Memahami Gerak Keinginan
Setiap orang memiliki keinginan dan tidak ada kehidupan manusia tanpa keinginan. Kita memiliki banyak keinginan. Misalnya keinginan untuk memperoleh sandang, pangan, papan; keinginan untuk menguasai, memiliki, merasa aman, bahagia; keinginan untuk menjadi lebih baik, sabar, rendah hati; keinginan untuk hidup kekal, dst.
Apa itu keinginan? Keinginan muncul ketika kita memiliki gambaran tentang sesuatu di luar atau di dalam batin dengan segala sensasi yang ditimbulkan. Apakah ada keinginan tanpa sensasi? Pikiran menamai ketika melihat sesuatu. Proses penamaan itu sendiri menimbulkan sensasi tertentu. Ada rasa suka ketika anda melihat sesuatu yang menarik dan rasa tidak suka ketika melihat sesuatu yang tidak menarik. Lalu sensasi itu menggerakkan keinginan untuk menikmati atau tidak menikmati suatu objek.
Sensasi suka dan tidak suka pertama-tama ditimbulkan bukan oleh objek itu sendiri, tetapi oleh gambaran kita tentang objeknya. Sekalipun kita tidak melihat objek tertentu di luar, gambaran yang muncul tentang suatu objek dalam batin bisa mengobarkan sensasi tertentu. Bukankah tidak ada bedanya antara keinginan dengan pikiran atau gambaran dan sensasi-sensasinya?
Keinginan adalah energi sekalipun energi itu terbatas. Ketika keinginan muncul, saat itu pula ada daya upaya untuk memenuhi atau tidak memenuhi keinginan itu, untuk menerima atau menolaknya. Maka dalam setiap keinginan, ada konflik, pergulatan, pendisiplinan.
Keinginan menguat dalam hasrat, kerinduan, harapan, impian. Pemenuhan objek yang diinginkan membuat orang merasa puas. Begitu pula sebaliknya. Semakin kuat gambaran tentang suatu objek, objeknya makin menarik, dan gairah semakin terkobarkan. Apa jadinya ketika keinginan terpenuhi? Bukankah gairah itu lenyap dan objek tidak lagi bernilai?
Lalu apa yang kita lakukan ketika objeknya tidak lagi menarik? Kita membuang objek itu dan kita mencari objek lain sebagai pemuas keinginan. Kita akan bergairah dalam proses pemuasan keinginan. Ketika keinginan terpuaskan, objek tidak lagi bernilai. Lalu kita buang dan kita cari penggantinya. Begitulah objek pemuasan terus berganti-ganti dan tidak ada satu pun keinginan yang bisa dipuaskan, bukan?
Ketika orang tidak lagi puas dengan objek-objek duniawi, maka orang mencari objek-objek surgawi. Orang memiliki keinginan untuk menjadi bahagia, menjadi suci, lebih dekat dengan Tuhan, dst. Apakah kebaikan, kesucian, Tuhan bisa menjadi objek dari keinginan?
Setiap keinginan adalah proyeksi pikiran atas suatu objek. Maka keinginan duniawi atau surgawi, keinginan biasa atau luhur tidak ada bedanya. Gambaran tentang hal-hal yang dianggap luhur bisa menciptakan gairah tak terkira, namun gairah akan hal-hal luhur tidak ada bedanya dengan gairah akan hal-hal biasa. Selama hal-hal surgawi atau hal-hal yang luhur hanya sebagai persepsi pikiran, sekalipun memberikan sensasi-sensasi yang bisa mengobarkan gairah, itu semua tidak memiliki nilai kecuali sebagai pemuas keinginan.
Batin yang menjadikan keinginan sebagai pusat tindakan adalah batin yang statis, mekanis, terkondisi. Apakah kesucian bisa ditemukan dalam keinginan yang tidak berbeda dari batin? Apakah ada keinginan suci dan keinginan yang tidak suci? Bukankah semua keinginan tidak suci karena realitas kesucian berada di luar keinginan, di luar batin?
