Memahami Gejolak Rasa-Perasaan

Saat emosi begitu kuat, apa reaksi batin anda? Ketika anda sedang dikuasai, misalnya, rasa marah, rasa sedih, rasa patah hati, rasa suka, rasa cemburu, apa yang anda lakukan?

Mencari teman atau menghubungi orang yang anda percayai untuk meluapkan isi hati? Dengan menamai rasa-perasaan dan meluapkan isi hati kepada orang lain, sengatan emosi menjadi semakin reda dan anda merasa lega. Akan tetapi apakah dengan menamai dan mengkomunikasikan perasaan, anda betul-betul dibebaskan dari belenggu emosi atau rasa-perasaan? Mungkin anda merasa terhibur dan menjadi lega. Tetapi apakah anda betul-betul terbebaskan dari belenggu emosi? Bukankah dengan menamai dan mengkomunikasikannya, belenggu emosi tidak betul-betul berakhir tuntas?

Marilah kita memahami rasa-perasaan atau emosi itu apa adanya. Perhatikan saat rasa-perasaan kuat itu muncul. Bukankah ada gerak halus dari batin untuk menamai, untuk mengontrol, untuk mengendalikan atau untuk menekan? Lalu pikiran menciptakan si aku yang merasa ”aku marah”, ”aku sedih”, ”aku suka” dst? Bukankah pikiran telah menciptakan kelekatan si aku dengan rasa-perasaannya sendiri?

Apa yang terjadi kalau rasa-perasaan dan kelekatan itu disadari saat kemunculannya, bukan setelahnya? Bukankah rasa-perasaan tidak berbeda dengan si perasa atau si pengendali itu sendiri. Ketika si perasa atau si pengendali itu dilihat tidak lebih sebagai ilusi yang diciptakan pikiran dan saat pikiran yang menamai atau mengendalikan berhenti, bukankah rasa-perasaan mekar, muncul, meledak, pudar dan kemudian lenyap dengan sendirinya?

Tidak ada si aku tanpa rasa-perasaan dan kelekatan. Kalau si aku tidak berbeda dari rasa-perasaan dan kelekatan, apa yang musti di lakukan dengan si aku? Kalau ada pemisahan antara si aku dengan rasa-perasaan dan kelekatan, maka ada daya upaya untuk menamai, mengontrol, mengendalikan, menekan. Dalam proses itu, ada ambisi halus untuk keluar dari fakta akan keterkondisian batin oleh emosi dan keinginan untuk mengejar kebebasan dari kelekatan sebagai keadaan ideal. Bukankah si aku yang tidak berbeda dari rasa-perasaan dan kelekatan itu masih tetap bercokol? Kalau rasa-perasaan dan kelekatan itu tidak berbeda dari si aku, bukankah aku tidak bisa berbuat lain kecuali menyadarinya seacara pasif? Di sini tidak ada si aku yang menyadari. Yang ada hanya keadaan-sadar, tanpa pusat, tanpa pilih-pilih, tanpa tujuan yang ingin dicapai, tanpa gerak daya upaya.

Selama masih ada si aku yang menyadari, si aku yang mengingat-ingat, si aku yang berpikir-pikir, si aku yang menganalisa, maka emosi justru diperkuat dan batin tetap terkondisi. Mari kita melihat hubungan si aku dengan rasa terluka sebagai contoh. Kebanyakan orang memiliki pengalaman terluka. Orang cenderung menutup-nutupinya atau tidak mau mengingatnya. Orang berpikir bahwa mengingat-ingat rasa terluka tidak ada gunanya karena hanya akan menambah rasa sakit. Lebih baik melupakannya. Tetapi si aku yang ingin menyadari rasa terluka tidak berbeda dengan si aku yang ingin melupakannya. Selama si aku masih ada, si aku yang ingin menyadari atau yang ingin melupakan, emosi itu masih tetap mengkondisikan batin.

