Meditasi dan pengolahan hidup seorang calon Trappistin
Berikut ini adalah testimoni DSI (30th) tentang meditasi dan pengolahan hidupnya. Baru saja DSI menyelesaikan live in 3 bulan di biara Trappistin di Gedono. Seminggu lagi, 12 Juni 2010, DSI akan resmi masuk biara Trapistin sebagai postulan. Anda bisa membaca tulisan DSI yang lain di rubrik ini “Testimoni retret (3): Diam tidak melawan”.
==========
Romo Sudri, Mau sharing aja mo. Sampai saat ini kadang saya masih suka tertegun dan merasa ajaib bahwa perjalanan saya sudah sampai disini. Rasanya waktu berjalan cepat sekali. Kehidupan biara yang selama 10 tahun terakhir tidak pernah terpikirkan oleh saya,tiba-tiba sekarang saya memutuskan untuk masuk biara. Rasanya ajaib.
Saya tahu dan sadar bahwa keputusan saya bukanlah akhir dari perjalanan. Tapi ini adalah awal dari sebuah perjalanan baru yang pastinya ada ketakutan-ketakutan dan pergulatan-pergulatan.
Minggu-minggu awal saya disana saya bergulat dengan ketakutan tidak diterima dibiara tersebut. Disatu sisi ada keinginan untuk menjadi bagian dari biara tersebut. Disisi lain saya merasa bodoh dan tolol ketika magister novis (Sr.Mgda) bertanya, kamu merindukan Tuhan yang seperti apa?. Cukup lama saya terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kemudian dengan ragu-ragu saya jawab Tuhan sebagai pribadi. Lalu Sr.Magda bertanya lagi. Pribadi yang bagaimana? Kembali, lama saya tidak bisa menjawab. Lalu dengan ragu-ragu saya jawab pribadi yang taat. Setelah itu saya merasa sangat bodoh dan tolol sekali. Selama ini saya tidak pernah berfikir tentang Tuhan sebagai sebuah pribadi. Bagi saya Tuhan adalah Tuhan. Pencipta. Maha kuasa. Maha segala-galanya. Hanya itu. Ketika disana saya merasa dijungkir balikkan. Semua pengetahuan saya rasanya tidak berguna. Saya merasa benar-benar nol besar.
Di bulan pertama meditasi yang romo ajarkan tidak membantu sama sekali. Ketika duduk hening saya mencoba menyadari, mencoba tinggal dengan kenyataan bahwa saya merasa nol besar. Tetapi ketika mulai meditasi muncullah gambar teman-teman saya berganti-gantian seperti rol film yang diputar. Sampai teman-teman lama yang bertahun-tahun tidak pernah ketemu muncul juga. Setiap hari terjadi begitu. Saya gak bisa hening. Aneh ya mo, ditempat yang sunyi dan sepi sekali saya malah gak bisa hening. Dan hal ini membuat saya frustasi. Tanpa sadar saya mencari kekosongan yang sering kali saya alami ketika meditasi di Jakarta. Dan tanpa sadar hal ini membuat saya lebih frustasi lagi. Kemudian saya mengkonsultasikan tentang ini kepada Ibu Abdis. Beliau bilang biarkan saja gambar-gambar itu lewat. Tuhan sedang bekerja. Kamu tidak bisa memutuskan begitu saja hubungan kamu dengan teman-teman kamu. Biarkan saja gambar-gambar itu lewat. Jangan dilawan. Padahal romo juga mengajarkan hal yang sama. Biarkan saja apa adanya. Sebelum saya mengkonsultasikan dengan Ibu Abdis, saya sudah membiarkan gambar-gambar itu lewat apa adanya. Tapi tanpa sadar saya mencari tujuan, mencari pengalaman yang pernah saya rasakan. Dan ketika tujuan tidak tercapai saya frustasi.
Setelahnya, dengan membiarkan apa adanya saya menjadi lebih tenang. Walaupun gambar teman-teman saya berikut aktifitas-aktifitas yang pernah kami lakukan masih terus lewat ketika saya duduk hening. Namun ya sudah biarkan saja apa adanya.
