari ketajaman melihat, adalah penegasan (discernment) yang benar, maka kita ‘dikutuk untuk menjadi bebas’, sebebas-bebasnya kepada ekstensi manusia tak berbatas. Kita jangan2 menjadi penganut eksistensialisme murni, sebagaimana dikemukakan oleh Sartre, filsuf eksistensialis Prancis ateis yg mengembalikan hadiah Nobel yg diraihnya itu. Apakah demikian?”
Gerardus wrote:
“Setuju Romo…Kebersihan Hati….
Hudoyo wrote:
“@Maria: <>
Kalimat Romo Sudri jangan diputar-balik. Ini yg beliau katakan:
“Kalau faktanya kita lihat secara jernih, maka langsung muncul tindakan benar. Melihat dengan jernih adalah bertindak seketika.”
KAUSA: ‘melihat secara jernih’
EFEK: ‘tindakan seketika’.
Bukan terbalik.”
Hudoyo wrote:
“@Anggoro: <>
Tidak. Sartre baru ’setengah jalan’. Dia mengumumkan kebebasan si aku/diri/self. Kebebasan seperti itu –selama masih ada aku/diri/self– selalu membawa ketakutan (angst). Itu bukan kebebasan sejati.
Yang hendak dikemukakan oleh Romo Sudri jauh lebih dalam dari itu: yaitu ketika aku/diri/self mati. Di situ terdapat kebebasan sejati.
<>
Ketika diri mati, maka ‘Allah pikiran’ (Trinitas) pun lenyap. Yang tinggal adalah Yang Tak Dikenal (The Unknown). Sementara mistikus menamakannya ‘Godhead’, yg mendasari Trinitas.
Kebebasan sejati, kebebasan dari si aku/diri/self ini baru muncul di dalam Doa Hening [Prayer of Silence dari para rahib Karmelit], ketika pikiran & si aku berakhir, dan “Yang Tak Dikenal” muncul.
***
“Sekarang aku sudah [mati] disalibkan bersama Kristus; bukan aku lagi, melainkan Kristus yg hidup di dalam ini.” [Galatia 2:19-20]
Adela wrote:
“”Melihat dengan jernih adalah bertindak seketika. Tidak perlu ada pilihan dan keputusan”. Terdengar seperti intuisi, gak ya? Tapi “melihat dengan jernih” terasa seperti kesadaran tingkat tinggi. Kalau ada teman2 yang bisa share, please? Apa ada hubungannya antara intuisi dan kesadaran tingkat tinggi? Atau malah saya yg sudah tersesat jauh?”
Adihendro wrote:
“Apabila premis mayor “melihat fakta secara jernih” menjadi causa prima, maka harus dicermati terlebih dahulu apa itu fakta? Bisakah fakta berdiri sendiri tanpa persepsi dari yang melihat fakta? Apakah kita sesungguhnya bisa melihat fakta yang obyektif? Masih ada masalah soal “jernih”. Parameter jernih itu apa? Bukankah pernilaian jernih sedikit-banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai dari si penilai?
Yang ingin saya katakan, melihat fakta secara jernih perlu waktu dan keheningan budi.”
Aay wrote:
“@adihendro.. Melihat dengan jernih tidak memerlukan parameter apapun. Karena semua persepsi pikiran selama terus menerus bergerak (berpikir, menganalisa, mengkonsep) inilah sampah2 yg menghalangi “kerjernihan” dari melihat.
Melihat dengan “jernih” semudah anda melihat pohon, Tanpa perlu menamai “itu pohon”, tanpa perlu menganalisa pohon tsb, mengklasifikasikan pohon tsb. Tapi.. HANYA melihat saja secara sadar/aware!!
Salam,
Daniel wrote:
“<>
Bila bisa melihat, senyatanya tidak ada parameter. Tidak ada aku. Maka, bukan subyektif, bukan pula obyektif. Hanya keniscayaan yg bergulir. As it is.”
Daniel wrote:
“Pengelihatan saya :
Ada orang yg berada di surga nan suci dalam sebuah perjamuan, berkata : “Tidak perlu bersih, makan saja langsung”.