Gerak pikiran itu sendiri relatif tidak sulit dideteksi dibanding gerak emosi atau rasa-perasaan. Emosi adalah respons ingatan terhadap rangsangan sebelum atau setelah pikiran melakukan proses penamaan. Ia tersembunyi di balik gambaran-gambaran, kata-kata, sikap, tindakan dan reaksi-reaksi tubuh. Emosi kuat yang muncul seringkali juga menyembunyikan atau disertai oleh rasa-perasaan yang berlapis-lapis. Tidak adanya keadaan-sadar seringkali membuat lapisan-lapisan emosi ini lolos dari pengamatan.

Saat jatuh cinta, misalnya, barangkali pada saat yang sama ada rasa-perasaan nyaman, rasa lekat, rasa bangga, rasa ingin memiliki, rasa cemburu, dst. Bisakah rasa jatuh cinta dengan berbagai lapisan rasa-perasaan itu, misalnya, disadari bukan sekedar diketahui melalui pikiran?

Emosi yang kuat tanpa disertai kepekaan atau inteligensi bisa menjadi sumber tindakan yang merusak. Apakah anda melihat setiap saat pikiran bergerak dan batin tertambat pada ingatan tertentu, berbagai bentuk rasa-perasaan terbangkitkan? Ketika anda merasa disakiti dan ingat akan orang yang menyakiti anda, misalnya, bagaimana reaksi anda? Dengan emosi atau rasa-perasaan kuat yang ada, apa yang anda mau lakukan? Anda mau membalas dengan menyakitinya? Ketika anda berada dalam keadaan sadar akan rasa tersakiti, seluruh lapisan-lapisan rasa-perasaan yang menyertainya, reaksi-reaksi batin yang ditimbulkannya, apa yang terjadi? Tidakkah ada ruang kepekaan akan seluruh proses batin dan muncullah tindakan yang benar dari inteligensi, bukan dari gerak emosi atau pikiran anda? Bukankah masuknya inteligensi dalam jeda antara emosi dan reaksi-reaksi anda membuat tindakan menjadi berbeda?

Tidak ada yang salah ketika kita berada dalam keadaan emosional tertentu. Orang bilang emosi membuat orang hidup manusiawi. Tetapi emosi menjadi masalah ketika kita dikondisikan atau dibelenggu olehnya dan kita bertindak berdasarkan dorongan emosi belaka. Juga tidak ada emosi yang baik atau yang buruk. Maka tidak ada emosi buruk yang perlu untuk dimatikan dan tidak ada emosi yang baik untuk dikembangkan.

Ketika rasa-perasaan diamati secara tuntas tanpa gerak si aku atau si perasa, maka rasa-perasaan emosional mungkin berakhir. Ketika rasa-perasaan emosional berakhir, terlahirlah rasa-perasaan atau gairah yang lain yang tidak terkait dengan emosi atau pikiran. Kalau rasa-perasaan atau gairah yang lain itu terlahirkan dalam hidup anda, masihkan emosi diperlukan?*

5 Responses to “Memahami Gejolak Rasa-Perasaan”

  1. Bahasan mengenai emosi, rasa perasaan dan kendali atas emosi panjang juga dan baik juga untuk direnungkan.
    Dalam praktek emosi seringkali muncul naik, turun dengan cepat tanpa ada waktu berlama-lama untuk menyadari bahkan mengendalikan dengan cermat.
    Barangkali melatih untuk mengendalikan emosi sangat penting. Kalau pengendalian emosi sudah sering dilatih barangkali respon atas emosi baik yang senang, sedih, marah, cemburu akan terbiasa bergerak dengan lebih baik.
    Memang untuk memanage emosi sebelumnya perlu melatih untuk menyadari adanya emosi2 yang muncul naik, turun dan hilang atau berganti.
    Menurut pendapat sy emosi tersebut wajar saja dan manusiawi, wong namanhya juga manusia. Yang terjadi seringkali kita tidak menyadari kehadirannya. Misalnya kita takut akan sesuatu yang buruk akan terjadi, kita tidak sadar tetapi diri kita sudah merespon dengan tidak sadar seperti tegang, keringatan, marah atau malu dll.
    Kalau terbiasa melatih untuk menyadari adanya emosi2 tsb kita dapat merespon sesuai dengan apa yang kita inginkan atau yang telah kita latih.
    Sebagai orang katolik maka menurut sy. iman dapat membimbing untuk mengelola emosi yang ada sehingga kita dapat mengarahkan kepada keutamaan-keutamaan sebagai orang katolik yg baik. Harapan kita ialah segala emosi yang ada akan bermuara kepada perbuatan yang baik menurut iman kita.
    Terima kasih atas renungan dari Romo.

