Konsultasi: Hidup Terpisah, Tampa Nafkah Batin

Selamat malam Romo, Berkah Dalem.., Saya wanita,33 th, menikah 11 tahun yang lalu secara katholik, punya anak 2. suami umur 37 tahun.Selama 7 tahun ini kami hidup terpisah, karena suami kerja di luar pulau. setidaknya minimal 1 bulan sekali suami pulang. beberapa waktu terakhir suami sudah tidak bisa memberi nafkah batin kepada saya tanpa alasan yang jelas. kebetulan karena saya orang medis, saya tahu persis suami saya tidak ada kelainan fisik yang berhubungan dengan hal tersebut.

Romo, sungguh saya merasa capek hidup seperti ini, saya bekerja, mengurus anak-anak, mengurus semuanya sendiri.Romo bolehkah saya bercerai? Karena hidup saya seperti tidak mempunyai suami.Setiap melihat suami pulang justru batin saya tersiksa, karena suami tidak bisa menyentuh saya lagi.Suami tidak pernah berusaha sungguh-sungguh untuk bisa kami hidup bersama lagi. MOhon jawaban dari Romo. Saat ini pikiran saya sedang kalut.Terima kasih Romo. Semoga Romo selalu diberkati Tuhan. Amien.

F

6 Responses to “Konsultasi: Hidup Terpisah, Tampa Nafkah Batin”

  1. Kepada sdri F yang saya kasihi.

    Saya ingin berbagi agar apa yg sdri F rasakan bisa sedikit memberi kelegaan sebelum Romo memberi jawaban yg klimaz(yg benar tentunya)moga-moga ini berkenan.
    Dari beberapa teman disetiap perkumpulan rohani kami sering berbagi/sharring sehingga kelegaan bagi teman2 semua dpt terbantu jika mereka mempunyai persoalan/permasalahan rt yg tak ubah sprt sdri F yg dialaminya.

    Coba setelah ini bisa menilik Tulisan dikolom Meditasi:tulisan
    “Seks & Kasih sayang.Banyak pemahaman arti dari kehidupan rt/pranikah/nikah.

    Pertama-tama coba sdri F kembali mengamati setiap kemunculan/kerinduan akan hubungan intim dengan suami tentunya,kalau pas suami tdk ditempat apa saja yg sdri lakukan?
    jika diamati kerinduan/kangen akan sesuatunya itu tanpa kt berlari-berupaya untuk suami pulang toh tdk mungkin?gimana diamati saat kemunculannya itu,lama-kelamaan itu akan rendah sendiri(karena biasanya yg membuat tersiksa adalah “pikiran” untuk sesuatu itu)mungkin bisa tengok kedua anak yg mulai tumbuh besar/sehat/pintar barangkali kita bisa mengalihkan semuanya itu.
    Kedua jika suami pulang dari perantauan,seharusnya ada kerinduan yg luar biasa,sambutan kemesraaan barangkali perlu disertai sehingga ada komunikasi untuk kalian berdua.Kalau ada tanda-tanda yg lain dari sikap suami,sebaiknya minta waktu untuk diskusi-dibicarakan wktnya sebentar secara terbuka karena ini demi untuk hubungan kalian.Biasanya hati seorang perempuan lbh peka dalam keadaan spt ini,(laki-lakipun demikian)ada kejanggalan?sebisanya minta pembicaraan lbh pada kejujuran sehingga tdk berlarut-larut dari kemelut ini.

    Ketiga kalau sdh sdriF lakukan,suami masih spt apa yg dituliskan
    biarkan,barangkali masa itu mmg hrs kalian lalui,upaya perbaikan sdh sdri F lakukan,besarkan buah hati dengan cinta kasih yg kau miliki tanpa beban sedih dari belenggu2 rumah tangga.Kesabaraan turut disertai serta keiklasan dari sdr F.Sampai suami akan bicara lagi tetapi hati mu tidak luka&menderita.Gimana caranya?adalah bebaskan batin/jiwamu untuk melihat/merasakan/memandang apaadanya,bukankan keluarga katolik sdh kau jalani dgn benar,tanpa meminta cerai darinya karena suatu keinginan biologis tdk terpenuhi(walau itu mmg perlu disuatu hub suami-istri)akan tetapi coba lihat dalam-dalam
    pasangan yg di tinggal mati salah satunya ada ko yg bertahan sampai ajal menjemputnya..atau pasang berpisah ia tak mencari pasangan lagi atau ada yg macam2 problema itu.

    sadarilah hidup tidak selalu mulus,tetapi melihat dari rasa syukur yg lain dari kehidupan sdri F sekarang?adakah yg patuh disyukuri?pasti banyak bukan.Kalau sdh hati tak ada lagi derita/keinginan terpenuhi/bebas batin tak penuh siksa, yg mana semua adalah buah “pikiran”niscaya langka selanjutnya sdri F begitu indah.