Membiarkan apa adanya semua rasa perasaan yang muncul yang menjadi bagian dari pengenalan akan diri sendiri adalah hal yang juga di ajarkan di Gedono. Hal ini menimbulkan pertanyaan di hati saya.Kalo begitu apa bedanya hidup di dalam biara dengan diluar biara kalau yang diajarkan sama? Romo juga mengajarkan hal yang sama. Meditasi mengenal diri. Kemudian setelah mencari saya menemukan perbedaannya. Ketertarikan kepada Kristus dan intesitas kebersamaan bersama Kristus didalam ibadat-ibadat. Namun saya befikir kembali. Ketertarikan kepada Kristus dan intensitas kebersamaan bersama Kristus di dalam ibadat-ibadat bisa juga dilakukan di luar biara. Kemudian saya berefleksi pada proses awal perjalanan saya. Kenapa saya pilih Gedono?, kenapa saya pilih biara kontemplatif? biara trappist? yang kebanyakan orang bilang biara trappist adalah biara yang keras. Namun sampai saat ini saya tetap gak tau kenapa saya pilih biara ini. Ketika sekarang saya ada di Jakarta, ada beberapa teman yang tanya kenapa saya pilih Gedono? Saya selalu bilang saya gak tau. Karena memang saya gak tau. Saya hanya ikut hati saya yang bilang itu tempatnya. Love at the first sigh. Biara yang sebelumnya saya tidak pernah dengar sama sekali. Tapi tiba-tiba saya sudah berada didalamnya. Akhirnya pertanyaan saya membawa saya pada jawaban yang tidak terjangkau oleh pikiran.
Kemudian, memasuki bulan ketiga saya menjadi jauh lebih tenang. Saya semakin yakin dan mantap akan pilihan hidup yang saya pilih. Saya merasa menemukan hidup saya. Ketika meditasi gambar teman-teman saya sudah gak muncul lagi. Dan meditasi tanpa objek yang romo ajarkan membawa saya pada kekaguman akan Allah. Didalam duduk diam saya merasakan kedalaman-Nya, kebesaran-Nya, keheningan-Nya yang membuat saya begitu terpesona. Membuat saya sadar akan keberadaan saya sebagai ciptaan. Ketika di Gedono saya membawa tulisan Anthony de Mello (engkau mendengar burung berkicau?) yang saya print dan saya tempel dibuku. Entah sudah keberapa kalinya saya membaca tulisan tersebut. Berulang-ulang. Saya merasa selalu menemukan sesuatu yang mengagumkan dibalik tulisan itu. Dan justru di dalam kesederhanaan biara dan didalam keheningan biara ada sesuatu yang luar biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih lebar, lebih luas, lebih indah, lebih dari segala-galanya. Sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Didalam kesederhanaan dan keheningan biara segala sesuatu menjadi lebih terbuka dan jelas. Seperti yang romo bilang. Didalam keheningan ada kejernihan pemahaman, kebebasan yang mendalam, kecerdasan diluar jangkauan pikiran.
Segala sesuatu yang terbuka dan jelas tersebut membuat saya jujur terhadap diri sendiri. Bukankah meditasi mengenal diri yang romo ajarkan akan membawa pada titik untuk jujur terhadap diri sendiri? Dengan menerima apa adanya rasa terluka, kecewa, gembira, sedih,marah, dsb, bukankah itu berarti kita diajak untuk jujur terhadap diri sendiri?.
