Letih dengan perkawinan
Saya seorang wanita batak berumur 32 tahun, saya tinggal di jakarta bersama suami setahun terakhir. sebelumnya kami pindahan dari medan. aku menikah dgn seorang pria batak jg, dan telah memiliki 2 anak laki-laki. tapi selama hampir 6 tahun usia pernikahan kami, aku tak pernah merasakan bahagia. kami kerapkali bertengkar, meski hanya karna hal kecil. saya sudah merasa letih dgn pernikahan ini, saya sudah sepertii pembantu. ditambah lagi suami saya mencintai uangnya lebih dari pada aku dan anak-anaknya.
dia akan marah jika ada pengeluaran yg tidak dia niatkan, bahkan meski sudah diniatkan sekalipun, dia akan sedih dan berdampak pada pembataln pemenuhan kebutuhan lainnya. aku sungguh2 nggak tahan lagi dengan semua sikapnya sehari2, kasar, pelit, gak mau tau pengurusan anak2, gak peduli keinginan dan kebutuhanku. padahal sesungguhnyaia mampu secara finansial. setiap kali bertengkar, keinginan bercerai atau berpisah selalu memuncak. sdh beberapa kali aku ingin pergi dan meninggalkan dia sendirian, dgn membawa anak2ku serta tentunya. tapi dia selalu menghalangi, dgn alasan masih sayang ama keluarga kecil kami. tapi sekarang kesadaranku semakin kuat, bahwa sesungguhnya dia hanya mencintai dirinya sendiri. uangnya, dirinya, keluarga asalnya. kami (aku dan anak2nya) hanya pelengkap hidupnya saja. setidaknya statusnya di lingkungan sosial dan kantornya. dia tentu akan merasa malu jika aku dan anak2 meninggalkannya.
tapi aku sudah tak tahan lagi, sejak awal perkawinan kami pertengkaran kerap terjadi, dan selama itu pula, pertumbuhan emosionalku menjadi tidak wajar, aku menjadi jauh dari pergaulan, lingkungan sosialku, tak bisa bebas keluar, apalagi mendaapatkan dan menggunakan uang. aku hanya mendapatkan jatah uang dapur yang tak seberapa, dan harus kupergunakan untuk semua kebutuhan keluarga yang begitu banyak, dengan dua orang anak. aku sudah tak kuat menghadapi dia sehari2. rasanya tak ada lagi cinta didalam hatiku untuknya, semua sesak oleh kebencian terhadap dia.
romo, aku ingin bercerai darinya… meski aku tau itu diharamkan oleh gereja dan lingkungan adat batak. aku tau aku akan diasingkan, dari kedua lingkungan itu. tapi apakah gara2 kedua faktor itu aku harus menderita terus lahir batin?
aku tak pernah bisa bahagia dengannya dari hal apapun, tidak dari materi, ataupun urusan yang lebih “pribadi”.
romo, bagaimana aku bercerai? aku masih terdaftar di gereja katolik di medan-KAM, dan belum mengurus surat2 perpindahan gereja kami, bahkan KTP kami pun masih terdaftar di medan. parah y romo??( itu karna dia gak mau ngurusin, padahal waktu kami di rumah dinas di sumatera, dia kerap kali pulang ke rumah mamanya dengan alasan ngurusin semua berkas-berkas perpindahan, baik di pemerintahan, ataupun urusan gereja)
ah Romo, aku gak sanggup lagi bertahan, bisa atau tidak bisa aku ingin berpisah darinya, dengan membawa serta anak2ku. hanya aku tak tau bagaimana mengurus perceraian ini secara sah, dari agama katolik maupun sipil. kalau hukum adat aku gak peduli.
mohon bantuannya romo, aku hampir frustasi, kebencianku pada suamiku sudah tak terbendung lagi, bukan karna figur orang lain. (terus terang aku gak punya siapapun figur yang membuat aku berpikir untuk berpisah darinya). semua karna rasa sakit yang aku alami hidup bersamanya. aku mohon ya Romo.. berikan aku solusi..
terimakasih.
Mtb







semoga Ibu Mtb, tidak keberatan bila yang menanggapi bukan romo yang dimaksud ..
saya tidak tahu apakah masalah anda ini pernah dikonsultasikan dengan pihak ke-3, dan apakah ada kesepakatan untuk penyelesaian pada saat konsultasi itu untuk menuju kepada perbaikan-perbaikan yang diharapkan bersama..
jika belum, saya rasa anda perlu mencobanya.. karena komunikasi antara anda dan suami anda sudah rusak karena hilangnya rasa kepercayaan satu sama lain. Jadi perlu ada mediasi. Lalu dalam proses rekonsiliasi perlu ada komitmen bersama, apa saja yang mau dijalankan bersama untuk memperbaiki hubungan perkawinan dan kehidupan dalam keluarga anda.