    Seindah menyambut kembali kalau suami tiba,dengan senyum kebaikan&keramahaan dengan cinta yg tulus&sejati yg sdri F miliki,barangkali ini bisa membuka dimensi baru bagi suami sdri F..
    (NB Dicoba ya!! kalau ada tulisan ini yg kurang berkenan dihati sdri F mohon dimaafkan )

    salam hangat
    regina mary

  2. F,
    ke kota mana perginya suamimu?

    Jangan kecil hati dulu lalu pengen cerai.
    Sejauh saya bisa mengerti ceritamu suamimu pulang tapi tiba tiba tidak nafsu sama sekali untuk melakukan hubungan sex denganmu. tanpa alasan apapun padahal dia secara fsik sehat dan secara psikologis mestinya ya kangen.

    Check dulu,
    apakah dia secara jujur memang tidak ada perempuan lain?
    Untuk yang ini ajaklah bicara dari hati ke hati, baik baik aja. Perhatikan: bahwa dia masih mau pulang berarti dia masih ada perhatian setidaknya terhadap anak. maka jangan terlalu cepat menghakimi.

    kalo bisa ada orang yang bisa ngecheck kebenaran cerita ceritanya, itu lebih baik.

    apakah ada kemungkinan dia diguna-guna orang?
    kalo dari kemungkinan tersebut di atas PASTI NIL, mungkin ya memang ada yang main guna-guna. Mungkin hatinya masih kepadamu, mungkin hatinya masih taat kepada Tuhan, tapi ada seseorang yang mungkin naksir dia dan ‘menggantung’ dia di sana. yang ini saya tidak punya saran lain selain bertekunlah dalam doa! yang namanya berdoa ya bisa sendiri dan bisa juga minta bantuan romo yang sudah terbukti bisa mengusir kekuasaan gelap.

    Selamat memperjuangkan suamimu!

    salam, rin

  3. Pertama, singkirkan dulu pikiran bahwa suami anda di guna-guna. SEbagai seorang Katolik kita tidak percaya takhyul.

    Tetapi mengenai kuasa kegelapan, memang ada, yaitu Iblis sendiri yang menggoda suami anda dan yang menggoda anda sendiri untuk bercerai. Apakah benar cerai adalah jalan keluarnya atau justru itu pil pahit yang harus ditelan juga oleh anak-anak sepanjang hidup mereka.

    Masalah anda sebenarnya mirip kasus di topik lain mengenai pernikahan dan perceraian Katolik.
    coba anda baca-baca tulisan saya di sana.

    Anda mengatakan tidak diberi nafkah batin, bagaimana dengan lahiriah ? apakah ia tetap mencukupi kebutuhan anda dan anak-anak anda ? atau ia juga lalai dalam hal ini ?

    anda mengatakan komunikasi di ranjang sudah tidak terjadi, bagaimana komunikasi di luar kamar tidur ? bagaimana komunikasi dengan anak-anak ? apakah sama dinginnya ?

    pernahkah anda amati, kapan hal itu pertama kali mulai anda merasakan perubahan sikap suami anda ?
    apakah anda pernah menanyakannya ?jika ya apa jawabnya..
    pernahkah anda menanyakan kepada teman-teman kerja yang anda kenal ?
    pernahkan anda membicarakan hal ini dengan orang tuanya atau saudaranya ?
    pernahkah anda berkonsultasi dengan seseorang ? entah dari keluarga, kerabat, atau teman ?
    pernahkan anak-anak anda merasakan hal yang sama seperti anda ? merasa dicuekin, tidak diperhatikan lagi oleh ayah mereka ?
    selama bekerja, apakah ia tidak pernah menghubungi melalui email, sms atau telepon ? hanya sekedar menanyakan mengenai kabar anda dan anak-anak anda ?
    berapa lamakah ia tinggal di rumah ketika ia pulang dari pekerjaannya ?
    Apa yang biasa ia dan anda lakukan selama anda di rumah ?
    berapa banyakkah waktu kebersamaan antara ia dengan anda dan anak-anak ? ataukah ia lebih banyak sibuk sendiri dengan urusannya ?
    Apakah kondisi di mana suami bekerja di luar pulau merupakan resiko yang anda sudah ketahui sejak awal pernikahan kalian ? atau kondisi ini terjadi setelah anda menikah ?
    pernahkah didiskusikan bersama mengenai kondisi ini ? pernahkah kondisi di atas membuat satu kesepakatan (apa saja) di antara kalian berdua ?

    anda mungkin kesal, anda membutuhkan jawaban, malah diberikan pertanyaan. Tetapi itulah yang sebenarnya harus anda lakukan untuk sebuah keputusan besar, yaitu pertimbangan yang sangat matang dan tanpa keraguan.

