Memahami Pergumulan Batin

Kalau Anda sedang mengalami konflik atau ketegangan batin, apa yang Anda lakukan? Mencari berbagai cara untuk mengatasinya? Kalau daya-upaya Anda mentok seperti membentur tembok dan konflik batin tidak menunjukkan titik akhir, apa yang Anda lakukan? Anda putus asa, frustrasi? Atau mencoba bertahan dalam pergumulan dengan harapan suatu saat akan berakhir? Mungkinkah kita menjalani kehidupan bebas dari pergumulan batin? Janganlah cepat-cepat merespons dengan pikiran Anda dengan jawaban bisa atau tidak bisa. Mari kita selami bersama-sama.

Kebanyakan orang memiliki pergumulan batin yang berlarut-larut. Orang bisa bergumul dengan rasa bersalah, rasa terluka, rasa sakit hati, dendam, khawatir, gelisah, benci, malas, bosan, takut, kelekatan, konflik, ambisi, dst. Setiap daya-upaya justru menjauhkan pemahaman langsung akan pergumulan yang dihadapi, entah daya-upaya untuk menolak, membuang, menekan, mengalihkan, mengatasi, sekedar membiarkan atau lari daripadanya. Setiap bentuk daya-upaya justru memperkuat pergumulan karena setiap pergumulan digerakkan oleh daya upaya. Oleh karena itu pergumulan perlu dipahami secara langsung tanpa daya-upaya.

Daya-upaya untuk pertahanan hidup adalah hal normal. Ketika haus, Anda minum. Ketika lapar, Anda makan. Ketika Anda hidup kurang layak, Anda bekerja untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Akan tetapi ketika Anda haus dan Anda khawatir kekurangan air, atau lapar dan Anda khawatir tidak mendapatkan makanan, atau bekerja keras mencari penghidupan karena takut hidup miskin, maka pergumulan batin sudah muncul di sana. Daya-upaya untuk bertahan hidup, yang adalah wajar pada hakekatnya, bisa menjadi lebih berat karena pergumulan psikologis yang mengiringinya.

Pergumulan sering mendera batin yang biasa memupuk harapan dan cita-cita. Batin yang selalu mencari kenikmatan, selalu mencari kepastian, selalu mencari kepuasan, selalu ingin berbuat baik atau tampil sempurna biasanya hidup dalam ketegangan terus-menerus. Cita-cita psikologis, idea-idea psikologis atau harapan-harapan psikologis justru menciptakan ketegangan dalam menjalani kehidupan.

Apa reaksi Anda ketika suatu kebenaran hadir di hadapan Anda? Misalnya, saya mengatakan bahwa ”Daya-upaya menciptakan pergumulan batin.” Apakah reaksi Anda? Apakah Anda melihat kebenarannya secara langsung, sadar akan kebenaran itu dan pergumulan batin berakhir seketika? Atau apakah Anda memiliki gagasan tentang daya-upaya? Ada pernyataan tentang kebenaran yang kita dengar. Lalu mengalami langsung kebenarannya atau kita menciptakan gagasan tentang fakta itu?

Sekali kita menciptakan idea, harapan, cita-cita, maka muncullah daya-upaya. Lalu batin pertanya, apa yang harus dilakukan, bagaimana bertindak? Ketika kita mendengar pernyataan itu, menyimpannya dalam ingatan kita sebagai kebenaran dan kita menerapkannya. Kita lalu berjuang untuk tidak berdaya-upaya. Tetapi tetap saja kita tidak keluar dari gerak daya-upaya.

Daya-upaya merupakan bentuk penguatan diri. Si aku diperkuat, si aku yang berkemauan, si aku yang berkehendak, si aku yang berjuang, si aku yang bergumul. Batin menciptakan idea bagaimana bebas dari daya-upaya yang tidak berbeda dari pergumulan. Kita tidak mengalami langsung kebenarannya, yang langsung membebaskan. Namun kita menciptakan idea dan lewat idea kita melihat fakta. Lalu kita menerapkan idea itu dalam tindakan. Di situ muncullah pergumulan mewujudkan idea. Lalu kita mencoba menjembatani jurang antara idea dengan tindakan, dan di situlah daya-upaya terus bergerak.

