Melihat dari Ketidaktahuan

Orang memiliki mata untuk melihat. Tetapi kebanyakan orang tidak sungguh melihat secara utuh apa yang dilihatnya karena orang melihat lebih cepat dengan pikirannya daripada dengan matanya.

Marilah kita melihat bersama cara lama kita melihat. Ketika kita melihat suatu objek, misalnya lukisan tertentu di depan kita, kita cenderung melihat melalui gambaran-gambaran yang sudah ada di benak kita. Lalu kita berpikir, menilai, mengapresiasi objek yang baru saja kita lihat.

Melihat dengan cara demikian tidak membuat suatu objek yang dilihat bisa ditangkap keutuhannya karena sebenarnya kita hanya melihat gambaran kita sendiri tentang objek tersebut. Gambaran itu lalu kita proyeksikan ke luar dalam objek yang kita lihat. Oleh karena itu, apa yang kita lihat sebenarnya bukan objeknya itu sendiri, melainkan gambaran-gambaran kita sendiri.

Mengamati melalui gambaran-gambaran di benak kita membuat pengamatan tidak utuh karena pengamatan kita hanya sekedar respons ingatan. Ingatan yang adalah masa lampau itu justru membatasi pengamatan total. Maka cara kita melihat demikian tidak membuat kita melihat hal-hal yang baru dari objek yang kita lihat, tidak menangkap keutuhannya.

Selama pengamatan berlangsung melalui ingatan, gambaran-gambaran, konsep, kesimpulan, masa lampau, maka pengamatan itu melibatkan si pengamat. Bisakah terjadi pengamatan tanpa si pengamat, penglihatan tanpa si penglihat?

Batin yang tahu banyak hal tidak bisa melihat hal-hal baru. Kalau otak diam, batin hening, batin bebas dari pikiran atau gambaran-gambaran tertentu, bebas dari si pengamat, maka ada kemungkinan terjadi pengamatan akan segala sesuatu seperti apa adanya.

Batin yang tidak-tahu ini bukan lawan dari batin yang tahu, tetapi melampaui tahu dan tidak tahu, melampaui batin seorang ahli dan bukan ahli. Batin yang tidak-tahu adalah batin yang kosong, terbuka terhadap perubahan, tidak menerima atau menolak, terbuka terhadap banyak kemungkinan.

Lihatlah mata Anda. Kalau Anda sedang berpikir keras atau berimaginasi visual, maka mata Anda cenderung bergerak lebih cepat atau syaraf-syarafnya menegang. Kalau kita dalam sekejap melihat langsung suatu kebenaran, menemukan suatu pemahaman di luar batas-batas pikiran, maka gerak mata kita terhenti sesaat, diam, tidak bergerak.

Ketika Anda berbicara dengan orang lain dan orang lain merespons dengan mata berkedip, Anda memiliki kesan bahwa teman bicara Anda tidak sungguh menyimak atau memahami apa yang Anda bicarakan. Sebaliknya kalau teman bicara Anda memberi perhatian pada apa yang Anda bicarakan tanpa mengedipkan mata, Anda barangkali punya kesan bahwa ia memahami Apa yang Anda bicarakan.

Kalau mata Anda tidak bergerak, otot-otot dan syaraf-syaraf mata Anda diam, maka otak cenderung diam. Kalau mata Anda mengamati suatu objek dalam keadaan mata sama sekali tidak bergerak, ada kemungkinan terjadi pengamatan yang tidak melibatkan ingatan atau pikiran. Jadi, diam atau bergeraknya syaraf-syaraf mata mempengaruhi diam atau bergeraknya otak. Begitu pula sebaliknya.

Kalau kita melihat bukan dari pusat manapun, dari batin yang tidak-tahu, maka kita melihat seperti mata seorang anak bayi. Lihatlah mata seorang anak bayi. Kebanyakan orang senang melihat mata anak bayi dan menemukan keindahan di dalamnya. Begitu pula si anak bayi. Mereka suka melihat segala sesuatu dengan mata yang tajam, tidak bergerak dalam rentang waktu yang relatif lama. Mereka melihat segala sesuatu dalam keutuhannya, indah adanya.

Sekarang bandingkan dengan cara orang dewasa memandang. Kalau ada orang dewasa yang tidak Anda kenal memandang Anda dengan mata yang membelalak, apa perasaan Anda? Anda merasa takut, merasa terancam, merasa direndahkan?

Mata menunjukkan isi batin seseorang. Pandangan mata anak bayi memperlihatkan batin yang murni, polos, tidak dikotori oleh pikiran. Pandangan mata orang dewasa menunjukkan batin yang tidak lagi polos, dijejali ide-ide dan kesimpulan.

Mata yang memandang lewat pikiran hanya akan menghasilkan pengamatan parsial. Pengamatan total hanya mungkin kalau otak dan mata tidak bergerak sama sekali.

Pada umumnya anak muda melihat masalah sebagai tantangan. Sementara orang-orang tua melihat tantangan sebagai masalah. Akan tetapi selama orang muda atau orang tua melihat masalah atau tantangan dan memecahkannya melalui teori atau rumus-rumus di otak, maka upaya untuk mengatasi masalah justru menciptakan masalah yang lain. Masalahnya bukan karena orang memiliki masalah, melainkan karena orang menghadapi masalah dengan instrumen masa lampau. Masalah yang datang selalu baru tetapi direspons dengan cara lama.

Bisakah kita memandang segala sesuatu–misalnya alam semesta, pasangan atau sahabat, masalah-masalah kita—dari batin yang tidak-tahu, tanpa intervensi ide-ide, tanpa harapan, tanpa ketakutan, tanpa keinginan, tanpa ingatan kenikmatan atau kepahitan, tanpa masa lampau?

Batin yang tidak-tahu melihat segala sesuatu secara langsung dan bertindak seketika. Ia bertindak bukan untuk mencari sesuatu yang lain kecuali bertindak dengan penuh perhatian seolah-olah sedang bertindak untuk pertama kalinya. Bisakah batin yang tidak-tahu dan mata yang terbuka melihat alam semesta, sahabat, atau problem Anda seolah baru pertama kali melihatnya?*

3 Responses to “Melihat dari Ketidaktahuan”

  1. hehehe…memang indah jika kita mampu melihat dari ketidaktahuan…^^

  2. Temans, bila seseorang melihat anda dalam keadaan mata sama sekali tidak bergerak, ada kemungkinan orang itu melihat anda dengan pengamatan yang tidak melibatkan ingatan atau pikiran :)
    Peace.

  3. Nah.. ini nih kuncinya. td pagi sy jg tiba2 melihat dan berada dalam situasi yg judulnya sungguh tidak tahu menahu (gara2 kunci euy…).

    Menarik Romo, krn di satu sisi, sy melihat gerak batin sy bergerak cepat seperti umumnya orang dewasa yg pikirannya sdh penuh terisi dengan ide2.
    Di sisi lain, tubuh fisik sy tiba2 memaksa sy untuk menyadari bahwa sy lelah. Akhirnya, ada satu ‘titik’ saat sy akhirnya membiarkan segala sesuatu berjalan dengan sendirinya. Pikiran ini seperti mendadak menjadi bodoh. Tidak tahu, sepertinya bukan sy yg melakukan semua aktivitas.

    Alhasil, sy toh tetap menyadari bahwa semua memang harus berada di tempatnya yg seharusnya. Apa adanya.

    salam hangat,
    asri.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>