Melepas “bekal yang memberatkan”

Berikut ini adalah refleksi atas Perayaan Ekaristi Komuni Pertama di Gereja St. Anna, 6 Juni 2010. Ditulis oleh Fransisia (47 th), seorang Ibu dari 2 orang anak remaja.
=======

Bersamaan dengan pesta Tubuh dan Darah Kristus hari ini, 138 anak di Paroki Santa Anna menerima Komuni Pertama. Menarik untuk disimak, homili pastor yang memimpin perayaan Ekaristi, Romo Sudrijanta SJ.

“Sebutkan tiga hal penting dalam hidupmu!” Beberapa kali Romo melontarkan tanya kepada anak-anak calon penerima Komuni Pertama. Satu demi satu anak mulai berani menyuarakan pendapatnya. Ada anak yang mengatakan hal penting dalam hidupnya adalah memiliki orangtua yang baik. Lalu, anak lain menyambung: guru yang baik. Ada lagi yang berujar: kesehatan. Yang lain berkata: sekolah yang baik.

Dalam dunia yang semakin didominasi kebendaan saat ini, agaknya anak-anak kita lebih mudah mengambil hal-hal kasat mata sehari-hari seperti orang dan benda yang ada di dekat mereka sebagai hal penting, sehingga kurang merasakan kehadiran Tuhan yang tak kelihatan atau napas kehidupan yang diberikan gratis oleh Sang Pencipta.

Homili yang penuh makna ini, lalu dilanjutkan dengan menyadari arti penting mata, udara yang kita hirup, dan tangan. Sampai pada anggota tubuh ini, Romo Sudri kemudian memutar video klip His Hands (http://www.youtube.com/watch?v=aFibyjcyYsE) – memperlihatkan bagaimana tangan Yesus telah melakukan banyak perbuatan baik sepanjang hidupNya di dunia.

Umat kemudian diajak menggali apa yang bisa mereka perbuat untuk Yesus – yang telah memberikan hidupNya secara total bagi setiap manusia. Bertepatan dengan bacaan Injil hari ini tentang mukjizat lima roti dan dua ikan, di layar lebar ditayangkan lagu Five Loaves and Two Fishes (http://www.youtube.com/watch?v=AIsENvHx1nA) – menggambarkan seorang anak yang menyerahkan bekal sekolahnya berupa lima roti dan dua ikan kepada Yesus.

Sekarang, kita pun dapat menyerahkan “roti dan ikan” kita seperti ketakutan, beban, ambisi kepada Yesus, agar Yesus dapat melakukan terhadap kita apa yang sesuai dengan kehendakNya. Dengan melepaskan segala “bekal yang memberatkan” kepada Yesus, kita memberi kebebasan kepada Tuhan untuk membentuk kita sesuai rencanaNya, menjadikan kita saluran kasihNya kepada sesama kita.

Homili yang sederhana tetapi canggih ini memudahkan dipahami, bahkan oleh anak-anak, apalagi dibantu dengan tayangan audiovisual yang menarik. Penayangan video klip yang tepat dalam homili di zaman internet ini, sungguh dapat memudahkan umat mencerna makna spiritual yang terkandung di balik berbagai peristiwa dalam Alkitab. Yesus yang hidup di dunia lebih dari 2000 tahun silam, menjadi terasa dekat melalui tayangan-tayangan masa kini. Bapa Suci Paus Benediktus XVI pada hari Komunikasi Sedunia beberapa waktu lalu pun menganjurkan, agar para imam saat ini memanfaatkan berbagai sarana komunikasi dalam menggembalakan umat di abad teknologi.

Sekarang tinggal bagaimana para orangtua yang mendampingi putra-putri mereka memaknai homili tersebut. Mulai hari ini, ada 138 umat cilik baru di Paroki Santa Anna yang akan ikut berbaris menyambut Komuni Suci dalam perjamuan Ekaristi. Upacara Komuni Pertama bukanlah akhir dari rangkaian mengikuti pelajaran yang diwajibkan kepada anak-anak, sebelum dianggap pantas menerima Hosti Suci. Justru, Komuni Pertama adalah titik awal bagi orangtua untuk secara serius terlibat dalam menumbuhkembangkan iman anak-anaknya, yang secara resmi telah menjadi bagian Tubuh Mistik Gereja.

