Konflik dengan mertua, ingin balas dendam

Saya beberapa bulan ini baru saja menjadi seorang ibu. Saya sangat bersyukur dan menikmati peran baru saya ini. Apalagi kami juga sudah menunggu cukup lama untuk memiliki buah hati. Namun ada hal yang mengganjal di hati saya karena semenjak kehadiran bayi mungil kami saya bermasalah dengan keluarga suami saya.

Sebagai latar belakang, saya, suami dan anak tinggal di luar negeri sedangkan keluarga saya dan mertua tinggal di jakarta. Suami berasal dari keluarga yang bisa dikatakan otoriter. Saya bisa merasakan kalau suami dan ibu mertua takut pada ayah mertua. Hal yang lain adalah mertua mempunyai masalah rumah tangga dimana ayah mertua berselingkuh sudah puluhan tahun. Saya memang sengaja tidak mau kembali ke jakarta karena tidak mau terlalu dekat dengan keluarga suami saya dan semuanya itu baik2 saja hingga anak kami lahir.

Anak kami merupakan cucu pertama baik dari pihak suami maupun pihak saya. Tidak heran ketika dia lahir keluarga kami berbondong-bondong datang kemari untuk menjenguk. Sedari awal kehamilan saya sudah meminta pada suami agar mengijinkan ibu saya untuk tinggal dirumah kami sementara waktu setelah saya melahirkan (keluarga saya dan keluarga mertua mempunyai rumah sendiri juga di sini). Suami berjanji akan memenuhi permintaan saya tersebut. Namun belum saja kami pulang dari rumah sakit, kedua mertua saya sudah menuduh ibu saya hendak mendominasi cucu mereka. Itu sakit hati saya yang pertama pada mereka. Ibu saya hanya bermaksud membantu saya karena saya melahirkan dengan emergency caesarian sehingga 2 hari pertama saya tidak bisa apa-apa sendiri apalagi mengurus bayi saya. Ibu saya juga sakit hati lalu bilang sebaiknya dia tidak tinggal di rumah saya daripada memperkeruh suasana. Sedangkan suami saya tidak ada reaksi juga tidak berusaha memenuhi janjinya pada saya. Dia malah minta ibu mertua saya untuk tinggal di rumah kami tetapi ibu mertua menolak karena dasarnya dia juga tidak suka merawat bayi. Bahkan ibu mertua saya tidak menggendong cucu nya selama beberapa hari pertama. Sedangkan suami yang mau ambil cuti kerja dimarahi oleh ayah mertua. Akhirnya ya sudah saya berusaha mengatasi semuanya sendiri. Ibu saya tidak berani sering-sering ke rumah dan akhirnya memilih pulang ke jakarta lebih awal dari yang direncanakan.

Selanjutnya ada 2 motif yang membuat saya tidak suka pada ibu mertua. Pertama adalah dia memanfaatkan anak saya untuk mencari perhatian ayah mertua, karena dia tau ayah mertua sangat sayang pada anak saya. Setiap ada ayah mertua dia selalu mengambil bayi dari tangan saya dan pura2 sayang & memuji-muji anak saya. Dia juga pura2 memberi tahu bagaimana cara mengurus anak dsb. Padahal semua yang dia beritahu adalah hal basic yang semua orang saja tahu.

Hal kedua adalah dia datang ke rumah tiap hari dari pagi hingga malam karena dia ingin tahu bagaimana cara mengurus anak di luar negeri. Semua itu karena dia khawatir kalau adik dari suami saya nanti punya anak. Ibu mertua mempelajari semua hal yang saya lakukan bahkan diam-diam mencatatnya. Pernah sekali dia bilang kalau dia khawatir dengan adik ipar saya. Ibu mertua mungkin tidak sadar kalau saya tau motif dia.

Karena begitu jengkelnya saya akhirnya bicara pada suami saya setelah beberapa bulan memendam. Pada awalnya suami saya balas marah, namun sadar karena setiap dia berkata dengan bangga kalau ibunya membantu saya setiap hari dari pagi hingga malam, teman2 dia terutama yang perempuan malah bertanya dengan simpati pada saya ‘are you OK?’ Tentu saja saya jawab ‘honestly I’m not’ . Suami akhirnya minta maaf & berjanji akan lebih bijaksana mengatasi hal ini. Saya akhirnya tau kalau ibu mertua yang memanasi ayah mertua sehingga menuduh ibu saya mendominasi cucu mereka.

Ibu mertua sekarang sudah pulang ke jakarta tapi saya masih bisa dikatakan dendam pada dia & suatu saat ingin membalas sakit hati saya pada dia. Setidaknya saya ingin sekali berdoa dan minta agar dia mendapatkan balasannya. Apakah saya dosa jika memohon hal itu pada Tuhan?

