Konflik karena soal ekonomi, ingin cerai

Saya sudah menikah secara katolik dgn seorang pria yg juga beragama katolik sekitar 3,5 thn yg lalu.

Dari awal pernikahan, sudah paham bhw posisi keuangannya lebih kecil dari saya dan saya bisa menerima ini.

11 bulan setelah menikah, lahir anak kami. usia 2 bulan, anak kami didiagnosis down syndrom.

Entah mulai sjk kapan, lupa persisnya, kami jadi berantem hampir setiap hari. Masalahnya menurut saya, dari suami tidak ada itikat untuk terbuka soal uang, tidak ada itikat untuk membantu dan memikirkan soal keuangan:biaya hidup anak kami, biaya terapi anak kami, tabungan untuk masa depan anak kami. Begitu saya bicara soal keuangan, suami lgsg marah; selalu itu yg terjadi hampir 2 tahun belakangan.

Plus saya ngerasa tidak ada penghargaan sama sekali atas kerja keras saya mencukupi kebutuhan keluarga dan kyk nya dia juga ngerasa saya tidak menghargainya.

Jujur saya capek banget. hidup saya masih panjang, saya gak mau menjalani hidup dgn tertekan. Hidup dgn orang yg saya tidak bisa respek lagi, tidak bisa percaya lagi dan tidak nyaman.

Jika saya memutuskan untuk bercerai, kira2 langkah apa yg harus saya lakukan?

Terima kasih atas perhatiannya.
NN

6 Responses to “Konflik karena soal ekonomi, ingin cerai”

  1. Ytk Sdri NN,

    Untuk memutuskan bercerai,apakah dijamin permasalahan akan selesai?&pasangan yg tidak lagi menghargaimu,bisa hilang begitu saja?tentu tidak.

    Lihat&pandanglah,bayi mungil yang sangat membutuhkan uluran tangan dari ibunya.Ketulusan&kesabaran’diri’inilah yg hendak dimohonkan agar ‘Roh Kesadaran’ membuka pintu kebebasan didalam hatimu.
    Sehingga,bukan lagi kelelahan menghadapi pasangan.Dan bukan lagi penyesalan yg terlihat saat ini&bukan lagi permasalahan yg tidak ada jalan keluarnya.Tetapi sungguh menyadari,kalau ini semua sedang dialami oleh Sdri Nn.

    Pintu kebebasan didalam hatimu yaitu;Roh Kristus sendiri,yang akan menuntunnya kepadamu.
    Barangkali bisa juga sdri Nn,membaca tulisan dari Romo Sudri dikolom Meditasi,saya rasa sangat membantu.

    salam
    rm

  2. NN,

    jangan pikir cerai. Hadapi saja masalahmu:
    1. anak yang down syndrom;
    2. kehidupan anda dan anak.

    Saya tidak tau seberapa minimnya penghasilan suami anda, tapi kalo emang terlalu minim untuk membiayai semuanya, mungkin ya dia pusing juga maka dia ngamuk kalo diajak ngomong soal uang. Bahwa suami hanya bisa berpenghasilan kecil kan sudah anda terima sejak awal ya sekarang jangan MENYALAHKAN dia untuk hal itu. Ajak saja dia membantu untuk hal hal di luar uang.

    Uaul saya:
    Lakukan saja memelihara anak anda dengan tulus tanpa menyalahkan apapun, juga soal uang, kepada siapapun. Mohonlah maaf kepada suami karena kalian masih kurang saling mengerti. Letakkan suami anda sebagai pelindung. Jadikan suami sebagai teman berbagi dan berdoa bersama. Mungkin ini cara Tuhan mengajar kamian untuk BERSABAR.

