Konflik dan Ketegangan dalam Setiap Hubungan
Kebanyakan dari kita mengalami konflik dan ketegangan dalam setiap hubungan tetapi kita tidak cukup memahaminya atau bahkan mengabaikannya. Semua konflik di luar bersumber dari konflik batin. Selama kita tidak bebas dari konflik batin, maka kita pun menciptakan konflik di luar dalam setiap hubungan.
Apa yang kita cari dalam hubungan? Pada umumnya lewat hubungan orang mencari rasa aman, kenikmatan, kepuasan, pemenuhan atas suatu kebutuhan. Selama kebutuhan terpenuhi, maka hubungan kita pertahankan. Kalau hubungan menimbulkan rasa tidak aman, kesakitan, ketidakpuasan, maka kita memutus tali hubungan. Kemudian kita mencari pemenuhan kebutuhan dalam hubungan dengan yang lain. Begitulah seterusnya. Setiap hubungan dibentuk, dipertahankan atau diputus berdasarkan motif pemenuhan kebutuhan dari pihak-pihak yang saling berhubungan.
Apakah ada rasa aman dalam hubungan? Bukankah dalam kenyataan tidak ada hubungan yang bisa menciptakan rasa aman yang sesungguhnya? Kalaupun ada, rasa aman itu tidak langgeng. Saat ini barangkali anda berhubungan dengan orang tertentu dan anda merasa aman. Tetapi dalam rasa aman tersebut, juga terdapat rasa tidak-aman, rasa takut, rasa khawatir. Untuk menghindari rasa takut ini, anda merasa harus memiliki. Maka muncullah rasa cemburu, nafsu menguasai, konflik, ketegangan.
Bukankah hubungan bermakna bukan pertama-tama sebagai alat pemuasan diri tetapi sebagai moment penyadaran-diri? Kita sadar-diri bukan dalam isolasi diri, tetapi dalam hubungan dengan yang lain karena setiap hubungan menyadarkan siapa diri kita. Selama hubungan dipakai sebagai alat untuk mengejar pemenuhan atau pemuasan diri, entah pemuasan duniawi atau pemuasan rohani, maka diri diperkuat dan konflik tetap ada. Setiap hubungan yang diciptakan dan dipertahankan hanya semata-mata untuk memenuhi kepentingan diri sudah menyimpan konflik dalam dirinya.
Konflik adalah ketidakpaduan respons terhadap tantangan. Selama kita merespons tantangan dari pusat diri–yang adalah ingatan, pengetahuan, pengalaman, keinginan, harapan, ketakutan, dst–maka kita menciptakan konflik. Supaya kebutuhan tetap terpenuhi, kita saling kompromi, saling menyesuaikan. Tetapi setiap bentuk penyesuaian adalah juga konflik.
Setiap konflik perlu dipahami secara tuntas. Upaya untuk mengenyahkan konflik justru menciptakan konflik baru. Begitu pula berbagai upaya untuk mengatasi, menekan, mengontrol, mengendalikan, mengacuhkan atau melarikan diri tidak membuat konflik berakhir.
Setiap konflik menimbulkan ketegangan dan upaya mengatasi konflik juga menimbulkan ketegangan lebih besar lagi. Sumber dari semua ketegangan adalah proses menjadi. Aku ingin menjadi lain dari kenyataannya. Aku merasa tidak aman; aku ingin rasa aman. Ide rasa aman telah menjauhkan fakta bahwa aku tidak aman. Ketegangan dasar di sini adalah antara kenyataan yang sekarang anda hadapi dan kondisi ideal yang anda inginkan.
Ketegangan muncul sebagai penolakan atas kenyataan anda sekarang. Sekarang aku miskin, tak-berdaya, terbelenggu, kacau, keras, buruk, tidak aman, khawatir, jelek, berdosa, tidak bahagia. Lalu aku ingin menjadi yang bukan kenyataan sekarang. Keinginan menjadi bukanlah fakta sekarang. Aku ingin kaya, berkuasa, bebas, aman, pasti, bahagia, ilahi, suci. Semua itu hanya ide, bukan fakta, dan ide itu justru menutupi pemahaman akan fakta yang anda tolak.
Segala sesuatu yang diinginkan di masa depan menciptakan ketegangan. Yang ideal menjauhkan yang faktual. Semakin jauh jarak antara apa yang ideal dari apa yang faktual, semakin besar ketegangan ditimbulkan.
Bukankah tidak ada lagi konflik dan ketegangan kalau kita membuang yang ideal dan sepenuhnya tinggal bersama yang faktual? Tantangan terberat bagi kita adalah membersihkan diri dari tekanan ”harus atau tidak harus”, ”boleh atau tidak boleh”, ”dosa atau tidak dosa”. Itu berarti membebaskan diri dari kebiasaan untuk melawan apa yang faktuil, berhenti dari kebiasaan untuk berjuang atau untuk menjadi menurut pola ideal yang kita ciptakan dari dalam atau dipaksakan dari luar.
