Memahami Habitus Lama dan Habitus Baru
Kebanyakan dari kita memiliki begitu banyak kebiasaan. Ada kebiasaan yang dipandang baik, ada kebiasaan yang dipandang buruk. Misalnya, ada yang terbiasa minum teh atau kopi di pagi hari, terbiasa makan makanan tertentu, terbiasa minum minuman beralkohol, terbiasa mengkonsumsi narkotik, terbiasa melakukan hubungan seks, terbiasa merokok. Ada kebiasaan membuang sampah sembarangan, kebiasaan melanggar aturan lalu-lintas, kebiasaan tidak tepat waktu, kebiasaan berlaku tidak jujur, dst. Anda bisa melanjutkan sendiri untuk menuliskan atau sekedar menyadari kebiasaan-kebiasaan Anda.
Semua kebiasaan atau habitus digerakkan oleh mekanisme pembiasaan dalam batin. Kita berpikir dengan cara tertentu, merasa dengan cara tertentu, bertindak dengan cara tertentu. Bertahun-tahun barangkali kita melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sama. Dan perilaku atau tindakan yang berulang-ulang yang tampak di luar ini merupakan ekspresi dari apa yang tidak tampak dari dalam batin.
Selama tidak ada dorongan dari luar atau dari dalam untuk mengubah kebiasaan, maka kita merasa baik-baik saja. Ketika kita merasa harus berubah, entah karena paksaan dari luar atau keinginan dari dalam, maka kebiasaan itu menjadi masalah.
Karena kebiasaan lama bermasalah, maka kita berjuang untuk mengubah kebiasaan lama. Perjuangan ini membutuhkan waktu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kita bergulat menghentikan kebiasaan lama dan membiasakan diri dengan kebiasaan baru. Tetapi kebiasaan baru itu tidak betul-betul baru karena hanya menjadi penyesuaian dari yang lama.
Kita memiliki kebiasaan lama. Kebiasaan itu menimbulkan masalah. Lalu kita ingin menghentikan kebiasaan lama atau mengubahnya. Lalu kita menciptakan pola baru untuk mengganti pola lama. Tetapi tindakan baru yang dihasilkan tidak keluar dari pola tertentu. Kebiasaan lama diganti dengan kebiasaan baru, tetapi tindakan itu tetap tidak keluar dari penjara pola kebiasaan tertentu.
Bisakah kita bertindak bukan berdasarkan pola tertentu, entah pola lama atau pola baru? Bisakah tindakan kita bersumber bukan dari kebiasaan, entah kebiasaan lama atau kebiasaan baru, sehingga tindakan itu sungguh-sungguh baru?
Kita terbiasa menyimpan kenangan-kenangan psikologis dan bereaksi terhadap tantangan menurut memory psikologis. Batin kita tidak sungguh-sungguh berubah kalau beban-beban memory psikologis ini tidak dibersihkan. Perilaku atau tindakan yang betul-betul baru tidak mungkin muncul selama suatu tindakan hanya menjadi reaksi atas memory psikologis.
Menciptakan kebiasaan baru hanya dengan mengubah pola lama dan menyesuaikan dengan pola baru tidak akan menciptakan tindakan yang sungguh-sungguh baru. Agar tindakan yang sungguh-sungguh baru terlahir, struktur kebiasaan itu sendiri musti berakhir.
Mengapa orang memiliki kebiasaan tertentu dan secara psikologis melekatinya? Marilah bersama kita melihat bagaimana suatu kebiasaan itu muncul.
Ketika terjadi kontak dengan rangsangan dari luar atau dari dalam, dengan objek yang terlihat maupun yang tak-terlihat, batin mengalami sensasi-sensasi. Kalau suka, batin menemukan kenikmatan dan melekatinya; kalau tidak suka, batin menemukan kepahitan dan menolaknya. Kebiasaan terbentuk ketika batin bergerak mengikuti rasa suka dan tidak suka, mengejar sensasi-sensasi dan membuatnya terus berlanjut.
Ada sensasi tertentu ketika mendengar musik, membau parfum, meraba sesuatu yang memberi kenikmatan. Ada sensasi ketika mencecap makanan kesukaan, minum kopi, merokok, mengkonsumsi narkotika, berhubungan seks. Ada sensasi tertentu ketika menonton artis terkenal, menikmati hiburan di kafe atau di tempat ibadah. Ada sensasi tertentu ketika membaca buku, berdoa, bermeditasi, melakukan upacara ritual, berbicara tentang Tuhan atau hal-hal yang kita sukai atau tidak kita sukai. Jadi, ada sensasi-sensasi tertentu yang kita alami lewat kelima pintu indra atau lewat persepsi pikiran.