    Usia perkawinan 3,5 tahun itu masih masa perkenalan, jadi banyak berantem itu adalah proses mengenal pribadi masing masing. Kalo sekarang cerai, belum kenal koq cerai. Serahkan perkawinan anda kepada Tuhan, nanti Yesus yang akan mengubah air perkawinan anda menjadi anggur yang paling enak. Kalo sekarang cerai, lalu kawin lagi emangnya gak bakal berantem lagi?

    salam, rin

  3. rasanya suami anda memiliki kelemahan seperti halnya banyak suami yang memiliki penghasilan lebih kecil dari isterinya. rasanya perlu digali lebih dalam lagi mengenai hal ini. Karena komunikasi anda dengan suami anda tampaknya mengalami hambatan, sebaiknya difasilitasi oleh orang lain, seorang profesional, atau seorang yang kalian berdua segani dan hormati.

    seharusnya perubahan yang terjadi bukan saja terhadap suami tetapi juga anda. karena masalah keluarga hanya bisa diatasi dengna kerjasama suami dan isteri. Dan tidak jarang dituntut pengorbanan supaya works out.. daripada memikirkan perceraian, coba mulai berkonsentrasi kepada apa yang bisa anda lakukan dulu demi anak anda. Perceraian mungkin terlihat seperti jalan keluar, tetapi bisa jadi justru menjerumuskan anda kepada masalah lain. Kalo anda merasa letih memikirkan hal ini, sebaiknya anda beristirahat sejenak untuk berhenti memikirkannya. hindari pertengkaran. berusahalah untuk lebih banyak tersenyum dari pada cemberut, lebih banyak bersyukur daripada mengerutu. saya menyadari perjuangan anda sebagai ibu akan berat memiliki seorang anak yang memiliki down syndrome. Anak yang lahir dengan kondisi itu membutuhkan segala dukugnan dari orang2 yang mencintainya. Jadi jangan cemari cinta anda kepada anak anda dengan emosi kemarahan, kekesalan, kekecewaan, bahkan kebencian karena sikap suami anda. anak anda membutuhkan cinta anda secara utuh. cobalah memberikannya mulai dari diri anda, dan tunjukkan itu secara nyata. Semoga saja suami anda terketuk perasaannya untuk belajar mencinta dari diri anda.
    Jikalau pun itu belum terjadi dalam waktu singkat, tetaplah berkonsentrasi untuk melakukan hal yang sama.. mencintai dengna sepenuh hati dan penuh ketulusan, karena hal ini tidak akan pernah sia-sia..

    May God bless your steps..

  4. Dear NN,

    Bercerai bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah pelarian.

    Memang sebagai seorang lelaki, suami memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam hal ekonomi. Namun kadang rejeki keluarga justru datang dari istri.

    Rejeki suami dan istri adalah milik keluarga, dan semua harus dibicarakan secara transparan dan dipergunakan untuk keperluan keluarga semata, masa kini dan masa depan.

    Ajaklah suami untuk bertemu pihak ke 3, mungkin Romo atau Orang yang dihormati Anda berdua, atau seorang Financial Planner, untuk dapat memahami makna uang bagi keluarga.

    Saya pribadi bersedia memberikan bantuan konseling cuma-cuma untuk Anda dan Umat lainnya, agar banyak perkawinan yang terselamatkan.

    Saya bisa dihubungi di 0812.1996699.

    Anda berdua harus berjuang menyelamatkan Mimpi Perkawinan yang Anda miliki. Tuhan memberkati kita semua.

    Salam,
    FP

  5. Maaf, saya ingin meralat no hape saya, semestinya adalah
    0816 1996699 (dan bukan 0812 1996699, milik orang lain).

    Maaf atas ketidak-nyamanan ini.

    Salam
    FP

  6. Saya baru menikah tepat 1,5 tahun. Kondisi saya sama seperti yang dialami ibu. Namun saya belum memiliki momongan.
    Mertua saya juga matreliaslistis. Hal ini membuat beban kami bertambah. Ada rasa ingin menyudahi ini semua, sempet terbersit dan telah diucapkan. Tapi kami menarik itu kembali dan bergantung kepada Yang Kuasa. Setiap malam kami berdoa berdua, memohon tuntunan dalam hidup kami yang lelah ini. Sampai saat ini saya belum tau kemana tujuan perkawinan kami, tapi yang saya tahu dengan kebersamaan dan penerimaan diri akan kelebihan dan kekurangan suami dan saya, perkawinan kami masih bertahan. Dan saya semakin mencintainya dari kekurangan yang dimilikinya dengan melihat kelebihannya. Semoga ibu bisa menemukan rasa cinta yang sangat dalam dari kekurangan suami ibu.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>