Memahami Perasaan Bersalah

Perasaan bersalah dalam moral-individual menduduki peran penting. Orang yang sengaja berbuat jahat dan tidak pernah merasa bersalah atas kejahatan yang pernah dibuatnya atau malah bangga atas perbuatannya, dianggap tidak bermoral. Misalnya, orang sengaja menyakiti orang lain dan justru bangga atas perbuataannya; orang seperti itu dipandang tidak baik sebagai manusia. Kalau orang mengakui kejahatan di masa lampau sebagai kejahatan dan orang menyadari kesalahannya, maka ia dipandang bermoral.

Pada umumnya orang merasa bersalah karena telah berbuat sesuatu di masa lampau yang dianggapnya berdosa atau keliru. Orang juga bisa merasa bersalah karena tidak berbuat sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan di masa lampau. Misalnya, orang bisa mencegah tindakan tidak adil yang menimbulkan korban tetapi tidak mengambil tindakan apapun untuk mencegahnya meskipun seharusnya bisa dilakukan.

Perasaan bersalah bukan hanya disebabkan oleh pandangan yang kurang tepat tentang dosa, konsep baik atau buruk, tetapi juga gambaran-gambaran ideal tentang diri. Misalnya, ketika orang memiliki gambaran diri ideal sebagai pribadi yang sederhana, maka orang bisa merasa bersalah karena makan makanan yang enak, menikmati liburan mewah, menikmati hiburan yang menyenangkan, dst.

Perasaan bersalah sering dipandang sebagai manifestasi dari suara hati. Suara hati dipandang jauh lebih dalam dari pada sekedar rasa perasaan. Ia adalah pengertian konkret tentang baik dan buruk mengenai suatu perbuatan konkret. Ia muncul seperti seruan yang memaksa untuk didengarkan, entah orang suka atau tidak suka. Namun suara hati itu sendiri juga bisa salah karena suara hati tidak lain adalah ingatan bawah sadar akan nilai-nilai yang dibentuk dari dalam atau dipaksakan dari luar. Maka perasaan bersalah sesungguhnya tidak lain merupakan proyeksi atas reaksi ingatan akan nilai-nilai yang dibatinkan dalam diri seseorang terhadap peristiwa yang telah lewat.

Perasaan bersalah akan selalu datang seperti bayang-bayang ketika batin lebih mementingkan gambaran ideal daripada apa yang faktual. Dari kecil kita dididik untuk berjuang mencapai cita-cita dalam hal duniawi maupun rohani, hal fisikal maupun non-fisikal. Dalam kehidupan batin, kita memiliki gambaran-gambaran ideal yang dipaksakan dari luar maupun kita bangun sendiri dari dalam. Keluarga, sekolah, agama, masyarakat memaksa kita untuk mengejar kebaikan dan menjauhi kejahatan. Lalu orang secara pribadi membatinkan nilai-nilai yang dianggap luhur dan berjuang untuk hidup sesuai dengan cita-cita tersebut. Ketika cita-cita tidak terwujud atau kenyataan berbeda dari gambaran yang diidealkan, muncullah rasa bersalah.

Ketika perasaan bersalah muncul, orang dibuat tak-berdaya. Upaya untuk melawan perasaan bersalah justru makin membuat tersiksa, depresi atau frustrasi. Niat baik atau perubahan di masa depan yang dicetuskan hanya melulu karena rasa bersalah tidak cukup kuat untuk mengubah tindakan secara signifikan. Banyak orang sudah terbiasa mengalami perasaan bersalah, namun batinnya tetap tidak berubah.

Perasaan bersalah tidak membawa perubahan diri, tetapi justru memperkuat diri. Ketika perasaan bersalah itu mendera, kita sering mengatakan, ”Aku jahat. Aku tidak berharga. Aku merasa malu.” Diri yang disakiti perasaan bersalah ingin keluar dari kesakitan itu dengan menolak atau mengatasi perasaan bersalah. Bukankah diri yang mau ditundukkan tidak berbeda dari diri yang ingin menundukkan? Bukankah akan tetap ada perasaan bersalah selama diri masih ada?

Perasaan bersalah itu sendiri justru menggeser fokus perhatian dari apa yang faktual kepada apa yang ideal. Apa yang faktual hanya dilihat dari ingatan bawah sadar akan baik dan buruk yang diproyeksikan dalam rasa bersalah dan fakta itu sendiri tidak terpahami sepenuhnya. Jadi perasaan bersalah bukan hanya memperkuat diri tetapi juga melanggengkan fakta itu sendiri yang sebenarnya terus berubah.