Orang2 di bumi yg berkubang lumpur menjawab dengan bingung, “Bagaimana mungkinnnn? Kan harus mandi, gosok gigi dan cuci tangan dulu??!”
Yg lain menegur, “Dimanakah peran Air dalam pengetahuan anda? Sepertinya anda telah meninggalkan Air !”"
Hudoyo wrote:
“Nah, Rekan Aaytanu & Daniel adalah praktisi meditasi vipassana.
Terlihat dalam diskusi ini terjadi kristalisasi antara dua kubu: (1) kubu pemikir/filsuf vs (2) kubu meditator, yg melahirkan wacana mistikal. ”
Hudoyo wrote:
“@Adihendro: <>
Anda bisa melihat itu sebagai ‘premis major’ dalam suatu silogisme logikal; tetapi orang bisa menghayati “melihat fakta secara jernih” itu sebagai ‘pengalaman faktual’ pada saat kini di dalam keheningan yg cerah.
<>
‘Fakta’ adalah segala sesuatu yg masuk ke dalam kesadaran melalui pancaindra, atau muncul dari bawah sadar sebagai ‘memori’. ‘Fakta’ seperti ini, yg belum dicampuri oleh pikiran (thinking) dan si aku (self), disebut ‘persepsi murni’.
<>
Seorang meditator berbeda dengan seorang filsuf. Ia tidak berkepentingan dengan apa yg ada di luar sana, melainkan dengan apa yg disadarinya, dan dengan bagaimana diri/self-nya bereaksi terhadap apa yg disadarinya. Mengapa? Karena reaksi pikiran, reaksi diri, itulah sumber konflik & penderitaan di dalam batinnya.
<>
Segala sesuatu yg dipersepsikan oleh batin, begitu dicampuri oleh pikiran/aku yg terkondisi ini, tidak pernah menjadi ‘objektif’ lagi.
Justru ‘keobjektifan’ itu yg dimaksud oleh Romo SUdri, dengan “melihat secara jernih”. Artinya tanpa dicampuri oleh pikiran & si aku dari masa lampau. Saya menyebutnya ‘melihat apa adanya’ (seeing what is). Itulah yg membebaskan dari konflik & penderitaan.
<>
“Melihat jernih” itu suatu pengertian utuh. Tidak ada tingkatan-tingkatan jernih. “Parameter”-nya apa? Mudah saja: orang hanya bisa “melihat jernih” ketika pikiran & egonya diam.
<>
Dalam pengalaman mistikal, ‘melihat jernih’ itu biasanya terjadi secara MENDADAK. Secara mendadak, pikiran & ego ini berhenti, dan secara mendadak orang masuk ke dalam keheningan yg cerah.
“Waktu” yg Anda sebut-sebut itu biasanya dihabiskan orang untuk berkutat dengan pikiran monyet ini. Padahal kalau sudah tiba waktunya, maka si monhyet ini akan berhenti dengan sendirinya, dan muncullah ‘penglihatan jernih’.
Salah satu kendala yg paling sering dihadapi oleh orang yg mulai bermeditasi adalah berkelahi melawan pikiran monyet ini. Itu mustahil menghasilkan diamnya si monyet. Sampai akhirnya orang menyerah, dan si monyet akan berhenti dengan sendirinya, dan mendadak orang masuk ke dalam keheningan yg cerah.”
Tanpa wrote:
“@Daniel: Yap!”
Lucia wrote:
) itulah perlunya awareness, menyadari bahwa anda tdk cuneng membuat anda melihat dg jernih bahwa anda hampir terpeleset.”
“@Anggoro: [maka kita 'dikutuk untuk menjadi bebas'] siapa yg mengutuk kita utk menjadi bebas ?
@Maria: Kalau anda melihat dengan jernih tentu anda tdk akan terpeleset ..
Aay wrote:
“Hai anak.. Aku berkata kepadamu. Bangunlah!! [Markus 5:41]”
Grace wrote:
“<>
<>
Pak Aay, Pak Daniel…berusaha bagaimana berat pun, saya susah memahami ini…saya bisa pura” memahaminya mungkin, tp saya memilih untuk tidaklah..saya bisa mengeluarkan banyak argumen untuk mempertanyakannya mungkin, tapi saya memilih untuk tidaklah…
Mungkin memang harus mengerti dengan menggunakan pendekatan lain…
<>
<>
Saya pikir tidak akan sama pada setiap orang,.. maksudnya melihat saja secara sadar, pada satu orang akan berbeda dengan orang yang lainnya…(apa yang dilihatnya secara sadar)
Ato lebih to the pointnya begini aj..
