Memahami konflik dan keterpecahan batin

Apakah ada konflik dan keterpecahan dalam keluarga Anda, di sekolah Anda, di lingkungan tetangga Anda, di kantor Anda, di lembaga keagamaan Anda, di organisasi Anda? Bukankah konflik ada di mana-mana? Bukankah kita biasa hidup di tengah konflik sejak kecil hingga sekarang?

Mari kita bertanya bisakah kita hidup sepenuhnya bebas dari konflik sekarang juga? Apakah itu pertanyaan yang mustahil? Kalau kita dengan serius mengajukan pertanyaan yang mustahil untuk kita selami, maka ada kemungkinan kita mendapatkan daya terang yang mustahil, daya terang yang muncul di luar keterbatasan pikiran dan pengalaman. Kembali kita bertanya pada diri sendiri, bisakah kita bebas sepenuhnya dari konflik sehingga kita bisa hidup dalam kebebasan, damai, dan keutuhan dalam setiap relasi kita di keluarga, di sekolah, di kantor, di tengah masyarakat, di tengah lingkungan hidup pengaruh kita?

Tidak mungkin kita hidup dengan batin yang utuh, damai, dan bebas kalau batin kita dipenjara oleh konflik dan keterpecahan. Oleh karena itu, kita perlu memahami proses-proses konflik dan keterpecahan batin ini dan bertanya bisakah proses-proses itu berhenti seketika setiap kali kita mengolahnya.

Paham yang salah

Kebanyakan orang hidup dengan formula yang salah, termasuk formula tentang konflik. Maka kita perlu menerangi lebih dahulu paham yang salah tentang konflik. Sekurang-kurangnya ada dua paham tentang konflik yang perlu diluruskan.

Pertama, konflik dalam relasi-relasi kita merupakan fakta yang tak terelakkan. Konflik terjadi dimana-mana secara meluas dan turun-menurun. Bukankah kita dididik dari kecil dengan konflik, hidup di tengah konflik, dilatih untuk menciptakan konflik? Oleh karena itu konflik dianggap hal yang biasa. Bahkan seringkali konflik dianggap perlu untuk mencapai suatu kemajuan atau keuntungan.

Kalau kita berpandangan bahwa konflik merupakan hal yang tak terelakkan, maka kita tidak punya energi untuk mengolah hidup batin lebih dalam dan selamanya kita tidak keluar dari konflik. Lalu kita akan terus hidup di tengah konflik dan menciptakan lebih banyak konflik. Kerusakan akan terus terjadi karena kita menipu diri sendiri untuk menggunakan sarana konflik demi kemajuan atau keuntungan diri sendiri.

Kedua, semua konflik disebabkan oleh pihak luar atau factor-faktor di luar. Ketika ada dua pihak yang bertikai, sudah umum masing-masing merasa paling benar dan memandang pihak yang lain salah. Pihak yang satu merasa menjadi korban dan menganggap pihak yang lain sebagai pelaku yang harus bertanggung jawab. Masing-masing merasa paling benar dan memang penilaian mereka benar karena keduanya hanya menilai berdasarkan keterkondisiannya. Namun, keduanya sekaligus juga salah.

Sesungguhnya pihak lain atau factor-faktor di luar hanya menjadi pemicu konflik, tetapi bukan akar dari konflik itu sendiri. Akar konflik ada di dalam batin. Kalau batin terpenjara oleh konflik dan keterpecahan, maka relasi-relasi ke luar juga konflik dan terpecah.

Resolusi konflik

Kalau Anda sedang didera konflik, pendekatan apa yang biasa Anda pakai untuk menyelesaikannya? Mari kita melihat cara-cara umum orang mengatasi konflik.

Dalam kasus konflik di mana salah satu pihak terlalu kuat dan pihak lain terlalu lemah, pihak yang lemah sering mengambil sikap tunduk atau menurut terhadap pihak yang kuat. Sikap ini diambil biasanya ketika pihak yang lemah merasa tidak bisa melangsungkan daya hidupnya kalau tidak berhubungan dengan pihak yang kuat. Sikap tunduk atau menurut ini diharapkan membuat intensitas konflik menjadi berkurang.

Pihak yang merasa diri lebih kuat bisa jadi mengambil jalan dominasi. Konflik dihadapi dengan memperkuat posisi sehinga dengan semakin kuatnya posisi pihak yang satu, pihak yang lain dengan sendirinya bisa ditundukkan.
Kalau masing-masing merasa sama-sama kuat, mereka bisa mengambil jalan kompetisi. Mereka unjuk kekuatan supaya pihaknya menang.