Kita sudah terbiasa mengganti objek-objek keinginan, menambah atau mengurangi. Proses itu kita sebut perubahan, pertumbuhan, kemajuan. Betapapun kita merasa maju, tetapi kebanyakan dari kita tetap tidak keluar dari belenggu api keinginan yang terus berkobar dan melalap objek-objeknya. Keinginan menjadikan objek hanya sebagai alat pemuasan dan makin memperkuat diri sebagai akar konflik.
Belenggu keinginan telah menciptakan berbagai problem kejiwaan. Keinginan membuat batin seperti kolam yang keruh. Maka mari kita bertanya bisakah kita bebas dari belenggu keinginan? Bukankah tidak ada orang yang bisa memusnahkan keinginan? Apakah anda merasa didera oleh keinginan dan anda ingin bebas dari keinginan? Bukankah anda tetap tidak keluar dari lingkaran keinginan?
Keinginan tidak bisa dan tidak perlu dimatikan. Kalaupun anda melakukannya, anda mematikan kehidupan karena tidak ada kehidupan tanpa keinginan. Keinginan untuk mencari sandang, pangan, papan adalah keinginan yang wajar. Keinginan seperti itu tidak menciptakan problem psikologis. Tetapi keinginan untuk menjadi bahagia, aman, pasti, suci telah menciptakan problem kejiwaan yang serius. Jadi bisakah kita bebas dari belenggu keinginan tanpa keinginan untuk memusnahkan keinginan itu sendiri?*







Met pagi Rm,
Kebetulan saya kemarin mendengarkan homili ini dalam Misa sore dan pagi ini ketika saya ingin mencari renungan pagi Rm Mardi yg biasa di posting yang kayaknya sdh sejak beberapa hari ngga ada tuh saya membaca tulisan rm tentang keinginan ini.
Saya ingin sedikit sharing tentang keinginan ini,sebelum saya berangkat meeting di pagi hari ini. Menurut saya keinginan itu selalu ada selama manusia masih hidup entah keinginan surgawi /rohani maupun duniawi, itu yang membuat dinamika kehidupan. Saya sependapat untuk tidak dijadikan objek karena akan membelenggu dan merongrong batin. Banyak usaha yang dilakukan untuk mencapai keinginan selama itu positif saya kira sah-sah saja dan saya sering sekali memperoleh keinginan tersebut didapatkan pada waktunya ( bahkan kadang-kadang keinginan tersebut sudah lupa ) artinya yah kehidupan dijalankan sebagaimana adanya ibarat air mengalir dan sering saya kalau merenungkan saat mendapatkan keinginan sampai tidak bisa menjawab mengapa bisa diperoleh dan akhirnya saya selalu berkesimpulan pasti semua ini campur tangan Tuhan, selalu dan selalu hal tersebut terjadi, demikianlah keinginan-keinginan tersebut tidak dijadikan objek alias menjadikan tujuan utama karena bila demikian halnya akan terjadi pengejaran dan terbelenggu lagi ya Rm.
Terima kasih untuk tulisannya yang bisa menjawab pertanyaan saya selama ini tentang keinginan dan membantu pemahaman saya tentang arti keinginan sesungguhnya.