<>
Tindakan benar yang mungkin muncul dari orang” yang bisa melihat secara jernih,….saya koq yakin juga akan berbeda. Ini menunjukkan memang ada parameter masing” dalam melihat secara jernih bukan??
Jadi kecenderungan saya untuk memahami apa yang dikatakan Ko Aay, Ko Daniel ato mungkin Romo Sudrijanta… bahwa mungkin aj kita bisa melihat segala hal apa adanya (keniscayaan yang bergulir), tapi ngak mungkin bisa langsung muncul tindakan benar dari it…(saya pribadi malah menilai menghambat saya melakukan tindakan benar karenanya…karena ada satu tahapan yang sebenarnya ngak perlu, hanya seperti basa basi untuk menentramkan pikiran kita seolah” ingin lebih bijaksana….maaf ini bg saya pribadi)
Saya lebih cenderung masing masing harus memilih parameternya sendiri untuk dapat melihat secara jernih supaya bisa melakukan tindakan benar..
Dengan kata lain, tindakan benar adalah tindakan benar… mau anda lakukan secara langsung/refleks seperti yg bisa diklaim, ato mau dilakukan setelah melalui pemikiran, penganalisaan ato pengkonsepan… SAMA AJA.
dan yang terpenting memang it, bukan prosesnya.
Salam”
Juliana wrote:
“@Pak Hudoyo: berarti saat kita melihat suatu kejadian, kita memerlukan waktu utk membiarkan pikiran monyet diam dulu, br kita bisa melihat dgn jernih, dan barulah kita bertindak. Bukankah begitu, Pak?”
Daniel wrote:
“@Grace : <>
Kamu terlalu banyak pikir, dan terjebak dalam kesadaran-pikiran.
Selain itu, tiada yg perlu saya tambahkan.”
Grace wrote:
“Alo cece Juli…
Ajari ak ya… Kalo mendapatkan ‘pencerahan’..”
Juliana wrote:
“@Grace : belum Grace, msh belajar jg ne….”
Grace wrote:
”
“Iya Ce, belajar sama” ya…tp yakin cece bs lbh cepat memahami dr ak..
Grace wrote:
“Pak Daniel, iya…terima kasih.
Sejujurnya, saya juga pikir Pak Daniel, Pak Aay terjebak dalam ‘kekosongan pikiran’….mohon jangan tersinggung dengan kalimat saya ini…cuma dalam hal ini aj, saya agak bingung….Di luar it banyak tulisan tulisan Pak Daniel yang saya tau sangat berbobot dan benar.
Salam Pak Daniel.”
Daniel wrote:
“@Grace : <>
Nahhh,….mikir lagi kan?
”
Ya memang begitulah kalau disimpulkan dengan pikiran.
Grace wrote:
. Benerne uda berusaha ngak..terutama 1,2 mg terakhir ini, brusaha cb memahami tp gagal.
“@Pak Daniel…. Hhhh, iya benar
Pak Daniel, tanya ya…
Mengapa komen Ko Aay yang mengatakan ‘berpikir, menganalisa, mengkonsep adalah sampah yg menghalangi melihat secara jernih’ tidak dikategorikan sebagai produk pikiran, sedangkan komenku iya. Saya ngak bs melihat bedanya….Mohon dijelaskan ya Pak. Thx”
Juliana wrote:
“@Grace: mgkn bkn kekosongan pikiran, tapi tidak melibatkan pikiran, Grace. Misalkan kalo kita menjumpai seseorang yg dulunya sombong, sering menghina dan menyakiti kita, sdg mengais tong sampah mencari mknan krn lapar. Mk, kalo kt bs melihat dgn jernih, kita hy melihat seseorang yg kelaparan dan butuh makanan, tanpa embel2 org itu sombong dan pernah menyakiti kt. Kalo bisa melihat jernih, kt akan melakukan tindakan bnr, kalo dilibatkan pikiran, mk biasanya kt akan berlalu aja dan mgkn berkata “silahkan menikmati karma sombongmu.”