Bisakah kita melihat kebenaran tanpa menciptakan idea? Kalau kita menyadari bagaimana kita secara spontan menciptakan idea-idea, maka barangkali di sana ada kemungkinan kita bebas dari pergumulan.

Akan tetapi mengapa batin suka menciptakan idea? Bukankah itu merupakan kebiasaan batin? Sesuatu dihadirkan di hadapan kita dan segera muncul kebiasaan lama untuk menciptakan idea, teori, kesimpulan tentangnya. Batin lebih suka hidup dalam kebiasaan karena kebiasaan menciptakan rasa aman. Kalau tidak ada jawaban dari kebiasaan, maka batin merasa bingung.

Batin suka menciptakan idea juga karena batin ingin mendapatkan hasil secara cepat. Batin ingin sesuatu yang pasti. Maka batin lebih suka menciptakan pegangan dalam bentuk idea, teori, keyakinan, pengetahuan. Ketika pegangan dipertanyakan, munculah kebingungan, kegelisahan. Begitulah dengan menghindari ketidakpastian, batin mencari rasa aman bagi dirinya sendiri dengan menciptakan daya-upaya untuk mengejar hasil.

Secara psikologis kita sudah terbiasa berjuang sejak kecil. Batin kita pepat oleh idea-idea yang membenarkan bahwa kebebasan, kedamaian, pencerahan musti dicapai lewat perjuangan. Tidak bisa disangkal bahwa untuk bisa berhasil dalam hidup, orang harus memiliki daya juang, tidak loyo, tidak mudah menyerah. Tetapi sungguhkah daya-upaya berguna dalam olah kejiwaan?

Semua kenikmatan dan kepahitan hidup merupakan hasil daya upaya. Apa saja yang diperoleh lewat daya-upaya bersifat materiil. Hal-hal yang sungguh-sungguh spirituil tidak diperoleh lewat daya-upaya, perjuangan atau pergulatan. Hal-hal spiritual yang dikejar adalah perluasan dari tujuan-tujuan materiil yang dipersepsikan sebagai yang lebih tinggi, lebih suci, lebih agung. Kedamaian, kebebasan, pencerahan, kesucian lalu menjadi objek pencarian dan pergulatan yang tiada akhir.

Batin yang sarat idea, yang merasa aman, merasa pasti, merasa bingung, yang mengejar hasil, tidak mampu melihat langsung kebenaran. Batin yang bebas idea mampu melihat langsung kebenaran tanpa daya-upaya dan kebenaran itu membebaskan seketika. Batin yang setiap kali bebas dari pergumulan lalu mampu menemukan kedamaian di tengah aktifitas perjuangan. Bisakah kita menjalani kehidupan sehari-hari bebas dari pergumulan batin?*

13 Responses to “Memahami Pergumulan Batin”

  1. Dear Rm Sudri,
    Rm rasanya sulit ya selama kita masih hidup bebas dengan pergumulan batin karena mau tidak mau batin ini juga penuh dengan dinamika seperti halnya jasmani.Namun persoalannya bagaimana kita mampu bebas dari pergumulan dan menemukan kedamaian .Rm, apakah saat pergumulan batin terjadi kemudian kita berdoa dan batin menjadi tenang dan damai, apakah doa merupakan daya upaya karena sesungguhnya berdoa dilakukan tanpa daya upaya?
    Doa banyak macamnya, namun doa yang dimaksud disini adalah doa tanpa pengejaran dan tanpa mengharapkan hasil, doa yang lebih banyak kepada olah batin dengan “silence” dan membuat batin jadi lepas dan bebas.
    Wah Rm, dihari Sabtu sunyi ini, membuat suasana semakin sunyi dengan membaca tulisan diatas dan saya berada jauh dari keramaian dimana disini benar-benar sepi, sungguh terasa bahwa perayaan Tri hari suci is much, much greater than Christmas.
    Ok, Selamat Paskah 2010, salam saya dan keluarga.

