Mati Bersama Kristus
Mati Terhadap Dosa Berkat Kasih Karunia Roh Kudus
Bagaimana mencapai keselamatan? Lewat iman kepada Kristus berdasarkan rahmat semata-mata. Kristus telah memungkinkan semuanya, yang sebelumnya tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia berdasarkan kekuatannya semata-mata. Sekarang mari kita lihat isi dari penyelamatan itu, yakni unsur-unsur yang membangun kerangkanya. Ada dua aspek di sini. Yang pertama, yang negatif, adalah kemerdekaan dari dosa dan hukum (taurat). Kedua, bersifat positif, yakni karunia Roh Kudus. Kedua unsur ini tampak dalam Yeh 36:25-26. Yesus memenuhi kedua aspek penebusan ini. Unsur yang pertama dipenuhinya dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sedangkan yang kedua melalui Pentekosta.
Meskipun masih bisa dibedakan, kedua aspek penyelamatan ini saling terkait. Kemerdekaan itu bagaimana pun juga merupakan syarat untuk kedatangan Roh Kudus. Ada pun kemerdekaan dari perbudakan dosa merupakan buah dari karya Roh Kudus dalam jiwa. Dalam Keb 1:4 dikatakan bahwa kebijaksanaan tidak akan masuk ke dalam jiwa yang penuh tipu-daya, tidak tinggal dalam tubuh yang diperbudak dosa. Allah tidak akan mengutus Roh Kudus-Nya ke dalam hati yang masih diperbudak oleh dosa. St. Petrus dalam khotbah-Nya yang pertama berseru: “Bertobatlah… dan engkau akan menerima karunia Roh Kudus.”
Dengan mengenali dua aspek keselamatan ini kita sampai pada titik yang penting refleksi iman kita: mati bersama Kristus berarti mati terhadap dosa dalam naungan kasih karunia Roh Kudus. Inilah makna ‘eksodus’ Paskah yang sejati. Proses mati terhadap dosa ini harus melalui beberapa tahap berikut ini:
1. Mengakui kedosaan.
Yesus mati untuk dosa kita. Kalau kita tidak berdosa, Kristus tidak perlu mati. Setiap orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23). Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1 Yoh 1:8) Akan tetapi, dunia dewasa ini telah kehilangan rasa dosa. Apa tandanya? Manusia tidak takut lagi berdosa. Kalaupun masih takut, derajatnya jauh lebih rendah daripada ketakutan akan hal-hal lain. Manusia zaman ini lebih takut pada polusi, penyakit-penyakit tak tersembuhkan, perang nuklir, atau bakteri-bakteri. Tapi, ia tidak takut akan murka Allah yang akan datang.
Gejala ini pun menimpa umat kristen. Dewasa ini, umat lebih suka mendengarkan khotbah-khotbah yang menghibur, yang lucu, daripada khotbah yang serius dan keras tentang hukuman atas dosa. Ini tipuan terbesar iblis dewasa ini. Ia akan berkata: “Ah, gak apa-apa. Tuhan ampuni koq dosamu. Dosamu kan kecil. Gak apa-apa.” Padahal, kalau kita perhatikan khotbah Yesus dari semula sampai akhir menekankan hal yang sama: bertobatlah dan percayalah kepada Injil.
2. Bertobat.
Kalau saya berkata demikian, seolah-olah dosa itu amat mengerikan. Memang, dia mengerikan. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa kita harus takut padanya. Yang seharusnya kita takuti adalah Allah sendiri. St. Teresia dari Lisieux: takut kalau sampai-sampai ia tidak membalas kasih Yesus sepantasnya. Yesus telah mati atas dosa kita. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengakui dosa dan kelemahan kita di hadapannya dan bertobat karena percaya akan kasih dan kerahiman-Nya. Inilah yang dimaksudkan St. Yohanes dengan berkata: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yoh 4:18)
Jadi, apa itu bertobat? St. Teresia: “Kalau aku melakukan dosa terberat yang bisa dilakukan manusia, aku akan segera melemparkan diriku ke dalam samudra kerahiman Tuhan dan dalam sekejap api kerahiman akan membakar habis seluruh dosaku.” Tuhan datang bukan untuk menghakimi. Ia datang untuk menyelamatkan kita. Tidak ada satu manusia pun yang tidak bisa diselamatkan oleh-Nya. Tidak ada dosa yang tidak bisa diampuninya. Yang Dia inginkan adalah keterbukaan kita akan kerahiman-Nya, percaya kepada-Nya. Sayang, banyak orang yang tidak mau percaya. Bukan Tuhan yang tidak mau mengampuni mereka. Merekalah yang tidak mau diampuni. Kata Tuhan Yesus: hanya dosa menghujat Roh Kudus yang tidak bisa diampuni. Maksudnya adalah dosa ketegaran hati. Roh Kudus sudah menarik orang-orang itu untuk datang dan percaya akan kerahiman Tuhan lewat wafat dan kebangkitan Putera-Nya. Akan tetapi, mereka menolak tarikan Roh Kudus itu:
* Ada yang merasa sangat berdosa, bahwa Tuhan tidak mungkin mengampuni dosanya. Akhirnya, ia putus asa dalam penyesalannya. Ia termasuk orang yang tidak percaya kepada kerahiman Tuhan.