    Jika anda bertanya, bolehkah saya bercerai ? tidak ada yang bisa menjawab boleh atau tidak, karena sepenuhnya itu adalah hak anda. tetapi ingatlah, bahwa anda saat ini adalah ibu dari dua orang anak yang akan juga terpengaruh oleh apa yang akan ibu putuskan. apakah siap dengan konsekuensi dari keputusan yang ibu ambil terutama dalam mendidik, merawat dan membesarkan mereka yang kelak akan bertanya mengapa ayah mereka tidak pernah pulang lagi menengok mereka ?

    jika anda punya waktu silahkan jawab pertanyaan-pertanyaan itu dan sedapat mungkin saya atau mungkin Romo sudri menanggapinya. tetapi yang pasti ada keterbatasan untuk melakukan proses konseling di dunia maya. Pertemuan secara fisik lebih efektif di lakukan untuk menangani kasus-kasus seperti yang ibu alamai. Jadi saya tetap menyarankan anda bertemu dengan pastor paroki ibu atau seorang konselor pernikahan Katolik. Cari akar permasalahanya untuk mendapatkan solusi yang menuntaskan tanpa menimbulkan masalah yang lain.

    May God bless your steps..

  4. Dimana kita bisa dengan mudah menemui seorang konselor pernikahan Katolik?

  5. Ibu F yang terkasih,

    Saran Bpk. Johan untuk bertemu dengan seorang konselor pernikahan Katolik baik untuk dipertimbangkan. Dalam situasi pikiran yang kalut sebaiknya Anda menghindarkan diri untuk mengambil keputusan yang sangat penting dalam kehidupan Anda sekeluarga.

    Perkawinan Katolik dibangun berdasarkan kasih, kasih dari dua orang manusia yang dipersatukan oleh kasih Kristus. Ikatan Anda bukan hanya keterkaitan dua orang manusia, namun ada Kristus di dalamnya.

    Ibu F , mungkin akar dari masalah perkawinan Anda hanya kurang keterbukaan. Mungkin masing-masing pihak mempunyai harapan dari pasangannya pada waktu bertemu. Sang suami ingin dihargai karena harus meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah, hal tersebut adalah sebuah pengorbanan yang besar, sehingga pada waktu pulang mengharapkan sambutan yang hangat dari keluarga. Sementara sang istri merasa ingin dihargai oleh suami karena harus mengurus keperluan keluarga (mengurus anak-anak dsb) sendiri, sehingga pada waktu sang suami pulang dia mengharapkan apresiasi dari sang suami. Bila harapan-harapan dari kedua belah pihak tidak terpenuhi, timbulah rasa kecewa, padahal waktu untuk bertemu hanya singkat saja, sehingga keluarga tersebut kehilangan kesempatan emas untuk berbagi kasih.

    Demi keutuhan keluarga, mungkin baik untuk memulai semuanya dari awal, mengingat kembali janji perkawinan, akan setia dalam untung dan malang. Anda bukan hanya “suami” dan “istri” saja, namun ada 2 anak-anak yang berhak untuk mendapatkan kasih dan pendampingan dalam pertumbuhan mereka. Mungkin baik diupayakan agar keluarga tidak terpisah, apabila “jarak” yang memisahkan keluarga Anda telah mengakibatkan terpisahnya hati Anda berdua , hal tersebut adalah sebuah pengorbanan yang terlalu besar. Mungkin baik untuk mencari solusi agar keluarga berkumpul (keluarga ikut sang suami ke tempat kerja, atau mencari pekerjaan yang memungkinkan keluarga tidak terpisah).

    Nasehat Santo Paulus dalam 1 Korintus 12 “Tentang Perkawinan” sangat baik untuk kita renungkan kembali. Dalam ayat yang ke 5 dikatakan……”Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu hidup bersama-sama, supaya iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak”. Ibu F marilah kita bawa masalah keluarga Ibu kepada Tuhan, Dia yang sudah mempersatukan ibu & suami dalam keluarga Kristiani, Dia sanggup memberikan jalan keluar, jalan yang berkenan di hadapanNya. Dan yang pasti bukan sebuah perceraian. Dia sanggup melunakkan hati suami untuk mengasihi keluarga. Dia sanggup membentuk hati ibu untuk dijadikan alatNya yang indah bagi keutuhan keluarga ibu. Dan Dia sanggup memberikan solusi yang tidak terpikirkan oleh kita….

    Selamat berjuang, Tuhan memberkati ibu & keluarga.

  6. Setuju sekali dengan saran & komentar Bp. Johan, tolong baca dan resapkan dan jawab dalam hati dengan penuh rasa Syukur.
    Sebetulnya ibu F harus bersyukur hidup berkeluarga telah berputra dua dengan sehat dan suami masih bekerja dan memberi nafkah Harta. Lihatlah mereka yang hidup berkeluarga tetapi tidak diberi keturunan dan kemiskinan melilit keluarga itu .. ? …?.
    Tetapi gara gara tidak dapat Nafkah Batin apa ibu F tega merusak rumah tangga dengan bercerai ? Tataplah suami dan anak anak pada saat tidur, bersyukurlah dan ingatlah bahwa mereka masih memerlukan belaian kasih sayang dari ibu.
    Lupakan nafsu birahi ibu dengan hal hal positif dengan melakukan seluruh tugas harian dengan penuh kasih sayang.
    Terakhir berdoalah mohon pada Tuhan Jesus Kristus agar ibu dapat melaksanakan kewajiban sebagai ibu dengan damai
    Matur nuwun bu

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>