Akankah kita membiarkan anak-anak kita, setelah upacara Komuni Pertama yang meriah, menadahkan tangan mereka untuk menyambut Tubuh Kristus hanya sekadar sebagai ritual hari Minggu yang berlalu tanpa makna?

Atau, kita sebagai orangtua akan senantiasa mendorong anak-anak kita menjadi seperti si anak dalam peristiwa Lima Roti dan Dua Ikan – membuka kedua tangannya, menyerahkan dengan rela apa yang dimilikinya, walau pun sedikit, karena cinta kepada Yesus?

Jawabannya terpulang kepada Ibu dan Bapak, para orangtua dari anak-anak yang menerima Komuni Pertama hari ini, mau pun kepada seluruh orangtua yang telah dipercaya Sang Pencipta untuk mengasuh putra-putriNya, yang kelak menjadi generasi penerus Gereja dalam arti luas.

Fransisia

4 Responses to “Melepas “bekal yang memberatkan””

  1. Mungkin bukan:
    Komuni Pertama adalah titik awal bagi orangtua untuk secara serius terlibat dalam menumbuhkembangkan iman anak-anaknya, yang secara resmi telah menjadi bagian Tubuh Mistik Gereja.

    Karena anak secara resmi telah menjadi bagian Tubuh Mistik Gereja sejak babtis, jadi orang tua sudah harus serius menumbuhkembangkan iman anak ya sejak janin, atau paling tidak, sejak lahir, atau sejak babtis. Kalo tunggu anak sampai komuni pertama ya bisa bisa 10 tahun terlambat, padahal usia dini itu penting.
    Misal 1, anak yang sejak bayi hingga besar biasa diajak orang tuanya Misa tentu masuk dalam mind-nya adalah suasana Misa. Bisa diharapkan hingga dewasa dalam mind-nya yang ada ya suasana Misa sehingga bila dia tidak Misa dia akan kangen Misa. Itu sebabnya penting membawa bayi ke Misa.
    Misal 2, anak sejak bayi selalu lihat orang tuanya rukun, jujur, dan memang dibiasakan anak untuk rukun jujur, maka sampai dewasa pun anak akan terbiasa rukun jujur. Bagaimana pun orang tua mengajarkan anak rukun jujur kalo orang tuanya sendiri tidak memberi teladan rukun jujur yaaaa… anak mau ikut teladan apa?
    Misal 3, monggo dilanjut.

    salam, rin

  2. Bagus ….bagus . . kalau setiap ada homili dalam misa sebaiknya ada tayangan gambar video atau klip tulisan / gambar, sehingga umat lebih mudah untuk menangkap maknanya. Memang dengan perkembangan teknologi komputer Gereja juga harus tidak ketinggalan lepas dari pemikiran pantas atau tidak. Kan orang kuno banyak berpendapat dalam misa harus bersikap diam dan khusus padahal tuntutan zaman sekarang semua harus berubah.
    Semoga

  3. Ya, pak Sulas,
    kita ini sekarang memang sedang ada di masa serba salah.
    Orang sering bilang homilinya romo romo Katolik itu monoton dan membosankan.
    Tapi kalau romonya pasang video, orang malah bilang,”Kita Misa pindah ke bioskop, ya?! Tidak ada khusuknya!”

    Tapi aku ikut mendukung pembaharuan.
    Toh generasi yang menolak kemajuan juga bakalan lama lama akan terbiasa oleh kemajuan.

    Jaman memang sudah berubah dan toh Vatican mendorong penggunaan teknologi maju demi semakin mendekatkan kita kepada Tuhan.

    Salam berkah Dalem, rin

  4. Wah, tapi memang misa Komuni Pertama kemarin sungguh luar biasa… Romo Sudri membawakan dengan cara sangat menarik. Sampai sekarang misa tersebut masih melekat di hati dan kepala anak-anak penerima Komuni Pertama tersebut, mudah-mudahan hingga mereka dewasa nanti. Saya sendiri adalah pendukung pembaharuan di dalam gereja Katholik. Karena walaupun ada pembaharuan di dalam gereja kita, toh… makna dan kereligius an dari gereja kita sendiri tak kan pernah hilang, gereja kita sangat berbeda dengan gereja lain. Karena yang pokok adalah : Sakramen Ekaristi nya itu sendiri. Penyatuan diri kita dengan Kristus. Amin

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>