Kalau intensitas konflik tinggi, salah satu atau kedua belah pihak biasanya menghindar atau memutus hubungan untuk sementara. Ketika ketegangan berkurang, kedua belah pihak bisa membuka hubungan kembali.

Kalau kedua belah pihak yang berkonflik berada dalam posisi saling membutuhkan, biasanya orang mencari berbagai cara untuk mengakomodasi keinginan pihak lain atau melibatkan kepentingan pihak lain. Lalu orang berkompromi untuk mencari persetujuan bersama yang memuaskan keinginan kedua belah pihak.

Orang juga bisa mencari berbagai model kolaborasi untuk mendapatkan keuntungan bersama. Model kolaborasi ini hanya mungkin kalau ada cukup kepercayaan, rasa hormat, dan komunikasi di antara pihak-pihak yang bertikai. Dengan adanya keuntungan bersama yang bisa dibagi atau dinikmati kedua belah pihak yang bertikai, diharapkan konflik dengan sendirinya berhenti.

Berbagai model resolusi konflik di atas biasa kita gunakan untuk menyelesaikan konflik entah lewat jalur dialog langsung tanpa mediator, atau jalur mediasi, atau jalur pengadilan. Itu berlaku baik dalam resolusi konflik antar pribadi ataupun antar kelompok.

Metode di atas hanya mengolah faktor-faktor pemicu konflik, tetapi belum menyentuh akar konflik. Kalaupun dicapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak atau kedua belah pihak merasa sama-sama menang, resolusi konflik tersebut masih menyimpan potensi konflik selama akar konflik yang ada dalam batin setiap pihak yang bertikai tidak diolah.

Akar konflik
Ketika didera konflik, batin cenderung menjauh dari sumber luka, bercerai atau memutus tali hubungan, berkompromi, tawar menawar untuk berkolaborasi, tunduk atau menurut, memperkuat kompetisi atau dominasi, dan seterusnya. Bukankah konflik masih ada di sana? Kebanyakan pihak yang bertikai hanya mencari solusi yang dangkal. Konflik dianggap selesai dengan menjauhkan faktor-faktor yang memicu konflik, tetapi bukan mencabut akarnya.

Apa akar dari konflik? Konflik kita kenali ketika hati kita terluka, terganggu, terkoyak, kecewa, sedih, depresi, putus asa, dan seterusnya. Ketika merasa senang, puas, aman, kita tidak sadar adanya konflik. Ketika apa yang kita inginkan itu terhalang, kenikmatan atau kepuasan terganggu, keamanan terkoyak, maka muncul kesedihan. Ketika hati sedih atau terluka, barulah kita sadar ada konflik. Selama kenikmatan terus berlanjut, bukankah kita tidak sadar adanya konflik? Padahal dalam setiap kenikmatan psikologis, di sana terdapat kepahitan psikologis.

Bukankah keinginan untuk mengejar dan mempertahankan kenikmatan psikologis menjadi sumber konflik? Ketika batin mengejar kepuasan psikologis, kenikmatan psikologis, keamanan psikologis, bukankah di sana sudah ada konflik? Dalam proses pemenuhan kepuasan psikologis, bukankah konflik itu sudah berlangsung? Bukankah batin yang mengejar “apa yang ideal” menjauhkan dari “apa yang faktual” dan proses batin tersebut menciptakan konflik dalam dirinya sendiri?

Setiap konflik batin dan konflik dalam setiap relasi-relasi berakar pada orientasi kejiwaan untuk mencari atau melindungi kenikmatan psikologis. Untuk apa kita membangun relasi dan mempertahankannya? Kita memiliki hubungan dengan pasangan hidup, anak, sahabat, rekan kerja, masyarakat, Tuhan, nilai-nilai, tradisi, agama, uang, harta kekayaan, dan seterusnya. Apakah kita mencari kenikmatan psikologis, kepuasan psikologis, rasa aman psikologis, kepastian psikologis lewat hubungan-hubungan itu?

Kalau kita berhubungan satu dengan yang lain atas dasar keinginan untuk memuaskan hasrat, nafsu atau keinginan kita, maka hubungan-hubungan kita terus diwarnai oleh konflik. Bisakah kita melihat kepalsuan dari proses-proses batin ini dan menyelesaikan seketika? Bisakah kita melihat kepalsuan dari keinginan mengejar kenikmatan psikologis dan keluar secara alamiah dari penjara konflik batin?

