Memahami Pikiran Positif dan Pikiran Negatif

Tidak ada jalan, teknik atau metode untuk menemukan kebenaran, kebebasan, kebahagiaan, Tuhan. Kalaupun ada, satu-satunya jalan yang paling mendekatkan kita pada kebenaran itu tidak lain adalah negasi total. Tidak banyak dari kita berani mengambil jalan negasi karena kita terbiasa dan puas mendekati masalah-masalah kehidupan secara positif meskipun sesungguhnya pendekatan positif tidak membawa kita ke mana-mana.

Jalan positif
Untuk menyelami apa itu negasi total dan hidup di dalamnya, kita perlu memahami apa yang disebut berpikir positif dan berpikir negatif. Apa itu pikiran positif dan pikiran negative? Seringkali dipahami bahwa berpikir positif adalah cara berpikir yang mendatangkan manfaat, sedangkan berpikir negative adalah cara berpikir yang tidak mendatangkan manfaat.

Orang merasa tahu apa yang dianggapnya positif atau bermanfat dan apa yang dianggapnya negative atau tidak bermanfaat. Bagaimana Anda sungguh-sungguh tahu bahwa cara berpikir Anda positif atau negative, bermanfaat atau tidak bermanfaat? Pemahaman tersebut menyimpan kontradiksi karena apa yang dianggap positif tidak sungguh-sungguh positif, apa yang diaangap bermanfaat tidak sungguh-sungguh bermanfaat. Kita tidak tahu persis apa yang sesungguhnya bermanfaat kecuali adanya manfaat atau tidak-adanya manfaat tersebut hanya diukur oleh terpenuhinya keinginan atau kecocokan dengan pikiran di benak kita.

Kalau Anda mengatakan, “Aku bisa!”, Anda akan melihat bahwa mungkin Anda betul-betul bisa. Anda benar. Kalau Anda mengatakan, “Aku tidak bisa!”, Anda akan melihat bahwa mungkin Anda betul-betul tidak bisa. Anda juga benar. “Aku bisa!” merupakan ekspresi dari cara berpikir positif. “Aku tidak bisa!” merupakan ekspresi cara berpikir negatif. Keduanya sesungguhnya tidak berbeda. Baik pikiran positif maupun pikiran negatif keduanya merupakan proses positif sebagai reaksi memori atas objek-objek yang dipikirkan. Upaya untuk meyakinkan diri bahwa “Aku bisa!” atau “Aku tidak bisa!” merupakan reaksi dari beban ingatan.

Sekarang Anda menyimak apa yang saya tulis. Dengan membacanya, barangkali Anda langsung mengatakan setuju atau tidak setuju terhadap apa yang saya tuliskan. Kedua-duanya, setuju atau tidak-setuju itu, merupakan proses positif. Anda melihat atau mendengar sesuatu dan sesuatu itu cocok atau tidak cocok dengan apa yang ada dalam ingatan Anda, dengan harapan atau keinginan Anda. Kalau setuju, persetujuan itu Anda sebut positif. Kalau Anda tidak setuju, ketidaksetujuan itu disebut negative. Tetapi ketidaksetujuan itupun hanyalah reaksi memori terhadap apa yang saya katakan. Maka apa yang tampak negatif itupun masih positif karena berasal dari reaksi memori.

Semua proses pikiran, entah positif atau negatif, adalah proses positif atau jalan positif. Yang kita butuhkan bukan mengintegrasikan pikiran positif dengan pikiran negatif seperti orang menyambung kutub positif dan kutub negatif untuk menghasilkan energi listrik. Juga bukan mengubah atau mengganti pikiran negatif menjadi pikiran positif karena kedua-duanya tidak membuat batin keluar dari penjara dirinya. Oleh karena itu, lebih jauh kita perlu menyelami batas-batas dari keduanya.

Keluar dari penjara batin secara natural

Kebanyakan orang bertindak sebagai reaksi dari beban ingatan. Apa yang Anda lakukan ketika Anda tidak menghirup kebebasan dalam batin Anda? Anda bertanya bagaimana caranya bebas dari belenggu batin? Lalu Anda menganalisa, mencari teknik, metode atau system untuk mengontrol, mengendalikan, membuang belenggu batin supaya bebas. Lihatlah, bukankah pengendalian itu merupakan belenggu baru yang lain? Semua itu adalah proses positif. Kalau batin melihat kepalsuan jalan positif sebagai kepalsuan, maka kebenaran ditemukan dan kebenaran itu bertindak bukan sebagai reaksi memori, bukan reaksi positif atau negative.

