Mekarnya Kebaikan

Moralitas dan agama yang berpusat pada intelek mengajarkan kepada umat untuk mewujudkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan. Setiap orang didorong untuk memilih: kebaikan vs kejahatan, boleh vs tidak boleh, duniawi vs surgawi, diri palsu vs diri sejati. Namun demikian, kita menyaksikan kejahatan tidak berkurang. Bumi semakin rusak. Arus kekejaman dan brutalitas makin meningkat.

Meskipun banyak orang beragama atau berpegang pada prinsip-prinsip moral tertentu, pada kenyataannya sangat sedikit orang berubah secara fundamental. Kita tetap saja hidup dangkal, ambisius, kejam, terpecah-belah. Apakah agama dan moralitas mampu menggerakkan perubahan bukan hanya di tingkat permukaan dan menyentuh akar kejahatan?

Diri atau ego adalah akar kejahatan itu. Selama diri masih ada, kebaikan yang sungguhnya tidak ada. Selama agama, moralitas dan pendekatan kerohanian berpusat pada intelek, diri atau ego justru diperkuat secara halus. Ego-halus ini diperkokoh untuk mengejar kebaikan dan mengalahkan kejahatan. Semua kejahatan berakar pada diri dan kejahatan diatasi oleh diri yang sama. Tidak heran, gerak kejahatan yang berpusat pada diri ini tidak berhenti secara total. Selama masih ada diri, adakah kebaikan sejati?

Kejahatan meningkat karena kebaikan hanya sebatas buah gagasan. Orang menciptakan pola tertentu atau dipaksa menerima pola tertentu yang kemudian diyakini sebagai kebaikan dan orang menyesuaikan diri pada pola tersebut. Lahirlah daya upaya atau pergulatan untuk mewujudkan kebaikan. Ketika orang berdaya-upaya, maka ego yang adalah akar kejahatan itu diperkuat. Kebaikan yang dihasilkan gampang layu dan justru memperkuat kejahatan itu sendiri. Merebaklah ambisi, keinginan menguasai, kemunafikan, konflik, kekejaman, kesedihan. Semua itu terjadi karena kebaikan yang sesungguhnya belum mekar dalam batin.

Bisakah anda melihat fakta batin anda tanpa berdaya upaya untuk mengubahnya, menyadarinya tanpa menamainya, mengamatinya tanpa menilai buruk atau baik? Kebaikan sejati mekar dengan sendirinya kalau kejahatan, keburukan, kekotoran batin dipahami secara tuntas. Kebaikan tidak perlu dicari atau diwujudkan tetapi mengalir secara alamiah. Tugas kita bukan mengubah, tetapi memahami batin apa adanya tanpa distorsi.

Inteligensi terbangkitkan dalam pemahaman total terhadap apa yang faktual, bukan dalam mengejar apa yang ideal. Inteligensi inilah yang menggerakkan kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang diciptakan dan digerakkan oleh pikiran tidak lebih sebagai kebaikan mekanis. Apa yang ideal justru menjauhkan dari apa yang faktual. Nasehat-nasehat untuk mengejar apa yang ideal hanya akan menyuburkan batin yang munafik, sebab apa yang faktual selalu diingkari oleh apa yang ideal. Maka orang tidak bisa menjadi sungguh-sungguh baik lewat latihan untuk mengejar yang ideal.

Kalau apa yang faktual itu tertembus, terpahami, maka inteligensi terbangkitkan dan kebaikan mekar secara alamiah. Ruang batin yang tak tersentuh oleh intelek adalah batin yang inteligen. Batin seperti itu bagaikan tanah yang subur bagi mekarnya kebaikan, kasih sayang, dan welas asih. Kalau inteligensi itu terbangkitkan dalam diri kita, maka kita tidak lagi bertanya ”Apa yang harus aku lakukan?” atau ”Apakah ini boleh atau tidak boleh dilakukan?” Inteligensi membuat kita memahami halnya secara utuh dan bertindak benar.*

9 Responses to “Mekarnya Kebaikan”

  1. Terimakasih kepadaNYA sampai detik ini keindahaan&kebajikan boleh saya nikmati walau sebuah tulisan.Barangkali saudara seiman kita baru melakukan doa Malaikat Tuhan & saudara kita umat beragama lain baru saja berbuka puasa,sungguh menyenangkan kalau saja disetiap hati/kalbu/jiwa/batin kita semua menjadi mekar/berseri/tumbuh/menyadari satu dengan lainya di setiap persoalan-persoalan baik didalam maupun diluar.Seindah tulisan ini terhantarkan,sehingga banyak orang disadari dengan banyak2 melihat/membaca tulisan-tulisan yg baik di web ini.