Masa lampau telah lewat dan bukan lagi sebagai kenyataan sekarang. Diri yang sekarang berbeda dari diri yang dulu berbuat salah. Bukankah diri anda yang sekarang bukan kelanjutan dari diri yang lama? Kalau diri yang sekarang ini sama dengan yang dulu, maka anda masih akan tetap melakukan tindakan yang sama. Diri yang dulu berbuat salah sudah berakhir. Anda sekarang berbeda. Apakah orang yang bertindak sekian waktu yang lalu sama dengan anda yang sekarang? Bukankah diri anda yang sekarang sudah berbeda dari diri anda yang kemarin? Dan diri anda yang sekarang bukankah juga terus berubah?

Perasaan bersalah merupakan proyeksi gambaran diri masa lampau yang terus kita bawa-bawa. Kalau diri yang tidak berbeda dari ingatan masa lampau ini berakhir, bukankah perasaan bersalah juga berakhir? Kalau kita membuang gambaran-gambaran ideal tentang diri dan fakta dilihat sebagai fakta apa adanya, bebas dari gambaran ideal tertentu, bukankah kita sepenuhnya hidup bersama fakta? Ketika fakta kita lihat tanpa reaksi ingatan akan nilai-nilai tertentu, bukankah terjadi perubahan seketika tanpa sempat menimbulkan rasa bersalah? Kalau kita berubah dari saat ke saat bersama dengan fakta-fakta, masihkah gambaran-gambaran ideal kita butuhkan?*

18 Responses to “Memahami Perasaan Bersalah”

  1. Thanks Romo, bacaan diatas sungguh mengajak sy n para pembaca
    untuk menghidupi sisa waktu yg ada dg.”mantap”, karena setelah membacanya, sy merasa diingatkan kembali.. untuk hidup “saat ini” saja, tanpa ms. lampau n ms.mendatang,so, kembali aja n nikmati kala kini “opo anane”

    Suwun Mo,

  2. Dahulu rasa bersalah terus-terus menghinggapi”diri’ini.
    Kemana melangkah&apa saja yg kuucap”jangan-jangan’aku’ bersalah”?tidak boleh begini-begitu hidup terus-terus tertekan,karena gambaran-gambaran ideal.

    Sekarang”diri”ini disentuh oleh dimensi didlm batin,dengan hening Roh Allah memberikan sinarnya dibukakan pintu kesadaraan ini dari saat ke saat.Sehingga rasa perasa yang datang apapun itu terus-terus ku belajar untuk memahaminya.

    thanks a’lot

  3. Romo… Mohon maaf sebelumnya… Boleh saya minta langgsung apa yang harus saya lakukan dalam keadaan bersalah… Untuk saat ini saya sulit berfikir dengan baik…

    Terimakasih…

  4. @Leo: Apa yang sekarang ini Anda lakukan dengan perasaan bersalah itu sendiri ketika ia datang mendera Anda?

  5. Dear Leo,
    Jika ada waktu dan ber kenan,bisa dtg hr Sabtu pk.7 am
    di gd. Yos ,disitu kita bs berlatih untuk tdk ber pikir2
    yg membuat kita tdk habis pikir….kita bs melatih ,mengasah
    diri untuk selalu “SADAR”….anda mgkn bs memetik/memanen
    hasilnya kmdn….See U..

    salam…

  6. Salam hangat, Romo J. Sudrijanta, SJ

    Saya sangat senang membaca artikel Romo, tema yang Romo angkat membahas tentang rasa bersalah yang timbul akibat dari sgala ingatan-ingatan kesalahan yang dibatinkan oleh manusia itu sendiri.

    Sangat menarik, Romo saya sering mendengar statement dari orang-orang yang mengatakan hati merupakan singgasana suci bagi kediaman Allah dan saya juga sering melihat lukisan Katolik yang menggambarkan sosok dan paras Yesus dan Bunda Maria dengan Hati yang bercahaya dan bermahkotakan duri.

    Apakah ini hanya sekedar simbol belaka dan hanya untuk memperindah lukisan yang tidak memiliki makna luhur?

    Pertanyaan saya di atas sehubungan dengan pernyataan artikel Romo mengenai suara hati yang bisa salah/tumpul.

    Kadang kala saya merasa bingung posisi Tuhan dalam kehidupan manusia, jika semua hal yang ada dalam diri manusia akhirnya harus di kendalikan dan di kontrol atau di manage oleh manusia itu sendiri. Itu kesan yang saya baca dari Artikel Romo di atas.