Selamat bertugas diawal minggu ini
rgds,
mary
“mana yg lebih penting antara moral dan agama, kalau bisa yang jawab romo sudri”. Ini juga suatu gerak keinginan ya MO…
Hihihi
saya mau jadi penonton aja ahh…
udara panas bikin saya malas termasuk malas memberi tanggapan …
Peace
Saya ingin sharing dengan sdr.L berkaitan dengan pertanyaan mana lebih penting moral daripada agama. Saya mau memulai sharing ini dengan menjelaskan lebih dahulu pengertian moral lalu agama, kemudian saya sedikit memberi kesimpulan. MORAL: Moral berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata “mos-mores” yang artinya: Kebiasaan. Moral juga mempunyai arti “semangat”.Hal ini dapat kita lihat dalam kalimat, “Moral tentara itu merosot.” Arti lain moral adalah kesusilaan(sopan santun, tatakrama). Moral dapat juga berarti teologi moral, yaitu cabang ilmu tologi yang mempelajari baik-buruknya, tepat tidaknya perbuatan manusia dari terang iman Kristiani. Dalam teologi moral dipakai akal budi manusia, disinari Alkitab, dan ajaran Gereja. AGAMA: Secara etimologis agama berasal dari bahasa sanskerta, dari kata a=tidak dan gama=pergi, pindah,bergerak. Dari kata ini, agama berarti “mencari Yang Kekal Abadi”; orang beragama adalah orang yg mencari Yang Kekal Abadi. Kita tahu agama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “religion”, yang berasal dari kata Latin religio(kata benda); kata kerjanya “religare”,artinya: mengikat kembali. Jadi dari kata religio, agama adalah Ikatan atau hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ismartono,SJ menulis dalam buku Kuliah Agama di PTU, agama adalah ungkapan hubungan manusia dengan Yang Ilahi. Sedangkan agama Katolik adalah ungkapan kasih manusia yang beriman kepada Allah melalui YESUS KRISTUS.Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:19). Dari definisi agama Ismartono, kita mengetahui bahwa agama adalah ungkapan kasih manusia kepada Tuhan. Ungkapan kasih kepada Tuhan dalam Gereja kita banyak, kita berdoa dan mendoakan sesama kita, menghias altar, memimpin koor di Gereja, pergi ke Gereja, memberi kolekte/derma, mengurusi orang berkesusahan, memasak makan suami/anak termasuk pastor, menolong sesama,berkelakuan baik, sopan dan santun, bicara sopan,dsb. Ini ungkapan kasih kepada Tuhan. Nilainya semakin tinggi bila dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dari uraian di atas, dapat kita katatan bahwa moral (dalam arti sopan santun, tata krama, kesusilaan yang baik) adalah ungkapan orang beragama, tuntutan hidup orang beragama. Orang beragama yang sejati selalu menjaga dirinya agar selalu bermoral baik. Demikian teman, xie-xie. Sumber:Diktat Kuliah Teologi Moral oleh Rm. Dr. Piet (Petrus) Go Twan An, O.Carm.
Dear Romo dan sdr/sdri semua,
Thanks a million Mo, atas artikel2nya.
Setiap kali ada artikel muncul di sini, dlm hati saya
berkata..”Nah, ini GONG nya…”, eh tapi salah dugaan sy
krn .setiap kali ada artikel baru, sy selalu ketemu ” GONG ”
itu. Jadi sy mencoba… tak akan mengatakan itu lg.Once again thanks, Mo.
Yach,sy akan sabar menanti berikutnya, tak akan menunggu gong 2
lagi…karena semuanya secara gradual..membawa sy,n para pembaca
yg.dg setia n tekun merenungkan, mengunyah, dan mengaplikasikan
dlm hidup se hari2, sgt supportive…bg.sy membantu ” mendewasakan”, meski tentu sj msh sering terjatuh, tp tidak sakit2 amat..so,Keep on giving such supports…
Salam “apa adanya”, May God bless U , n all
l
Pandai pandailah menunda KEINGINAN sampai saat saatnya tiba. Makin kita bisa mengendalikan diri, makin bahagia kita dalam hidup ini, tidak terkejar oleh KEINGINAN itu sendiri. (B.U)
Inginku suatu ketika bergerak
bergelombang, berputar mengelilingi diri
hingga diri terbelenggu
oohh..inginku, jangan ikat aku
aku hanya duduk diam menangis tergugu
Hingga suatu hari
inginku melonggarkan ikatannya
tapi dia tidak sungguh-sungguh pergi
aahhh..ternyata aku tidak terbelenggu lagi
aku tidak terikat lagi
inginku tetap berada ditempatnya
dan ia tahu kapan harus bergerak
tanpa mengikat
Banyak orang bilang “keinginan”sama artinya banyak kemauan.Keinginan bisa juga diartikan harapan yg dinanti-nanti,cita-cita yg dipupuk,mungkin baik kalau itu seiring jalan dengan penyadaraan apaadanya sehingga tak terpenuhipun tdk menyakitkan didalam hati/perasaan.