Juliana wrote:
“@Grace : ato sebaliknya bila ada seseorg yg dulunya pernah menolong kita dan sgt baik pd kita, meminta kita berbuat sesuatu yg melanggar hukum demi dia. Kalo mlht dgn jernih, kt hy melihat seseorg yg meminta kita melanggar hkm, tanpa embel2 org tuh pernah berjasa pd kita. Dgn demikian kita jg bisa bertindak dgn benar. Kalo melibatkan pikiran dan perasaan, pd akhirnya tindakan kita malah akan membuat hidup kita kacau balau. Mdh2an pemahaman sy benar.
Ecosoc wrote:
“Dalam kejernihan, akan terlihat mana realitas dan mana non-realitas. Kejernihan hanya ada ketika terhubung dengan diri sejati, diri yg tidak terpolusi oleh ilusi???”
Daniel wrote:
“@Ecosoc : Ya. Ilusi itu selalu datangnya dari pikiran.
Contoh : dimalam hari anda berjalan melalui suatu hutan yg gelap. Tiba2 terlihat sebuah benda menjulur seperti ular. Pikiran anda mengatakan , “Oh, ular”, selanjutnya muncul ingatan2 dan persepsi tentang ular, dan anda menjadi merasa takut.
Bila diberi cahaya terang, anda bisa melihat bhw ternyata itu hanya seutas tambang, maka hilang rasa takutnya. ”
Daniel wrote:
“@Grace : <
Mengapa komen Ko Aay yang mengatakan 'berpikir, menganalisa, mengkonsep adalah sampah y...g menghalangi melihat secara jernih' tidak dikategorikan sebagai produk pikiran, sedangkan komenku iya. Saya ngak bs melihat bedanya....Mohon dijelaskan ya Pak. Thx>>
Mengapa pikiran kamu selalu membanding-bandingkan?
Dengan cara itu, maka muncul rasa tidak terima. Pikiran anda membutuhkan penjelasan. Apakah anda benar2 membutuhkan penjelasan?”
Adihendro wrote:
“@ all: Pencerahan seorang meditator dan pencerahan seorang filsuf apakah berbeda? Lalu apa yang disebut benar?”
Ecosoc wrote:
“Seorang filsuf dan seorang meditator tidak bisa diperbandingkan. Seorang filsuf bisa juga seorang meditator”
Daniel wrote:
“Filsuf mencari kebenaran. Bertanya apakah yg disebut benar. Mistikus menjawab : semua benar! Ia menemukan kebenaran dimana-mana…….:D”
Grace wrote:
“Cece, saya yakin pmahaman cece sudah benar..
Yang menjadi ganjalan ku mgkn sbnrnya mnrtku ak dgn bpikir logis saya jg akan/bisa mlakukan hal it…
Secara umum saya CUMA mrasa dgn berpikir, menganalisa dan mengkonsep JUGA bisa melakukan tindakan benar…tidak seperti yang dikatakan Ko Aay.
@Pak Daniel, saya skg ini sdh bs mengerti apa yg coba disampaikan Pak Daniel, karna sedikit banyak sdh dpt pelajaran dr Pak Tien, tp ak msh mencari penjelasan…
. Bukan bmaksud untuk membandingkan, terlebih lagi untuk tidak terima…Saya lbh tertarik mencari tau mengapa yg ak yakini/percayai/pikiri salah (ganjalanku di komen buat cece Juli)…anyway makasi banyak ya Pak
.”
Daniel wrote:>
“@Grace :<
Kalau mengikuti pikiranmu belaka, maka tidak akan pernah tahu. Penjelasan bagaimanapun juga tidak ada gunanya. Tertarik dan butuh adalah dua hal yg berbeda. Apalagi itu hanyalah merupakan suatu respon perasaan (ganjalan).
Jadi bukan penjelasan yg kamu butuhkan. Tapi yang kamu sesungguhnya BUTUHkan adalah kemampuan utk diam. Diam dan kemudian melihat apa yg terjadi dalam dirimu sendiri, dalam batinmu sendiri. Belajar menerima semua kebingungan, ketidaktahuan, ganjalan, dan rasa tidak terima itu. Terima dulu, baru bisa melihat.