    Hal ini juga sudah sempat saya diskusikan pada artikel Romo terdahulu “Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis”

    Lalu, apakah makna fungsi penciptaan itu sendiri jika Tuhan berada/ berkedudukan di luar pribadi manusia itu sendiri?

    karena akhirnya kesan yang saya dapat setelah membaca tulisan Romo menjadikan tidak adanya campur tangan Tuhan di dalam kehidupannya karena di akhir tulisan Romo mengajurkan manusia harus hidup dengan fakta-fakta yang ada sekarang/moment saat ini. (saya tidak menemukan Tuhan Mystical di sini karena fakta-fakta dalam kehidupan manusia kadang kala sangat sulit di korelasikan dengan keberadaan Tuhan).

    Saya sangat berharap Romo berkenan menanggapi hal-hal yang mungkin saya tidak mengerti dari arah pembahasan tema artikel yang Romo tuliskan.

    Salam hangat,

    V. Hutabalian

  7. Anda tidak cermat membaca tulisan-tulisan saya. Tulisan-tulisan tersebut tidak mengajak orang untuk mengendalikan atau mengontrol atau me-menage diri, melainkan mengajak untuk “mengenal”, “memahami” atau “menyadari” gerak diri. Anda tidak akan bergerak jauh dalam mengenal “Tuhan mystical” kalau Anda tidak mengenal diri, termasuk diri Anda yang melekat pada konsep-konsep tentang Tuhan di kepala Anda.

  8. Salam hangat , Romo J. Sudrijanta, SJ

    Terima kasih, saya sangat berbangga hati atas kemurahan hati Romo menanggapi hal-hal yang saya pertanyakan. Mungkin pikiran dan hati saya tidak terkorelasi dengan baik, sehingga sulit bagi saya sampai saat ini memahami karya kasih Tuhan terhadap diri saya.

    2 artikel yang Romo tuliskan sangat mengena terhadap keberadaan saya saat ini, makanya timbul begitu banyak pertanyaan ketika membaca artikel Romo. Karena kedua tulisan Romo ini merupakan pondasi dasar dalam membangun karakter mental manusia secara pribadi, sosial dan keimanan akan Tuhan.

    Konsep-konsep Tuhan yang ada di kepala saya ini dibangun akibat benturan-benturan pengalaman kehidupan pribadi dan sosial yang saya hadapi hingga saat ini.

    Salam hangat,

    V. Hutabalian

  9. Dear Romo,

    Apabila perasaan bersalah itu datang mendera saya, kadang saya melakukan hal2 berdosa, pergi dugem, minum 1 xtasi, minum2 bir dan pulang ke rumah marah2 dengan istri. Sering kali terulang dan tidak tahu bagaimana utk berhenti nya ?

  10. Dear Munthe,

    Sori dori mori, aku ikutan njawab.

    Biasanya kami mengajarkan yang demikian terhadap anak-anak kami: kalau sudah sadar bahwa sudah berbuat salah ya mengakulah dosa. Maka sejak kecil mereka biasa duduk berdoa tobat setelah melakukan kesalahan. Setelah itu mereka kami cium untuk mengatakan bahwa mereka tetap kami cintai walaupun berbuat salah tapi ya mesti tobat. Dengan begitu mereka bisa jujur kepada dirinya sendiri dan lepas dari perasaan bersalah yang berkepanjangan. Mereka tau betul bahwa hubungan kasih di antara kami itu jauh lebih penting dari pada lekat pada dosanya. Pada kenyataannya tentu ada kesalahan yang dibuat lagi dibuat lagi, tapi setidaknya perasaannya bisa selalu gembira dan mereka sebetulnya bertekad untuk tidak salah lagi.

    So, cobalah untuk menyadari bahwa Tuhan sangat mengasihi anda. Bila perasaan bersalah datang, pikirkan baik baik bagaimana memperbaiki apa yang salah. Pergilah ke Sakramen Tobat dan kembalilah kepada Tuhan. Bagaimana pun juga pelampiasan semata tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah memperburuk diri sendiri dan relasi dengan orang lain.

    Salam berkah Dalem, rin

  11. Dear Romo,

    tolong di doakan keadaan saya, saya di kejar seseorang yg di utus, karena perbuatan masa lalu saya di perusahaan lama di tempat dulu saya bekarja yg katanya melanggar UU ITE. Keluarga saya sudah mendatangi perusahaan tsb utk minta maaf, akan tetapi perusahaan tsb menyuruh orang2 kasar utk menakut2i keluarga saya terutama ke2 orangtua saya. Saya hanya serahkan semuanya kepada Tuhan. Saya mohon di doakan.