Negasi total adalah melihat langsung secara aktuil bahwa kebebasan dan kebenaran-kebenaran non-konseptual tidak bisa dicapai dengan teknik, metode, atau system apapun. Batin melihat dengan jernih bahwa pikiran positif atau pikiran negatif, yang kedua-duanya pada hakekatnya sama, tidak membawa batin keluar dari penjaranya sendiri. Batin yang berada dalam negasi total, keluar dengan sendirinya dari keterbelengguan tanpa daya-upaya, keluar dari penjara batin secara natural. Ia melihat secara total keseluruhan masalahnya dan selesai seketika, tanpa pergulatan untuk mengakhirinya.

Kebanyakan orang mencari kebebasan, kebenaran, kebahagiaan, termasuk Tuhan dengan jalan positif. Batin mencari teknik atau metode. Lalu teknik atau metode itu dengan cara bertahap diterapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tujuan yang ingin kita capai sebenarnya sudah kita ketahui. Anda tidak-bebas. Anda ingin kebebasan. Kebebasan yang diinginkan itu sebenarnya hanya reaksi saja dari ketidak-bebasan. Anda memiliki masalah dan masalah Anda pada hakekatnya negative, tetapi Anda mengambil langkah positif untuk mengatasinya. Masalah Anda barangkali akan terpahami, terurai dan berakhir sepenuhnya kalau Anda mengambil jalan negasi. Negasi total bukanlah reaksi dari yang negative, juga bukan reaksi dari yang positif. Apakah Anda melihat secara aktuil bahwa seluruh gerak pikiran negative maupun positif tidak membuat batin keluar dari penjaranya sendiri dan justru menciptakan penjara baru? Batin yang melihat seluruh persoalan ini secara langsung, keluar dari penjaranya sendiri secara natural.

Siapa yang mencari tidak menemukan
Batin yang mencari kebebasan, kebenaran, kebahagiaan, Tuhan dengan jalan positif tidak akan menemukan. Kalaupun menemukan, apa yang ditemukan tidak cukup mengubah seluruh struktur batinnya. Kapan Anda merasa menderita dan kapan merasa bahagia? Kebanyakan orang merasa menderita kalau tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan bahagia kalau mendapatkan apa yang diinginkan. Bukankah demikian? Tetapi sungguhkah Anda bahagia ketika mendapatkan apa yang Anda inginkan? Apa yang terjadi ketika apa yang Anda dapatkan itu direnggut dari tangan Anda? Bukankah Anda kembali menderita? Jadi penderitaan bukan hanya terjadi ketika Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan. Ketika Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan dan melekatinya, maka di situ sudah muncul potensi penderitaan. Semakin Anda bahagia karena mendapatkan apa yang Anda inginkan dan melekatinya, maka semakin besar potensi penderitaan dalam batin Anda.

Kalau Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda bersyukur pada Tuhan. Anda membuat pesta dan bersaksi bahwa Tuhan itu baik. Kalau Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda kecewa, sedih, marah, frustrasi. Anda protes kepada Tuhan dan menilai Tuhan itu tidak baik. Jadi Tuhan yang dicari dan ditemukan lewat jalan positif hanya relevan untuk memperkuat keinginan Anda. Menggambarkan Tuhan, kebenaran, kebebasan, kebahagiaan dst dengan terminologi positif justru membatasi hakekatnya. Oleh karena itu, Tuhan menurut pendekatan negasi bukan “baik”, juga bukan “tidak baik”. Ia bukan kedua-duanya, melampaui dualitas baik dan tidak baik, melampaui konsep dan terminologi positif.

Lihatlah betapa keinginan berperan penting pada jalan positif. Semua orang merindukan kebebasan. Kalau Anda punya banyak keinginan dan bisa mendapatkan apa saja yang Anda inginkan, Anda berpikir Anda adalah orang yang bebas dan bahagia. Tetapi sungguhkah demikian? Bukankah semakin banyak keinginan semakin Anda dibuat menderita? Jalan positif hanya menghantar Anda untuk bebas berkeinginan, tetapi bukan bebas pada dirinya. Kebebasan sejati justru datang dengan sendirinya, ketika segala keinginan psikologis berakhir.

