Konsultasi Iman Ibu M – Jakarta

Mohon doanya, agar dapat setia pada iman katolik dan diperbolehkan ke gereja katolik. Anak saya yg I babtis katolik, sekarang kelas 1 SD, anak ke 2 babtis kristen umur 4th. Yg I sekolah di katolik. Selama ini kami ke gereja protestan. Tetapi kadang2 saya ke gereja katolik secara diam2 kalau jumat pertama, rabu abu dan pintar2 mencuri waktu dgn berbagai alasan. Saya berharap anak I saya bisa ikut sakramen ekaristi kelas 4 nanti walaupun masih lama waktunya.

Tetapi masalahnya. Apakah diperbolehkan ?

Ibu M – Jakarta.

==

Ibu M yang baik,
Seharusnya agama tidak membuat pemisahan dan pengkotak-kotakan ya. Alangkah indahnya kalau suami (Protestan) dan istri (Katholik) bisa saling menghargai, menerima, mendukung dan mempertajam persamaan-persamaan untuk saling memperkaya.

Anak-anak ibu bisa juga diajak ke Bina Iman Anak setiap hari Minggu. Anak pertama bisa diikutkan pelajaran persiapan komuni pertama nanti kalau sudah kelas IV. Silahkan nanti mendaftar di Sekretariat Paroki.

Damai dan Kasih Kristus selalu menyertai,
Sudrijanta

5 Responses to “Konsultasi Iman Ibu M – Jakarta”

  1. “Tetapi kadang2 saya ke gereja katolik secara diam2 kalau jumat pertama, rabu abu dan pintar2 mencuri waktu dgn berbagai alasan.”

    Wah kelihatanya suami ibu M kurang setuju nih kalau ibu ke gereja katolik.

    Saya setju dengan pendapat dan saran Pastor Sudrijanta.

    Kalau boleh saya mengusulkan untuk ibu M , Coba pada saat dan suasana yg tepat mengajak suami ibu ke gereja Katolik agar suami ibu dapat melihat dan merasakan sendiri betapa gereja Katolik cinta damai terhadap agama apapun yg kita anut. Mudah2an tumbuh saling pengertian dan toleransi diantar berdua.

    Apalagi yg paling penting memberikan citra positif untuk anak2 berdua,bahwa walau k2 orang tua berbeda agama tetapi rukun dalam arti sesungguhnya dan tidak saling curiga.

    Saya ikut mendoakan ibu agar tetap sabar dan rukun selalu.

    GBU

  2. Medan, Nopember 2009
    Kepada Yth,
    Pembimbing Konsultan Anak
    Di Tempat

    Dengan hormat,
    Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke salah satu panti asuhan di sekitar tempat tinggal saya. Di sana saya menemukan seorang anak perempuan bernama Lala yang kebetulan belajar di TK tempat anak saya sekolah dan masuk SD di sekolah yang sama pula.
    Pendek cerita anak saya sudah kelas 5 SD, tapi anak tersebut masih duduk kelas 2 SD. Lalu saya bertanya di lingkungan sekolah perihal anak tersebut, pastinya sudah 3 kali anak tersebut tinggal kelas.
    Saat saya bertanya ke pengurus panti, saya mendapat kesimpulan bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan pernah disediakan seorang mahasiswi untuk secara khusus mengajarinya, namun hasilnya sangat tidak memuaskan.
    Mereka mengatakan saat dibimbing, sang anak selalu memberi alasan supaya tidak belajar, misalnya katanya, mau pipis dan lain-lain.

    Lalu saya menawarkan saran kepada pengurus panti asuhan supaya sang anak bisa tinggal di tempat saya. Saya pikir mungkin dengan merubah suasana kehidupannya dia bisa sedikit lebih bersemangat untuk belajar.
    Dari pengamatan saya selama hampir 3 minggu bersama kami, saya bisa berkesimpulan bahwa anak tersebut tidak bodoh, tapi sulit sekali mengajaknya untuk belajar. Saat disuruh mengerjakan suatu pelajaran, dia sepertinya mengerjakannya, namun ternyata dia hanya diam sebentar, lalu bila tidak diawasi dia akan meninggalkannya begitu saja.
    Suatu waktu saya bertanya kepadanya apakah senang tinggal di rumah kami. Dia jawab senang, bahkan meminta supaya tidak dikembalikan ke panti asuhan. Lalu saya bilang bila dia tidak mau mengikuti peraturan di rumah ini, saya akan kembalikan dia ke panti asuhan. Saya tahu, tidak baik mengancam seorang anak dengan yang tidak diinginkannya, tapi hanya dengan cara itu saya lihat dia sedikit mau belajar.
    Anak ini sangat cepat dekat dengan saya dan istri, namun belakangan terjadi ketegangan antara dia dan tiga anak-anak saya.