    Best regards,
    mary

  2. Romo Sudrijanta,

    Dalam 7 hari ini ada waktu ketika segala sesuatu berlalu dari saat ke saat, menembus waktu yang tidak terpahami akal budi. Untuk menoleh kembali seakan tidak sempat saat berjalan dari moment ke moment. Sunyi pun tidak bisa dimengerti. As you advise, dalam keheningan segala instrument dengan sendirinya berhenti di lorong tri hari suci. Saat menjelang subuh rasa kantuk menyerang yang berada dalam keheningan, pergumulan batin mulai lagi … mata nggak bisa diajak kompromi, kalau membiarkan sedikit cahaya masuk maunya mata terpejam kembali dalam ruangan yang gelap, sementara kalau mata sedikit terbuka rasanya nggak sanggup :( Masih ada kesempatan untuk melepas segala hal apa adanya menjelang fajar merekah di hari yang agung, lama terdengar kicau burung menyambut pagi sebelum bel berbunyi.

    Tidak ada daya upaya untuk dihitung ke dalam kumpulan orang benar, tidak perlu kepastian untuk rasa aman. Segala sesuatu mengalir dari kolam yang tidak lagi keruh, pergumulan batin surut dengan sendirinya. Dalam awareness apapun hadir apa adanya… tidak perlu konfirmasi. :)

    Terima kasih untuk mengingatkan saya melalui tulisan ini. Selamat hari Paskah.
    God Bless You.

    Salam.
    luci

  3. Hallo mo!

    Benar, kekhawatiran emang sering jadi biang keladi pergumulan batin. Makanya Tuhan bilang,”Jangan takut…” Itu karena kita diminta untuk beriman. Boleh aja berupaya tapi hati janganlah takut apa apa karena percayalah Tuhan pasti menolong.

    Itu termasuk kalo kita punya kesalahan di masa lalu, jangan takut! Maafkan saja, nanti kan Tuhan pasti berkarya.

    Batin yang sarat idea manusiawi memang akan menghalangi mata hati kita untuk melihat apa yang dikerjakan Tuhan. Tapi batin yang sarat dengan kepasrahan kepada Tuhan akan melihat segala sisi baik dari segala hal lalu bersyukur dan berkata,”Inilah yang berkat Tuhan.”

    Salam berkah Dalem, rin

  4. di dalam yg terlihat hanya ada yg terlihat, di dlm yg terdengar hanya ada yg terdengar, dimana aku berada di sana aku tiada.

    salam hening, romo.

  5. Orang yang bergumul dengan rasa bersalah, rasa terluka, rasa sakit hati, dendam, khawatir, gelisah, benci, malas, bosan, takut, kelekatan, konflik, ambisi, dst, disebabkan karena terburu-buru memberi penilaian (berupa tafsirannya sendiri) terhadap kondisinya itu.

    Buru-buru menilai kondisinya, kemudian merasa penilaiannya “sudah benar”, kemudian menerima, kemudian menghasilkan ‘konflik batin’ ini. Dia sendiri yang mem-produksi konflik ini karena dia (sukanya ya?; hobbynya ya?) terburu-buru (memangnya kenapa dia perlu terburu-buru, kondisi darurat?).

    Padahal tipsnya sangatlah sederhana,
    - kalo sedang mengalami pergumulan, stop dulu penilaian subyektif itu, istirahat dulu, cape kan terus-menerus mikirn gituan

    - sewaktu akan mengalami, jangan buru-buru memberi penilaian subyektif atas kondisinya itu (mau buru-buru kemana?)

    - kalo ingin memberi penilaian, usahakan se-obyektif mungkin (misalnya dengan meminta pendapat dari orang lain)

    Tips ini berguna untuk lebih menghindari jebakan pemikiran / perasaan sendiri.

    Logisnya, dalam setiap manusia tidak punya kebenaran mutlak (absolut; hanya Yesus yang punya) sehingga setiap penilaian diusahakan se-obyektif mungkin entah penilaian terhadap perasaannya, pemikirannya, kondisinya, ataupun penilaiannya terhadap orang-orang lainnya. Hal ini untuk menghindari segala bentuk kekacauan (mis. konflik batinnya) yang timbul kelak karena di langkah awalnya ia sudah salah menilai (kurang obyektif, karena terburu-buru) terhadap kondisi itu.