Satu sharing mo. Ketika kembali ke Jakarta, ada kesedihan yang menelusup ke dalam hati saya. Saya merasa ada yang hilang dan ada yang tercabut dari hati saya. Awalnya saya gak tau apa yang membuat saya sedih. Namun ketika saya tinggal dan masuk ke dalam rasa sedih itu saya menemukan ternyata saya kehilangan Gedono, saya merasa benih cinta yang mulai tumbuh menjadi tunas terhadap Gedono tercabut. Karena saya berada diluar Gedono. Di meditasi Sabtu minggu lalu rasa sedih karena kehilangan itu belum hilang. Ketika mulai meditasi saya masuk ke dalam rasa sedih itu. Saya tidak melarikan diri, saya tidak mengalihkan perhatian saya dari rasa sedih itu. Dan ajaib. Setelah meditasi rasa sedih saya hilang. Saya kembali gembira dan saya merasa mendapat energi baru. Walaupun beberapa menit sebelum meditasi berakhir saya merasa asing dengan sekitar saya. Rasa asing itu juga yang saya rasakan setiap kali ikut misa harian atau hari Minggu. Hari-hari awal saya di Jakarta, setiap kali ikut misa saya merasa ada sesuatu yang mengurung saya. Membuat saya tidak bisa begerak.Saya tidak bisa ikut nyanyi, saya tidak bisa berdoa. Saya cuma bisa diam. Saya merasa asing sekali dengan sekitar saya. Setiap kali misa saya berusaha menahan diri untuk gak keluar dari ruangan gereja. Rasanya betul-betul gak nyaman sekali. Tapi di misa hari ini semuanya berjalan lebih baik. Saya sudah bisa ikut nyanyi. Walupun kadang-kadang masih suka terdiam. Dan rasa asing itu berangsur-angsur mulai berkurang.
Sekarang waktu saya di Jakarta tinggal sedikit lagi. Sebelum kembali ke Jakarta saya katakan pada Ibu Abdis bahwa saya yakin dan mantap ingin bergabung dengan Ordo Cisterciensis Strict Observance (OCSO). Walaupun saya tahu hidup membiara bukan berarti hidup tanpa masalah. Meditasi mengenal diri yang romo ajarkan membantu saya berani untuk jujur terhadap diri sendiri, berani jujur dan berani tinggal didalam masalah yang saya hadapi. Dan di dalam terang Ilahi saya percaya Tuhan selalu ada bersama saya. Sabtu,05 Juni 2010 adalah meditasi terakhir saya di Gereja St.Anna. Tanggal 12 Juni saya dijadwalkan masuk Gedono sebagai postulan. Tanggal 11 Juni malam saya berangkat dari Jakarta bersama keluarga saya. Sampai ketemu lagi Romo. Semoga berkat Tuhan selalu beserta kita.
Salam
DSI







Dear Dessy ( or Suster Dessy =)..
Terima kasih untuk sharingnya dan saya senang dan bahagia akhirnya Dessy menemukan panggilan hidupnya. Sayang pagi ini saya tidak bisa ikut meditasi bersama di gedung Yos sehingga tidak bisa ketemu Dessy. Tiada kata yang dapat terucapkan selain doa semoga Dessy senantiasa setia kepada panggilan dan pelayananNya.
Semoga kita bisa ketemu sebelum berangkat ke Gedono, namun saya yakin suatu saat kalo saya berkunjung ke Gedono pasti bis menemui Dessy disana. May God bless your steps and all the best.
rasanya tdk ada kata yg tepat tuk ungkapkan kagum dan haru buat adikku, Sr. Robertha. Selamat menempuh hidup baru dlm cinta abadi.
Hai Des..
Saya senang n bahagia bs ketemu kamu td dan tertawa bersama teman2 yg lain.
Selamat ya Des atas pilihan kamu. Semoga kamu diberi kesabaran dan kekuatan. Kita semua yg hidup ini punya masalah kok Des.. Cuma tergantung kita bgmn menyikapinya.
Dulu sblm sy mengenal meditasi,sgl masalah,pergumulan sll sy pendam di hati saya,sy hindari,sy lawan,yg akhirnya merusak diri sy sendiri.Ttp stlah mengenal meditasi, sgl permasalahan yg ada dpt segera berakhir tanpa berlarut2,tentu dgn adanya kejujuran dlm diri dan menyadarinya..
Ketika ada perubahan pd diri,mmg hal2 yg jelek,asing,sedih,marah, itu akan keluar. Itu yg terjadi jg pd diri sy smp sy bingung,kok sy meditasi,tp malah jd tmbh sedih,bingung,marah,asing dan yg gak bagus2nya pd keluar. Sampai sy bpikir,mungkin meditasi ini tdk cocok pd saya. Namun tetap sy jlnkan meditasi walaupun ada kebingungan2. Yg sekarang dpt sy mengerti,bhw itu merupakan proses perubahan pd diri sy, di mana keceriaan dan kegembiraan sll keluar dr dlm hati,tnp dibuat2. Shg hal2 positif dan kegembiraan jg dpt sy tularkan ke orang2 sekitar sy.