    Saya dan istri ingin sekali membantu dia demi masa depannya, tapi kami bukanlah orang yang punya pendidikan cukup dalam membimbing anak seperti anak tersebut. Untuk itulah saya mohon bantuan bimbingan dari pihak manapun yang dapat memberikan saran dan masukan termasuk pertama-tama tentunya dari Pembimbing Konsultasi Anak ini.

    Saya tidak pandai menceritakan secara detail tentang anak tersebut, namun bila saya punya kesempatan berbicara dengan Pembimbing, mungkin saya bisa ceritakan lebih detail.

    Saya sangat menunggu balasan dari Pembimbing dan terima kasih atas perhatian Pembimbing.

  3. Banyak orang tua bila melihat anaknya gagal mencari cara supaya anaknya tidak gagal lagi dan ada saja yang over dan lebih cenderung memaksakan. Bagi orang tua, pada saat anaknya gagal, maka mereka berpikir bahwa anaknya butuh mereka (orang dewasa) untuk memotivasi mereka. misal : seorang anak yang selalu mendapat nilai jelek di matematika, cenderung meminta anaknya belajar lebih rajin, membatasi mereka untuk melakukan aktivitas lain atau memasukkan mereka ke kursus matematika atau memanggil guru private. Lalu keberhasilan atau kegagalan mereka dihargai dengan hadiah atau hukuman. Mungkin untuk kasus tertentu hal ini akan berhasil, tetapi untuk kasus lain bisa jadi malah membuat anak tambah frustasi.

    in general, tidak ada seorang pun termasuk seorang anak kecil, berharap untuk gagal atau tidak ingin sukses.
    Kita pun harus percaya bahwa setiap anak ingin berhasil, dan jika ada seorang anak yang terlihat tidak memiliki semangat untuk sukses atau cenderung gagal, pasti ada sesuatu yang “menghalangi”-nya. Dan halangan itu bukanlah mengenai masalah motivasi, biasanya adalah masalah ketinggalan kemampuan berpikir. Ketidakmampuan belajar seorang anak dapat menurun kepada kemampuannya untuk berhasil. Untuk anak-anak yang memiliki masalah sosial, emosional atau tingkah laku indikasi umumnya adalah kesulitan mengubah pola pikir, kesulitan melakukan tugas secara multi, atau me-manage dorongan-dorongan hati, atau kesulitan mengatasi emosi.

    Seorang Dokter Psikolog Kanada mengatakan, bahwa apabila orang tua marah [biasanya karena tidak tahu] akan semakin sulit memahami anak mereka yang memiliki masalah ini. Jadi yang pertama kali disarankan adalah untuk menjadi pembimbing mereka yang sabar dan setia hingga si anak bisa mendapatkan kemampuan yang dibutuhkan untuk belajar. tantangannya adalah waktu bagi orang tua yang keduanya sibuk bekerja, atau memiliki lebih dari 1 orang anak.

    Saran saya

    1. cobalah menghabis waktu lebih banyak menemaninya belajar.
    membantunya dalam menemukan jawaban dari persoalan yang ia hadapi dalam pelajaran. membimbingnya untuk memahami pelajaran tersebut. walaupun ini hal yang sulit dilakukan, tetapi berusahalah dan tunjukkan semangat untuk belajar bersamanya.

    2. Jika memang dianggap perlu, cobalah mencari seorang psikolog anak untuk berdiskusi mengenai masalah ini.. tetapi sebaiknya dicari suatu bentuk pertemuan yang tidak seperti seorang pasien bertemu dokter, tetapi bila memungkinkan mengundangnya datang ke rumah anda, di tempat yang baginya aman. Tujuannya adalah mengetahui “blocking” yang menghalanginya untuk semangat atau sukses dalam hal belajar.

    hope those help

    May God bless your steps..

