Meluruhkan Ego dengan Meditasi

Minggu, 20 Maret 2011 | 13:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pikiran seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, pikiran dibutuhkan saat manusia bekerja. Namun, di sisi lain, pikiran yang tidak terkendali dapat merusak relasi-relasi antarpribadi, antarpemimpin, bahkan antarnegara. Bisakah kita menghentikan gerak pikiran pada saat tidak dipakai untuk bekerja, sehingga yang ada hanya keheningan batin?

Inilah yang ingin ditunjukkan dalam buku ini. J. Sudrijanta, penulisnya, menyajikan model meditasi non-konsentratif untuk mencapai keheningan itu. Meditasi yang dimaksudkan adalah meditasi tanpa obyek. Tidak ada gambar, imajinasi, simbolisasi, visualisasi, fokus, tema, atau konsep saat bermeditasi.

Jika kebanyakan meditasi memakai daya konsentrasi pikiran ke satu pusat atau titik tertentu, meditasi tanpa obyek justru menisbikan pikiran. Ketika pikiran tak terpakai, segala sesuatu hadir seutuhnya, murni. Ego atau diri pun menjadi luruh. Ini adalah dampak dari kesadaran (eling) terus-menerus terhadap gerak batin. Sehingga batin selalu berada dalam keadaan hening (suwung).

Jika kita bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan batin hening, kita dapat memandang orang lain dan keadaan di sekitar kita dengan cara berbeda: tidak lagi mementingkan egonya. Kita akan melihat segala sesuatu dengan persepsi murni, tanpa dijejali pikiran dan perasaan yang telah terekam di memori otak.

Lewat dialog-dialog singkat di buku ini, pembaca dengan mudah dapat memahami olah batin melalui metode ini. Setiap orang dapat melakukan meditasi tanpa obyek ini di mana saja dan kapan saja. Tidak perlu tempat khusus dengan guru atau pendamping. Meditasi ini juga bisa dilakukan oleh siapa pun. Suatu pencarian bersama dalam konteks multi-religius.

Jadi, buku ini bukan panduan meditasi menurut doktrin Katolik, melainkan lebih sebagai cermin agar kita untuk bisa melihat dengan jernih batin kita sendiri dan memahaminya.

* Cendrawati Suhartono
Judul buku: Meditasi Sebagai Pembebasan Diri
Pengarang: J. Sudrijanta, S.J.
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 208 halaman

Diambil dari http://www.tempointeraktif.com/hg/buku/2011/03/20/brk,20110320-321451,id.html

8 Responses to “Meluruhkan Ego dengan Meditasi”

  1. wah… Ibu Cendra, very nice article ^_^ apa kbr , Bu.

  2. hi ibu cendra,
    saya sendiri sedang bertanya dengan diri saya, siapa yah yang akan mengasuh renungan meditasi setelah rm. sudri pergi dr st. Anna. ehtau2 ibu cendra sudah mulai menulis ttg no self ,berhentinya berpikir ,matinya ego dan hawa napsu, kalau kita lihat lagi dari pengalaman yang lalu, kita harus melatih tidak berpikir bukan pada saat meditasi saja, akan tetapi pada kehidupan sehari-hari, kita harus berada didalam meditation state of mind, lagi pula ini akan sulit bagi orang2 yang kerjanya sehari-hari banyak berinteraksi dengan orang banyak, mereka akan terlalu sibuk untuk memikirkan masalah2 pekerjaan orang2 lain, karena ini perlu latihan yang lama, bila tidak,maka bagi mereka yg bermeditasi unfocus hanya bisa berhenti berpikir dalam detik, hanya dalam waktu meditasi saja, kemudian kalau dilatih terus menerus bisa mencapai menit, lama kelamaan akan menjadi puluhan menit dan untuk mencapai total no self itu, tahu-tahu kok kita berubah dalam kehidupan sehari-hari, kok nga mikir lagi, sepertinya berhenti sama sekali itu pikiran.hehehe
    salam,
    tonny

  3. My Bos, Pak Tonny…(hihihi)

    Saya pikir Romo Sudri tetap akan memberi kontribusi tulisan ke rubrik ini tanpa memandang status beliau ,apakah ia org gereja Santa Blok R(?) or whatever….& saya yakin ia tak akan judge dirinya siapa tapi yaaa mengalir saja… menyumbang pemikiran beliau spt sediakala. ( Kalau nggak salah bulan Maret ini ia tetap menyumbang tulisan buat kita lho…)

    He really knows what he has in his mind & he is smart enough to explain itu very sistimatic & logically. Ia sudah menempuh proses berpikir dialetika dalam waktu yg amat panjang alias jam terbangnya lama ( meski Romo pasti akan jawab dengan merendah “I’m still nothing..aku belum apa2). Sehingga ia siap menjawab berbagai persoalan meditasi skala kecil maupun beraat2 ( berapa ton ya ?). He is still our best spokesman / specialist for meditasi tanpa obyek…bahkan pelopor di dunia pemikiran katolik.

    Meski kita memiliki sahabat2 kita yg sering meditasi & berpengalaman utk memberi reasoning tapi saya merasa kita tetap butuh bimbingan Romo Sudri.