Masalah itu pasti sll ada,dan saya bersyukur dgn adanya masalah2,krn dgn adanya masalah dpt membentuk kita mjd pribadi yg lebih kuat dan tau bersyukur, Tapi Pribadi Yg Kuat dan Tau Bersyukur Dpt Terjadi Jika Kita Menyadarinya. Bukan lari dr masalah.
Jujur itu mmg kuncinya. Terutama jujur kpd diri sendiri shg kita dpt mengenal diri kita sendiri.
Ok Des,God Bless U. Dan saya akan sll merindukan kamu..
proficiat, mba Dessi. Kau tetap mba Dessi yg kami cintai dg kasih yg tulus. selamat menempuh hidup baru. doaku sertamu, sampai kita bertemu kembali^_^
salam sayang dr hati.. .
Dear Dessi,
Wah, terharu,trenyuh,happy…bercampur aduk jadi satu membaca sharing cucuku ini…..amazing.
Proficiat ya Des,kutak akan berkata”farewell” ttp “till we meet again”…someday pasti kutengoki ya di Gedono.
Sayang sekali bbrp Sabtu sy keluar kota, ke Smrg jg, jd hanya 2 x ya rasanya ketemu, time flies so fast….Dessi akan segera
brkt.,Nah,Go ahead Dear….doaku bersamamu ya..
May our Good Lord grant U abundant grace n blessings from now
on.I ‘m proud of U ,Dessi.
Peace,luv fr
oma ly
Dear Desi,
Saya baru sempat buka website st anna dan membaca tulisanmu luar biasa perjalanan panjang mengenal Yesus sebagai pribadi yang mengagumkan, yang tidak pernah terjangkau dengan pikiran kita melangkah dalam Dia yang Indah dan Besar untuk mengalami hal-hal yang luar biasa mari bergandengan tangan dimanapun kita masing-masing berada sebagai saudara dalam keluarga meditasi. sedih, senang menjadi satu ini realitas yang harus saya jalani bahwa saya tidak bisa lagi bersenda gurau seperti biasa dengan dirimu tapi satu hal yang saya tahu kita bersatu dalam Dia setiap saat selamat jalan sahabat doa dan cinta untukmu.
Salam hangat,
Christina L.
Nak DSI, membaca tulisanmu tak terasa saya menitikkan air mata, mengapa ? karena bangga dan kagum pada putusanmu
Sungguh keputusan yang luar biasa untuk lebih mencari yang tidak kelihatan daripada yang kelihatan karena yang tidak kelihatan lebih kekal
Saya kutipkan dari sebuah buku yang nantinya akan menjadi bacaanmu disana …
Sungguh tidak kecil artinya hidup di dalam biara atau di dalam persekutuan bersama orang lain …
(Thomas a Kempis – Imitatio Christi)
Proficiat
AMDG
Dear Mba Dessy.
Selamat buat Mba yang telah menemukan jalan untuk pilihan hidup.
Kadang kita merasa sendiri, kesepian, tidak ada teman , tetapi Dia yang Maha tahu dan maha besar akan menunjukkan jalan buat kita.
“Aku ini hamba allah, terjadilah menurut kehendak Mu , Bukan kehendakku tetapi kehendak Mu lah yang memberiku jalan”
Selamat Buat Mbak Dessy.
Salam.
Haryanto
baiklah, sampai di sini ya, mbaku. semoga kita bersatu kembali. selamat jalan ya, mba. daku akan merindukanmu ^_^
Selamat pada sr DSi yg telah melewati segala persoalan batin, melalui meditasi dapat membantu membersihkan batin dari kotoran. Doaku menyertaimu, semoga Tuhan selalu menguatkan tekat sr Dsi untuk siap melayani dan mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk Tuhan.
Dari Yuliana
Mbak Dessi yg murah senyum, mbak Dessi yang murah hati….selamat berjalan menelusuri gurun kehidupan !
We miss you but happy to pray for your soul to reunite more & ever with Jesus !
TBH