Ketika Anda haus, apa yang Anda lakukan? Bukankah Anda mencari air untuk diminum? Itu hal yang wajar. Ketika Anda lapar, apa yang Anda lakukan? Bukankah Anda mencari sesuatu untuk dimakan? Kalau Anda haus atau lapar tetapi diam saja, itu berarti ada sesuatu yang salah dalam diri Anda. Tetapi ketika anda haus atau lapar akan kebebasan, kebenaran, kebahagiaan atau Tuhan, apa yang Anda lakukan? Kalau batin mencari pemuasan, yang adalah esensi dari jalan positif, Anda tidak akan keluar dari masalahnya. Alih-alih mencari pemenuhan, batin perlu belajar diam dalam kekosongan dan tinggal bersama rasa haus dan lapar itu. Kapan rasa haus dan lapar itu akan berakhir, kita tidak tahu. Menyelami batin yang haus dan lapar dalam negasi total, tanpa berlari mencari pemuasan, cukuplah itu.

Batin yang tidak berada dalam keadaan negasi terus mencari dan ingin menemukan. Apa yang dicari dan ditemukan hanya memuaskan pikiran atau keinginan dan sesungguhnya pemuasan itu palsu belaka. Keinginan itu seperti sumur tanpa dasar. Keinginan tidak pernah terpuaskan. Semua keinginan adalah jalan positif dan jalan positif menggerakkan batin untuk mencari pemuasan. Kenyataannya jalan positif hanya menghantar untuk menemukan objek-objek pemuasan sementara. Alih-alih mencari dan menemukan, batin-negasi melihat kepalsuan dari seluruh gerak pencarian dengan segala motif dan tujuannya dan seluruh gerak itu berakhir seketika. Lalu muncullah sesuatu yang tak-terukur yang tidak bisa ditemukan oleh batin yang sempit dan dangkal.

Bertindak bukan dari kepenuhan
Batin yang mengikuti jalan positif, entah terbiasa berpikir positif atau berpikir negative, selalu bertindak dengan mengikuti pola, formula, teori, doktrin, metode, disiplin system pemikiran atau kepercayaan tertentu. Batin pepat dengan begitu banyak masalah kehidupan. Batin juga pepat dengan berbagai pola pemecahan masalah. Lalu batin terbiasa menerapkan, memanipulasi, mengontrol, mengubah, menyesuaikan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Maka batin bertindak bukan dari kekosongan, tetapi dari kepenuhan.

Apa yang Anda lakukan ketika begitu banyak pikiran atau keinginan mendera Anda? Kebanyakan orang terbiasa menjadikan pikiran sebagai musuh. Semakin kuat Anda ingin menolak atau mengenyahkan pikiran, semakin kuat pula pikiran datang bagaikan teror. Kebanyakan orang juga terbiasa menjadikan pikiran sebagai tuan. Semakin kuat Anda percaya terhadap kebenaran di kepala Anda, semakin kuat pikiran menjajah dan menjadikan Anda sebagai budak. Itu semua adalah jalan positif. Anda punya masalah dan dari masalah itu batin bereaksi mencari pemecahan masalah. Jalan positif tidak membuat Anda memahami masalah-masalah kejiwaan Anda secara total, karena teori-teori pemecahan masalah justru menjauhkan Anda dari masalahnya.

Amat jarang orang bertindak bukan dari kepenuhan. Orang mengikuti system pemikiran yang satu dan berganti ke pemikiran yang lain, dari kepercayaan yang satu ke kepercayaan yang lain. Selama batin dipenuhi dengan ide dan kepercayaan, berganti-ganti dari ide yang satu ke ide yang lain, dari kepercayaan yang satu ke kepercayaan yang lain, batin terus berlari mengejar pemuasan keinginan. Batin terbiasa melawan apa yang tidak disukai dan melekati apa yang disukai. Tindakan lalu hanya menjadi reaksi untuk menghindar dari ketakutan dan mengejar kepuasan atau rasa aman. Itu adalah jalan positif. Pada jalan itu, batin tidak keluar dari ketakutan, kesedihan, kesenangan, konflik, penderitaan.