  6. @Datas: Tulisan di atas justru bertolak-belakang dengan pandangan Anda. Penilaian subjektif atau objektif tidak ada bedanya; keduanya adalah penilaian. Selama problem-problem psikologis kita coba selesaikan dengan penilaian (seobjektif apapaun) atau pikiran (sepositif apapun), di sana belum ada pemahaman total akan masalahnya dan problem-problem psikologis itu tidak akan berakhir.

  7. Bukannya yang sedang dibicarakan adalah, kondisi “normal” bukan kondisi tidak “normal” (atau menurut tulisan pastor, adanya problem psikologis, karena topik sedang membicarakan tentang kondisi “normal”) bukan? Tingkat problem psikologisnya masih dalam taraf “normal” bukan?

    ====

    Untuk tingkat problematik “normal”, menurut saya penilaian subyektif berbeda dengan penilaian obyektif karena untuk menilai obyektif dibutuhkan perbandingan data-data lainnya bukan sekedar sumber data diri sendiri (subyektif) yang lebih sedikit.

    Seperti sudah saya tuliskan, manusia tidak punya kebenaran mutlak (tidak seperti Yesus; that’s why Roh Kudus diutusNya untuk membimbing Gereja, memberi keputusan benar dari sekian data-data yang ada), sehingga diperlukan data-data lainnya untuk dapat memilih data yang paling tepat (seobyektif mungkin). Bukannya bermitasi pun dapat diterjemahkan sebagai, mencari-cari data-data lainnya untuk dapat memilih dari sekian data yang paling tepat (seobyektif mungkin, mendapat pencerahan; pencerahan = berhasil memilih data tepat baginya)?

    Selain itu, kemampuan menilai adalah salah satu bentuk free will yang diberikanNya? Misalnya, orang menilai suatu hal, kemudian dengan freewill orang itu memberikan keputusan bahwa hal itu benar, setelah benar, orang itu lalu memilih untuk menerima dst (atau bisa juga menolak, atau memilih salah, atau abstain – karena bingung dilema dst).

    Jadi kalo dikatakan karena problem psikologis (kadar “normal”) lantas hasil penilaian obyektif / subyektif menjadi tidak berbeda, apakah lantas kodrat freewill manusianya untuk memberikan penilaian hilang juga? Tidak bukan?

  8. @Datas: Pokok tulisan di atas adalah bagaimana kita memahami atau melihat secara langsung, tanpa intervensi pikiran atau penilaian, tanpa daya-upaya, terhadap suatu fakta. Kalau kita bisa melakukan, maka ada kemungkinan kita melihat langsung suatu kebenaran, tanpa pergumulan, dan kebenaran itu membebaskan.

    Bedakan antara kebenaran konseptuil dan kebenaran non-konseptuil, pencerahan intelektuil dan pencerahan non-intelektuil. Yang kita bicarakan adalah kebenaran non-konseptuil, pencerahan non-intelektuil.

    Untuk melihat secara langsung kebenaran seperti itu, batin musti bebas, tidak dibelenggu oleh pikiran, oleh beban-beban mental, oleh daya-upaya. Anda barangkali akan paham secara aktuil (bukan intelektuil) kalau Anda mengolah kesadaran-meditatif dalam diri Anda.

  9. berbagi pengalaman dlm mengolah konflik batin yg acapkali sy hadapi, saat meminta pendapat orang lain justru menambah konflik baru karena batin semakin crowded. Dg diam dan bebas dari segala macam pikiran, rasa perasaan dan keinginan diri, perlahan batin dapat merasakan ketenangan dan di sana terasa ada kemurnian. Tidak ada lagi ke-pura2an dan formalitas karena tuntutan orang2 di sekitar yang belum tentu juga benar, sebab kebenaran hanya milik Tuhan. Dalam kehidupan ada siang ada malam, ada positif ada negatif, dan tak seorangpun dari kita yang punya kuasa menetapkan siang dan malam, positif negatif selain Tuhan Sang Pencipta.

  10. @Datas: Pokok tulisan di atas adalah bagaimana kita memahami atau melihat secara langsung, tanpa intervensi pikiran atau penilaian, tanpa daya-upaya, terhadap suatu fakta. Kalau kita bisa melakukan, maka ada kemungkinan kita melihat langsung suatu kebenaran, tanpa pergumulan, dan kebenaran itu membebaskan.