  2. Emosi sangat erat dengan perasaan manusia dan emosi juga sering naik turun in line dengan tingkat kematangan seseorang dan biasanya akan hilang/terlupakan (?) dengan berjalannya waktu.
    Idealnya IQ, EQ dan SQ bisa saling menunjang dan seimbang
    Emosi sebagai salah satu ungkapan perasaan entah itu baik ataupun buruk memang tidak ada yang salah, hanya bagaimana itu disadari dan tidak membuat kita terkungkung olehnya dan pikiran menjadi terbelenggu.Self control perlu sekali agar supaya kita bisa mengendalikan emosi yang terjadi.
    Bila kita cepat menyadarinya maka akan cepat lepas dan hilang.Berdasarkan apa yang saya alami, seringkali bila emosi datang maka, cepat-cepat menyadarinya dan biasanya saya berdoa supaya Dia Yesus yang hadir dalam diri ini menguatkan agar emosi yang timbul tidak menjadi preseden untuk hal-hal negatif kedepannya dan tidak membuat batin terkondisi atas emosi tersebut dan…sama sekali jadi tidak mengingatnya. Bahkan sering saya dingatkan lagi oleh orang lain tentang hal yang menaikkan emosi dan mereka merasa kadang-kadang aneh..koq sudah seperti tidak ada apa-apa, sudah lupa….yah lupa , kan resepnya Romo :)
    Menurut saya curhat juga dengan seseorang ngga ada gunanya kalau setelah itu masih ada kelekatan didalamnya.
    Ok Rm gitu aja, thanks untuk tulisannya dan selamat menjalani retreat pribadi

    Salam,
    mary

  3. Gejolak Rasa-Perasaan

    Gejolak rasa perasaan mmg sama dengan emosi jiwa.
    Saat sedih datang rasa perasaan begitu mendera.Ketika rasa senang hadir lgs meletup-letup bahagia,saat rasa cinta tumbuh jiwa berbunga-bunga,rasa amarah tiba yg ada kt terbelenggu sehingga raut muka berkerut2&merah padam sekujur tubuh.

    Semua itu pasti kt alami detik perdetik,tidak bisa menutup-nutupi untuk bicara kpd org yg dianggap paling memungkinkan kenapa tidak?memberikan kelegaan/kenyamanan itulah yg terhantar bagi kt semua,sebab kalau kt menyimpannya sendiri bukankah yg jadi sakit fisik/pikir kt.Selama kt masih hidup dengan banyak teman-sahabat-org2 yg kt anggap perduli itu mendatangkan sukacita.Sehingga beban emosi bisa tertuang,lain lagi kalau luapan emosi bisa di salurkan lewat-lewat tulisan-kata-kata,begitu juga rasa perasaan yg dituangkan dalam bentuk apapun,baik cerita kpd sahabat,menulis,bernyanyi,ada baiknya pula.

    Tetapi pemahaman gejolak rasa perasaan disini,barangkali bisakah kt tuntas dengan apadanya diri kt ini,sehingga emosi/rasa perasaan ini bukan lagi dari si’Aku’yg membelenggu.si ‘aku’yg seringnya hadir disetiap jiwa/hati manusia yg lemah ini di “Sadari”seketika menjadi berubah rasa perasaan yg bukan dari si “aku”melainkan emosi/rasa perasaan yg muncul murni adanya&itu mendatangkan inteligensi&menjadikan tindakan rasa perasaan yg berbeda.