Selama orang merespons tantangan dari pusat diri, maka ketegangan tetap ada. Jarak antara kutub-kutub yang saling berlawanan tetap tak terjembatani: antara apa adanya dan apa seharusnya, antara faktual dan ideal, antara imanen dan transenden, antara manusiawi dan ilahi, antara duniawi dan suci, dst. Sekalipun orang mencoba hidup seimbang di antara dua kutup yang berlawanan dan menyebutnya sebagai ketegangan kreatif, tetapi ketegangan tetaplah ketegangan. Di sana konflik belum berakhir.
Ketegangan itu sendiri dalam setiap hubungan merupakan moment transformatif sejauh dipahami. Lewat hubungan, siapa diri kita yang merupakan akar dari konflik dan ketegangan itu sendiri terkuak. Diri selalu menciptakan jarak dari yang faktual. Kutup-kutup yang berlawanan tidak bisa dipadukan dengan daya-upaya atau perjuangan menurut pola ideal tertentu. Jarak itu baru bisa terlebur kalau diri sepenuhnya berakhir. Ketika diri berakhir, hubungan-hubungan lalu menjadi baru dan segar, bebas dari konflik dan ketegangan.*







Thanks Romo, great reminder bagi kami semua, agar mampu hidup dg apa adanya,tidak neko2.juga terbebas dr sgl belenggu,shg muncul cinta sejati, welas asih, dan bebas dari segala “asap” Huge energy will of course emerge within us all.Inspiring, indeed.
Luv in Christ, n gd nt
LW
bagus
easy to read hard to do
Setiap tulisan ini terhantarkan,membuka bola mata lebar-lebar,diamati disetiap baitnya,tentu dgn pemahaman yg mengupas tuntas akar dari “diri”.Siapakah ‘diri’?apa saja tujuan’diri’?
Kalau pertanyaan terus menerus mengiang didalam batin ujung-ujungnya menjadi konflik batin.
Ketegangan&konflik tak pernah usai selama”diri”terus tinggal&menetap&menguasai.Hidup terus berperang untuk menutup/melaraskan/menjajarkan,karena berjuang timbul kelelahan.Konflik&ketegangan terus meninggi.
Pola ideal memang terus diinginkan setiap manusia,untuk didengar,diterima,dituruti,harus ideal sesuai keinginan ‘diri’
tidak bisa selaras jadinya,konflik hadir kembali.Sehingga orang lain mesti mengikuti pola ideal tersebut,tetap saja batin terbelenggu,tidak bebas dsb.
Tiadalagi paling yg mendinginkan kalau saja’diri’pudar-ketiadaan tanpa daya upaya,nerimo,bersandar pada ketenangan didalam batin,hidup saat sekarang dialam kenyataan.Tanpa berlari-lari untuk mencari yg ideal.Tanpa juga meminta balasan/respon dari apapun jg.Sehingga berdiam bersama dengan kenyataan yg ada saat ini tanpa perjuangan kuat didalam batin.
Semua itu akan terhantarkan kalau saja muncul kepekaan didalam batin utk sampai juga diluar’diri’ini untuk dpt mengetahui kalau hidup penuh Keindahaan kalau”diri”tiada terus menerus,datang Cinta,berseri-seri-lepas bebas-bagai bunga tumbuh mekar sepanjang hari..Jika konflik&ketegangan hadir kembali solusinya sdh terpahami.
Terima kasih Romo,sudah kembali mengingatkan kami-kami untuk memahami apaadanya kehidupan ini,melalui hantaran/tulisan yg sangat baik ini…Tuhan memberkati.
Saya termasuk orang yang ideal, dan punya prinsip terhadap diri sendiri harus begini, dan harus begitu. Disatu sisi rasa empati saya besar terhadap orang lain namun konflik terkadang muncul entah dengan seseorang/kelompok. Dan biasanya kalau terjadi konflik dengan orang lain, solusinya : dibicarakan tapi kalau tidak bisa saya biarkan saja, itu pengalaman saya dulu yang selalu saya terapkan dalam setiap hubungan mungkin mencari aman agar tidak ada konflik dan dikembalikan kepada kebebasan masing-masing pribadi untuk berkehendak. Nah ini yang terkadang menimbulkan konflik karena tidak nyaman dengan situasi ini.
Seperti apa yang ditulis Romo diatas, kadang saya ingin membuang sifat ideal saya untuk apa saja entah hubungan dengan orang lain, mengenai pekerjaan, lingkungan gereja, politik, dll dan ini menjadi masalah. Dalam hening saya menyadari gerak pikiran, rasa dan perasaan, gerak batin untuk memahami ini secara tuntas. Rasa tidak nyaman itu fakta yang memang ada bukan dibuang saya mau bersahabat dengan fakta, kalaupun ada perlawanan dalam gerak batin saya mau menerima itu sebagai bagian dalam perjalan pemeditasi walau sering tidak mulus.
Agar setiap saat “Ketika diri berakhir, hubungan-hubungan lalu menjadi baru dan segar, bebas dari konflik dan ketegangan” semoga.
Salam,
Christina L.
In any interpersonal conflict, do everything you can to give the other person the benefit of the doubt while not compromising your own integrity to yourself. This is wise, fair, gracious and balanced living.