    Saya tidak tahu apakah bertindak sebagai “pita perekam” peristiwa (sebut saja demikian) ini bertentangan dengan yang namanya reaksi balik kodrat makluk hidup berakal (atau bertubuh; fana) terhadap sebuah peristiwa, karena saya mengingat akan “Aku Percaya” yang menyebut “tubuh kebangkitan kelak” yang secara implisit menjelaskan keikutsertaan tubuh dalam setiap peristiwa hidup bukan hanya jiwanya saja? Saya tidak tahu apakah metode itu mirip-mirip kontemplasi spiritual timur (misalnya zen, buddha)?

    Saya merasa tindakan “mengosongkan diri” (sebut saja demikian; atau pita perekam peristiwa) ini kurang sesuai kodrat manusia bertubuh yang mem-fokuskan hanya untuk mendapatkan kebenaran non-konseptuil, pencerahan non-intelektuil (sorry rasanya terlalu abstark ya?), dimana tantangan hidup (atau penderitaan hidup) adalah sudah menjadi bagian hidup makluk hidup (fana) sejak dosa masuk ke dunia. Saya yakin adanya alasan logis akalbudi diberikanNya kepada kita walau itu berakibat sisi positif maupun sisi negatifnya (misalnya pergumulan batin).

    Kembali kepada opini saya tentang “terburu-buru” pikiran dalam menilai sebuah peristiwa yang berakibat pergumulan, apakah dalam kondisi “normal” itu pendapat saya sudah benar? Saya hanya ingin tahu lebih jauh untuk mengkaji pemikiran saya saja, terima kasih.

  11. Pak Datas,salam kenal..

    Di sini saya akan memberikan bukti yg konkrit yg bnr2 terjadi pd saya,tnp teori2 dan penilaian2.

    Juli tahun lalu,sy baru mengenal yg namanya meditasi. Jujur, saat itu saya dlm keadaan depresi akut. Orang tdk ada yg tahu krn secara fisik sy sempurna n sehat, Namun tryt scr psikis sy tidak sehat. Sy mempunyai kekhawatiran dan kecemasan yg berlebihan. Menurut orang di luar sy,mrk memberikn penilaian bhw sy orang yg tdk tau bersyukur dan iman yg dangkal.

    Pdhl jujur sj,sy rajin ke gereja,sy berdoa,sy rosario dan sy mencari2 di luar diri sy terus. Smp pd thn 2006,sy takut naik pesawat lg krn sy mrasa tdk bisa nafas,sesek dll. Luar biasa sakitnya bg saya saat itu di dlm pesawat,yg akhirnya mbrikan rasa trauma bg sy,tnp sy sadari.Semenjak itu sy hidup dgn belenggu dan pergumulan batin yg tiada hentinya. Capek bener deh.

    Namun April 2010 ini mama mertua sy meninggal,mau tidak mau saya harus hadir di Medan krn ada acara Adat. Untunglah, Romo Sudri telah membimbing saya mengenal meditasi. Pd hari saya akan naik peawat,sy menangis dan ketakutan krn trauma yg berkepanjangn yg sy alami di luar alam SADAR saya.Namun akhirnya sy Sadar dan masuk dlm keheningan,yaitu meditasi. Di mana sy DIAM,bnr2 DIAM tnp penilaian,tnp penganalisaan,tnp intervensi pikiran. Bnr2 DIAM.Dan akhirnya saya bisa naik Pesawat lg. Bnr2 happy dan Plong banget.

    Maksud Romo tnp ada penilaian subyektif or apapun,dan tdk menganalisa,agar pikiran berhenti utk berpikir yg tdk diperlukn,bukan mengosongkn pikiran.