Mohon agar Romo berkenan memberikan saran karena saya benar-benar sudah buntu dan pikiran saya kacau

Terima kasih
YSH

3 Responses to “Konflik dengan mertua, ingin balas dendam”

  1. Dear Ibu YSH,
    Proficiat atas kelahiran anak pertama!

    Mari kita lihat apa masalah ibu mertua ibu:
    1. Ditinggal selingkuh suaminya;
    2. Tidak punya pengetahuan yang cukup dengan bayi, tidak punya naluri cukup untuk mengurus bayi;
    3. Punya anak yang harus dia ajar untuk hal memelihara anak di luar negeri padahal dia tidak punya pengetahuan itu;
    4. Merasa perlu memanipulasi urusan bayi hanya untuk mendapat perhatian suami dan anaknya.
    5. Merasa perlu menyakiti hati besannya padahal dia sendiri tidak mengurus bayi dengan baik

    Apakah sejatinya dia merasa bahagia dengan banyak masalah itu? Saya kira dia seorang yang tidak bahagia terbukti dengan perlu perlunya dia cari cari perhatian yang mengakibatkan besan dan mantunya sakit hati. Dia sendiri seorang yang sakit.

    Lihatlah betapa banyak masalahnya! Mari kita berbelas kasihan bahwa dia terbelit banyak masalah dan yaaaa…. kelihatannya pantaslah kalau dia jadi salah berpikir. Kalau demikian, tidakkah ibu merasa sebaiknya mengampuni saja ibu mertua, bahkan mendoakan agar dia bisa lepas dari sekian banyak masalah yang membelitnya? Semoga bila dia bahagia dia akan bisa membahagiakan orang lain di sekitarnya.

    Demikian juga ibu, berbahagialah dan bersyukurlah!
    Bagaimana pun melalui ibu mertua itulah anda bisa mendapatkan suami anda.
    Bagaimana pun dengan begitulah anda memperoleh anak anda.
    Bagaimana pun lebih penting merasa berbahagia untuk anak anda sehingga anak anda tidak tertular virus dendam di dalam hatinya melalui anda. Jangan sampai andalah yang membuat anak anda belajar mendendam karena hati anak anda masih selalu menempel dengan hati anda ibunya. apapun yang anda pikirkan sangat berpengaruh kepada anak anda.

    Bersyukurlah selalu!

    Salam berkat Tuhan, rin

  2. @YSH.. yang pertama kali justru harus kamu lakukan adalah tidak dengan menyimpan dendam itu..:) karena itu akan merugikan dirimu dan keluargamu, bahkan anakmu. Dalam masa mengasuh anak, anda membutuhkan perasaan cinta dan kegembiraan, bukan perasaan marah atau kebencian. Perasaan negatif itu hanya membuat kamu letih, padahal seharusnya tenaga dan pikiranmu itu dicurahkan untuk keluargamu, terlebih untuk anakmu, bukan ? :)

    Lalu tentang mertuamu..

    saya tidak tahu apakah kamu pernah berdiskusi dengan suamimu tentang siapa yang akan membantumu menemanimu dan menjagamu paska melahirkan… jika itu adalah keputusan bersama, maka ketika menghadapi mertuamu, cukuplah, suamimu yang menjawab. Biasanya yang menjadi permasalahan, apabila keputusan itu dilakukan sepihak dengan dasar asumsi-asumsi dan/atau ada pihak yang tidak menyadari bahwa apa pun keputusannya yang terpenting adalah tujuannya.

    Jadi saya lihat, sebenarnya kamu perlu bicara dengan suamimu kembali supaya kebutuhan kamu dan anak kalian terpenuhi, dengan kehadiran seseorang yang bisa membantu. Jika suami tidak bisa memutuskan, kamu bisa meminta suami untuk mendukung keputusanmu, termasuk menjawab bila ada pertanyaan dari orang tua suamimu atas keputusanmu itu.

    Saya tidak tahu apakah baby sitter menjadi opsi, sehingga yang lebih dibutuhkan adalah supervisi, dan hal itu akan meringankan dirimu. Supervisi sebaiknya dilakukan oleh anda sendiri, sebagai ibunya. Dalam hal ini, maka “posisi” ibu dan ibu mertua sama. Jika baby sitter bukan opsi. maka mau tidak mau cara di atas perlu ditempuh. suami anda pun harus sadar bahwa dalam hal ini keputusannya harus menitikberatkan pada kebutuhan isteri dan anaknya, bukan kepentingan lain.

    Di bagian dimana ibu anda belajar dari anda bagaimana mengasuh anak, adalah bagian dimana yg menurut saya anda bisa manfaatkan untuk memperbaiki hubungan anda dan mertua anda. Kalaupun ini tidak terjadi, anggap saja anda telah berbuat baik [sambil menjalankan tugas anda sebagai seorang ibu] untuk ibu mertua anda dan juga saudara ipar anda.

    Nah sekarang apakah hal mendendam itu adalah dosa.

    Dendam itu akan menjadi dosa, ketika anda mulai melukai kasih. terutama kasih kepada Tuhan yang telah lebih dulu mencintai anda. Bagaimana pun suami anda, yang anda pilih sebagai orang yang menjadi pendamping hidup anda yang anda cintai, ayah dari anakmu, adalah anak dari ibu mertuamu.

    Belajarlah untuk lebih mencintai Allah lewat kisah hidupmu ini. Kelak anakmu akan belajar darimu bagaimana ia dapat mencintai Allah.

    May God bless your steps..

  3. Terima kasih atas saran anda. Ada beberapa hal yang mengena di hati saya.

    Memang saya masih belum bisa memaafkan ibu mertua tapi saya akan berdoa agar saya bisa memaafkan dia dan semoga suatu hari nanti saya bisa berdoa untuk dia.

    YSH

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>