    Kehadiran rasa perasaan itu muncul seketika,bagai keindahaan jika sdg jatuh cinta(barangkali bagai berbunga2 dihatinya).Namun tak terbelenggu karena seketika itu tercipta.
    Kalau rasa perasaan lewat pikiran-keinginan-kelekatan barangkali ini yg penting sekali untuk di simak .Tulisan-tulisan baik dari uraian peruraian sehingga detik inipun rasa perasaan bukan lagi yg membelenggu tetapi rasa perasaan/emosi jiwa penuh cinta&keindahaan yg lahir bagai bunga yg mekar disetiap hari tanpa jeda musim apaapun/suasana apapun

    Hidup ini mudah sekali berubah-ubah,begitu juga emosi/rasa perasaan kt bisa saja berubah-ubah.Nah yg paling menyenangkan kalau rasa perasaan itu yg datang buka amarah/sedih/kesal/cemburu melainkan rasa perasaan yg bersih/tenang/ceria,etz tapi jika yg sebaliknya yg hadirpun datang kt tak perlu berlari atau menamainya lagi.Biar itu menjadi rasa perasaan apaadanya saja dhe,tanpa pikiran/emosi yg mendahuli…

    Terima kasih Romo atas tuntunan ini,agar batin ini/pikiran ini selalu waspada/dalam heningnya wkt ke wkt&’diri’memberikan nilai lebih buat kami-kami ini.Yg sering nya lupa/lalai untuk segala macam-macam emosi/rasa perasaan..thanks a’lot

  4. Mau? Mau? Mau? Pakai tri

    Tetapi yang satu ini tidak tertandingi
    Sinyal paling kuat mengalahkan kartu ini mengalahkan semua yang ada di bumi paroki
    Paling gresss, segar, sadar hanya ada disini
    Tulisan kanjeng suhu dalam ruang meditasi
    Pakai yang ini, mengalahkan semua yang ada di bumi
    Satu-satunya pancaran hening, jernih, bebas kontaminasi
    Dalam suasana silentium magnum pribadi

    - – - – - – - – - -

    Ya Romo, saat pikiran berhenti, emosi mekar, muncul, meledak, pudar dan kemudian lenyap, lalu mulai lagi dengan segala sesuatu yang baru seperti nafas yang selalu baru.
    Terima kasih sudah mengingatkan saya melalui tulisan ini.

    Btw Romo retreat atau menyepi, sudah nggak tahan ingin menulis ‘Mo… Kalau add atau approved nggak boleh dong!

    Kalau tulisan ”Memahami Gejolak Rasa-Perasaan” diterapkan di FB nanti semua comment di fb kosong, gak ada komentar.. fb jadi sepi.

    Peace.

  5. Hidup tanpa emosi…mmm,menurut pandangan pribadiku, bagaikan hidup yg tak hidup…karena emosi mrupakan salah satu bentuk energi yang hadir dalam diri manusia (makhluk hidup lain sepertinya tdk punya emosi…hanya insting sj…)

    terlepas dr baik atau buruknya…emosi drasa perlu ada agar energi khidupan menjadi seimbang…
    Jika saja sudah tidak ada emosi lagi…pastilah energi khidupan menjadi labil…
    Yin ada karena yan ada…yan ada karena yin ada…

    hanya saja akan bdampak negatif jk si pribadi yang sdg emosi dkuasai penuh oleh si emosi…karena itu, dperlukan keadaan yang sadar bagi siapa saja agar stiap kali si emosi muncul hanya sekedar gejolak energi sj untk memuncul energi penyeimbang yg lain sehingga si emosi tdk mjadi tuan atau penguasa…

    bagiku,emosi mjd bagian dari kekayaan khidupanku sebagai manusia…

    barangkali ada yang keliru dari pernyataanku ini, romo…karena itu mohon pengarahan dari romo ya…

    salam,
    V

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>