Kunjungan ke Rumah Tahanan Pondok Bambu
25 Agustus adalah kunjungan ke 8 Seksi Reksa Rohani Penjara Paroki Santa Anna ke Rumah Tahanan Pondok Bambu, di tahun 2009. Dipimpin oleh Moderator, Romo Ardi Handojoseno SJ, ikut serta dalam tim pelayanan ke Rutan kali ini : Frater P. Andrias SJ, Romo Dessius CSSR yang pintar menyanyi, Bp Heribertus, Ibu Titi Minarto (Ketua Seksi), Ibu A. Singgih Pratista (Wakil ketua), Lucia, Linda Wala, Bp. Redemptus Sukarno, Bp Y. Mulyono, dan Ibu Elizabeth Simbolon yang biasa memimpin pujian dan selalu kompak dengan organis yang berasal dari warga binaan wanita dewasa.
Seperti biasa sebelum masuk ke gerbang besi Rutan kartu identitas dikumpulkan. Di balik gerbang tertutup, kami dihitung sesuai dengan jumlah kartu ID dan sipir penjara memberi stempel pada permukaan tangan kanan setiap anggota tim. Lalu kami berjalan melintasi ruang terbuka menyerupai lapangan menuju tempat ibadah yang dipergunakan khusus untuk para tahanan beragama Kristen dan Katolik, jarak tempuh antara ruang sipir pertama dengan ruangan ini sekitar 4 menit.
Beberapa tahanan wanita telah siap dalam ruangan, masing-masing membawa Kitab Suci. Sebagian anggota tim pelayanan meletakkan nasi box, air mineral, beserta bingkisan yang akan diberikan kepada para tahanan; sebagian lain mulai menyiapkan meja yang akan digunakan sebagai altar untuk perayaan Ekaristi. Tempat duduk di barisan sebelah kanan diisi oleh tahanan remaja putera, untuk yang ditengah dan sebelah kiri diisi oleh tahanan wanita dewasa dan remaja puteri. Setelah sebagian besar tempat duduk diisi oleh para tahanan, kami siap memulai acara. Misa akan dipimpin oleh Rm Ardi SJ, seperti itu Romo menulis namanya ketika suatu saat membalas email dari saya.
Sebelum mengawali perayaan Ekaristi, para tahanan menaikkan pujian dengan menyanyikan lagu Bertemu Dalam KasihNya, Besarkan Nama Tuhan. Satu lagu nasional yakni lagu Syukur dinyanyikan bersama dalam nuansa ulangtahun Kemerdekaan RI. Bacaan I dari 1 Ptr 2:13-17, bacaan Injil dari Mat 22:15-21, keduanya diambil dari bacaan tanggal 17 Agustus yang lalu. Di barisan paling belakang remaja putera, Romo Sius siap menerima para tahanan yang hendak menerima Sakramen Tobat. Dari jumlah yang hadir 14 remaja putera dan 44 wanita, sekitar 20 orang diantaranya menyambut Komuni.
Selesai Misa, Romo Sius diminta memimpin acara yang telah dipersiapkan. Masih dalam suasana HUT Kemerdekaan, kami menyiapkan permainan tujuhbelasan bagi para tahanan. Permainan apakah itu? Organis memainkan sepenggal lagu nasional atau lagu daerah dan para tahanan diminta menebak judul lagu itu. Bila judul lagu tertebak, peserta yang menjawab diminta maju ke depan untuk menyanyikan lagu diiringi organis. Untuk lagu pertama yang dimainkan, ternyata sebagian mengetahui judul lagu itu bahkan berebut menjawabnya. Lagu pertama dibatalkan, diganti dengan lagu demi lagu berikutnya dengan aturan yang dipertegas: peserta yang pertama kali mengacungkan jari diminta menyebut namanya dan menyebut judul lagu yang dimainkan. Suasana semakin hangat, semua yang ada dalam ruangan seolah larut dalam permainan itu sendiri. Ada yang bisa menebak judul lagu tetapi tidak bisa menyanyikannya, seperti peserta puteri yang menebak lagu terakhir “Tak Gendong”, ada yang menebak judul lagu dengan kata-kata awal dari lagu tersebut, ada yang salah menebak karena penggalan lagu yang dimainkan mirip dengan lagu tertentu…. seru sekali! Ada 10 lagu yang dibawakan, dan untuk setiap peserta yang berhasil menebak kami menyiapkan hadiah yang dibungkus kertas kado. 10 orang warga binaan yang terdiri dari wanita dan remaja putera masing-masing menerima hadiah tujuhbelasan. Diakhir acara permainan, Romo Sius mengajarkan sebuah lagu dalam bahasa India. Konon setiap bait dari lagu itu terdiri dari 5 suku kata. Setelah dirasa cukup bisa menyanyikan lagu itu dengan diiringi denting keyboard, sambil menyanyi Romo Dessius memberi contoh gerak tari, diikuti oleh semua yang ada dalam ruangan tak terkecuali. Romo Ardi, Ibu Singgih, Ibu Titi, Ibu Simbolon, tak ketinggalan Frater Andrias maju ke depan, semua berdiri di sebelah kiri kanan Romo Dessius, menghadap mimbar. Organis pun antusias memainkan lagu baru ini bahkan Sipir penjara yang menangani bidang kerohanian, Ibu Sonta, menulis kata-kata dari lagu ini diatas transparant sheet sehingga semua dapat membaca lagu yang tertera di dinding melalui OHP. Semua orang bersemangat menyanyi dan menari…… meriaahhh!!! Sungguh suatu kebersamaan yang indah, wajah para tahanan memancarkan sukacita begitu pula para bapak ibu dan para sipir yang berada dalam ruangan.
Di penghujung acara, Romo Dessius mengajak para tahanan menyanyikan sebuah lagu yang ditebak oleh seorang artis disana, berjudul: Kemesraan. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu, kemesraan ini ingin kukenang selalu…
Dan tibalah saat kami harus mengakhiri pertemuan sesuai jadwal kunjungan pk 09.00 – 11.00. Romo Dessius menutup acara dengan memimpin doa dan memberi berkat. Para tahanan masing-masing memperoleh 1 nasi-box, air mineral, dan bingkisan berupa sikat gigi dan odol yang dikemas dalam plastik. Para tahanan putera menikmati nasi-box di dalam ruangan, sedangkan tahanan wanita membawa nasibox untuk dimakan dalam sel masing-masing. Entah kapan kami akan bertemu kembali dengan organis ini karena seperti penuturannya: dalam 5-6 minggu ke depan ia akan menghirup udara bebas.
Melalui kesempatan ini perkenankan kami mengucapkan terimakasih kepada para Donatur, kepada Ibu Soemadi Agustinus dkk yang berkenan membantu para Warga Binaan memperoleh makanan yang cukup baik untuk ukuran mereka. Romo Ardi SJ, Romo Dessius CSSR, Frater Andrias SJ: terimakasih atas waktu yang diluangkan bagi para Warga Binaan. Bulan September tidak ada kunjungan ke Rutan, baik ke Pondok Bambu maupun Cipinang sehubungan dengan hari Raya Idul Fitri.
Ta ta tume tume ta
Ta ta tume tume ta
Tu tume tume ta ta
Tu tume tume ta ta
Tu tume tume tume ta
Tu tume tume tume ta
Eyana eyana eyana eyana
Eyana eyana eyana eyana ya…
(mohon maaf bila terjadi kekeliruan dalam penulisan lagu).
(Lucia F.)







Leave a Reply