* Ada yang merasa tidak berdosa. Merasa benar sendiri dan tidak perlu bertobat. Mereka suka menghakimi orang lain dan membanggakan diri sendiri. Mereka juga tidak bisa diampuni.
* Ada yang berkutat dalam dosa. Menganggap Tuhan tidak ada. Karena itu, mereka merasa tidak perlu bertobat.
Bagaimana menanggapi tarikan Roh Kudus itu? Ada unsur-unsur pertobatan:
* Kesedihan. Sedih karena telah menyakiti hati Allah. Sedih karena tidak melakukan apa yang harusnya dilakukan sebagai anak-Nya (bdk. Mzm 51 dan “Anak yang hilang”).
* Kerendahan hati seorang hamba.
* Iman akan kasih Tuhan (bdk. “Ya Tuhan, saya tidak pantas…”)
Yang bukan unsur dosa: malu, sikap candang – mencobai.
3. Berhenti berbuat dosa.
Pertobatan pertama bukan jaminan. Perlu pertobatan terus-menerus. Yang sudah lama ikut Yesus pun bisa jatuh kembali. Bahkan jatuh lebih dalam (bdk. “Sahabat jadi musuh” dan 2 Ptr 2:20-22). Memang nyatanya kita akan tetap berdosa karena kelemahan kita. Akan tetapi, minimal ada usaha dari kita untuk sungguh-sungguh menjauhi dosa. Cara-caranya:
1. Menjauhi kesempatan berdosa. Tidak bergaul dengan teman-teman yang bisa menyeret kita kembali ke dosa dahulu. Tidak mencari barang-barang yang bisa menggoda.
2. Lawanlah godaan setan begitu dia muncul.
3. Penuhi hari-harimu dengan latihan-latihan kebajikan, matiraga, dan praktik kerendahan hati.
4. Jangan suka menganggur. Gunakan waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat.
5. Berdoa dan berjaga-jaga agar tidak jatuh dalam pencobaan.
4. Menghancurkan tubuh dosa.
Rm 6:6: “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Hanya Allah yang bisa mengampuni. Dia jugalah yang memberikan rahmat pertobatan dalam hati kita (bdk. Flp 2:13) Menghancurkan tubuh dosa dengan rahmat sakramen-sakramen Kristus. Rahmat pertobatan dan pembaharuan diri terus-menerus mengalir dari sakramen-sakramen Kristus. Yang pertama adalah Sakramen Baptis. Yang terutama adalah Sakramen Ekaristi. Dalam konteks pertobatan, yang paling efektif adalah Sakramen Pengakuan Dosa.
5. Menderita dalam daging.
Meskipun pertobatan dan pengampunan merupakan rahmat semata-mata, kita dapat bekerjasama dengan rahmat itu melalui silih-silih dan doa pujian kita. 1 Ptr 4:1-2: “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, — karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa –, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”
Di atas telah dijelaskan bahwa salah satu cara menjauhi dosa adalah dengan melakukan praktik-praktik kebajikan dan matiraga. Kitab Suci mengajarkan bahwa tindakan-tindakan silih kita sungguh-sungguh punya nilai yang abadi. Bukan karena kemampuan kita sendiri, melainkan karena rahmat Allah pula. Fil 1:29: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.” Kol 1:24: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Ini luar biasa. Dengan bertindak murah hati, kita juga akan beroleh kemurahan. Sekali lagi atas jasa Kristus. (FG)







Leave a Reply