Jika anda merasa belum siap, sebenarnya anda bisa saja meminta ijin romo paroki untuk hidup terpisah darinya untuk sementara waktu. Jadi jangan pikirkan perceraian sebagai jalan keluar dari masalah anda, jika usaha-usaha untuk perbaikan belum secara maksimal dilakukan, dan jika memang tidak ada jalan keluar untuk mendapatkan jaminan kesejahteraan anak-anak, selain lewat pengadilan. Yang pertama harus disembuhkan adalah diri anda, kondisi batin anda, psikis anda, supaya anda kuat, lakukanlah ini demi anak-anak anda. Karena saat ini, jika benar ceritamu, anak-anak anda sangat mengandalkan diri anda.
Anda pun membutuhkan dukungan moral dari orang-orang terdekat anda, terutama keluarga anda. Anda tidak perlu menutup2i bahwa keluarga anda sedang tidak mengalami masalah. Tetapi sampaikan hal ini dengan bijak, supaya mereka tidak memperkeruh suasana dan menambah daftar masalah. Anda hanya perlu dukungan moral (dan mungkin finansial), bukan seorang “pengacara” atau seorang “jaksa” yang melawan suami anda.
untuk sementara itu dulu.. May God bless your steps..
Ibu Mtb yang baik,
Syukurlah, hal pertama yang harus anda sadari bahwa tidak pernah ada perceraian dalam agama Katolik. Jadi hindarilah untuk berpikir soal cerai. Itu tidak pernah ada!
Sekarang hanya harus fokus terhadap upaya develop keluarga anda. Bagaimana?
1. Sadarilah dulu bahwa hanya ibu sendiri yang dapat membahagiakan hati ibu. Bahkan bila Tuhan berusaha membahagiakan hati ibu tapi ibu memilih untuk tidak bahagia, ya pasti hasilnya ibu tidak akan bahagia. Maka pilihlah untuk bahagia. Ubah paradigma ibu bahwa suami adalah biang kemalangan sebagai rahmat dalam hidup ibu. Sulit ya? Memang! Dia adalah rahmat bila ibu menyadari bahwa dengan sikapnya ibu bisa mendevelop hidup ibu. Maka marilah mulai melakukan development!
2. Bersyukurlah bahwa kalian orang Batak karena orang Batak punya rasa hormat kepada orang yang dituakan. Daripada pilih cerai, sebaiknya pergilah kepada siapapun yang ditakuti suami. Misal, opung, atau paman. Bila dia takut terhadap opungnya ya datangi dulu neneknya dan bicarakan masalah anda. Baru setelah dapat dukungan dari nenek, minta opung bicara dengan suami agar memperbaiki diri.
3. Apakah anda memiliki penghasilan sendiri? Bila tidak, carilah. Biar kecil, itu akan membuat martabat anda di hadapan suami akan naik. Anda akan punya bargaining power dalam berbicara dengannya. Karena dia lekat pada harta, tentu dia hormat kepada orang yang punya harta. So, carilah!
Punya uang sendiri akan membuat anda merdeka membelanjakan uang tanpa harus mengemis kepadanya. Kalau sulit, minta bantuan paroki untuk wirausaha.
5. Apakah dia KDRT? Kalau ya, laporkan polisi, setidaknya ketua RT, ketua lingkungan atau tetua adat kalian. Orang Batak juga malu kan kalau lelaki memukul perempuan?
4. Mulai sekarang fokuskan saja seluruh pikiran, akal budi anda kepada urusan pendidikan anak dan cari uang. Tidak usah pikir cerai.
5. Berdoalah mohon pertolongan Tuhan agar suami berubah dan kalian kembali rukun.
Coba dulu ya…. nanti kalau kesulitan dalam mencoba, boleh tanya lagi. Doa saya untuk ibu, semoga tabah.
Salam, rin
Bu Mtb yang baik,
ini ada tulisan yang menarik dari bu Aida di bawah judul: Dialog tentang Meditasi Hari ke-4, 12 September 2010
Boleh coba, saya juga merasakan bahwa hati yang hening bisa membuat kita tidak terganggu oleh apapun, siapapun, sereseh apapun dia. Sapa tau dengan begitu ibu lebih mudah memahami suami dan tidak merasa terganggu apapun. Bu, bahagia atau tidak itu kan pilihan diri sendiri, jadi jangan mau terganggu oleh suami. Tepuk tangan itu hanya bisa terjadi kalau ada 2 telapak tangan. Berantem juga hanya bisa kalau ada 2 pihak yang sama kerasnya. Kalo ibu tidak merasa terganggu lagi dan fokus ke anak anak dan cari uang, bisa diharapkan tidak ada pertengkaran lagi. Atau kalaupun kalian bertengkar ya ibu sudah tidak terganggu lagi.
Tulisan bu Aida:
terima kasih romo..
Dulu ketika pertama kali membaca tulisan2 romo di web,sempat ada kebingungan2 dan justru smkn stres dan tdk mengerti. Namun stlh sy lakukan dgn meditasi,akhirnya sy baru mengerti ttg tulisan2 romo tsb. Dulu jg saya anggap bahasa di tulisan romo tll tinggi,namun ktk saya selami dgn kesadaran meditasi, saya baru mengerti.