Tidak mungkin bisa melihat bila pikiran sibuk mencari jawaban dari luar.”
Juliana wrote:
“@Grace: Oalah.. Grace.. Ngapain lah repot2 bikin pusing diri sendiri dgn segala konsep dan komen. Kalo Pak Aay py pendapat yg berbeda dgn Grace ya udah, diterima aja bhw kalian mmg berbeda. Bkn persamaan konsep yg penting, tp gimana kita menjlnkan hidup kita dgn bebas dr penderitaan. Byk jln menuju ke Roma, kan? Kalo Grace ingin ngikuti jln negasi spt Rm. Sudri, dkk, ya Grace hrs mengosongkan semua konsep yg udah ada dan menerima yg baru. Kalo memang dah py jln yg berbeda yg bisa melepaskan diri dari penderitaan, ngapain repot2 ngambil jalan lain. Gitu aja kok repot. Hehehehe… Peace..”
Rudy wrote:
“romone malah meneng wae ik…”
Grace wrote:
”
“Ce, justru karna ngak lg repot, makanya merepotkan diri…
Sudah lama bs menerima
Ko Aay pny pendapat berbeda ce…repot” skg cm buat bs ngerti pendapat/pandangan Ko Aay ce, apa yg bisa dilihatnya yg tdk bs ku lihat..
Juliana wrote:
“@ Grace: selamat menikmati repot, Grace. Hahahaha…. Maaf Rm. Sudri, statusnya malah jadi tempat kami ngobrol.”
Grace wrote:
”
“Itlah mslhnya dgn orang yang suka jalan” Ce… Hhh. Bahaya ngak ce?
Juliana wrote:
“Keliatan ga bahayanya? Kalo ga keliatan ya ga usah dipikirin. Hhhhh….”
Grace wrote:
”
“Oh iya, maaf jg Romo…mohon ngertiin wanita ya, mang suka ngobrol.
Ki Patrap Hening wrote:
Subject: mohon izin share
“Melihat dgn jernih adalah tindakan seketika”
Kalau faktanya kita lihat secara jernih, maka langsung muncul tindakan benar. Melihat dengan jernih adalah bertindak seketika. Tidak perlu ada pilihan dan keputusan. Kalaupun ada, maka keputusan yang diambil tidak bersumber dari kelekatan. Keputusan dari kebebasan batin muncul seketika dari ketajaman melihat. Itulah penegasan (discernment) yang benar. [Romo Johanes Sudrijanta SJ]
————-
Terima Kasih Romo sdh konfirm. Ini minta izin share, status tsb, untuk kami tayangkan di Komunitas ‘Jalan Sunyi’.
Salam Kasih,
kph
Sudrijanta wrote:
Dialog-dialog seperti ini adalah contoh konkret dari proses “discernment” atau “deliberasi” itu sendiri. Untuk memahami bersama kebenaran-kebenaran non-konseptual, tidak bisa kita mendekatinya dengan debat atau diskusi, tetapi dialog. Dan d…ialog itu sendiri mensyaratkan semua partisipan menyimak dan berpartisipasi dengan batin yang “diam”.
Apa yang disimak bukan hanya apa yang dikatakan atau ditulis orang lain, tetapi terlebih gerak batinnya sendiri: kebingungannya, ketidaktahuannya, ganjalannya, ketakutannya, rasa aman palsunya, penolakannya, ketakutannya, persetujuannya, dst.
Apa yang kita alami itulah yang dikomunikasikan secara terbuka tanpa daya-upaya untuk mempengaruhi atau memaksakan pendapat pada orang lain.
Dengan menyimak gerak batin kita sendiri, lapisan-lapisan kepalsuan yang sering kita pegang sebagai kebenaran terlucuti dengan sendirinya. Kalau lapisan-lapisan kesadaran pikiran itu runtuh, maka batin “diam” dan kebenaran non-konseptual itu mungkin muncul dengan sendirinya.