Kalau saja keinginan sekedar keinginan yg datar-biasa-sederhana barangkali hati kitapun tak diperkuat dengan daya upaya,gimana kalau keinginan yg bertujuan besar pastinya mempunyai dampak yg besar pula jika tak terpenuhi.
Ada kekaguman-ada kegembiraan-ada sukacita yg luar biasa kalau saja keinginan tidak melebihi atau saja dipahami setiap gerak kemunculannya dari batin yg “bebas”sehingga tiada lagi problem
yang berarti saat keinginan bisa terpenuhi atau tidak.
Konflik dari segala macam keinginan,memang bertambah merusak batin ini karena diperkuat dgn keinginan itu sendiri.
Keinginan yg terlahir dari alami-apaadanya kemunculannya menghadirkan semangat-sukacita yg bukan dari sesaat saja.Tetapi terus membawa dalam irama-irama suara didalam batin,karena bukan keinginan dari macam objek yg dicari,melainkan dari objek yg datang tanpa kita harapkan namun mampu memberikan kita keindahaan yg sudah ada dari bebasnya batin kita dari segala keinginan.
Sehingga memahami gerak keinginan,setiap kemunculannya baik adanya…!!thanks a’lot…tulisan&hantaran yg indah ini untuk memahami semua keinginan.
note yg inspiring.. kpn hari sy cuma baca kutipannya melalui status di FB, baru sekarang sy baca utuh.. saya sependapat dengan apa yg romo sampaikan terutama di paragraf terakhir
Keinginan tidak bisa dan tidak perlu dimatikan. Kalaupun anda melakukannya, anda mematikan kehidupan karena tidak ada kehidupan tanpa keinginan. Keinginan untuk mencari sandang, pangan, papan adalah keinginan yang wajar. Keinginan seperti itu tidak menciptakan problem psikologis. Tetapi keinginan untuk menjadi bahagia, aman, suci telah menciptakan problem kejiwaan yang serius. Jadi bisakah kita bebas dari belenggu keinginan tanpa keinginan untuk memusnahkan keinginan itu sendiri
GBU..
Rama Yang Baik, Berkah Dalem.
Rama saya ingin bertanya hubungan manusia dengan Moral? Lalu Relefansi Teologi Moral bagi Manusia? Dan Makna Teologi Moral bagi pembangunan nilai-nilai Humanisme? Matur nuhun. Berkah Dalem.
========
Mas Sutarno,
Manusia tanpa moralitas menjadi seperti binatang. Tapi masalahnya apakah moralitas mengubah wajah manusia menjadi manusiawi?
Tidak semua moralitas sungguh bermoral. Maka moralitas butuh teologi. Tetapi apakah teologi moral sungguh mengubah wajah manusia menjadi manusiawi-ilahi? Apakah nilai-nilai humanisme-transendental cukup mengubah moralitas manusia secara radikal?
Silahkan membaca “Perubahan radikal dalam moralitas” di situs ini.
js
yaa… lama tdk buka nih. eh Romo, masih setia menulis^_^
yg ditunggu blm jg nih, Mo? (eh, ini jelas keinginan ya, hehehe)
terus, kalau seseorang terjerumus dalam dosa, apakah itu jg krn keinginan? siapa yg tahu isi hati kan.
akhir2 ini, sy jg nyaris terjebak dlm berbagai gambaran di pikiran. butuh kesetiaan tulus dlm melatih kepekaan batin saat terjun di dunia nyata.
terima kasih tulisannya, Romo.
Yang paling repot adalah bila keinginan berubah menjadi kebutuhan, sebab bila telah berubah menjadi kebutuhan orang akan lebih “ngotot” untuk mencapainya … ya kalau “ngotot”nya dijalan yang benar, kalau tidak ya akan repot
Itulah salah satu sumber korupsi … keinginan naik mobil mewah, hidup “wah” berubah jadi suatu kebutuhan, ya korupsi lah jalan tercepat untuk memenuhinya
Romo, mohon petunjuknya agar kita bisa menyeleksi keinginan-keinginan agar tidak mudah berubah menjadi suatu kebutuhan
Berkah Dalem