Mari kita melihat lebih khusus sensasi kenikmatan. Munculnya sensasi kenikmatan pertama-tama bukan disebabkan oleh objeknya, tetapi merupakan hasil dari pikiran atau gambaran kita sendiri tentang objeknya. Kalau tidak ada kesadaran akan jeda antara saat kontak dengan objeknya dengan saat munculnya gambaran dan sensasi yang ditimbulkan, maka batin tertangkap dalam gerak mengejar sensasi-sensasi kenikmatan. Kalau jeda itu tertangkap kesadaran, muncul kemungkinan patahnya gerak batin yang mengejar sensasi dan kemungkinan berakhirnya suatu kebiasaan.
Semua jenis sensasi bersifat impermanent. Tetapi kita tidak melihat yang impermanent sebagai impermanent. Batin yang tidak awas menyukai sensasi-sensasi yang datang lewat pintu ke lima indra atau persepsi pikiran. Setelah pengalaman itu berlalu, batin suka mengingat-ingat itu sebagai kenangan yang indah atau yang buruk. Kenangan itu disimpan sebagai ingatan psikologis dan setiap kali dibangkitkan untuk mengalami kembali sensasi-sensasi itu.
Batin yang mengingat-ingat pengalaman kenikmatan yang telah lewat atau hanya sekedar berimaginasi akan kenikmatan, memberikan suatu sensasi seolah-olah itu adalah pengalaman kenikmatan yang nyata, yang sebenarnya hanya permainan pikiran. Ingatan dan imaginasi telah membatasi kontak langsung dengan objeknya sekalipun menimbulkan sensasi kenikmatan.
Batin yang tidak awas dipenuhi oleh gairah mengejar kenikmatan. Kita tidak menginginkan sensasi kenikmatan itu berakhir. Kita ingin sensasi kenikmatan ini berlanjut terus. Pikiran kita terus mengembara untuk mencari kenikmatan.
Batin yang melekat pada sensasi-sensasi kenikmatan menganggap kita tidak bisa hidup tanpa sensasi. Adalah hal yang wajar, normal dan sehat orang mendapatkan kenikmatan dan melekatinya. Pandangan-pandangan seperti itu sudah menunjukkan proses identifikasi psikologis diri dengan sensasi-sensasi yang dialami.
Kita tidak suka orang lain atau kondisi-kondisi yang menjauhkan kita dari kenikmatan. Kita mudah membenci orang atau situasi-situasi yang menghalang-halangi kita untuk mendapatkan kenikmatan. Maka dalam kelekatan akan kenikmatan sudah mengandung ketakutan, kebencian, penolakan dan membuat batin kacau.
Kita perlu awas dengan gerak batin yang melekat pada kenikmatan. Kapan batin bergerak untuk mencari kenikmatan? Kapan batin dibuai oleh kenikmatan? Kapan batin mencari lebih banyak lagi kenikmatan? Kapan batin takut kehilangan kenikmatan? Kapan batin membenci hal-hal yang menjauhkan kita dari kenikmatan?
Yang kita butuhkan bukan berjuang untuk melenyapkan kebiasaan lama dan mengganti dengan kebiasaan baru, tetapi melihat, melihat seluruh struktur kebiasaan dan proses kelekatan pada sensasi: kapan muncul, kapan berlangsung, kapan padam. Setiap gelombang sensasi yang muncul pasti berakhir dan lenyap. Kalau kita melihat proses muncul dan lenyapnya sensasi ini, tanpa tebang pilih, tanpa daya upaya, maka muncul pengertian yang benar. Kita mulai keluar dari kebiasaan, kebiasaan untuk mengejar dan melekat pada sensasi-sensasi. Kalau ada kesadaran tanpa tebang-pilih, tanpa daya-upaya, mengenai seluruh gerak sensasi-sensasi dan kelekatan kita padanya, maka kebiasaan lama atau kebiasaan baru tidak memiliki energi yang menggerakkannya.
Memang tidak ada kehidupan tanpa sensasi. Maka kalau Anda melenyapkan sensasi, maka Anda akan merusak kehidupan itu sendiri. Masalahnya pertama-tama bukan membuang atau membunuh sensasi, tetapi bagaimana membuat batin bebas dari kelekatan terhadap sensasi-sensasi. Bisakah batin mengalami kenikmatan fisikal tanpa menyimpannya sebagai ingatan psikologis?