Bisakah batin menerobos kepenuhan dirinya dan membiarkan kekosongan bertindak? Bisakah bertindak bukan sebagai reaksi memori yang pepat dengan beban pengaruh, bukan reaksi mental, bukan rasionalisasi, bukan reaksi positif atau negatif? Kalau kita melihat dari titik keheningan bahwa setiap pergerakan memori menimbulkan keterpecahan, bukankah lalu batin berhenti bertindak dari memori? Proses-proses positif, entah pikiran positif ataupun pikiran negative, terpatahkan dengan sendirinya. Batin menjadi damai, tenang, jernih, bebas, tajam. Ia melihat yang palsu sebagai palsu, yang benar sebagai benar, yang menderita sebagai menderita. Batin tidak terdistorsi dan tindakan muncul bukan dari kepenuhan. Itu semua juga hanya terpahami kalau batin menyelami dalam keadaan negasi total.*

9 Responses to “Memahami Pikiran Positif dan Pikiran Negatif”

  1. “ketika semua tercabut dari hidup, apa yang bisa dilakukan dan ketika segalanya terpenuhi, apa yang akan dilakukan. ah, sampai kapan kaki akan melangkah ataukah perlu untuk berlari…”

    terima kasih tulisannya, Romo ^_^

  2. Dear Romo,

    Thanks utk. tulisan terbaru diatas. Frankly speaking, agak susah saya baca n pahami….mgkn pikiran lg pepat? sy sendiri tak tahu…blank n stuck.

    Namun yg sy akan sharingkan, adalah apa yg sy alami pd 6 jun lalu Mgu pagi 6.20 dg Sriwijaya dr Smrg,20 menit sudah mengudara,tiba2 ada announcement bhw krn ada gangguan teknis,mk pswt akan kembali ke A.Yani erport…..spontaneously, sy ingat Kristus…yg ada di dlmku sllu….teringat pula “aku melangkah,
    aku telah sampai…”kmdn masuk dlm keheningan yg sungguh…aware fully…tanpa rasa takut ,cemas,dll. sungguh batin ini damai, tenang, bebas tak terbelenggu oleh beban2 perasaan apapun. Nah,sampailah ahirny, …landing dg mulus,aman.

    Praise the Lord,tetapi..stoned, terhenyak kurasakan sesaat,stlh sy lihat 3mobil pemadam yg sudah siap menanti kami di tepi landasan.BARULAH muncul pikiran…oh, tadi itu kami semua dlm bahaya………….

    Sy sadar kedua kalinya….Thanks God utk penyelenggaraan dan pemeliharaanNya….

    Nah, sehub. dg kejadian ini, ingin sy bertanya pd Romo…apakah relationship esensi Negasi Total, pikiran positif n negatif dengan experience sy 1 mgu lalu, krn sy “pepat” benar, tidak connect, tak bisa mencerna baca tulisan Romo.

    Thanks, n best rgrds,
    ly

  3. Saya senang membaca tulisan tulisan Romo,tapi rasanya akan lebih indah dan lebih bisa dipahami dan dimengerti oleh awam, bila Romo jabarkan dengan bahasa yang sederhana dan disertai contoh contoh yang nyata. seperti ,apa itu kekosongan, bagaimana cara kita bisa membiarkan batin kita diam dalam kekosongan dalam dunia nyata seperti jaman ini dimana kita dituntut untuk berjuang dalam banyak hal untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan.

  4. @Lily: Anda sedang belajar menjalani tanpa tahu. Itu lebih baik daripada merasa tahu dalam menjalani.
    @Irene: Kekosongan tidak bisa dipahami juga tidak ada cara untuk mencapainya. Maka jangan cari teknik atau metode. Teknik atau metode hanya ada di jalan positif. Nah, kalau Anda memahami apa itu jalan positif, menyelami keterbatasan dan kebuntuannya, cukuplah itu.

  5. Memahami jalan positif,menyelami keterbatasan dan kebuntuannya. apakah yg Romo maksud itu adalah : didalam menghadapi permasalahn kita harus berusaha mengatasi dengan baik dan kita harus menyadari permasalahan itu sehingga tidak menjadikan pikiran atau beban. atau mungkin dalam perjuangan hidup kita harus menyadari segala kelemahan dan kekurangan kita sehingga tidak membuat kita stress atau menderita. apakah begitu Romo ???

  6. Dear Romo,
    terima kasih. 1 mgu blkg an ini ada 2 oom yg sdg sakit agak serius, jd sy agak cape ” pikiran “,jg energy agak terkuras.
    thks so much, Rm menunjukkan clue , sy jd .lbh eling

    Bst rgrds,
    ly

  7. Salam, Romo J. Sudrijanta, SJ

    Saya sangat senang membaca artikel Romo yang selalu menggugah pemikiran dan keinginan tahu saya. Romo saya ingin menanyakan beberapa hal berdasarkan artikel Romo diatas.