  12. Dear Romo,

    Mohon pencerahannya romo, kalau kita dimasa lampau pernah berbuat salah yang mengakibatkan seseorang yang paling dekat sakit hati dan luka batin yang mendalam. Dan kita telah mengakui semua perbuatannya yang salah, dan terus menerus meminta maaf terhadapnya, dan terutama telah mengaku dosa dan bertobat kepada Tuhan, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi berusaha berbuat yang lebih baik, dan yakin yesus telah mengampuni juga. Karena seseorang yang disakiti sepertinya belum dapat mengampuni secara utuh, karena pada saat tertentu dia dapat menerima dan saat tertentu pula dia tidak dapat mengampuni dan benci thp kita sehingga kita terus merasa dihantui oleh perasaan bersalah terus-menerus pada saat dia teringat perbuatan kita pd masa lalu. ditambah dengan kondisi ekonomi yg sangat sulit dan relasi yang tidak baik pada saat ini. Di saat itu pula kita merasa frustasi dan tidak berguna lagi, depresi karena telah menyakiti dan menghianati seseorang yang terdekat. bagaimana romo seharusnya yang dapat kita lakukan agar kita tidak rendah diri,frustasi,sedih. sehingga dapat mengganggu kehidupan kedepannya.

    Terima kasih

    salam hangat

    iyus

  13. Dear Iyus,

    Sambil menunggu jawaban romo, ini idea dariku ya:

    1. Bahwa anda sudah bertobat sungguh dan menjalani sakramen tobat, itu baik. Dengan begitu anda boleh percaya sungguh bahwa Tuhan sudah mengampuni dosa anda. Lakukan proses rekonsiliasi yang benar dengan Tuhan dan sesama. Kalau sudah, maka hendaknya anda sudah siap untuk hidup baru, artinya luka sudah sembuh atau proses penyembuhan dan sudah membuat ancangan untuk goal setting baru dalam hidupmu.

    2. Pisahkan kenyataan no. 1 dari ternyata orang yang anda sakiti masih menyimpan luka. Bahwa dia masih terluka walaupun anda sudah minta maaf, SEBETULNYA itu di luar area kontrol anda. Anda tidak bisa mengontrol hatinya. Yang bisa anda lalukan tinggal MENDOAKAN dia, menolong dia untuk sembuh sejauh bisa.

    Bagaimana menolong orang yang luka hatinya?
    1. Mungkin dengan sementara waktu menjauh sehingga dia cukup waktu dan kesempatan untuk tidak melihat anda sehingga tiap kali pedih hatinya.

    2. Mungkin dengan memberinya kesempatan bersosialisasi dengan teman teman lain sehingga dia bisa bergembira bersama orang lain.

    3. Mungkin dengan tetap bertemu dia, aktif memberikan pertolongan dan menggembirakan hatinya dengan banyak canda.

    Masalahnya, hatinya ada di luar kontrol anda sehingga sebanyak apapun anda mengajaknya bercanda BELUM TENTU dia senang, bisa bisa malah tambah BT. Maka, itulah sebabnya banyak orang yang setelah melakukan kesalahan besar kemudian memilih pergi dari kehidupan orang yang disakitinya. Pertama mungkin saja memang si bersalah itu pengecut. Tapi mungkin juga dia sebetulnya sayang kepada orang yang disakitinya maka si bersalah berusaha memberikan ruang bagi si korban untuk rekonsiliasi dan penyembuhan luka batinnya.

    Kita manusia dikasihi oleh Tuhan. Bahwa dulu pernah salah dan sudah diampuni, berbahagialah karena besarlah Kasih Tuhan kepadamu dan jadikan itu pelajaran untuk lebih mengasihi Tuhan, sesama dan diri sendiri. Tidak perlu menyiksa diri dengan terus terusan merasa salah. Bila anda lekat pada perasaan bersalah maka akhirnya anda akan frustrasi sendiri.

    OK, selamat hidup baru dalam Tuhan dan SEMANGAT PAGI!

    Salam berkat Tuhan, rin

  14. @Munthe dan Iyus: Apakah Anda betul-betul “sadar” akan rasa bersalah saat ia datang mendera Anda? Kebanyakan dari kita hanya berteori, berpikir, menganalisa rasa, tapi tidak “sadar”. Kalau kita masih menganalisa, mengontrol, membuang, melarikan diri, melekat pada gambaran-gambaran diri, dst maka di situ tidak ada “sadar tanpa daya upaya”. Rasa salah lalu tidak terpahami dan ia terus masih akan mendera kita. Bisakah kita “sadar tanpa daya upaya” ketika rasa salah itu muncul?