    Mengenai perlunya latihan yg lama, mungkin agak relatif ya…ada yg bisa mencapai no self within short period, ada yg butuh waktu lama. Sifatnya individual kali ya…Ini bukan persoalan apakah mahir explain things dengan kata2 tetapi seberapa sering ia menerima keadaan no self itu.

    Saya sendiri tidak begitu rutin latihan meditasi tapi dalam pergaulan maupun kehidupan sehari2 bila pikiran menjadi ngak karuan tinggal meng”kondisi”kan ( waah Romo nanti allergi dengar kata “kondisi”kan, konsentrasi & so on) meditating state of mind meski hanya sebentar, kekusutan benang persolan dapat terurai dengan sendirinya. Saya sangat menikmati itu & bersyukur bahwa saya bisa mengenal meditation without object itu. I can control my emotion during the fatigue discussion session & become a descent listener….

    Dalam pertemuan rapat gereja seringkali diskusi menjadi debat kusir yg amat menbosankan & bikin cape otak ikutin pembicaraan peserta. Dalam keadaan tersebut, saya amati perilaku Romo Sudri…you know what he was doing during that period ? He close his eyes start meditating for just few minutes than start speak up with his wisdom words. Naah jadi meditating mind perlu diaplikasi dalam kehidupan sehari2 spt yg ditunjukkan Romo Sudri. But state of mind in nothingness for 10,20 30 menits during the working hour is too long, man ! Latihan berjam2 di malam hari sih ok & sah2 saja lah….hihihi..

    Waah nglantur ya…anyway busway, “GURU” Romo Sudri, please do not leave us alone….we still need your advices & your wisdom. Supaya antara lain saya tidak nglantur explaination karena kebodohanku hehehe…!

    Omg2 sabtu masih pagi masih latihan meditasi kagak ya ?

    Sekian, Boz Tonny, I love u !
    THN

  4. Hi mr. Tabasco,
    quita masih meditasi mulai jam 6.30 pagi, setiap saptu.
    sampai sekarang saya bersyukur, karena masih pada nyambung terus meditasinya, kalau mau datang silahkan, monggo, kami nga pergi kemana-mana koq, kami masih ada digedung Yos lt. atas , seperti biasanya koq, jadi kalian jangan pergi kemana-mana lagi, jangan mencari yang lain-lain lagi, quita latih terus meditasi tanpa obyek ini, karena ini yang quita alami sendiri dan senangi juga.
    salam,
    tonny

  5. My dear Tonny,

    kalau ke blok Q boleh donk :)

    meditasi tanpa object menjadi meditasi tanpa suhu :D

    hati-hati… jangan sampai melekat pada ke”senang”an :)

    Peace, Oom!
    i love you in Christ.

  6. Dear Boz Tonny,

    hihihihi…hati2 omg didepan para meditator MTO…
    sedikit beri statement yg rada “menceng” langsung
    di skak mat dengan kata ” ente ini melekat pada anu…. ”
    (canda lho..)

    hihihihi…peace boz !
    Ampe ketemu di saturday morning MTO !

    THN

  7. Hi Thn,

    Pada minggu ketiga kita pergi keBlok Q untuk meditasi sama2 dengan Rm. Sudri, jadi kalo anda mau ikut ya hubungin saya saja, dan minggu depan saya pulang kampung sampai achir bulan, jadi kalau mau meditasi dengan teman2 harap hubungi mr. Gunawan sementara ini.
    Biarin aja, kalau orang mau menunjukan diri sendiri menjadi nomor satu didunia ini,dengan komentar2 yg aneh tsb, orang2 tsb hanya menggantungkan diri kepada manusia2 saja, dengan memakai pikiran / fantasinya, tapi tidak menggantungkan diri kepada YHWH-Nya.kita semua sudah mengetahuinya.
    Kita lihat saja tulisan Rm. Sudri yg terachir tsb,ttg menembus ketidak tahuan, ttg perjalanan Spiritual sesama kita, disitu semuanya sudah diterangkan ttg pergerakan batin yang selalu kita harus amati dan bukan karena penggunaan pikiran, Doktrin dan Dogma belaka yang dijadikan sebagai alat ukur seseorang untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang juga disebutnya sebagai hidup dalam ketidak tahuan(Ignorance). Pikiran tsb akan sangat menghambat untuk menemukan kebenaran. karena kebenaran itu masih dianggap tabu atau gangguan oleh manusia yang sudah terlena dengan jalan pikiran2 mereka.
    Bagi aku udah nga ngaruh orang mau bicara apa aja tentang saya, karena saya udah nga mau mikirin ttg itu.
    Pikiran saya sudah berhenti, saya hanya mau tahu ttg kebenaran, yang datangnya bukan dari hasil dari pikiran2 manusia
    salam,
    tonny

  8. Hi juga Bang Tonny,

    “Pikiran saya sudah “berhenti”, saya hanya mau tahu ttg kebenaran,
    yang datangnya bukan dari hasil dari pikiran2 manusia”….
    waah ini statement sangat sufis atau tasauf sekali…yaa what everlah ! well,
    anyway mari kita meditasi saja & masing2 merasakan Sang Ada dalam keheningan. Reasoning is next thing.

    Sabtu di Blok Q, setuju ! Will meet you there, Sir. Tony S.

    Tabasco (THN)

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>