Hudoyo wrote:
@Juliana: < <@Pak Hudoyo: berarti saat kita melihat suatu kejadian, kita memerlukan waktu utk membiarkan pikiran monyet diam dulu, br kita bisa melihat dgn jernih, dan barulah kita bertindak. Bukankah begitu, Pak?>>
Ini soal pembiasaan (habi…t-forming). Kalau orang sudah terbiasa menyadari reaksi pikiran & akunya terhadap segala rangsangan yg diterimanya, maka reaksi pikiran & aku itu hanya berlangsung sesaat, kemudian lenyap kembali karena disadari, dan di situ terjadi ‘melihat secara jernih’, dan terjadi pula ‘tindakan seketika/spontan’ yg bukan melalui pertimbangan pikiran/aku.
Kalau ini sudah menjadi kebiasaan, maka tidak perlu lagi waktu untuk mendiamkan pikiran monyet ini, karena memang si monyet sudah terbiasa diam, bukan seperti kita-kita yg selalu dirongrong oleh si monyet ini. Pikiran hanya bergerak ketika benar-benar dibutuhkan, yakni untuk bekerja, mencari nafkah dsb.
Nah, pembiasaan agar si monyet ini terbiasa diam itulah meditasi mengenal diri (MMD, self-awareness meditation).
Romo Sudri mengajarkan meditasi mengenal diri yg bernuansa Katolik. Pembaca yg berminat, silakan berkunjung ke situs web Gereja Sta Anna, http://gerejastanna.org/ => klik ‘meditasi’ atau ‘kesaksian’.
Atau kunjungi situs web saya: http://meditasi-mengenal-diri.org/,
beserta Forum Diskusinya,
http://meditasi-mengenal-diri.org/diskusi.
Hudoyo wrote:
“@Ecosoc: < <... Kejernihan hanya ada ketika terhubung dengan diri sejati, diri yg tidak terpolusi oleh ilusi???>>
Wacana tentang pengalaman mistikal pada umumnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok:
(1) ‘jalan positif’ (via positiva), dan
(2) ‘jalan negatif’. (via negativa)
Pengertian ‘diri sejati’. ‘Aku Sejati’ dsb adalah ciri khas dari ‘jalan positif’. Ini yg kemudian mendasari metafisika agama-agama.
Sedangkan menurut pendekatan ‘jalan negatif’, orang tidak membuat proposisi positif apa pun tentang ontologi yg tertinggi atau ontologi diri manusia yg paling dalam.
‘Jalan positif’ sangat menonjol dalam agama-agama monoteistik; sekalipun ada juga arus-arus ‘jalan negatif’ yg disebut Teologi Negatif, misalnya dari Dionysius Areopagite.
Sedangkan pendekatan ‘jalan negatif’ menonjol dalam agama-agama nonteistik dari Timur, seperti ajaran ‘an-atta/an-atman’ (tanpa-aku/tanpa-roh) dari Buddhisme, dan ajaran J Krishnamurti.”
Hudoyo wrote:
“@Adihendro: < <@ all: Pencerahan seorang meditator dan pencerahan seorang filsuf apakah berbeda? >>
Berbeda. Pencerahan filosofis bersumber pada perenungan yg menggunakan daya nalar (reasoning faculty) manusia.
Sedangkan pencerahan mistikal terjadi justru ketika nalar itu berhenti.
***
<>
Saya tidak bisa mendefinisikan apa yg disebut ‘benar’ dengan pikiran saya.
Mengapa? Karena sifat dasar dari PIKIRAN itu adalah: (1) terbatas; (2) terkondisi (oleh pengetahuan & pengalaman individual dari masa lampau); (3) menciptakan subjek, yg sesungguhnya ilusif atau delusif; (4) menciptakan kesadaran waktu, yg juga sesungguhnya ilusif/delusif.
Saya hanya bisa mendekati masalah “kebenaran” dari sisi sebaliknya: yakni menyadari bahwa selama ada pikiran & aku bergerak, itu bukan kebenaran!
Kalau pikiran & aku berhenti/diam, maka Kebenaran pun muncullah. Di sini lagi-lagi digarisbawahi perlunya praksis meditasi mengenal diri.
Ini ditegaskan dalam Mazmur 46:10: “DIAMLAH, dan ketahuilah Aku Tuhan.”"
Hudoyo wrote:>
“@Ecosoc: <
Betul.