Lewat konflik, kita menjadi sadar akan keterpecahan batin kita. Selama ada rasa diri sebagai pusat tindakan, maka batin kita terpecah karena diri adalah pusat fragment atau pusat keterpecahan itu. Bisakah setiap konflik yang kita sadari menjadi moment transformasi?*

3 Responses to “Memahami konflik dan keterpecahan batin”

  1. Yth. Romo Sudriyanto SJ.
    Saat ini saya mengalamai konflik yang hebat dengan atasan saya, karena 1 tahun yang lalu saya melamar menjadi Kepala Bagian Pendidikan dan Ka. Litbang di sebuah lembaga pendidikan dengan dijanjikan akan menerima gaji setengah dari gaji pekerjaanku yang lama, test pertama saya diminta membuat web site, OK, tetapi sayangnya yayasan maunya gratis, ke dua minta dibuatkan program kompetensi (jurusan baru) yaitu multimedia, dari membuat proposal, membuat formasi lab Jaringan komputer , membuat rencana Marketing, sampai ke pelaksanaan pengajaran, semuanya sudah kami jalankan. Bahkan untuk projek perdana kami mendapatkan 30 siswa baru, persiswa membayar Rp. 4.000.000 ,- sbg uang pangkal dan uang SPP Rp. 400.000 ,- per bulan. semuanya telah berjalan ( semua masuk ke khas Sekolah ). Namun apa yang terjadi, pimpinan ingkar janji, pada saat saya terima SK pengangkatan guru, saya dianggap guru yunior ( fresh graduate ) yang honornya sama dengan guru yang baru lulus. Sedangkan saya dengan latar belakang pendidikan S2 dan pengalaman mengajar 24 tahun. Waktu saya coba mengkonfirmasi untuk meninjau ulang, yang terjadi saya malah dianggap pembangkang/pemberani, dan sekarang justru mendapat jawaban agar saya pindah ke sekolah lain saja. Saya bingung, apa yang harus saya kerjakan, karena atasan saya ini penuh dengan trik kebohongan ala birokrat era gayus. sekarang saya bingung harus berbuat apa ya Romo. Harus meninggalkan pekerjaan tetapi jadi pengangguran, atau bertahan tetapi kondisi tidak kondusif. mohon Advise. Terimakasih , Semoga Tuhan memberkati.

  2. @Ardiyan: Dalam menjalani hidup kita di tengah dunia yang keras ini, kearifan atau kecerdasan sangat dibutuhkan. Kadang perlu untuk “mengikuti arus” tanpa terseret arus. Kadang perlu “melawan arus” tanpa perlu mengobarkan sikap benci dan permusuhan. Untuk itu perlu kearifan atau kecerdasan.

    Pertama-tama, bisakah Anda melihat konflik di dalam batin Anda sendiri dan menyelesaikan seketika?

    Dalam batin yang bebas, tidak ada konflik. Barulah Anda kemudian berelasi dengan orang-orang lain yang penuh konflik dengan bebas. Batin yang bebas akan tahu tindakan apa yang tepat.

    Pokok perkaranya pertama-tama bukan memutuskan akan tinggal tetap bekerja atau keluar dari tempat kerja. Kalau batin Anda konflik dan konflik itu belum terselesaikan, selamanya Anda kebingungan dalam membuat pilihan. Tetapi kalau batin Anda bebas, Anda tidak perlu lagi memilih karena tindakan apa yang benar sudah jelas dengan sendirinya di depan mata. Jadi batin yang bebas tidak lagi bingung dengan perkara ingin tetap bekerja di tempat yang sama atau ke luar dari tempat kerja.

    Silahkan dicoba.

  3. @Adrian: Pengalaman adalah guru yang baik, tapi membaca posting anda saya agak bingung bahwa anda pindah dengan dijanjikan gaji setengahnya(?) atau ada bagian yang hilang?
    Lalu tentunya dengan pengalaman kerja 24 tahun saya kira anda sudah punya cukup pengalaman pindah pekerjaan ( atau ini pertama kali anda pindah pekerjaan?) Mestinya bila kita pindah ke pekerjaan baru, meski sudah diterima mintalah surat konfirmasi “hitam diatas putih” tentang garis besar pekerjaan, hak dan tanggung jawab saudara serta kompensasi yang saudara terima dan jangan cuma secara lisan saja karena orang cepat lupa dan faktor lainnya. Nah sekarang semua sudah terjadi, seperti yang Romo sarankan diatas, tidak perlu bingung, bereskan konflik yang ada dalam batin anda lalu ambil keputusan, apakah mau” stay”, atau tanyakan pada yang berwenang atau ” resign” . Yah dalam persaingan kerja saat ini, hard working is not enough but we have to be “smart”, maksudnya keputusan anda harus (Specific, Measurable, Achievable, Result oriented and Timely). Nah semoga anda bisa ambil langkah yang baik setelah batin anda bebas.
    Salam, mary

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>