  15. dear Iyus

    Jujur sy pernah merasakan apa yg anda rasakan. Sampai2 membenci diri krn telah mlakukan hal yg tdk baik.,sy sangat menderita,sampai saya diberikan obat tidur alias obat penenang. sy minum. bukannya sembuh,malah tambah sakit kepala. Krn obat hny membantu sebentar dan kemudian timbul lg rs sakit tsb.

    Namun stlh saya setiap saat menyadari rasa perasaan dan pikiran yg muncul,lambat laun ada kesembuhan pd sy. Tdk instant,krn itu sdh mengakar kuat dlm pikiran sy. naik turun. krn ketika itu muncul,rasanya sakit. namun trnyata penyembuhan buat saya.

    Masing2 orang punya caranya sendiri2 dlm penyembuhan.Ada yg melalui ret2,rosario,karismatik maupun meditasi kesadaran. sadar ketika batin tersiksa,shg tdk cari pelarian.

    Smg anda diberi kekuatan,kesabaran dan kesadaran dlm melalui proses pemulihan anda yg mengarah kpd pertobatan.Intinya Sadar setiap saat ketika Pikiran dan Perasaan bersalah muncul.

    GBU..

  16. Salam damai Romo,

    Mohon penjelasan dan pencerahan lanjutnya….
    Perasaan bersalah bukan hanya disebabkan pandangan yg kurang tepat ttg dosa tapi juga ttg gambaran2 ideal menurut Diri.

    Mengenal Diri dimungkinkan dng memahami dan menyadari gerak Diri. Untuk betul2 “menyadari/sadar”, maka sadar tsb adalah “sadar tanpa daya upaya” yaitu yg bukan berteori, menggunakan pikiran (“Aku”/Ego) atau menganalisa hingga kebenaran dari dlm hati yg akan muncul. Hakekat dr kebenaran dari dlm hati adalah jernih, jujur dan ada keterbukaan utuh.
    Ketika “sadar” kebenaran dlm hati itu muncul, tanpa daya upaya adakah dorongan dan (sebenernya) juga kekuatan dlm hati tiap org utk mengubah yg salah dan melakukan perbaikan dng berperilaku yg seturut kebenaran hati itu yg akn terus mengarah ke perubahan fundamental (= pertobatan total)?

    Romo bila ada rasa bersalah yg masih mendera bila sdh betul2 ‘sadar’, adakah krn dlm kenyataannya perilaku masih melawan dorongan hati atau ada pengabaian/ketidak-pedulian trhdp kebenaran dari dlm hati krn kebiasaan melawan/mengabaikan tsb maka pola dan perilaku yg lama atau ‘modifikasi’nya, yg sesuai keinginan “Aku”/Ego yg masih terus terjadi berulang?
    Bila keadaan itu berulang, sering kata ketidak-berdayaan sbg manusia atau tidak terpenuhinya gambaran2 ideal menurut Diri menjadi dasar utk dijadikan alasan dan memihak penguatan keinginan ”Aku”/Ego.
    Dan dalam keadaan itu, mungkinkah krn gambaran2 ideal menurut Diri yg tidak terpenuhi (atau ketidak-puasan dan terus mencari yg lebih/ideal) kemudian memampukan orang berbuat dosa yg kemudian bisa saja menimbulkan perasaan bersalah?

    Mo, apakah org yg sungguh mengaku dosa dng menerima sakramen tobat dan tanpa menerima sakramen tobat akan berbeda dlm salah satu usaha pemulihan dan pertobatan total?
    Terimakasih….

    paupaw

  17. @Paupaw: Perubahan total atau pertobatan total terjadi ketika terjadi mutasi kesadaran, dari kesadaran sehari-hari yang melibatkan subjek dan objek ke kesadaran di luar kesadaran sehari-hari yang tidak melibatkan subjek dan objek, tanpa ego/diri/pikiran, tanpa daya-upaya, tanpa gambaran ideal. Perubahan yang digerakkan oleh daya-upaya, ego/diri/pikiran, gambaran ideal tidak membawa perubahan total.

    Bagi orang Katolik sakramen rekonsilisasi bisa menjadi alat bantu untuk mengatur hidup lebih baik. Tetapi dampak perubahan dari sakramen rekonsiliasi kurang efektif selama orang tidak mengolah kesadarannya.

  18. ow…..ternyata rekonsiliasi akan menemukan titik hidupnya ketika muncul ksadaran total yang seringkali tak dkenali ya moooo……halah…halah…pantes adza……selama ini ada yang drasa menggantung……

    thanks romo^^

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>