Bebasnya batin dari kelekatan terhadap sensasi-sensasi membuat gerak kebiasaan terpatahkan dengan sendirinya. Bukankah runtuhnya beban-beban memory psikologis memungkinkan perilaku atau tindakan kita menjadi baru dari saat ke saat?*







Thanks Romo atas tulisan diatas. Sy menemui 1 lagi “Kebenaran” atas realita kehidupan ini. Memang benar bahwa “hidup” selalu diselimuti bermacam sensasi, a.l krn perubahan situasi dan kondisi dr waktu ke waktu, mood diri, dsb.
Mrpk suatu kebenaran bg sy bhw dg penyadaran, pengamatan tanpa si pengamat, dg retreat, dibantu pula tulisan2 Romo yg masih susul menyusul, meski sdh ada 1 buku yg terbit (Rev. Batin adlh Rev. Sosial). Sungguh semua nya ini sangat membantu “mengolah batin” dalam mengarungi kehidupan yg kian “tdk menentu”.
Sy sgt merasakan “how lucky I am” karena apa yg sy dpt kan dan jalani dan alami…. betul2 bisa membebaskan batin dr belenggu2 otoritas dunia yg super complex, tanpa ada kelekatan2 lagi….
mmg sy srg ulang2 baca2 dan menantikan bacaan baru. Tapi ini bukanlah suatu kelekatan, maupun keinginan, melainkan suatu need, spt halnya pd waktu sy merasa lapar dan haus.
Dari bacaan2 dan selepas retreat selalu saja sy temukan sesuatu yg baru yg mendukung sy mengolah batin trs menerus. Krn in life tentu kita menjumpai riak gelombang, suka dan duka silih berganti. namun ada 1 tulisan sebelum ini yg sungguh sulit sy pahami. sy tdk tahu apakah sy sdg “stuck” saat itu. mskipun saya ulang baca bbrp kali…ahirnya, sy lupakan sj.
Okay, tks… Keep supporting me/us, pls Romo
Best regards,
l w
Thanks untuk sharing tulisannya Rm.
Rm, rasanya memang indah sekali bila bisa perilaku/tindakan baru kita tanpa didasari pada sensasi/kelekatan pada masa lalu.
Yang saya alami banyak sekali tindakan/perilaku baru saya lakukan karena saya tidak tahu seperti apa sebelumnya, jadi saya lakukan saja sesuai apa yang menurut saya baik dan batin ini tenang, suara hati menuntunnya dan setelah direview/evaluasi..oh ternyata sangat beda dengan yang dulu-dulu biasa dilakukan dan biasanya dapat diterima dan jauh lebih baik. Saya sendiri tidak tahu koq bisa ya saya lakukan seperti itu…dan kalau sesuatu sampai stuck, yah saya pasti doa kepada Dia yang selalu membimbingku dan Bunda Maria dan saat saya mengambil tindakan tersebut saya ngga sadar bahwa itu berbeda dengan sebelumnya, dan baru sadar kalau beda dan baru sama sekali saat saya mencoba mengevaluasi ataupun diberi tahu sama orang lain.
Memang kelihatannya harus dilupakan semua tuh Rm pengalaman masa lalu ya, supaya tindakan murni bisa keluar…asal jangan lupa ingatan ya.:)
Salam,
mds
Tulisan Romo benar adanya,tanpa tebang pilih,tanpa menghindar, Disadari..Diamati..maka akan ada tindakan murni.
Dulu saya suka gak iklas dlm membantu saudara krn pengalaman masa lalu. Kita udah buat baik,e malah dibalas tdk mengenakan,saya suka jengkel.
Tp sekarang beda..ketika kita menolong dgn persepsi murni,tnp ingatan ms lalu,tanpa beban,tnp terbelenggu,tnp pamrih. Yg pd akhirnya membuat hati kita iklas,n bahagia, dan orang yg kita tolong pun,jadi bahagia dan malah jd SADAR DIRI. Jd hal positif kita menular ke orang2 sekitar kita.
Thanks Mo.
Terima kasih.
Saya perlu mengubah banyak kebiasaan saya yang tidak berguna.
Benar, kelekatan terhadap sensasi-sensasi tertentu dalam batin saya saat melakukan hal-hal yang saya sukai dan mnghindari yang tidak enak.
Saya perlu lebih menyadari hal ini dari saat ke saat.
Sekali lagi, terima kasih.