<>
Kalau meditasinya sudah berkembang, maka wacana sang filsuf-meditator akan diwarnai oleh pencerahan dalam meditasinya, bukan oleh argumentasi logikalnya. Maka wacana “filosofisnya” akan mengalami transformasi menjadi wacana mistikal.
Contoh nyata di tengah-tengah kita: Romo Sudrijanta sendiri. Kadang-kadang, atau sering kali, omongan beliau susah difahami oleh orang yg cuma menggunakan daya nalarnya semata-mata tanpa pengalaman atau intuisi mistikal sedikit pun. “
Dear Romo,
Thanks a million.
A very beautiful one,completed with dialogs.
Jadi jelaslah sudah.
B.rgrds.
ly
Sebetulnya,
asalkan kita sederhana dalam berpikir, kita tidak akan bingung bingung. Toh kita tinggal ikut perintah Tuhan.
Ditawari korupsi? Seenak apapun, sehalus apapun, gak usah bingung: udah pasti gak boleh! Ato masih mau belagak bloon bingung menentukan apakah uang/barang yang diberikan ini korupsi ato nggak?! hehehe… ya jelas to, semua harta yang diberikan kepada kita dengan permintaan agar kita menuruti permintaan orang itu dengan melanggar hak kita sebagai petugas ya pasti korupsi, mau apa lagi?!
Suami koq pengennya sama Luna Maya, lalu istri pengen minta cerai aja? Ya udah jelas gak boleh. Bingung apa lagi?
Sederhana saja: semua lakukan dengan berpusat kepada Tuhan. Pakailah kaca mata Tuhan dalam melakukan segala hal. Pasti gak bingung. Tuhan bilang apa, kerjakan. Gak usah repot pake timbang sama timbang sini, itu akan memberi celah kepada setan untuk ikutan memberi masukan. Setan pasti senang hati bilang,”Udaaahhh, lelaki gak tau untung gitu aja dipertahankan! Dia maunya sama Luna ya lepas aja!!!” Eh, pas udah cerai setan gak mau tanggung jawab…. hwakakakaa….
So, setiap kali bingung, berdoalah. Lalu ingat ingat apa kata Tuhan tentang hal yang sedang dihadapi. Ulangi baca Kitab Suci supaya mantabbb bahwa memang itulah yang dikehendaki Tuhan. Minta Roh Kudus untuk menerangi akal budi pikiran agar kita bisa ikut kehendak Tuhan. Pasti baik hasilnya.
Salam berkah Dalem, rin
@Ibnurini: ["Sebetulnya,asalkan kita sederhana dalam berpikir, kita tidak akan bingung bingung. Toh kita tinggal ikut perintah Tuhan."]
Apa yang dilukiskan Ibnurini itu adalah contoh “jalan positif”:
SEBAB = berpikir sederhana, mengenal perintah Tuhan
AKIBAT = tidak bingung.
Faktanya, orang sudah berpikir sederhana, sudah kenal perintah Tuhan, TAPI tetap saja bingung.
“Jalan negatif” berbeda:
SEBAB = melihat dengan jernih kebingungan
AKIBAT 1= kebingungan berakhir
AKIBAT 2= mungkin mengenal kehendak Tuhan.
Oooo gitu mo?
Sudah jelas wela wela perkaranya apa perintahNya apa, masih ada juga orang yang bingung?! hehehehe…. kalo aku sih, malahan tidak usah sampai ke keadaan bingung. Setiap perkara dalam hidupku aku toh sudah tau perintahNya apa ya tidak pakai bingung. Maka tidak perlu sampai repot mikiri jalan negatif apa, ato melihat jernih pada kebingungan wong aku memang tidak bingung, rasanya aku kenal Tuhanku. Tuhan yang setiap hari aku ajak omong omong, yang setiap hari tau benar masalahku sampai sekecil kecilnya dan selalu menolong aku. Dia begitu nyata dalam hidupku.
Masalah terbesarnya ya pada fase membuat keputusan. Tapi tidak bingung. Misal: sudah tau bahwa korupsi waktu kerja pun itu gak bener, tapi toh membuat keputusan untuk masih juga melakukan hal itu. Jelas tidak bingung wong tau dan sadar. Tapi keputusan untuk berbuat salah tetap dilakukan. Maka bukan “Kasihanilah karena tidak tau apa yang dilakukan.” melainkan “Ampunilah karena sudah tau tapi toh tetap melakukan”.