Saya bnr2 sangat berterima kasih dgn adanya tulisan tanya jawab ini,apalagi sudah disederhanakan,jd banyak orang yg membaca akan lebih mudah mengerti. akan dpt memahaminya jg ketika masuk dlm kesadaran meditasi. Krn mmg slm ini,banyak orang yg berpikir bhw meditasi itu susah,capek,hrs duduk diam terus menerus. Pdhl ini adalah ttg kesadaran. orang tdk melulu hrs duduk diam bermeditasi…
contohnya,saya dulu paling takut ke dokter gigi. namun,ketika ketakutan itu muncul pd saat dibor,saya sadari sj. saat itu jg ketakutan itu hilang,shg sy bs diam,tenang kembali dan,dokter dpt bekerja dgn baik tnp adanya gangguan dr ketakutan sy sebelumnya.
Setiap saat mmg kesadaran yg diperlukan. Dulu jg, ketika rasa bersalah, kesedihan, kemarahan dll datang tll mendera,shg mengganggu batin,mengakibatkn depresi dan sy tdk dpt hidup dgn normal, dan kesehatan smkn menurun. Saya sangat menderita saat itu..
Saya sangat bersyukur krn dpt mengenal ttg kesadaran meditative. Skrg,jika ada gangguan dari luar diri saya,tdk membuat batin menderita dan terganggu lg..Shg kondisi kesehatan sy,scr fisik n psikis smkn membaik dan saya sdh dpt mlakukan aktifitas sy dgn baik dan smkn membaik.
Kesadaran ini banyak sekali manfaatnya.Dan banyak anggapan dr orang2,bhw orang yg mlakukan kesadaran meditative adalah orang2 stress,trmsk suami sy sndiri yg mgatakn dmkn. Namun,bg sy,sangat berguna krn mbuat saya jd pribadi yg lbh sadar shg tdk dilanda stres dan dpt mlakukan sesuatu tindakan atau memutuskan sesuatu dgn lbh baik lg. Justru jadi tidak stres2 lg dan tdk berkepanjangan stresnya. Gantian suamiku yg skrg suka uring2an dan ngomel2…hehehe..tp gak mengganggu sy,malah krn sy gak terganggu,ngomel2nya suamiku stop deh..
Terima kasih..
salam, rin
Waaahhhh… selama masih bisa, jangan pernah mencoba untuk hidup terpisah deh! Setan paling senang menggoda orang yang hidup terpisah.
Nanti suami tergoda untuk berpikir,”Uh! mumpung istriku yang minta hidup terpisah, maka salah dia kalo aku sampe main sama perempuan lain!”
Dan godaan untuk anda adalah,”Oo… enak ya hidup tanpa suami. Gak ada si reseh itu! Udah deh, aku cerai beneran aja!”
Selama anda masih niat taat kepada Tuhan untuk tidak cerai, jangan pernah minta cerai, jangan pernah ngajak hidup terpisah. Nanti anda yang jatuh salah.
salam, rin
Jika Ibu kesal dengan suami, aku kesal dengan istri. jika aku sangat menjaga harga diri, kehormatan, dll. Istriku selalu merusaknya. jika dinasehati benar-benar membangkang. diajak berhubungan ga pernah dengan kerelaan mau, menolak lebih dominan, padahal keinginanku setiap saat. ku merasa terhina, hancur, prustasi. tp aku tak pernah melampiaskan kemarahanku, demi rumah tanggaku, demi anakku, demi orang-orang yang telah memberikan restu padaku saat di pelamian, dan yang tertinggi demi Tuhanku. tapi … aku manusia biasa… yang bisa terluka …
Nasihatku untuk ibu, jika ibu telah melakukan yang menurut ibu harus dilakukan seperti memberi pengertian, bertukar pikiran, rekonsiliasi seperti saran di atas, sebaiknya Ibu jangan mengorbankan kebahagiaan hidup ibu. Kebahagiaan adalah hak ibu. perceraian bukanlah hal buruk, jika dengan perkawinan kehidupan lebih buruk.. perhatikan agama Islam bu, itu lebih rasional.. Toh Tuhannya sama, dia agama yang lebih muda. tentu Tuhan ingin yang lebih baik bagi hamba-Nya, maka aturannya boleh cerai, tatkala ibu tak dapat menjalankan kewajiban atau tidak dapat menerima hak yang mesti ibu terima.. Ibu lakukan semua KARENA TUHAN.. Tuhan Maha Memahami makhluknya..
Tinggal memilih mengikuti kehendak Allah yang diajarkan melalui Gereja-Nya yang dilindungi dari kuasa maut (Mat 16:18) atau memilih bujuk rayu Iblis untuk meninggalkan Allah.
@NGAWUR,
Pernah mendengar kata manajemen?
Arti dari kata itu adalah mengeksploitasi orang lain untuk melakukan apa yang kita ingin kan.
Saya yakin anda bukan seorang manajer yang baik. Kalau istri anda sendiri dirumah saja anda tidak bisa memanage gimana di pekerjaan?
Lalu anda menyalahkan istri anda karena ketidak mampuan anda? apakah hal tersebut juga anda lakukan dipekerjaan anda. Anda menyalahkan anak buah karena ketidak mampuan anda?
Lalu dengan alasan tuhan pasti memaklumi, basi sekali. Kalo kata orang itu artinya pecundang.