    Saya bingung mengenai pernyataan Romo tentang Nagasi total apalagi mengenai memory yang pepat, apakah pepat yang romo maksudkan disini keadaan momory otak yang dalam keadaan kacau balau/ tidak tertempa dengan baik?

    Karena orang yang bertindak negatif/postif seringkali diakibatkan memory yang tersetting tidak dalam keadaan sehat, baik secara pengalaman spiritual dan tingkat pendidikan (pembelajaran hidup) selama hidupnya?

    Apa persyaratan agar manusia dapat masuk dalam keadaan nagasi total?

    Apakah memory positif (pengalaman hidup positif) tidak mendukung pencapaian keadaan nagasi total ini atau tidak di perlukan pengalaman positif untuk mencapai keadaan ini?

    Menurut saya manusia selalu bertindak berdasarkan pendekatan-pendekatan yang ada dalam pemikirannya, Hasil tindakannya (output) itu tergantung bagaimana memorynya itu tersusun dalam pengalaman hidupnya baik secara spirituil dan tingkat pendidikan (pembelajaran hidup)?

    apakah kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri keadaan Nagasi total?

    Apakah para motivator yang memberikan/menanamkan cara berpikir positif yang sering kita jumpai di media tertulis dan elektronik juga hanya berisikan nilai-nilai pembenaran diri dari masalah, menghibur diri atau hanya ungkapan-ungkapan pelarian dari masalah?

    Saya membaca komentar dari saudari Lily, mengenai pengalamannya yang luar biasa ketika berada didalam pesawat,

    Apakah tindakan saudari Lily ini termasuk nagasi total?

    Bukankah ketika saudari Lily spontan mengingat Kristus merupakan suatu pemikiran positif yang sudah tertanam berdasarkan pengalaman positif spirituil hidupnya yang selama ini tersusun dengan rapi dalam pemikiran saudari Lily?

    Saya sangat berharap Romo berkenan menanggapi hal-hal yang mungkin saya tidak mengerti dari arah pembahasan tema artikel yang Romo tuliskan.

    Salam hangat,

    V. Hutabalian

  8. Dalam pengalaman Lily, ada dua moment yang perlu dicermati. Moment pertama adalah ketika rasa takut dan kecemasan datang, ia ingat Kristus. Bukan Kristus yang di luar, tetapi Kristus di dalam hatinya. Moment kedua adalah moment keheningan, moment kesadaran tanpa objek. Pada moment kedua itu, tidak ada pikiran atau ingatan tentang Kristus, tidak ada kesadaran akan ketakutan atau kecemasan sebagai objek.

    Kalau Lily hanya berhenti pada moment pertama, maka ia berhenti di jalan positif. Barangkali ia masih akan tetap didera ketakutan dan kecemasan meskipun sudah ingat Kristus. Justru karena ia menanggalkan ingatan dan pikiran tentang Kristusnya atau tentang kecemasannya dan sadar penuh (tanpa objek, tanpa subjek), maka kecemasan atau ketakutan itu berakhir dan ia mengalami pembebasan, kedamaian, ketenangan.

    Pada moment pertama ia hanya “ingat Kristus”. Pada moment kedua ia “mengalami Kristus”.

    Moment kedua itulah yang kita sebut moment NEGASI.

  9. Dear Romo dan Sdr.Hutabalian

    Again, thanks to Romo yg menjelaskan pertanyaan sdr.H. sy pun jd lebih gamblang menangkapnya, yach mmg. dmkn lah adanya,apa yg sy alami n hidupi….hal ini semua berkat ketekunan dan terutama kesabaran bimbingan Rm via berbagai jalan, a l menyimak homili2, baca “Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial”, jg. mdts serta retret… So helpful, n meaningful. Baru bs absorb Tulisan Negasi total nya, Mo….

    Jg thanks Sdr.H, sdr bertanya, Rm menjawab,jd sy yg agak pelupa dan tdk menyadari apa yg sy tlh hidupi,sy jd aware total lg nih….So, let ‘s us live fully,go on d by d, time by time, till the end.

    Luv in Christ,
    ly

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>