  4. Kepada Sdr Juniarsen

    Anda punya masalah yang mirip dengan kami, mengasuh anak dari panti asuhan, bedanya anak asuh (laki2) kami itu baru berusia 6 tahun. dia sangat pandai sekali berbicara hampir tdk berhenti dan spt radio pemancar,sangat demanding, senang berkomentar negatif, seorg ahli berargumentasi , tidak suka belajar misalnya dengan cara berteriak2 mengatakan lebih baik tidak punya mama papa aja daripada dipaksa belajar, atau mencoba meludahi pengasuh , atau tindakan yg lainnya.(saya terpaksa memberikan bimbingan intensif krn nilai sekolahnya jelek, tp dia msh mau sekolah mesikpun sering kami tanya dia mengaku tdk tau diajarkan apa disekolah), pelajarannya minim sekali dikuasai, utk test masuk SD kami harus meminta dispensasi sekolah karena guru kelas mengatakan dia blm bisa ikut test SD bulan Desember 2009 kemarin. selain itu kadang2 dia berkelakuan nakal sekali seperti mencari perhatian, terkadang liar berteriak keras tanpa kendali, tp terkadang manis spt anak kecil umumnya, dan juga mencemburui secara berlebihan adik kandungnya yang juga kami asuh (2 thn laki2).

    Sekarang ini kami membuat janji dengan psikolog anak utk mengetahui apakah yang terjadi sebenarnya terhadap anak ini? dan bagaimana supaya bisa disembuhkan mengingat usianya sudah 6 thn dan karakternya sdh terbentuk. selain itu jika ditanya cita2nya dia enjawab ingin menjadi penjahat dan ini sudah kita peringatkan 2 kali utk tidak menjawab seperti itu karena penjahat itu bukanlah cita2 yg baik. pernah pula didepan pengasuh dia mengatakan akan membunuh mama papa dan oma karena menyuruh dia belajar tiap hari. padahal kami ini bukan orang tua yang melakukn tindakan pemukulan atau kekerasan pada anak, jika menghardik itu karena kelakuakn anak sudah kelewat batas nakalnya.

    Jika sudah berkonsultasi saya akan sharing kepada Anda yg jadwalnya masih menunggu 2 minggu lagi (menunggu antrian lho.. jadi mungkin banyak juga anak2 yg bermasalah diluar sana..)

  5. Buat saudari Lisa

    Saya sangat berterima kasih atas sharing pengalaman Anda. Saya menantikan hasil dari konsultasi Anda dengan konsultan. Saat ini anak yg saya asuh sudah saya kembalikan ke panti, saya khawatir karena anak saya yang paling kecil (kelas 1 SD) sudah berani mengancam kami bila anak tersebut masih tinggal di rumah kami. Jadi saya memutuskan untuk memisahkan dia dari anak saya, namun saat menjemput anak saya ke sekolah saya masih sering memperhatikan anak tersebut. Sedih rasanya tidak dapat berbuat sesuatu terhadap anak itu, apalagi ketika saya melihat dia sampai dibotak oleh pengasuh panti. Saya yakin seharusnya dia berhak mendapat perlakuan lebih baik dari itu. Saya sering berpikir, sudah seharusnya ada sebuah lembaga yang menangani anak2 seperti itu, mereka berhak mendapat perawatan yang pantas dan berkesinambungan. Setiap bertemu anak itu saya selalu berpikir, pasti ada latar belakang tidak baik yang menyebabkan kerusakan pada jiwanya, namun saya tidak berani terlalu banyak bertanya pada pengasuhnya, niat baik mereka yg telah bersedia merawat anak itu harus saya hormati. Bukan salah mereka bila mereka menghadapi anak tersebut seperti anak normal lainnya, bukan seperti menghadapi anak yang sedang mengalami masalah mental, yang membutuhkan bimbingan seorang ahli kejiwaan yang sabar.
    Semoga Saudari Lisa berhasil membawa anak asuh Anda kepada hal yang lebih baik. Saya harap Anda jauh lebih sabar dari saya.

    Salam
    Juniarsen

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>