    Spt saya di dlm pesawat,saya Diam sj,masuk dlm keheningn,bnr2 Diam tp ttp normal. ketika ada rasa haus or ke kamar kecil,ya sy lakukn. Yg namanya pencerahan,adalh di mana akhirnya saya bs sadar kembali,saya sudah sembuh dr sakit psikis sy,tanpa obat2tan,dan sy dpt melakukn aktifitas sy yg skrg ini dgn bnr2 sadar,tanpa harus begini,harus begitu. Sy melakukan tanpa keterpaksaan,tnp kepura2an,tnp memaksakn diri agar sll tampil sempurna dan baik. Saya mlakukan apa adanya diri saya,jd Plong,tnp beban dan dpt SADAR sll. Krn meditasi yg dibimbing Romo adalh meditasi kesadaran 24 jam.sadar ketika makan,sadar ketika mandi,sadar ketika marah dll. Bukan mengosongkan pikiran.Krn slm hidup kita,sll pikiran2 yg cepat masuk dan bekerja dan menganalisa2 yg akhirnya mbuat diri Stres, bingung n cemas,khawatir dll.

    Ok d Pak Datas..Salam kenal ya. Thx n GBU

  12. Terima kasih Aida atas sharing pengalaman mempraktekkan meditasi terhadap pengalaman hidup sendiri.
    Selamat ya dan salam kenal juga.

    ====

    Kurang lebih saya memahami metode meditasi yang disampaikan walau tidak pernah praktek / tahu heheh.., mengendalikan diri sampai tingkat dimana keterlibatan “sosok diri / kesadaran diri” tetap terjaga tanpa campurtangan apapun (mis. akalbudi / emosi). Tidak salah juga disebut sebagai “pita perekam peristiwa” atau diri bertindak sebagai “pengamat” saja terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung di “luar dirinya” sendiri. Diri bukan bertindak sebagai “juri” terhadap peristiwa. Cuma sebagai penonton yang baik saja.

    Metode meditasi ini baik untuk melatih diri supaya mampu menghadapi setiap goncangan peristiwa yang berakibat reaksi (efek; impact) sampai balik ‘memukul’ dirinya (mis. pergumulan batin) yang tentu saja tingkat ‘daya rusaknya’ (impact) bisa berbeda-beda dalam setiap orang. Namun bila meditasi ini dipakai sebagai ‘tools / alat’ melarikan diri dari penderitaan hidup (makluk fana harus mengalami ini) maka menjadi tidak baik lagi.

    Menurut saya lho, sering tanpa disadari kendali titik kesadaran diri ini bisa hilang terbawa oleh “suasana” dikarenakan selama nafas meditasi ini begitu teratur yang meninabobokan sang pelakunya. Contoh malam di Taman Getsemani Yesus menegur para muridNya untuk “hanya berjaga-jaga selama 1 jam” saja namun mereka tertidur. Mereka “terbuai”, terhanyut oleh situasi malam itu. Namun Yesus tidak, kenapa? Karena titik kesadaran diriNya yang terus berjaga-jaga dalam situasi apapun. Dia tidak pernah menyerahkan titik kesadaranNya (“aku” Nya; sama seperti kita ada “aku-nya”; identitas jiwa/roh kita yang serupa dengan gambaran Tuhan kita) kepada situasi apapun.

    Saya cuma khawatir, kebanyakan orang salah menilai metode meditasi sebagai katakanlah, bentuk pelarian dari kenyataan hidup dan memakainya sebagai tool / alat untuk melindungi dirinya (malah mengabaikan) dari penderitaan / tantangan hidupnya. Justru tantangan / penderitaan hidup (ingat lho bukan sengaja dicari-cari ya) sebagai alat pacu untuk makin melakukan peningkatan meditasi hening secara maksimal potensi diri. Sebab tanpa penderitaan hidup, bagaimana orang dapat mengenal Tuhan? Mengenal dirinya? Mengenal sesamanya? Saya percaya pada satu titik sejarah dalam hidupnya seseorang yang mengalami penderitaan hebatnya akan berseru kepada Tuhan (walau orang itu tidak pernah kenal Tuhan sebelumnya). Yaitu dia mengalami bentuk ‘ketidakadilan’ (yang tidak diketahuinya; yang terus-menerus menderanya) yang kemudian dia berseru, “Why?” lalu darisini dia akan menemukan pencerahan bagi dirinya, Tuhan.