Maka kalau memang memutuskan untuk tidak lagi melakukan dosa itu lagi ya benar benar karena kangen Tuhan karena merasakan sungguh bahwa menjauh dari Tuhan itu tidak enak. Benar benar terasa gitu lho mo, semakin nekad saya melawan Tuhan memang benar benar saya masuk ke dalam kegelapan yang penuh kertak gigi kegetiran hidup.
Kalau saya bingung lalu saya salah membuat keputusan kan gak berasa dong salahnya dimana, wong namanya orang bingung. Saya menjadi sangat dosa justru karena saya tidak bingung.
Tapi kalo orang lain bingung sih aku juga heran, mereka itu bingung apa ya? Wong ya asal bisa mengidentifikasi masalahnya dengan baik dan memang niat taat kepada Tuhan ya jalani saja tanpa bingung. Romo berkenan memberi saya contoh faktual bagaimana orang bingung itu? Kalau contohnya :” Saat Anda merasa kehausan, Anda mencari sesuatu untuk diminum, bukan? Kalau tersedia sebotol air putih dan sebotol bir, mana yang akan Anda pilih?” Ya jelas wela wela saya pasti pilih air putih tanpa bingung. Tapi kalo adanya cuma bir padahal haus banget, ya saya pasti tidak bingung, pasti saya mbat juga itu bir… heheheh.. Apa saya jadi tidak kenal Tuhan sehingga saya merasa takut jangan jangan Tuhan nanti marah kalo saya minum bir? Tentu TIDAAAKKK! Masa’ gitu aja Tuhan marah! Yang bener aja!
Sejauh saya mengasihi Tuhan, sesama dan diri sendiri, Tuhan bahagia to lihat saya senang. Lha kalo saya berdoa agar si A celaka yang jelas jelas saya lakukan dalam keadaan tidak bingung, baru deh Tuhan sedih,”Rin… rin, umur udah banyak koq ya kamu masih juga melakukan hal yang sia sia itu!” hwekekekekeeee….
Mo, monggo memberi tambahan ilmu buat saya. Matur nuwun.
Salam berkah Dalem, rin
kalau perkaranya “hitam-putih” sih, kita gampang membuat keputusan, asal sesuai dengan perintah Tuhan. Misalnya, pilih air putih atau bir..jelas keputusannya. Atau, korupsi atau tidak korupsi, jelas sudah mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Akan menjadi sulit membuat mana yang benar atau salah kalau masuk dalam rana abu-abu (grey area). Misalnya, anakku hampir mati kalau tidak makan, cara makan yang paling mungkin (dalam kasus ini tidak ada kemungkinan lain-sic!) hanya mengambil pisang di tetangga, tetapi sudah pasti kalau saya minta pisang ke tetangga pasti tidak dibolehkan! apa saya harus mencurinya?? Ini memang wilayah moral, tetapi banyak masalah moral yang memerlukan pertimbangan (discerment) yang jernih.
ah
@Adi: “banyak masalah moral yang memerlukan pertimbangan (discerment) yang jernih.”
Betul. Lebih tegas lagi bisa dikatakan: banyak masalah moral yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengacu pada pedoman-pedoman moral, ajaran-ajaran agama, aturan baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, tetapi memerlukan disernment yang benar.
@Ibnurini: “Romo berkenan memberi saya contoh faktual bagaimana orang bingung itu?”
Contoh seringkali malah membingungkan. Maka silahkan menyelami masalahnya saja secara langsung.
Jika setiap kali kita menghadapi masalah dan mencari pedoman-pedoman moral, ajaran-ajaran agama, aturan boleh dan tidak boleh, dan hanya BERHENTI di situ, lalu memakai pedoman-pedoman itu untuk membuat keputusan tanpa “discernment” yang benar, maka kita masih terus hidup dalam kebingungan. Barangkali kita tidak menyadarinya, tetapi pada lapisan batin yang lebih dalam kita bingung.
Hmmmm… ya, ya, ya… mungkin memang berbahagialah dia yang pernah bingung…
Salam berkah Dalem, rin