    Kebaikan mudah kita petik&kita tanam di hati kita,kalau kt sudah lebih dulu menyadari siapa yg membentuk ‘diri’ ini yg serba terbatas.Dari segala keterbatasan ini pula kt didekatkan oleh yg Maha Mulia,Maha pengasih,agar kita serupa dengan DIA yg penuh kebaikan-kebaikan.Karena kita mempercayai akan kasih yg tak berkesudahaan jika kita saling berbagi/mencinta/memahami satu dengan yg lain dengan kesabaran hati/jiwa ini.

    Terima kasih Romo sudah memberikan hal baik kembali buat kami-kami ini umatmu…

  2. Ok juga deeh. Biar gak ‘jealous’ cinta kubagi-bagi. Jadinya, nyayur apa, hayoo… :)

  3. Sayur apapun buat ‘dinner’, Cintaku padamu :)

  4. Kepada Mas”Rusa”yang baik,kerinduan atas segala kebaikan-kebaikan banyak orang yg berkunjung di web ini selalu dinanti sebagai penyejuk Iman/Kasih/perhatian/kelembutan/keharmonian sehingga Cinta Tuhan kita sungguh-sungguh hadir di sini/baik lewat tulisan/kata-kata/ungkapan/penyampaian.Barangkali itu juga kamu rasakan ya.Sehingga sering hadir untuk membagi guyonan-guyonan yg menggelitik,membuat kami tersenyum.

    Namun Mekar kebaikan yg sdh tinggal dikalbu setiap orang terutama di hati Mas Rusa,bolehkan kami mendapatkan sharring Indah dari tempat tinggalmu sekarang atas kebaikan-kebaikan Allah Tuhan kita yg sama&penuh cinta ini.Sehingga kerinduan kami semua kepada hal baik bisa menjadi wujud nyata.Kalau Mekar kebaikan itu ada di hati setiap pribadi-pribadi yg lembut&tulus.

    Sehingga senyum Tuhan Allah kita yg Kudus saat ini pula bisa kita peroleh.

    salam

  5. Mbak Regina yang juga baik,

    Ok. Kebetulan saya dan istri juga suka plesiran. Sharing seperti apa, ya? Kalau ke Sleman (contoh), bisa juga cerita tentang baceman bebek, ya. :)

    Sementara itu dulu, mau sembahyang rosario dulu…

  6. memberikan diri apa adanya, tanpa keinginan tanpa idealisme, karena Tuhan mencipta semua baik adanya.

  7. Dunia mengejar kekayaan material yg semu.
    Ayo lari & lari ! Nyangkul demi ini & itu !
    Mengejar lifestyle perkotaan…
    Sungguh memboroskan enerji tapi itu menjadi
    “keharusan” sementara orang. Mencari kebahagiaan
    ideal yg dilandaskan doktrin materialisme.
    Si iblis semakin senang melihat ulah manusia yg
    menceng rel yg seharusnya ditempuh.
    Namun dengan kita kembali ke zerobase, kita menjadi
    sadar bahwa kita datang telanjang & akan kembali telanjang.
    Dengan menjadi zero, kita bisa melihat segala sesuatu dari zero. Sebuah tindakan yang sungguh & sungguh mewah daripada mengejar harta2 yang mewah.
    Kita akan sadar apakah kita hidup sesuai zero.

    Terima kasih komunitas zero,
    tetaplah semangat, berdoa & menzero diri dgn penuh
    passio.

  8. Thanks Lord,The Creator Almighty…..
    For granting n sending us Thou “tiny n thin” but great shepherd
    who always guides n reminds us all,to grow n get more mature, d by d, time by time,with his patience

    Romo,incredible preach indeed,hopefully,IT may be absorbed well ,deep in grain in us….esp. in me myself, who is still often stubborn…
    Hats off, Mo,terima kasih sekali, habis nulis…Homili diulang lagi… wouw precious gift,Romo
    Akan saya bawa terus till The End…Amen…

    Luv in Christ,
    l w

  9. Ketika Allah bernyanyi didalam sebuah hati
    Merdunya menembus kedalaman hati
    Hingga ke relung-relung yang tersembunyi
    Menghalau segala batas dan jarak yang memisahkan
    Melahirkan kelembutan dan kedamaian

    Ketika Allah bernyanyi didalam sebuah hati
    Memekarkan segala yang kuncup dalam sebuah kasih sejati
    Bagai bunga yang berseri-seri diindahnya pagi
    Yang membuat kebaikan mekar di dalam diri
    Ya Allah biarlah aku tinggal di dalam Engkau
    Dan Engkau tinggal didalam aku..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>