    ===

    Bisa disimpulkan dengan mengikuti meditasi (cmiiw) :
    a) diri bertindak bukan sebagai “juri” ya, diri hanya melihat, mengamati, merekam, setiap peristiwa-peristiwa yang berlangsung di depan matanya (di luar dirinya) kemudian duduk sebagai penonton yang manis tanpa keterlibatan unsur-unsur pikiran, emosi, (dll?), tidak seperti nonton sinetron ya (yang sering terbawa emosi). Bukan juga orang dalam kondisi koma, diam, otak lumpuh, kesadaran lumpuh, melainkan dengan tenang menonton peristiwa-peristiwa hidupnya sendiri. Pikiran / emosi boleh bergejolak selama menonton, tetapi jiwanya tenang-tenang saja

    b) namun perlu diingat, titik kesadaran diri tetap terjaga teguh. Sebab, titik kesadaran diri inilah identitas jiwa / roh yang sudah diciptakan dengan baik, dibela-belaNya, dan lebih-lebih tercipta serupa dengan diriNya, jadi jangan dengan gampang diserahkan / dikalahkan oleh kondisi apapun. “aku-nya” tetap sebagai tuan rumah dirinya.

    c) meditasi bukan sebagai bentuk pelarian dari penderitaan hidup (tantangan hidup) melainkan sebagai bentuk untuk mengatasi / menghadapi setiap penderitaan hidup lebih tenang, damai, rendah hati, dan ber-Tuhan (bdk. Mat 11:29). Ini untuk membedakan antara spirtiual timur (zen, buddha) dengan kekayaan spirtiual warisan Gereja kita. Oh ya ini bukan sok ya, Gereja kita memiliki harta warisan spiritual yang sangat hebat, sangat luar biasa, semuanya adalah fasilitas-fasilitas yang telah diberikanNya secara cuma-cuma, orang-orang tinggal menggali dan akan menemukan harta terpendam tiada nilainya. Dan ini bukan ucapan tukang jual kecap / tukang obat, tapi fakta.

    ===

    Oh ya ada metode yang Yesus sampaikan, yang secara harmonis dilakukan,
    1) sangkal diri sendiri
    2) panggul salib sendiri
    3) ikutilah Yesus

    Nomor 1, kekuatan kendali untuk menyangkal diri terletak pada “aku” masing-masing. Jadinya “aku” ini samasekali tidak hilang / buram / kosong sewaktu melakukan penyangkalan diri, how come? Nah silakan dimediatifkan. 2Tim 1:12 (karena aku tahu kepada siapa aku percaya).

    Nomor 2, kemudian dengan titik kesadaran yang ada memanggul salib (tantangan / penderitaan) hidup sendiri. Jadi jangan karena meditasi malah bentuk tantangan / penderitaan hidup menjadi tidak perlu lagi, ini malah ngawur. Istilah kasarnya, manusia harus siap menderita. Sama seperti Tuhan yang mau menderita. Tetapi jangan sok cari-cari penderitaan, “jauhkanlah kami dari pencobaan dan bebaskan kami dari yang jahat”.

    Nomor 3, yang terpenting, tanpa mengikuti Yesus maka 2 nomor sebelumnya menjadi sia-sia. Walau dia mampu menjadi setenang patung di hadapan peristiwa hebat sekalipun, namun jiwanya tidak terpimpin menuju ke tempat yang benar (terang) sebab dia belum pernah tahu tempat benar / terang bukan? Hanya Yesus yang tahu. Yoh 15. Pokok Anggur. Ini maksudnya supaya metode yang dijalani tidak subyektif sifatnya melainkan obyektif dengan adanya data-data yang bersumber dari Pokok Anggur ini. Sebab saya hanya khawatir metode meditasi yang dilakukan sering berakhir subyektif (like zen).

    ===

    Intinya, patut diperhatikan bahwa seluruh potensi diri (entah akalbudi, emosi, kehendak dst) adalah talenta pemberianNya, pergunakanlah seluruhnya untuk mengasihiNya. Jangan dibuang atau malah diabaikan. Justru sisi negatif atau positifnya tidak bergantung dari ‘tools’ ini, melainkan bagaimana seseorang secara bijak mempergunakan ‘tools’ ini untuk dirinya, sesama, dan utk memuliakan Tuhan. Ada alasan logis seluruh ‘tools’ ini justru diberikanNya. Tidak baik membuang ‘tools’ ini. Santo Paulus berkata, “sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor 12:10).

    Contoh, bayangkan bila seseorang tidak pernah tahu rasa ‘cemas’, apa jadinya dirinya?
    Justru kecemasan bisa ada dan berguna sebagai level pertama untuk perlindungan dirinya, dan akan berguna untuk mencari sumber-sumber kecemasan itu sendiri (secara obyektif), dan bahkan akan menemukan Tuhan (bdk. Luk 12:26), dst.

    ===

    Mohon komentarnya, terima kasih.

  13. Pak Datas,apa khabar?smg sehat2 sj ya.

    Terima kasih atas tulisannya.

    Kl boleh saya sharringkan kembali pengalaman dan apa yg saya dptkn dlm meditasi.

    Meditasi bukan pelarian bg saya bukan pengendalian or penguasaan diri. Meditasi bg saya adalah mengenal diri. Seluruh gerak dan rasa perasaan yg ada pd saya,dpt sy sadari,tnp sy respon,tnp saya analisa,tnp saya hindari/tolak.

    Jd ketika saya masuk dlm meditasi,sy bukan menyerahkn AKUnya or EGO sy. Sy tdk pakai teori2. Seluruh pemahaman or ajaran2 yg pernah sy terima, saya luruhkan,dlm artian sy lepaskan or tanggalkan… Mk stlh itu,saya akan mendapatkan sesuatu,yg entahlah itu pencerahan atau suatu keputusan yg dpt diambil dgn lbh bijaksana.

    EGO or Ke AKUAN,diperlukan dlm kehidupan. Namun jk sudah berlebihan,itu tdk baik. Spt contohnya, rasa iri,adalh hal yg wajar bg setiap manusia dan pst ada. Namun jk tidak kita SADARI seluruh gerak batin dan rasa perasaan tsb,mk rasa iri ini akan mjd tdk baik,sirik,dengki dan merusak semua sistem di dlm diri.Ini hny contoh kecil. Itulah fungsi dr meditasi,di mana kita dpt myadari seluruh gerak batin dan rasa perasaan.

    Sy ksh contoh kasus. hr sabtu kemarin,mobil saya diserempet orang. Anak sy kaget krn posisinya mobil sy diam mbrikan ruang bg bapak tsb utk maju. Namun bapak tsb trnyt tdk menyadari batinnya. Dia ttp maju,smp kegores panjang di mobil dia. Saya turun,dan sblm sy sempat berkata apa2..bapak ini marah2 sm sy smbl membanting pintu mobilnya. Namun sy liat dia gemetaran tangannya,dan sy tau dia mencoba menutupi kesalahannya dgn melabrak sy duluan..Sy gak marah2..sy dpt bersikap tenang,dan saksi2 byk membela saya. Akhirnya suami sy datang dan mjelaskan bhw kesalahan telak ada pd bpk tsb krn goresan panjang di mobilnya,menandakan dia setir mobil dgn emosi.Kl bpk msh ngotot,kita selesaikn scr hukum. br dia minta maaf. Kl dia sadar,mk goresan di mobilnya tdk akan panjang. Begitu dengar bunyi serempet,dia pst akan berhenti. Namun krn dia GAK SADARI EMOSInya,dia teruskn serempetannya.

    Akhirnya bpk tsb minta maaf dan sy jg gak marah2.

    Itulah untungnya sy dpt mengenal meditasi kesadaran. Dulu,ketika saya blum kenal,ada yg senggol sy pst marah dan gak ada ampun saya pst akan ksh pelajaran dan tdk akan mau kalah.

    Jd ketika masuk dlm keheningan,gak perlu mencari2,gak perlu dibawa pemahaman2 or teori2. Hal2 yg tdk baik pd diri kita nantinya akan keluar. Shg kt menjadi manusia yg lbh baik,lbh sadar,lbh sabar,lbh iklas dll. Walaupun pst msh ada EGO,itu hal yg manusiawi kok,namun tdk berlebihan.

    Itulah sedikit sharing sy. Terima kasih ya. GBU

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>